Kamis, 04 Juni 2026

Cerita Pendek 02 ~ Cintaku Kuning Gading

Lisa menghela napas panjang, membuat lemak di perutnya yang terbungkus blazer kuning menyala ikut berguncang. Ia terjepit di antara pintu taksi dan tumpukan berkas kantor. Hari ini Jakarta sedang sangat tidak ramah. Panasnya sangar, dan aspal Sudirman seolah ingin melelehkan sepatu hak tingginya yang juga berwarna kuning lemon.

 

"Pak, bisa lebih cepat sedikit? Saya ada janji kencan," desak Lisa sambil memoles lipstik kuning pucat—tren terbaru yang sebenarnya membuatnya tampak seperti baru saja menelan kunyit.

 

"Aduh, Neng Lisa. Ini Jakarta, bukan sirkuit balap. Lagian itu baju Neng... silau banget di spion saya," keluh sopir taksi sembari menyipitkan mata.

 

"Ini namanya fashion, Pak! Kuning itu warna kebahagiaan. Bapak nggak lihat saya tampak seperti mentega yang siap dioleskan ke roti tawar?"

 

"Lebih mirip pisang ambon raksasa kalau kata saya mah, Neng."

 

Lisa mendengus, lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Beni.

 

“Sayang, aku sudah di depan taman. Aku pakai kemeja kuning mustard dan celana kuning gading. Kamu di mana? Aku merasa seperti satu blok keju yang kesepian.”

 

Lisa tersenyum lebar. Ia segera membalas: “Sabar, Mentega Sayangku. Kunyitmu sedang terjebak macet. Tunggu sepuluh menit lagi!”

 

Turun dari taksi di pinggir jalan yang agak sepi, Lisa melihat sesosok pria raksasa yang tampak seperti tumpukan kain kuning sedang bersandar di sebuah pohon. Itu Beni. Cowok 25 tahun dengan berat badan yang mungkin bisa meruntuhkan jembatan timbang, tapi memiliki hati selembut puding mangga.

 

"Beni!" teriak Lisa sambil berlari kecil, yang lebih mirip gerakan memantul.

 

"Lisa! Ya ampun, kamu cantik sekali hari ini. Kuningmu sangat... sangat menyengat mata," puji Beni sambil menyeka keringat di dahinya yang lebar.

 

"Kamu juga, Ben. Kamu terlihat sangat gagah. Seperti bus sekolah yang baru dicat ulang."

 

Beni memegang tangan Lisa yang empuk. "Siap untuk petualangan kita sore ini?"

 

"Siap. Tapi mana kendaraannya?"

 

Beni menunjuk ke sebuah sepeda jengki tua yang dicat kuning gading mengkilap. Keranjangnya penuh dengan bunga matahari plastik.

 

"Kita berdua naik itu?" tanya Lisa ragu, melirik ban sepeda yang tampak gemetar melihat beban di depannya.

 

"Tentu saja. Ini adalah simbol cinta kita yang tahan banting, Lis. Ayo naik, aku yang genjot!"

 

Lisa naik ke boncengan belakang. Begitu bokongnya menyentuh besi boncengan, terdengar suara krieeek yang sangat dramatis.

 

"Ben, kamu yakin sepedanya nggak akan meledak?"

 

"Tenang, Lis. Baja ini sudah aku modifikasi dengan doa dan harapan. Pegangan yang erat, kita akan menaklukkan gang-gang sunyi Jakarta!"

 

"Ben, kenapa kita lewat jalan sepi terus?"

 

"Karena kalau kita lewat jalan raya, polisi bakal ngira ada dua balon raksasa lepas dari karnaval dan menghambat lalu lintas, Lis!"

 

"Kamu jujur banget sih, Ben!"

 

"Itulah kenapa kamu cinta aku, kan?"

 

"Ben, awas di depan ada polisi tidur!"

 

"Pegang erat-erat, Sayang, kita akan melompat!"

 

"Beni, jangan gila! Kita ini massa padat, bukan atlet parkour!"

 

"Percayalah padaku, Lisa!"

 

"Tapi Ben, itu bukan polisi tidur, itu kabel PLN yang melintang!"

 

*

 

 

 

Suasana di ruang tamu rumah Lisa sangat mencekam. Ibu Lisa, Bu Lastri, duduk dengan punggung tegak, menatap Beni seolah pria itu adalah hama yang baru saja memakan habis kebun bunganya. Di sisi lain, Pak Broto, ayah Beni, juga menatap Lisa dengan pandangan tidak setuju.

 

"Tidak bisa! Ibu tidak setuju!" teriak Bu Lastri sambil menggebrak meja.

 

"Kenapa, Bu? Karena Beni gemuk? Lisa juga gemuk! Kami serasi!" bela Lisa.

 

"Bukan cuma soal gemuk, Lisa! Masalahnya kalian berdua kalau jalan bareng itu merusak estetika lingkungan! Kenapa harus kuning semua? Ibu pusing melihatnya!"

 

Pak Broto menimpali dengan suara beratnya. "Betul kata Bu Lastri. Beni, Papa sudah bilang, minimal pakailah warna hitam supaya kamu terlihat sedikit lebih... tipis. Ini malah kuning gading. Kamu sadar tidak, kamu itu seperti telur dadar raksasa?"

 

"Pa! Kuning itu identitas Beni. Lisa mencintai Beni karena Beni adalah Beni yang kuning!" tegas Beni.

 

"Dan Lisa adalah Lisa yang kuning!" tambah Lisa sambil merangkul lengan Beni yang besarnya seukuran batang pohon kelapa.

 

Bu Lastri memijat pelipisnya. "Kalian berdua ini keras kepala sekali. Kalian tahu apa kata tetangga? Mereka bilang kalian itu seperti dua buah markisa yang melarikan diri dari pasar."

 

"Biarkan saja mereka bicara apa, Bu. Yang penting kami bahagia. Kami berdua bekerja, kami punya gaji sendiri. Kami sanggup beli baju kuning sebanyak yang kami mau!" ujar Lisa berapi-api.

 

"Ini bukan soal baju, Lisa! Ini soal kesehatan! Bagaimana kalau nanti kalian menikah? Siapa yang mau memapah siapa kalau encok?" tanya Pak Broto sinis.

 

"Kami akan saling menggulingkan satu sama lain kalau tidak bisa jalan, Pa!" jawab Beni asal.

 

"Kamu bercanda di saat seperti ini, Beni?"

 

"Beni serius, Pa. Kami sudah memutuskan. Kami akan melakukan diet bersama jika itu yang Papa dan Ibu mau, asalkan kami boleh tetap memakai warna kuning!"

 

Bu Lastri tertawa mengejek. "Diet? Ibu sudah dengar itu sejak kamu umur sepuluh tahun, Lisa. Hasilnya? Kamu malah tambah lebar setiap kali patah hati."

 

"Kali ini beda, Bu. Karena ada Beni yang menyemangati Lisa. Benar kan, Ben?"

 

"Betul! Kami akan membuktikan dalam satu bulan, kami bisa turun berat badan dan tetap setia pada warna kuning gading ini!"

 

"Kalau dalam sebulan kalian tidak turun sepuluh kilo masing-masing, kalian harus putus dan bakar semua baju kuning itu!" tantang Pak Broto.

 

Lisa dan Beni saling berpandangan. Ketegangan memuncak di ruangan yang mendadak terasa sempit itu.

 

"Bagaimana, Ben? Kamu berani?" bisik Lisa.

 

"Demi kamu dan demi warna kuning kita, aku berani!"

 

"Oke, kami terima tantangannya!" seru Lisa mantap.

 

"Sepuluh kilo dalam satu bulan? Kalian yakin tidak ingin memesan martabak dulu sebelum mulai?" sindir Bu Lastri.

 

"Jangan goda kami dengan martabak, Bu! Mulai besok, menu kami hanya pisang dan nanas!"

 

"Kenapa pisang dan nanas?"

 

"Karena warnanya kuning, Pa!"

 

*

 

 

 

Dua minggu telah berlalu. Jakarta masih panas, dan Lisa masih tetap kuning. Namun, ada yang berbeda. Setiap sore, di jalanan sepi di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, terlihat pemandangan aneh. Sebuah sepeda jengki kuning gading melaju perlahan dengan dua orang besar di atasnya.

 

"Ayo, Ben! Kayuh terus! Lemak ini harus luntur demi restu!" teriak Lisa yang duduk di depan, sementara Beni berkeringat hebat di belakang, memegang kemudi sambil menggenjot.

 

"Lis... aku... aku sudah tidak kuat... paru-paruku rasanya mau keluar dan berubah jadi kuning..." rintih Beni.

 

"Jangan menyerah, Sayang! Ingat martabak manis yang kita korbankan! Ingat nasi padang yang kita hindari!"

 

"Tapi kenapa aku yang harus menggenjot sementara kamu duduk manis di depan?"

 

"Karena aku yang memberi komando, Ben! Ini namanya pembagian tugas yang adil!"

 

Mereka melewati sekelompok anak kecil yang sedang bermain bola. Anak-anak itu berhenti bermain dan melongo.

 

"Woi, ada Minion raksasa naik sepeda!" teriak salah satu anak.

 

Lisa menoleh dan berteriak, "Ini bukan Minion, Dek! Ini cinta sejati!"

 

Beni terengah-engah, wajahnya sudah merah padam. "Lis, berhenti dulu. Aku mau pingsan."

 

Mereka berhenti di bawah pohon rindang. Beni turun dari sepeda dengan kaki gemetar. Ia menyandarkan tubuhnya ke pagar besi tua.

 

"Lis, jujur ya. Aku capek pura-pura diet. Beratku cuma turun dua ons," aku Beni sambil terisak kecil.

 

Lisa terkejut. "Dua ons? Aku malah naik satu kilo karena stres mikirin diet!"

 

"Lalu bagaimana dengan tantangan orang tua kita?"

 

Lisa diam sejenak, lalu matanya berbinar. "Ben, aku punya ide. Ide yang sangat gila."

 

"Apa? Kita lari ke luar negeri?"

 

"Bukan. Kita gunakan kelebihan kita. Kamu ingat kan, bos kita masing-masing sebenarnya sangat benci melihat kita pakai baju kuning?"

 

"Iya, Bosku bilang aku bikin silau ruang rapat."

 

"Nah, bagaimana kalau kita buat kesepakatan dengan orang tua kita menggunakan cara yang sedikit... kotor?"

 

"Maksudmu menyuap mereka?"

 

"Bukan menyuap, Ben. Memberi mereka penawaran yang tidak bisa mereka tolak."

 

"Lisa, apa yang kamu rencanakan sebenarnya?"

 

"Besok, kita undang mereka ke kantor pusat perusahaan asuransi tempatku bekerja. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan."

 

"Kenapa harus ke kantor, Lis? Kita kan mau minta restu, bukan mau klaim asuransi jiwa."

 

"Percaya saja padaku, Mentega Sayangku."

 

*

 

 

 

Hari penentuan tiba. Bu Lastri dan Pak Broto hadir di lobi gedung perkantoran mewah itu dengan wajah sangar. Mereka sudah siap untuk menagih janji dan memisahkan pasangan kuning ini selamanya.

 

"Mana mereka? Sudah lewat sepuluh menit," gerutu Pak Broto.

 

Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Lisa dan Beni keluar, tapi mereka tidak memakai baju kuning biasa. Mereka memakai jumpsuit kuning ketat yang dipenuhi sensor kabel di sekujur tubuh mereka. Mereka terlihat seperti astronot dari planet jeruk.

 

"Apa-apaan ini? Kalian mau ke bulan?" tanya Bu Lastri kaget.

 

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal menghampiri mereka. "Ah, Pak Broto, Bu Lastri! Selamat datang!"

 

"Siapa Anda?" tanya Pak Broto bingung.

 

"Saya Direktur Utama perusahaan ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada putra dan putri Anda. Berkat ukuran tubuh mereka yang... luar biasa, dan kesetiaan mereka pada warna kuning, proyek riset Safety Airbag terbaru kami berhasil!"

 

Bu Lastri melongo. "Maksud Anda?"

 

"Lisa dan Beni adalah model prototipe kami untuk sistem keamanan kendaraan masa depan. Kami membutuhkan subjek yang memiliki 'bantalan alami' dan warna yang sangat kontras untuk sensor kamera. Mereka berdua telah menandatangani kontrak sebagai Brand Ambassador internasional dengan nilai miliaran rupiah!"

 

Pak Broto dan Bu Lastri saling berpandangan. Kata 'miliaran rupiah' seolah bergema di ruangan itu seperti musik surgawi.

 

"Jadi... mereka tidak perlu diet?" tanya Pak Broto pelan.

 

"Diet? Oh jangan! Justru kami butuh mereka tetap seperti ini. Kami bahkan menyewakan rumah khusus di perumahan elit yang seluruh catnya berwarna kuning gading untuk kenyamanan mereka," tambah sang Direktur.

 

Beni maju ke depan, menggenggam tangan Lisa. "Jadi, Papa dan Ibu, apakah restu itu masih jauh? Karena kalau belum direstui, kami mungkin harus membatalkan kontrak ini dan hidup miskin sebagai orang kurus yang memakai baju hitam."

 

Bu Lastri langsung memegang tangan Lisa dengan erat. "Aduh, Lisa sayang... Ibu sebenarnya dari dulu suka warna kuning. Kuning itu kan warna emas, warna kemakmuran!"

 

Pak Broto berdeham, merapikan dasinya. "Betul, Beni. Papa hanya mengujimu kemarin. Papa selalu bangga punya anak yang... substansial seperti kamu."

 

Lisa tersenyum penuh kemenangan ke arah Beni. Beni mengedipkan mata.

 

"Jadi, boleh kami pacaran naik sepeda jengki kuning lagi di jalanan sepi?" tanya Lisa manja.

 

"Tentu saja! Jangankan sepeda jengki, mau naik buldoser kuning pun Papa izinkan!" seru Pak Broto.

 

Namun, di tengah kegembiraan itu, sang Direktur membisikkan sesuatu ke telinga Lisa yang membuat wajah gadis itu berubah pucat.

 

"Ada apa, Lis?" tanya Beni cemas.

 

Lisa menelan ludah, menatap Beni dengan tatapan kosong.

 

"Ben... Direktur bilang, kontraknya punya satu syarat tambahan yang belum kita baca di lampiran terakhir," bisik Lisa gemetar.

 

"Apa syaratnya? Kita harus pakai baju kuning seumur hidup? Aku sih mau saja."

 

Lisa menggeleng perlahan, matanya berkaca-kaca antara ingin tertawa dan ingin menangis.

 

"Kita tidak boleh punya anak yang kurus, Ben. Kalau anak kita lahir kurus, kita harus bayar denda sepuluh kali lipat dari nilai kontrak."

 

Beni terdiam, lalu menatap perutnya sendiri yang besar, lalu menatap perut Lisa. Ia kemudian menoleh ke arah orang tuanya yang sedang asyik menghitung bonus di brosur.

 

"Lis, bukannya itu hal yang paling mudah untuk kita lakukan?" tanya Beni sambil nyengir lebar.

 

"Masalahnya bukan itu, Ben. Masalahnya adalah..."

 

"Adalah apa, Sayang?"

 

"Direktur itu barusan bilang kalau sebenarnya dia adalah mantan pacar Ibu kamu yang dulu diputusin karena terlalu kurus!"

 

Beni terbelalak, menatap Bu Lastri yang kini sedang tertawa akrab dengan sang Direktur.

 

"Tunggu, jadi ini semua bukan soal riset, tapi soal balas dendam masa lalu?" seru Beni kaget.

 

"Beni, kamu tahu apa yang paling parah dari semua ini?" tanya Lisa dengan nada getir yang lucu.

 

"Apa lagi, Lis?"

 

"Ibu kamu barusan berbisik, dia mau kita kasih nama anak pertama kita 'Margarin'!"

 

Spirov Lengking, 620250132034