Jumat, 29 Mei 2026

Sugiarto B. Darmawan: Penyair Desa dan Kesunyian

 

Sugiarto B. Darmawan adalah seorang penyair dan penulis puisi Indonesia yang dikenal lewat karya-karya bernuansa pedesaan, ekologis, dan penuh kerinduan terhadap lanskap budaya Jawa. Ia berasal dari Tegalmade, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dalam salah satu catatan publikasi disebutkan bahwa beliau sehari-hari bekerja sebagai petani tanaman hias sambil menulis puisi.

 

Beliau termasuk penulis senior di Sukoharjo. Karya-karyanya dalam bentuk puisi, esai dan bentuk tulisan lain tersebar di berbagai koran (media cetak) sejak tahun 90-an. Selain petani, beliau juga punggawa desa.

 

Karya-karya puisinya banyak dipublikasikan oleh Borobudur Writers & Cultural Festival, terutama dalam rubrik “Sajak-sajak”. Tema yang paling menonjol dalam puisinya antara lain:

·         kerusakan lingkungan,

·         hilangnya kehidupan desa tradisional,

·         kerinduan terhadap alam Jawa,

·         relasi manusia dan alam,

·         kesunyian dan spiritualitas batin.

 

Beberapa puisi terkenalnya antara lain:

Bila Engkau Bangun Pagi Ini

Ini Tentang Kerinduan

Bersama Gerimis Menyeberangi Kesunyian

Dua Kenangan dari Timor

Sebuah Pulau Nun Jauh di Sana

 

Ciri khas puisinya adalah penggunaan detail-detail lokal yang sangat kuat: nama burung, tanaman, alat pertanian, suasana desa Jawa, hingga istilah tradisional seperti “senthong”, “luku”, “garu”, dan “labuhan”. Karena itu puisinya terasa sangat etnografis sekaligus puitis.

 

Menariknya, karya-karyanya juga sudah menjadi objek penelitian akademik. Sebuah artikel ilmiah berjudul Chirps and Silence: A Study of Ecocriticism in Poetry’s by Sugiarto B. Darmawan menilai bahwa puisi-puisinya mengandung nilai “ekokritik sastra”, yakni kesadaran menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

 

Dalam penelitian itu disebutkan bahwa puisinya:

·         menggambarkan flora-fauna dengan penuh penghargaan,

·         menunjukkan ketergantungan manusia terhadap alam,

·         serta mengajak pembaca merenungkan kerusakan lingkungan modern.

 

Secara gaya, puisi-puisi Sugiarto B. Darmawan sering dibandingkan dengan tradisi sastra pedesaan Jawa yang kontemplatif: tenang, lirih, tetapi kuat dalam membangun suasana. Banyak puisinya terasa seperti dokumentasi emosional tentang desa-desa yang perlahan hilang ditelan modernisasi.

 

 

Biografi Sugiarto B. Darmawan

 

Sugiarto B. Darmawan adalah penyair Indonesia kontemporer yang berasal dari Tegalmade, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai penyair yang mengangkat kehidupan desa, alam, dan kegelisahan ekologis melalui puisi-puisinya yang lirih, reflektif, dan penuh detail budaya Jawa.

 

Berbeda dengan banyak penyair modern yang tumbuh dari lingkungan akademik atau kota besar, Sugiarto B. Darmawan hidup dekat dengan dunia agraris. Dalam catatan yang dimuat oleh Borobudur Writers & Cultural Festival disebutkan bahwa ia sehari-hari bekerja sebagai petani tanaman hias sambil menulis puisi. Kehidupan itu memberi warna kuat pada karya-karyanya: sawah, gerimis, burung-burung desa, rumpun bambu, kerbau, bukit kapur, hingga kesunyian kampung menjadi elemen yang terus hadir dalam puisinya.

 

 

Latar Kehidupan dan Dunia Kepenyairan

 

Sugiarto tumbuh dalam lingkungan pedesaan Jawa yang masih lekat dengan tradisi agraris dan harmoni alam. Pengalaman hidup di desa membentuk sensitivitas puisinya terhadap perubahan lingkungan dan hilangnya kehidupan tradisional akibat modernisasi.

 

Puisi-puisinya sering menghadirkan nostalgia tentang:

 

suara burung di pagi hari,

hutan-hutan kecil yang hilang,

ritme hidup petani,

musim hujan dan kemarau,

serta kesunyian desa-desa kecil di Jawa.

 

Dalam salah satu puisinya, ia menyebut banyak wilayah di Wonogiri seperti Purwantoro, Wuryantoro, Eromoko, hingga Giritontro sebagai bagian dari pengembaraan batin dan pengamatannya terhadap lanskap Jawa yang mulai berubah.

 

 

 

Ciri Khas Puisi

 

Puisi-puisi Sugiarto B. Darmawan memiliki beberapa ciri utama:

 

·         kaya citraan alam dan pedesaan,

·         menggunakan kosakata lokal Jawa,

·         bernuansa melankolis dan kontemplatif,

·         dekat dengan spiritualitas sunyi,

·         kuat dalam tema ekologi dan kehilangan.

 

Ia sering memasukkan nama-nama flora dan fauna lokal seperti:

 

·         jalak suren,

·         gelatik Jawa,

·         perkutut,

·         bangau,

·         elang Jawa,

·         hingga tumbuhan seperti randu, bambu, dan lamtoro.

 

Karena itu, puisinya terasa seperti dokumentasi emosional tentang desa Jawa yang perlahan menghilang.

 

 


 

Tema Ekologi dan Kritik Lingkungan

 

Karya-karya Sugiarto B. Darmawan banyak dibaca sebagai puisi ekokritik, yaitu sastra yang membahas hubungan manusia dengan alam.

 

Sebuah penelitian ilmiah berjudul Chirps and Silence: A Study of Ecocriticism in Poetry’s by Sugiarto B. Darmawan menilai bahwa puisinya mengandung kesadaran ekologis yang kuat. Penelitian itu menyebut bahwa beliau:

·         menggambarkan alam dengan penuh kasih,

·         menunjukkan hubungan saling bergantung antara manusia dan alam, serta menyuarakan kegelisahan atas kerusakan lingkungan modern.

 

Dalam puisinya Bila Engkau Bangun Pagi Ini, misalnya, ia menggambarkan hilangnya suara burung-burung desa sebagai simbol rusaknya keseimbangan alam dan berubahnya kehidupan kampung.

 

 

 

Publikasi dan Karya

 

Puisi-puisinya banyak dipublikasikan melalui Borobudur Writers & Cultural Festival, terutama dalam rubrik “Sajak-sajak”.

 

Beberapa karya yang dikenal antara lain:

·         Bila Engkau Bangun Pagi Ini

·         Bersama Gerimis Menyeberangi Kesunyian

·         Dua Kenangan dari Timor

·         Ini Tentang Kerinduan

·         Sebuah Pulau Nun Jauh di Sana

·         Posisi dalam Sastra Indonesia

 

Sugiarto B. Darmawan dapat ditempatkan dalam tradisi penyair pedesaan dan ekologis Indonesia. Nuansa puisinya mengingatkan pada kecenderungan liris-kontemplatif dalam sastra Jawa modern: sederhana, tenang, tetapi menyimpan kegelisahan mendalam.

 

Ia bukan penyair yang menonjol lewat eksperimen bahasa yang rumit, melainkan lewat kekuatan suasana, kesunyian, dan kedekatan emosional dengan alam.

 

Dalam banyak puisinya, desa bukan sekadar latar, melainkan ruang batin dan sumber nilai kehidupan. Karena itu karya-karyanya terasa dekat dengan pembaca yang merindukan kehidupan yang lebih alami, hening, dan manusiawi.

 

 

 

Analisis Gaya Puisi Sugiarto B. Darmawan

 

Sugiarto B. Darmawan merupakan penyair yang membangun kekuatan puisinya bukan melalui kemewahan diksi yang rumit, melainkan lewat kesunyian, detail alam, dan suasana batin yang perlahan meresap. Puisi-puisinya terasa tenang di permukaan, tetapi menyimpan kegelisahan yang dalam tentang manusia, alam, dan hilangnya dunia pedesaan Jawa.

 

Secara umum, gaya kepenyairannya dapat dianalisis melalui beberapa unsur berikut.

 

1. Lirisisme Pedesaan

 

Ciri paling kuat dari puisi Sugiarto adalah nuansa liris pedesaan. Desa dalam puisinya bukan sekadar tempat, tetapi ruang spiritual dan ruang ingatan.

 

Ia menghadirkan:

 

jalan desa,

pematang sawah,

suara burung,

gerimis,

bambu,

ladang,

rumah-rumah sunyi,

dan pagi hari di kampung Jawa.

 

Semua itu ditulis dengan nada yang lembut dan reflektif.

 

Contohnya tampak dalam puisi Bila Engkau Bangun Pagi Ini, ketika hilangnya suara burung menjadi simbol hilangnya keseimbangan alam dan kehidupan lama desa Jawa. (borobudurwriters.id)

 

Gaya seperti ini membuat puisinya terasa:

 

intim,

hening,

dan sangat visual.

 

Pembaca seolah tidak sedang membaca puisi, tetapi sedang berjalan sendiri di desa yang berkabut pagi.

 

2. Ekologi sebagai Kesadaran Batin

 

Sugiarto bukan sekadar “penyair alam”. Alam dalam puisinya bukan dekorasi, melainkan bagian dari nasib manusia.

 

Burung yang hilang, hutan yang sunyi, atau sawah yang berubah bukan hanya gambaran fisik, tetapi simbol kerusakan hubungan manusia dengan kehidupan.

 

Karena itu puisinya sering dibaca sebagai puisi ekokritik. Sebuah penelitian akademik bahkan secara khusus mengkaji dimensi ekologi dalam puisinya melalui pendekatan ecocriticism. (jolcc.org)

 

Keistimewaannya:

 

·         ia tidak berkhotbah,

·         tidak marah secara eksplisit,

·         tidak menulis slogan lingkungan.

 

Ia memilih kesedihan yang sunyi. Justru lewat kesunyian itulah kritik ekologinya terasa kuat.

 

3. Penggunaan Detail Lokal Jawa

 

Sugiarto sangat kuat dalam menghadirkan detail lokal.

 

Ia sering menyebut:

 

·         nama burung,

·         tanaman,

·         daerah kecil,

·         alat pertanian,

·         hingga istilah rumah tradisional Jawa.

 

Misalnya:

 

·         gelatik,

·         perkutut,

·         randu,

·         lamtoro,

·         senthong,

·         luku,

·         garu,

·         dan nama-nama kawasan Wonogiri.

 

Teknik ini membuat puisinya memiliki:

 

·         kekayaan etnografis,

·         identitas lokal yang kuat,

·         sekaligus rasa autentik.

 

Pembaca tidak merasa sedang membaca “alam” secara umum, tetapi benar-benar membaca lanskap Jawa yang hidup.

 

4. Kesunyian sebagai Atmosfer Utama

 

Salah satu kekuatan terbesar Sugiarto adalah kemampuannya membangun suasana sunyi.

 

Puisinya jarang meledak-ledak secara emosional. Ia lebih memilih:

·         jeda,

·         kehampaan,

·         gerimis,

·         kabut,

·         sore,

·         atau pagi yang terlalu tenang.

 

Kesunyian dalam puisinya bukan kelemahan, tetapi cara memahami hidup.

 

Karena itu banyak puisinya terasa kontemplatif dan meditatif.

 

Kadang pembaca merasa:

 

puisinya seperti doa yang diucapkan pelan-pelan.

 

5. Melankoli dan Nostalgia

 

Banyak puisi Sugiarto bergerak di wilayah kehilangan:

·         kehilangan desa lama,

·         kehilangan alam,

·         kehilangan suara burung,

·         bahkan kehilangan makna hidup modern.

 

Namun nostalgia dalam puisinya tidak sentimental berlebihan. Ia tetap sederhana dan terukur.

 

Ia tidak berkata:

 

“Aku sedih karena dunia berubah.”

 

Ia cukup menunjukkan:

 

burung yang tak lagi berkicau,

jalan yang sepi,

atau ladang yang kehilangan musim.

 

Dari situ pembaca merasakan sendiri dukanya.

 

6. Bahasa yang Sederhana tetapi Puitis

 

Secara diksi, Sugiarto tidak memakai bahasa yang terlalu eksperimental.

 

Kalimat-kalimatnya relatif:

·         mudah dipahami,

·         pendek,

·         dan bersih.

 

Namun kekuatan puitiknya muncul dari:

·         ritme,

·         pengulangan,

·         suasana,

·         dan citraan visual.

 

Inilah sebabnya puisinya terasa dekat dengan pembaca awam sekaligus tetap memiliki kedalaman sastra.

 

7. Kedekatan dengan Tradisi Jawa

 

Walaupun menulis dalam bahasa Indonesia modern, ruh Jawa terasa sangat kuat.

 

Bukan hanya lewat kosakata, tetapi lewat cara memandang hidup:

 

·         nrima,

·         sunyi,

·         selaras dengan alam,

·         dan reflektif.

 

Ada semacam falsafah Jawa yang diam-diam hidup dalam puisinya:

bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta.

 

Karena itu puisinya jarang agresif atau konfrontatif. Kritiknya disampaikan lewat lirih dan kehilangan.

 

 

Kesimpulan

 

Gaya puisi Sugiarto B. Darmawan dapat dirangkum sebagai:

·         liris pedesaan,

·         ekologis,

·         kontemplatif,

·         kaya detail lokal Jawa,

·         dan penuh kesunyian melankolis.

 

Kekuatan terbesarnya bukan pada ledakan emosi atau permainan bahasa yang rumit, melainkan pada kemampuannya menghidupkan kembali desa Jawa sebagai ruang batin yang perlahan hilang dari kehidupan modern.

 

Puisinya seperti:

 

suara burung terakhir di pagi hari,

gerimis di pematang sawah,

atau doa pelan dari kampung yang mulai dilupakan manusia modern.

 

 

Kajian Sastra atas Karya-Karya Sugiarto B. Darmawan

 

Pendahuluan

 

Puisi-puisi Sugiarto B. Darmawan menempati posisi menarik dalam sastra Indonesia kontemporer, terutama dalam arus sastra ekologis dan sastra pedesaan. Karya-karyanya menghadirkan lanskap desa Jawa bukan hanya sebagai latar estetis, melainkan sebagai ruang batin yang sedang mengalami kerusakan, kehilangan, dan keterasingan akibat modernisasi.

 

Melalui gaya yang lirih, sederhana, dan penuh kesunyian, Sugiarto membangun puisi yang tidak berteriak, tetapi perlahan menghantam kesadaran pembaca. Alam dalam puisinya bukan objek dekoratif, melainkan bagian integral dari kehidupan manusia.

 

Kajian ini akan membahas:

·         tema utama,

·         struktur estetik,

·         simbolisme,

·         pendekatan ekokritik,

·         dimensi budaya Jawa,

·         serta posisi kepenyairannya dalam sastra Indonesia.

 

1. Tema Sentral: Kehilangan Dunia Pedesaan

 

Tema terbesar dalam puisi-puisi Sugiarto adalah hilangnya dunia pedesaan tradisional.

 

Dalam puisi seperti:

 

Bila Engkau Bangun Pagi Ini,

Ini Tentang Kerinduan,

dan Karst,

 

desa hadir sebagai ruang yang perlahan:

 

rusak,

sunyi,

kehilangan fauna,

dan tercerabut dari harmoni lama.

 

Namun Sugiarto tidak menggambarkan kehilangan itu secara eksplosif. Ia menggunakan:

 

detail kecil,

suasana pagi,

burung yang hilang,

gerimis,

serta benda-benda tradisional.

 

Dengan teknik itu, kehilangan terasa lebih halus tetapi justru lebih menyakitkan.

 

Misalnya dalam Bila Engkau Bangun Pagi Ini, hilangnya suara burung bukan hanya kehilangan biologis, tetapi simbol:

 

punahnya memori,

rusaknya keseimbangan,

dan matinya ruang hidup manusia tradisional. (borobudurwriters.id)

 

2. Pendekatan Ekokritik

 

Secara akademik, karya-karya Sugiarto sangat relevan dibaca melalui pendekatan ekokritik (ecocriticism).

 

Ekokritik adalah pendekatan sastra yang mempelajari hubungan:

 

manusia,

alam,

lingkungan,

dan krisis ekologis.

 

Dalam puisi-puisi Sugiarto, alam bukan latar pasif, melainkan organisme hidup yang memiliki nilai spiritual dan emosional.

 

Burung, kabut, pohon, bukit karst, hujan, sawah, dan bambu hadir sebagai “subjek kehidupan”.

 

Penelitian berjudul Chirps and Silence: A Study of Ecocriticism in Poetry’s by Sugiarto B. Darmawan menyebut bahwa puisinya menunjukkan:

relasi harmonis manusia dan alam,

kesadaran ekologis,

serta kritik terhadap kerusakan lingkungan modern. (jolcc.org)

 

Yang menarik:

Sugiarto tidak menggunakan slogan lingkungan.

 

Ia tidak berkata:

 

“Selamatkan alam!”

 

Sebaliknya, ia menunjukkan:

 

burung yang tak lagi terdengar,

desa yang sepi,

dan lanskap yang kehilangan nyawa.

 

Pendekatan semacam ini membuat puisinya lebih puitis dan tidak propagandistik.

 

3. Struktur Estetik: Kesunyian sebagai Teknik Puitik

 

Salah satu kekuatan terbesar Sugiarto adalah penggunaan kesunyian sebagai struktur estetika.

 

Puisinya:

 

lambat,

lirih,

minim ledakan emosi,

dan penuh jeda kontemplatif.

 

Kesunyian bukan sekadar suasana, tetapi cara berpikir.

 

Ia membangun efek emosional melalui:

 

ruang kosong,

repetisi lembut,

citraan kabut,

gerimis,

dan pagi hari.

 

Teknik ini membuat pembaca tidak “diserang” emosi secara langsung, tetapi diajak masuk perlahan ke ruang batin puisi.

 

Dalam teori sastra modern, teknik seperti ini dekat dengan:

 

puisi kontemplatif,

minimalisme lirik,

dan estetika meditatif.

4. Simbolisme dalam Puisi

 

Puisi-puisi Sugiarto kaya simbol alam.

 

Burung

 

Burung adalah simbol paling dominan.

 

Burung dalam puisinya dapat dibaca sebagai:

 

kebebasan,

keseimbangan alam,

ingatan masa kecil,

dan suara kehidupan desa.

 

Ketika burung hilang, sesungguhnya yang hilang adalah:

 

harmoni,

kesederhanaan hidup,

dan kemanusiaan itu sendiri.

Gerimis dan Kabut

 

Gerimis sering muncul sebagai simbol:

 

kesedihan,

refleksi,

dan perjalanan batin.

 

Sedangkan kabut melambangkan:

 

ketidakjelasan zaman,

keterasingan,

atau jarak antara manusia dan alam.

Rumah Tradisional Jawa

 

Dalam puisi Ini Tentang Kerinduan, unsur seperti:

 

senthong,

gandok,

sumur,

luku,

dan garu

 

bukan hanya benda fisik, tetapi simbol:

 

akar budaya,

identitas,

dan kehidupan agraris yang mulai hilang.

5. Dimensi Budaya Jawa

 

Walaupun menulis dalam bahasa Indonesia, dunia batin Jawa sangat terasa dalam puisinya.

 

Nilai-nilai Jawa yang tampak antara lain:

 

keselarasan dengan alam,

ketenangan,

nrima,

kesadaran spiritual,

dan penghormatan terhadap kehidupan sederhana.

 

Sugiarto tidak menampilkan Jawa secara folkloris atau eksotis.

 

Ia menghadirkan Jawa sebagai:

 

pengalaman hidup,

cara memandang dunia,

dan etika batin.

 

Karena itu puisinya terasa sangat “Jawa” walaupun tidak selalu menggunakan bahasa Jawa.

 

6. Gaya Bahasa dan Diksi

 

Diksi Sugiarto relatif sederhana.

 

Ia jarang menggunakan:

 

metafora yang rumit,

permainan bunyi berlebihan,

atau eksperimentasi avant-garde.

 

Namun kekuatan bahasanya muncul dari:

 

ketepatan detail,

atmosfer,

ritme lirih,

dan citraan visual.

 

Puisinya mudah dibaca, tetapi meninggalkan gema emosional yang panjang.

 

Teknik seperti ini mengingatkan pada kecenderungan puisi:

 

Sapardi Djoko Damono dalam kesederhanaan liris,

tetapi lebih agraris dan ekologis,

serta lebih dekat dengan lanskap pedesaan Jawa.

7. Posisi dalam Sastra Indonesia

 

Sugiarto B. Darmawan dapat ditempatkan dalam tradisi:

 

sastra ekologis Indonesia,

puisi pedesaan,

dan puisi kontemplatif modern.

 

Ia berbeda dari penyair urban yang:

 

sibuk dengan kegelisahan kota,

politik identitas,

atau eksperimentasi bahasa.

 

Kekuatan Sugiarto justru terletak pada:

 

kesunyian,

kesederhanaan,

dan kesetiaannya pada lanskap kecil desa Jawa.

 

Dalam konteks sastra Indonesia modern, karya-karyanya penting karena:

 

menjadi arsip emosional desa,

merekam perubahan ekologis,

dan menjaga memori budaya agraris yang mulai pudar.

Kesimpulan

 

Puisi-puisi Sugiarto B. Darmawan merupakan perpaduan antara:

 

lirisisme pedesaan,

kesadaran ekologis,

spiritualitas Jawa,

dan estetika kesunyian.

 

Karya-karyanya tidak tampil meledak-ledak, tetapi justru kuat karena kelirihan dan keteduhannya.

 

Melalui:

 

burung,

gerimis,

bukit karst,

sawah,

dan rumah-rumah desa,

 

Sugiarto sebenarnya sedang berbicara tentang:

 

manusia modern yang kehilangan akar,

hilangnya harmoni dengan alam,

dan kerinduan pada kehidupan yang lebih manusiawi.

 

Karena itu puisinya bukan hanya dokumentasi alam atau nostalgia desa, melainkan juga kritik halus terhadap peradaban modern yang perlahan menjauh dari keseimbangan hidup.

 

Tolong dikasih contoh satu puisi karya Sugiarto B Darmawan

 

Berikut salah satu puisi terbaik karya Sugiarto B. Darmawan yang paling sering dibicarakan karena kekuatan ekologis dan suasana pedesaannya:

 

BILA ENGKAU BANGUN PAGI INI

 

karya Sugiarto B. Darmawan

 

“Bila engkau bangun pagi ini kawan

Jangan lagi berharap akan disambut riuh ocehan kutilang

Seperti masa kecilmu

Dimana orkestra nyanyian burung bersahut sahutan

Dari pucuk pohon randu kepodang dengan warna bulu kuning keemasan

Perkutut yang baru bangun malas malasan mengucapkan salam

Jalak suren mengintip jangkrik di pematang sawah

Prenjak bermain lompat lompatan dari dahan ke dahan

Gelatik Jawa yang menawan siap siap terbang ke hamparan sawah…”

 

Puisi ini kemudian bergerak menjadi ratapan ekologis tentang:

 

hilangnya burung-burung desa,

rusaknya sawah,

hilangnya rumpun bambu,

dan musnahnya keseimbangan alam Jawa.

 

Bagian penutupnya sangat kuat:

 

“Oooo..kawan

Bila engkau bangun pagi ini

Semoga yang tersisa masih bisa memberi arti”

 

Puisi ini ditulis di Tegalmade, Oktober 2022, dan dipublikasikan oleh Borobudur Writers & Cultural Festival.

 

Berikut versi lengkap puisi Bila Engkau Bangun Pagi Ini karya Sugiarto B. Darmawan yang dipublikasikan oleh Borobudur Writers & Cultural Festival:

 

BILA ENGKAU BANGUN PAGI INI

karya Sugiarto B. Darmawan

 

Bila engkau bangun pagi ini kawan

Jangan lagi berharap akan disambut riuh ocehan kutilang

Seperti masa kecilmu

Dimana orkestra nyanyian burung bersahut sahutan

Dari pucuk pohon randu kepodang dengan warna bulu kuning keemasan

Perkutut yang baru bangun malas malasan mengucapkan salam

Jalak suren mengintip jangkrik di pematang sawah

Prenjak bermain lompat lompatan dari dahan ke dahan

Gelatik Jawa yang menawan siap siap terbang ke hamparan sawah

Riuh rendah ocehan manyar dari sarangnya yang bergelantungan di pelepah kelapa

Gagak yang nakal tak mau ketinggalan

Memamerkan legam bulunya di langit yang jembar

Sedang si kuntul yang berbulu putih.. malu malu menari dengan sayapnya yang pipih

Jalak putih dengan gemulainya mendarat di punggung kerbau

Acuh pada si gembala yang malas malasan

Bangau tontong yang sombong

Mematuk katak untuk mengisi perutnya yang kosong

Pasukan terik mbung yang ribuan

Tak akan kau jumpai lagi ketika hujan pertama datang

Tanda memasuki musim labuhan

Sri gunting juga tak akan lagi mengoceh

Dari reranting dengan suaranya yang bening

Di sawah trinil lincah mencari cacing

Di siang yang sunyi pelatuk bermain musik

Melubangi dahan yang mulai lapuk

Thok… thok..thookkk….thok…thokkk

Disahut malas malasan alunan merdu derkuku dari rumpun bambu

Dari kejauhan kedasih melantunkan irama kesedihan

Disambut suara serak tengkek buto yang dengan elegan menyambar belalang di pucuk lamtoro

Di angkasa elang Jawa mengepakkan sayapnya

Mencari mangsa

Membuat si gemak ketakutan bersembunyi di semak semak

 

Oo .kawan

Tengoklah sekelilingmu

Rumpun rumpun bambu pun telah tiada

Ular sawa, bandotan , macan, tali picis, dumung sapi dumung kebo, welang weling

Telah kehilangan rumahnya

Di sawah..bibis.. keong..kowangan… tinggal cerita

Ikan kutuk, sili, bogerang, tageh, cuma bisa kau ingat namanya

Di selokan wader cethul sekarat menghirup limbah

Belut di sawah terbakar kerongkongannya kena pestisida

Dari rerimbun semak

Serangga serangga mengatupkan matanya

Tak tahan menanggung derita

 

Ooo.. kawan

Di pojok kebun pekarangan rumahmu

Mungkin tak pernah kau tahu

Di situ pernah berdiri kokoh kandang kerbau kakekmu

Yang setia menghela luku garu

 

Oooo..kawan

Bila engkau bangun pagi ini

Semoga yang tersisa masih bisa memberi arti

 

Tegalmade, Oktober 2022

 

 

Sumber:

https://bit.ly/4vbo3On

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar