________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya
kebetulan belaka.
________________________________________________________________________
Teror
Sunyi di Desa Kalibata
Bedrun
meringkuk di pojok gudang yang gelap, napasnya tersengal-sengal seperti
binatang buruan yang terpojok. Di luar sana, langit Desa Kalibata yang biasanya
tenang, malam ini terasa pekat oleh bau minyak tanah dan amis ketakutan. Suara
teriakan massa di kejauhan, sesekali diselingi letusan senapan, merobek
kesunyian malam akhir 1965 itu.
Pintu
gudang berderit pelan. Bedrun tersentak, tangannya meraba-raba lantai tanah,
mencari apa saja yang bisa dijadikan senjata.
"Ini
aku, Bedrun. Jangan berisik," bisik sebuah suara.
Zaki,
anak Kiai Hamdan, masuk membawa piring seng berisi nasi dan tempe goreng. Ia
meletakkannya di depan Bedrun dengan tangan gemetar.
"Kamu
mau meracuniku?" tanya Bedrun ketus, meski perutnya melilit perih.
Zaki
mendengus pelan, duduk bersandar pada tumpukan karung gabah. "Kalau mau
membunuhmu, aku tinggal teriak ke orang-orang di depan pasar sana. Mereka
sedang mencari kepalamu."
"Kenapa
kamu menolongku, Zak? Kita sudah tidak saling tegur sejak aku ikut rapat-rapat
di kantor cabang itu."
"Bapak
yang minta. Bukan aku."
"Kiai
Hamdan?"
"Ya.
Beliau bilang, menghabisi nyawa orang tanpa pengadilan itu dosa besar, siapa
pun orangnya. Bahkan orang yang katanya tidak percaya Tuhan sepertimu."
Bedrun
terdiam. Ia menyuap nasi dengan tangan yang masih gemetar. "Aku hanya
ingin petani di desa ini punya tanah sendiri, Zak. Itu saja. Apa itu
salah?"
"Caramu
salah, Bedrun. Kalian mengancam orang-orang. Kalian menganggap kami
musuh."
"Kami
hanya ingin keadilan!"
"Keadilan
siapa? Keadilan yang membuat orang-orang saling bunuh malam ini?"
Bedrun
meletakkan piringnya. Suara langkah kaki berat terdengar melewati tembok luar
gudang. Keduanya terdiam, menahan napas. Obor-obor melintas, memantulkan cahaya
kemerahan melalui celah dinding kayu yang renggang.
"Bedrun
ada di dalam?"
Suara
berat Kiai Hamdan terdengar dari arah pintu. Beliau masuk dengan jubah putihnya
yang tampak kusam dalam remang cahaya lampu tempel. Wajahnya yang biasanya
teduh kini guratan-guratan kecemasan terpahat dalam.
"Iya,
Kiai," jawab Bedrun lirih. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya lemas.
"Duduklah.
Kamu terluka?" tanya Kiai Hamdan.
"Hanya
lecet di kaki saat lari dari hutan tadi, Kiai."
Kiai
Hamdan menghela napas panjang, lalu duduk di sebuah kursi kayu tua di sudut
gudang. "Malam ini sangat panjang, Bedrun. Orang-orang sedang kalap.
Mereka menyebutnya pembersihan."
"Apa
mereka akan kemari, Kiai?"
"Mereka
sudah berkeliling. Setiap rumah yang dicurigai menyembunyikan anggota
organisasi kalian akan diperiksa."
Zaki
menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan protes. "Bapak tahu risikonya?
Kalau mereka tahu kita menyembunyikan Bedrun, rumah ini bisa dibakar. Pesantren
kita bisa habis, Pak."
"Aku
tahu, Zaki. Aku sangat tahu," jawab Kiai Hamdan tenang namun tegas.
"Lalu
kenapa? Bedrun ini anggota partai komunis itu, Pak! Dia orang yang tempo hari
bilang kalau agama itu candu di depan balai desa!" suara Zaki meninggi,
namun segera ia tekan karena takut terdengar ke luar.
Bedrun
menatap Zaki dengan mata merah. "Aku mengatakan itu karena aku melihat
bagaimana tuan tanah menggunakan nama agama untuk menindas kami! Aku tidak
bermaksud menghina Kiai!"
"Tapi
kamu tetap bagian dari mereka, Bedrun! Kamu melihat teman-temanku
diculik?" balas Zaki.
"Cukup!"
Kiai Hamdan mengangkat tangannya. "Debat ideologi tidak akan menyelamatkan
nyawa siapa pun malam ini."
"Tapi
Pak, ini masalah nyawa keluarga kita juga," sela Zaki.
Kiai
Hamdan menatap putranya dalam-dalam. "Zaki, jika kita menyerahkan
seseorang yang meminta perlindungan untuk dibunuh tanpa hak, apa bedanya kita
dengan mereka yang kita sebut tidak ber-Tuhan?"
"Ini
berbeda, Pak! Ini masalah keamanan negara!"
"Keamanan
negara tidak dibangun di atas tumpukan mayat tetangga sendiri, Nak."
Bedrun
menunduk, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Kiai, serahkan saja
aku. Aku tidak mau merepotkan kalian. Aku... aku hanya tidak ingin mati seperti
anjing di pinggir jalan."
"Kamu
tidak akan ke mana-mana, Bedrun. Setidaknya tidak malam ini," kata Kiai
Hamdan.
"Kiai
tidak takut?" tanya Bedrun.
"Hanya
kepada Allah aku takut. Namun, Allah juga memerintahkanku untuk melindungi
sesama manusia. Kamu ingat saat kecil kamu sering mengaji di sini?"
Bedrun
mengangguk pelan. "Itu sudah lama sekali, Kiai. Sebelum aku belajar
tentang dialektika dan perjuangan kelas."
Kiai
Hamdan tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit. "Dialektika tidak memberimu
makan saat lapar, kan? Dan sekarang, perjuangan kelas itu malah membuatmu harus
bersembunyi di gudang orang yang kamu anggap musuh kelas."
"Aku
salah, Kiai. Aku tidak menyangka akan jadi seburuk ini."
"Semua
orang merasa paling benar sampai darah mulai mengalir, Bedrun."
Tiba-tiba,
suara gedoran keras terdengar dari pintu depan rumah utama. Jantung Bedrun
seolah berhenti berdetak. Suara teriakan kasar memanggil nama Kiai Hamdan terdengar
jelas sampai ke gudang.
"Kiai!
Kiai Hamdan! Keluar!"
Zaki
berdiri dengan wajah pucat pasi. "Itu suara Kang Darmo. Dia ketua kelompok
pemuda yang berkeliling tadi."
Kiai
Hamdan bangkit dengan tenang. "Zaki, tetap di sini. Jangan biarkan Bedrun
bersuara sedikit pun."
"Pak,
jangan keluar sendirian," cegat Zaki.
"Aku
harus keluar. Kalau aku tidak keluar, mereka akan mendobrak masuk dan
menggeledah semuanya. Tetap di sini."
Kiai
Hamdan melangkah keluar gudang, menutup pintu dengan perlahan. Di dalam, Bedrun
dan Zaki terjebak dalam kesunyian yang mencekam. Mereka bisa mendengar
sayup-sayup percakapan di halaman depan.
"Ada
apa, Darmo? Malam-malam begini berteriak di rumah orang tua," suara Kiai
Hamdan terdengar berwibawa.
"Maaf,
Kiai. Kami sedang mencari Bedrun. Ada warga yang lihat dia lari ke arah
sini," jawab Darmo.
"Lalu?"
"Kami
harus memeriksa rumah Kiai. Ini perintah dari atasan. Semua kaki tangan merah
harus dibersihkan malam ini juga."
"Kamu
meragukanku, Darmo? Kamu pikir aku menyembunyikan orang yang tidak percaya
Tuhan di rumahku?"
"Bukan
begitu, Kiai. Tapi Bedrun itu licin. Siapa tahu dia menyelinap lewat pintu
belakang tanpa Kiai tahu."
Di
dalam gudang, Bedrun menggigil hebat. Ia melihat ke arah Zaki. Zaki sedang
menatap sebuah parang tua yang bersandar di dinding gudang. Bedrun tahu apa
yang dipikirkan Zaki. Satu teriakan saja, maka semuanya akan berakhir. Zaki
bisa menyelamatkan keluarganya dengan menyerahkan Bedrun.
"Zak..."
bisik Bedrun parau.
Zaki
menoleh, matanya berkilat antara amarah dan keraguan. "Diam kamu."
"Zak,
kalau mereka masuk, bilang saja aku yang memaksa bersembunyi di sini. Bilang
bapakmu tidak tahu apa-apa."
Zaki
tidak menjawab. Ia berjalan mendekati pintu gudang yang sedikit terbuka,
mengintip ke arah halaman.
Di
luar, ketegangan meningkat.
"Kami
tetap harus periksa, Kiai. Tolong minggir," kata Darmo dengan nada yang
lebih keras.
"Darmo,
sejak kapan kamu kehilangan sopan santun pada gurumu sendiri?" suara Kiai
Hamdan meninggi. "Aku jamin, tidak ada orang asing yang masuk ke rumah ini
atas izin dariku yang bertujuan merusak desa."
"Tapi
Kiai—"
"Apa
kamu mau memikul dosa karena menghina rumah seorang Kiai dengan tuduhan palsu?
Pergilah ke arah sungai. Tadi aku dengar suara orang berlari ke sana."
Hening
sejenak. Bedrun menahan napas sampai dadanya terasa sesak.
"Baiklah,
Kiai. Maafkan kami. Ayo, teman-teman, ke arah sungai!" teriak Darmo.
Suara
langkah kaki banyak orang menjauh. Suara motor tua menderu meninggalkan
halaman. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Kiai Hamdan
kembali ke gudang. Wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya.
"Mereka
sudah pergi?" tanya Zaki cepat.
"Untuk
sementara, ya," jawab Kiai Hamdan sambil menyeka keringat di dahinya.
"Tapi mereka akan kembali. Darmo bukan orang bodoh. Dia hanya segan padaku
untuk saat ini."
Bedrun
jatuh terduduk. "Terima kasih, Kiai. Terima kasih."
"Jangan
berterima kasih padaku, Bedrun. Berterima kasihlah pada umurmu yang masih
dipanjangkan," sahut Kiai Hamdan. "Sekarang, kita harus memutuskan
apa yang akan kita lakukan padamu."
Zaki
berdiri, wajahnya mengeras. "Dia tidak bisa di sini terus, Pak. Besok pagi
orang-orang akan mulai menggeledah lebih teliti. Jika Bedrun ditemukan di sini
saat matahari terbit, kita semua akan dianggap pengkhianat."
"Aku
tahu," kata Kiai Hamdan. "Bedrun, kamu punya keluarga di desa
lain?"
"Istri
dan anakku di Desa sebelah, Kiai. Tapi aku tidak tahu mereka selamat atau
tidak."
"Kemungkinan
besar mereka juga sedang dalam bahaya jika tetap di rumah. Kamu harus pergi
dari daerah ini sejauh mungkin."
Bedrun
menggeleng lemah. "Ke mana? Semua jalan dijaga. Aku tidak punya
siapa-siapa."
"Zaki,
ambilkan baju kokomu yang paling besar dan sarung yang baru," perintah
Kiai Hamdan tiba-tiba.
"Untuk
apa, Pak?"
"Lakukan
saja!"
Zaki
bergegas keluar dan kembali membawa setumpuk pakaian.
"Pakai
ini, Bedrun," kata Kiai Hamdan. "Cukur kumismu. Zaki, ambilkan pisau
cukur."
Setelah
beberapa saat, penampilan Bedrun berubah. Ia mengenakan baju koko putih,
sarung, dan peci hitam yang ditarik agak rendah menutupi dahi.
"Sekarang
kamu bukan lagi Bedrun si pemuda revolusioner," ujar Kiai Hamdan.
"Kamu adalah santriku yang akan pulang ke Jawa Timur karena ibunya
sakit."
"Tapi
Kiai, ini terlalu berisiko," potong Bedrun.
"Memang.
Tapi ini satu-satunya cara. Zaki akan mengantarmu sampai ke perbatasan desa
dengan sepeda."
Zaki
terbelalak. "Aku, Pak? Kenapa aku?"
"Karena
kamu yang tahu jalan tikus lewat sawah-sawah belakang. Dan karena kamu adalah
anakku, mereka tidak akan curiga jika kamu membonceng seorang santri."
Zaki
menatap Bedrun dengan kebencian yang masih tersisa, namun ia melihat ketakutan
yang begitu murni di mata teman masa kecilnya itu. Ia teringat dulu mereka
sering memancing bersama di sungai yang sama dengan tempat orang-orang sekarang
dibantai.
"Bagaimana
kalau kita tertangkap?" tanya Zaki lirih.
"Maka
katakanlah yang sejujurnya, bahwa aku yang menyuruhmu," jawab Kiai Hamdan.
"Biarkan Bapak yang menanggung semuanya."
"Pak..."
"Sudah,
jangan banyak bicara. Waktu kita sempit sebelum fajar menyingsing."
Zaki
menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Ayo, Bedrun. Ikuti aku lewat
pintu belakang."
Bedrun
berdiri, ia mendekati Kiai Hamdan dan mencium tangan pria tua itu dengan
khidmat. "Kiai, kenapa Kiai melakukan ini semua untukku? Aku bahkan pernah
menghasut orang-orang untuk tidak mendengarkan ceramah Kiai."
Kiai
Hamdan memegang bahu Bedrun dengan erat. "Karena dalam Islam,
menyelamatkan satu nyawa manusia sama dengan menyelamatkan seluruh umat
manusia. Pergilah, dan jadilah manusia yang lebih baik."
Keduanya
keluar dari gudang secara diam-diam. Suasana luar sangat dingin. Mereka merayap
di antara bayang-bayang pohon pisang di belakang rumah. Zaki menuntun sepedanya
tanpa dinaiki agar tidak menimbulkan bunyi.
Mereka
sampai di pinggir hamparan sawah yang luas. Di kejauhan, sisa-sisa kebakaran
masih terlihat memerah di ufuk barat. Suara burung hantu terdengar menyahut,
menambah suasana mistis sekaligus ngeri.
"Naiklah
ke belakang," bisik Zaki.
Bedrun
naik ke boncengan sepeda. Zaki mulai mengayuh perlahan menyusuri jalan setapak
di tengah sawah. Sepi. Hanya suara jangkrik dan gesekan rantai sepeda yang
terdengar.
Tiba-tiba,
di ujung jalan setapak, beberapa sorot senter muncul.
"Berhenti!"
teriak sebuah suara.
Zaki
mengerem sepedanya mendadak. Jantungnya berdegup kencang. Tiga orang pria
dengan parang di pinggang menghadang jalan mereka. Salah satunya adalah Darmo.
"Loh,
Zaki? Mau ke mana malam-malam begini?" tanya Darmo, senternya menyorot
langsung ke wajah Zaki lalu berpindah ke Bedrun.
Bedrun
menundukkan kepala sedalam mungkin, tangannya memegang erat pinggiran jok
sepeda.
"Ini,
Kang. Mengantar santri Bapak yang mau pulang ke arah stasiun. Ibunya kritis di
kampung," jawab Zaki, suaranya terdengar stabil meski lututnya gemetar.
Darmo
mendekat, menyorot wajah Bedrun. "Santri yang mana? Kok aku tidak pernah
lihat?"
"Dia
santri baru, Kang. Baru sebulan di sini. Namanya... namanya Ahmad," jawab
Zaki cepat.
Darmo
menyipitkan mata. Ia mendekatkan senternya ke wajah Bedrun. Bedrun memejamkan
mata, berdoa dalam hati dengan doa-doa yang hampir ia lupakan selama
bertahun-tahun.
"Kenapa
dia menunduk terus? Takut ya lihat kami bawa senjata?" tanya rekan Darmo
yang lain sambil tertawa kasar.
"Dia
memang pendiam, Kang. Lagi sedih juga mikir ibunya," sela Zaki.
Darmo
terdiam cukup lama. Suasana menjadi sangat tegang. Tangan Darmo meraba hulu
parangnya. Bedrun merasa ajalnya sudah di depan mata. Ia sudah siap jika detik
berikutnya parang itu menebas lehernya.
"Zaki,"
kata Darmo pelan.
"Ya,
Kang?"
"Bilang
pada bapakmu, aku minta maaf soal tadi di depan rumah. Aku hanya menjalankan
tugas."
Zaki
mengangguk kaku. "Iya, Kang. Nanti saya sampaikan."
"Ya
sudah, lewatlah. Hati-hati, di depan sana banyak orang yang sedang sensitif.
Kalau ada apa-apa, bilang saja kamu anak Kiai Hamdan."
"Terima
kasih, Kang."
Zaki
mengayuh sepedanya kembali dengan kecepatan lebih tinggi. Setelah cukup jauh
dari kerumunan itu, Bedrun baru bisa bernapas lega. Ia merasa seperti baru saja
kembali dari liang kubur.
Mereka
sampai di sebuah jembatan kecil yang menandai perbatasan Desa Kalibata dengan
desa tetangga. Di sana, jalanan lebih terbuka dan ada hutan kecil sebagai
tempat persembunyian.
Zaki
menghentikan sepedanya. "Sampai di sini saja. Kamu masuk ke hutan itu,
ikuti jalan setapak sampai ke jalan raya. Di sana kamu bisa ikut truk
pengangkut sayur yang lewat subuh nanti."
Bedrun
turun dari sepeda. Ia menatap Zaki, tidak tahu harus berkata apa.
"Terima
kasih, Zak. Aku... aku berhutang nyawa padamu dan bapakmu."
Zaki
menatap lurus ke arah sawah yang gelap. "Jangan kembali lagi ke desa ini,
Bedrun. Namamu sudah masuk daftar hitam. Jika kamu kembali, aku sendiri mungkin
yang akan memegang parang itu."
Bedrun
mengangguk lemah. "Aku mengerti."
"Satu
hal lagi," kata Zaki sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan
bungkusan kecil berisi uang kertas lusuh. "Bapak menyuruhku memberikan ini
padamu. Untuk ongkos."
Bedrun
menerima uang itu dengan tangan gemetar. Air matanya pecah. Di tengah kebencian
yang membakar negerinya, ia justru diselamatkan oleh orang-orang yang selama
ini ia anggap sebagai lawan ideologisnya.
"Kenapa
kalian melakukan ini, Zak? Setelah semua yang aku lakukan?"
Zaki
memutar sepedanya, bersiap untuk kembali ke desa sebelum fajar menyingsing. Ia
menoleh sedikit, menatap Bedrun untuk terakhir kalinya di bawah sisa cahaya
bulan.
"Bapak
bilang, ideologi bisa mati, tapi kemanusiaan tidak boleh ikut terkubur
bersamanya."
Bedrun
tertegun mendengar kalimat itu. Sebelum ia sempat membalas, Zaki sudah mengayuh
sepedanya menjauh, menghilang ditelan kabut malam Kalibata yang perlahan mulai
menipis. Bedrun berdiri mematung di pinggir hutan, memegang uang dan pakaian
santri yang menyelamatkannya, sementara di kejauhan, suara kokok ayam jantan
mulai terdengar, menandai berakhirnya malam paling berdarah sekaligus paling
bermakna dalam hidupnya.
Ia
pun melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan masa lalunya yang kelam.
"Semoga
Tuhan mengampuni kita semua," bisik Bedrun pada angin malam yang dingin.
Spirov Lengking,
62029032054145