________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya
kebetulan belaka.
________________________________________________________________________
NAMA YANG DITULIS DENGAN
PENSIL
Kertas itu terselip di antara
tumpukan koran Berita Yudha tahun 1966 yang sudah berbau apek. Sentiri
menariknya perlahan, khawatir serat kertas yang sudah rapuh itu akan hancur di
jemarinya. Di sana, di sebuah daftar panjang yang diketik dengan mesin tik tua,
terdapat satu nama yang ditulis tangan menggunakan pensil.
Burtogo – Pemuda Rakyat.
Sentiri terpaku. Nama itu
adalah nama ayahnya. Pensilnya tipis, seolah-olah orang yang menulisnya
ragu-ragu atau ingin agar nama itu mudah dihapus di kemudian hari.
"Kertas itu seharusnya
tidak ada di sini, Mak," ucap Sentiri pelan saat ibunya masuk ke dapur
membawa bakul nasi.
Ibunya, seorang perempuan tua
dengan gurat kecemasan yang permanen di wajahnya, menjatuhkan bakul itu hingga
nasi tumpah ke lantai tanah. Matanya menatap kertas di tangan Sentiri.
"Buang, Siri! Buang
sekarang juga!" suara ibunya melengking, bergetar hebat.
"Ini nama Bapak, kan?
Kenapa ada di daftar ini? Kenapa ada tulisan 'Pemuda Rakyat' di
sampingnya?"
"Jangan sebut nama itu!
Kamu mau kita semua diambil?"
Sentiri melangkah maju,
memegang kertas itu lebih erat. "Mak bilang Bapak pergi merantau ke
Sumatra. Mak bilang Bapak bakal pulang kalau tabungannya cukup. Kenapa nama
Bapak ada di daftar sitaan militer ini?"
"Itu kesalahan, Siri.
Nama itu umum. Banyak Burtogo di dunia ini!"
"Tapi Mak menyimpannya di
bawah dasar lemari jati. Di bawah alas baju-baju lama Bapak. Kenapa harus
disimpan kalau itu cuma kesalahan?"
Ibunya terduduk di kursi kayu,
napasnya memburu. "Kamu tidak tahu rasanya, Siri. Tahun-tahun itu...
semuanya merah. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi darah. Bapakmu cuma
ikut-ikutan. Dia cuma suka main bola dan diskusi soal tanah. Dia tidak tahu
apa-apa!"
"Jadi benar, Bapak anggota
organisasi itu?"
"Dia cuma pemuda yang
bersemangat, Siri. Kita semua dulu bersemangat. Tapi semangat itu yang membunuh
dia."
Sentiri menatap baris nama itu
lagi. "Di mana Bapak sekarang, Mak? Katakan yang sejujurnya."
"Dia tidak pernah sampai
ke Sumatra. Mereka membawanya malam itu, tepat setelah daftar itu dibuat."
"Siapa yang membawa?
Siapa yang menulis nama ini dengan pensil?"
Ibunya menutup wajah dengan
kedua tangan, terisak tanpa suara. "Tanya pada Harmang di desa sebelah.
Dia satu-satunya yang pulang. Tapi jangan salahkan Mak kalau setelah ini
hidupmu tidak lagi tenang."
Sentiri melipat kertas itu,
memasukkannya ke dalam saku kebaya. "Aku harus tahu kenapa Bapak harus
hilang karena segores pensil."
"Siri, kalau kamu pergi,
jangan pernah bawa nama itu kembali ke rumah ini!"
***
Desa Ngadirejo tampak tenang,
namun bagi Sentiri, setiap pasang mata yang menatapnya dari balik jendela rumah
gedek terasa seperti belati. Di tahun 1974 ini, pertanyaan tentang masa lalu
adalah tabu yang lebih berat daripada dosa zina. Sentiri berhenti di depan
sebuah gubuk kecil di pinggir sawah. Seorang lelaki tua sedang mengasah arit,
punggungnya membungkuk seolah memikul beban yang tak terlihat.
"Cari siapa, Mbak?"
tanya lelaki itu tanpa menoleh. Suaranya serak, penuh kewaspadaan.
"Saya cari Pak Harmang.
Teman Burtogo," jawab Sentiri tegas.
Lelaki itu berhenti mengasah.
Bunyi gesekan logam dan batu berhenti seketika. Ia menoleh perlahan, matanya
yang keruh menatap Sentiri dengan ketakutan yang murni.
"Tidak ada Harmang di
sini. Nama saya Kromo."
Sentiri mengeluarkan kertas
itu. "Ini daftar Pemuda Rakyat dari kantor distrik dulu. Di bawah nama
Bapak saya, ada nama Harmang. Dan alamat ini satu-satunya yang cocok."
Lelaki itu gemetar. Ia menjatuhkan
aritnya ke tanah. "Simpan kertas itu, Cah Ayu. Tolong, simpan... kalau ada
yang lihat, saya bisa balik ke penjara."
"Saya cuma mau tahu
tentang Bapak saya, Pak Harmang. Apa yang terjadi malam itu?"
Harmang menatap sekeliling,
lalu memberi isyarat agar Sentiri masuk ke dalam gubuk yang gelap dan pengap.
Di dalam, bau kemenyan dan tembakau menyengat.
"Burtogo itu orang
baik," bisik Harmang, suaranya nyaris hilang. "Kami dulu bangga. Kami
pikir kami sedang membangun bangsa. Kami latihan baris-berbaris, baca buku,
bicara soal keadilan. Kami merasa kuat karena kami bersama."
"Lalu kenapa Bapak
ditangkap?"
"Karena seseorang harus
disalahkan. Karena organisasi itu tiba-tiba jadi hantu yang menakutkan. Dalam
satu malam, teman-teman kami berubah jadi pengkhianat. Dan daftar itu... daftar
itu adalah vonis mati."
Sentiri menunjukkan tulisan
pensil itu. "Kenapa nama Bapak ditulis dengan pensil? Sedangkan nama lain
ditulis dengan tinta?"
Harmang menatap tulisan itu,
air mata mulai menggenang di matanya yang keruh. "Karena yang menulisnya
adalah sahabat bapakmu sendiri. Dia petugas administrasi di kantor militer
distrik. Dia ingin menghapus nama Burtogo kalau ada kesempatan. Dia ingin
menyelamatkan kawan bicaranya."
"Lalu kenapa tidak
dihapus?"
"Karena petugas lain
melihatnya duluan. Pensil itu belum sempat digosok hilang, tapi daftar itu
sudah keburu dicap 'Sita'. Karena goresan pensil yang belum sempat dihapus itu,
bapakmu dijemput."
"Ke mana mereka
membawanya?"
Harmang menunduk, tangannya
yang kasar meremas kain celananya yang kusam. "Ke pinggir Kali Brantas.
Malam itu hujan deras, Siri. Saya ada di truk yang sama, tapi saya dilempar
turun karena mereka bilang kuota sudah penuh. Saya cuma beruntung karena mereka
malas mengurus satu orang lagi."
"Bapak... Bapak tidak
pernah sampai ke Sumatra, kan?"
"Sungai itu adalah
kuburan tanpa nisan bagi ribuan orang seperti kami."
Sentiri merasakan dadanya
sesak. Kebenaran itu terasa lebih dingin daripada air sungai yang diceritakan Harmang.
"Siapa yang menulis nama itu, Pak? Siapa sahabat Bapak yang memakai pensil
itu?"
Harmang menatap Sentiri dengan
tatapan memelas. "Jangan dicari, Siri. Dia sekarang orang kuat. Dia sudah
'cuci tangan' dan jadi pejabat di kota."
"Sebutkan namanya."
"Namanya ada di balik
kertas itu, tertulis sangat kecil di pojok bawah."
Sentiri membalik kertas kuning
itu. Di sana, tertulis sebuah nama yang sangat ia kenal. Nama orang yang selama
ini sering memberi bantuan beras dan uang sekolah padanya. Nama orang yang
selalu dipanggil 'Paman' olehnya.
"Paman Handas?"
suara Sentiri tercekat.
"Dia yang paling semangat
mengajak kami masuk organisasi, dan dia juga yang paling cepat menyerahkan
daftar itu untuk menyelamatkan lehernya sendiri."
"Dia bilang dia mencoba
menyelamatkan Bapak!"
"Menyelamatkan dengan
pensil sementara dia sendiri yang menyerahkan kertasnya ke tentara? Itu bukan
menyelamatkan, Siri. Itu menebus dosa dengan nyawa orang lain."
Sentiri berdiri dengan lutut
lemas. "Kenapa dia masih baik pada kami selama ini?"
"Mungkin karena setiap kali
dia melihat wajahmu, dia melihat hantu bapakmu yang menagih janji."
Sentiri melangkah keluar dari
gubuk. Matahari mulai tenggelam, menciptakan bayangan panjang yang tampak
seperti jari-jari hitam yang mencengkeram bumi.
"Siri, apa yang akan kamu
lakukan?" tanya Harmang dari pintu gubuk.
Sentiri menoleh, matanya
berkilat antara amarah dan kesedihan yang mendalam. "Aku punya dua
pilihan: membakar kertas ini dan hidup tenang dengan bantuan beras dari
pembunuh bapakku, atau membawanya ke depan mukanya."
"Ingat, Siri, ini tahun
tujuh puluh empat. Kebenaran bisa membuatmu menyusul bapakmu ke sungai."
Sentiri terdiam cukup lama,
merasakan angin sore yang menusuk tulang. "Pak Harmang, apakah Bapak
menyesal pernah menjadi bagian dari organisasi itu?"
Harmang tersenyum pahit,
memperlihatkan giginya yang tinggal sedikit. "Kami dulu merasa seperti
raksasa yang akan mengubah dunia, tapi ternyata kami hanyalah pion yang bisa
dihapus dengan sekali usap."
"Aku tidak akan menjadi
pion lagi."
"Pulanglah, Siri. Ibumu
sudah cukup menderita."
Sentiri berjalan menjauh,
meninggalkan petani tua yang gemetar itu dalam kegelapan gubuknya. Pikirannya
berkecamuk. Di sakunya, kertas itu terasa sangat berat, seolah membawa beban
ribuan nyawa yang hilang di pinggir sungai.
Sesampainya di rumah, ibunya
sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya cemas, lampu minyak di tangannya
bergoyang-goyang ditiup angin.
"Kamu sudah bertemu
dia?" tanya ibunya lirih.
Sentiri tidak menjawab. Ia
masuk ke dalam rumah, duduk di depan meja makan yang kosong. Ia mengeluarkan
kertas itu dan sebuah korek api kayu.
"Siri, katakan sesuatu.
Apa yang dikatakan Harmang?"
Sentiri menatap ibunya.
"Paman Handas yang menulis nama Bapak di sini, Mak. Pakai pensil."
Ibunya terkesiap, menutup
mulutnya dengan tangan. "Handas... dia bilang dia sudah berjuang
mati-matian di kantor itu untuk mencoret nama bapakmu."
"Dia berbohong. Dia
menyerahkan daftar ini untuk menyelamatkan dirinya sendiri."
Ibunya menangis lagi.
"Lalu sekarang mau apa? Kita hidup dari belas kasihan Handas selama ini.
Sekolahmu, rumah ini... semuanya."
Sentiri menyalakan korek api.
Api kecil itu menari-nari, memantul di bola mata Sentiri yang jernih. Ia
mendekatkan api itu ke sudut kertas yang menguning.
"Jika aku membakar ini,
kebenaran akan hilang selamanya," gumam Sentiri.
"Bakar, Siri. Demi
keselamatan kita. Demi ketenangan bapakmu di sana."
Sentiri melihat api itu mulai
menjilat pinggiran kertas. Namun, sebelum api itu menyentuh nama ayahnya, ia
meniupnya hingga padam. Ia melipat kertas itu kembali dan memasukkannya ke
dalam kutang, tepat di atas jantungnya.
"Siri! Kenapa tidak
dibakar?"
Sentiri menatap ibunya dengan
tatapan yang belum pernah dilihat ibunya sebelumnya—sebuah tatapan yang dewasa
dan penuh tekad yang kuat.
"Karena aku tidak mau
melupakan. Tapi aku juga tidak mau mati sia-sia."
"Terus kamu mau
apa?"
Sentiri berjalan menuju pintu,
menatap kegelapan malam ke arah rumah besar Paman Handas yang terlihat megah di
ujung jalan desa.
"Besok aku akan ke rumah
Paman Handas."
"Siri, jangan! Dia orang
kuat!"
Sentiri berhenti di ambang
pintu, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. "Aku tidak akan
menuntut apa-apa, Mak. Aku cuma ingin melihat matanya saat aku menunjukkan nama
yang ditulis dengan pensil ini."
"Dan kalau dia malah
mencelakaimu?"
Sentiri membalikkan badan,
tersenyum tipis yang terasa menyakitkan. "Dia tidak akan berani. Orang
yang hidup dalam ketakutan selama sepuluh tahun akan melakukan apa saja agar
rahasianya tidak bocor, termasuk mematuhi setiap kata-kataku."
"Kamu mau
memerasnya?"
Sentiri menggeleng perlahan.
"Aku hanya ingin dia tahu, bahwa pensilnya gagal menghapus keberadaan
Bapak dari kepalaku."
"Siri, ini berbahaya
sekali. Kamu bisa hilang seperti bapakmu!"
Sentiri melangkah keluar ke
halaman, membiarkan kegelapan malam menelannya. Dari kejauhan, terdengar suara
anjing melolong, memecah kesunyian desa yang menyimpan ribuan rahasia di bawah
tanahnya.
"Mak, bukankah kita sudah
lama mati sejak Bapak pergi?"
Ibunya mengejarnya sampai ke
pagar. "Lalu apa yang akan kamu katakan padanya besok pagi?"
Sentiri menoleh sedikit,
bayangan wajahnya separuh tertutup kegelapan pohon mangga.
"Aku akan bilang: Paman,
pensil ini ternyata masih sangat tajam setelah sepuluh tahun."
Spirov Lengking, 62029032081318