Sabtu, 18 Juli 2026

Kampak Purba di Jantung Jakarta

 

Lantai teratas Menara Srigala itu biasanya hanya diisi oleh suara denting gelas wiski dan tawa rendah para pria yang merasa memiliki Jakarta. Malam itu, suasana berbeda. Hanya ada keheningan yang menyesakkan sebelum pintu mahoni ganda itu ditendang terbuka.

 

Melin Darosa berdiri di sana. Mantel hitam panjangnya tampak kontras dengan rambut pirang platina yang ia biarkan tergerai. Di tangan kanannya, sebuah benda berat terbungkus kain rami kasar.

 

"Siapa yang kasih izin jalang ini masuk?" Sujag Sadomen bertanya tanpa menoleh dari kursi kebesarannya.

 

"Penjaga lo di bawah udah tidur selamanya, Sujag," sahut Melin dingin.

 

Hendra, tangan kanan Sujag, langsung berdiri dan mencabut pistol dari balik pinggangnya. "Lo nggak tahu lagi berhadapan sama siapa, Cantik. Ini markas Geng Srigala."

 

"Gue tahu persis ini tempat apa," Melin melangkah maju. "Gue terbang dua puluh jam dari New York cuma buat ngelihat muka pengecut kalian dari dekat."

 

Hendra tertawa sinis, moncong pistolnya mengarah tepat ke kening Melin. "Cewek New York nyasar? Mau minta sumbangan atau mau jual diri?"

 

"Gue mau nagih utang darah," Melin membalas tatapan Hendra tanpa kedip.

 

"Hendra, beresin dia. Gue lagi nggak mood denger ocehan bocah," perintah Sujag sambil menyalakan cerutu.

 

"Dengan senang hati, Bos," Hendra menarik pelatuknya.

 

Klik.

 

Tidak ada ledakan. Pistol itu macet. Sebelum Hendra sempat bereaksi, Melin sudah bergerak secepat bayangan. Kain rami itu tersingkap, memperlihatkan sebuah kampak batu hitam legam dengan gagang kayu ulin yang kasar.

 

Brak!

 

Kampak itu menghantam pergelangan tangan Hendra hingga terdengar bunyi tulang remuk yang mengerikan. Hendra melolong, jatuh berlutut sambil memegangi tangannya yang kini hancur tak berbentuk.

 

"Kampak? Hari gini lo pake mainan zaman batu?" Sujag akhirnya berbalik, wajahnya yang penuh kerutan kini tampak tegang.

 

"Ini bukan mainan, Sujag," Melin mengangkat kampak yang bersimbah darah itu. "Ini pesanan khusus dari Cibingbin. Batu kali yang dipahat dengan kebencian selama dua puluh tahun."

 

"Siapa lo sebenarnya?" Sujag berteriak, tangannya mulai meraba laci meja.

 

Melin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang sedingin es. "Lo nggak inget nama Broto Sworo?"

 

Sujag terdiam, cerutu di jarinya terjatuh ke lantai. "Broto? Pengusaha otomotif yang udah mampus di Amerika itu?"

 

"Dia nggak mampus, dia cuma nunggu waktu yang tepat buat ngirim gue ke sini," Melin mendekat ke meja Sujag.

 

"Ngapain lo ke sini?"

 

Bab 2: Skenario Busuk Dua Dekade

Dua puluh tahun yang lalu, Jakarta adalah taman bermain bagi Sujag Sadomen. Di sebuah hotel mewah, Broto Sworo ditemukan pingsan di atas tempat tidur bersama sekretaris salah satu perusahaan Sujag yang sudah tak bernyawa. Kamera wartawan sudah menunggu di depan pintu.

 

"Papah nggak pernah lakuin itu, Melin," ujar Broto Sworo, dua puluh tahun silam di sebuah apartemen sempit di Queens, New York.

 

"Melin tahu, Pah. Kak Bringas juga tahu," sahut Melin kecil, saat itu dia baru berusia lima tahun.

 

Bringas Pranogo, kakak Melin yang saat itu sudah remaja, mengepalkan tinjunya ke dinding. "Sujag Sadomen. Dia yang ngerancang semuanya. Dia yang naruh obat di minuman Papah. Dia yang bunuh sekretaris itu cuma buat ngejebak Papah!"

 

"Bisnis kita hancur, Nak. Rekanan Papah pergi semua. Kita nggak punya apa-apa lagi di Jakarta," keluh Broto dengan suara serak.

 

"Kenapa kita nggak lapor polisi, Pah?" tanya Melin dengan polos.

 

Bringas tertawa pahit. "Polisi? Seluruh petinggi Geng Srigala itu punya saham di kepolisian. Sujag itu raja di sana, Melin."

 

"Kita bakal balik lagi ke sana suatu hari nanti?" Melin menatap kakaknya.

 

Bringas mengusap kepala adiknya. "Bukan buat balik, tapi buat ngeratain mereka dengan tanah."

 

Broto menghela napas panjang, menatap pemandangan kota New York yang dingin dari balik jendela. "Kita harus bertahan hidup dulu. Melin, kamu harus jadi kuat. Jangan pernah percayain orang yang punya senyum manis di Jakarta."

 

"Aku bakal belajar bela diri, Pah. Aku bakal belajar semua jenis senjata," Melin berjanji dengan suara yang terlalu dewasa untuk usianya.

 

"Lo beneran anaknya Broto?" Suara Sujag di masa sekarang memecah lamunan Melin.

 

"Gue anak yang tiap malam dengerin cerita tentang gimana lo ngerampas semua yang Papah punya," Melin menjawab tajam.

 

"Hanya karena masalah bisnis kecil itu?" Sujag mencoba tertawa, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.

 

"Kecil buat lo, tapi itu hidup kami, Sujag!" Melin menghantamkan kampak batunya ke meja jati mahal milik Sujag hingga terbelah dua.

 

"Gue bisa bayar lo! Berapa? Sepuluh miliar? Seratus miliar? Geng Srigala punya uang tak terbatas!" Sujag berteriak histeris.

 

"Uang lo nggak laku di sini," Melin melirik Hendra yang masih mengerang di lantai.

 

"Lo pikir lo bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup setelah bunuh gue?" ancam Sujag.

 

Melin mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat penuh dendam. "Gue nggak berencana keluar dengan cara halus, Sujag."

 

Bab 3: Tempaan Batu Cibingbin

Enam bulan sebelum kedatangannya ke Jakarta, Melin berada di sebuah gubuk kecil di lereng Gunung Ciremai, daerah Cibingbin, Bogor. Di depannya duduk seorang lelaki tua dengan jemari yang kasar dan kuat.

 

"Neng beneran mau kampak dari batu ini? Ini berat, Neng. Bukan buat perempuan kayak Neng yang kelihatannya hidup enak di luar negeri," ujar Abah Karso, sang pengrajin batu.

 

"Saya butuh sesuatu yang nggak bisa dideteksi metal detector, Abah. Sesuatu yang hancurin tulang tanpa harus ngeluarin suara tembakan," Melin menjawab tenang.

 

"Batu ini diambil dari dasar sungai yang paling dalam. Saya pahat pake doa-doa kuno. Sekali hantam, nyawa bisa melayang," Abah Karso mengelus permukaan batu hitam yang tajam itu.

 

"Sesuai yang saya minta?" Melin memastikan.

 

"Gagang kayu ulin ini saya rendam di minyak khusus selama setahun. Nggak bakal patah, meski Neng pake buat belah batu karang," Abah menyerahkan senjata itu.

 

Melin menggenggam gagangnya. Terasa pas di tangannya. Dingin dan mematikan.

 

"Berapa saya harus bayar?"


 

"Nggak usah bayar pake uang, Neng. Saya tahu siapa yang mau Neng habisi. Srigala-srigala itu udah terlalu lama nindas orang kecil di sini," Abah Karso meludah ke tanah.

 

"Abah kenal Geng Srigala?"

 

"Siapa yang nggak kenal setan? Anak saya hilang sepuluh tahun lalu karena nolak tanahnya diambil Sujag. Bawa kampak ini, Neng. Biar dia ngerasain sakitnya dihantam bumi yang dia injak-injak," pinta sang pengrajin.

 

Kembali ke kantor Sujag, Melin memutar-mutar kampak itu di tangannya. "Lo denger itu, Sujag? Bumi pun benci sama lo."

 

"Tolong... Melin... gue punya keluarga..." Sujag mulai merengek, wajahnya pucat pasi.

 

"Papah gue juga punya keluarga pas lo hancurin dia!" Melin berteriak.

 

"Gue bakal kasih tahu lo di mana semua aset ilegal Geng Srigala! Lo bisa jadi ratu di Jakarta!" Sujag mencoba negosiasi terakhir.

 

"Gue lebih suka jadi algojo lo," Melin mengangkat kampaknya tinggi-tinggi.

 

"Tunggu! Siapa lagi yang lo incar?" Sujag gemetar hebat.

 

"Semuanya. Nggak akan ada satu pun petinggi Srigala yang bernapas besok pagi," Melin memastikan dengan nada datar.

 

"Lo gila... lo bener-bener iblis dari New York," Sujag bergumam pasrah.

 

"Salah," Melin mengoreksi. "Gue cuma putri yang berbakti."

 

Bab 4: Malam Berdarah di Jakarta

Pintu kantor itu terkunci dari dalam. Di luar, anak buah Sujag mulai berkumpul setelah mendengar kegaduhan. Mereka mencoba mendobrak, tapi pintu itu terbuat dari baja yang dilapisi kayu jati.

 

"Buka pintunya, Bos! Kalian di dalam?" teriak salah satu bodyguard.

 

Di dalam ruangan, Melin sudah berdiri di atas tubuh Sujag yang bersimbah darah. Kampak batu itu tidak lagi berwarna hitam, melainkan merah pekat. Sujag masih bernapas, tapi kedua kakinya sudah tak lagi berfungsi.

 

"Sakit, Sujag?" Melin berbisik di telinga pria tua itu.

 

"Bunuh... bunuh gue sekarang..." Sujag memohon dengan suara yang hampir tidak terdengar.

 

"Terlalu mudah kalau lo mati sekarang. Gue mau lo lihat gimana kerajaan yang lo bangun pake darah orang lain ini runtuh dalam semalam," Melin menyalakan tablet di atas meja.

 

Di layar tablet, terlihat gudang-gudang besar milik Geng Srigala di pelabuhan mulai meledak satu per satu. Bringas Pranogo melakukan tugasnya dari jarak jauh dengan tim tentara bayaran yang mereka sewa dari New York.

 

"Itu bisnis narkoba lo, kan? Dan itu... oh, itu pabrik onderdil palsu lo," Melin menunjukkan setiap ledakan dengan nada seperti sedang menonton kembang api.

 

"Gue... gue bakal hancurin keluarga lo... di neraka nanti..." Sujag terbatuk darah.

 

"Neraka itu buat lo, Sujag. Gue cuma nganterin lo ke pintunya," Melin mengangkat kampaknya sekali lagi.

 

Brak!

 

Pintu akhirnya jebol. Sepuluh orang bersenjata masuk ke ruangan itu, tapi mereka terpaku melihat pemandangan di depan mereka. Boss besar mereka sudah tidak berbentuk di bawah kaki seorang wanita cantik.

 

"Tembak dia! Cepat tembak!" Hendra yang masih hidup berteriak dari sudut ruangan.

 

Melin tidak lari. Dia justru menerjang ke arah mereka dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Kampak batu itu bekerja dengan efisiensi yang mengerikan. Setiap ayunan berarti satu nyawa yang melayang.

 

Ruangan itu berubah menjadi tempat jagal. Peluru-peluru berterbangan, tapi Melin seolah tahu ke mana arah peluru itu sebelum diletuskan. Dia menggunakan tubuh-tubuh anak buah Sujag sebagai perisai, sebelum akhirnya menghujamkan kampaknya ke kepala mereka.

 

Hanya dalam waktu sepuluh menit, ruangan itu sunyi kembali. Melin berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat, napasnya sedikit memburu. Mantel hitamnya kini basah oleh darah.

 

Dia berjalan kembali ke arah Sujag yang masih sedikit tersengal. Melin mengambil ponsel dari saku mantelnya dan melakukan panggilan video.

 

"Pah, lihat ini," Melin mengarahkan kamera ke wajah Sujag yang hancur.

 

Di layar ponsel, Broto Sworo yang kini sudah tua dan duduk di kursi roda, menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca. "Cukup, Melin. Selesaikan."

 

"Sesuai perintah, Pah," Melin menutup teleponnya.

 

Dia menatap Sujag untuk terakhir kalinya. Pria itu menatapnya dengan penuh ketakutan, sebuah pandangan yang sama dengan yang diberikan para korban Sujag selama dua puluh tahun terakhir.

 

Melin mengangkat kampak batunya, mengincar titik di mana kehidupan Sujag akan berakhir sepenuhnya.

 

"Ada kata-kata terakhir, Sujag?"

 

"S-setan..."

 

"Bukan, ini cuma balasan dari Cibingbin."

 

Melin menghantamkan kampaknya dengan kekuatan penuh, membelah meja dan apa pun yang ada di bawahnya. Geng Srigala telah tamat.

 

Melin berjalan keluar dari ruangan itu melalui balkon. Dia menatap langit Jakarta yang mulai memerah karena api dari gudang-gudang yang meledak di kejauhan. Dia membuang kampak batu itu ke dalam kolam renang yang ada di bawah balkon, membiarkannya tenggelam bersama rahasia malam itu.

 

Dia mengambil walkie-talkie kecil dari telinganya.

 

"Kak Bringas, jemput gue di titik biasa."

 

"Misi selesai, Melin?" suara kakaknya terdengar dari seberang.

 

"Jakarta sudah bersih dari anjing-anjing itu," Melin menjawab sambil melangkah tenang menuju helipad.

 

"Lo siap buat pulang ke New York?"

 

"Belum, gue mau mampir ke Cibingbin sebentar buat balikin kayu ulin ini ke Abah Karso."

 

"Kenapa nggak langsung ke bandara aja?"

 

"Gue butuh kampak baru untuk target kita selanjutnya di Singapura."

 

Spirov Lengking, 620270812311