Sabtu, 12 September 2026

Sang Pengantin Sunyi

 

I

 

"Sepuluh ribu gulden, Sekar. Itu harga yang mereka sepakati untuk kepalamu."

 

Aku tidak bergeming saat Ibu menyisir rambutku dengan kasar. Cermin besar di depanku memantulkan bayangan seorang gadis dengan kebaya putih brokat yang terlalu sesak, seolah kain itu sendiri sedang mencekikku.

 

"Ibu tidak merasa sedang menjual anak sendiri?" tanyaku datar.

 

"Menjual? Kami menyelamatkan martabat klan ini!" Ibu membanting sisir kayu itu ke meja rias. "Ayahmu kalah taruhan di meja judi saudagar itu. Jika kamu tidak berangkat malam ini, rumah ini, tanah ini, bahkan nyawa Ayahmu akan melayang."

 

"Dan sebagai gantinya, nyawaku yang Ibu serahkan pada Raden Mas Barjino?"

 

Ibu memutar tubuhku, mencengkeram bahuku kuat-kuat. "Dia kaya raya. Panglima perang yang disegani kompeni. Apa lagi yang kamu cari?"

 

"Aku cari kabar tentang istri-istrinya yang hilang, Bu. Istri pertama terjun ke sumur, istri kedua gantung diri, dan yang ketiga... tidak pernah ditemukan rimbanya."

 

"Itu hanya rumor dari mulut-mulut busuk!" Ibu mendesis, matanya membelalak tajam. "Tugasmu hanya satu: patuh. Jadilah patung yang cantik. Jangan bicara kecuali ditanya. Biarkan dia melakukan apa pun yang dia mau, asal utang keluarga ini lunas."

 

Aku menatap matanya yang kosong, mencari sisa-sisa kasih sayang, namun hanya menemukan angka-angka gulden yang menari di sana. Aku tersenyum tipis.

 

"Ibu tenang saja. Aku akan menjadi pengantin yang sangat... sunyi."

 

"Bagus. Sekarang pakai bedakmu. Jangan sampai dia melihat wajahmu yang muram itu."

 

"Bu, apakah Ibu tahu apa yang ditinggalkan Eyang Tabib padaku sebelum dia meninggal?"

 

Ibu berhenti di ambang pintu, menoleh sekilas. "Hanya bungkusan ramuan jamu yang bau, bukan? Buang saja sampah-sampah itu."

 

Aku menyentuh botol kecil yang tersembunyi di balik stagenku, merasakan dinginnya kaca di kulitku.

 

"Sudah aku buang, Bu. Aku hanya membawa apa yang paling berharga malam ini."

 

"Apa itu?"

 

"Kepatuhan yang sempurna."

 

Pintu berderit tertutup, meninggalkanku dalam kesunyian kamar yang pengap oleh wangi melati yang menyengat. Aku berdiri, mengambil kuas bedak, dan mulai memulas wajahku hingga sepucat mayat.

 

"Sekar! Cepat keluar! Kereta kuda Raden Mas Barjino sudah di depan gerbang!" teriak Ayah dari luar.

 

Aku menarik napas panjang, memastikan Ramuan Lumpuh Sukma tetap aman di balik kain kembenku. Aku melangkah keluar, melewati lorong-lorong rumah yang kini terasa seperti penjara yang baru saja menjual sipirnya.

 

Di depan gerbang, seorang pria bertubuh tegap dengan seragam militer berhias medali berdiri menungguku. Wajahnya keras, dengan bekas luka melintang di pipi kiri yang membuatnya tampak seperti monster yang memakai baju manusia.

 

"Ini barangnya, Raden Mas," ujar Ayah sambil membungkuk rendah, hampir menyentuh tanah.

 

Raden Mas Barjino mendekat, memegang daguku dengan kasar, memutar wajahku ke kiri dan ke kanan seolah sedang memeriksa gigi kuda pacuan.

 

"Kulitnya halus," gumam Barjino dengan suara berat yang menggetarkan udara. "Tapi matanya... kenapa matanya tidak menunjukkan ketakutan?"

 

"Dia hanya terpesona oleh kewibawaan Raden Mas," sahut Ayah cepat, keringat dingin mengucur di dahinya.

 

Barjino tertawa, suara tawa yang kering dan tidak menyenangkan. "Bagus. Aku bosan dengan perempuan yang terus-menerus menangis saat aku menyentuhnya."

 

Dia menarik tanganku, menyeretku menuju kereta kuda yang tampak seperti peti mati berjalan dengan ukiran emas. Sebelum naik, aku menoleh ke arah Ayah dan Ibu yang melambaikan tangan dengan wajah lega.

 

"Jangan pernah berharap aku kembali untuk menyelamatkan kalian lagi," bisikku pelan, nyaris tak terdengar.

 

Barjino mendorongku masuk ke dalam kereta dan duduk di hadapanku. Matanya yang gelap terus menguliti penampilanku. Kereta mulai bergerak, meninggalkan rumah masa kecilku yang kini terasa asing.

 

"Kamu tahu apa yang terjadi pada orang yang mencoba lari dariku, Cah Ayu?" tanya Barjino sambil memainkan belatinya yang berkilauan terkena cahaya bulan.

 

"Saya tidak berencana untuk lari, Raden Mas."

 

"O ya? Lalu apa yang kamu rencanakan?"

 

"Saya hanya berencana untuk melayani Anda hingga maut memisahkan kita, tepat seperti janji pernikahan yang akan kita ucapkan nanti."

 

Barjino tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi yang kuning. "Aku suka semangatmu, Sekar. Mari kita lihat berapa lama semangat itu akan bertahan di bawah cambukku."

 

 

II

 

 

Pendopo besar kediaman Raden Mas Barjino riuh dengan suara musik gamelan yang mistis. Bau dupa dan makanan mewah bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang menyesakkan. Aku duduk di samping Barjino, menerima ucapan selamat dari para tamu yang matanya penuh kasihan sekaligus ngeri.

 

"Makanlah, Istriku," perintah Barjino sambil menyodorkan sepiring daging panggang yang masih meneteskan darah. "Kamu butuh tenaga untuk malam ini."

 

"Terima kasih, Raden Mas. Bolehkah saya yang menuangkan minuman untuk Anda? Sebagai tanda bakti pertama saya."

 

Barjino menaikkan alisnya, tampak terkejut namun senang. "Tentu. Tuangkan anggur terbaik dari botol hijau itu."

 

Aku berdiri dengan gerakan gemulai yang telah kupelajari selama berbulan-bulan di bawah bimbingan Eyang Tabib. Dengan posisi tubuh yang membelakangi para tamu, aku menjatuhkan tiga tetes cairan bening dari kuku jariku ke dalam gelas emas milik Barjino. Ramuan Lumpuh Sukma—tak berwarna, tak berbau, namun mampu menghentikan koordinasi otot hanya dalam hitungan menit.

 

"Silakan, Raden Mas. Minumlah demi kebahagiaan kita."

 

Barjino menerima gelas itu, meneguknya hingga tandas dalam sekali gerak. "Manis. Seperti bibirmu."

 

"Lebih dari itu, Raden Mas. Itu adalah rasa kebebasan."

 

Barjino tertawa terbahak-bahak, lalu berdiri dan merangkul bahuku dengan kasar. "Ayo. Para tamu sudah bosan melihat kita duduk di sini. Biarkan mereka menikmati pesta, sementara kita menikmati waktu kita sendiri."

 

Dia menyeretku menuju kamar utama di bagian belakang rumah. Sebuah ruangan besar dengan ranjang jati raksasa dan bau parfum mawar yang memuakkan. Begitu pintu tertutup dan dikunci, suasana langsung berubah dingin.

 

Barjino melepas seragamnya, melemparkannya ke lantai. "Buka pakaianmu, Sekar. Sekarang."

 

Aku tetap berdiri diam di sudut ruangan. "Apakah Anda merasa gerah, Raden Mas?"

 

"Jangan membantah! Kubilang buka—" Kalimatnya terputus. Barjino tiba-tiba terhuyung. Dia memegang kepalanya, matanya mulai berputar. "Apa ini... kenapa kepalaku..."

 

"Itu hanya efek kelelahan, mungkin? Atau mungkin beban dosa Anda yang terlalu berat?"

 

Barjino mencoba melangkah ke arahku, namun kakinya tidak mau bergerak. Dia jatuh berlutut, tangannya gemetar hebat saat mencoba meraih belati di pinggangnya.

 

"Kamu... apa yang kamu lakukan padaku, Jalang!" ucapnya, namun suaranya hanya keluar seperti bisikan parau.

 

"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh 'barang bayaran', Raden Mas," kataku sambil melangkah mendekat dengan tenang. "Aku memastikan transaksi ini selesai dengan adil."

 

Aku berjongkok di depannya. Barjino masih sadar, matanya membelalak penuh amarah dan ketakutan, namun tubuhnya kini benar-benar kaku seperti patung batu. Dia tidak bisa bicara, tidak bisa bergerak, bahkan tidak bisa berkedip dengan benar.

 

"Jangan khawatir, Anda tetap bisa mendengar dan merasakan semuanya," bisikku di telinganya. "Eyangku sangat ahli dalam hal ini. Ototmu lumpuh, tapi saraf sensorikmu tetap tajam. Sangat tajam."

 

Aku berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Aku tahu di sana tersimpan sebuah brankas kecil dan tumpukan kertas. Aku menggeledah laci-lacinya hingga menemukan apa yang kucari: Surat Perjanjian hutang judi Ayahku.

 

"Sepuluh ribu gulden," aku membacanya dengan lantang. "Ayahku menjualku seharga sepuluh ribu gulden. Dan sekarang..."

 

Aku mengambil lilin dari meja dan membakar kertas itu tepat di depan mata Barjino. Debu hitam berterbangan di depan wajahnya yang kaku.

 

"Hutang itu sudah lunas, Raden Mas. Secara hukum, keluarga saya sudah bebas. Dan secara moral... saya baru saja mulai."

 

Aku beralih ke brankasnya. Menggunakan kunci yang kuambil dari kantung seragamnya yang tergeletak di lantai, aku membukanya. Di dalamnya terdapat tumpukan uang kertas emas, berlian, dan dokumen kepemilikan tanah. Semuanya kupindahkan ke dalam tas kulit kecil yang sudah kusiapkan di bawah ranjang tadi sore.

 

"Kamu... akan mati..." Barjino mencoba mengeluarkan suara, namun hanya air liur yang menetes dari sudut mulutnya.

 

"Siapa yang akan membunuhku? Anda? Anda akan tetap seperti ini selama dua belas jam ke depan. Dan saat ramuannya hilang, Anda hanya akan menjadi orang lumpuh yang sudah kehilangan seluruh kekayaannya."

 

Aku berjalan kembali ke arahnya, mengambil belati miliknya yang jatuh di lantai. Aku tidak menusukkannya ke jantungnya. Itu terlalu mudah. Aku hanya menggoreskan ujung belati itu di telapak tangannya, membiarkan darah menetes ke lantai.

 

"Ini untuk istri pertamamu," bisikku. Aku menggores lagi. "Ini untuk yang kedua. Dan ini untuk yang ketiga."

 

Barjino mengerang dalam bisu, air mata kemarahan mengalir di pipinya.

 

"Oh, satu hal lagi," aku mengeluarkan sebuah surat yang sudah kutulis sebelumnya, yang berisi pengakuan palsu atas semua kejahatan korupsi dan pembunuhan yang dilakukan Barjino, lengkap dengan tanda tangan cap jempolnya yang kuambil secara paksa dengan menempelkan jempolnya ke tinta. "Surat ini akan sampai ke tangan Gubernur Jenderal besok pagi."

 

Aku melangkah menuju jendela yang menghadap ke arah hutan di belakang kediamannya. Di sana, seorang kusir bayaran yang sudah kubayar dengan sisa perhiasan Ibu sedang menunggu.

 

Aku menoleh untuk terakhir kalinya. Sosok panglima yang gagah itu kini hanya tampak seperti onggokan daging tak berguna di lantai kamar yang dingin.

 

"Selamat malam, Suamiku. Nikmatilah kesunyian ini, karena ini adalah satu-satunya hal yang akan menemanimu selamanya."

 

Aku melompat keluar jendela, mendarat dengan ringan di atas rumput basah. Aku berlari menuju kegelapan hutan, meninggalkan peradaban yang mencoba menjualku. Di tanganku, tas berisi masa depan baru terasa begitu ringan.

 

Saat aku naik ke atas kereta kuda yang sudah menunggu, sang kusir bertanya tanpa menoleh, "Ke mana kita akan pergi, Nona?"

 

Aku menatap bulan yang bersinar terang, menerangi jalan setapak menuju pelabuhan.

 

"Ke mana saja, asal tidak ada satu pun orang yang mengenali namaku sebagai barang dagangan."

 

"Bagaimana dengan Raden Mas? Dia tidak akan mengejar kita?"

 

Aku tersenyum lebar, menghirup udara malam yang bebas untuk pertama kalinya dalam sembilan belas tahun hidupku.

 

"Dia tidak akan bisa mengejar apa pun lagi, Pak Tua."

 

"Lalu, apa yang harus saya katakan jika orang-orang bertanya siapa Anda?"

 

Aku menutup pintu kereta dengan mantap, menatap lurus ke depan.

 

"Katakan saja, pengantinnya sudah memutuskan untuk bercerai dengan takdirnya sendiri."

 

 


 

Spirov Lengking, 620290033222