Ngo San Koh Yang
itu NGObrol SANtai dengan toKOH waYANG. Pada kesempatan pertama ini ngobrol
dengan Mahapatih Haryo (MPH) Sengkuni.
Saya : Beruntung
sekali bisa ngobrol dengan Paduka Mahapatih Haryo Sengkuni. Ini kesempatan
kedua setelah Paduka Patih bertandang ke rumah saya beberapa tahun silam. Bagaimana
kabar Paduka Patih? Sehat lahir dan batin kan?
Sengkuni : Sehat. Bukan
hanya lahir, fisik, badan yang sehat. Batin, psikis, jiwa jug sehat. Sangat sehat
sekali. Jiwa saya selalu sehat sejak lahir sampai sekarang. Oh ya, selamat Mas
atas cetakan kedua buku karya anda tentang saya yang berjudul MUSNAHNYA
SENGKUNI. Hebat! Ternyata buku itu digemari di negerimu.
Saya : Terima kasih,
Paduka Patih atas ucapan selamatnya. Oh ya, pernah trending topik di media
massa tentang rangkap jabatan di Astina. Ada sekelompok aktivis di negara itu yang
protes keras karena Paduka Patih rangkap jabatan sebagai Mahapatih di Astina
dan raja di Plasajenar. Bagaimana sikap Paduka Patih saat itu, sehingga isu yang
sempat santer itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi?
Sengkuni : Hehehe
hehe…, santai saja, Mas. Menghadapi cecurut-cecurut yang biasa disebut aktivis
itu tidak perlu menggunakan otot, kekerasan, atau pun pasukan bersenjata. Cukup
gunakan sedikit akal, maka beres. Semua bisa diberesi dalam waktu sekedipan
mata saja, hehehehehe….
Saya : Kalau boleh
tahu, apa yang dimaksud ‘sedikit akal’ itu?
Sengkuni : Boleh…,
tentu saja boleh. Itu bukan rahasia kok. Cara ini banyak yang niru kok. Begini…,
para aktivis yang protes atas rangkap jabatan yang saya emban, diteror secara senyap
menggunakan aji pameling. Kalau di
tempat ini melalui ponsel pribadinya. Gambarannya begini, tiap tengah malam,
saya utus pasukan senyap yang biasa disebut telik sandi untuk menyampaikan
pesan langsung ke telinga mereka. Peannya kurang lebih begini, “Kalau kamu
tetap melanjutkan protesmu, dalam tiga hari mulai dari sekarang, kepalamu akan
terpisah dari badanmu.”
Saya : Lho namanya
teror, Paduka Patih.
Sengkuni : Ya…,
terserah mau disebut apa. Saya menyebutnya ‘pesan halus’. Itu bukan ancaman,
bukan teror, tapi pesan lembut lewat tengah malam.
Saya : Kebanyakan
aktivis siap mati demi kebenaran yang dikukuhinya. Mereka rela berkorban nyawa
demi kejayaan Astina tercinta.
Sengkuni : Betul…,
tapi ada juga lho yang langsung diam seribu bahasa. Tak berani bersuara lagi tentang
rangkap jabatan. Cep klakep mulutnya. Lalu bagaimana yang tetap bersuara
lantang karena tak takut mati oleh pesan saya tersebut? Gampang. Saya ubah isi
pesannya. Kurang lebih begini, “Kalau kamu tetap protes, nenekmu, istrimu, dan
anak perempuanmu akan kami perkosa secara massal sampai mereka kehabisan napas!”
Saya : Gila…, itu
sadis, Paduka Patih!
Sengkuni : Lha
gimana lagi? Mereka juga sadis sama saya. Masa saya nggak boleh rangkap
jabatan. Rakyat Plasajenar masih menginginkan saya sebagai raja, maka saya
tidak lengser dari takhta Plasajenar yang menjadi hak saya secara sah. Soal kedudukan
saya sebagai mahapatih di Astina, itu soal lain. Saya menjadi mahapatih untuk mendampingi
keponakan saya. Agar Ananda Prabu Duryudana lebih kuat sebagai raja kalau saya
dampingi sebagai mahapatihnya. Masa tidak boleh?
Saya : Setelah
diancam secara sadis itu, apa reaksi mereka?
Sengkuni : Mereka biasanya
tak mau ambil risiko. Sejak saat itu, isu rangkap jabatan, lenyap, raib tak
berjejak sedikit pun.
Saya : Ehm…, begitu
ceritanya. Sekarang tema lain. Astina tampak adem ayem, tenang, tenteram, tanpa
ada gejolak apa pun ketika patihnya Paduka Mahapatih Haryo Sengkuni. Apa resep
rahasia di balik stabilitas yang konon abadi ini?
Sengkuni:
(Menyeringai) Ah, stabilitas. Itu kata kunci yang indah, bukan? Resepnya
sederhana saja, Mas. Untuk melanggengkan kekuasaan di Kerajaan Astina, saya
selalu menyuntikkan sebuah program unggulan kepada keponakan saya tercinta,
Raja Duryudana. Program ini saya sebut "Dwi-Sakti Hastinapura":
Pembodohan dan Pemiskinan Permanen!
Jangan salah
paham, ini bukan tindakan kejam. Ini adalah seni mengelola rakyat. Rakyat yang
bodoh tidak akan banyak bertanya. Mereka tidak akan sibuk mencari tahu apa yang
sebenarnya terjadi di balik tirai istana. Mereka akan menelan bulat-bulat apa
pun yang kita sajikan. Dan rakyat yang miskin? Mereka sibuk bertahan hidup,
sibuk mencari sesuap nasi. Mana sempat mereka memikirkan politik, apalagi
memberontak? Mereka mudah dikuasai, mudah ditindas secara sewenang-wenang. Yang
paling penting…, rakyat yang bodoh dan miskin mudah bersyukur dengan
remah-remah yang kita berikan. Bukankah itu efisien?
Saya: Menarik
sekali, Paduka Patih. Tapi, bagaimana dengan suara-suara sumbang? Maksud saya,
pasti ada saja kan warga Astina yang... kritis?
Sengkuni: Tentu
saja ada! Bahkan di surga pun pasti ada malaikat yang komplain soal sayapnya
kurang berkilau. Itu wajar. Namun, di Astina, kami punya cara yang lebih...
persuasif. Saya juga membuat program khusus untuk mereka: "Program
Penyingkiran Tokoh Kritis, Aktivis, dan Kaum Intelektual Astina".
Saya: Maksudnya
apa, Paduka Patih?
Sengkuni: Kami tidak perlu repot-repot memenjarakan mereka atau membuat drama pengadilan yang panjang. Cukup buat mereka tidak nyaman. Teror fisik, teror mental, bisikan-bisikan halus dari intelijen Astina yang selalu ada di mana-mana. Sedikit gangguan pada bisnis mereka, sedikit 'kecelakaan' yang tidak disengaja, atau mungkin sekadar mengirimkan surat kaleng berisi kutipan ramalan buruk setiap hari ke rumah mereka. Lama-lama, mereka akan muak. Mereka akan kabur dari Astina, mencari kehidupan yang lebih tenang di negara lain. Astina jadi damai, mereka juga dapat pengalaman baru. Win-win solution, bukan?
(Saya mengangguk pelan, mencoba mencerna
"win-win solution" ala Sengkuni. Sepertinya definisi win-win kami
sedikit berbeda. Saya pun memberanikan diri untuk pertanyaan terakhir).
Saya: Lalu,
bagaimana dengan para intelektual yang terpaksa ke luar negeri itu, Paduka
Patih? Banyak dari mereka yang justru sukses dan ilmunya bermanfaat di sana.
Sengkuni: Ah, itu
dia poin pentingnya! Mereka yang kabur dan sukses di luar negeri, kami punya
label khusus untuk mereka. Mereka itu adalah... pengkhianat bangsa! Antek
asing. Gedibal asing. Tidak punya jiwa nasionalisme! Bagaimana bisa mereka
meninggalkan tanah air yang sudah membesarkan mereka, lalu malah mengabdi pada
negara lain? Padahal, kami sudah susah payah membuat mereka kabur, eh, maksud
saya, memberikan mereka kesempatan untuk 'eksplorasi diri' di luar negeri.
(Saya tersenyum geli ketika Sengkuni terpeleset
kata).
Sengkuni: Mereka
harusnya bangga menjadi bagian dari Astina, bukan malah mencari kenyamanan di
negeri orang. Bukankah Astina adalah pusat peradaban? Jika mereka tidak mau
kembali dan mengabdi di sini, berarti jiwa nasionalisme mereka patut
dipertanyakan. Apalagi jika mereka sampai berani mengkritik Astina dari jauh.
Itu sudah masuk kategori durhaka tingkat tinggi! Jadi, lupakan saja mereka.
Astina tidak butuh orang-orang seperti itu. Astina butuh kesetiaan buta, bukan
otak yang terlalu banyak mikir.
(Sengkuni mengakhiri penjelasannya dengan
senyum penuh kemenangan, seolah baru saja memenangkan pertandingan catur paling
rumit. Saya hanya bisa tersenyum wagu).
Spirov Lengking, 620250820945


Tidak ada komentar:
Posting Komentar