Senin, 25 Mei 2026

CATATAN KENANGAN 01 ~ Antara Rangkap Jabatan, Tersinggung, dan Menjaga Jarak secara Psikis sampai Mati

 

Ini nyata, bukan ilusian.

Ini kenyataan, bukan rekayasaan.

Ini kasunyatan, bukan buatan.

 

Suatu hari, berpuluh-puluh tahun silam, saat saya masih menjadi sekretaris RT, saya merasa akrab dengan seseorang yang oleh masyarakat dipandang sebagai TOKOH MASYARAKAT. Beliau…intinya MANUSIA PINUNJUL. Dan saya mengakuinya. Memang begitulah nyatanya. Kasunyatannya.

 

Beliau ini merangkap jabatan yang tidak sesuai aturan yang berlaku di kalurahan tempat saya tinggal.

“Pak panjenengan ini menjadi anggota XYZ, dan masih menjadi UVW,” kata saya suatu hari. “Menurut aturan, itu kan tidak boleh.”

Beliau menjawab, “Masyarakat masih menghendaki saya menjadi UVW, maka saya tidak mengundurkan diri sebagai UVW.”

“O, ngaten (begitu),” saya mengangguk paham. Paham dan merasa lega. Pertanyaan dalam hati saya sudah terjawab, saya tidak bertanya lagi. Saya pikir ini selesai.

 

Tapi…, ini yang membuat saya tidak enak hati. Beliau, tokoh masyarakat yang sangat terhormat dan dihormati masyarakat ini, di kemudian hari, setelah saya mengutarakan rangkap jabatan, menjaga jarak dengan saya. Tidak akrab lagi dengan saya seperti sebelumnya. Dan… sikap tidak akrab ini berlangsung sampai beliau tiada.

 


Sejak saat itu, saya tidak mau lagi berbicara dengan siapa saja terkait tema RANGKAP JABATAN. Ternyata permintaan alasan rangkap jabatan bisa membuat seseorang sangat tersinggung sampai ajal menjemputnya. Ketokohan seseorang tidak menjamin kedewasaannya dalam berpikir dan bertindak sesuai aturan yang berlaku.

 

Sekarang, ada orang mau rangkap jabatan sampai satu triliun jabatan pun, saya nggak akan mempertanyakan. Saya nggak mau jadi Togog Tejamantri. Jadi Togog itu berat, lebih berat dibandingkan menjadi Semar. Biarlah Batara Tejamaya saja yang menjalaninya sebagai takdir abadi sampai datangnya kiamat nanti.


Spirov Lengking, 620250020353

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar