Pendahuluan: Sebuah Fenomena Sejarah yang Menggelitik Urat Tawa dan Otak
Sejak
zaman batu, konon katanya, nenek moyang kita di Nusantara sudah punya hobi
unik: gampang diadu domba. Bukan, bukan adu domba beneran pakai kambing, tapi
adu domba dalam artian dipecah belah, dihasut, dan akhirnya berantem sendiri.
Fenomena ini, yang seringkali bikin kita geleng-geleng kepala sambil ngemil
keripik singkong, telah menjadi teka-teki abadi. Apakah karena miskin? Bodoh?
Atau jangan-jangan, ada faktor lain yang lebih absurd? Untuk mengupas tuntas
misteri ini, kami berhasil mendapatkan jadwal yang amat sangat padat dari
seorang jenius lintas dimensi, Profesor Dr. Mesem Ngguyu, S.S., S.Sos., S.Pd.,
S.H., S.E., S.Kom., S.T., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Kom., M.T., M.H.,
Ph.D., D.Litt. (PMN) – Dosen Filsafat & Ahli Segala Bidang di Alam Semesta.
Beliau akan diwawancarai oleh jurnalis kondang, Mbak Brenda Ganesha, S.Pd.,
S.Hub.Int., S.T. (MBG), CEO Studio 705 yang juga pengusaha keripik singkong
sukses. Mari kita saksikan!
MBG:
Selamat
pagi, Profesor! Sebuah kehormatan bisa mencuri waktu Anda di antara jadwal
menyelamatkan alam semesta dan mengajar filsafat kepada para alien. Kita akan
membahas topik yang sensitif tapi krusial: mengapa orang Indonesia, sejak zaman
prasejarah, kok ya gampang banget diadu domba dan dipecah belah? Ini misteri yang
bikin saya penasaran sampai ke remah-remah keripik singkong saya, Prof!
PMN:
Ah,
Mbak Brenda, pertanyaan Anda ini seberat beban pikiran seekor dinosaurus yang
baru sadar kalau dia vegetarian di tengah zaman es. Tapi menarik! Mari kita
bedah dengan pisau analisis filosofis saya yang diasah pakai batu akik dari
zaman Pleistosen. Jadi, 'gampang diadu domba' ini bukan fenomena baru. Bahkan,
jauh sebelum ada arisan atau drama Korea, bibit-bibitnya sudah tumbuh subur di
tanah Nusantara.
MBG:
Zaman
prasejarah, lho, Prof? Berarti bukan cuma urusan politik kolonial atau era
modern, ya? Apa ini ada kaitannya dengan cara hidup mereka yang masih berburu
dan meramu, atau bahkan saat mereka mulai bercocok tanam? Saya baca-baca,
masyarakat prasejarah Indonesia itu sudah punya sistem kepercayaan animisme dan
dinamisme, bahkan ada tradisi megalitik yang canggih. Mereka juga hidup komunal
dan sederhana.
PMN:
Tepat
sekali, Mbak Brenda! Anda sudah punya bekal yang cukup untuk jadi arkeolog
merangkap detektif. Masyarakat prasejarah kita memang hidupnya sederhana,
bergantung pada alam, dan punya sistem gotong royong yang kuat. Namun, di balik
kesederhanaan itu, potensi konflik tetap ada. Ingat, manusia itu punya naluri
dasar. Bahkan di gua paling nyaman sekalipun, kalau ada yang rebutan buah buni
terakhir, ya bisa saja terjadi 'adu mulut' prasejarah. Faktor-faktor penyebab
konflik sosial itu universal: perbedaan individu, latar belakang kebudayaan,
dan kepentingan. Zaman dulu, perbedaan suku atau kelompok yang berburu di wilayah
berbeda bisa jadi pemicu.
MBG:
Jadi,
perbedaan itu sudah ada dari dulu? Bukan cuma beda pilihan capres atau beda
selera kopi, ya? Lalu, pertanyaan kedua, Prof: apa karena miskin? Apakah
kemiskinan menjadi pupuk utama bagi benih-benih perpecahan ini?
PMN:
Ah,
kemiskinan! Ini topik yang sering jadi kambing hitam. Ibaratnya, kalau ada
masalah, kemiskinan langsung dituding duluan. Memang, di banyak kasus,
kemiskinan bisa memperparah konflik. Orang yang kelaparan cenderung lebih mudah
terprovokasi, Mbak. Mereka rentan terhadap janji-janji manis atau hasutan yang
menawarkan solusi instan, meskipun itu berarti harus mengorbankan persatuan. Di
zaman purba, kalau ada satu kelompok yang panen singkong melimpah sementara
kelompok lain kelaparan, potensi gesekan pasti ada. Namun, menyederhanakan
penyebab adu domba hanya pada kemiskinan itu seperti mengatakan semua masalah
di dunia bisa diselesaikan dengan makan keripik singkong. Enak, tapi kurang
komprehensif.
MBG:
Hahaha,
Profesor selalu punya analogi yang bikin saya pengen nambah keripik! Berarti
kemiskinan bukan satu-satunya faktor, ya. Bagaimana dengan kebodohan, Prof?
Apakah karena nenek moyang kita, dan mungkin sebagian kita sekarang, kurang
'melek' informasi atau kurang kritis dalam menerima hasutan?
PMN:
Kebodohan...
atau lebih tepatnya, kurangnya literasi dan pemahaman kritis. Ini juga faktor
yang sangat signifikan. Bayangkan, Mbak Brenda, di zaman prasejarah, tidak ada
Google, tidak ada YouTube, apalagi TikTok. Informasi itu terbatas, dan
seringkali disebarkan dari mulut ke mulut dengan bumbu-bumbu mitos dan legenda.
Jika ada seorang 'provokator' ulung yang pandai bercerita tentang keburukan
kelompok sebelah, masyarakat yang belum memiliki filter informasi yang kuat
akan mudah percaya. Mereka belum mengenal tulisan, jadi semua masih
mengandalkan lisan dan pengalaman. Di zaman Mataram Kuno saja, ada strata
sosial yang membagi masyarakat, dan informasi seringkali dikontrol oleh
golongan tertentu. Jadi, ya, kurangnya pengetahuan dan kemampuan menganalisis
informasi memang membuat seseorang lebih mudah diombang-ambing.
MBG:
Oke,
jadi kemiskinan bisa jadi pemicu, kebodohan (atau kurangnya literasi kritis)
juga memperparah. Berarti jawabannya adalah 'bodoh dan miskin', Prof? Apakah
kombinasi ini adalah resep sempurna untuk menjadi bangsa yang gampang diadu
domba?
PMN:
Kombinasi
itu memang sangat ampuh, Mbak Brenda. Ibaratnya, kemiskinan itu membuat perut
keroncongan, dan kebodohan membuat otak gampang kemasukan angin. Jadi, ketika
ada yang menawarkan 'makanan' berupa informasi sesat atau janji palsu, apalagi
dengan iming-iming materi, mereka yang lapar dan kurang kritis akan langsung
melahapnya mentah-mentah. Namun, sekali lagi, ini bukan satu-satunya jawaban mutlak.
Manusia itu kompleks, seperti resep rendang yang butuh banyak bumbu.
MBG:
Nah,
ini yang saya tunggu-tunggu, Prof! Apa penyebab lain yang bukan karena bodoh
dan bukan karena miskin? Apakah ada faktor-faktor tersembunyi yang lebih dalam,
mungkin terkait dengan psikologi atau budaya kita yang unik?
PMN:
Tentu
saja ada, Mbak! Ini bagian yang paling bikin saya betah nongkrong di
perpusakaan kuno sampai jam tiga pagi. Pertama, faktor "ikut-ikutan"
atau herd mentality. Manusia, dari zaman purba sampai sekarang, punya
kecenderungan untuk mengikuti mayoritas atau pemimpinnya, bahkan tanpa berpikir
kritis. Di zaman prasejarah, jika kepala suku bilang "kelompok seberang
itu jahat, mereka mencuri hasil buruan kita!", maka seluruh anggota suku
akan percaya dan siap berperang, meskipun belum ada bukti konkret. Ini adalah
sisa-sisa naluri bertahan hidup di mana mengikuti kelompok adalah cara aman.
PMN:
Kedua,
faktor "identitas kelompok" yang terlalu kuat. Sejak dulu, masyarakat
Nusantara hidup dalam kelompok-kelompok suku atau komunitas yang kuat. Ini
bagus untuk gotong royong, tapi bisa jadi bumerang jika muncul sentimen
"kami lebih baik dari mereka". Perbedaan latar belakang kebudayaan
memang menjadi salah satu pemicu konflik. Ketika identitas kelompok menjadi segalanya,
sedikit saja provokasi yang menyentil identitas itu bisa memicu ledakan emosi.
Ini seperti Anda membanggakan keripik singkong Anda, lalu ada yang bilang
keripik ubi lebih enak. Pasti ada gejolak, kan? Apalagi kalau menyangkut harga
diri suku atau kelompok.
PMN:
Ketiga,
kurangnya "pendidikan emosi" dan "toleransi". Di zaman
prasejarah, fokus utamanya adalah bertahan hidup. Tidak ada mata pelajaran
"mengelola emosi" atau "toleransi antar suku" di kurikulum
gua. Jadi, ketika ada perbedaan atau gesekan, responsnya seringkali langsung ke
arah agresi. Kemampuan untuk mendengarkan, memahami perspektif orang lain, dan
mencari jalan tengah itu butuh proses panjang peradaban. Kita lihat saja
bagaimana kerajaan-kerajaan kuno seperti Mataram Kuno memiliki struktur sosial
yang kuat, bahkan kasta. Ini menunjukkan bahwa perbedaan sudah
diinstitusionalisasi.
PMN:
Keempat,
"faktor kepemimpinan" yang oportunis. Sejak dulu kala, selalu ada
individu atau kelompok yang cerdik melihat peluang dalam keretakan. Mereka
memanipulasi perbedaan, memperkeruh suasana, demi keuntungan pribadi atau
kelompoknya. Ini bukan soal miskin atau bodoh, tapi soal ambisi dan moralitas.
Pemimpin yang tidak bertanggung jawab bisa dengan mudah memanfaatkan massa yang
rentan untuk tujuan mereka. Ini seperti bandar judi yang mengadu ayam jago,
Mbak. Yang untung ya bandarnya, ayamnya cuma jadi korban.
MBG:
Wah,
ini benar-benar pencerahan, Prof! Jadi, selain miskin dan bodoh, ada juga
faktor psikologis, sosiologis, dan bahkan politis yang sudah ada sejak zaman baheula.
Ini membuat saya berpikir, apakah kita sebagai bangsa bisa keluar dari
lingkaran setan 'gampang diadu domba' ini?
PMN:
Tentu
saja bisa, Mbak Brenda! Kuncinya adalah kesadaran dan pendidikan. Bukan hanya
pendidikan formal, tapi pendidikan karakter, literasi media, dan yang paling
penting, pendidikan tentang pentingnya persatuan dalam keberagaman. Kita harus
belajar dari sejarah, bukan untuk meratapi, tapi untuk memperbaiki. Masyarakat
prasejarah mungkin belum punya teknologi canggih, tapi mereka punya insting
untuk bertahan hidup. Kita di era modern ini punya akal, ilmu, dan keripik
singkong Anda yang lezat sebagai simbol kebersamaan. Dengan itu semua, kita
bisa membangun benteng pertahanan mental terhadap adu domba.
MBG:
Luar
biasa, Prof! Saya jadi merasa lebih optimis setelah mendengar penjelasan Anda.
Terima kasih banyak atas waktu dan pencerahannya yang jenaka tapi juga sangat
mendalam. Semoga bangsa kita semakin bijak dan tidak mudah diadu domba lagi,
baik oleh provokator zaman batu maupun provokator media sosial.
PMN:
Sama-sama,
Mbak Brenda. Ingat, persatuan itu seperti keripik singkong: renyah saat
dinikmati bersama, tapi hancur berkeping-keping kalau diinjak-injak. Jaga
baik-baik!
Penutup: Renungan
Sambil Mengunyah Keripik
Wawancara
dengan Profesor Dr. Mesem Ngguyu ini memang membuka cakrawala baru. Ternyata,
fenomena "gampang diadu domba" di Indonesia bukan sekadar masalah
kemiskinan atau kebodohan semata, melainkan sebuah kompleksitas sejarah,
psikologi, dan sosiologi yang telah berakar kuat sejak zaman prasejarah. Dari
naluri bertahan hidup hingga ambisi kepemimpinan oportunis, semua berkontribusi
pada kerentanan ini. Namun, seperti yang Profesor sampaikan, dengan kesadaran,
pendidikan, dan semangat kebersamaan, kita bisa memutus rantai sejarah ini.
Mari kita jadikan keripik singkong Mbak Brenda sebagai simbol persatuan:
sederhana, merakyat, dan nikmat saat dinikmati bersama.
Spirov Lengking, 620270621345