Tampilkan postingan dengan label cerita sejarah Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita sejarah Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 September 2026

Kidung Senyap di Bawah Pisau Cukur

 

________________________________________________________________________

Disclaimer:

Tulisan ini termasuk cerpen (cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya kebetulan belaka.

________________________________________________________________________

 

Kidung Senyap di Bawah Pisau Cukur

 


Bunyi klik-klik dari gunting besi tua milik Gempolo seolah menghitung sisa waktu di sore yang lembap itu. Di dalam kios cukur kecilnya yang berbau bedak bayi dan minyak rambut murah, Gempolo masih dengan telaten merapikan rambut seorang pelanggan terakhir. Tangannya yang sudah keriput tetap kokoh memegang silet.

 

“Hati-hati, Mbah Gempolo. Leher saya cuma satu,” seloroh Pak RT yang sedang dicukur.

 

Gempolo hanya tersenyum tipis, matanya yang mulai kabur fokus pada gKlonthang rambut di tengkuk tamunya. “Tenang saja, Pak RT. Gunting saya ini punya ingatan. Dia tahu mana rambut, mana kulit.”

 

“Tapi belakangan Mbah sering melamun. Ada apa?”

 

“Hanya teringat masa lalu. Udara sore ini persis seperti udara tahun enam puluhan,” jawab Gempolo pelan.

 

Tiba-tiba pintu kios yang terbuat dari kayu lapuk itu terbuka keras. Klonthang, cucu laki-laki Gempolo yang sedang menempuh kuliah sejarah di kota besar, muncul dengan napas terengah-engah. Ia membawa sebuah tas kain yang ia dekap erat di dadanya. Wajahnya pucat.

 

“Kakek, kita harus bicara di rumah. Sekarang,” kata Klonthang dengan nada yang tidak bisa dibantah.

 

Gempolo menghentikan gerakannya. Ia melihat kilatan kecemasan di mata cucunya. Ia segera menyelesaikan cukurannya dengan cepat, lalu membersihkan sisa rambut di bahu Pak RT.

 

“Ada apa, Thang? Tumben pulang nggak bilang-bilang?” tanya Gempolo setelah Pak RT pergi.

 

Klonthang tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah rumah mereka yang terletak persis di belakang kios. Setelah mereka masuk dan mengunci pintu kayu, Klonthang meletakkan sebuah buku tua bersampul kain hitam yang sudah mulai hancur dimakan usia di atas meja makan.

 

“Aku menemukannya di gudang bawah tumpukan kayu bakar, Kek,” bisik Klonthang.

 

Gempolo tertegun. Jantungnya berdegup kencang saat melihat lambang yang nyaris pudar di sudut buku itu. Ia mengenalnya. Sangat mengenalnya.

 

“Kenapa kamu bongkar-bongkar gudang itu, Thang?” tanya Gempolo, suaranya bergetar.

 

“Ini bukan soal bongkar-bongkar, Kek. Kenapa nama Kakek ada di sini sebagai ketua unit? Dan kenapa ada daftar lagu-lagu ini? Lagu yang... yang sudah puluhan tahun dilarang?”

 

Gempolo menghela napas panjang, ia menarik kursi dan duduk dengan berat. “Simpan buku itu, Thang. Bakar kalau perlu. Kamu tidak tahu apa yang kamu pegang.”

 

Klonthang menggeleng cepat, matanya menyalang. “Bakar? Kek, ini sejarah keluarga kita! Tapi ini juga... ini juga bisa membuat kita habis kalau orang tahu.”

 

Gempolo menatap cucunya lekat-lekat, lalu berkata dengan suara serak, “Kamu tahu kenapa kakek jadi tukang cukur selama lima puluh tahun ini?”

 

***

 

 

Malam itu, Balai Desa masih terang benderang oleh lampu petromaks. Gempolo muda, dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, berdiri di atas panggung kayu yang reyot. Di depannya, puluhan pemuda desa berkumpul dengan mata berbinar-binar.

 

“Kita bukan cuma buruh tani! Kita adalah tenaga penggerak!” teriak Gempolo muda dengan suara yang menggelegar.

 

“Lagu baru, Pol! Nyanyikan yang tadi kita latih!” seru seorang pemuda dari pojok ruangan.

 

Gempolo tersenyum lebar. Ia mengambil gitar akustik tuanya. Ia mulai memetik senar, nada-nadanya tegas dan penuh semangat. Ia mulai bernyanyi tentang tanah, tentang keringat, dan tentang hari esok yang tanpa penindasan. Semua orang ikut bernyanyi. Suasana begitu hidup, begitu penuh harapan. Mereka merasa seperti pahlawan.

 

“Kek? Kakek!” suara Klonthang membuyarkan lamunan Gempolo.

 

Gempolo kembali ke masa kini. Di depannya, buku catatan itu masih terbuka, memperlihatkan foto hitam putih dirinya yang masih muda, berdiri gagah di depan balai desa yang kini sudah rata dengan tanah.

 

“Dulu kami merasa benar, Thang. Kami pikir kami sedang membangun surga,” kata Gempolo pahit.

 

“Tapi di buku ini... ada catatan tentang latihan baris-berbaris. Ada catatan tentang siapa saja yang harus... diamati,” Klonthang menunjuk sebuah halaman dengan jari gemetar.

 

“Itu hanya tugas organisasi, Thang. Kami tidak tahu bahwa semuanya akan berubah menjadi badai darah dalam semalam,” bela Gempolo.

 

“Kakek tahu kan, kalau aku menyerahkan ini ke dosenku, atau jika ini ditemukan saat penggeledahan dulu, Kakek nggak akan ada di sini sekarang?” tanya Klonthang dengan nada menuntut.

 

Gempolo berdiri, ia mendekati jendela dan melihat ke arah jalan desa yang mulai gelap. “Itu sebabnya kakek memilih diam. Kakek membuang gitar itu ke sungai. Kakek belajar memegang gunting cukur, bukan mikrofon. Kakek memotong rambut orang agar mereka tidak perlu melihat apa yang ada di dalam kepala kakek.”

 

“Lalu kenapa Kakek tidak membakar buku ini sejak dulu? Kenapa disimpan?”

 

Gempolo terdiam sejenak, lalu menoleh dengan mata berkaca-kaca. “Karena di dalam sana ada nama teman-teman kakek yang hilang. Kalau buku itu kakek bakar, mereka akan benar-benar dianggap tidak pernah ada di dunia ini.”

 

Klonthang terdiam, rasa marahnya perlahan luntur menjadi rasa kasihan yang menyesakkan. “Tapi ini berbahaya, Kek. Sangat berbahaya buat karirku, buat masa depan kita.”

 

“Kamu malu punya kakek seperti aku?” tanya Gempolo telak.

 

Klonthang menunduk, meremas tangannya sendiri. “Bukan malu, Kek. Aku takut. Aku takut kalau sejarah yang Kakek simpan ini justru yang akan membunuh kita hari ini.”

 

***

 

 

Malam semakin larut di kampung itu, namun lampu di ruang tamu Gempolo belum juga padam. Buku hitam itu masih tergeletak di sana, seolah-olah memiliki detak jantungnya sendiri yang mengancam ketenangan rumah tersebut.

 

“Kenapa Kakek nggak pernah cerita?” Klonthang memulai lagi, suaranya lebih lembut sekarang.

 

“Cerita pada siapa? Pada ayahmu yang sekarang jadi PNS? Dia bisa dipecat kalau tahu bapaknya punya catatan merah,” jawab Gempolo sambil menyalakan rokok klobotnya.

 

“Aku belajar di kampus bahwa masa itu sangat kompleks. Tidak semua orang di daftar ini jahat, Kek. Banyak yang cuma ikut-ikutan karena dijanjikan sekolah atau bibit padi gratis,” Klonthang mencoba menganalisis.

 

Gempolo tertawa pendek, tawa yang kering. “Bibit padi... ya, itu yang mereka katakan. Kami menyanyi agar padi tumbuh lebih subur, Thang. Kami menari agar tuan tanah tidak semena-mena. Apakah itu kejahatan?”

 

“Secara ideologi, saat itu, iya. Di mata penguasa setelahnya, iya,” jawab Klonthang tegas.

 

“Kamu bicara seperti orang yang tidak pernah merasakan lapar, Thang. Kamu bicara dari buku teks. Kakek bicara dari perut yang melilit,” tukas Gempolo.

 

Klonthang berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. “Masalahnya bukan itu, Kek! Masalahnya adalah identitas. Kakek menyembunyikan ini selama puluhan tahun, berpura-pura menjadi tukang cukur yang taat, hanya untuk menjaga agar aku dan Ayah bisa hidup normal. Tapi buku ini... buku ini bukti bahwa Kakek adalah... bagian dari mereka.”

 

“Pemuda Rakyat. Sebut saja namanya, jangan takut,” tantang Gempolo.

 

“Jangan keras-keras, Kek! Tetangga bisa dengar!” Klonthang panik, ia menutup jendela dengan terburu-buru.

 

Gempolo melihat ketakutan cucunya dan merasa dadanya sesak. Ketakutan itu ternyata sudah mendarah daging, melompat dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti penyakit keturunan yang tak ada obatnya.

 

“Lihat dirimu, Thang. Kamu sudah terpelajar, tapi kamu masih gemetar mendengar sebuah nama organisasi dari masa lalu,” ujar Gempolo pelan.

 

“Karena aku tahu apa yang terjadi pada orang-orang seperti Kakek! Aku tidak mau kehilangan Kakek, dan aku tidak mau masa depanku hancur hanya karena secarik kertas tua!” seru Klonthang.

 

“Lalu apa maumu? Bakar saja sekarang di belakang. Masukkan ke tungku,” Gempolo menyodorkan buku itu ke arah Klonthang.

 

Klonthang menatap buku itu. Jemarinya menyentuh sampulnya yang kasar. Di dalamnya, ada sejarah yang jujur, sejarah yang tidak tertulis di buku sekolahnya. Ada daftar nama-nama tetangga mereka yang dulu tiba-tiba "pindah" dan tidak pernah kembali.

 

“Kalau aku bakar, siapa lagi yang tahu kalau Pak Lik Warno itu dulu seorang orator hebat? Siapa yang tahu kalau Bu Guru Siti dulu adalah penyanyi lagu perjuangan yang suaranya bisa membuat orang menangis?” bisik Klonthang.

 

Gempolo tersentuh mendengar nama-nama itu disebut. “Mereka orang-orang baik, Thang. Hanya saja, mereka berada di sisi yang kalah saat sejarah sedang ditulis ulang.”

 

“Tapi kalau aku simpan... aku seperti menyimpan bom waktu di dalam tas kuliahku,” kata Klonthang, matanya menatap tajam ke arah kakeknya.

 

“Pilihannya ada di tanganmu, bukan tanganku. Kakek sudah terlalu tua untuk memikul beban ini sendirian,” ujar Gempolo sambil mematikan rokoknya.

 

Klonthang mengambil buku itu, membungkusnya kembali dengan kain, dan memasukkannya ke dalam tas. “Aku akan membawanya ke kota. Tapi bukan untuk dibakar.”

 

Gempolo menaikkan alisnya. “Lalu?”

 

“Aku punya teman, kelompok diskusi sejarah yang bergerak di bawah tanah. Kami sedang mengumpulkan testimoni korban-korban masa itu. Tapi ini berisiko, Kek. Sangat berisiko,” jelas Klonthang dengan suara rendah.

 

Gempolo terdiam cukup lama. Ia menatap tangan Klonthang yang memegang tas itu. Tangan yang jauh lebih halus daripadanya, tangan yang belum pernah memegang silet cukur atau memegang gagang cangkul di bawah terik matahari 1964.

 

“Apa Kakek setuju?” tanya Klonthang ragu.

 

Gempolo bangkit dari duduknya, mendekati cucunya, dan meletakkan tangan keriputnya di bahu Klonthang. “Kakek hanya ingin satu hal, Thang. Jika suatu hari nanti lagu itu boleh dinyanyikan lagi, pastikan namaku tidak ditulis sebagai pengkhianat.”

 

“Kek, di luar sana ada mobil hitam berhenti di depan kios,” bisik Klonthang tiba-tiba, matanya terpaku ke arah celah pintu.

 

***

 

 

Jantung Gempolo seakan berhenti berdetak. Ia mematikan lampu ruang tamu dengan gerakan refleks yang ia pelajari dari masa-masa pelarian dulu. Keadaan menjadi gelap gulita, hanya menyisakan cahaya rembulan yang masuk melalui ventilasi.

 

“Jangan bergerak, Thang,” perintah Gempolo.

 

Mereka berdua berdiri mematung di balik pintu. Dari luar, terdengar suara pintu mobil ditutup. Suara langkah kaki sepatu bot mendekati kios cukur, lalu berbelok menuju pintu rumah.

 

“Mbah Gempolo? Mbah? Ini saya, Pak RT,” sebuah suara memecah keheningan.

 

Klonthang menghembuskan napas lega yang panjang, pundaknya yang tegang seketika merosot. Namun Gempolo tetap waspada. Ia membuka pintu sedikit saja, menampakkan wajahnya yang tampak lelah.

 

“Ada apa, Pak RT? Malam-malam begini?” tanya Gempolo.

 

Pak RT berdiri di sana dengan raut wajah tidak enak. Di belakangnya, berdiri seorang pria muda berpakaian rapi yang tidak dikenal Gempolo.

 

“Maaf mengganggu, Mbah. Ini ada cucu Pak Kades yang baru pulang dari Jakarta. Dia... dia sedang mengumpulkan data untuk skripsinya tentang sejarah desa ini. Dia dengar Mbah Gempolo adalah warga paling sepuh di sini yang tahu banyak soal masa lalu,” jelas Pak RT.

 

Gempolo melirik Klonthang yang berdiri di kegelapan di belakangnya. Klonthang menggenggam tas kainnya lebih erat. Pria muda itu tersenyum ramah, tapi di mata Gempolo, senyum itu tampak seperti interogasi.

 

“Saya hanya ingin bertanya sedikit tentang kegiatan pemuda di desa ini tahun enam puluhan, Mbah. Katanya dulu desa ini sangat aktif keseniannya,” kata pria muda itu dengan nada sopan.

 

Gempolo terdiam. Ingatannya melesat ke lagu-lagu itu, ke panggung kayu, ke teriakan-teriakan semangat yang kini terkubur di bawah rasa takut. Ia melihat ke arah Klonthang, seolah meminta pertimbangan. Klonthang memberikan isyarat kecil dengan gelengan kepala, matanya memancarkan peringatan.

 

“Saya sudah pikun, Nak. Yang saya ingat cuma cara mencukur rambut dan membedakan mana uban mana rambut hitam,” jawab Gempolo dengan suara yang tenang namun tegas.

 

Pria muda itu tampak sedikit kecewa. “Oh, begitu ya? Sayang sekali. Padahal saya dengar di gudang-gudang tua desa ini sering ditemukan catatan-catatan lama. Barangkali Mbah punya satu atau dua?”

 

Gempolo menatap pria itu lurus ke matanya. Rasa bangga yang selama ini ia tekan muncul sedikit ke permukaan. Namun, rasa takut untuk keselamatan Klonthang jauh lebih besar.

 

“Semua catatan sudah habis dimakan rayap, Nak. Sama seperti orang-orangnya,” kata Gempolo.

 

Setelah tamu-tamu itu pergi dan suara mobil menjauh, Klonthang keluar dari kegelapan. Ia menatap kakeknya dengan penuh kekaguman sekaligus kesedihan.

 

“Kakek benar-benar pembohong yang hebat,” bisik Klonthang.

 

Gempolo duduk kembali di kursinya, tubuhnya terasa lemas. “Bukan bohong, Thang. Kakek hanya sedang melindungi apa yang masih bisa dilindungi.”

 

Klonthang mendekati kakeknya, lalu duduk di lantai di depan kursi Gempolo. “Kek, kalau aku bawa buku ini pergi, apa Kakek akan merasa kesepian? Buku ini satu-satunya saksi kalau Kakek pernah punya semangat itu.”

 

Gempolo tersenyum, kali ini senyumnya tulus. Ia mengelus kepala cucunya. “Semangat itu tidak ada di dalam kertas, Thang. Semangat itu ada di dalam dirimu sekarang. Kamu berani pulang, kamu berani bertanya, dan kamu berani menyimpan beban ini. Itu sudah cukup bagi kakek.”

 

“Aku akan pergi subuh nanti, sebelum orang-orang bangun,” kata Klonthang.

 

Gempolo mengangguk. Ia bangkit, berjalan ke sudut ruangan, dan mengambil gunting cukur tuanya yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia menyerahkannya pada Klonthang.

 

“Bawa ini juga,” kata Gempolo.

 

“Untuk apa, Kek?” Klonthang bingung.

 

Gempolo menatap gunting itu dengan penuh arti. “Gunting ini sudah memotong ribuan helai rambut, tapi dia tidak pernah memotong lidahku. Biar gunting ini mengingatkanmu, bahwa ada kalanya kita harus memangkas apa yang terlihat di luar, untuk menyelamatkan apa yang ada di dalam.”

 

Klonthang menerima gunting itu dengan tangan bergetar. Ia tahu, mulai malam ini, rahasia itu bukan lagi milik kakeknya sendirian. Rahasia itu telah berpindah, menjadi warisan yang harus ia jaga atau ia ungkapkan pada dunia yang mungkin belum siap mendengarnya.

 

“Kek, sebelum aku pergi, boleh aku minta satu hal?” tanya Klonthang pelan.

 

“Apa itu?”

 

Klonthang menatap buku hitam di tasnya, lalu menatap wajah kakeknya yang diterangi cahaya temaram. “Nyanyikan satu saja lagu dari buku itu... tanpa suara, cukup gerakkan bibir Kakek saja.”

 

Gempolo tertegun. Ia memejamkan mata. Di dalam kepalanya, melodi itu kembali berputar. Melodi yang gagah, melodi yang pernah membuatnya merasa seperti pemilik masa depan. Ia mulai menggerakkan bibirnya, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, namun Klonthang bisa merasakan getaran udara di ruangan itu berubah menjadi lebih berat dan penuh emosi.

 

Selesai dengan "nyanyian" bisunya, Gempolo membuka mata.

 

“Kenapa Kakek berhenti?” tanya Klonthang saat melihat kakeknya tiba-tiba terpaku menatap pintu belakang yang sedikit terbuka.

 

“Bukankah kamu tadi sudah mengunci pintu itu, Thang?” tanya Gempolo dengan suara yang mendadak dingin.

 

Spirov Lengking, 62029032055355

Senin, 21 September 2026

Suara dari Tanah yang Berbisik

 

________________________________________________________________________

Disclaimer:

Tulisan ini termasuk cerpen (cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya kebetulan belaka.

________________________________________________________________________

 

Suara dari Tanah yang Berbisik

 

"Jangan sentuh kotak itu, Semampir! Debunya bisa membuatmu sesak napas seminggu," teriak Ibu dari lantai bawah.

 

Semampir tidak peduli. Tangannya yang terbalut sarung tangan karet baru saja menyentuh gembok kuningan yang sudah berkarat hijau di sudut tergelap loteng. "Hanya kotak kayu tua, Bu! Sepertinya milik almarhum Kakek Bargendro!"

 

"Kakekmu?" Suara langkah kaki Ibu terdengar menaiki tangga kayu yang berderit. "Nenekmu selalu melarang siapa pun membuka barang-barang suaminya. Katanya, itu gudang kesedihan."

 

"Tapi gemboknya sudah lepas sendiri," sahut Semampir, menarik paksa tutup kayu yang sudah lapuk itu.

 

Di dalamnya, tumpukan kertas kekuningan menyambutnya. Bukan mainan tua atau perhiasan, melainkan tumpukan amplop dengan perangko tahun 60-an. Semampir mengambil satu lembar yang tintanya sudah memudar, tapi tulisannya masih gagah.

 

"Bu, ini surat-surat dari tahun 1965," bisik Semampir, matanya membelalak. "Ditulis oleh Bargendro untuk Nenek Lastri."

 

Ibu berdiri di ambang pintu loteng, wajahnya mendadak pucat. "Simpan kembali, Semampir. Kita tidak seharusnya mengaduk-aduk tanah yang sudah tenang."

 

"Tapi lihat ini, Bu. Dia menulis tentang rapat-rapat di desa. Tentang janji tanah untuk petani," Semampir membaca cepat baris-baris itu. "Bargendro bukan cuma guru desa biasa, kan?"

 

"Dia hanya seorang guru yang ingin murid-muridnya bisa makan nasi, bukan sekadar tiwul," suara Ibu bergetar.

 

"Di sini tertulis dia bergabung dengan organisasi itu. Nama organisasinya... PKI?" Semampir menatap ibunya lekat-lekat.

 

Ibu menghela napas panjang, lalu duduk di sebuah kursi tua yang berdebu. "Zaman itu tidak sesederhana hitam dan putih seperti di buku sejarahmu, Nak. Bargendro masuk ke sana karena mereka menjanjikan pupuk murah dan tanah untuk sekolah desa kita."

 

"Tapi kenapa Nenek tidak pernah bercerita?" tanya Semampir penasaran.

 

"Karena setelah tahun 1966, nama itu menjadi kutukan yang harus dikubur hidup-hidup," jawab Ibu lirih.

 

Semampir membolak-balik surat yang lain, hingga menemukan satu yang bertanggal 15 Oktober 1965. Isinya bukan lagi soal janji tanah, melainkan ketakutan.

 

"Apa yang terjadi pada Kakek Bargendro di akhir tahun itu, Bu?"

 

Ibu memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca menatap jendela loteng yang kusam. "Dia pergi membawa surat terakhir yang tidak pernah sampai ke tangan Nenekmu."

 

"Ke mana dia pergi?"

 

"Tanyakan langsung pada Nenekmu, jika dia masih ingat siapa dirinya sendiri."

 

*

 

 

Tahun 1965 – Desa Karang Jati

 

"Bargendro, kau terlalu vokal di rapat tadi," bisik Lastri sambil menuangkan teh pahit di meja kayu mereka yang reyot.

 

Bargendro meletakkan kapur tulisnya, tangannya masih putih karena debu papan tulis. "Petani-petani itu butuh kepastian, Lastri. Kalau bukan kita yang bicara, tuan tanah akan terus mengisap sumsum mereka."

 

"Tapi orang-orang di kota mulai bicara soal kerusuhan. Kabar burung itu makin kencang," sahut Lastri gelisah.

 

"Kabar burung hanya untuk mereka yang tidak punya pekerjaan. Aku punya kelas yang harus diajar besok pagi," jawab Bargendro tegas.

 

"Hardi bilang kau sekarang jadi pengurus tingkat desa. Benar begitu?" Lastri menatap suaminya dengan mata yang mulai basah.

 

Bargendro menarik kursi, duduk di hadapan istrinya. "Hanya urusan administratif, Lastri. Mereka butuh orang yang bisa baca tulis untuk mencatat distribusi bibit. Apa salahnya membantu tetangga sendiri agar bisa mandiri?"

 

"Dunia sedang memanas, Bargendro. Aku takut kalau niat baikmu dipelintir menjadi sesuatu yang jahat," bisik Lastri.

 

"Jangan khawatir. Aku ini guru. Senjataku hanya kapur dan buku, bukan bedil," Bargendro tersenyum, mencoba menenangkan.

 

Namun, ketenangan itu hanya bertahan hingga akhir September. Suatu malam, Hardi datang dengan wajah pasi, mengetuk pintu rumah mereka dengan kalap.

 

"Bargendro! Keluar! Kau harus lihat apa yang terjadi di Jakarta!" teriak Hardi dari balik pintu.

 

Bargendro membuka pintu dengan tergesa. "Ada apa? Kenapa kau berkeringat dingin begini?"

 

"Jenderal-jenderal itu... mereka bilang ada kudeta! Dan mereka menunjuk kita, Bargendro! Kita semua!" Hardi mencengkeram bahu Bargendro dengan tangan gemetar.

 

"Kudeta apa? Kita hanya bicara soal pembagian tanah dan pendidikan!" Bargendro mencoba melepaskan cengkeraman itu.

 

"Mereka tidak akan peduli kau guru atau bukan! Siapa pun yang memegang kartu anggota atau pernah ikut rapat akan disikat!" Hardi menoleh ke arah kegelapan jalan desa.

 

"Bargendro, masuk ke dalam!" teriak Lastri dari balik tirai.

 

"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Hardi. Aku hanya ingin rakyat sejahtera," Bargendro bersikeras, meskipun suaranya mulai goyah.

 

"Kebenaran tidak ada gunanya saat ini, kawan. Larilah sebelum truk-truk itu sampai ke desa ini!"

 

*

 

 

Tahun 2024 – Teras Rumah Nenek

 

Nenek Lastri duduk di kursi goyangnya, menatap lurus ke arah kebun singkong yang mulai rimbun. Semampir duduk di lantai, di samping kakinya, memegang surat terakhir yang ia temukan di kotak itu.

 

"Nek, aku menemukan ini di loteng," bisik Semampir lembut.

 

Nenek menoleh perlahan, matanya yang sudah mengabur karena katarak mencoba fokus pada kertas di tangan Semampir. "Surat... dari Mas Bargendro?"

 

"Iya, Nek. Tapi sepertinya ini surat yang belum sempat dikirim. Kenapa ada di kotak itu?"

 

Nenek menghela napas, suaranya terdengar seperti gesekan daun kering. "Malam itu... malam terakhir aku melihatnya. Dia sedang menulis sesuatu di meja belajar. Tiba-tiba ada suara gaduh di depan rumah."

 

"Apa yang terjadi?" tanya Semampir, menahan napas.

 

"Truk-truk tentara dan orang-orang dengan ikat kepala putih. Mereka memanggil namanya seolah-olah dia adalah penjahat paling dicari di republik ini," Nenek Lastri memejamkan mata, air mata mengalir di kerutan pipinya.

 

"Kakek melawan?"

 

"Dia tidak melawan. Dia hanya sempat memasukkan surat itu ke dalam laci, lalu menoleh padaku. Katanya, 'Jaga anak-anak, Lastri. Ini hanya salah paham'," kenang Nenek dengan suara parau.

 

Semampir membuka lipatan surat itu dan membacanya keras-keras untuk Neneknya.

 

"Untuk istriku, Lastri. Jika esok matahari tak lagi menyapaku di ruang kelas, ketahuilah bahwa aku tidak pernah mengkhianati tanah ini. Aku hanya ingin melihat anak-anak petani bisa menulis namanya sendiri. Jika mereka datang menjemputku, jangan menangis. Simpanlah buku-bukuku. Ceritakan pada anak kita bahwa ayahnya bukan seorang pembunuh."

 

"Dia dibawa ke mana, Nek?" Semampir bertanya setelah terdiam sejenak.

 

"Ke kamp di pinggir hutan. Lalu ke pulau. Lalu... hilang," Nenek menggeleng lemah. "Aku mencarinya selama sepuluh tahun. Setiap ada truk lewat, aku berlari ke jalan, berharap dia turun dengan tas berisi kapur tulisnya."

 

"Kenapa Nenek menyimpan surat ini di loteng? Kenapa tidak pernah ditunjukkan pada Ibu?"

 

"Karena dunia ini kejam, Semampir. Selama puluhan tahun, menjadi keluarga Bargendro berarti menjadi sampah masyarakat. Aku ingin ibumu tumbuh tanpa beban itu," Nenek menggenggam tangan Semampir.

 

"Tapi sekarang zaman sudah beda, Nek. Kita harus tahu kebenarannya."

 

"Kebenaran tidak akan menghidupkan Kakekmu, Nak. Kebenaran hanya akan membuat lukanya terasa perih lagi," bisik Nenek.

 

Tiba-tiba, suara mobil berhenti di depan rumah. Ibu turun dengan wajah panik, melihat Semampir sedang memegang surat-surat itu bersama Nenek.

 

"Semampir! Sudah kubilang jangan bahas ini lagi!" seru Ibu, menghampiri mereka.

 

"Tapi Bu, Kakek Bargendro tidak bersalah! Dia hanya korban janji palsu!" balas Semampir dengan nada tinggi.

 

Nenek Lastri tiba-tiba berdiri dari kursi goyangnya, tubuhnya yang renta tampak tegang. "Cukup! Jangan berdebat di depan sejarah yang sudah membisu!"

 

"Nenek..." Semampir tertegun melihat kemarahan di mata tua itu.

 

"Bargendro memang hanya seorang guru, tapi dia memilih jalan yang salah di waktu yang salah," suara Nenek mendadak dingin.

 

"Maksud Nenek? Dia sengaja bergabung?" Semampir mengejar.

 

"Dia tahu risikonya, Semampir. Dia tahu, tapi dia terlalu mencintai idealisme lebih dari nyawanya sendiri," Nenek kembali duduk, energinya seolah terkuras habis.

 

Ibu mendekati Semampir, merampas surat di tangannya dengan lembut. "Sudahlah, Semampir. Biarkan Kakekmu beristirahat dalam surat-suratnya."

 

"Tapi masih ada satu surat lagi di dasar kotak, Bu. Surat dari seseorang bernama Hardi, bertanggal tahun 1970," Semampir merogoh saku celananya.

 

Wajah Nenek dan Ibu seketika menegang. Nenek Lastri mencengkeram lengan kursi goyangnya hingga buku jarinya memutih.

 

"Apa isi surat dari Hardi itu?" tanya Nenek dengan suara gemetar yang tak bisa disembunyikan.

 

Semampir membuka kertas lusuh yang tadi sempat ia selipkan ke sakunya, lalu membacanya pelan: "Lastri, maafkan aku. Malam itu di pinggir sungai, Bargendro menitipkan satu pesan terakhir sebelum mereka membawanya ke balik pepohonan gelap."

 

"Pesan apa?" bisik Ibu, ikut tegang.

 



Semampir menatap Neneknya dalam-dalam, lalu membacakan baris terakhir dari surat Hardi yang selama ini tersembunyi di bawah tumpukan surat cinta Bargendro.

 

"Dia bilang, 'Katakan pada Lastri, jangan pernah cari jasadku di tanah ini, carilah aku di setiap huruf yang dibaca oleh murid-muridku'."

 

Spirov Lengking, 62029012160226