Selamat datang di Studio 705! Hari ini, kita akan menyelami sebuah topik yang tak lekang oleh waktu, namun sering kali disalahartikan: Makna Kemerdekaan. Bukan sembarang diskusi, kali ini kami menghadirkan dua tokoh yang pandangannya bagai bumi dan langit, menjanjikan perdebatan yang sengit, menggelitik, dan mungkin sedikit... mengkhawatirkan. Bersama kita ada Mbak Brenda Ganesha, S.Pd., S.Hub.Int., S.T. (MBG), Jurnalis, Presenter, Pengusaha Keripik Singkong, dan CEO Studio 705 yang selalu siap mengupas tuntas segala isu, bahkan yang paling absurd sekalipun.
Di sisi kanan saya, duduk dengan angkuh dan senyum penuh
misteri, adalah Mahapatih Haryo Sengkuni Suman Trigantalpati, yang lebih
populer dengan nama Sengkuni. Patih Kerajaan Hastinapura, sekaligus Raja di
Kerajaan Plasajenar—sebuah rangkap jabatan yang, menurutnya, adalah manifestasi
sejati dari kemerdekaan. Aura licik namun karismatiknya memenuhi studio, seolah
setiap geraknya adalah strategi yang terencana sempurna.
Dan di sisi kiri, dengan tatapan tajam dan jenggot yang
seolah memancarkan kebijaksanaan dari segala penjuru alam semesta, adalah
Profesor Dr. Mesem Ngguyu, S.S., S.Sos., S.Pd., S.H., S.E., S.Kom., S.T.,
M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Kom., M.T., M.H., Ph.D., D.Litt. (PMN). Seorang
Dosen Filsafat & Ahli Segala Bidang di Alam Semesta. Beliau adalah
antitesis sempurna dari Sengkuni, seorang pembela kebenaran yang tak kenal
kompromi, bahkan jika itu berarti harus mengayunkan kapak algojo.
Mbak Brenda Ganesha (MBG), dengan senyum profesionalnya
yang menenangkan, menyambut kedua narasumber. "Selamat pagi, siang, sore,
malam, dan kapan pun Anda menyaksikan kami di Studio 705! Hari ini kita akan
membahas 'Makna Kemerdekaan' dari dua sudut pandang yang, jujur saja, membuat
saya sedikit bergidik. Tapi inilah esensi jurnalisme, bukan? Menggali setiap
sisi, bahkan sisi gelap yang mungkin butuh senter ekstra terang."
MBG: "Patih Sengkuni, Prof. PMN, terima kasih banyak sudah
meluangkan waktu di tengah kesibukan Anda yang luar biasa. Patih Sengkuni
dengan urusan Hastinapura dan Plasajenar, dan Prof. PMN dengan segudang gelar
yang bahkan membuat saya lelah membacanya. Mari kita langsung saja ke inti
diskusi kita: Makna Kemerdekaan. Patih Sengkuni, sebagai seorang Mahapatih dan
Raja, bagaimana Anda memaknai kemerdekaan di Hastinapura yang agung ini?"
Korupsi: Pilar Kemerdekaan Versi Sengkuni vs. Algojo Versi
PMN
Sengkuni: (Menyeringai lebar, mengelus jenggot tipisnya dengan
jemari kurus) "Ah, Mbak Brenda, pertanyaan yang sangat substansial!
Kemerdekaan, bagi saya, adalah kebebasan sejati. Dan di Hastinapura, kebebasan
itu termanifestasi dalam poin pertama saya: Tingkatkan
korupsi."
Mata Mbak Brenda sedikit melebar,
sementara Prof. PMN hanya menghela napas panjang, seolah sudah menduga akan hal
ini.
Sengkuni: "Betul sekali! Para pejabat dimotivasi untuk korupsi
sebanyak-banyaknya. Nggak afdol seorang pejabat kalau nggak korupsi. Itu
seperti sayur tanpa garam, hambar! Korupsi itu bumbu kehidupan birokrasi, Mbak.
Ini bukan sekadar mengambil uang, ini tentang seni mengelola kekuasaan dan
sumber daya untuk kesejahteraan pribadi dan, tentu saja, 'lingkaran dalam'
saya."
Ia tertawa kecil, suara seraknya
memenuhi studio.
Sengkuni: "Kalau ketangkap? Santai saja. Hukum itu bisa dibeli,
kok. Dipenjara hanya sebentar, mungkin sambil menikmati fasilitas mewah yang
tak kalah dengan hotel bintang lima. Sisanya? Foya-foya sekeluar dari penjara
menggunakan uang hasil korupsi. Ini adalah siklus ekonomi yang sempurna, Mbak.
Korupsi menciptakan perputaran uang, penjara menciptakan lapangan kerja bagi
sipir, dan setelah bebas, para mantan pejabat ini menjadi motor penggerak
ekonomi hedonisme. Hebat, kan? Ini adalah kemerdekaan finansial yang
hakiki!"
MBG: (Mencoba menelan ludah, tersenyum kecut) "Uh, sebuah
pandangan yang... berani, Patih Sengkuni. Kemerdekaan finansial, Anda bilang.
Tapi bukankah itu merugikan rakyat Hastinapura?"
PMN (Profesor Mesem Ngguyu): (Menggebrak meja pelan, namun tegas, membuat cangkir teh
di depannya bergetar. Matanya menyala-nyala) "Omong kosong! Kemerdekaan
macam apa itu?! Kemerdekaan untuk merampok rakyat?! Itu bukan kemerdekaan, itu
perbudakan baru! Perbudakan oleh nafsu serakah para bandit berdasi!"
Prof. PMN meluruskan kacamatanya,
menatap Sengkuni dengan pandangan yang bisa melelehkan baja.
PMN: "Di
Hastinapura memang berlaku cara-cara busuk seperti yang dikatakan Sengkuni.
Tapi ingat, di negeri ini, di negeri yang saya cita-citakan, semua
kekayaan koruptor akan disita negara, lalu si koruptor dihukum penggal kepala!"
Sengkuni terbatuk, sedikit terkejut
dengan nada dan pilihan kata Prof. PMN.
PMN: "Saya
yakin, suatu saat nanti, yang saya prediksikan ini akan terjadi. Dan oh ya,
manakala hukum itu benar-benar berlaku, saya siap jadi algojo tanpa digaji!
Bahkan saya siap mendonasikan sebagian harta saya sebagai ungkapan bersyukur
setiap kali saya telah dipercaya memenggal kepala koruptor! Ini bukan sekadar
hukuman, ini terapi kejut massal untuk membersihkan bangsa dari parasit!"
Sengkuni: (Menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis, seolah
prihatin) "Aduh, Profesor. Terlalu ekstrem! Kemerdekaan itu tentang
kebebasan, bukan kekejaman! Anda ini profesor atau tukang jagal? Lagipula,
siapa yang mau bekerja keras kalau ujung-ujungnya dipenggal? Tidak ada
insentif, Profesor! Tidak ada!"
Jabatan: Warisan Keluarga vs. Batasan Tegas
MBG: "Baik, baik, mari kita sedikit mendinginkan suasana.
Patih Sengkuni, poin kedua Anda tentang makna kemerdekaan?"
Sengkuni: (Kembali ke mode licik-menawan) "Poin kedua saya
adalah mahakarya strategi politik: Raih jabatan sebanyak yang bisa. Semua
kerabat, mulai anak, istri, paman, pakde, sepupu, ipar, semuanya dikasih
jabatan strategis agar bisa melanggengkan kekuasaan meskipun sudah tidak
menjabat lagi. Ini adalah investasi jangka panjang, Mbak Brenda! Kemerdekaan
itu hak untuk memastikan garis keturunan kita selalu berada di puncak,
mengendalikan roda pemerintahan dari generasi ke generasi. Ini bukan nepotisme,
ini adalah manajemen talenta keluarga yang visioner!"
Ia tersenyum bangga, seolah baru saja
menemukan teori fisika baru.
Sengkuni: "Bayangkan, Mbak. Setiap posisi penting diisi oleh
orang-orang yang Anda percaya, yang memiliki DNA keunggulan yang sama.
Loyalitas terjamin, visi terintegrasi. Ini menciptakan stabilitas, Mbak.
Stabilitas yang langka di dunia fana ini. Apa itu bukan kemerdekaan untuk
menentukan nasib kekuasaan Anda sendiri?"
MBG: "Manajemen talenta keluarga... Sebuah istilah yang
menarik. Tapi bagaimana dengan meritokrasi, Patih? Bagaimana dengan orang-orang
yang memang kompeten di luar lingkaran keluarga?"
PMN: (Mengibaskan
tangan dengan jijik) "Meritokrasi? Kompetensi? Itu adalah kata-kata yang
asing bagi dinasti koruptor! Kemerdekaan sejati adalah batasi
jabatan hanya dua kali masa jabatan! Larang kerabat
pejabat jadi pejabat dengan aturan hukum yang ketat! Titik!"
Prof. PMN menyilangkan tangan di
dada, rahangnya mengeras.
PMN: "Ini
bukan tentang investasi jangka panjang untuk keluarga, ini tentang melayani
rakyat! Jabatan itu amanah, bukan warisan. Rakyat Hastinapura berhak
mendapatkan pemimpin terbaik, bukan sekadar keponakan atau ipar yang kebetulan
punya hubungan darah! Hukum harus ditegakkan, tanpa pandang bulu. Siapa pun
yang melanggar, yang mencoba membangun kerajaan kecilnya di atas penderitaan
rakyat, harus disingkirkan! Dan saya siap menjadi tukang singkirnya!"
Sengkuni: (Mendesah, seolah berbicara dengan anak kecil)
"Profesor, Profesor... Anda ini terlalu idealis! Dunia nyata itu kejam,
Profesor. Siapa yang akan menjaga kepentingan kita kalau bukan keluarga
sendiri? Orang lain itu mudah dibeli, mudah disuap, mudah berkhianat. Keluarga?
Mereka terikat oleh darah, Mbak Brenda! Ikatan darah itu lebih kuat dari sumpah
jabatan atau janji kampanye!"
Dinasti Kekuasaan: Berkedok Demokrasi
vs. Pancung Politisi Busuk
MBG: "Baik, kita beralih ke poin ketiga. Patih Sengkuni,
bagaimana Anda melihat kemerdekaan dalam konteks pembentukan dinasti
kekuasaan?"
Sengkuni: (Tersenyum licik, matanya berkilat) "Ah, ini adalah
mahakarya saya yang paling agung! Kemerdekaan sejati adalah hak untuk membuat
dinasti kekuasaan dengan berkedok demokrasi. Rakyat
Hastinapura yang 90% bodoh permanen, mudah dibohongi, dimanipulasi, dan
diadudomba. Ini bukan hinaan, Mbak Brenda, ini adalah observasi sosiologis yang
akurat!"
Mbak Brenda hanya bisa menggelengkan
kepala, mencoba menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
Sengkuni: "Demokrasi itu alat yang indah. Kita beri mereka
ilusi pilihan, ilusi suara, ilusi partisipasi. Padahal, kita yang mengatur di
belakang layar. Kita adudomba mereka dengan isu-isu sepele, kita beri mereka
janji-janji manis yang takkan pernah terealisasi, kita beli suara mereka dengan
sembako murah atau hiburan murahan. Lalu, voila! Dinasti kita langgeng,
seolah-olah atas kehendak rakyat. Ini adalah kemerdekaan untuk membentuk takdir
politik Anda sendiri, tanpa harus repot-repot berperang atau kudeta. Cukup
dengan 'demokrasi' ala Sengkuni!"
MBG: (Menghela napas) "Jadi, Anda memanfaatkan kelemahan
rakyat untuk melanggengkan kekuasaan? Bukankah itu... tidak etis, Patih?"
PMN: (Wajahnya
memerah padam, tangannya mengepal erat) "Tidak etis?! Itu kejahatan
sistematis! Kemerdekaan itu adalah hak rakyat untuk tidak dibodohi, tidak
dimanipulasi! Dinasti kekuasaan dengan kedok apa saja dilarang menggunakan
peraturan negara! Politisi busuk yang memanfaatkan kebodohan rakyat dengan
membohongi, memanipulasi, dan mengadudomba, dihukum pancung!"
Prof. PMN berdiri, menunjuk Sengkuni
dengan jari telunjuknya yang gemetar.
PMN: "Rakyat
Hastinapura mungkin 90% bodoh permanen menurut Anda, Patih Sengkuni! Tapi
mereka berhak mendapatkan pendidikan, pencerahan, dan pemimpin yang jujur!
Bukan serigala berbulu domba yang bersembunyi di balik topeng demokrasi!
Kemerdekaan itu adalah pencerahan, bukan pembodohan! Dan jika ada yang mencoba
membodohi, kepalanya harus dipancung sebagai pelajaran!"
Sengkuni: (Mengangkat bahu, tak terganggu sedikit pun) "Pancung
lagi, pancung lagi. Profesor ini memang punya obsesi aneh dengan kepala.
Padahal, kepala itu isinya otak, Profesor. Kalau dipancung, nanti siapa yang
berpikir strategis seperti saya? Lagipula, rakyat itu butuh hiburan, Profesor.
Mereka tidak butuh terlalu banyak berpikir. Cukup ikuti saja arahan kami,
semuanya beres. Itu namanya 'kemerdekaan dari beban berpikir', Profesor!"
Melanggengkan Kekuasaan: Sampai
Kiamat dan Pasca-Kiamat vs. Rejam atau Kolam Buaya
MBG: "Wah, perdebatan semakin memanas. Patih Sengkuni,
poin terakhir Anda, yang kabarnya paling... ambisius?"
Sengkuni: (Tertawa terbahak-bahak, kali ini dengan suara yang lebih
riang, seolah membayangkan masa depan yang gemilang) "Tentu saja! Ini
adalah puncak dari filosofi kemerdekaan saya! Melanggengkan
kekuasaan sampai 7 triliun keturunan! Jadi sampai kiamat,
pascakiamat, pasca sorga-negara, lalu dibuat dunia baru dengan kisah baru,
tetap berkuasa! Hebat kan MAKNA KEMERDEKAAN VERSI SENGKUNI ini?!"
Mbak Brenda terdiam, tercengang.
Bahkan Prof. PMN pun terlihat sedikit syok, meskipun ia segera menguasai diri.
Sengkuni: "Ini bukan sekadar kekuasaan duniawi, Mbak Brenda.
Ini adalah proyek abadi! Kemerdekaan untuk menentukan takdir semesta, untuk
menulis ulang sejarah, bahkan setelah alam semesta ini berakhir. Dinasti saya
akan menjadi benang merah yang menghubungkan realitas satu ke realitas
berikutnya. Saya akan menjadi arsitek abadi dari segala peradaban! Siapa yang
bisa menandingi visi semacam ini? Ini adalah kemerdekaan absolut, Mbak!
Kemerdekaan dari batasan waktu, ruang, dan bahkan eksistensi itu sendiri!"
MBG: (Mengedipkan mata beberapa kali, mencoba memproses
informasi yang baru saja ia dengar) "Tujuh triliun keturunan...
Pasca-kiamat... Patih, itu... itu di luar nalar manusia biasa. Apakah ini masih
relevan dengan makna kemerdekaan di dunia nyata?"
PMN: (Menghela
napas panjang, lalu tertawa sinis. Tawa yang jarang terdengar darinya)
"Kemerdekaan absolut? Itu bukan kemerdekaan, itu megalomania akut! Itu
delusi kekuasaan yang sudah stadium akhir! Pelanggengan kekuasaan dilarang
keras dalam bentuk undang-undang negara! Pelanggar undang-undang ini dihukum
rejam atau dimasukkan kolam buaya!"
Prof. PMN kali ini tidak berteriak,
suaranya tenang namun penuh ancaman yang dingin.
PMN: "Tidak
ada kekuasaan yang abadi, Patih Sengkuni! Bahkan alam semesta pun ada batasnya!
Kemerdekaan sejati adalah menerima siklus kehidupan, menerima pergantian
kepemimpinan, dan memberi kesempatan kepada generasi berikutnya untuk membangun
masa depan mereka sendiri! Bukan mengikat mereka dengan rantai dinasti yang
busuk sampai 7 triliun keturunan! Buaya-buaya di kolam akan sangat menikmati
santapan ambisi kosong Anda, Patih!"
Sengkuni: (Mencibir) "Buaya? Profesor ini pasti sering menonton
film-film laga murahan. Saya ini Mahapatih, Profesor, bukan umpan buaya! Dan
visi saya ini bukan ambisi kosong, ini adalah warisan abadi yang akan dikenang
sepanjang masa, bahkan di dunia baru sekalipun! Anda hanya bisa membayangkan
kolam buaya, saya membayangkan galaksi-galaksi di bawah kendali dinasti
saya!"
Debat Lebih Lanjut: Antara Etika,
Pragmatisme, dan Utopi
MBG: (Mengusap dahinya, merasa sedikit pusing) "Baiklah,
Bapak-bapak sekalian. Ini adalah perdebatan yang... luar biasa. Patih Sengkuni,
Anda melihat kemerdekaan sebagai kebebasan total untuk mengakumulasi kekayaan,
jabatan, dan kekuasaan tanpa batas, bahkan dengan cara-cara yang mungkin dianggap
tidak etis. Sementara Prof. PMN, Anda melihat kemerdekaan sebagai kebebasan
dari tirani, korupsi, dan manipulasi, bahkan dengan hukuman yang sangat...
drastis."
MBG: "Patih Sengkuni, apakah Anda tidak khawatir dengan
legitimasi kekuasaan Anda jika semua dilakukan dengan manipulasi dan korupsi?
Rakyat Hastinapura, meskipun Anda sebut 'bodoh permanen', bukankah suatu saat
bisa menyadari dan memberontak?"
Sengkuni: (Menyeringai) "Legitimasi itu relatif, Mbak Brenda.
Yang penting adalah kontrol. Selama kita mengendalikan informasi, mengendalikan
ekonomi, dan mengendalikan militer, rakyat akan tetap patuh. Mereka mungkin
mengeluh, mereka mungkin bergosip, tapi mereka tidak akan berani bergerak.
Lagipula, pemberontakan itu membutuhkan pemimpin, dan para pemimpin potensial
itu sudah kami 'berdayakan' dengan jabatan atau, jika perlu, kami 'netralkan'
dengan cara-cara yang halus. Ini adalah seni manajemen konflik, Mbak. Memberi
mereka cukup harapan palsu agar tidak putus asa, tapi tidak cukup kekuatan untuk
benar-benar berubah."
Sengkuni: "Kemerdekaan bagi saya adalah kebebasan untuk
mendefinisikan realitas. Jika saya bilang Hastinapura makmur, maka makmurlah
Hastinapura, terlepas dari kenyataan di lapangan. Rakyat akan percaya karena
mereka ingin percaya. Itu adalah kekuatan sugesti massal, Mbak. Sebuah ilmu
yang jauh lebih canggih daripada filsafat moral Prof. PMN yang ketinggalan
zaman itu."
PMN: (Mengejek)
"Mendefinisikan realitas? Itu namanya berbohong! Dan kebohongan itu adalah
rantai yang mengikat jiwa manusia! Kemerdekaan sejati adalah kejujuran,
transparansi, dan akuntabilitas! Rakyat mungkin 'bodoh permanen' di mata Anda,
Patih, tapi mereka punya hati nurani! Suatu saat, hati nurani itu akan
berteriak, dan ketika itu terjadi, tidak ada jumlah sembako atau hiburan
murahan yang bisa membungkamnya!"
PMN: "Patih
Sengkuni, Anda berbicara tentang seni manajemen konflik, saya berbicara tentang
revolusi kesadaran! Kemerdekaan itu bukan tentang kebebasan untuk menindas,
tapi kebebasan untuk bangkit dari penindasan! Dan saya, dengan segala gelar
saya ini, siap menjadi katalisator revolusi itu, bahkan jika itu berarti saya
harus memegang kapak dan menjadi algojo keadilan!"
MBG: "Prof. PMN, dengan segala hormat, hukuman-hukuman
yang Anda usulkan terdengar sangat ekstrem. Memenggal kepala, rejam, kolam
buaya... Apakah itu sesuai dengan prinsip kemanusiaan dan hak asasi manusia di
era modern?"
PMN: (Tersenyum
tipis, senyum yang jarang terlihat dan agak menakutkan) "Mbak Brenda,
apakah korupsi yang merampas hak hidup jutaan orang itu manusiawi? Apakah
dinasti kekuasaan yang menginjak-injak aspirasi rakyat itu manusiawi? Bagi
saya, kejahatan luar biasa membutuhkan respons yang luar biasa pula. Ini bukan
tentang kekejaman, ini tentang efek jera maksimal! Ini tentang mengirim pesan
yang sangat jelas: Jangan pernah bermain-main dengan kemerdekaan rakyat!
Hukuman ekstrem ini adalah bentuk kemerdekaan dari kejahatan, kemerdekaan untuk
menciptakan masyarakat yang bersih dan adil. Ini adalah terapi kejut yang
diperlukan untuk menyembuhkan penyakit kronis yang disebut korupsi dan
tirani!"
PMN: "Dan
hak asasi manusia? Hak asasi manusia yang mana? Hak asasi untuk korupsi? Hak
asasi untuk menindas? Tidak ada hak asasi untuk itu! Hak asasi manusia sejati
adalah hidup dalam keadilan, kebebasan, dan martabat. Dan jika ada yang mencoba
merampasnya, maka mereka telah melepaskan hak asasi mereka sendiri untuk
mendapatkan perlakuan yang sama."
Sengkuni: (Menggelengkan kepala dengan dramatis lagi)
"Profesor, Profesor. Anda ini terlalu serius! Hidup itu butuh kelenturan,
butuh negosiasi. Kemerdekaan itu tentang fleksibilitas, Mbak Brenda. Jika hukum
terlalu kaku, maka akan patah. Korupsi itu seperti air, ia akan selalu
menemukan celah. Daripada melawannya dengan kekerasan yang sia-sia, lebih baik
kita kelola. Kita jadikan bagian dari sistem, kita atur agar tidak terlalu
'kacau'. Ini adalah kemerdekaan untuk beradaptasi, untuk bertahan, untuk
berkuasa!"
Sengkuni: "Lagipula, hukuman mati itu tidak efektif. Buktinya,
saya masih di sini, sehat walafiat, dan tetap berkuasa. Yang penting itu adalah
bagaimana Anda memainkan kartu Anda, Mbak Brenda. Dan saya, Patih Sengkuni,
adalah pemain terbaik di Hastinapura!"
MBG: (Tersenyum, kali ini lebih maklum daripada terkejut)
"Patih Sengkuni, Anda memang tak ada duanya. Selalu ada argumen, selalu
ada cara pandang yang... unik. Prof. PMN, Anda tampak sangat bersemangat dengan
peran algojo. Apakah ini bagian dari filosofi Anda tentang keadilan?"
PMN: "Tentu
saja! Keadilan tanpa eksekusi adalah ilusi! Saya bukan haus darah, Mbak Brenda.
Saya haus keadilan! Saya haus akan masyarakat yang bersih dari noda-noda para
koruptor dan tiran. Peran algojo ini adalah simbol. Simbol bahwa keadilan itu
tidak hanya di atas kertas, tapi juga bisa dirasakan, bisa dilihat, bisa
menjadi peringatan bagi siapa pun yang berani merusak kemerdekaan sejati. Ini
adalah kemerdekaan dari rasa takut akan ketidakadilan!"
PMN: "Dan
saya yakin, suatu saat nanti, masyarakat akan sadar bahwa cara-cara Patih
Sengkuni ini hanya akan membawa mereka ke jurang kehancuran. Mereka akan
bangkit, mereka akan menuntut keadilan, dan saat itu terjadi, saya akan ada di
garis depan, siap memimpin mereka menuju kemerdekaan yang sesungguhnya!"
Penutup: Sebuah Refleksi Kemerdekaan
yang Kontradiktif
MBG: "Wah, ini sungguh sebuah wawancara yang membuka mata
dan, saya akui, membuat saya berpikir keras tentang definisi kemerdekaan. Di
satu sisi, Patih Sengkuni menawarkan kemerdekaan sebagai kebebasan total untuk
berkuasa, mengakumulasi, dan melanggengkan kekuasaan dengan segala cara, bahkan
yang paling licik sekalipun, berkedok stabilitas dan manajemen yang 'visioner'.
Ia melihat hukum sebagai alat yang bisa dibeli, rakyat sebagai objek
manipulasi, dan kekuasaan sebagai warisan abadi yang melampaui batas waktu dan
dimensi. Ini adalah kemerdekaan yang pragmatis, sinis, dan berpusat pada diri
sendiri, di mana moralitas adalah variabel yang bisa diabaikan demi tujuan
akhir kekuasaan.
MBG: "Di sisi lain, Prof. PMN menyajikan visi kemerdekaan
yang sangat idealis, namun dengan metode yang sangat ekstrem. Semoga
bermanfaat.
Spirov Lengking, 62028040175815