Rabu, 27 Mei 2026

Ngo San Koh Yang 01 ~ Rahasia Stabilitas Sengkuni


Ngo San Koh Yang itu NGObrol SANtai dengan toKOH waYANG. Pada kesempatan pertama ini ngobrol dengan Mahapatih Haryo (MPH) Sengkuni.

 

Suatu malam saya ngobrol santai dengan sosok yang kontroversial dalam dunia pewayangan tersebut di sebuah warung hik sudut kota Senengarjo bagian timur, tidak jauh dari taman budaya. Sebelumnya saya pernah ngobrol dengan beliau membicarakan tentang kemerdekaan menurut pemikiran Mahapatih Astina itu. Kali ini kami membicarakan sebuah tema yang mungkin belum banyak diketahui banyak orang. Berikut obrolan kami.

 

Saya : Beruntung sekali bisa ngobrol dengan Paduka Mahapatih Haryo Sengkuni. Ini kesempatan kedua setelah Paduka Patih bertandang ke rumah saya beberapa tahun silam. Bagaimana kabar Paduka Patih? Sehat lahir dan batin kan?

 

Sengkuni : Sehat. Bukan hanya lahir, fisik, badan yang sehat. Batin, psikis, jiwa jug sehat. Sangat sehat sekali. Jiwa saya selalu sehat sejak lahir sampai sekarang. Oh ya, selamat Mas atas cetakan kedua buku karya anda tentang saya yang berjudul MUSNAHNYA SENGKUNI. Hebat! Ternyata buku itu digemari di negerimu.

 

Saya : Terima kasih, Paduka Patih atas ucapan selamatnya. Oh ya, pernah trending topik di media massa tentang rangkap jabatan di Astina. Ada sekelompok aktivis di negara itu yang protes keras karena Paduka Patih rangkap jabatan sebagai Mahapatih di Astina dan raja di Plasajenar. Bagaimana sikap Paduka Patih saat itu, sehingga isu yang sempat santer itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi?

 

Sengkuni : Hehehe hehe…, santai saja, Mas. Menghadapi cecurut-cecurut yang biasa disebut aktivis itu tidak perlu menggunakan otot, kekerasan, atau pun pasukan bersenjata. Cukup gunakan sedikit akal, maka beres. Semua bisa diberesi dalam waktu sekedipan mata saja, hehehehehe….

 

Saya : Kalau boleh tahu, apa yang dimaksud ‘sedikit akal’ itu?

 

Sengkuni : Boleh…, tentu saja boleh. Itu bukan rahasia kok. Cara ini banyak yang niru kok. Begini…, para aktivis yang protes atas rangkap jabatan yang saya emban, diteror secara senyap menggunakan aji pameling. Kalau di tempat ini melalui ponsel pribadinya. Gambarannya begini, tiap tengah malam, saya utus pasukan senyap yang biasa disebut telik sandi untuk menyampaikan pesan langsung ke telinga mereka. Peannya kurang lebih begini, “Kalau kamu tetap melanjutkan protesmu, dalam tiga hari mulai dari sekarang, kepalamu akan terpisah dari badanmu.”

 

Saya : Lho namanya teror, Paduka Patih.

 

Sengkuni : Ya…, terserah mau disebut apa. Saya menyebutnya ‘pesan halus’. Itu bukan ancaman, bukan teror, tapi pesan lembut lewat tengah malam.

 

Saya : Kebanyakan aktivis siap mati demi kebenaran yang dikukuhinya. Mereka rela berkorban nyawa demi kejayaan Astina tercinta.

 

Sengkuni : Betul…, tapi ada juga lho yang langsung diam seribu bahasa. Tak berani bersuara lagi tentang rangkap jabatan. Cep klakep mulutnya. Lalu bagaimana yang tetap bersuara lantang karena tak takut mati oleh pesan saya tersebut? Gampang. Saya ubah isi pesannya. Kurang lebih begini, “Kalau kamu tetap protes, nenekmu, istrimu, dan anak perempuanmu akan kami perkosa secara massal sampai mereka kehabisan napas!”

 

Saya : Gila…, itu sadis, Paduka Patih!

 

Sengkuni : Lha gimana lagi? Mereka juga sadis sama saya. Masa saya nggak boleh rangkap jabatan. Rakyat Plasajenar masih menginginkan saya sebagai raja, maka saya tidak lengser dari takhta Plasajenar yang menjadi hak saya secara sah. Soal kedudukan saya sebagai mahapatih di Astina, itu soal lain. Saya menjadi mahapatih untuk mendampingi keponakan saya. Agar Ananda Prabu Duryudana lebih kuat sebagai raja kalau saya dampingi sebagai mahapatihnya. Masa tidak boleh?

 

Saya : Setelah diancam secara sadis itu, apa reaksi mereka?

 

Sengkuni : Mereka biasanya tak mau ambil risiko. Sejak saat itu, isu rangkap jabatan, lenyap, raib tak berjejak sedikit pun.

 

Saya : Ehm…, begitu ceritanya. Sekarang tema lain. Astina tampak adem ayem, tenang, tenteram, tanpa ada gejolak apa pun ketika patihnya Paduka Mahapatih Haryo Sengkuni. Apa resep rahasia di balik stabilitas yang konon abadi ini?

 

Sengkuni: (Menyeringai) Ah, stabilitas. Itu kata kunci yang indah, bukan? Resepnya sederhana saja, Mas. Untuk melanggengkan kekuasaan di Kerajaan Astina, saya selalu menyuntikkan sebuah program unggulan kepada keponakan saya tercinta, Raja Duryudana. Program ini saya sebut "Dwi-Sakti Hastinapura": Pembodohan dan Pemiskinan Permanen!

 

Jangan salah paham, ini bukan tindakan kejam. Ini adalah seni mengelola rakyat. Rakyat yang bodoh tidak akan banyak bertanya. Mereka tidak akan sibuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai istana. Mereka akan menelan bulat-bulat apa pun yang kita sajikan. Dan rakyat yang miskin? Mereka sibuk bertahan hidup, sibuk mencari sesuap nasi. Mana sempat mereka memikirkan politik, apalagi memberontak? Mereka mudah dikuasai, mudah ditindas secara sewenang-wenang. Yang paling penting…, rakyat yang bodoh dan miskin mudah bersyukur dengan remah-remah yang kita berikan. Bukankah itu efisien?

 

Saya: Menarik sekali, Paduka Patih. Tapi, bagaimana dengan suara-suara sumbang? Maksud saya, pasti ada saja kan warga Astina yang... kritis?

 

Sengkuni: Tentu saja ada! Bahkan di surga pun pasti ada malaikat yang komplain soal sayapnya kurang berkilau. Itu wajar. Namun, di Astina, kami punya cara yang lebih... persuasif. Saya juga membuat program khusus untuk mereka: "Program Penyingkiran Tokoh Kritis, Aktivis, dan Kaum Intelektual Astina".

 

Saya: Maksudnya apa, Paduka Patih?

 

Sengkuni: Kami tidak perlu repot-repot memenjarakan mereka atau membuat drama pengadilan yang panjang. Cukup buat mereka tidak nyaman. Teror fisik, teror mental, bisikan-bisikan halus dari intelijen Astina yang selalu ada di mana-mana. Sedikit gangguan pada bisnis mereka, sedikit 'kecelakaan' yang tidak disengaja, atau mungkin sekadar mengirimkan surat kaleng berisi kutipan ramalan buruk setiap hari ke rumah mereka. Lama-lama, mereka akan muak. Mereka akan kabur dari Astina, mencari kehidupan yang lebih tenang di negara lain. Astina jadi damai, mereka juga dapat pengalaman baru. Win-win solution, bukan?

 

(Saya mengangguk pelan, mencoba mencerna "win-win solution" ala Sengkuni. Sepertinya definisi win-win kami sedikit berbeda. Saya pun memberanikan diri untuk pertanyaan terakhir).

 

Saya: Lalu, bagaimana dengan para intelektual yang terpaksa ke luar negeri itu, Paduka Patih? Banyak dari mereka yang justru sukses dan ilmunya bermanfaat di sana.

 

Sengkuni: Ah, itu dia poin pentingnya! Mereka yang kabur dan sukses di luar negeri, kami punya label khusus untuk mereka. Mereka itu adalah... pengkhianat bangsa! Antek asing. Gedibal asing. Tidak punya jiwa nasionalisme! Bagaimana bisa mereka meninggalkan tanah air yang sudah membesarkan mereka, lalu malah mengabdi pada negara lain? Padahal, kami sudah susah payah membuat mereka kabur, eh, maksud saya, memberikan mereka kesempatan untuk 'eksplorasi diri' di luar negeri.

 

(Saya tersenyum geli ketika Sengkuni terpeleset kata).

 

Sengkuni: Mereka harusnya bangga menjadi bagian dari Astina, bukan malah mencari kenyamanan di negeri orang. Bukankah Astina adalah pusat peradaban? Jika mereka tidak mau kembali dan mengabdi di sini, berarti jiwa nasionalisme mereka patut dipertanyakan. Apalagi jika mereka sampai berani mengkritik Astina dari jauh. Itu sudah masuk kategori durhaka tingkat tinggi! Jadi, lupakan saja mereka. Astina tidak butuh orang-orang seperti itu. Astina butuh kesetiaan buta, bukan otak yang terlalu banyak mikir.

 

(Sengkuni mengakhiri penjelasannya dengan senyum penuh kemenangan, seolah baru saja memenangkan pertandingan catur paling rumit. Saya hanya bisa tersenyum wagu).

 

Spirov Lengking, 620250820945