Menguak Pesona Desa Penglipuran:
Sebuah Pengantar ke Keindahan Abadi
Desa
Penglipuran, yang secara administratif terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan
Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, adalah sebuah desa adat yang
menawarkan ketenangan dan kesejukan yang khas dataran tinggi. Berada di kaki
Gunung Batur pada ketinggian sekitar 600-700 meter di atas permukaan laut, desa
ini berjarak sekitar 45 kilometer dari Kota Denpasar dan 5 kilometer dari pusat
kota Bangli. Nama "Penglipuran" sendiri dipercaya berasal dari kata
"Pengeling Pura" yang berarti "tempat suci untuk mengenang para
leluhur". Masyarakat asli desa ini diyakini berasal dari Desa Bayung Gede,
Kintamani, yang kemudian bermigrasi dan membangun pemukiman dengan konsep yang
serupa di lokasi Penglipuran saat ini.
Keberadaan
Desa Penglipuran telah ada sejak zaman Kerajaan Bangli, sekitar 700 tahun yang
lalu. Sejak saat itu, masyarakatnya telah berhasil menjaga dan melestarikan
budaya tradisional Bali dalam kehidupan sehari-hari mereka, menjadikan desa ini
sebagai salah satu destinasi wisata budaya terkemuka di Bali.
Arsitektur Tradisional
dan Tata Ruang yang Memukau: Ciri Khas Tak Tertandingi
Salah
satu daya tarik utama Desa Penglipuran yang langsung terlihat adalah arsitektur
bangunannya yang seragam dan tatanan tata ruang yang sangat rapi. Desa ini
dibangun berdasarkan filosofi Tri Hita Karana, yaitu konsep keharmonisan
hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesama
manusia (Pawongan), dan manusia dengan lingkungan (Palemahan).
1.
Tata Ruang Tri Mandala: Konsep ini tercermin
dalam pembagian wilayah desa menjadi tiga zona utama. Zona hulu (utama) untuk
tempat suci (pura), zona tengah untuk pemukiman penduduk, dan zona hilir untuk
pemakaman. Hal ini menciptakan harmoni visual dan fungsional yang sangat
estetik.
2.
Angkul-Angkul Seragam: Setiap rumah di Desa
Penglipuran memiliki pintu masuk tradisional yang seragam, dikenal sebagai
angkul-angkul. Terbuat dari batu bata dengan atap jerami, angkul-angkul ini
bukan hanya gerbang fisik, tetapi juga simbol identitas dan kesatuan
masyarakat.
3.
Bale Sakenem: Hampir semua rumah penduduk
memiliki bangunan bale sakenem, sebuah bangunan arsitektur tradisional Bali
dengan enam tiang yang berfungsi untuk mewadahi kegiatan upacara tradisional
dan keagamaan.
4.
Kebersihan Luar Biasa: Desa Penglipuran terkenal
dengan kebersihannya yang luar biasa, bahkan mendapatkan predikat sebagai salah
satu desa terbersih di dunia, berdampingan dengan Desa Mawlynnong di India dan
Giethoorn di Belanda. Kedisiplinan warga dalam menjaga lingkungan tanpa sampah
plastik menjadi daya tarik utama bagi wisatawan internasional.
5.
Hutan Bambu: Sekitar 45 hektar dari luas total
desa (112 hektar) adalah hutan bambu yang rimbun. Hutan ini tidak hanya
berfungsi sebagai penjaga ekosistem lokal dan sumber material bangunan, tetapi
juga menjadi salah satu ikon Penglipuran yang memberikan kesejukan dan
keasrian. Desa ini bahkan menerima penghargaan Kalpataru pada tahun 1995 atas
usahanya melindungi hutan bambu ini.
Kearifan Lokal dan Adat
Istiadat yang Terjaga Erat
Masyarakat
Desa Penglipuran secara turun-temurun memegang teguh adat istiadat dan
nilai-nilai luhur leluhur mereka. Sistem pemerintahan adat yang dipimpin oleh
Bendesa Adat, berlandaskan pada hukum adat yang disebut Awig-Awig, mengatur
seluruh aspek kehidupan sosial, budaya, dan tata ruang desa.
Beberapa
kearifan lokal dan adat istiadat yang menonjol meliputi:
1.
Monogami: Salah satu aturan adat yang unik
adalah larangan poligami. Bagi yang melanggar, akan diasingkan ke sebuah area
khusus yang disebut Karang Memadu, yang berada di luar desa utama.
2.
Kewajiban Beribadah: Masyarakat memiliki
kewajiban untuk beribadah di pura-pura utama, termasuk Pura Kehen yang
merupakan pura terbesar di kawasan Bangli, serta pura Kahyangan Tiga dan pura
keluarga.
3.
Gotong Royong dan Kekeluargaan: Nilai-nilai ini
sangat dijunjung tinggi, tercermin dalam setiap kegiatan desa, baik upacara
adat maupun pemeliharaan lingkungan.
4.
Pelestarian Lingkungan: Selain kebersihan,
masyarakat juga memiliki kesadaran tinggi terhadap pelestarian alam, termasuk
larangan membuang sampah sembarangan dan pembatasan kendaraan bermotor di jalan
utama desa untuk menjaga ketenangan dan keasrian.
Pariwisata Budaya
sebagai Pilar Ekonomi Desa: Kekuatan PADes dari Kearifan Lokal
Desa
Penglipuran adalah contoh sukses bagaimana pariwisata budaya dapat menjadi
mesin penggerak ekonomi yang kuat bagi masyarakat desa. Keberhasilan desa ini
dalam menarik wisatawan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan
warga melalui berbagai aktivitas yang terintegrasi dengan sektor pariwisata.
Pada tahun 2025, pengelola Desa Wisata Penglipuran bahkan mencatat pendapatan
sebesar Rp26 miliar, ditopang oleh tingginya kunjungan wisatawan.
Mekanisme
pembentukan Pendapatan Asli Desa (PADes) di Penglipuran sangat transparan dan
memberdayakan. Sumber retribusi utama berasal dari tiket masuk wisatawan. Dari
pendapatan ini, sekitar 60% didistribusikan kepada pengelola desa adat, dan 40%
kepada pemerintah daerah. Dana yang diterima desa kemudian dimanfaatkan untuk:
1.
Pelestarian Budaya: Mendukung pembiayaan upacara
adat, festival budaya seperti Penglipuran Village Festival, dan program-program
yang menjaga tradisi.
2.
Pemeliharaan Infrastruktur: Perbaikan jalan,
fasilitas umum, dan perawatan rumah-rumah tradisional yang seragam.
3.
Kesejahteraan Masyarakat: Menciptakan lapangan
pekerjaan bagi warga lokal sebagai pengelola homestay, pemandu wisata, pedagang
suvenir, dan pengrajin. Dampak ekonomi ini telah meningkatkan pendapatan
masyarakat sekitar 150–300%.
"Konsep ini membuat manfaat ekonomi
pariwisata kembali berputar di desa, sekaligus menjaga daya tarik dan
keberlanjutan destinasi."
Desa
Penglipuran juga diakui oleh Kementerian Pariwisata (Kemenparekraf) sebagai
model pengembangan desa wisata. Keberhasilan Penglipuran dinilai mampu
menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal,
menjadikannya bagian penting dari Jaringan Desa Wisata (Jadesta) Kemenparekraf.
Bahkan, desa ini mulai menggeser strategi pengelolaan dari berbasis volume
kunjungan menuju pariwisata berkualitas, dengan fokus pada peningkatan kualitas
pengalaman berwisata dan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Pengalaman Tak
Terlupakan di Desa Penglipuran: Aktivitas dan Daya Tarik Wisatawan
Mengunjungi
Desa Penglipuran menawarkan pengalaman yang autentik dan menenangkan. Berbagai
aktivitas menarik bisa dilakukan oleh wisatawan, baik domestik maupun
mancanegara:
1.
Menjelajahi Jalan Desa yang Bersih: Berjalan
kaki menyusuri jalanan desa yang rapi dengan deretan rumah tradisional
ber-angkul-angkul seragam adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.
2.
Mengunjungi Rumah Tradisional: Wisatawan dapat
masuk ke beberapa rumah penduduk untuk melihat langsung interior tradisional
dan berinteraksi dengan warga setempat, merasakan keramahan khas Bali. Beberapa
rumah bahkan menawarkan penginapan (homestay) untuk pengalaman yang lebih
mendalam.
3.
Menikmati Keindahan Hutan Bambu: Hutan bambu
yang luas dan asri menjadi spot favorit untuk berfoto dan menikmati udara
segar.
4.
Mencicipi Kuliner Lokal: Jangan lewatkan
kesempatan untuk mencoba jajanan atau minuman khas Penglipuran seperti loloh
cemcem, minuman herbal tradisional yang menyegarkan.
5.
Berbelanja Kerajinan Tangan: Masyarakat
Penglipuran juga aktif membuat berbagai kerajinan tangan, terutama dari bambu,
yang bisa menjadi oleh-oleh unik.
6.
Mengikuti Upacara Adat: Jika beruntung,
wisatawan bisa menyaksikan atau bahkan mengikuti upacara adat dan festival
budaya yang diselenggarakan secara berkala, seperti Penglipuran Village
Festival yang menampilkan tarian Barong Ngelawang dan parade pakaian adat.
Menjaga Kelestarian:
Tantangan dan Komitmen Desa Penglipuran
Meskipun
sukses dalam pariwisata, Desa Penglipuran juga menghadapi tantangan, terutama
dalam menyeimbangkan pengembangan pariwisata dengan pelestarian budaya dan
lingkungan. Peningkatan jumlah wisatawan dapat menimbulkan tekanan lingkungan,
masalah pengelolaan sampah, dan potensi melebarnya kesenjangan ekonomi. Namun,
desa ini menunjukkan komitmen kuat terhadap pariwisata berkelanjutan.
Partisipasi
aktif masyarakat dalam pengelolaan desa wisata, distribusi ekonomi yang adil,
serta kebijakan yang mengintegrasikan pelestarian budaya dan lingkungan menjadi
kunci keberlanjutan. Adaptasi teknologi digital, seperti sistem pembayaran
nontunai (QRIS dan kartu Visa) yang kini mencakup sekitar 40% transaksi, juga
diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi. Desa Penglipuran
terus berupaya menjadi model pengembangan pariwisata pedesaan berkelanjutan,
tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kancah internasional.
Mengapa Desa
Penglipuran Wajib Masuk Daftar Kunjungan Anda?
Desa
Penglipuran bukan sekadar destinasi wisata biasa. Ini adalah sebuah pengalaman.
Keautentikannya, kebersihannya yang legendaris, kekayaan budaya yang terjaga,
serta semangat komunitasnya dalam memberdayakan diri melalui pariwisata
menjadikannya tempat yang tak terlupakan. Desa ini adalah bukti hidup bahwa
tradisi dapat beriringan dengan kemajuan, menghasilkan kemandirian ekonomi
tanpa mengorbankan akar budaya. Jika Anda mencari destinasi yang menawarkan
kedamaian, keindahan, dan wawasan mendalam tentang kearifan lokal Bali, Desa
Penglipuran adalah jawabannya.
Jadi,
tunggu apa lagi? Rencanakan perjalanan Anda ke Desa Penglipuran di Bangli dan
saksikan sendiri pesona desa adat yang lestari ini. Rasakan langsung keramahan
warganya, kagumi arsitektur tradisionalnya, dan nikmati ketenangan di tengah
rimbunnya hutan bambu. Desa Penglipuran menanti untuk membagikan kisahnya
kepada Anda, sebuah kisah tentang harmoni, tradisi, dan kemandirian.
Spirov Lengking, 62028061021901
Tidak ada komentar:
Posting Komentar