Senin, 07 Juli 2008

Menguak Misteri "Gampang Diadu Domba": Sebuah Wawancara Eksklusif dengan Profesor Segala Bidang


Pendahuluan: Sebuah Fenomena Sejarah yang Menggelitik Urat Tawa dan Otak

 

Sejak zaman batu, konon katanya, nenek moyang kita di Nusantara sudah punya hobi unik: gampang diadu domba. Bukan, bukan adu domba beneran pakai kambing, tapi adu domba dalam artian dipecah belah, dihasut, dan akhirnya berantem sendiri. Fenomena ini, yang seringkali bikin kita geleng-geleng kepala sambil ngemil keripik singkong, telah menjadi teka-teki abadi. Apakah karena miskin? Bodoh? Atau jangan-jangan, ada faktor lain yang lebih absurd? Untuk mengupas tuntas misteri ini, kami berhasil mendapatkan jadwal yang amat sangat padat dari seorang jenius lintas dimensi, Profesor Dr. Mesem Ngguyu, S.S., S.Sos., S.Pd., S.H., S.E., S.Kom., S.T., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Kom., M.T., M.H., Ph.D., D.Litt. (PMN) – Dosen Filsafat & Ahli Segala Bidang di Alam Semesta. Beliau akan diwawancarai oleh jurnalis kondang, Mbak Brenda Ganesha, S.Pd., S.Hub.Int., S.T. (MBG), CEO Studio 705 yang juga pengusaha keripik singkong sukses. Mari kita saksikan!

 

MBG:

Selamat pagi, Profesor! Sebuah kehormatan bisa mencuri waktu Anda di antara jadwal menyelamatkan alam semesta dan mengajar filsafat kepada para alien. Kita akan membahas topik yang sensitif tapi krusial: mengapa orang Indonesia, sejak zaman prasejarah, kok ya gampang banget diadu domba dan dipecah belah? Ini misteri yang bikin saya penasaran sampai ke remah-remah keripik singkong saya, Prof!

 

PMN:

Ah, Mbak Brenda, pertanyaan Anda ini seberat beban pikiran seekor dinosaurus yang baru sadar kalau dia vegetarian di tengah zaman es. Tapi menarik! Mari kita bedah dengan pisau analisis filosofis saya yang diasah pakai batu akik dari zaman Pleistosen. Jadi, 'gampang diadu domba' ini bukan fenomena baru. Bahkan, jauh sebelum ada arisan atau drama Korea, bibit-bibitnya sudah tumbuh subur di tanah Nusantara.

 

MBG:

Zaman prasejarah, lho, Prof? Berarti bukan cuma urusan politik kolonial atau era modern, ya? Apa ini ada kaitannya dengan cara hidup mereka yang masih berburu dan meramu, atau bahkan saat mereka mulai bercocok tanam? Saya baca-baca, masyarakat prasejarah Indonesia itu sudah punya sistem kepercayaan animisme dan dinamisme, bahkan ada tradisi megalitik yang canggih. Mereka juga hidup komunal dan sederhana.

 

PMN:

Tepat sekali, Mbak Brenda! Anda sudah punya bekal yang cukup untuk jadi arkeolog merangkap detektif. Masyarakat prasejarah kita memang hidupnya sederhana, bergantung pada alam, dan punya sistem gotong royong yang kuat. Namun, di balik kesederhanaan itu, potensi konflik tetap ada. Ingat, manusia itu punya naluri dasar. Bahkan di gua paling nyaman sekalipun, kalau ada yang rebutan buah buni terakhir, ya bisa saja terjadi 'adu mulut' prasejarah. Faktor-faktor penyebab konflik sosial itu universal: perbedaan individu, latar belakang kebudayaan, dan kepentingan. Zaman dulu, perbedaan suku atau kelompok yang berburu di wilayah berbeda bisa jadi pemicu.

 

MBG:

Jadi, perbedaan itu sudah ada dari dulu? Bukan cuma beda pilihan capres atau beda selera kopi, ya? Lalu, pertanyaan kedua, Prof: apa karena miskin? Apakah kemiskinan menjadi pupuk utama bagi benih-benih perpecahan ini?

 

PMN:

Ah, kemiskinan! Ini topik yang sering jadi kambing hitam. Ibaratnya, kalau ada masalah, kemiskinan langsung dituding duluan. Memang, di banyak kasus, kemiskinan bisa memperparah konflik. Orang yang kelaparan cenderung lebih mudah terprovokasi, Mbak. Mereka rentan terhadap janji-janji manis atau hasutan yang menawarkan solusi instan, meskipun itu berarti harus mengorbankan persatuan. Di zaman purba, kalau ada satu kelompok yang panen singkong melimpah sementara kelompok lain kelaparan, potensi gesekan pasti ada. Namun, menyederhanakan penyebab adu domba hanya pada kemiskinan itu seperti mengatakan semua masalah di dunia bisa diselesaikan dengan makan keripik singkong. Enak, tapi kurang komprehensif.

 

MBG:

Hahaha, Profesor selalu punya analogi yang bikin saya pengen nambah keripik! Berarti kemiskinan bukan satu-satunya faktor, ya. Bagaimana dengan kebodohan, Prof? Apakah karena nenek moyang kita, dan mungkin sebagian kita sekarang, kurang 'melek' informasi atau kurang kritis dalam menerima hasutan?

 

PMN:

Kebodohan... atau lebih tepatnya, kurangnya literasi dan pemahaman kritis. Ini juga faktor yang sangat signifikan. Bayangkan, Mbak Brenda, di zaman prasejarah, tidak ada Google, tidak ada YouTube, apalagi TikTok. Informasi itu terbatas, dan seringkali disebarkan dari mulut ke mulut dengan bumbu-bumbu mitos dan legenda. Jika ada seorang 'provokator' ulung yang pandai bercerita tentang keburukan kelompok sebelah, masyarakat yang belum memiliki filter informasi yang kuat akan mudah percaya. Mereka belum mengenal tulisan, jadi semua masih mengandalkan lisan dan pengalaman. Di zaman Mataram Kuno saja, ada strata sosial yang membagi masyarakat, dan informasi seringkali dikontrol oleh golongan tertentu. Jadi, ya, kurangnya pengetahuan dan kemampuan menganalisis informasi memang membuat seseorang lebih mudah diombang-ambing.

 

MBG:

Oke, jadi kemiskinan bisa jadi pemicu, kebodohan (atau kurangnya literasi kritis) juga memperparah. Berarti jawabannya adalah 'bodoh dan miskin', Prof? Apakah kombinasi ini adalah resep sempurna untuk menjadi bangsa yang gampang diadu domba?

 

PMN:

Kombinasi itu memang sangat ampuh, Mbak Brenda. Ibaratnya, kemiskinan itu membuat perut keroncongan, dan kebodohan membuat otak gampang kemasukan angin. Jadi, ketika ada yang menawarkan 'makanan' berupa informasi sesat atau janji palsu, apalagi dengan iming-iming materi, mereka yang lapar dan kurang kritis akan langsung melahapnya mentah-mentah. Namun, sekali lagi, ini bukan satu-satunya jawaban mutlak. Manusia itu kompleks, seperti resep rendang yang butuh banyak bumbu.

 

MBG:

Nah, ini yang saya tunggu-tunggu, Prof! Apa penyebab lain yang bukan karena bodoh dan bukan karena miskin? Apakah ada faktor-faktor tersembunyi yang lebih dalam, mungkin terkait dengan psikologi atau budaya kita yang unik?

 

PMN:

Tentu saja ada, Mbak! Ini bagian yang paling bikin saya betah nongkrong di perpusakaan kuno sampai jam tiga pagi. Pertama, faktor "ikut-ikutan" atau herd mentality. Manusia, dari zaman purba sampai sekarang, punya kecenderungan untuk mengikuti mayoritas atau pemimpinnya, bahkan tanpa berpikir kritis. Di zaman prasejarah, jika kepala suku bilang "kelompok seberang itu jahat, mereka mencuri hasil buruan kita!", maka seluruh anggota suku akan percaya dan siap berperang, meskipun belum ada bukti konkret. Ini adalah sisa-sisa naluri bertahan hidup di mana mengikuti kelompok adalah cara aman.

 

PMN:

Kedua, faktor "identitas kelompok" yang terlalu kuat. Sejak dulu, masyarakat Nusantara hidup dalam kelompok-kelompok suku atau komunitas yang kuat. Ini bagus untuk gotong royong, tapi bisa jadi bumerang jika muncul sentimen "kami lebih baik dari mereka". Perbedaan latar belakang kebudayaan memang menjadi salah satu pemicu konflik. Ketika identitas kelompok menjadi segalanya, sedikit saja provokasi yang menyentil identitas itu bisa memicu ledakan emosi. Ini seperti Anda membanggakan keripik singkong Anda, lalu ada yang bilang keripik ubi lebih enak. Pasti ada gejolak, kan? Apalagi kalau menyangkut harga diri suku atau kelompok.

 

PMN:

Ketiga, kurangnya "pendidikan emosi" dan "toleransi". Di zaman prasejarah, fokus utamanya adalah bertahan hidup. Tidak ada mata pelajaran "mengelola emosi" atau "toleransi antar suku" di kurikulum gua. Jadi, ketika ada perbedaan atau gesekan, responsnya seringkali langsung ke arah agresi. Kemampuan untuk mendengarkan, memahami perspektif orang lain, dan mencari jalan tengah itu butuh proses panjang peradaban. Kita lihat saja bagaimana kerajaan-kerajaan kuno seperti Mataram Kuno memiliki struktur sosial yang kuat, bahkan kasta. Ini menunjukkan bahwa perbedaan sudah diinstitusionalisasi.

 

PMN:

Keempat, "faktor kepemimpinan" yang oportunis. Sejak dulu kala, selalu ada individu atau kelompok yang cerdik melihat peluang dalam keretakan. Mereka memanipulasi perbedaan, memperkeruh suasana, demi keuntungan pribadi atau kelompoknya. Ini bukan soal miskin atau bodoh, tapi soal ambisi dan moralitas. Pemimpin yang tidak bertanggung jawab bisa dengan mudah memanfaatkan massa yang rentan untuk tujuan mereka. Ini seperti bandar judi yang mengadu ayam jago, Mbak. Yang untung ya bandarnya, ayamnya cuma jadi korban.

 

MBG:

Wah, ini benar-benar pencerahan, Prof! Jadi, selain miskin dan bodoh, ada juga faktor psikologis, sosiologis, dan bahkan politis yang sudah ada sejak zaman baheula. Ini membuat saya berpikir, apakah kita sebagai bangsa bisa keluar dari lingkaran setan 'gampang diadu domba' ini?

 

PMN:

Tentu saja bisa, Mbak Brenda! Kuncinya adalah kesadaran dan pendidikan. Bukan hanya pendidikan formal, tapi pendidikan karakter, literasi media, dan yang paling penting, pendidikan tentang pentingnya persatuan dalam keberagaman. Kita harus belajar dari sejarah, bukan untuk meratapi, tapi untuk memperbaiki. Masyarakat prasejarah mungkin belum punya teknologi canggih, tapi mereka punya insting untuk bertahan hidup. Kita di era modern ini punya akal, ilmu, dan keripik singkong Anda yang lezat sebagai simbol kebersamaan. Dengan itu semua, kita bisa membangun benteng pertahanan mental terhadap adu domba.

 

MBG:

Luar biasa, Prof! Saya jadi merasa lebih optimis setelah mendengar penjelasan Anda. Terima kasih banyak atas waktu dan pencerahannya yang jenaka tapi juga sangat mendalam. Semoga bangsa kita semakin bijak dan tidak mudah diadu domba lagi, baik oleh provokator zaman batu maupun provokator media sosial.

 

PMN:

Sama-sama, Mbak Brenda. Ingat, persatuan itu seperti keripik singkong: renyah saat dinikmati bersama, tapi hancur berkeping-keping kalau diinjak-injak. Jaga baik-baik!

 


 

Penutup: Renungan Sambil Mengunyah Keripik

 

Wawancara dengan Profesor Dr. Mesem Ngguyu ini memang membuka cakrawala baru. Ternyata, fenomena "gampang diadu domba" di Indonesia bukan sekadar masalah kemiskinan atau kebodohan semata, melainkan sebuah kompleksitas sejarah, psikologi, dan sosiologi yang telah berakar kuat sejak zaman prasejarah. Dari naluri bertahan hidup hingga ambisi kepemimpinan oportunis, semua berkontribusi pada kerentanan ini. Namun, seperti yang Profesor sampaikan, dengan kesadaran, pendidikan, dan semangat kebersamaan, kita bisa memutus rantai sejarah ini. Mari kita jadikan keripik singkong Mbak Brenda sebagai simbol persatuan: sederhana, merakyat, dan nikmat saat dinikmati bersama.

 

Spirov Lengking, 620270621345