Ini nyata, bukan ilusian.
Ini
kenyataan, bukan rekayasaan.
Ini
kasunyatan, bukan buatan.
Suatu
hari, berpuluh-puluh tahun silam, saat saya masih menjadi sekretaris RT, saya
merasa akrab dengan seseorang yang oleh masyarakat dipandang sebagai TOKOH MASYARAKAT.
Beliau…intinya MANUSIA PINUNJUL. Dan saya mengakuinya. Memang begitulah
nyatanya. Kasunyatannya.
Beliau
ini merangkap jabatan yang tidak sesuai aturan yang berlaku di kalurahan tempat
saya tinggal.
“Pak
panjenengan ini menjadi anggota XYZ, dan masih menjadi UVW,” kata saya suatu
hari. “Menurut aturan, itu kan tidak boleh.”
Beliau
menjawab, “Masyarakat masih menghendaki saya menjadi UVW, maka saya tidak
mengundurkan diri sebagai UVW.”
“O,
ngaten (begitu),” saya mengangguk paham. Paham dan merasa lega. Pertanyaan dalam
hati saya sudah terjawab, saya tidak bertanya lagi. Saya pikir ini selesai.
Tapi…,
ini yang membuat saya tidak enak hati. Beliau, tokoh masyarakat yang sangat
terhormat dan dihormati masyarakat ini, di kemudian hari, setelah saya mengutarakan
rangkap jabatan, menjaga jarak dengan saya. Tidak akrab lagi dengan saya
seperti sebelumnya. Dan… sikap tidak akrab ini berlangsung sampai beliau tiada.
Sejak
saat itu, saya tidak mau lagi berbicara dengan siapa saja terkait tema RANGKAP
JABATAN. Ternyata permintaan alasan rangkap jabatan bisa membuat seseorang
sangat tersinggung sampai ajal menjemputnya. Ketokohan seseorang tidak menjamin
kedewasaannya dalam berpikir dan bertindak sesuai aturan yang berlaku.
Sekarang,
ada orang mau rangkap jabatan sampai satu triliun jabatan pun, saya nggak akan
mempertanyakan. Saya nggak mau jadi Togog Tejamantri. Jadi Togog itu berat, lebih
berat dibandingkan menjadi Semar. Biarlah Batara Tejamaya saja yang
menjalaninya sebagai takdir abadi sampai datangnya kiamat nanti.
Spirov Lengking, 620250020353



Tidak ada komentar:
Posting Komentar