Sabtu, 05 September 2026

Sublimasi Dosa di Kota Belenger

 

1

 

Lintong Prakosa berdiri di puncak bukit yang menghadap langsung ke lembah Desa Blundasan. Di belakangnya, seratus pria berseragam hitam tanpa lencana berdiri kaku. Mereka tidak membawa senapan serbu, melainkan tabung-tabung perak dengan katup elektronik yang berkedip hijau.

 

"Waktunya sudah tiba, Komandan?" tanya salah satu prajurit, Gani, sambil mengecek masker gasnya.

 

Lintong hanya mengangguk pelan. Matanya yang dingin menatap gemerlap lampu Desa Blundasan yang tampak seperti sarang penyakit di tengah kegelapan Kota Belenger.

 

"Bau mirasnya sampai ke sini, Gani. Kamu bisa merasakannya?" tanya Lintong datar.

 

"Hanya bau busuk kemiskinan dan kriminalitas, Tuan Lintong. Desa ini benar-benar harus dibersihkan."

 

"Bukan sekadar dibersihkan. Dihapus. Kita akan membuat sejarah tanpa jejak kaki."

 

Lintong mengeluarkan sebuah tablet dari saku mantelnya. Di layarnya, sebuah file bernama Kesaksian_Terakhir_Sergu.docx terbuka. Ia telah membaca isi file itu ribuan kali selama masa studinya di Jerman. Setiap baris kalimat yang ditulis mendiang Sergu Rotama adalah bahan bakar bagi dendam yang ia simpan selama bertahun-tahun.

 

"Siapkan [Senyawa Zero-9]. Pastikan radiusnya tidak meleset satu inci pun dari batas desa," perintah Lintong.

 

"Bagaimana dengan warga sipil yang tidak tahu apa-apa, Tuan? Katanya ada beberapa orang waras di sana."

 

Lintong menoleh, tatapannya membuat Gani bergidik. "Orang waras sudah lama meninggalkan Blundasan. Yang tersisa hanya parasit yang kenyang dari keringat Blekat. Lepaskan."

 

Gani memberi isyarat tangan. Seratus prajurit itu membuka katup tabung secara serentak. Tidak ada suara ledakan. Hanya desisan halus seperti napas ular. Asap putih pucat, hampir transparan, mulai merayap turun ke lembah, mengikuti gravitasi, mengepung Blundasan dalam kesunyian yang mematikan.

 

"Gue penasaran, Tuan. Apa bener gas ini bisa bikin orang ilang gitu aja?" tanya Gani lagi, suaranya sedikit gemetar.

 

"Itu bukan sihir, Gani. Itu kimia murni. Sublimasi biologis dalam hitungan detik. Sel-sel manusia akan dipaksa melewati fase padat ke gas tanpa sempat menjadi cair. Nol. Mereka akan menjadi nol."

 

"Kayak hantu dong?"

 

"Hantu masih meninggalkan kenangan. Mereka tidak akan meninggalkan apa-apa."

 

Di bawah sana, di pusat Desa Blundasan, Blekat sedang tertawa keras di markasnya. Ia sedang menenggak miras oplosan terbaiknya, dikelilingi oleh anak buahnya yang bertampang sangar.

 

"Woi! Tambah lagi itu botolnya! Hari ini Asbado kirim setoran gede lagi!" teriak Blekat, suaranya parau karena tembakau.

 

"Bos, si Walikota itu makin tajir aja ya? Padahal dulu cuma preman pasar bareng kita," sahut salah satu anak buahnya, Badrun.

 

"Halah, Asbado itu otaknya dikit, tapi liciknya ampun. Kalau bukan karena rencana gue fitnah si Sergu dulu, mana bisa dia duduk di kursi empuk itu sekarang. Gue yang bantai bininya Sergu pakai tangan gue sendiri, inget nggak lo?"

 

"Inget, Bos. Yang pas rumahnya dibakar massa itu kan? Kacau banget emang."

 

Blekat tertawa sampai terbatuk-batuk. "Massa itu bego. Kasih isu SARA dikit, langsung beringas. Sergu yang sok bersih itu akhirnya gosong bareng keluarganya. Dan sekarang, Blundasan jadi kerajaan gue. Aman, karena aparat udah masuk kantong gue semua!"

 

Tiba-tiba, Badrun mengernyit. "Bos, kok ada kabut masuk ke ruangan ya? AC-nya bocor apa gimana?"

 

Blekat menoleh ke arah pintu. Asap putih tipis mulai masuk melalui celah-celah kayu. "Kabut apa jam segini? Periksa keluar sana!"

 

Badrun berdiri, melangkah menuju pintu. Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, ia berteriak pendek. Tangannya yang memegang gagang pintu tiba-tiba terlihat transparan, lalu menghilang seperti asap yang tertiup angin.

 

"Eh? Tangan gue mana?! Bos! Tangan gue ilang!" teriak Badrun histeris.

 

Blekat melompat berdiri, botol mirasnya pecah di lantai. "Apa-apaan lo? Lo mabuk ya?!"

 

"Nggak, Bos! Liat ini! Lengan gue... ilang! Aduh, nggak sakit tapi... ilang!"

 

Blekat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana tubuh Badrun mulai memudar dari bawah ke atas. Seperti gambar yang dihapus oleh penghapus gaib. Dalam tiga detik, Badrun lenyap sepenuhnya. Tidak ada darah. Tidak ada mayat. Hanya menyisakan pakaian premannya yang jatuh tumpang tindih di lantai.

 

"Setan! Apa-apaan ini?!" teriak Blekat ketakutan.

 

Ia melihat ke luar jendela. Seluruh desanya sudah diselimuti kabut putih itu. Ia melihat orang-orang yang sedang berjaga di luar mendadak raib. Motor-motor yang mereka tunggangi terjatuh tanpa pengendara. Suasana menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara mesin yang masih menyala.

 

"Asbado! Ini pasti kerjaan si Asbado! Dia mau ngilangin saksi kunci!" teriak Blekat sambil meraba ponselnya.

 

Ia mencoba menghubungi Walikota, tapi tidak ada sinyal. Kabut itu semakin tebal, mulai memenuhi ruangan markasnya.

 

"Tolong! Siapa aja, tolong!"

 

Di atas bukit, Lintong Prakosa melihat melalui teropong termal. Titik-titik panas yang tadinya memenuhi layar satu per satu padam. Desa Blundasan yang bising kini berubah menjadi kuburan tanpa nisan.

 

"Lapor, Tuan. Sembilan puluh persen target sudah terhapus," suara Gani terdengar dari radio.

 

Lintong menyesap kopi panas dari termosnya. Matanya tetap dingin, setenang permukaan danau yang membeku.

 

"Jangan sisakan satu pun kuman di sana, Gani. Termasuk tikus-tikusnya."

 

"Siap, Tuan. Oh ya, ada satu orang yang lari ke arah gudang belakang. Sepertinya itu Blekat."

 

Lintong tersenyum tipis. "Bagus. Biarkan dia merasakan ketakutan yang dialami Sergu sebelum api menjemputnya."

 

Lintong melangkah turun menuju lembah, mengenakan masker gas hitam yang membuatnya tampak seperti malaikat maut modern. Ia ingin melihat wajah Blekat untuk terakhir kalinya.

 

"Gani, jemput saya di pintu gerbang desa sepuluh menit lagi."

 

"Tuan mau masuk ke zona gas sendirian?"

 

"Gas ini ciptaan saya, Gani. Saya tahu persis di mana titik amannya."

 

Lintong berjalan membelah kabut putih. Di sekelilingnya, pakaian-pakaian berserakan di jalanan. Sandal, topi, senjata, semuanya ada, tapi manusianya tidak. Benar-benar nol. Ia sampai di depan gudang besar tempat Blekat bersembunyi.

 

Blekat tersudut di pojok gudang, memegang sebuah parang dengan tangan gemetar. Saat melihat sosok Lintong muncul dari balik kabut, ia berteriak gila.

 

"Siapa lo?! Utusan Asbado ya?! Bilang sama dia, gue punya rekaman semua kejahatannya!"

 

Lintong melepas maskernya perlahan. Wajahnya yang tenang dan terpelajar tampak sangat kontras dengan situasi di gudang itu.

 

"Asbado tidak mengirim saya, Blekat. Sergu Rotama yang mengirim saya."

 

Blekat tertegun. Matanya membelalak. "Sergu? Dia udah mati! Gue sendiri yang pastiin dia angus!"

 

"Kamu salah. Pikirannya tidak pernah mati. Dia mengirimkan semua dosamu dalam sebuah file .docx ke email saya sepuluh tahun yang lalu."

 

"Lo... lo si bocah kimia itu? Sahabatnya Sergu?"

 

Lintong melangkah maju, tangannya memegang sebuah botol kecil berisi cairan pekat. "Namanya Lintong Prakosa. Dan hari ini, saya akan memastikan kamu tidak akan pernah punya makam untuk dikencingi."

 

Blekat mencoba mengayunkan parangnya, tapi kakinya sudah mulai memudar. Ia terjatuh, meraung saat melihat kakinya hilang sampai ke lutut.

 

"Jangan! Ampun! Gue bakal kasih tau semuanya tentang Asbado! Jangan bikin gue ilang!"

 

Lintong berdiri tepat di depan Blekat yang kini tinggal separuh badan. "Asbado punya jadwalnya sendiri. Kamu duluan."

 

"Tunggu! Kasih gue waktu buat doa!"

 

Lintong menatap sisa tubuh Blekat yang semakin transparan dengan tatapan kosong.

 

"Doamu tidak akan sampai ke langit karena kamu tidak lagi punya wujud untuk membawanya."

 

 

 

2

 

Balai Kota Belenger malam itu terasa mencekam. Walikota Asbado mondar-mandir di ruang kerjanya yang luas. Keringat dingin mengucur deras di dahinya meskipun AC disetel di suhu terendah. Ia baru saja menerima laporan dari intelijennya bahwa Desa Blundasan—pusat kekuatannya di dunia bawah—telah lenyap dalam semalam.

 

"Maksud lo lenyap itu gimana, hah?!" bentak Asbado pada ajudannya, seorang pria kurus bernama Hendra.

 

"Beneran ilang, Pak. Nggak ada mayat, nggak ada darah. Cuma baju-baju sama barang-barang mereka aja yang ketinggalan. Penduduknya... raib."

 

Asbado menjatuhkan diri ke kursi kebesarannya. Jantungnya berdegup kencang. "Nggak mungkin. Ini pasti serangan senjata biologi. Siapa yang punya teknologi kayak gitu di negara ini?"

 

"Kita belum tahu, Pak. Tapi ada laporan saksi mata melihat sekelompok orang berseragam hitam di bukit sebelum kejadian."

 

Asbado mengepalkan tinjunya. Pikirannya melayang ke masa lalu. Masa-masa ketika ia masih menjadi preman pasar yang kasar dan pemabuk, bersama Blekat. Mereka berdua adalah duo maut yang ditakuti di Belenger sebelum akhirnya ia memutuskan untuk terjun ke politik dengan cara yang paling kotor.

 

"Hendra, siapin paspor gue, istri, sama anak-anak. Sekarang juga!"

 

"Lho, kita mau ke mana, Pak? Bapak kan ada rapat paripurna besok pagi."

 

"Persetan sama rapat! Kalau Blundasan bisa ilang dalam semalam, berarti gue berikutnya! Cepetan, bego!"

 

Tiba-tiba, telepon di meja kerjanya berdering. Nomornya tidak dikenal. Dengan tangan gemetar, Asbado mengangkat gagang telepon itu.

 

"Halo?"

 

"Bagaimana rasanya duduk di kursi yang berlumuran darah, Asbado?" suara di seberang sana sangat tenang, tapi dinginnya menusuk tulang.

 

Asbado tersentak. "Siapa ini?! Jangan main-main ya! Gue Walikota di sini!"

 

"Dulu kamu hanya preman yang suka memalak tukang sayur. Lalu kamu dan Blekat memfitnah Sergu Rotama. Masih ingat bau daging terbakar di rumah Sergu malam itu?"

 

Wajah Asbado pucat pasi. "Lo... lo tau dari mana soal itu?"

 

"Sergu orang yang sangat rapi. Dia tahu kalian akan mengkhianatinya. Dia mendokumentasikan setiap pertemuan kalian, setiap rencana fitnah kalian, bahkan rekaman suara saat kalian merencanakan kerusuhan rasial itu. Semuanya ada di tangan saya."

 

"Siapa lo?! Sebutin nama lo!" teriak Asbado histeris.

 

"Nama saya Lintong Prakosa. Teman lama yang kalian lupakan saat kalian sibuk membakar kota."

 

Telepon diputus sepihak. Asbado melempar gagang telepon itu hingga hancur. "Hendra! Cepetan! Kita ke bandara sekarang! Jangan bawa barang banyak, yang penting dokumen penting sama emas!"

 

"Tapi Pak, istri Bapak lagi di salon..."

 

"Jemput dia sekarang! Bilang ini darurat nasional! Kita harus keluar dari negara ini malam ini juga!"

 

Asbado berlari keluar ruangan, mengabaikan tatapan heran dari para stafnya. Ia merasa seolah-olah udara di sekitarnya mulai mendingin. Ia teringat Sergu Rotama, pria jujur yang pernah ia anggap sebagai sahabat sebelum ambisinya membutakannya. Sergu yang cerdas, yang selalu punya rencana cadangan.

 

Di dalam mobil mewah yang melaju kencang menuju bandara, Asbado terus memandangi ponselnya. Ia mencoba membuka file yang baru saja dikirim oleh nomor misterius tadi. Sebuah file .docx.

 

Isinya adalah kronologi lengkap. Tanggal, jam, tempat. Bahkan ada foto Asbado yang sedang memegang botol bensin di depan gerbang rumah Sergu.

 

"Bajingan... Sergu benar-benar nyimpen ini semua?" bisik Asbado.

 

Istrinya, Linda, yang duduk di sampingnya tampak ketakutan. "Pa, ada apa sih? Kenapa kita buru-buru banget?"

 

"Diem kamu! Kita harus pergi! Belenger udah nggak aman lagi!"

 

"Tapi barang-barang bermerk aku gimana? Masih banyak di rumah..."

 

"Nyawa kita lebih penting daripada tas-tas kamu itu, Linda! Kamu nggak tau siapa yang kita hadapi sekarang!"

 

Mobil itu membelah jalanan kota Belenger yang mulai sepi. Asbado melihat ke arah jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang ia bangun dengan uang korupsi dan perlindungan dari Blekat. Semuanya terasa hampa sekarang.

 

Tiba-tiba, ia melihat sebuah truk besar berhenti di tengah jalan, menghalangi jalur menuju bandara.

 

"Woi! Kenapa berhenti?!" teriak Asbado pada sopirnya.

 

"Jalannya ditutup, Pak. Ada perbaikan jalan katanya."

 

"Bego! Cari jalan tikus! Lewat gang, lewat mana aja yang penting nyampe bandara!"

 

Sopir itu mencoba memutar balik, tapi di belakang mereka sudah ada dua mobil hitam yang menutup jalan. Asbado merasa terjebak. Ia melihat sekelompok pria berseragam hitam turun dari mobil-mobil itu.

 

"Pa, itu siapa? Kok mereka bawa tabung-tabung?" tanya Linda sambil memeluk anak sulungnya.

 

Asbado mengenali tabung-tabung itu dari deskripsi Hendra soal kejadian di Blundasan. "Jangan buka jendela! Jangan buka pintu! Kunci semuanya!"

 

Salah satu pria berseragam hitam mendekati kaca mobil Asbado. Ia tidak memakai masker, sehingga Asbado bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajah yang cerdas, berkacamata, tapi matanya memancarkan kehampaan yang mengerikan. Itu Lintong Prakosa.

 

Lintong mengetuk kaca mobil Asbado dengan perlahan. Ia memegang sebuah kertas yang ditempelkan ke kaca. Isinya: FILE DOCX SUDAH TERKIRIM KE KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DAN MEDIA INTERNASIONAL. DUNIA SUDAH TAHU SIAPA KAMU.

 

Asbado berteriak-teriak di dalam mobil, memukul-mukul kaca. "Buka jalannya! Gue Walikota! Gue bisa kasih lo apa aja! Uang! Jabatan!"

 

Lintong hanya tersenyum tipis. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya di belakang. Mereka mulai menyemprotkan gas dari tabung-tabung itu ke arah kolong mobil.

 

"Sopir! Jalan! Tabrak aja mereka!" perintah Asbado.

 

Tapi sopirnya tidak menjawab. Asbado melihat ke depan dan berteriak ngeri. Tubuh sopirnya mulai memudar, menyublim ke udara, menyisakan seragam sopir yang tersampir di kursi kemudi.

 

"Pa... kakiku... Pa, tolong! Kaki aku ilang!" jerit Linda.

 

Asbado melihat ke arah bawah. Kabut putih itu ternyata bisa menembus celah-celah kecil di pintu mobil. Kaki istrinya, kaki anak-anaknya, mulai menghilang.

 

"Nggak! Jangan keluargaku! Ambil gue aja! Jangan mereka!" Asbado memohon sambil menangis, tapi suaranya hanya bergema di dalam kabin mobil yang semakin kosong.

 

Dalam hitungan detik, Linda dan anak-anaknya lenyap sepenuhnya. Mobil itu kini hanya berisi Asbado sendirian, duduk di antara tumpukan pakaian istri dan anak-anaknya.

 

Lintong mendekatkan wajahnya ke kaca lagi. Ia berbicara melalui interkom kecil. "Kamu akan tetap hidup sedikit lebih lama, Asbado. Saya ingin kamu melihat bandara itu. Tempat yang kamu pikir adalah gerbang kebebasanmu."

 

Mobil itu tiba-tiba bergerak sendiri, ditarik oleh mobil derek hitam menuju bandara. Asbado hanya bisa duduk lemas, dikelilingi oleh ketiadaan.

 

"Kenapa... kenapa lo lakuin ini?" tanya Asbado lirih.

 

"Karena api yang kamu nyalakan di rumah Sergu masih membakar hati saya sampai hari ini."

 

 

 

3

 

Bandara Internasional Belenger tampak normal dari luar, namun di Terminal Keberangkatan Internasional, suasananya terasa ganjil. Lintong Prakosa sudah mengatur segalanya. Dengan koneksi dan data yang ia miliki, ia bisa mengosongkan satu area VIP tanpa menarik perhatian publik.

 

Asbado diseret keluar dari mobil oleh dua anak buah Lintong. Ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan. Matanya kosong, pikirannya hancur melihat keluarganya lenyap di depan matanya sendiri.

 

"Bawa dia ke lounge utama," perintah Lintong.

 

Mereka melemparkan Asbado ke sebuah kursi kulit mewah di tengah ruangan lounge yang luas. Lintong berdiri di depannya, sambil memegang tablet.

 

"Semua rekening luar negerimu sudah dibekukan, Asbado. Istrimu yang cantik dan anak-anakmu yang sekolah di sekolah internasional itu... mereka sudah menjadi bagian dari atmosfer Belenger sekarang. Kamu merasa sesak? Itu mungkin atom-atom mereka yang kamu hirup."

 

"Lo... lo iblis, Lintong," bisik Asbado.

 

"Iblis adalah sebutan bagi mereka yang kalah. Kamu dan Blekat menyebut diri kalian raja saat membantai Sergu. Jadi, siapa iblis sebenarnya?"

 

Lintong menyalakan layar besar di lounge itu. Berita nasional sedang menayangkan foto-foto Asbado dengan headline: PELARIAN WALIKOTA KORUP DAN REKAMAN PEMBANTAIAN MASA LALU TERUNGKAP.

 

"Dunia sudah menghukummu secara sosial. Sekarang, saya akan menghukummu secara fisik."

 

"Tolong... jangan bikin gue ilang kayak mereka. Penjarain gue aja. Gue bakal ngaku semua. Gue bakal masuk penjara seumur hidup, asal gue tetep ada!"

 

Lintong tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Penjara terlalu mewah untukmu. Di sana kamu masih bisa makan, tidur, dan bernapas. Kamu masih meninggalkan jejak di bumi. Itu tidak adil bagi Sergu dan keluarganya yang abunya pun ditiup angin kerusuhan."

 

Lintong memberi kode kepada Gani yang berdiri di dekat pintu. Gani membawa sebuah tabung kecil, berbeda dari yang digunakan di Blundasan. Tabung ini berwarna merah darah.

 

"Ini adalah varian murni, Asbado. [Senyawa Zero-Max]. Prosesnya sedikit lebih lambat. Kamu akan merasakan setiap inci tubuhmu berubah menjadi udara. Tidak sakit, tapi kamu akan sadar sepenuhnya saat keberadaanmu terhapus."

 

"Lintong, plis... kita kan dulu sering ketemu kalau gue ke rumah Sergu. Gue sering kasih lo uang jajan kan?" Asbado mencoba taktik terakhir, memelas pada kenangan lama.

 

"Uang jajan yang berasal dari hasil memeras pedagang pasar? Saya selalu membuangnya ke selokan setelah kamu pergi."

 

Lintong membuka katup tabung itu sedikit demi sedikit. Asap putih mulai keluar, melingkari kaki Asbado seperti ular yang lapar.

 

"Satu hal lagi, Asbado. Desa Blundasan sudah rata dengan tanah. Tidak ada bangunan yang hancur, hanya saja tidak ada lagi kehidupan di sana. Semua kawan-kawan premanmu sudah menyublim. Kamu adalah penutup dari sirkus berdarah ini."

 

Asbado melihat jari-jari kakinya menghilang. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya mulai memudar seiring paru-parunya yang juga mulai terpengaruh.

 

"Kenapa... Sergu... milih lo..."

 

"Karena dia tahu saya punya kesabaran untuk menunggu sepuluh tahun, dan ilmu kimia untuk menghapus sampah seperti kalian tanpa meninggalkan bau."

 

Lintong berbalik badan, melangkah menuju pintu keluar. Ia tidak ingin melihat proses akhirnya. Baginya, tugasnya sudah selesai saat ia melepaskan gas pertama di Blundasan.

 

"Gani, pastikan semua peralatan kita bersih. Jangan tinggalkan satu molekul pun gas ini di bandara."

 

"Siap, Tuan. Bagaimana dengan rekaman CCTV?"

 

"Semua sudah di-overwrite dengan loop kosong. Hari ini, Walikota Asbado dilaporkan menghilang secara misterius saat akan melarikan diri. Orang akan mengira dia lari ke negara yang tidak punya perjanjian ekstradisi."

 

Lintong sampai di pintu kaca bandara. Ia melihat ke arah langit Belenger yang mulai kemerahan karena fajar. Kota ini akan punya walikota baru. Mungkin akan lebih baik, mungkin tidak. Tapi setidaknya, satu bisul besar sudah pecah dan lenyap.

 

Tiba-tiba, ponsel Lintong bergetar. Sebuah notifikasi dari server pribadinya muncul. Hapus File: Kesaksian_Terakhir_Sergu.docx? [Y/N]

 

Lintong menekan tombol 'Y'. Kenangan pahit itu sudah cukup.

 

Ia masuk ke dalam mobil hitamnya. Gani duduk di kursi pengemudi.

 

"Ke mana kita sekarang, Tuan?"

 


Lintong menatap ke arah lounge VIP yang kini sudah sunyi senyap melalui jendela mobil yang gelap. Ia membayangkan kursi kulit itu sekarang kosong, hanya menyisakan jam tangan emas dan jas mahal Asbado yang tergeletak tanpa tuan.

 

"Cari tempat makan yang enak, Gani. Saya tiba-tiba merasa lapar."

 

"Tuan nggak mau nunggu sampai gasnya benar-benar habis di dalam sana?"

 

Lintong menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata dengan tenang.

 

"Nggak perlu, Asbado sudah bukan lagi masalah dunia ini."

 

 

Spirov Lengking, 62029050044544