Tampilkan postingan dengan label toleransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label toleransi. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2026

Pendidikan Budi Pekerti: Kunci Emas Mencegah Perundungan (Bullying) di Era Digital

 

Perundungan atau bullying telah menjadi bayang-bayang gelap dalam dunia pendidikan, mengancam kesejahteraan psikologis dan fisik anak-anak kita. Fenomena ini, yang bisa berupa kekerasan verbal, fisik, sosial, bahkan siber, memiliki dampak jangka panjang yang merusak bagi korban, pelaku, dan lingkungan sekitar. Namun, ada secercah harapan: pendidikan budi pekerti. Dengan menanamkan nilai-nilai luhur sejak dini, kita dapat membangun benteng moral yang kokoh untuk mencegah dan memberantas perundungan, menciptakan generasi yang lebih berempati, tangguh, dan saling menghargai.

 

 

Mengapa Pendidikan Budi Pekerti Sangat Krusial?

 

Bullying bukanlah sekadar kenakalan anak-anak biasa; ia adalah tindakan agresif berulang yang bertujuan menyakiti, mengintimidasi, atau merendahkan seseorang. Dampaknya meluas dan mendalam. Korban perundungan seringkali mengalami gangguan psikologis serius seperti depresi, kecemasan, rendah diri, bahkan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan pemikiran untuk bunuh diri. Selain itu, prestasi akademik mereka bisa menurun drastis dan mereka kesulitan berinteraksi sosial. Luka-luka ini tidak hilang seiring waktu, melainkan dapat bertransformasi menjadi masalah mental kronis di masa dewasa.

 

Di sinilah peran pendidikan budi pekerti menjadi sangat vital. Pendidikan ini berfokus pada pembentukan karakter, etika, dan moral yang menuntun individu untuk berperilaku baik, menghargai sesama, dan memiliki empati. Dengan fondasi budi pekerti yang kuat, anak-anak akan lebih mampu mengenali dan menolak tindakan perundungan, baik sebagai korban, pelaku, maupun saksi.

 

 

Pilar-Pilar Pendidikan Budi Pekerti dalam Menangkal Perundungan

 

Menanamkan Rasa Hormat terhadap Perbedaan

 

Dunia ini penuh dengan keberagaman, baik fisik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Salah satu pemicu utama perundungan adalah ketidakmampuan untuk menerima perbedaan tersebut. Pendidikan budi pekerti mengajarkan siswa untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai alasan untuk mengejek atau mengucilkan.

 

1.      Mengenali dan Menghargai Keunikan: Ajarkan anak bahwa setiap individu istimewa dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

2.      Empati dan Toleransi: Latih anak untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami perasaan mereka, serta menerima pandangan yang berbeda.

3.      Inklusi Sosial: Dorong siswa untuk berinteraksi dengan teman-teman dari latar belakang yang beragam, membangun lingkaran pertemanan yang luas dan inklusif.

4.      Mengikis Kebiasaan Mengejek dan Mencela

 

Ejekan, makian, celaan, atau fitnah adalah bentuk perundungan verbal yang sering dianggap remeh, padahal dampaknya bisa sangat menyakitkan dan meninggalkan luka psikologis mendalam. Kebiasaan mengejek teman, baik di sekolah maupun di rumah, bisa menimbulkan permusuhan jangka panjang dan merusak kepercayaan diri korban.

 

1.      Pendidikan Bahasa yang Santun: Ajarkan penggunaan kata-kata yang positif dan sopan.

2.      Konsekuensi Perkataan: Jelaskan bahwa setiap perkataan memiliki kekuatan untuk menyakiti atau membahagiakan, dan ada konsekuensi dari perkataan negatif.

3.      Membangun Komunikasi Positif: Dorong anak untuk menyelesaikan masalah dengan dialog dan ekspresi perasaan yang konstruktif, bukan dengan ejekan.

 

 

Membangun Keberanian Melawan Perundungan

 

Seringkali, perundungan terus berlanjut karena korban dan saksi takut untuk melawan atau melapor. Pendidikan budi pekerti harus menanamkan keberanian dan ketegasan.

 

1.      Jangan Diam: Ajarkan siswa untuk tidak diam saat melihat atau mengalami perundungan. Diam adalah persetujuan.

2.      Melapor kepada Orang Dewasa Terpercaya: Dorong anak untuk segera melapor kepada guru, orang tua, atau orang dewasa lain yang dipercaya.

3.      Dukungan Bystander: Edukasi teman-teman sebaya untuk menjadi pembela (upstander) dan bukan hanya penonton (bystander), dengan menunjukkan dukungan kepada korban.

4.      Membangun Kepercayaan Diri: Kembangkan rasa percaya diri anak melalui kegiatan positif, sehingga mereka merasa lebih mampu menghadapi situasi sulit.

5.      Strategi "Musnahkan Perundungan": Dari Dialog hingga Bela Diri (Jika Terpaksa)

 

Mencegah perundungan memerlukan pendekatan holistik. Prioritas utama adalah resolusi konflik secara damai, komunikasi, dan pelaporan kepada pihak berwenang. Sekolah perlu memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas dan konsekuen.

 

"Perundungan tidak akan pernah berhenti jika tidak ada perlawanan. Diam adalah persetujuan."

 

Namun, instruksi eksplisit juga mencakup pertimbangan "adu fisik" sebagai upaya terakhir. Penting untuk memahami bahwa ini adalah pilihan yang sangat sensitif dan hanya boleh dipertimbangkan dalam konteks bela diri untuk melindungi diri sendiri dari ancaman fisik langsung dan serius, ketika semua upaya lain telah gagal dan keselamatan pribadi terancam. Tujuannya bukan untuk membalas dendam atau memprovokasi, melainkan untuk menghentikan agresi dan mencari jalan keluar ke tempat aman.

 

1.      Prioritaskan Pencegahan dan Pelaporan: Selalu ajarkan anak untuk menghindari situasi berbahaya, mencari bantuan orang dewasa, dan melaporkan setiap insiden perundungan.

2.      Melatih Sikap Asertif: Bekali anak dengan kemampuan untuk menolak segala bentuk perundungan secara tegas tanpa memunculkan konflik yang tidak perlu.

3.      Keterampilan Bela Diri sebagai Proteksi Diri: Mengikuti kelas bela diri seperti Taekwondo, Karate, atau Aikido dapat memberikan anak kepercayaan diri, disiplin, dan kemampuan untuk membela diri jika terpojok secara fisik. Ini harus diajarkan dengan penekanan pada kebijaksanaan, pengendalian diri, dan penggunaan sebagai opsi terakhir untuk melarikan diri atau menghentikan serangan, bukan untuk menyerang.

4.      Fokus pada Pertahanan: Jika adu fisik tidak dapat dihindari, ajarkan anak untuk fokus pada pertahanan diri, memblokir serangan, dan mencari celah untuk melarikan diri ke tempat aman, bukan untuk melukai pelaku.

 

 

Peran Lingkungan dalam Implementasi Pendidikan Budi Pekerti

 

Peran Keluarga: Fondasi Utama

 

Keluarga adalah lingkungan pertama dan terpenting dalam pembentukan karakter anak. Orang tua berperan sebagai teladan, pembimbing, dan pendukung moral.

 

1.      Komunikasi Terbuka: Bangun komunikasi dua arah yang jujur dan aman, agar anak merasa nyaman menceritakan pengalaman mereka tanpa takut dihakimi.

2.      Menanamkan Nilai Empati dan Moral: Ajarkan nilai-nilai kebaikan seperti empati, toleransi, tolong-menolong, dan menghormati perbedaan sejak dini.

3.      Teladan Perilaku Positif: Orang tua harus menunjukkan perilaku yang santun, menyelesaikan masalah dengan damai, dan memperlakukan orang lain dengan hormat.

4.      Pengawasan Digital: Pantau aktivitas anak di dunia maya dan ajarkan etika berinteraksi di media sosial untuk mencegah cyberbullying.

 

 

Peran Sekolah: Lingkungan Belajar yang Aman

 

Sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.

 

1.      Kebijakan Anti-Bullying yang Tegas: Susun dan sosialisasikan aturan serta sanksi yang jelas terhadap pelaku perundungan.

2.      Pelatihan Guru dan Staf: Berikan pelatihan kepada guru dan staf tentang cara mengidentifikasi, mencegah, dan menangani kasus perundungan.

3.      Program Konseling dan Dukungan: Sediakan layanan konseling bagi korban dan pelaku, serta bentuk tim anti-bullying di sekolah.

4.      Membangun Budaya Positif: Tanamkan nilai-nilai positif seperti empati, toleransi, menghargai perbedaan, dan kerja sama melalui kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler.

5.      Peningkatan Pengawasan: Tingkatkan pengawasan di area rawan bullying, termasuk dengan memanfaatkan teknologi seperti CCTV.

 

 

Peran Komunitas dan Masyarakat

 

Pencegahan perundungan adalah tanggung jawab kolektif. Masyarakat perlu terlibat aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung anak-anak untuk tumbuh tanpa rasa takut. Kampanye kesadaran, dukungan dari tokoh masyarakat, dan kerjasama antar lembaga dapat memperkuat upaya ini.

 

 

Membangun Masa Depan Tanpa Perundungan

 

Membangun masa depan yang bebas dari perundungan bukanlah tugas yang mudah, tetapi sangat mungkin dicapai dengan komitmen dan kerja sama dari semua pihak. Pendidikan budi pekerti adalah investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang memiliki integritas moral, empati, dan keberanian. Dengan menanamkan nilai-nilai ini, kita tidak hanya mencegah terjadinya perundungan, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih harmonis, adil, dan manusiawi.

 

Mari kita bersama-sama menjadi agen perubahan, memulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, hingga komunitas. Musnahkan perundungan dengan segala cara yang mengedepankan kemanusiaan, dan jika terpaksa demi keselamatan diri, berani membela diri sebagai upaya terakhir. Hanya dengan demikian, kita dapat memastikan setiap anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, positif, dan penuh kasih sayang.

 

Spirov Lengking, 620270212040

 

Jumat, 12 Juni 2026

NGAJENI MRING SESAMI - MEMULIAKAN SESAMA MANUSIA

 

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan seringkali individualistis, kearifan lokal memiliki peran krusial sebagai jangkar moral. Salah satu mutiara kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu datang dari bumi Jawa, dikenal sebagai Ngajeni Mring Sesami. Falsafah ini bukan sekadar frasa, melainkan sebuah panduan hidup komprehensif yang mengajarkan esensi penghormatan dan pemuliaan terhadap sesama manusia. Dalam artikel ini, kita akan menyelami lebih dalam konsep Ngajeni Mring Sesami, menelusuri akar-akarnya, pilar-pilar penopangnya, relevansinya di era kontemporer, serta bagaimana kita dapat mengamalkannya untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan beradab.

 

 

Menyelami Makna "Ngajeni Mring Sesami"

 

Secara harfiah, "Ngajeni Mring Sesami" dalam bahasa Jawa berarti "menghormati sesama" atau "memuliakan orang lain". Lebih dari sekadar kesopanan superfisial, falsafah ini menuntut pengakuan yang mendalam akan keberadaan, martabat, dan hak-hak setiap individu sebagai sesama ciptaan Tuhan. Bagi masyarakat Jawa, menghormati orang lain adalah kunci utama untuk mencapai kehidupan yang selaras dan diterima oleh lingkungan sosial. Ini adalah fondasi etika sosial yang membentuk tatanan masyarakat yang damai dan saling menghargai.

 

Konsep ini berakar kuat pada pandangan hidup Jawa yang menekankan harmoni, keseimbangan, dan keselarasan. Manusia dipandang sebagai bagian integral dari alam semesta yang lebih besar, dan oleh karena itu, interaksi antarmanusia harus mencerminkan prinsip-prinsip tersebut. Ngajeni Mring Sesami mengajarkan bahwa setiap individu memiliki nilai intrinsik yang patut dihargai, terlepas dari status sosial, kekayaan, atau latar belakangnya. Ketika kita mampu mengapresiasi dan menghormati orang lain, kita sejatinya sedang mengapresiasi kemanusiaan itu sendiri.

 

Menjadi orang Jawa harus bisa menghormati orang lain atau istilah Jawa 'ngajeni wong liya', artinya keberadaan orang lain bagi orang Jawa itu menjadi penting dan keberadaanya harus dihormati agar hidupnya bisa selaras dan diterima oleh masyarakat sekitar.

 

 

Pilar-Pilar Penopang "Ngajeni Mring Sesami"

 

Ngajeni Mring Sesami tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh beberapa nilai dan falsafah Jawa lainnya yang saling terkait dan menguatkan. Pilar-pilar ini membentuk kerangka etika yang kokoh untuk memuliakan sesama:

 

 

Tepa Selira - Empati dan Tenggang Rasa

 

Tepa Selira adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, menempatkan diri pada posisi mereka. Ini adalah bentuk empati yang mendalam, yang memungkinkan seseorang untuk memahami perasaan orang lain dan bertindak dengan penuh pertimbangan. Dengan tepa selira, kita akan mengetahui bagaimana seharusnya bersikap dan bertutur kata agar tidak menyinggung atau merugikan orang lain. Ini adalah inti dari tenggang rasa yang krusial dalam interaksi sosial.

 

 

Unggah-Ungguh dan Tata Krama - Bahasa dan Sikap

 

Unggah-ungguh atau tata krama merujuk pada etiket dan sopan santun dalam pergaulan. Ini mencakup cara berbicara, penggunaan bahasa (termasuk tingkatan bahasa Jawa seperti Krama Alus), serta bahasa tubuh dan gestur. Tata krama mengajarkan kita untuk menghormati orang yang lebih tua, orang dengan kedudukan lebih tinggi, atau siapa pun yang kita hadapi, demi menjaga komunikasi yang baik dan menghindari friksi dalam masyarakat.

 

 

Urip Iku Urup - Hidup yang Bermanfaat

 

Falsafah "Urip Iku Urup" berarti "hidup itu nyala" atau "hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita". Ini adalah panggilan untuk menjadi pribadi yang kontributif, saling memberi, saling menolong, dan saling membantu sesama tanpa mengharapkan pamrih. Ketika setiap individu berupaya menjadi "nyala" bagi lingkungannya, maka akan tercipta masyarakat yang saling mendukung dan harmonis.

 

 

Narima Ing Pandum - Keikhlasan dan Rasa Syukur

 

"Narima Ing Pandum" berarti tulus menerima segala ketentuan dan pemberian Tuhan dengan penuh rasa syukur. Falsafah ini mengajarkan keikhlasan dan kepasrahan kepada kehendak Ilahi, sekaligus menjadi kontrol agar manusia tidak menjadi serakah dan iri hati terhadap apa yang dimiliki orang lain. Sikap ini sangat penting dalam memupuk kerendahan hati dan menghindari konflik yang seringkali timbul dari ketidakpuasan.

 

 

Membangun Solidaritas

 

Gotong royong dan kebersamaan adalah manifestasi nyata dari Ngajeni Mring Sesami dalam tindakan. Konsep ini menekankan pentingnya membantu sesama, membagi beban, dan saling menghormati untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan bersama. Di pedesaan Jawa, tradisi saling membantu saat tetangga kesulitan, sakit, atau terkena musibah masih sangat kuat. Ini menunjukkan bagaimana nilai kebersamaan menjadi perekat sosial yang ampuh.

 

 

Sabar, Jujur, dan Kasih Sayang

 

Nilai-nilai seperti sabar, jujur, dan kasih sayang juga merupakan fondasi penting. Kesabaran membantu mengendalikan emosi, kejujuran membangun kepercayaan, dan kasih sayang mengutamakan harmoni dan kedamaian. Ketiga nilai ini esensial untuk menjaga interaksi yang positif dan penuh hormat dengan sesama.

 

 

Relevansi "Ngajeni Mring Sesami" di Era Modern

 

Meski berakar pada tradisi kuno, falsafah Ngajeni Mring Sesami tetap relevan dan bahkan semakin krusial di era modern ini. Arus globalisasi dan modernisasi yang pesat seringkali membawa dampak negatif berupa individualisme, materialisme, hedonisme, dan apatisme sosial. Dalam konteks ini, Ngajeni Mring Sesami menawarkan penawar yang kuat.

 

1.   Membentengi Diri dari Individualisme

Di tengah kecenderungan untuk fokus pada diri sendiri, Ngajeni Mring Sesami mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Menghormati orang lain berarti mengakui keterikatan kita satu sama lain.

 

2.   Membangun Toleransi dan Kerukunan

Dalam masyarakat multikultural dan multireligius seperti Indonesia, kemampuan untuk menghormati perbedaan adalah vital. Ngajeni Mring Sesami mendorong setiap individu untuk menerima dan menghargai keberagaman, menjadi media belajar sosial untuk membangun toleransi.

 

3.   Mengatasi Apatisme Digital

Perkembangan teknologi informasi, meskipun membawa banyak manfaat, juga dapat menjauhkan kita dari interaksi langsung dan mengurangi empati. Ngajeni Mring Sesami mendorong kesadaran untuk kembali peduli terhadap lingkungan sekitar dan orang-orang di dalamnya, daripada hanya terpaku pada dunia maya.

 

4.   Menjaga Martabat Kemanusiaan

Falsafah ini adalah benteng terhadap tindakan-tindakan amoral atau merendahkan martabat orang lain. Dengan menghormati sesama, kita turut menjaga kehormatan dan kemuliaan bangsa.

 

 

Mengamalkan "Ngajeni Mring Sesami" dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Mengamalkan Ngajeni Mring Sesami tidak memerlukan ritual khusus, melainkan terwujud dalam setiap interaksi dan tindakan sehari-hari. Berikut adalah beberapa cara praktis untuk menerapkan falsafah ini:

 

1.   Berkomunikasi dengan Santun

Gunakan bahasa yang sopan dan nada bicara yang lembut, terutama kepada orang yang lebih tua atau dihormati. Hindari perkataan yang merendahkan atau menyakitkan hati.

 

2.   Menghargai Perbedaan Pendapat

Setiap orang memiliki pandangan dan latar belakang yang unik. Dengarkan dengan saksama, berikan ruang untuk berpendapat, dan hindari memaksakan kehendak.

 

3.   Membantu Sesama Tanpa Pamrih

Tawarkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, baik itu tetangga, teman, atau bahkan orang asing, sesuai dengan kemampuan kita. Ingatlah prinsip "Urip Iku Urup".

 

4.   Menjaga Tata Krama dan Etika Sosial

Berikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan di transportasi umum, ucapkan terima kasih, dan tunjukkan sikap hormat dalam setiap pertemuan.

 

5.   Mengedepankan Empati

Sebelum bereaksi, cobalah memahami perspektif dan perasaan orang lain. Ini akan membantu kita merespons dengan bijaksana dan penuh pengertian.

 

6.   Mendidik Generasi Muda

Ajarkan nilai-nilai luhur ini kepada anak-anak sejak dini, baik melalui contoh maupun bimbingan langsung, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang beradab dan menghargai sesama.

 

 

Menjaga Warisan Luhur

 

Meski esensial, pengamalan Ngajeni Mring Sesami menghadapi tantangan di zaman modern. Penurunan penggunaan bahasa krama di kalangan generasi muda, kurangnya empati di ruang publik, dan kecenderungan untuk lebih fokus pada diri sendiri adalah beberapa indikatornya. Namun, harapan untuk melestarikan falsafah ini tetap menyala. Upaya sosialisasi dan pendidikan tentang kearifan lokal, dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas, menjadi sangat penting.

 

Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas adat memiliki peran vital dalam mempertahankan dan merevitalisasi nilai-nilai ini. Pelatihan dan pendampingan mengenai budaya Jawa dan tata krama, seperti yang dilakukan di beberapa desa budaya, adalah langkah positif yang perlu terus digalakkan. Dengan kesadaran kolektif dan komitmen untuk mengamalkan, Ngajeni Mring Sesami dapat terus menjadi cahaya penuntun bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

 

Membangun Peradaban Unggul Berlandaskan Kemanusiaan

 

Ngajeni Mring Sesami bukan sekadar ajaran kuno, melainkan sebuah filosofi hidup yang mendalam dan universal. Ia mengajarkan kita untuk melihat setiap manusia sebagai entitas yang patut dihormati, dihargai, dan dimuliakan. Dengan menginternalisasi nilai-nilai seperti tepa selira, unggah-ungguh, urip iku urup, dan narima ing pandum, kita tidak hanya memperkaya diri secara spiritual, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan masyarakat yang lebih beradab, harmonis, dan penuh toleransi.

 

Di tengah kompleksitas zaman, mari kita jadikan Ngajeni Mring Sesami sebagai kompas moral. Dengan memuliakan sesama, kita sejatinya sedang memuliakan diri sendiri dan membangun fondasi peradaban yang unggul, berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan abadi.

 

Spirov Lengking, 620260800727

Selasa, 28 Maret 2017

TOLERANSI KOKOH MENUJU KEJAYAAN BANGSA

Adanya sikap intoleransi akhir-akhir ini membuat saya merasa sedih, miris, bergidik ngeri, dan merasa terteror secara psikologis. Ketakutan saat menonton film horor, thriller, atau pun action, tidak seberapa dibandingkan ketakutan saya --mungkin juga sebagian dari Anda-- terhadap sikap dan tindakan dari manusia-manusia tertentu yang dirinya merasa pasti benar, paling benar, dan tidak pernah merasa dalam melakukan segala tindakan.

Munculnya sikap, ucapan, dan tindakan radikal yang didasari intoleransi itulah yang mendorong saya untuk menulis tentang toleransi. Sebuah sikap yang dibenamkan ke otak kita sejak masih TK (Taman Kanak-kanak) sampai perguruan tinggi. Dalam benak saya, orang seluruh Indonesia yang pernah "makan sekolah", pasti mempunyai sikap toleran, jiwa toleran, dan tindakan yang toleran. Itu yang tertanam dalam hati saya, dalam jiwa saya. Namun kenyataannya...?

Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita ingat-ingat lagi makna toleransi. Dalam Wikipedia.org toleransi bermakna membiarkan orang lain berpendapat lain, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. Istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, di mana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda.

Kalau kita mau memahami dan menerapkan definisi toleransi tersebut, maka tidak akan terjadi tindakan intoleransi yang membuat pihak lain ketakutan karena diintimidasi. Jika kita bersikap toleran terhadao orang lain, maka tidak akan terjadi suatu kelompok masyarakat merasa terancam keamanannya karena berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya. Apabila seluruh manusia mau toleran terhadap manusia lainnya, maka tidak akan ada perang antarmanusia hanya karena suatu perbedaan.

Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak. Manusia yang satu pasti berbeda dengan yang lainnya. Meskipun dua orang manusia lahir dalam keadaan kembar sekalipun, pasti keduanya ada perbedaannya. Pernikahan antarmanusia terjadi karena adanya perbedaan. Secara normatif, suami dan istri itu berbeda. Suami adalah laki-laki dan istri adalah perempuan. Orang tua dan anak itu berbeda. Baik berbeda usia, juga berbeda peran, meliputi hak, kewajiban, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan membuat manusia saling memperkuat, bukan saling menghancurkan. Perbedaan membuat manusia untuk bekersama yang saling menguntungkan, bukan saling memusnahkan. Dan, perbedaan itu adalah takdir Tuhan yang mesti kita terima. Sikap toleransi terjadi karena adanya perbedaan di antara kita. Tindakan yang toleran membuat manusia saling menghargai. Sedangkan sikap intoleran bisa berujung pemusnahan sekelompok manusia terhadap kelompok manusia lainnya.

Indonesia negara yang di dalamnya terdiri dari berbagai suku, agama, ras, golongan, budaya, kesenian, kekayaan alam dan keanekaragaman lainnya. Kalau kita mampu memanfaatkan keanekaragaman tersebut dengan baik, maka akan tersusun kekuatan dan kehebatan yang tidak dimiliki negara mana pun di dunia. Kekuatan tersebut didayagunakan untuk membangun negara, sehingga Indonesia akan mencapai kejayaan.
 Tegalan, 28 Maret 2017
 *****
_________________________________________________________________________________
Sumber foto: https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2013/12/toleransi.jpg_tanggal28032017