Manusia,
sebuah misteri yang tak henti-hentinya dikaji dan didefinisikan. Sejak zaman
dahulu, para filsuf, ilmuwan, dan pemikir telah mencoba menguak esensi
keberadaan kita. Apa sebenarnya hakikat manusia? Apakah kita hanya sekumpulan
daging dan tulang yang bisa berpikir, atau ada sesuatu yang lebih mendalam?
Artikel ini akan menyelami berbagai pandangan untuk mencoba memahami siapa kita
sebenarnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental yang sering kali
menggelitik rasa ingin tahu kita.
1. Manusia Itu Makhluk
Apa?
Pertanyaan
pertama yang mendasar adalah: manusia itu makhluk apa? Secara umum, manusia adalah
entitas yang kompleks dan multifaset, jauh melampaui sekadar definisi biologis.
Dalam ranah filsafat, manusia sering digambarkan sebagai makhluk yang unik dan
penuh teteka-teki, dengan kapasitas ganda untuk dididik dan mendidik.
Salah
satu pandangan klasik yang diusung oleh filsuf Yunani kuno seperti Plato dan
Aristoteles menyatakan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Plato
memandang jiwa bersifat kekal dan lebih tinggi dari tubuh, sementara
Aristoteles melihat keduanya sebagai dua aspek dari substansi yang saling
berhubungan, di mana jiwa adalah bentuk dan tubuh adalah materi. Dalam
pandangan Islam, manusia adalah makhluk mulia yang diciptakan Allah dalam
bentuk terbaik, dibekali akal dan hati untuk memahami ilmu dan berbudaya.
Manusia
adalah makhluk termulia. Semua orang setuju. Tapi manusia yang mana layak
disebut makhluk mulia? Sebaliknya meski manusia, bisa saja punya derajat lebih
rendah dari binatang.
Beberapa
definisi dan karakteristik esensial manusia yang sering dikemukakan meliputi:
·
Makhluk Rasional (Animal Rationale / Homo
Sapiens): Ini adalah salah satu definisi paling kuno dan paling sering dikutip.
Manusia memiliki akal budi, kemampuan berpikir logis, analitis, dan abstrak.
Kemampuan berpikir inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain dan
memungkinkan pengembangan ilmu pengetahuan serta inovasi.
·
Makhluk Moral: Manusia dikaruniai perasaan dan
akal pikiran yang menyatu membentuk akhlak atau moral dalam berperilaku. Ini
berarti manusia memiliki kapasitas untuk membedakan baik dan buruk, serta
membuat pilihan etis.
·
Makhluk Sosial (Homo Socius / Al-Nas): Manusia
tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan interaksi dengan sesamanya untuk
berkembang dan membentuk masyarakat serta budaya. Kemampuan untuk bekerja sama
dalam kelompok besar demi sesuatu yang tidak ada (fiksi, seperti negara atau
perusahaan) adalah salah satu pembeda utama manusia dari binatang.
·
Makhluk Simbolik (Animal Symbolicum): Manusia
mampu menciptakan dan menggunakan simbol, termasuk bahasa, untuk
mengekspresikan pikiran dan perasaan. Bahasa memungkinkan komunikasi kompleks
dan pewarisan budaya.
·
Makhluk Bertanya dan Pencari Kebenaran: Manusia
memiliki hasrat bawaan untuk mengetahui segala sesuatu, tidak hanya tentang
dunia di luar dirinya tetapi juga tentang dirinya sendiri. Filsafat sendiri
muncul dari upaya manusia untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
mendasar ini.
·
Makhluk Berbudaya (Homo Faber): Dengan akal dan
kemampuannya, manusia menciptakan alat, teknologi, seni, dan sistem kepercayaan
yang membentuk kebudayaan.
·
Makhluk Spiritual (Homo Religious): Banyak
pandangan, terutama dalam perspektif agama, menyatakan bahwa manusia memiliki
dimensi spiritual, kemampuan untuk merasakan dan mencari keberadaan Tuhan atau
makna transenden.
·
Memiliki Kesadaran Diri (Self-Awareness):
Manusia mampu menyadari keberadaannya, membedakan dirinya dari objek di luar
dirinya, dan bahkan menyadari pemikirannya sendiri.
Singkatnya,
hakikat manusia adalah seperangkat gagasan atau konsep mendasar tentang manusia
dan makna eksistensinya di dunia, yang mencakup potensi dan karakteristik khas
yang membedakannya dari makhluk lain.
2. Apakah Manusia Itu
Kebo Kathokan (Kerbau yang Berpakaian)?
Ungkapan
"kebo kathokan" secara metaforis menyiratkan bahwa manusia pada
dasarnya sama dengan binatang, hanya saja dibungkus dengan pakaian dan
norma-norma sosial. Ini adalah pertanyaan yang menantang untuk merenungkan
sejauh mana kita berbeda dari makhluk lain.
Secara
fisik, perbedaan antara manusia dan binatang mungkin bersifat gradual atau
bertahap, namun secara rohaniah, perbedaan itu bersifat prinsip dan asasi. Binatang,
seperti kerbau, hidup berdasarkan naluri dan dua nafsu utama: makan dan seks.
Manusia juga memiliki nafsu-nafsu ini, tetapi yang membuat derajat manusia
lebih tinggi adalah anugerah akal pikiran dan perasaan.
Perbedaan
krusial lainnya terletak pada kemampuan manusia untuk:
·
Berpikir Reflektif: Manusia tidak hanya bereaksi
terhadap lingkungan, tetapi juga mampu merenungkan tindakannya, mencari dan
mengembangkan pertanyaan, serta menemukan kebenaran. Linnaeus bahkan menyatakan
bahwa "manusia adalah binatang yang harus menyadari dirinya sendiri
sebagai manusia untuk menjadi manusia".
·
Menciptakan Fiksi dan Kerja Sama Skala Besar:
Yuval Noah Harari dalam bukunya 'Sapiens' berargumen bahwa yang membedakan
manusia dari binatang adalah kemampuan untuk menciptakan dan mempercayai
"fiksi" atau narasi bersama. Fiksi ini memungkinkan manusia membentuk
kelompok kerja sama yang sangat besar, seperti negara, agama, atau perusahaan,
demi sesuatu yang tidak ada secara fisik, hal yang mustahil bagi binatang.
·
Memiliki Kehendak dan Moralitas: Filsuf Muslim
Ibnu Bajjah menyoroti kehendak sebagai pembeda manusia dan binatang. Kejujuran
pada binatang bersifat formal (tidak bisa berbohong), sementara pada manusia
bernilai spekulatif karena adanya kehendak. Sebuah tindakan manusia bisa
dinilai jujur atau sebaliknya, tergantung pada kehendak di baliknya. Manusia
memiliki kebebasan untuk memilih dan sadar akan norma.
·
Mengelola Dunia dan Mempersiapkan Masa Depan:
Kehidupan binatang cenderung spontan, berputar pada kebutuhan dasar. Manusia,
di sisi lain, harus hidup dengan pola berbeda: menciptakan, mengelola
lingkungan, mempersiapkan masa depan dunia, dan mengendalikan masyarakat.
·
Kemampuan Berbahasa: Aristoteles menekankan
bahasa sebagai pembeda. Manusia memiliki bahasa yang memungkinkan mereka
membedakan baik dan buruk, adil dan tidak adil. Binatang hanya memiliki suara
yang menandakan kesenangan atau kepedihan.
Jadi,
meskipun secara biologis kita adalah bagian dari kerajaan binatang, kemampuan
akal, moralitas, kehendak bebas, bahasa, dan kapasitas untuk menciptakan
realitas bersama yang tidak kasat mata, mengangkat manusia jauh di atas sekadar
"kerbau yang berpakaian".
3. Apakah Manusia Itu
Kethek Sing Seneng Korupsi (Monyet yang Hobi Korupsi)?
Pertanyaan
ini menyentuh sisi gelap hakikat manusia, yakni potensi untuk berbuat
kejahatan, khususnya korupsi. Ungkapan "kethek sing seneng korupsi"
mengimplikasikan bahwa korupsi adalah naluri rendah yang sulit dihilangkan,
seolah-olah manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk merugikan orang lain
demi keuntungan pribadi.
Korupsi
didefinisikan sebagai penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan sendiri, identik
dengan pencurian, dan tindakan yang tidak sesuai aturan untuk mendapatkan
keuntungan pribadi. Korupsi adalah fenomena universal yang dapat ditemukan di
berbagai kebudayaan dan masa. Dalam konteks ini, hanya manusia—yang mempunyai
kesadaran diri—yang bisa melakukan korupsi, karena tindakan ini berkaitan erat
dengan moral dalam diri manusia itu sendiri.
Debat
tentang sifat dasar manusia (baik atau jahat) relevan di sini. Beberapa filsuf,
seperti Rousseau, berpendapat bahwa manusia pada dasarnya terlahir baik, dan
keserakahan atau kerusakan disebabkan oleh sistem masyarakat. Sebaliknya,
Thomas Hobbes menggambarkan manusia sebagai makhluk yang jahat dan membutuhkan
regulasi sosial. Mencius percaya bahwa sifat asli manusia adalah baik, memiliki
"hati yang mulia" yang tidak sanggup melihat orang lain menderita.
Namun, ia juga mengakui adanya unsur-unsur lain, seperti naluri binatang, yang
jika tidak dikontrol dan dididik dengan baik dapat menimbulkan sifat jahat.
Dari
sudut pandang psikologi, korupsi bisa dipandang sebagai manifestasi dari
gangguan dalam diri individu, seperti sifat serakah yang berlebihan, atau
fiksasi pada fase anal dalam perkembangan kepribadian (menurut psikoanalisa).
Penelitian juga mengidentifikasi "dark triad personality" (narsisme,
Machiavellianisme, dan psikopati) pada koruptor, di mana mereka menganggap diri
paling hebat, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, dan tidak
berperasaan terhadap orang lain.
Faktor-faktor
yang mendorong korupsi tidak hanya bersifat individual tetapi juga sistemik dan
sosial, seperti lemahnya pengawasan, kesempatan, tekanan untuk memenuhi
tuntutan gaya hidup, atau bahkan dianggap sebagai "warisan" atau
norma yang turun-temurun dalam suatu lingkungan. Ini menunjukkan bahwa korupsi
bukanlah naluri murni seperti perilaku monyet, melainkan pilihan moral yang
disadari, dipengaruhi oleh kompleksitas psikologis dan lingkungan sosial
manusia.
Korupsi
terkait dengan masalah kejiwaan, terutama dalam proses berpikir seseorang.
Manusia
memiliki potensi untuk berbuat baik (dermawan, jujur, adil) dan buruk (sombong,
egois, licik). Korupsi adalah salah satu bentuk penyimpangan moral yang merusak
dan menunjukkan bahwa potensi rasionalitas dan moralitas manusia tidak selalu
dimaksimalkan, melainkan terkadang tunduk pada nafsu-nafsu individual yang
bersumber dari potensi 'kebinatangan' dalam diri manusia.
4. Apakah Manusia Itu Kewan Sikil Loro Sing Bisa Mikir
(binatang berkaki dua yang mampu berpikir)?
Definisi
"kewan sikil loro sing bisa mikir" (binatang berkaki dua yang bisa
berpikir) adalah salah satu deskripsi paling ringkas dan terkenal tentang
manusia, yang diatributkan pada Aristoteles sebagai "animal
rationale". Inti dari definisi ini terletak pada frasa "bisa
mikir" atau kemampuan berpikir.
Kemampuan
berpikir adalah ciri khas utama manusia yang membedakannya secara prinsipil
dari makhluk lain, bukan hanya secara gradual. Apa yang terkandung dalam
"bisa mikir" ini?
·
Rasionalitas dan Akal Budi: Berpikir berarti
memiliki akal budi, kemampuan untuk bernalar secara sistematis, sesuai dengan
akal sehat, dan jauh dari pertentangan akal budi. Ini memungkinkan manusia
untuk memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah kompleks.
·
Abstraksi dan Konseptualisasi: Manusia mampu
mengembangkan ide dan konsep, tidak hanya terpaku pada fenomena konkret tetapi
juga mampu berpikir radikal dan menyeluruh. Ini adalah dasar bagi ilmu
pengetahuan dan filsafat.
·
Kreativitas dan Inovasi: Dengan berpikir,
manusia mampu menciptakan hal-hal baru, mengembangkan teknologi, seni, dan
budaya. Ini adalah kekuatan yang mendorong manusia untuk terus merenung,
menemukan, menyelidiki, dan mewujudkan.
·
Refleksi Diri dan Kesadaran: Kemampuan berpikir
memungkinkan manusia untuk tidak hanya memikirkan dunia luar, tetapi juga
merefleksikan diri sendiri, menyadari keberadaannya, dan mencari makna hidup.
·
Pembentukan Moral dan Norma: Akal budi juga
berperan dalam pembentukan norma dan kebijakan berdasarkan putusan yang baik,
serta kesadaran akan nilai-nilai moral.
Disebabkan
kemampuan berpikirlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding
makhluk lainnya, sehingga dapat terbebas dari kemandegan fungsi kekhalifahan di
muka bumi, bahkan dengan Berpikir manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan
menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya.
Meskipun
demikian, penting untuk dicatat bahwa kemampuan berpikir ini adalah potensi.
Manusia tidak selalu bertindak rasional. Sejarah dan kenyataan hidup
menunjukkan banyak tindakan irasional, kekerasan, dan kejahatan yang
bertentangan dengan akal budi. Ini berarti bahwa kualitas hidup manusia sangat
bergantung pada kualitas pikirannya, dan pikiran yang berkualitas tidak datang
dengan sendirinya, melainkan harus dikembangkan dan dilatih secara sistematis.
Jika manusia gagal memaksimalkan potensi rasionalnya, ia bisa jatuh ke dalam
kekerasan, kesewenang-wenangan, dan ketidakadilan, di mana potensi
'kebinatangan' dalam dirinya lebih dominan.
Kesimpulan: Manusia,
Makhluk dengan Potensi Tak Terbatas
Dari
uraian di atas, jelaslah bahwa hakikat manusia jauh lebih kompleks daripada
sekadar makhluk biologis. Kita adalah "animal rationale", "homo
sapiens", "homo faber", "animal symbolicum", makhluk
moral, sosial, dan spiritual. Kita dibekali akal, perasaan, kehendak bebas, dan
kesadaran diri yang memungkinkan kita untuk berpikir, menciptakan, berbudaya,
dan mencari makna.
Manusia
bukanlah "kebo kathokan" karena kita memiliki kapasitas untuk
transcenden, melampaui naluri dasar, menciptakan fiksi yang mengikat kita dalam
kerja sama skala besar, dan membuat pilihan moral. Kita juga bukan "kethek
sing seneng korupsi" secara inheren, meskipun potensi kejahatan dan
korupsi ada dalam diri kita sebagai akibat dari penyalahgunaan kehendak bebas,
pengaruh lingkungan, dan kegagalan memaksimalkan potensi rasional dan moral.
Korupsi adalah penyimpangan, bukan esensi bawaan.
Pada
akhirnya, manusia adalah "kewan sikil loro sing bisa mikir", tetapi
kemampuan berpikir ini adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Kualitas hidup
kita, peradaban yang kita bangun, dan arah masa depan kita sangat ditentukan
oleh bagaimana kita menggunakan akal budi, mengelola nafsu, dan mengembangkan
potensi-potensi luhur yang ada dalam diri kita. Memahami hakikat manusia adalah
perjalanan tanpa akhir, sebuah undangan untuk terus merenung, belajar, dan
berupaya menjadi versi terbaik dari diri kita.
Spirov Lengking, 620260310132