Tampilkan postingan dengan label satirpolitik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label satirpolitik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2026

Makna Kemerdekaan Menurut Sengkuni dan Profesor Mesem Ngguyu

  

Selamat datang di Studio 705! Hari ini, kita akan menyelami sebuah topik yang tak lekang oleh waktu, namun sering kali disalahartikan: Makna Kemerdekaan. Bukan sembarang diskusi, kali ini kami menghadirkan dua tokoh yang pandangannya bagai bumi dan langit, menjanjikan perdebatan yang sengit, menggelitik, dan mungkin sedikit... mengkhawatirkan. Bersama kita ada Mbak Brenda Ganesha, S.Pd., S.Hub.Int., S.T. (MBG), Jurnalis, Presenter, Pengusaha Keripik Singkong, dan CEO Studio 705 yang selalu siap mengupas tuntas segala isu, bahkan yang paling absurd sekalipun.

 

Di sisi kanan saya, duduk dengan angkuh dan senyum penuh misteri, adalah Mahapatih Haryo Sengkuni Suman Trigantalpati, yang lebih populer dengan nama Sengkuni. Patih Kerajaan Hastinapura, sekaligus Raja di Kerajaan Plasajenar—sebuah rangkap jabatan yang, menurutnya, adalah manifestasi sejati dari kemerdekaan. Aura licik namun karismatiknya memenuhi studio, seolah setiap geraknya adalah strategi yang terencana sempurna.

 

Dan di sisi kiri, dengan tatapan tajam dan jenggot yang seolah memancarkan kebijaksanaan dari segala penjuru alam semesta, adalah Profesor Dr. Mesem Ngguyu, S.S., S.Sos., S.Pd., S.H., S.E., S.Kom., S.T., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Kom., M.T., M.H., Ph.D., D.Litt. (PMN). Seorang Dosen Filsafat & Ahli Segala Bidang di Alam Semesta. Beliau adalah antitesis sempurna dari Sengkuni, seorang pembela kebenaran yang tak kenal kompromi, bahkan jika itu berarti harus mengayunkan kapak algojo.

 

Mbak Brenda Ganesha (MBG), dengan senyum profesionalnya yang menenangkan, menyambut kedua narasumber. "Selamat pagi, siang, sore, malam, dan kapan pun Anda menyaksikan kami di Studio 705! Hari ini kita akan membahas 'Makna Kemerdekaan' dari dua sudut pandang yang, jujur saja, membuat saya sedikit bergidik. Tapi inilah esensi jurnalisme, bukan? Menggali setiap sisi, bahkan sisi gelap yang mungkin butuh senter ekstra terang."

 

MBG: "Patih Sengkuni, Prof. PMN, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan Anda yang luar biasa. Patih Sengkuni dengan urusan Hastinapura dan Plasajenar, dan Prof. PMN dengan segudang gelar yang bahkan membuat saya lelah membacanya. Mari kita langsung saja ke inti diskusi kita: Makna Kemerdekaan. Patih Sengkuni, sebagai seorang Mahapatih dan Raja, bagaimana Anda memaknai kemerdekaan di Hastinapura yang agung ini?"

 

Korupsi: Pilar Kemerdekaan Versi Sengkuni vs. Algojo Versi PMN

 

Sengkuni: (Menyeringai lebar, mengelus jenggot tipisnya dengan jemari kurus) "Ah, Mbak Brenda, pertanyaan yang sangat substansial! Kemerdekaan, bagi saya, adalah kebebasan sejati. Dan di Hastinapura, kebebasan itu termanifestasi dalam poin pertama saya: Tingkatkan korupsi."

 

Mata Mbak Brenda sedikit melebar, sementara Prof. PMN hanya menghela napas panjang, seolah sudah menduga akan hal ini.

 

Sengkuni: "Betul sekali! Para pejabat dimotivasi untuk korupsi sebanyak-banyaknya. Nggak afdol seorang pejabat kalau nggak korupsi. Itu seperti sayur tanpa garam, hambar! Korupsi itu bumbu kehidupan birokrasi, Mbak. Ini bukan sekadar mengambil uang, ini tentang seni mengelola kekuasaan dan sumber daya untuk kesejahteraan pribadi dan, tentu saja, 'lingkaran dalam' saya."

 

Ia tertawa kecil, suara seraknya memenuhi studio.

 

Sengkuni: "Kalau ketangkap? Santai saja. Hukum itu bisa dibeli, kok. Dipenjara hanya sebentar, mungkin sambil menikmati fasilitas mewah yang tak kalah dengan hotel bintang lima. Sisanya? Foya-foya sekeluar dari penjara menggunakan uang hasil korupsi. Ini adalah siklus ekonomi yang sempurna, Mbak. Korupsi menciptakan perputaran uang, penjara menciptakan lapangan kerja bagi sipir, dan setelah bebas, para mantan pejabat ini menjadi motor penggerak ekonomi hedonisme. Hebat, kan? Ini adalah kemerdekaan finansial yang hakiki!"

 

MBG: (Mencoba menelan ludah, tersenyum kecut) "Uh, sebuah pandangan yang... berani, Patih Sengkuni. Kemerdekaan finansial, Anda bilang. Tapi bukankah itu merugikan rakyat Hastinapura?"

 

PMN (Profesor Mesem Ngguyu): (Menggebrak meja pelan, namun tegas, membuat cangkir teh di depannya bergetar. Matanya menyala-nyala) "Omong kosong! Kemerdekaan macam apa itu?! Kemerdekaan untuk merampok rakyat?! Itu bukan kemerdekaan, itu perbudakan baru! Perbudakan oleh nafsu serakah para bandit berdasi!"

 

Prof. PMN meluruskan kacamatanya, menatap Sengkuni dengan pandangan yang bisa melelehkan baja.

 

PMN: "Di Hastinapura memang berlaku cara-cara busuk seperti yang dikatakan Sengkuni. Tapi ingat, di negeri ini, di negeri yang saya cita-citakan, semua kekayaan koruptor akan disita negara, lalu si koruptor dihukum penggal kepala!"

 

Sengkuni terbatuk, sedikit terkejut dengan nada dan pilihan kata Prof. PMN.

 

PMN: "Saya yakin, suatu saat nanti, yang saya prediksikan ini akan terjadi. Dan oh ya, manakala hukum itu benar-benar berlaku, saya siap jadi algojo tanpa digaji! Bahkan saya siap mendonasikan sebagian harta saya sebagai ungkapan bersyukur setiap kali saya telah dipercaya memenggal kepala koruptor! Ini bukan sekadar hukuman, ini terapi kejut massal untuk membersihkan bangsa dari parasit!"

 

Sengkuni: (Menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis, seolah prihatin) "Aduh, Profesor. Terlalu ekstrem! Kemerdekaan itu tentang kebebasan, bukan kekejaman! Anda ini profesor atau tukang jagal? Lagipula, siapa yang mau bekerja keras kalau ujung-ujungnya dipenggal? Tidak ada insentif, Profesor! Tidak ada!"

 

Jabatan: Warisan Keluarga vs. Batasan Tegas

 

MBG: "Baik, baik, mari kita sedikit mendinginkan suasana. Patih Sengkuni, poin kedua Anda tentang makna kemerdekaan?"

 

Sengkuni: (Kembali ke mode licik-menawan) "Poin kedua saya adalah mahakarya strategi politik: Raih jabatan sebanyak yang bisa. Semua kerabat, mulai anak, istri, paman, pakde, sepupu, ipar, semuanya dikasih jabatan strategis agar bisa melanggengkan kekuasaan meskipun sudah tidak menjabat lagi. Ini adalah investasi jangka panjang, Mbak Brenda! Kemerdekaan itu hak untuk memastikan garis keturunan kita selalu berada di puncak, mengendalikan roda pemerintahan dari generasi ke generasi. Ini bukan nepotisme, ini adalah manajemen talenta keluarga yang visioner!"

 

Ia tersenyum bangga, seolah baru saja menemukan teori fisika baru.

 

Sengkuni: "Bayangkan, Mbak. Setiap posisi penting diisi oleh orang-orang yang Anda percaya, yang memiliki DNA keunggulan yang sama. Loyalitas terjamin, visi terintegrasi. Ini menciptakan stabilitas, Mbak. Stabilitas yang langka di dunia fana ini. Apa itu bukan kemerdekaan untuk menentukan nasib kekuasaan Anda sendiri?"

 

MBG: "Manajemen talenta keluarga... Sebuah istilah yang menarik. Tapi bagaimana dengan meritokrasi, Patih? Bagaimana dengan orang-orang yang memang kompeten di luar lingkaran keluarga?"

 

PMN: (Mengibaskan tangan dengan jijik) "Meritokrasi? Kompetensi? Itu adalah kata-kata yang asing bagi dinasti koruptor! Kemerdekaan sejati adalah batasi jabatan hanya dua kali masa jabatan! Larang kerabat pejabat jadi pejabat dengan aturan hukum yang ketat! Titik!"

 

Prof. PMN menyilangkan tangan di dada, rahangnya mengeras.

 

PMN: "Ini bukan tentang investasi jangka panjang untuk keluarga, ini tentang melayani rakyat! Jabatan itu amanah, bukan warisan. Rakyat Hastinapura berhak mendapatkan pemimpin terbaik, bukan sekadar keponakan atau ipar yang kebetulan punya hubungan darah! Hukum harus ditegakkan, tanpa pandang bulu. Siapa pun yang melanggar, yang mencoba membangun kerajaan kecilnya di atas penderitaan rakyat, harus disingkirkan! Dan saya siap menjadi tukang singkirnya!"

 

Sengkuni: (Mendesah, seolah berbicara dengan anak kecil) "Profesor, Profesor... Anda ini terlalu idealis! Dunia nyata itu kejam, Profesor. Siapa yang akan menjaga kepentingan kita kalau bukan keluarga sendiri? Orang lain itu mudah dibeli, mudah disuap, mudah berkhianat. Keluarga? Mereka terikat oleh darah, Mbak Brenda! Ikatan darah itu lebih kuat dari sumpah jabatan atau janji kampanye!"

 

Dinasti Kekuasaan: Berkedok Demokrasi vs. Pancung Politisi Busuk

 

MBG: "Baik, kita beralih ke poin ketiga. Patih Sengkuni, bagaimana Anda melihat kemerdekaan dalam konteks pembentukan dinasti kekuasaan?"

 

Sengkuni: (Tersenyum licik, matanya berkilat) "Ah, ini adalah mahakarya saya yang paling agung! Kemerdekaan sejati adalah hak untuk membuat dinasti kekuasaan dengan berkedok demokrasi. Rakyat Hastinapura yang 90% bodoh permanen, mudah dibohongi, dimanipulasi, dan diadudomba. Ini bukan hinaan, Mbak Brenda, ini adalah observasi sosiologis yang akurat!"

 

Mbak Brenda hanya bisa menggelengkan kepala, mencoba menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

 

Sengkuni: "Demokrasi itu alat yang indah. Kita beri mereka ilusi pilihan, ilusi suara, ilusi partisipasi. Padahal, kita yang mengatur di belakang layar. Kita adudomba mereka dengan isu-isu sepele, kita beri mereka janji-janji manis yang takkan pernah terealisasi, kita beli suara mereka dengan sembako murah atau hiburan murahan. Lalu, voila! Dinasti kita langgeng, seolah-olah atas kehendak rakyat. Ini adalah kemerdekaan untuk membentuk takdir politik Anda sendiri, tanpa harus repot-repot berperang atau kudeta. Cukup dengan 'demokrasi' ala Sengkuni!"

 

MBG: (Menghela napas) "Jadi, Anda memanfaatkan kelemahan rakyat untuk melanggengkan kekuasaan? Bukankah itu... tidak etis, Patih?"

 

PMN: (Wajahnya memerah padam, tangannya mengepal erat) "Tidak etis?! Itu kejahatan sistematis! Kemerdekaan itu adalah hak rakyat untuk tidak dibodohi, tidak dimanipulasi! Dinasti kekuasaan dengan kedok apa saja dilarang menggunakan peraturan negara! Politisi busuk yang memanfaatkan kebodohan rakyat dengan membohongi, memanipulasi, dan mengadudomba, dihukum pancung!"

 

Prof. PMN berdiri, menunjuk Sengkuni dengan jari telunjuknya yang gemetar.

 

PMN: "Rakyat Hastinapura mungkin 90% bodoh permanen menurut Anda, Patih Sengkuni! Tapi mereka berhak mendapatkan pendidikan, pencerahan, dan pemimpin yang jujur! Bukan serigala berbulu domba yang bersembunyi di balik topeng demokrasi! Kemerdekaan itu adalah pencerahan, bukan pembodohan! Dan jika ada yang mencoba membodohi, kepalanya harus dipancung sebagai pelajaran!"

 

Sengkuni: (Mengangkat bahu, tak terganggu sedikit pun) "Pancung lagi, pancung lagi. Profesor ini memang punya obsesi aneh dengan kepala. Padahal, kepala itu isinya otak, Profesor. Kalau dipancung, nanti siapa yang berpikir strategis seperti saya? Lagipula, rakyat itu butuh hiburan, Profesor. Mereka tidak butuh terlalu banyak berpikir. Cukup ikuti saja arahan kami, semuanya beres. Itu namanya 'kemerdekaan dari beban berpikir', Profesor!"

 

Melanggengkan Kekuasaan: Sampai Kiamat dan Pasca-Kiamat vs. Rejam atau Kolam Buaya

 

MBG: "Wah, perdebatan semakin memanas. Patih Sengkuni, poin terakhir Anda, yang kabarnya paling... ambisius?"

 

Sengkuni: (Tertawa terbahak-bahak, kali ini dengan suara yang lebih riang, seolah membayangkan masa depan yang gemilang) "Tentu saja! Ini adalah puncak dari filosofi kemerdekaan saya! Melanggengkan kekuasaan sampai 7 triliun keturunan! Jadi sampai kiamat, pascakiamat, pasca sorga-negara, lalu dibuat dunia baru dengan kisah baru, tetap berkuasa! Hebat kan MAKNA KEMERDEKAAN VERSI SENGKUNI ini?!"

 

Mbak Brenda terdiam, tercengang. Bahkan Prof. PMN pun terlihat sedikit syok, meskipun ia segera menguasai diri.

 

Sengkuni: "Ini bukan sekadar kekuasaan duniawi, Mbak Brenda. Ini adalah proyek abadi! Kemerdekaan untuk menentukan takdir semesta, untuk menulis ulang sejarah, bahkan setelah alam semesta ini berakhir. Dinasti saya akan menjadi benang merah yang menghubungkan realitas satu ke realitas berikutnya. Saya akan menjadi arsitek abadi dari segala peradaban! Siapa yang bisa menandingi visi semacam ini? Ini adalah kemerdekaan absolut, Mbak! Kemerdekaan dari batasan waktu, ruang, dan bahkan eksistensi itu sendiri!"

 

MBG: (Mengedipkan mata beberapa kali, mencoba memproses informasi yang baru saja ia dengar) "Tujuh triliun keturunan... Pasca-kiamat... Patih, itu... itu di luar nalar manusia biasa. Apakah ini masih relevan dengan makna kemerdekaan di dunia nyata?"

 

PMN: (Menghela napas panjang, lalu tertawa sinis. Tawa yang jarang terdengar darinya) "Kemerdekaan absolut? Itu bukan kemerdekaan, itu megalomania akut! Itu delusi kekuasaan yang sudah stadium akhir! Pelanggengan kekuasaan dilarang keras dalam bentuk undang-undang negara! Pelanggar undang-undang ini dihukum rejam atau dimasukkan kolam buaya!"

 

Prof. PMN kali ini tidak berteriak, suaranya tenang namun penuh ancaman yang dingin.

 

PMN: "Tidak ada kekuasaan yang abadi, Patih Sengkuni! Bahkan alam semesta pun ada batasnya! Kemerdekaan sejati adalah menerima siklus kehidupan, menerima pergantian kepemimpinan, dan memberi kesempatan kepada generasi berikutnya untuk membangun masa depan mereka sendiri! Bukan mengikat mereka dengan rantai dinasti yang busuk sampai 7 triliun keturunan! Buaya-buaya di kolam akan sangat menikmati santapan ambisi kosong Anda, Patih!"

 

Sengkuni: (Mencibir) "Buaya? Profesor ini pasti sering menonton film-film laga murahan. Saya ini Mahapatih, Profesor, bukan umpan buaya! Dan visi saya ini bukan ambisi kosong, ini adalah warisan abadi yang akan dikenang sepanjang masa, bahkan di dunia baru sekalipun! Anda hanya bisa membayangkan kolam buaya, saya membayangkan galaksi-galaksi di bawah kendali dinasti saya!"

 

Debat Lebih Lanjut: Antara Etika, Pragmatisme, dan Utopi

 

MBG: (Mengusap dahinya, merasa sedikit pusing) "Baiklah, Bapak-bapak sekalian. Ini adalah perdebatan yang... luar biasa. Patih Sengkuni, Anda melihat kemerdekaan sebagai kebebasan total untuk mengakumulasi kekayaan, jabatan, dan kekuasaan tanpa batas, bahkan dengan cara-cara yang mungkin dianggap tidak etis. Sementara Prof. PMN, Anda melihat kemerdekaan sebagai kebebasan dari tirani, korupsi, dan manipulasi, bahkan dengan hukuman yang sangat... drastis."

 

MBG: "Patih Sengkuni, apakah Anda tidak khawatir dengan legitimasi kekuasaan Anda jika semua dilakukan dengan manipulasi dan korupsi? Rakyat Hastinapura, meskipun Anda sebut 'bodoh permanen', bukankah suatu saat bisa menyadari dan memberontak?"

 

Sengkuni: (Menyeringai) "Legitimasi itu relatif, Mbak Brenda. Yang penting adalah kontrol. Selama kita mengendalikan informasi, mengendalikan ekonomi, dan mengendalikan militer, rakyat akan tetap patuh. Mereka mungkin mengeluh, mereka mungkin bergosip, tapi mereka tidak akan berani bergerak. Lagipula, pemberontakan itu membutuhkan pemimpin, dan para pemimpin potensial itu sudah kami 'berdayakan' dengan jabatan atau, jika perlu, kami 'netralkan' dengan cara-cara yang halus. Ini adalah seni manajemen konflik, Mbak. Memberi mereka cukup harapan palsu agar tidak putus asa, tapi tidak cukup kekuatan untuk benar-benar berubah."

 

Sengkuni: "Kemerdekaan bagi saya adalah kebebasan untuk mendefinisikan realitas. Jika saya bilang Hastinapura makmur, maka makmurlah Hastinapura, terlepas dari kenyataan di lapangan. Rakyat akan percaya karena mereka ingin percaya. Itu adalah kekuatan sugesti massal, Mbak. Sebuah ilmu yang jauh lebih canggih daripada filsafat moral Prof. PMN yang ketinggalan zaman itu."

 

PMN: (Mengejek) "Mendefinisikan realitas? Itu namanya berbohong! Dan kebohongan itu adalah rantai yang mengikat jiwa manusia! Kemerdekaan sejati adalah kejujuran, transparansi, dan akuntabilitas! Rakyat mungkin 'bodoh permanen' di mata Anda, Patih, tapi mereka punya hati nurani! Suatu saat, hati nurani itu akan berteriak, dan ketika itu terjadi, tidak ada jumlah sembako atau hiburan murahan yang bisa membungkamnya!"

 

PMN: "Patih Sengkuni, Anda berbicara tentang seni manajemen konflik, saya berbicara tentang revolusi kesadaran! Kemerdekaan itu bukan tentang kebebasan untuk menindas, tapi kebebasan untuk bangkit dari penindasan! Dan saya, dengan segala gelar saya ini, siap menjadi katalisator revolusi itu, bahkan jika itu berarti saya harus memegang kapak dan menjadi algojo keadilan!"

 

MBG: "Prof. PMN, dengan segala hormat, hukuman-hukuman yang Anda usulkan terdengar sangat ekstrem. Memenggal kepala, rejam, kolam buaya... Apakah itu sesuai dengan prinsip kemanusiaan dan hak asasi manusia di era modern?"

 

PMN: (Tersenyum tipis, senyum yang jarang terlihat dan agak menakutkan) "Mbak Brenda, apakah korupsi yang merampas hak hidup jutaan orang itu manusiawi? Apakah dinasti kekuasaan yang menginjak-injak aspirasi rakyat itu manusiawi? Bagi saya, kejahatan luar biasa membutuhkan respons yang luar biasa pula. Ini bukan tentang kekejaman, ini tentang efek jera maksimal! Ini tentang mengirim pesan yang sangat jelas: Jangan pernah bermain-main dengan kemerdekaan rakyat! Hukuman ekstrem ini adalah bentuk kemerdekaan dari kejahatan, kemerdekaan untuk menciptakan masyarakat yang bersih dan adil. Ini adalah terapi kejut yang diperlukan untuk menyembuhkan penyakit kronis yang disebut korupsi dan tirani!"

 

PMN: "Dan hak asasi manusia? Hak asasi manusia yang mana? Hak asasi untuk korupsi? Hak asasi untuk menindas? Tidak ada hak asasi untuk itu! Hak asasi manusia sejati adalah hidup dalam keadilan, kebebasan, dan martabat. Dan jika ada yang mencoba merampasnya, maka mereka telah melepaskan hak asasi mereka sendiri untuk mendapatkan perlakuan yang sama."

 

Sengkuni: (Menggelengkan kepala dengan dramatis lagi) "Profesor, Profesor. Anda ini terlalu serius! Hidup itu butuh kelenturan, butuh negosiasi. Kemerdekaan itu tentang fleksibilitas, Mbak Brenda. Jika hukum terlalu kaku, maka akan patah. Korupsi itu seperti air, ia akan selalu menemukan celah. Daripada melawannya dengan kekerasan yang sia-sia, lebih baik kita kelola. Kita jadikan bagian dari sistem, kita atur agar tidak terlalu 'kacau'. Ini adalah kemerdekaan untuk beradaptasi, untuk bertahan, untuk berkuasa!"

 

Sengkuni: "Lagipula, hukuman mati itu tidak efektif. Buktinya, saya masih di sini, sehat walafiat, dan tetap berkuasa. Yang penting itu adalah bagaimana Anda memainkan kartu Anda, Mbak Brenda. Dan saya, Patih Sengkuni, adalah pemain terbaik di Hastinapura!"

 

MBG: (Tersenyum, kali ini lebih maklum daripada terkejut) "Patih Sengkuni, Anda memang tak ada duanya. Selalu ada argumen, selalu ada cara pandang yang... unik. Prof. PMN, Anda tampak sangat bersemangat dengan peran algojo. Apakah ini bagian dari filosofi Anda tentang keadilan?"

 

PMN: "Tentu saja! Keadilan tanpa eksekusi adalah ilusi! Saya bukan haus darah, Mbak Brenda. Saya haus keadilan! Saya haus akan masyarakat yang bersih dari noda-noda para koruptor dan tiran. Peran algojo ini adalah simbol. Simbol bahwa keadilan itu tidak hanya di atas kertas, tapi juga bisa dirasakan, bisa dilihat, bisa menjadi peringatan bagi siapa pun yang berani merusak kemerdekaan sejati. Ini adalah kemerdekaan dari rasa takut akan ketidakadilan!"

 

PMN: "Dan saya yakin, suatu saat nanti, masyarakat akan sadar bahwa cara-cara Patih Sengkuni ini hanya akan membawa mereka ke jurang kehancuran. Mereka akan bangkit, mereka akan menuntut keadilan, dan saat itu terjadi, saya akan ada di garis depan, siap memimpin mereka menuju kemerdekaan yang sesungguhnya!"

 


Penutup: Sebuah Refleksi Kemerdekaan yang Kontradiktif

 

MBG: "Wah, ini sungguh sebuah wawancara yang membuka mata dan, saya akui, membuat saya berpikir keras tentang definisi kemerdekaan. Di satu sisi, Patih Sengkuni menawarkan kemerdekaan sebagai kebebasan total untuk berkuasa, mengakumulasi, dan melanggengkan kekuasaan dengan segala cara, bahkan yang paling licik sekalipun, berkedok stabilitas dan manajemen yang 'visioner'. Ia melihat hukum sebagai alat yang bisa dibeli, rakyat sebagai objek manipulasi, dan kekuasaan sebagai warisan abadi yang melampaui batas waktu dan dimensi. Ini adalah kemerdekaan yang pragmatis, sinis, dan berpusat pada diri sendiri, di mana moralitas adalah variabel yang bisa diabaikan demi tujuan akhir kekuasaan.

 

MBG: "Di sisi lain, Prof. PMN menyajikan visi kemerdekaan yang sangat idealis, namun dengan metode yang sangat ekstrem. Semoga bermanfaat.

 

Spirov Lengking, 62028040175815

 

 

 

 

Rabu, 01 Juli 2026

GOLPUT KARENA MUAK: REVOLUSI BANTAL ATAU JUSTRU KARPET MERAH UNTUK PARA BADUT POLITIK?

 

Fenomena golput, alias golongan putih, bukan lagi sekadar bumbu penyedap dalam setiap perhelatan demokrasi. Kini, ia menjelma menjadi hidangan utama yang disajikan dengan bumbu kemuakan, kekecewaan, dan sejuta sumpah serapah. Banyak yang merasa, daripada memilih yang itu-itu saja, atau yang sama-sama busuknya, lebih baik tidur di rumah, nonton serial drama Korea, atau scroll TikTok sampai jempol keriting. Tapi, apakah sikap "ngambek" massal ini benar-benar solusi, atau justru membuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang gemar bermain sulap kekuasaan? Untuk mengupas tuntas dilema ini, kami berkesempatan mewawancarai seorang pakar yang (KONON, KATANYA) sudah kenyang asam garam politik, Profesor Dr. Ngantuk Banget, M.Pol.Sci.

 

 

1.   Sesi Wawancara Eksklusif dengan Profesor Ngantuk Banget

 

Interviewer (I): Selamat siang, Prof. Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu di tengah jadwal Anda yang (kami yakin) sangat padat untuk tidur siang. Prof, fenomena golput karena muak ini semakin marak. Menurut Anda, apakah ini bentuk protes cerdas atau cuma luapan emosi sesaat?

 

Prof. Ngantuk Banget (PNB): (Menguap lebar, lalu menyeruput kopi hitamnya yang entah sudah ke berapa) Ah, "protes cerdas" atau "luapan emosi"? Keduanya bisa jadi. Ibaratnya begini, Mas. Anda pacaran bertahun-tahun, tapi si dia hobinya selingkuh, bohong, janji manis doang, terus ujung-ujungnya minta pulsa. Lama-lama kan Anda muak, jengah, lalu bilang, "Udah deh, putus aja! Mending jomblo daripada makan hati terus!" Nah, golput ini mirip itu. Rakyat ini sudah terlalu sering dipacari sama politisi yang PHP (Pemberi Harapan Palsu). Wajar kalau akhirnya mereka memutuskan untuk "putus hubungan" sementara. Mereka berharap, dengan putus, si politisi akan sadar dan berubah. Tapi ya, namanya juga harapan, kadang semanis janji kampanye.

 

I: Analogi yang menarik, Prof. Jadi, Anda melihat golput sebagai semacam "silent treatment" [perlakuan diam; ngeneng; ngetokne; njothak; mbuh ra urus] dari rakyat kepada para politisi? Apakah ini efektif sebagai solusi untuk mendorong perubahan?

 

PNB: (Mengangguk pelan, matanya sedikit terbuka) "Silent treatment" yang sangat sunyi, sampai-sampai yang di-silent tidak merasa kalau lagi di-silent. Begini, Mas. Dalam sebuah pertandingan sepak bola, kalau kipernya mogok main karena muak dengan beknya yang sering blunder, apa yang terjadi? Gawangnya kebobolan, kan? Nah, pemilu itu pertandingan. Golput itu ibarat kiper yang mogok. Memang, ada pesan protes di sana, "Kami muak dengan kalian yang mainnya begitu-begitu saja!" Tapi di sisi lain, gawangnya jadi kosong. Bola-bola liar bisa masuk dengan mudah. Mereka yang tidak golput, yang mungkin punya agenda tersembunyi, atau yang memang punya kepentingan, akan dengan mudah mengisi kekosongan itu dan mencetak gol. Jadi, efektif sebagai solusi? Tergantung. Efektifkah membuat politisi kaget? Mungkin. Efektifkah membuat perubahan nyata? Belum tentu. Bisa jadi malah mempermudah manipulasi kekuasaan karena suara kritis yang seharusnya ada, jadi tidak terwakili.

 

I: Berarti Anda melihat golput ini justru punya risiko mempermudah manipulasi kekuasaan?

 

PNB: Tentu saja! Bayangkan sebuah meja prasmanan. Kalau banyak orang tidak mau ambil makanan karena merasa makanannya tidak enak, siapa yang senang? Tentu saja yang doyan dan tidak peduli rasa, atau yang memang sudah merencanakan untuk menghabiskan semua makanan itu sendirian. Suara kita itu bukan cuma angka, Mas. Itu adalah legitimasi. Itu adalah kekuatan tawar. Ketika Anda memilih golput, Anda secara tidak langsung menyerahkan kekuatan tawar Anda kepada orang lain. Anda menyerahkan hak Anda untuk menentukan siapa yang akan duduk di kursi kekuasaan. Dan percayalah, tidak ada kursi kosong di politik. Kalau Anda tidak mendudukinya, pasti ada orang lain yang akan dengan senang hati melompat dan mendudukinya, bahkan mungkin sambil tertawa kecil, "Wah, rezeki anak saleh!"

 

I: Jadi, menurut Anda, apa yang harus dilakukan oleh masyarakat yang sudah terlanjur "muak" ini? Apakah mereka harus tetap memilih, meskipun dengan hati yang berat?

 

PNB: (Menghela napas panjang, lalu tersenyum getir) Ini pertanyaan sejuta umat, Mas. Kalau saya ditanya, "Apa yang harus dilakukan?" Ya, lakukanlah apa yang menurut Anda paling tidak merugikan. Kalau Anda muak dengan semua pilihan, cobalah cari yang "paling tidak busuk," atau yang "busuknya tidak terlalu bau." Ini bukan tentang mencari pangeran berkuda putih, Mas. Ini tentang mencari kuda yang pincangnya tidak terlalu parah, atau setidaknya tidak ada kudisnya. Atau, kalau memang tidak ada sama sekali, ya cari cara lain untuk menyuarakan ketidakpuakan Anda. Jangan cuma rebahan sambil menggerutu di media sosial. Aktiflah di komunitas, desak para pembuat kebijakan, atau bahkan, kalau Anda cukup gila, dirikan partai sendiri! Tapi ya, jangan kaget kalau nanti Anda sendiri yang dicap "badut politik" juga. Politik itu lingkaran setan yang penuh godaan, Mas.

 

I: Terakhir, Prof, ada pesan untuk para calon pemilih yang sedang galau antara golput atau memilih dengan terpaksa?

 

PNB: Pesan saya, jangan terlalu serius. Politik itu seperti drama komedi putar. Kadang bikin ketawa, kadang bikin nangis, tapi seringnya bikin pusing. Golput itu hak Anda, tapi ingat, setiap hak punya konsekuensi. Kalau Anda golput, jangan kaget kalau nanti kebijakan yang lahir tidak sesuai harapan Anda. Ibaratnya, Anda tidak ikut masak, tapi protes makanannya tidak enak. Ya siapa suruh tidak ikut campur dari awal? Intinya, gunakan akal sehat Anda, jangan cuma pakai emosi. Dan jangan lupa, ngopi biar tidak ngantuk saat menelaah janji-janji kampanye. Siapa tahu ada yang nyelip janji kopi gratis seumur hidup. Itu baru layak diperjuangkan!

 

 

"Golput itu seperti Anda mogok makan di restoran yang makanannya tidak enak. Anda memang tidak makan, tapi restoran itu tetap ramai dan si koki tetap kaya raya. Malah, porsi Anda bisa diambil orang lain!"— Prof. Dr. Ngantuk Banget, M.Pol.Sci.

 

 

2.   Kesimpulan ala Penulis: Antara Bantal dan Karpet Merah

 

Dari obrolan santai dengan Prof. Ngantuk Banget, kita bisa menyimpulkan bahwa dilema golput ini memang tak sesederhana membalik telapak tangan. Di satu sisi, golput adalah ekspresi kemuakan yang valid, sebuah "revolusi bantal" di mana pemilih memilih untuk tidak berpartisipasi karena merasa tidak ada yang layak dipilih. Ini adalah teriakan sunyi yang berharap didengar. Namun, di sisi lain, teriakan sunyi ini juga berisiko tinggi. Ia bisa jadi "karpet merah" yang empuk bagi para manipulator kekuasaan, para pemain lama yang justru diuntungkan oleh absennya suara-suara kritis.

 

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan masing-masing. Apakah kita akan memilih untuk rebahan di rumah, berharap perubahan datang sendiri? Atau, apakah kita akan tetap berpartisipasi, meskipun dengan hati yang dongkol, setidaknya untuk memastikan bahwa "badut politik" yang terpilih adalah badut yang paling tidak menakutkan? Seperti kata Prof. Ngantuk Banget, politik itu drama komedi putar. Kita boleh muak, boleh kesal, tapi jangan sampai kemuakan itu justru membuat kita kehilangan kekuatan dan menyerahkan panggung begitu saja kepada mereka yang siap menari di atas penderitaan kita. Mungkin, sudah saatnya kita berhenti berharap pada pangeran berkuda putih, dan mulai mencari kuda yang setidaknya tidak terlalu bau kencur. Atau, kalau tidak ada, ya kita jadi joki saja, siapa tahu bisa mengarahkan kuda yang ada ke arah yang lebih baik. Siapa tahu?

 

Spirov Lengking, 620270201034