Sabtu, 11 Juli 2026

Rahasia Dapur Sultan Blendrong

 


"Ini kenapa telurnya jadi mirip ban kempes begini, Mas?"

 

Laras Puspikas menatap ngeri ke arah penggorengan. Di atas teflon seharga motor matik itu, sebutir telur mata sapi tampak merana. Kuningnya pecah, tepiannya hitam legam, dan baunya lebih mirip karet terbakar daripada sarapan bergengsi.

 

Kadin Blendrong, pria empat puluh tahun yang kekayaannya sanggup membeli satu kecamatan, hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelan tuksedonya yang licin tampak kontras dengan spatula yang ia pegang dengan gemetar.

 

"Mungkin apinya terlalu bersemangat, Dek Laras," jawab Kadin pelan.

 

"Bersemangat? Ini namanya percobaan pembunuhan terhadap bahan pangan, Mas!" Laras merebut spatula itu. "Masa duda kaya raya, koleksi mobil sport sepuluh, tapi goreng telur saja gagal total?"

 

"Ya, kan selama ini ada asisten rumah tangga, ada koki pribadi, ada katering bintang lima..."

 

"Dan sekarang mereka semua lagi mudik massal karena Mas Kadin kasih bonus umrah, kan?" potong Laras gemas. "Terus lusa ada syukuran keluarga besar. Mas Kadin bilang ke Tante Miranda kalau kita yang bakal masak sendiri sebagai tanda syukur pernikahan kita. Ingat?"

 

Kadin memucat. "Itu... itu cuma taktik biar Tante Miranda berhenti nanya kapan kita punya anak, Dek."

 

"Mas, Tante Miranda itu kritikus kuliner!" Laras memijat pelipisnya. "Kalau dia tahu kita bahkan nggak tahu bedanya lengkuas sama jahe, harga diri Mas Kadin sebagai Sultan Blendrong bakal jatuh ke lantai!"

 

"Makanya, kita harus latihan!" seru Kadin mendadak semangat. "Mas sudah beli buku resep paling mahal se-Indonesia."

 

"Judulnya apa?"

 

"Memasak untuk Sultan yang Tidak Tahu Apa-apa."

 

Laras menghela napas panjang. Ia baru berusia dua puluh tahun, baru dinikahi pria matang ini sebulan yang lalu. Ia pikir hidupnya bakal tenang di dalam istana megah ini. Ternyata, tantangan terbesarnya bukan menghadapi pelakor, melainkan menghadapi kompor gas.

 

"Oke, kita mulai dari yang paling dasar," kata Laras sambil mengambil satu pak telur lagi. "Ceplok telur. Tanpa gosong. Tanpa drama."

 

"Siap, Bos Kecil!"

 

Dua jam kemudian, dapur yang didesain arsitek Italia itu berubah jadi medan perang. Tepung terigu bertebaran di lantai bak salju di pegunungan Alpen. Kulit telur berserakan di wastafel.

 

"Dek, ini kenapa bawangnya kalau dipotong malah bikin mata Mas perih? Apa bawangnya punya dendam pribadi?" tanya Kadin sambil menyeka air mata dengan serbet sutra.

 

"Itu namanya zat sulfur, Mas Kadin! Bukan dendam!" Laras berteriak dari balik meja konter, sibuk mencoba mengupas bawang putih yang kulitnya seolah menempel pakai lem Korea.

 

"Aduh! Mas, tanganku kena pisau!"

 

Kadin langsung panik. Ia menjatuhkan bawangnya dan berlari menghampiri Laras. "Mana? Mana yang luka? Kita ke Singapura sekarang? Pakai jet pribadi?"

 

Laras menatap jarinya yang hanya tergores tipis, nyaris tak terlihat. "Cuma lecet dikit, Mas. Nggak usah panggil pilot."

 

"Tapi ini darah biru, Dek! Eh, bukan, maksudnya darah istri Sultan!"

 

"Lebay!" Laras tertawa kecil, tapi pipinya merona. "Mas Kadin fokus saja potong cabainya. Ingat, jangan pegang mata setelah potong cabai."

 

"Kenapa?"

 

"Nanti Mas tahu sendiri rasanya neraka dunia."

 

Kadin menurut. Ia mulai memotong cabai dengan saksama, seolah-olah sedang membedah mesin Ferrari-nya. Namun, baru tiga irisan, hidungnya gatal. Tanpa berpikir panjang, ia mengucek hidung dengan tangan yang masih basah sari cabai rawit.

 

"AAAAAARGH! DEK! MATA MAS! HIDUNG MAS! KEBAKARAN!"

 

Laras panik. "Kan sudah dibilang! Sini, sini, cuci pakai air!"

 

Di tengah kekacauan itu, bel pintu berbunyi. Mereka berdua membeku.

 

"Siapa?" bisik Kadin dengan mata merah meradang.

 

"Jangan-jangan Tante Miranda datang lebih awal?" Laras panik. "Mas, sembunyiin semua telur gosong ini! Cepat!"

 

Laras berlari menuju pintu depan, sementara Kadin sibuk memasukkan panci-panci kotor ke dalam oven agar tidak terlihat. Laras membuka pintu dengan senyum yang dipaksakan.

 

"Eh, Jeng Laras," sapa seorang wanita paruh baya dengan gaya glamor. Itu Tante Miranda.

 

"Tante! Kok... kok sudah sampai? Bukannya acaranya lusa?"

 

"Tante cuma mau antar bumbu rahasia keluarga. Mas Kadin mana? Katanya mau pamer masakan spesial hari ini?" Tante Miranda melongok ke dalam.

 

"Mas Kadin lagi... lagi meditas di dapur, Tan! Biar masakannya penuh cinta!" seru Laras panik.

 

"Wah, hebat ya. Sultan tapi mau turun ke dapur. Jarang-jarang ada laki-laki begitu."

 

Tante Miranda berjalan masuk, mengendus udara. "Tapi kok... baunya kayak ban dibakar ya, Laras?"

 

"Itu... itu aromaterapi gaya baru, Tan! Bau smoky kayu jati!" jawab Laras asal.

 

Tepat saat itu, terdengar suara PRAAAANG! dari arah dapur.

 

"Suara apa itu?" Tante Miranda mengernyit.

 

"Kucing! Iya, kucing tetangga masuk, Mas Kadin lagi mengusirnya!"

 

Laras buru-buru menggiring Tante Miranda ke ruang tamu. "Tante tunggu sini ya, Laras ambilkan minum. Jus jeruk segar!"

 

Laras lari ke dapur. Dilihatnya Kadin terduduk di lantai, dikelilingi pecahan piring keramik Dinasti Ming.

 

"Mas! Tante Miranda ada di depan!" bisik Laras histeris.

 

"Dek, jujur saja. Mas nggak bisa. Mas menyerah," Kadin meratap. "Mas sanggup beli perusahaan tambang, tapi Mas nggak sanggup naklukin telur ceplok. Mas payah."

 

Laras terdiam melihat suaminya yang perkasa itu tampak begitu rapuh di antara tumpahan kecap. Ia berlutut di samping Kadin.

 

"Mas, dengerin. Kita nggak perlu jadi koki hebat buat syukuran itu. Kita cuma perlu kerja sama."

 

"Caranya?"

 

"Mas punya uang, kan?"

 

"Punya banget."

 

"Mas punya koneksi, kan?"

 

"Satu grup WhatsApp sama menteri."

 

Laras tersenyum licik. "Kita pesan katering paling mahal di kota ini. Suruh mereka datang lewat pintu belakang jam empat pagi lusa. Masak di dapur kita secara rahasia, terus mereka harus pergi sebelum tamu datang. Kita tinggal bagi tugas: Mas bagian plating, Laras bagian akting pura-pura capek masak."

 

Mata Kadin berbinar. "Ide cerdas! Itu namanya outsourcing strategis!"

 

"Tapi ada satu syarat."

 

"Apa?"

 

"Besok kita tetap harus belajar goreng telur sampai bisa. Masa Sultan kalah sama telur?"

 

"Oke! Janji!"

 

Hari syukuran pun tiba. Rumah mewah itu sudah dipenuhi kerabat besar Blendrong. Aroma rendang, opor ayam, dan sambal goreng ati menyerbak ke seluruh ruangan. Tante Miranda berdiri di tengah ruangan, memegang piring dengan wajah sangar.

 

"Mana masakan pengantin baru? Tante mau coba," tantang Tante Miranda.

 

Kadin dan Laras keluar dari dapur dengan peluh yang (disengaja) membasahi dahi. Kadin memakai celemek bertuliskan The King of Kitchen.

 

"Silakan, Tante. Ini Rendang Wagyu A5 ala Kadin Blendrong dan Opor Ayam Organik buatan Laras Puspikas," kata Kadin penuh percaya diri.

 

Tante Miranda mengambil sesendok rendang. Ia mengunyah pelan. Matanya terpejam. Laras dan Kadin berpegangan tangan, jantung mereka berdegup kencang.

 

"Luar biasa..." gumam Tante Miranda. "Rasa ini... tekstur ini..."

 

"Enak kan, Tan?" tanya Laras penuh harap.

 

"Ini persis banget sama rasa rendang di Restoran Bintang Lima milik Chef Juna!" Tante Miranda menatap tajam ke arah Kadin.

 

Kadin berkeringat dingin. "Ah, masa sih, Tan? Mungkin karena Mas pakai bumbu cinta yang sama?"

 

"Nggak mungkin!" seru Tante Miranda. "Chef Juna itu sepupu Tante! Dan dia baru saja kirim pesan di grup keluarga kalau dia baru saja dapat pesanan rahasia dari seorang 'Sultan' untuk dimasak langsung di rumahnya pagi-pagi buta!"

 

Suasana mendadak hening. Para tamu mulai berbisik-bisik. Laras menunduk, wajahnya merah padam. Kadin berdeham, mencoba mencari wibawanya yang tercecer.

 

"Anu... Tante... itu sebenarnya..."

 

"Sudah kuduga!" Tante Miranda tertawa terbahak-bahak sampai perhiasannya bergemerincing. "Kadin, Kadin. Kamu dari kecil memang nggak bisa bedain garam sama gula. Waktu umur sepuluh tahun, kamu pernah coba bikin teh manis malah jadi teh asin!"

 

"Tante tahu?" Laras terbelalak.

 

"Seluruh keluarga besar tahu kalau Kadin itu payah di dapur! Makanya kami sengaja tantang kalian masak, buat ngetes seberapa jujur kalian," kata seorang paman dari sudut ruangan.

 

Laras menatap Kadin. Kadin menatap Laras. Mereka berdua merasa sangat konyol.

 

"Jadi, sandiwara kita gagal total?" tanya Laras pelan.

 

"Gagal secara estetika, tapi berhasil secara rasa!" sahut Kadin sambil nyengir. "Tapi tenang, ada satu hal yang benar-benar kami buat sendiri tadi pagi tanpa bantuan koki."

 

Kadin memberi kode pada Laras. Laras kemudian membawa sebuah piring kecil berisi dua butir telur ceplok yang bentuknya... yah, lumayan bulat.

 

"Ini hasil latihan kami tiga hari tiga malam," kata Laras bangga. "Hanya telur ceplok. Tanpa bumbu rahasia Chef Juna."

 

Tante Miranda mencicipi telur itu. Ia terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Sedikit hambar, tapi matangnya pas. Ini jauh lebih berharga daripada rendang mahal tadi."

 

"Beneran, Tan?" Kadin antusias.

 

"Iya. Tapi Mas Kadin, ada satu hal lagi yang mau Tante tanya."

 

"Apa itu, Tan?"

 

"Kenapa di bawah meja dapur kalian ada koki yang ketinggalan dan lagi sembunyi sambil makan kerupuk?"

 

Laras dan Kadin menoleh ke arah kolong meja pantry. Benar saja, ada seorang asisten koki yang tertidur di sana karena kelelahan memasak sejak jam empat pagi.

 

Kadin menghela napas, lalu merangkul Laras. "Dek, kayaknya kita butuh anggaran lebih buat kursus masak privat, atau minimal buat beli lemari dapur yang lebih kedap suara."

 

Laras tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Mas, mending kita fokus cari asisten rumah tangga baru saja yang nggak bakal kita kasih bonus umrah di waktu bersamaan."

 

"Setuju! Tapi sebelum itu, piring-piring kotor di oven siapa yang cuci?"

 

"Mas Kadin, kan Sultan?"

 

"Sultan nggak cuci piring, Dek, Sultan beli pabrik sabunnya!"

 

"Terus yang cuci piringnya siapa, Mas?"

 

Spirov Lengking, 620270012001

 

Label: , , , , , , , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda