Sunarimo berdiri mematung di depan etalase kaca showroom mobil mewah di kawasan Jakarta Selatan. Kaus oblongnya yang sudah menipis di bagian ketiak kontras dengan deretan Porsche yang berkilau tertimpa lampu kristal. Perutnya berbunyi nyaring, sebuah protes dari sisa gorengan tadi pagi yang mulai menguap.
"Mas, kalau cuma mau numpang AC, jangan di depan pintu.
Menghalangi pemandangan calon pembeli," tegur seorang satpam bertubuh
tegap dengan nada meremehkan.
Sunarimo menoleh, mencoba memperbaiki tatanan rambutnya yang
berminyak. "Sabar, Pak. Saya lagi milih warna. Biru atau merah, ya, yang
cocok buat anter emak ke pasar?"
"Mimpi jangan ketinggian, Mas. Nanti kalau jatuh,
bunyi gedebuk-nya
kedengaran sampai Monas."
Tiba-tiba, sebuah sedan mewah berwarna putih mutiara berhenti
tepat di depan mereka. Pintu terbuka, dan aroma parfum mahal yang sanggup
melunasi cicilan motor Sunarimo langsung menyeruak. Seorang wanita turun dengan
anggun. Kacamata hitam besar, tas kulit buaya, dan perhiasan yang beratnya
mungkin sanggup membuat leher orang biasa patah.
Betty Nagihaningrum melangkah perlahan. Saat matanya yang
terlindungi lensa gelap itu menangkap sosok Sunarimo, ia mendadak berhenti.
Napasnya tertahan. Tas mewahnya nyaris merosot dari genggaman.
"Bambang?" bisik Betty lirih, suaranya bergetar.
Sunarimo melongo. "Nama saya Sunarimo, Tante. Bukan
Bambang. Mas Bambang mungkin yang jualan bakso di ujung jalan?"
Betty mendekat, mengabaikan satpam yang mendadak membungkuk
hormat. Ia melepas kacamatanya, menatap wajah Sunarimo dengan intensitas yang
membuat pemuda delapan belas tahun itu merasa ingin sembunyi di balik tong
sampah.
"Mata itu... hidung yang sedikit miring ke kiri itu... dan
aroma keringat matahari ini," gumam Betty, tangannya gemetar menyentuh
pipi Sunarimo yang kasar. "Kamu... kamu benar-benar dia."
"Maaf, Tante, saya bukan siapa-siapa. Saya cuma
pengangguran yang lagi nyari lowongan jadi tukang kebun atau apa saja,"
sahut Sunarimo gugup.
"Tukang kebun?" Betty tertawa renyah, meski matanya
berkaca-kaca. "Kamu tidak akan jadi tukang kebun. Kamu akan jadi alas
tidur hatiku yang sudah gersang selama tiga puluh tahun."
"Waduh, Tante, itu kiasannya berat banget. Saya cuma
lulusan SD, nggak paham sastra."
"Jangan panggil Tante. Panggil aku Betty."
"Tapi Tante—eh, Tante Betty—umur Tante kan kayaknya lebih
tua dari Ibu saya, Bu Burkiyem."
Betty mendengus, sejenak aura keanggunannya retak. "Jangan
sebut-sebut soal umur. Di depan kecantikan abadi dan saldo rekening tujuh
turunan, umur hanyalah angka statistik yang tidak relevan. Berapa umurmu?"
"Delapan belas, Tante."
"Pas sekali. Tiga kali lipat umurmu adalah umurku sekarang.
Tapi lihat kulitku, masih kencang berkat operasi plastik di Korea setiap musim
semi, bukan?"
"Iya sih, kencang banget kayak ban mobil baru
dipompa."
Betty tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang putih
sempurna. "Ikut aku sekarang. Kita makan siang di tempat yang tidak
menyediakan kerupuk kaleng."
"Tapi saya belum mandi dari kemarin, Tante."
"Justru itu aromanya, Bambang... eh, Sunarimo. Aroma masa
lalu yang sangat maskulin."
"Tante yakin nggak salah orang? Saya ini cuma
luntang-lantung."
Betty menarik lengan Sunarimo dengan kuat, membawanya menuju
mobil. "Aku sudah menjanda tujuh kali, Sunarimo. Aku sudah bosan dengan
pria kaya yang baunya parfum impor. Aku butuh kamu. Kamu adalah titisan pacar
pertamaku yang tewas tertabrak gerobak cendol tepat di hari kami mau kawin
lari."
"Maksud Tante, saya mirip almarhum?"
"Bukan mirip lagi. Kamu itu dia yang lahir kembali!"
*
Di dalam restoran bintang lima yang letaknya di lantai lima
puluh enam sebuah gedung pencakar langit, Sunarimo duduk dengan kaku. Di
depannya tersedia berbagai macam garpu yang jumlahnya lebih banyak daripada
jumlah teman Facebook-nya.
"Kenapa diam saja? Makanlah wagyu itu. Satu suap harganya
setara dengan biaya kontrakkanmu setahun," ujar Betty sambil
menyesap wine merah.
Sunarimo menusuk daging itu dengan ragu. "Tante, eh,
Betty... kenapa Betty baik banget sama saya? Kita kan baru ketemu sepuluh menit
yang lalu."
"Sudah kubilang, kamu itu Mas Bambang-ku. Wajah kalian
identik seratus persen. Bahkan tahi lalat di dekat telingamu itu posisinya sama
persis."
"Tahi lalat ini? Ini sebenarnya cuma bekas luka kena sundut
rokok waktu kecil, Tante."
"Tak peduli! Takdir tidak pernah salah memberikan
tanda."
"Tapi saya kan miskin. Nggak punya apa-apa."
Betty mencondongkan tubuhnya, menatap Sunarimo dengan pandangan
lapar. "Harta bisa dicari, Sunarimo. Aku punya perusahaan tambang, kebun
sawit, dan beberapa mall. Yang tidak aku punya adalah getaran di hati yang bisa
membuatku merasa seperti gadis remaja lagi."
"Betty nggak mau nikah lagi? Kan sudah tujuh kali, tanggung
kalau nggak digenapkan jadi sepuluh."
"Awalnya aku sudah bersumpah tidak akan menikah lagi.
Laki-laki itu semuanya sama, hanya mengincar hartaku. Tapi melihatmu... aku
merasa ingin membelikanmu dunia beserta isinya."
"Termasuk motor ninja warna hijau?"
"Jangankan motor ninja, pabrik ninjanya pun aku belikan
kalau kamu mau."
Sunarimo menelan ludah. "Wah, kalau gitu saya mau pesan
nasi tambah boleh nggak? Daging ini enak, tapi nggak bikin kenyang kalau nggak
pakai nasi."
Betty tertawa terbahak-bahak, suara tawanya mengguncang lampu
kristal di atas mereka. "Kamu lucu sekali. Persis seperti Mas Bambang yang
dulu selalu minta nasi tambahan kalau kita makan bakso di pinggir jalan."
"Ngomong-ngomong, Mas Bambang itu meninggalnya sudah
lama?"
"Tiga puluh enam tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku
mencari penggantinya. Suami pertama sampai ketujuh hanya pelarian. Tidak ada
yang punya tatapan kosong bin bego seperti kamu, Sunarimo."
"Makasih ya, Tante, pujiannya bikin saya merasa agak kurang
pintar."
"Itu pujian tulus! Aku suka pria yang jujur dan tidak
banyak pikiran."
"Tapi Tante, Ibu saya... Bu Burkiyem, pasti kaget kalau
saya pulang bawa sugar mommy sesenior
Tante."
"Burkiyem. Kenapa, Tante? Kenal?"
Betty meletakkan gelasnya dengan gerakan patah-patah.
"Burkiyem yang asalnya dari desa Sukamundur? Yang jempol kakinya pernah
kejepit pintu balai desa?"
"Lho, kok Tante tahu detail banget? Emang itu Ibu saya. Dia
sering cerita soal kejadian jempol itu sebagai tragedi terbesar dalam hidupnya."
Betty terdiam seribu bahasa. Matanya menatap langit-langit
restoran seolah sedang menghitung dosa masa lalunya.
"Sunarimo," panggil Betty dengan suara rendah yang
sedikit serak.
"Ya, Tante?"
"Siapa nama bapakmu?"
"Bapak saya namanya Paijo. Tapi dia sudah lama pergi. Kata
Ibu, Bapak kabur pas saya masih di perut karena dikejar-kejar penagih utang
atau mantan pacar yang galak, saya kurang jelas juga."
Wajah Betty mendadak pucat pasi. Bedak mahalnya seolah mulai
retak-retak terkena keringat dingin.
"Paijo? Paijo yang punya tato gambar naga tapi jadinya
mirip cacing pita di lengan kirinya?"
Sunarimo melotot. "Kok Tante tahu lagi? Iya! Ibu sering
ngatain tato Bapak itu kegagalan estetika terbesar abad ini."
Betty menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. Ia memijat
pelipisnya perlahan. "Dunia ini sempit sekali, atau mungkin Tuhan memang
hobi bercanda dengan skenario murahan."
"Ada apa sih, Tante? Tante kenal sama Bapak saya?"
"Kenal? Sunarimo, dengarkan aku baik-baik. Mas Bambang yang
kukatakan tadi... nama aslinya adalah Paijo Bambang Subarjo."
Sunarimo menjatuhkan garpunya. Ting! Bunyi logam beradu dengan piring porselen
itu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
"Jadi... Bapak saya itu pacar pertama Tante?"
"Lebih dari sekadar pacar, Rimo. Dia itu laki-laki yang
lari dari pernikahan kami karena aku terlalu posesif. Aku bilang dia meninggal
tertabrak gerobak cendol kepada teman-temanku supaya aku tidak malu karena
ditinggal kabur!"
"Walah... jadi Bapak kabur dari Tante terus nikah sama Ibu
saya?"
Betty menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak
jantungnya yang liar. "Sepertinya begitu. Dan sekarang, aku hampir saja
memacari anak dari pria yang paling kubenci sekaligus kucintai di dunia
ini."
Sunarimo tampak berpikir keras, dahinya berkerut-kerut hingga
terlihat seperti parutan singkong. "Berarti... kalau Tante jadi sama saya,
saya jadi bapak tiri buat diri saya sendiri atau gimana?"
"Bukan begitu konsepnya, Bodoh!" sentak Betty, namun
kemudian ia tersenyum tipis. "Tapi tunggu dulu. Kalau kamu anaknya Paijo,
berarti kamu punya hak waris dari perasaan dendamku."
"Maksudnya?"
"Aku akan tetap menjadikanmu pacarku. Bukan karena kamu
mirip dia, tapi karena ini adalah cara terbaik untuk membalas dendam pada
ibumu, Burkiyem!"
"Lho, Ibu saya salah apa, Tante?"
"Dia mencuri Paijo-ku! Sekarang, aku akan mencuri anak
kesayangannya untuk kujadikan pemuas nafsuku akan kemewahan dan masa
muda!"
Sunarimo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Asal
dikasih makan tiga kali sehari dan uang jajan rutin, saya sih oke-oke saja,
Tante. Ibu juga pasti senang kalau saya nggak jadi beban keluarga lagi."
Betty bangkit berdiri, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Ayo kita belanja. Kita buang baju gembelmu itu. Kita beli jas paling
mahal di Jakarta."
"Terus kita ke mana setelah itu, Tante?"
Betty menyeringai misterius sambil menarik kerah kaus Sunarimo.
"Kita ke rumahmu. Aku ingin melihat wajah Burkiyem saat melihat anaknya
pulang membawa calon istri yang lebih kaya, lebih cantik, dan lebih tua dari
dia!"
*
Mobil putih mutiara itu berhenti di depan sebuah rumah kecil
dengan dinding triplek yang mulai lapuk. Sunarimo turun dengan setelan jas
seharga satu unit rumah di desa tersebut. Di belakangnya, Betty melangkah
dengan penuh percaya diri, seolah sedang berjalan di atas red carpet.
"Mak! Emak! Rimo pulang!" teriak Sunarimo.
Seorang wanita paruh baya dengan daster batik yang sudah pudar
warnanya keluar sambil membawa ulekan sambal. Burkiyem mengucek matanya
berkali-kali, memastikan bahwa pemuda klimis di depannya adalah anaknya yang
biasanya bau matahari.
"Rimo? Kamu habis ngerampok bank mana, Le?" tanya
Burkiyem dengan suara melengking.
"Enggak, Mak. Ini... kenalin, calon Rimo."
Betty melangkah maju, melepaskan kacamata hitamnya dengan gaya
dramatis. "Halo, Burkiyem. Masih ingat aku? Si pemilik jempol yang kamu
tertawakan tiga puluh tahun lalu?"
Burkiyem tertegun. Ulekannya hampir saja jatuh mengenai jempol
kakinya sendiri (lagi). "Betty? Betty Nagihaningrum? Juragan empang yang
dulu mau bunuh diri gara-gara ditinggal Mas Paijo?"
"Jangan sebut-sebut empang! Sekarang aku juragan
mall!" balas Betty sengit.
"Mau apa kamu ke sini? Mau pamer harta?"
"Lebih dari itu. Aku ke sini mau memberitahumu bahwa anakmu
ini sekarang milikku. Dia adalah ganti rugi atas Mas Paijo yang kamu rebut
dulu!"
Burkiyem bukannya marah, malah meletakkan ulekannya dan tertawa
terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar.
"Kenapa kamu tertawa? Kamu takut ya?" tanya Betty
bingung.
"Takut? Aduh, Bet, Bet... kamu itu emang dari dulu nggak
berubah. Selalu mau barang bekas atau barang rongsokan," ujar Burkiyem
sambil menyeka air matanya.
"Apa maksudmu? Sunarimo ini masih muda, segar, dan mirip
sekali dengan Mas Paijo!"
Burkiyem mendekati Betty, lalu membisikkan sesuatu yang membuat
wajah Betty yang sudah di-botox itu mendadak kaku seperti semen kering.
"Apa? Kamu bohong kan!" teriak Betty histeris.
"Buat apa aku bohong? Tanya saja sama dukun beranak yang
nolongin aku dulu," tantang Burkiyem tenang.
Sunarimo yang bingung hanya bisa menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Ada apa sih, Mak? Kok Tante Betty mukanya jadi kayak habis nelan
laler?"
Betty menatap Sunarimo dengan tatapan ngeri, lalu mundur
beberapa langkah menuju mobilnya.
"Kenapa, Tante? Nggak jadi beli motor ninjanya?" tanya Sunarimo polos.
Betty tidak menjawab. Ia langsung masuk ke mobil, membanting
pintu, dan menyuruh sopirnya tancap gas meninggalkan debu yang mengepul di
depan wajah Sunarimo.
"Lho? Kok kabur? Mak, Emak bilang apa tadi sama Tante
Betty?"
Burkiyem kembali mengambil ulekannya dan mulai mengulek sambal
lagi dengan santai. "Cuma bilang fakta kecil yang dia lupa tanyakan."
"Fakta apa?"
Burkiyem menatap anaknya dengan tatapan kasihan. "Mak
bilang kalau kamu itu sebenarnya bukan anak kandung Bapakmu, Paijo."
Sunarimo melongo. "Terus saya anak siapa, Mak?"
"Kamu itu anak hasil Mak nemu di depan masjid pas ada
pengajian akbar delapan belas tahun lalu. Mak cuma kasihan, jadi Mak aku-akuin
sebagai anaknya Paijo biar Paijo mau tanggung jawab kasih uang belanja."
Sunarimo terduduk lemas di tanah. "Jadi... saya nggak punya
hak waris mirip Mas Bambang?"
"Nggak punya. Dan satu lagi yang bikin dia kabur..."
"Apa lagi, Mak?"
Burkiyem tersenyum penuh kemenangan. "Mak bilang ke dia,
kalau dia mau nikah sama kamu, dia harus bayar utang-utang Mas Paijo yang dulu
dibawa kabur, ditambah bunga bank selama tiga puluh tahun yang totalnya bisa
buat beli setengah dari mall yang dia punya."
Sunarimo menghela napas panjang, menatap jas mahalnya yang kini
terkena debu jalanan. "Yah... gagal deh jadi orang kaya."
"Sudah, nggak usah sedih. Ganti baju sana, bantuin Mak ulek
sambal buat jualan besok!"
Sunarimo bangkit, hendak masuk ke rumah, namun ia berhenti
sejenak saat melihat sebuah mobil mewah lain—kali ini berwarna hitam
legam—berhenti di depan rumahnya. Seorang wanita yang tampak jauh lebih tua
dari Betty, mungkin umurnya sudah mencapai delapan puluh tahun, turun dengan
bantuan tongkat emas.
Wanita tua itu menatap Sunarimo, lalu matanya berbinar-binar.
"Bambang? Kamu hidup lagi, Sayang?"
Sunarimo menoleh ke arah ibunya. "Mak, kayaknya ada titisan
masa lalu jilid dua nih."
Burkiyem menghentikan ulekannya, matanya menatap tajam ke arah
wanita tua itu. "Waduh, Rimo, itu kan Neneknya Betty! Dia lebih kaya
lagi!"
Sunarimo merapikan jasnya yang berdebu, lalu memasang senyum
paling menawan yang ia punya. "Selamat sore, Oma. Mau beli motor ninja
juga buat saya?"
Wanita tua itu gemetar, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan
sebuah kunci berlapis berlian. "Jangankan ninja, cucuku saja akan
kujadikan pembantumu kalau kamu mau ikut Oma ke Swiss sekarang juga!"
Sunarimo menatap ibunya, lalu menatap wanita tua itu. "Mak,
sambalnya ulek sendiri dulu ya?"
Burkiyem mengangguk mantap sambil memberikan jempolnya.
"Sikat, Rimo! Jangan lupa minta saham perusahaan kosmetiknya
sekalian!"
Sunarimo melangkah menuju mobil hitam itu dengan gagah,
sementara di dalam mobil, wanita tua itu sudah menyiapkan oksigen karena
terlalu bersemangat.
"Jadi, Oma, kita ke Swiss naik pesawat pribadi atau naik ojek online?" tanya Sunarimo sambil menutup pintu mobil.
Spirov Lengking, 620260311802



