Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Berkelanjutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Berkelanjutan. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2026

Pesona Abadi Desa Nglanggeran: Dari Gunung Api Purba Hingga Juara Dunia UNWTO 2021

 

 

Jelajahi keajaiban geologi, kearifan lokal, dan pariwisata berbasis masyarakat yang mengantarkan Desa Nglanggeran meraih penghargaan bergengsi dunia.

 

 

Desa Nglanggeran: Permata Tersembunyi di Gunungkidul, Yogyakarta

 

Tersembunyi di perbukitan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 25 kilometer atau satu jam perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta, Desa Nglanggeran menawarkan pengalaman wisata yang tak terlupakan. Desa ini bukan sekadar destinasi biasa; ia adalah perpaduan harmonis antara keindahan alam purba, kekayaan budaya, dan semangat komunitas yang luar biasa. Namanya bahkan telah mendunia setelah dinobatkan sebagai "Desa Wisata Terbaik Dunia" oleh Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) pada tahun 2021.

 

Konsep pariwisata di Nglanggeran sangat unik, yaitu Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat. Ini berarti seluruh aspek pengelolaan dan pengembangan wisata melibatkan aktif warga lokal, memastikan manfaat ekonomi dan sosial benar-benar dirasakan oleh masyarakat desa. Filosofi ini menjadikan Nglanggeran contoh ideal bagaimana pariwisata dapat menjadi kekuatan pendorong pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

 

 

Menguak Kisah Gunung Api Purba Nglanggeran: Saksi Bisu Jutaan Tahun

 

Daya tarik utama Desa Nglanggeran adalah keberadaan Gunung Api Purba Nglanggeran. Gunung ini bukanlah gunung berapi aktif seperti Merapi, melainkan formasi batuan raksasa yang merupakan sisa-sisa aktivitas vulkanik yang telah mati sejak puluhan juta tahun yang lalu. Berdasarkan sejarah geologinya, Gunung Nglanggeran terbentuk sekitar 60-70 juta tahun yang lalu, pada era Tersier (Oligo-Miosen). Material batuan penyusunnya sangat khas, didominasi oleh aglomerat dan breksi gunung api, serta batuan andesit dan tufa.

 

Gunung Api Purba Nglanggeran memiliki ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan membentang sepanjang kurang lebih 800 meter dengan tinggi mencapai 300 meter. Puncaknya, yang dikenal sebagai Gunung Gedhe, menawarkan panorama alam yang menawan, mulai dari hamparan persawahan, pedesaan, hingga keindahan Embung Nglanggeran dari kejauhan. Bahkan, tempat ini menjadi lokasi favorit untuk menikmati matahari terbit dan terbenam yang memukau.

 

"Gunung Api Purba Nglanggeran bukan hanya sekadar formasi batuan, tetapi adalah jendela ke masa lalu geologi bumi, menyimpan cerita tentang letusan dan pembentukan daratan yang kini kita pijak."

Geosite UNESCO Global Geopark Gunung Sewu: Pengakuan Dunia

 

Keunikan geologi Gunung Api Purba Nglanggeran tidak hanya diakui secara lokal, tetapi juga internasional. Kawasan ini merupakan salah satu Geosite penting dalam Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Pengakuan sebagai Geopark dunia ini didapatkan sejak tahun 2015/2016, mengukuhkan Nglanggeran sebagai situs warisan geologi yang memiliki nilai ilmiah, bentang alam spesifik, dan bermakna sebagai bukti peristiwa geologi penting.

 

Status UNESCO Global Geopark ini membawa tanggung jawab besar untuk melestarikan keunikan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya lokal, sekaligus mempromosikan pariwisata berkelanjutan yang melibatkan masyarakat. Hal ini sejalan dengan visi Desa Wisata Nglanggeran untuk menjadi kawasan wisata unggulan berwawasan lingkungan berbasis masyarakat.

 

 

Sensasi Trekking di Gunung Api Purba Nglanggeran

 

Bagi para petualang dan pecinta alam, trekking di Gunung Api Purba Nglanggeran adalah pengalaman yang wajib dicoba. Jalur pendakian yang relatif ramah bagi pemula ini menawarkan tantangan yang menyenangkan dengan waktu tempuh sekitar 1 hingga 1,5 jam menuju puncaknya. Meskipun tidak memerlukan keahlian teknis panjat tebing yang ekstrem, pengunjung disarankan memiliki tingkat kebugaran yang memadai dan menggunakan alas kaki yang nyaman untuk melewati berbagai formasi batuan.

 

Jalur Unik: Sepanjang perjalanan, Anda akan melewati susunan batuan vulkanik yang unik dan kokoh, hutan dengan vegetasi rapat, serta anak tangga bebatuan yang tidak terlalu curam. Ada juga celah sempit di antara dua bukit batu yang dikenal sebagai "Elastic Canyon" yang menambah keseruan petualangan. Tangga kayu yang tersedia membantu pendaki melewati rute yang terjal.

Pemandangan Memukau: Dari puncak, Anda akan disuguhi pemandangan 360 derajat yang menakjubkan, meliputi perbukitan, sawah hijau, hingga lampu kota Yogyakarta di kejauhan saat senja tiba. Udara segar pegunungan menjadi bonus yang menyegarkan.

Camping Ground: Nglanggeran juga menyediakan area berkemah bagi mereka yang ingin menikmati keindahan malam bertabur bintang di puncak gunung.

 

Selain trekking, kawasan ini juga cocok untuk aktivitas seperti panjat tebing, terutama bagi pemula yang ingin berlatih, karena terdapat variasi tingkat kesulitan tebing.

 

 

Community-Based Tourism: Menggerakkan Ekonomi Lokal

 

Model pariwisata berbasis masyarakat adalah jantung dari keberhasilan Desa Nglanggeran. Konsep ini menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam setiap kegiatan wisata. Warga desa tidak hanya menjadi penonton, melainkan terlibat aktif dalam perencanaan, pengelolaan, pengembangan atraksi, hingga menjaga kelestarian lingkungan.

 

Inisiatif ini berawal dari gerakan penghijauan kawasan Gunung Api Purba oleh pemuda desa sejak tahun 1999, dan pengelolaan wisata semakin intensif sejak 2007. Melalui semangat gotong royong dan kearifan lokal, masyarakat Nglanggeran berhasil mengubah desa yang dulunya kering dan gersang menjadi destinasi ekowisata yang menarik.

 

Homestay: Lebih dari 80 homestay tersedia, dikelola langsung oleh warga lokal. Menginap di homestay memberikan pengalaman imersif, di mana wisatawan dapat merasakan suasana pedesaan, berinteraksi dengan penduduk, dan belajar banyak tentang kehidupan serta budaya lokal.

Produk Lokal: Desa Nglanggeran juga terkenal dengan produk olahan kakao dan cokelatnya. Griya Cokelat Nglanggeran adalah pusat produksi dan oleh-oleh khas desa ini. Wisatawan dapat belajar proses pembuatan cokelat dan mencicipi hasilnya.

Edukasi dan Budaya: Berbagai paket wisata edukasi ditawarkan, seperti belajar membatik topeng, kesenian gamelan, budidaya kakao, dan peternakan kambing etawa. Ini memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus melestarikan tradisi.

 

 

Juara UNWTO Best Tourism Villages 2021: Kebanggaan Indonesia

 

Puncak pengakuan atas kerja keras dan komitmen Desa Nglanggeran terhadap pariwisata berkelanjutan adalah penghargaan UNWTO Best Tourism Villages 2021. Pada tanggal 2 Desember 2021, di Sidang Umum UNWTO ke-24 di Madrid, Spanyol, Nglanggeran diumumkan sebagai salah satu dari 44 desa terbaik dari 32 negara di dunia. Ini adalah sebuah prestasi luar biasa, mengingat Nglanggeran menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang meraih gelar tersebut pada tahun itu.

 

Penghargaan ini diberikan kepada desa-desa yang berkomitmen menjadikan pariwisata sebagai kekuatan pendorong pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, dengan mempertimbangkan sembilan kriteria utama: sumber daya alam dan budaya; promosi dan konservasi sumber daya budaya; keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan; potensi dan pengembangan pariwisata serta integrasi rantai nilai; tata kelola dan prioritas pariwisata; infrastruktur dan konektivitas; serta kesehatan, keselamatan, dan keamanan. Sebelumnya, Nglanggeran juga telah menerima penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award 2017 dan ASEAN Sustainable Tourism Award 2018.

 

"Prestasi ini menjadi angin segar di tengah hiruk-pikuk pandemi dan tantangan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja hampir dua tahun belakangan," ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengapresiasi capaian Nglanggeran.

 

Pengakuan global ini tidak hanya meningkatkan citra Nglanggeran sebagai destinasi kelas dunia, tetapi juga memacu semangat masyarakat dan pengelola untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pariwisata berkelanjutan. Tantangan ke depan adalah menjaga momentum ini dan terus mengembangkan sumber daya manusia agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

 

 

Fasilitas dan Aksesibilitas

 

Desa Wisata Nglanggeran telah dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk kenyamanan pengunjung. Tersedia area parkir yang luas, toilet dan mushola yang bersih, serta gazebo dan tempat istirahat. Untuk akomodasi, pilihan homestay yang dikelola warga menjadi nilai tambah tersendiri.

 

Akses menuju Nglanggeran cukup mudah, dengan jalan yang sudah baik dan bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi maupun sewaan. Selama perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan alam khas pegunungan yang menyegarkan.

 




 

Inspirasi dari Nglanggeran

 

Desa Nglanggeran adalah bukti nyata bahwa pariwisata dapat berkembang secara berkelanjutan ketika masyarakat menjadi aktor utamanya. Dari keajaiban geologi Gunung Api Purba yang berusia jutaan tahun, statusnya sebagai Geosite UNESCO, hingga penghargaan bergengsi UNWTO, Nglanggeran telah membuktikan diri sebagai destinasi yang kaya akan pesona alam, budaya, dan kearifan lokal.

 


Dengan perpaduan trekking menantang, pengalaman menginap di homestay yang otentik, serta kesempatan belajar budaya dan produksi lokal, Desa Nglanggeran menawarkan paket wisata komplit yang menginspirasi. Ini bukan hanya tentang destinasi, tetapi tentang semangat sebuah komunitas yang bersatu untuk membangun masa depan yang lebih baik melalui pariwisata yang bertanggung jawab. Mari kunjungi dan rasakan langsung keajaiban Desa Nglanggeran!

 

Spirov Lengking, 62028042090609

Minggu, 16 Agustus 2026

Desa Penglipuran Bangli: Permata Bali yang Lestari dan Mandiri dari Pariwisata Budaya

 Di tengah hiruk pikuk modernisasi Pulau Dewata, tersembunyi sebuah permata yang menjaga erat warisan leluhur, sebuah desa yang bukan hanya indah dipandang mata, tetapi juga kaya akan makna dan kearifan lokal. Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, adalah manifestasi nyata dari harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Dikenal sebagai desa wisata tradisional ikonik, Penglipuran berhasil membuktikan bahwa pariwisata budaya dapat menjadi pilar utama Pendapatan Asli Desa (PADes) yang kuat, sekaligus melestarikan identitas budaya yang tak ternilai. Artikel ini akan membawa Anda menyelami lebih dalam keunikan, daya tarik, dan bagaimana Desa Penglipuran menjadi model pengembangan desa wisata yang berkelanjutan.

 

 

Menguak Pesona Desa Penglipuran: Sebuah Pengantar ke Keindahan Abadi

 

Desa Penglipuran, yang secara administratif terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, adalah sebuah desa adat yang menawarkan ketenangan dan kesejukan yang khas dataran tinggi. Berada di kaki Gunung Batur pada ketinggian sekitar 600-700 meter di atas permukaan laut, desa ini berjarak sekitar 45 kilometer dari Kota Denpasar dan 5 kilometer dari pusat kota Bangli. Nama "Penglipuran" sendiri dipercaya berasal dari kata "Pengeling Pura" yang berarti "tempat suci untuk mengenang para leluhur". Masyarakat asli desa ini diyakini berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani, yang kemudian bermigrasi dan membangun pemukiman dengan konsep yang serupa di lokasi Penglipuran saat ini.

 

Keberadaan Desa Penglipuran telah ada sejak zaman Kerajaan Bangli, sekitar 700 tahun yang lalu. Sejak saat itu, masyarakatnya telah berhasil menjaga dan melestarikan budaya tradisional Bali dalam kehidupan sehari-hari mereka, menjadikan desa ini sebagai salah satu destinasi wisata budaya terkemuka di Bali.

 

 

Arsitektur Tradisional dan Tata Ruang yang Memukau: Ciri Khas Tak Tertandingi

 

Salah satu daya tarik utama Desa Penglipuran yang langsung terlihat adalah arsitektur bangunannya yang seragam dan tatanan tata ruang yang sangat rapi. Desa ini dibangun berdasarkan filosofi Tri Hita Karana, yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesama manusia (Pawongan), dan manusia dengan lingkungan (Palemahan).

 

1.   Tata Ruang Tri Mandala: Konsep ini tercermin dalam pembagian wilayah desa menjadi tiga zona utama. Zona hulu (utama) untuk tempat suci (pura), zona tengah untuk pemukiman penduduk, dan zona hilir untuk pemakaman. Hal ini menciptakan harmoni visual dan fungsional yang sangat estetik.

2.   Angkul-Angkul Seragam: Setiap rumah di Desa Penglipuran memiliki pintu masuk tradisional yang seragam, dikenal sebagai angkul-angkul. Terbuat dari batu bata dengan atap jerami, angkul-angkul ini bukan hanya gerbang fisik, tetapi juga simbol identitas dan kesatuan masyarakat.

3.   Bale Sakenem: Hampir semua rumah penduduk memiliki bangunan bale sakenem, sebuah bangunan arsitektur tradisional Bali dengan enam tiang yang berfungsi untuk mewadahi kegiatan upacara tradisional dan keagamaan.

4.   Kebersihan Luar Biasa: Desa Penglipuran terkenal dengan kebersihannya yang luar biasa, bahkan mendapatkan predikat sebagai salah satu desa terbersih di dunia, berdampingan dengan Desa Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda. Kedisiplinan warga dalam menjaga lingkungan tanpa sampah plastik menjadi daya tarik utama bagi wisatawan internasional.

5.   Hutan Bambu: Sekitar 45 hektar dari luas total desa (112 hektar) adalah hutan bambu yang rimbun. Hutan ini tidak hanya berfungsi sebagai penjaga ekosistem lokal dan sumber material bangunan, tetapi juga menjadi salah satu ikon Penglipuran yang memberikan kesejukan dan keasrian. Desa ini bahkan menerima penghargaan Kalpataru pada tahun 1995 atas usahanya melindungi hutan bambu ini.

 

 

Kearifan Lokal dan Adat Istiadat yang Terjaga Erat

 

Masyarakat Desa Penglipuran secara turun-temurun memegang teguh adat istiadat dan nilai-nilai luhur leluhur mereka. Sistem pemerintahan adat yang dipimpin oleh Bendesa Adat, berlandaskan pada hukum adat yang disebut Awig-Awig, mengatur seluruh aspek kehidupan sosial, budaya, dan tata ruang desa.

 

Beberapa kearifan lokal dan adat istiadat yang menonjol meliputi:

 

1.   Monogami: Salah satu aturan adat yang unik adalah larangan poligami. Bagi yang melanggar, akan diasingkan ke sebuah area khusus yang disebut Karang Memadu, yang berada di luar desa utama.

2.   Kewajiban Beribadah: Masyarakat memiliki kewajiban untuk beribadah di pura-pura utama, termasuk Pura Kehen yang merupakan pura terbesar di kawasan Bangli, serta pura Kahyangan Tiga dan pura keluarga.

3.   Gotong Royong dan Kekeluargaan: Nilai-nilai ini sangat dijunjung tinggi, tercermin dalam setiap kegiatan desa, baik upacara adat maupun pemeliharaan lingkungan.

4.   Pelestarian Lingkungan: Selain kebersihan, masyarakat juga memiliki kesadaran tinggi terhadap pelestarian alam, termasuk larangan membuang sampah sembarangan dan pembatasan kendaraan bermotor di jalan utama desa untuk menjaga ketenangan dan keasrian.

 

 

Pariwisata Budaya sebagai Pilar Ekonomi Desa: Kekuatan PADes dari Kearifan Lokal

 

Desa Penglipuran adalah contoh sukses bagaimana pariwisata budaya dapat menjadi mesin penggerak ekonomi yang kuat bagi masyarakat desa. Keberhasilan desa ini dalam menarik wisatawan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan warga melalui berbagai aktivitas yang terintegrasi dengan sektor pariwisata. Pada tahun 2025, pengelola Desa Wisata Penglipuran bahkan mencatat pendapatan sebesar Rp26 miliar, ditopang oleh tingginya kunjungan wisatawan.

 

Mekanisme pembentukan Pendapatan Asli Desa (PADes) di Penglipuran sangat transparan dan memberdayakan. Sumber retribusi utama berasal dari tiket masuk wisatawan. Dari pendapatan ini, sekitar 60% didistribusikan kepada pengelola desa adat, dan 40% kepada pemerintah daerah. Dana yang diterima desa kemudian dimanfaatkan untuk:

 

1.   Pelestarian Budaya: Mendukung pembiayaan upacara adat, festival budaya seperti Penglipuran Village Festival, dan program-program yang menjaga tradisi.

2.   Pemeliharaan Infrastruktur: Perbaikan jalan, fasilitas umum, dan perawatan rumah-rumah tradisional yang seragam.

3.   Kesejahteraan Masyarakat: Menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga lokal sebagai pengelola homestay, pemandu wisata, pedagang suvenir, dan pengrajin. Dampak ekonomi ini telah meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar 150–300%.

 

"Konsep ini membuat manfaat ekonomi pariwisata kembali berputar di desa, sekaligus menjaga daya tarik dan keberlanjutan destinasi."

 

Desa Penglipuran juga diakui oleh Kementerian Pariwisata (Kemenparekraf) sebagai model pengembangan desa wisata. Keberhasilan Penglipuran dinilai mampu menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal, menjadikannya bagian penting dari Jaringan Desa Wisata (Jadesta) Kemenparekraf. Bahkan, desa ini mulai menggeser strategi pengelolaan dari berbasis volume kunjungan menuju pariwisata berkualitas, dengan fokus pada peningkatan kualitas pengalaman berwisata dan nilai ekonomi bagi masyarakat.

 

 

Pengalaman Tak Terlupakan di Desa Penglipuran: Aktivitas dan Daya Tarik Wisatawan

 

Mengunjungi Desa Penglipuran menawarkan pengalaman yang autentik dan menenangkan. Berbagai aktivitas menarik bisa dilakukan oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara:

 

1.   Menjelajahi Jalan Desa yang Bersih: Berjalan kaki menyusuri jalanan desa yang rapi dengan deretan rumah tradisional ber-angkul-angkul seragam adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.

2.   Mengunjungi Rumah Tradisional: Wisatawan dapat masuk ke beberapa rumah penduduk untuk melihat langsung interior tradisional dan berinteraksi dengan warga setempat, merasakan keramahan khas Bali. Beberapa rumah bahkan menawarkan penginapan (homestay) untuk pengalaman yang lebih mendalam.

3.   Menikmati Keindahan Hutan Bambu: Hutan bambu yang luas dan asri menjadi spot favorit untuk berfoto dan menikmati udara segar.

4.   Mencicipi Kuliner Lokal: Jangan lewatkan kesempatan untuk mencoba jajanan atau minuman khas Penglipuran seperti loloh cemcem, minuman herbal tradisional yang menyegarkan.

5.   Berbelanja Kerajinan Tangan: Masyarakat Penglipuran juga aktif membuat berbagai kerajinan tangan, terutama dari bambu, yang bisa menjadi oleh-oleh unik.

6.   Mengikuti Upacara Adat: Jika beruntung, wisatawan bisa menyaksikan atau bahkan mengikuti upacara adat dan festival budaya yang diselenggarakan secara berkala, seperti Penglipuran Village Festival yang menampilkan tarian Barong Ngelawang dan parade pakaian adat.

 

 

Menjaga Kelestarian: Tantangan dan Komitmen Desa Penglipuran

 

Meskipun sukses dalam pariwisata, Desa Penglipuran juga menghadapi tantangan, terutama dalam menyeimbangkan pengembangan pariwisata dengan pelestarian budaya dan lingkungan. Peningkatan jumlah wisatawan dapat menimbulkan tekanan lingkungan, masalah pengelolaan sampah, dan potensi melebarnya kesenjangan ekonomi. Namun, desa ini menunjukkan komitmen kuat terhadap pariwisata berkelanjutan.

 

Partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan desa wisata, distribusi ekonomi yang adil, serta kebijakan yang mengintegrasikan pelestarian budaya dan lingkungan menjadi kunci keberlanjutan. Adaptasi teknologi digital, seperti sistem pembayaran nontunai (QRIS dan kartu Visa) yang kini mencakup sekitar 40% transaksi, juga diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi. Desa Penglipuran terus berupaya menjadi model pengembangan pariwisata pedesaan berkelanjutan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kancah internasional.

 


 

Mengapa Desa Penglipuran Wajib Masuk Daftar Kunjungan Anda?

 

Desa Penglipuran bukan sekadar destinasi wisata biasa. Ini adalah sebuah pengalaman. Keautentikannya, kebersihannya yang legendaris, kekayaan budaya yang terjaga, serta semangat komunitasnya dalam memberdayakan diri melalui pariwisata menjadikannya tempat yang tak terlupakan. Desa ini adalah bukti hidup bahwa tradisi dapat beriringan dengan kemajuan, menghasilkan kemandirian ekonomi tanpa mengorbankan akar budaya. Jika Anda mencari destinasi yang menawarkan kedamaian, keindahan, dan wawasan mendalam tentang kearifan lokal Bali, Desa Penglipuran adalah jawabannya.

 

Jadi, tunggu apa lagi? Rencanakan perjalanan Anda ke Desa Penglipuran di Bangli dan saksikan sendiri pesona desa adat yang lestari ini. Rasakan langsung keramahan warganya, kagumi arsitektur tradisionalnya, dan nikmati ketenangan di tengah rimbunnya hutan bambu. Desa Penglipuran menanti untuk membagikan kisahnya kepada Anda, sebuah kisah tentang harmoni, tradisi, dan kemandirian.

 

 

Spirov Lengking, 62028061021901