Selasa, 22 September 2026

Teror Sunyi di Desa Kalibata

 




________________________________________________________________________

Disclaimer:

Tulisan ini termasuk cerpen (cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya kebetulan belaka.

________________________________________________________________________

 

Teror Sunyi di Desa Kalibata

 

Bedrun meringkuk di pojok gudang yang gelap, napasnya tersengal-sengal seperti binatang buruan yang terpojok. Di luar sana, langit Desa Kalibata yang biasanya tenang, malam ini terasa pekat oleh bau minyak tanah dan amis ketakutan. Suara teriakan massa di kejauhan, sesekali diselingi letusan senapan, merobek kesunyian malam akhir 1965 itu.

 

Pintu gudang berderit pelan. Bedrun tersentak, tangannya meraba-raba lantai tanah, mencari apa saja yang bisa dijadikan senjata.

 

"Ini aku, Bedrun. Jangan berisik," bisik sebuah suara.

 

Zaki, anak Kiai Hamdan, masuk membawa piring seng berisi nasi dan tempe goreng. Ia meletakkannya di depan Bedrun dengan tangan gemetar.

 

"Kamu mau meracuniku?" tanya Bedrun ketus, meski perutnya melilit perih.

 

Zaki mendengus pelan, duduk bersandar pada tumpukan karung gabah. "Kalau mau membunuhmu, aku tinggal teriak ke orang-orang di depan pasar sana. Mereka sedang mencari kepalamu."

 

"Kenapa kamu menolongku, Zak? Kita sudah tidak saling tegur sejak aku ikut rapat-rapat di kantor cabang itu."

 

"Bapak yang minta. Bukan aku."

 

"Kiai Hamdan?"

 

"Ya. Beliau bilang, menghabisi nyawa orang tanpa pengadilan itu dosa besar, siapa pun orangnya. Bahkan orang yang katanya tidak percaya Tuhan sepertimu."

 

Bedrun terdiam. Ia menyuap nasi dengan tangan yang masih gemetar. "Aku hanya ingin petani di desa ini punya tanah sendiri, Zak. Itu saja. Apa itu salah?"

 

"Caramu salah, Bedrun. Kalian mengancam orang-orang. Kalian menganggap kami musuh."

 

"Kami hanya ingin keadilan!"

 

"Keadilan siapa? Keadilan yang membuat orang-orang saling bunuh malam ini?"

 

Bedrun meletakkan piringnya. Suara langkah kaki berat terdengar melewati tembok luar gudang. Keduanya terdiam, menahan napas. Obor-obor melintas, memantulkan cahaya kemerahan melalui celah dinding kayu yang renggang.

 

"Bedrun ada di dalam?"

 

Suara berat Kiai Hamdan terdengar dari arah pintu. Beliau masuk dengan jubah putihnya yang tampak kusam dalam remang cahaya lampu tempel. Wajahnya yang biasanya teduh kini guratan-guratan kecemasan terpahat dalam.

 

"Iya, Kiai," jawab Bedrun lirih. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya lemas.

 

"Duduklah. Kamu terluka?" tanya Kiai Hamdan.

 

"Hanya lecet di kaki saat lari dari hutan tadi, Kiai."

 

Kiai Hamdan menghela napas panjang, lalu duduk di sebuah kursi kayu tua di sudut gudang. "Malam ini sangat panjang, Bedrun. Orang-orang sedang kalap. Mereka menyebutnya pembersihan."

 

"Apa mereka akan kemari, Kiai?"

 

"Mereka sudah berkeliling. Setiap rumah yang dicurigai menyembunyikan anggota organisasi kalian akan diperiksa."

 

Zaki menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan protes. "Bapak tahu risikonya? Kalau mereka tahu kita menyembunyikan Bedrun, rumah ini bisa dibakar. Pesantren kita bisa habis, Pak."

 

"Aku tahu, Zaki. Aku sangat tahu," jawab Kiai Hamdan tenang namun tegas.

 

"Lalu kenapa? Bedrun ini anggota partai komunis itu, Pak! Dia orang yang tempo hari bilang kalau agama itu candu di depan balai desa!" suara Zaki meninggi, namun segera ia tekan karena takut terdengar ke luar.

 

Bedrun menatap Zaki dengan mata merah. "Aku mengatakan itu karena aku melihat bagaimana tuan tanah menggunakan nama agama untuk menindas kami! Aku tidak bermaksud menghina Kiai!"

 

"Tapi kamu tetap bagian dari mereka, Bedrun! Kamu melihat teman-temanku diculik?" balas Zaki.

 

"Cukup!" Kiai Hamdan mengangkat tangannya. "Debat ideologi tidak akan menyelamatkan nyawa siapa pun malam ini."

 

"Tapi Pak, ini masalah nyawa keluarga kita juga," sela Zaki.

 

Kiai Hamdan menatap putranya dalam-dalam. "Zaki, jika kita menyerahkan seseorang yang meminta perlindungan untuk dibunuh tanpa hak, apa bedanya kita dengan mereka yang kita sebut tidak ber-Tuhan?"

 

"Ini berbeda, Pak! Ini masalah keamanan negara!"

 

"Keamanan negara tidak dibangun di atas tumpukan mayat tetangga sendiri, Nak."

 

Bedrun menunduk, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Kiai, serahkan saja aku. Aku tidak mau merepotkan kalian. Aku... aku hanya tidak ingin mati seperti anjing di pinggir jalan."

 

"Kamu tidak akan ke mana-mana, Bedrun. Setidaknya tidak malam ini," kata Kiai Hamdan.

 

"Kiai tidak takut?" tanya Bedrun.

 

"Hanya kepada Allah aku takut. Namun, Allah juga memerintahkanku untuk melindungi sesama manusia. Kamu ingat saat kecil kamu sering mengaji di sini?"

 

Bedrun mengangguk pelan. "Itu sudah lama sekali, Kiai. Sebelum aku belajar tentang dialektika dan perjuangan kelas."

 

Kiai Hamdan tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit. "Dialektika tidak memberimu makan saat lapar, kan? Dan sekarang, perjuangan kelas itu malah membuatmu harus bersembunyi di gudang orang yang kamu anggap musuh kelas."

 

"Aku salah, Kiai. Aku tidak menyangka akan jadi seburuk ini."

 

"Semua orang merasa paling benar sampai darah mulai mengalir, Bedrun."

 

Tiba-tiba, suara gedoran keras terdengar dari pintu depan rumah utama. Jantung Bedrun seolah berhenti berdetak. Suara teriakan kasar memanggil nama Kiai Hamdan terdengar jelas sampai ke gudang.

 

"Kiai! Kiai Hamdan! Keluar!"

 

Zaki berdiri dengan wajah pucat pasi. "Itu suara Kang Darmo. Dia ketua kelompok pemuda yang berkeliling tadi."

 

Kiai Hamdan bangkit dengan tenang. "Zaki, tetap di sini. Jangan biarkan Bedrun bersuara sedikit pun."

 

"Pak, jangan keluar sendirian," cegat Zaki.

 

"Aku harus keluar. Kalau aku tidak keluar, mereka akan mendobrak masuk dan menggeledah semuanya. Tetap di sini."

 

Kiai Hamdan melangkah keluar gudang, menutup pintu dengan perlahan. Di dalam, Bedrun dan Zaki terjebak dalam kesunyian yang mencekam. Mereka bisa mendengar sayup-sayup percakapan di halaman depan.

 

"Ada apa, Darmo? Malam-malam begini berteriak di rumah orang tua," suara Kiai Hamdan terdengar berwibawa.

 

"Maaf, Kiai. Kami sedang mencari Bedrun. Ada warga yang lihat dia lari ke arah sini," jawab Darmo.

 

"Lalu?"

 

"Kami harus memeriksa rumah Kiai. Ini perintah dari atasan. Semua kaki tangan merah harus dibersihkan malam ini juga."

 

"Kamu meragukanku, Darmo? Kamu pikir aku menyembunyikan orang yang tidak percaya Tuhan di rumahku?"

 

"Bukan begitu, Kiai. Tapi Bedrun itu licin. Siapa tahu dia menyelinap lewat pintu belakang tanpa Kiai tahu."

 

Di dalam gudang, Bedrun menggigil hebat. Ia melihat ke arah Zaki. Zaki sedang menatap sebuah parang tua yang bersandar di dinding gudang. Bedrun tahu apa yang dipikirkan Zaki. Satu teriakan saja, maka semuanya akan berakhir. Zaki bisa menyelamatkan keluarganya dengan menyerahkan Bedrun.

 

"Zak..." bisik Bedrun parau.

 

Zaki menoleh, matanya berkilat antara amarah dan keraguan. "Diam kamu."

 

"Zak, kalau mereka masuk, bilang saja aku yang memaksa bersembunyi di sini. Bilang bapakmu tidak tahu apa-apa."

 

Zaki tidak menjawab. Ia berjalan mendekati pintu gudang yang sedikit terbuka, mengintip ke arah halaman.

 

Di luar, ketegangan meningkat.

 

"Kami tetap harus periksa, Kiai. Tolong minggir," kata Darmo dengan nada yang lebih keras.

 

"Darmo, sejak kapan kamu kehilangan sopan santun pada gurumu sendiri?" suara Kiai Hamdan meninggi. "Aku jamin, tidak ada orang asing yang masuk ke rumah ini atas izin dariku yang bertujuan merusak desa."

 

"Tapi Kiai—"

 

"Apa kamu mau memikul dosa karena menghina rumah seorang Kiai dengan tuduhan palsu? Pergilah ke arah sungai. Tadi aku dengar suara orang berlari ke sana."

 

Hening sejenak. Bedrun menahan napas sampai dadanya terasa sesak.

 

"Baiklah, Kiai. Maafkan kami. Ayo, teman-teman, ke arah sungai!" teriak Darmo.

 

Suara langkah kaki banyak orang menjauh. Suara motor tua menderu meninggalkan halaman. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Kiai Hamdan kembali ke gudang. Wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya.

 

"Mereka sudah pergi?" tanya Zaki cepat.

 

"Untuk sementara, ya," jawab Kiai Hamdan sambil menyeka keringat di dahinya. "Tapi mereka akan kembali. Darmo bukan orang bodoh. Dia hanya segan padaku untuk saat ini."

 

Bedrun jatuh terduduk. "Terima kasih, Kiai. Terima kasih."

 

"Jangan berterima kasih padaku, Bedrun. Berterima kasihlah pada umurmu yang masih dipanjangkan," sahut Kiai Hamdan. "Sekarang, kita harus memutuskan apa yang akan kita lakukan padamu."

 

Zaki berdiri, wajahnya mengeras. "Dia tidak bisa di sini terus, Pak. Besok pagi orang-orang akan mulai menggeledah lebih teliti. Jika Bedrun ditemukan di sini saat matahari terbit, kita semua akan dianggap pengkhianat."

 

"Aku tahu," kata Kiai Hamdan. "Bedrun, kamu punya keluarga di desa lain?"

 

"Istri dan anakku di Desa sebelah, Kiai. Tapi aku tidak tahu mereka selamat atau tidak."

 

"Kemungkinan besar mereka juga sedang dalam bahaya jika tetap di rumah. Kamu harus pergi dari daerah ini sejauh mungkin."

 

Bedrun menggeleng lemah. "Ke mana? Semua jalan dijaga. Aku tidak punya siapa-siapa."

 

"Zaki, ambilkan baju kokomu yang paling besar dan sarung yang baru," perintah Kiai Hamdan tiba-tiba.

 

"Untuk apa, Pak?"

 

"Lakukan saja!"

 

Zaki bergegas keluar dan kembali membawa setumpuk pakaian.

 

"Pakai ini, Bedrun," kata Kiai Hamdan. "Cukur kumismu. Zaki, ambilkan pisau cukur."

 

Setelah beberapa saat, penampilan Bedrun berubah. Ia mengenakan baju koko putih, sarung, dan peci hitam yang ditarik agak rendah menutupi dahi.

 

"Sekarang kamu bukan lagi Bedrun si pemuda revolusioner," ujar Kiai Hamdan. "Kamu adalah santriku yang akan pulang ke Jawa Timur karena ibunya sakit."

 

"Tapi Kiai, ini terlalu berisiko," potong Bedrun.

 

"Memang. Tapi ini satu-satunya cara. Zaki akan mengantarmu sampai ke perbatasan desa dengan sepeda."

 

Zaki terbelalak. "Aku, Pak? Kenapa aku?"

 

"Karena kamu yang tahu jalan tikus lewat sawah-sawah belakang. Dan karena kamu adalah anakku, mereka tidak akan curiga jika kamu membonceng seorang santri."

 

Zaki menatap Bedrun dengan kebencian yang masih tersisa, namun ia melihat ketakutan yang begitu murni di mata teman masa kecilnya itu. Ia teringat dulu mereka sering memancing bersama di sungai yang sama dengan tempat orang-orang sekarang dibantai.

 

"Bagaimana kalau kita tertangkap?" tanya Zaki lirih.

 

"Maka katakanlah yang sejujurnya, bahwa aku yang menyuruhmu," jawab Kiai Hamdan. "Biarkan Bapak yang menanggung semuanya."

 

"Pak..."

 

"Sudah, jangan banyak bicara. Waktu kita sempit sebelum fajar menyingsing."

 

Zaki menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Ayo, Bedrun. Ikuti aku lewat pintu belakang."

 

Bedrun berdiri, ia mendekati Kiai Hamdan dan mencium tangan pria tua itu dengan khidmat. "Kiai, kenapa Kiai melakukan ini semua untukku? Aku bahkan pernah menghasut orang-orang untuk tidak mendengarkan ceramah Kiai."

 

Kiai Hamdan memegang bahu Bedrun dengan erat. "Karena dalam Islam, menyelamatkan satu nyawa manusia sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Pergilah, dan jadilah manusia yang lebih baik."

 

Keduanya keluar dari gudang secara diam-diam. Suasana luar sangat dingin. Mereka merayap di antara bayang-bayang pohon pisang di belakang rumah. Zaki menuntun sepedanya tanpa dinaiki agar tidak menimbulkan bunyi.

 

Mereka sampai di pinggir hamparan sawah yang luas. Di kejauhan, sisa-sisa kebakaran masih terlihat memerah di ufuk barat. Suara burung hantu terdengar menyahut, menambah suasana mistis sekaligus ngeri.

 

"Naiklah ke belakang," bisik Zaki.

 

Bedrun naik ke boncengan sepeda. Zaki mulai mengayuh perlahan menyusuri jalan setapak di tengah sawah. Sepi. Hanya suara jangkrik dan gesekan rantai sepeda yang terdengar.

 

Tiba-tiba, di ujung jalan setapak, beberapa sorot senter muncul.

 

"Berhenti!" teriak sebuah suara.

 

Zaki mengerem sepedanya mendadak. Jantungnya berdegup kencang. Tiga orang pria dengan parang di pinggang menghadang jalan mereka. Salah satunya adalah Darmo.

 

"Loh, Zaki? Mau ke mana malam-malam begini?" tanya Darmo, senternya menyorot langsung ke wajah Zaki lalu berpindah ke Bedrun.

 

Bedrun menundukkan kepala sedalam mungkin, tangannya memegang erat pinggiran jok sepeda.

 

"Ini, Kang. Mengantar santri Bapak yang mau pulang ke arah stasiun. Ibunya kritis di kampung," jawab Zaki, suaranya terdengar stabil meski lututnya gemetar.

 

Darmo mendekat, menyorot wajah Bedrun. "Santri yang mana? Kok aku tidak pernah lihat?"

 

"Dia santri baru, Kang. Baru sebulan di sini. Namanya... namanya Ahmad," jawab Zaki cepat.

 

Darmo menyipitkan mata. Ia mendekatkan senternya ke wajah Bedrun. Bedrun memejamkan mata, berdoa dalam hati dengan doa-doa yang hampir ia lupakan selama bertahun-tahun.

 

"Kenapa dia menunduk terus? Takut ya lihat kami bawa senjata?" tanya rekan Darmo yang lain sambil tertawa kasar.

 

"Dia memang pendiam, Kang. Lagi sedih juga mikir ibunya," sela Zaki.

 

Darmo terdiam cukup lama. Suasana menjadi sangat tegang. Tangan Darmo meraba hulu parangnya. Bedrun merasa ajalnya sudah di depan mata. Ia sudah siap jika detik berikutnya parang itu menebas lehernya.

 

"Zaki," kata Darmo pelan.

 

"Ya, Kang?"

 

"Bilang pada bapakmu, aku minta maaf soal tadi di depan rumah. Aku hanya menjalankan tugas."

 

Zaki mengangguk kaku. "Iya, Kang. Nanti saya sampaikan."

 

"Ya sudah, lewatlah. Hati-hati, di depan sana banyak orang yang sedang sensitif. Kalau ada apa-apa, bilang saja kamu anak Kiai Hamdan."

 

"Terima kasih, Kang."

 

Zaki mengayuh sepedanya kembali dengan kecepatan lebih tinggi. Setelah cukup jauh dari kerumunan itu, Bedrun baru bisa bernapas lega. Ia merasa seperti baru saja kembali dari liang kubur.

 

Mereka sampai di sebuah jembatan kecil yang menandai perbatasan Desa Kalibata dengan desa tetangga. Di sana, jalanan lebih terbuka dan ada hutan kecil sebagai tempat persembunyian.

 

Zaki menghentikan sepedanya. "Sampai di sini saja. Kamu masuk ke hutan itu, ikuti jalan setapak sampai ke jalan raya. Di sana kamu bisa ikut truk pengangkut sayur yang lewat subuh nanti."

 

Bedrun turun dari sepeda. Ia menatap Zaki, tidak tahu harus berkata apa.

 

"Terima kasih, Zak. Aku... aku berhutang nyawa padamu dan bapakmu."

 

Zaki menatap lurus ke arah sawah yang gelap. "Jangan kembali lagi ke desa ini, Bedrun. Namamu sudah masuk daftar hitam. Jika kamu kembali, aku sendiri mungkin yang akan memegang parang itu."

 

Bedrun mengangguk lemah. "Aku mengerti."

 

"Satu hal lagi," kata Zaki sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan bungkusan kecil berisi uang kertas lusuh. "Bapak menyuruhku memberikan ini padamu. Untuk ongkos."

 

Bedrun menerima uang itu dengan tangan gemetar. Air matanya pecah. Di tengah kebencian yang membakar negerinya, ia justru diselamatkan oleh orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai lawan ideologisnya.

 

"Kenapa kalian melakukan ini, Zak? Setelah semua yang aku lakukan?"

 


Zaki memutar sepedanya, bersiap untuk kembali ke desa sebelum fajar menyingsing. Ia menoleh sedikit, menatap Bedrun untuk terakhir kalinya di bawah sisa cahaya bulan.

 

"Bapak bilang, ideologi bisa mati, tapi kemanusiaan tidak boleh ikut terkubur bersamanya."

 

Bedrun tertegun mendengar kalimat itu. Sebelum ia sempat membalas, Zaki sudah mengayuh sepedanya menjauh, menghilang ditelan kabut malam Kalibata yang perlahan mulai menipis. Bedrun berdiri mematung di pinggir hutan, memegang uang dan pakaian santri yang menyelamatkannya, sementara di kejauhan, suara kokok ayam jantan mulai terdengar, menandai berakhirnya malam paling berdarah sekaligus paling bermakna dalam hidupnya.

 

Ia pun melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan masa lalunya yang kelam.

 

"Semoga Tuhan mengampuni kita semua," bisik Bedrun pada angin malam yang dingin.

 

Spirov Lengking, 62029032054145