Rahasia Dapur Sultan Blendrong
"Ini kenapa
telurnya jadi mirip ban kempes begini, Mas?"
Laras Puspikas
menatap ngeri ke arah penggorengan. Di atas teflon seharga motor matik itu,
sebutir telur mata sapi tampak merana. Kuningnya pecah, tepiannya hitam legam,
dan baunya lebih mirip karet terbakar daripada sarapan bergengsi.
Kadin Blendrong, pria
empat puluh tahun yang kekayaannya sanggup membeli satu kecamatan, hanya bisa
menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelan tuksedonya yang licin tampak
kontras dengan spatula yang ia pegang dengan gemetar.
"Mungkin apinya
terlalu bersemangat, Dek Laras," jawab Kadin pelan.
"Bersemangat?
Ini namanya percobaan pembunuhan terhadap bahan pangan, Mas!" Laras
merebut spatula itu. "Masa duda kaya raya, koleksi mobil sport sepuluh,
tapi goreng telur saja gagal total?"
"Ya, kan selama
ini ada asisten rumah tangga, ada koki pribadi, ada katering bintang
lima..."
"Dan sekarang
mereka semua lagi mudik massal karena Mas Kadin kasih bonus umrah, kan?"
potong Laras gemas. "Terus lusa ada syukuran keluarga besar. Mas Kadin
bilang ke Tante Miranda kalau kita yang bakal masak sendiri sebagai tanda
syukur pernikahan kita. Ingat?"
Kadin memucat.
"Itu... itu cuma taktik biar Tante Miranda berhenti nanya kapan kita punya
anak, Dek."
"Mas, Tante
Miranda itu kritikus kuliner!" Laras memijat pelipisnya. "Kalau dia
tahu kita bahkan nggak tahu bedanya lengkuas sama jahe, harga diri Mas Kadin
sebagai Sultan Blendrong bakal jatuh ke lantai!"
"Makanya, kita
harus latihan!" seru Kadin mendadak semangat. "Mas sudah beli buku
resep paling mahal se-Indonesia."
"Judulnya
apa?"
"Memasak untuk
Sultan yang Tidak Tahu Apa-apa."
Laras menghela napas
panjang. Ia baru berusia dua puluh tahun, baru dinikahi pria matang ini sebulan
yang lalu. Ia pikir hidupnya bakal tenang di dalam istana megah ini. Ternyata,
tantangan terbesarnya bukan menghadapi pelakor, melainkan menghadapi kompor gas.
"Oke, kita mulai
dari yang paling dasar," kata Laras sambil mengambil satu pak telur lagi.
"Ceplok telur. Tanpa gosong. Tanpa drama."
"Siap, Bos
Kecil!"
Dua jam kemudian,
dapur yang didesain arsitek Italia itu berubah jadi medan perang. Tepung terigu
bertebaran di lantai bak salju di pegunungan Alpen. Kulit telur berserakan di
wastafel.
"Dek, ini kenapa
bawangnya kalau dipotong malah bikin mata Mas perih? Apa bawangnya punya dendam
pribadi?" tanya Kadin sambil menyeka air mata dengan serbet sutra.
"Itu namanya zat
sulfur, Mas Kadin! Bukan dendam!" Laras berteriak dari balik meja konter,
sibuk mencoba mengupas bawang putih yang kulitnya seolah menempel pakai lem
Korea.
"Aduh! Mas,
tanganku kena pisau!"
Kadin langsung panik.
Ia menjatuhkan bawangnya dan berlari menghampiri Laras. "Mana? Mana yang
luka? Kita ke Singapura sekarang? Pakai jet pribadi?"
Laras menatap jarinya
yang hanya tergores tipis, nyaris tak terlihat. "Cuma lecet dikit, Mas.
Nggak usah panggil pilot."
"Tapi ini darah
biru, Dek! Eh, bukan, maksudnya darah istri Sultan!"
"Lebay!"
Laras tertawa kecil, tapi pipinya merona. "Mas Kadin fokus saja potong
cabainya. Ingat, jangan pegang mata setelah potong cabai."
"Kenapa?"
"Nanti Mas tahu
sendiri rasanya neraka dunia."
Kadin menurut. Ia
mulai memotong cabai dengan saksama, seolah-olah sedang membedah mesin
Ferrari-nya. Namun, baru tiga irisan, hidungnya gatal. Tanpa berpikir panjang,
ia mengucek hidung dengan tangan yang masih basah sari cabai rawit.
"AAAAAARGH! DEK!
MATA MAS! HIDUNG MAS! KEBAKARAN!"
Laras panik.
"Kan sudah dibilang! Sini, sini, cuci pakai air!"
Di tengah kekacauan
itu, bel pintu berbunyi. Mereka berdua membeku.
"Siapa?"
bisik Kadin dengan mata merah meradang.
"Jangan-jangan
Tante Miranda datang lebih awal?" Laras panik. "Mas, sembunyiin semua
telur gosong ini! Cepat!"
Laras berlari menuju
pintu depan, sementara Kadin sibuk memasukkan panci-panci kotor ke dalam oven
agar tidak terlihat. Laras membuka pintu dengan senyum yang dipaksakan.
"Eh, Jeng Laras,"
sapa seorang wanita paruh baya dengan gaya glamor. Itu Tante Miranda.
"Tante! Kok...
kok sudah sampai? Bukannya acaranya lusa?"
"Tante cuma mau
antar bumbu rahasia keluarga. Mas Kadin mana? Katanya mau pamer masakan spesial
hari ini?" Tante Miranda melongok ke dalam.
"Mas Kadin
lagi... lagi meditas di dapur, Tan! Biar masakannya penuh cinta!" seru
Laras panik.
"Wah, hebat ya.
Sultan tapi mau turun ke dapur. Jarang-jarang ada laki-laki begitu."
Tante Miranda
berjalan masuk, mengendus udara. "Tapi kok... baunya kayak ban dibakar ya,
Laras?"
"Itu... itu
aromaterapi gaya baru, Tan! Bau smoky kayu jati!" jawab Laras asal.
Tepat saat itu,
terdengar suara PRAAAANG! dari arah dapur.
"Suara apa
itu?" Tante Miranda mengernyit.
"Kucing! Iya,
kucing tetangga masuk, Mas Kadin lagi mengusirnya!"
Laras buru-buru
menggiring Tante Miranda ke ruang tamu. "Tante tunggu sini ya, Laras
ambilkan minum. Jus jeruk segar!"
Laras lari ke dapur.
Dilihatnya Kadin terduduk di lantai, dikelilingi pecahan piring keramik Dinasti
Ming.
"Mas! Tante
Miranda ada di depan!" bisik Laras histeris.
"Dek, jujur
saja. Mas nggak bisa. Mas menyerah," Kadin meratap. "Mas sanggup beli
perusahaan tambang, tapi Mas nggak sanggup naklukin telur ceplok. Mas
payah."
Laras terdiam melihat
suaminya yang perkasa itu tampak begitu rapuh di antara tumpahan kecap. Ia
berlutut di samping Kadin.
"Mas, dengerin.
Kita nggak perlu jadi koki hebat buat syukuran itu. Kita cuma perlu kerja
sama."
"Caranya?"
"Mas punya uang,
kan?"
"Punya
banget."
"Mas punya
koneksi, kan?"
"Satu grup
WhatsApp sama menteri."
Laras tersenyum
licik. "Kita pesan katering paling mahal di kota ini. Suruh mereka datang
lewat pintu belakang jam empat pagi lusa. Masak di dapur kita secara rahasia,
terus mereka harus pergi sebelum tamu datang. Kita tinggal bagi tugas: Mas
bagian plating, Laras bagian akting pura-pura capek masak."
Mata Kadin berbinar.
"Ide cerdas! Itu namanya outsourcing strategis!"
"Tapi ada satu
syarat."
"Apa?"
"Besok kita
tetap harus belajar goreng telur sampai bisa. Masa Sultan kalah sama
telur?"
"Oke!
Janji!"
Hari syukuran pun
tiba. Rumah mewah itu sudah dipenuhi kerabat besar Blendrong. Aroma rendang,
opor ayam, dan sambal goreng ati menyerbak ke seluruh ruangan. Tante Miranda
berdiri di tengah ruangan, memegang piring dengan wajah sangar.
"Mana masakan
pengantin baru? Tante mau coba," tantang Tante Miranda.
Kadin dan Laras
keluar dari dapur dengan peluh yang (disengaja) membasahi dahi. Kadin memakai
celemek bertuliskan The King of Kitchen.
"Silakan, Tante.
Ini Rendang Wagyu A5 ala Kadin Blendrong dan Opor Ayam Organik buatan Laras
Puspikas," kata Kadin penuh percaya diri.
Tante Miranda
mengambil sesendok rendang. Ia mengunyah pelan. Matanya terpejam. Laras dan
Kadin berpegangan tangan, jantung mereka berdegup kencang.
"Luar
biasa..." gumam Tante Miranda. "Rasa ini... tekstur ini..."
"Enak kan,
Tan?" tanya Laras penuh harap.
"Ini persis
banget sama rasa rendang di Restoran Bintang Lima milik Chef Juna!" Tante
Miranda menatap tajam ke arah Kadin.
Kadin berkeringat
dingin. "Ah, masa sih, Tan? Mungkin karena Mas pakai bumbu cinta yang
sama?"
"Nggak
mungkin!" seru Tante Miranda. "Chef Juna itu sepupu Tante! Dan dia
baru saja kirim pesan di grup keluarga kalau dia baru saja dapat pesanan
rahasia dari seorang 'Sultan' untuk dimasak langsung di rumahnya pagi-pagi
buta!"
Suasana mendadak
hening. Para tamu mulai berbisik-bisik. Laras menunduk, wajahnya merah padam.
Kadin berdeham, mencoba mencari wibawanya yang tercecer.
"Anu... Tante...
itu sebenarnya..."
"Sudah
kuduga!" Tante Miranda tertawa terbahak-bahak sampai perhiasannya
bergemerincing. "Kadin, Kadin. Kamu dari kecil memang nggak bisa bedain
garam sama gula. Waktu umur sepuluh tahun, kamu pernah coba bikin teh manis
malah jadi teh asin!"
"Tante
tahu?" Laras terbelalak.
"Seluruh
keluarga besar tahu kalau Kadin itu payah di dapur! Makanya kami sengaja
tantang kalian masak, buat ngetes seberapa jujur kalian," kata seorang
paman dari sudut ruangan.
Laras menatap Kadin.
Kadin menatap Laras. Mereka berdua merasa sangat konyol.
"Jadi, sandiwara
kita gagal total?" tanya Laras pelan.
"Gagal secara
estetika, tapi berhasil secara rasa!" sahut Kadin sambil nyengir.
"Tapi tenang, ada satu hal yang benar-benar kami buat sendiri tadi pagi
tanpa bantuan koki."
Kadin memberi kode
pada Laras. Laras kemudian membawa sebuah piring kecil berisi dua butir telur
ceplok yang bentuknya... yah, lumayan bulat.
"Ini hasil
latihan kami tiga hari tiga malam," kata Laras bangga. "Hanya telur
ceplok. Tanpa bumbu rahasia Chef Juna."
Tante Miranda
mencicipi telur itu. Ia terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Sedikit hambar,
tapi matangnya pas. Ini jauh lebih berharga daripada rendang mahal tadi."
"Beneran,
Tan?" Kadin antusias.
"Iya. Tapi Mas
Kadin, ada satu hal lagi yang mau Tante tanya."
"Apa itu,
Tan?"
"Kenapa di bawah
meja dapur kalian ada koki yang ketinggalan dan lagi sembunyi sambil makan
kerupuk?"
Laras dan Kadin
menoleh ke arah kolong meja pantry. Benar saja, ada seorang asisten koki yang
tertidur di sana karena kelelahan memasak sejak jam empat pagi.
Kadin menghela napas,
lalu merangkul Laras. "Dek, kayaknya kita butuh anggaran lebih buat kursus
masak privat, atau minimal buat beli lemari dapur yang lebih kedap suara."
Laras tertawa,
menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Mas, mending kita fokus cari
asisten rumah tangga baru saja yang nggak bakal kita kasih bonus umrah di waktu
bersamaan."
"Setuju! Tapi
sebelum itu, piring-piring kotor di oven siapa yang cuci?"
"Mas Kadin, kan
Sultan?"
"Sultan nggak
cuci piring, Dek, Sultan beli pabrik sabunnya!"
"Terus yang cuci
piringnya siapa, Mas?"
Spirov Lengking, 620270012001
Label: dapur, humor, kehidupanrumah tangga, keluarga, kisahlucu, komedicerita, masak, pengantinbaru, romantis, satirekehidupan


