Lantai teratas Menara
Srigala itu biasanya hanya diisi oleh suara denting gelas wiski dan tawa rendah
para pria yang merasa memiliki Jakarta. Malam itu, suasana berbeda. Hanya ada
keheningan yang menyesakkan sebelum pintu mahoni ganda itu ditendang terbuka.
Melin Darosa berdiri
di sana. Mantel hitam panjangnya tampak kontras dengan rambut pirang platina
yang ia biarkan tergerai. Di tangan kanannya, sebuah benda berat terbungkus
kain rami kasar.
"Siapa yang
kasih izin jalang ini masuk?" Sujag Sadomen bertanya tanpa menoleh dari
kursi kebesarannya.
"Penjaga lo di
bawah udah tidur selamanya, Sujag," sahut Melin dingin.
Hendra, tangan kanan Sujag,
langsung berdiri dan mencabut pistol dari balik pinggangnya. "Lo nggak
tahu lagi berhadapan sama siapa, Cantik. Ini markas Geng Srigala."
"Gue tahu persis
ini tempat apa," Melin melangkah maju. "Gue terbang dua puluh jam
dari New York cuma buat ngelihat muka pengecut kalian dari dekat."
Hendra tertawa sinis,
moncong pistolnya mengarah tepat ke kening Melin. "Cewek New York nyasar?
Mau minta sumbangan atau mau jual diri?"
"Gue mau nagih
utang darah," Melin membalas tatapan Hendra tanpa kedip.
"Hendra, beresin
dia. Gue lagi nggak mood denger ocehan bocah," perintah Sujag sambil
menyalakan cerutu.
"Dengan senang
hati, Bos," Hendra menarik pelatuknya.
Klik.
Tidak ada ledakan.
Pistol itu macet. Sebelum Hendra sempat bereaksi, Melin sudah bergerak secepat
bayangan. Kain rami itu tersingkap, memperlihatkan sebuah kampak batu hitam
legam dengan gagang kayu ulin yang kasar.
Brak!
Kampak itu menghantam
pergelangan tangan Hendra hingga terdengar bunyi tulang remuk yang mengerikan.
Hendra melolong, jatuh berlutut sambil memegangi tangannya yang kini hancur tak
berbentuk.
"Kampak? Hari
gini lo pake mainan zaman batu?" Sujag akhirnya berbalik, wajahnya yang
penuh kerutan kini tampak tegang.
"Ini bukan
mainan, Sujag," Melin mengangkat kampak yang bersimbah darah itu.
"Ini pesanan khusus dari Cibingbin. Batu kali yang dipahat dengan
kebencian selama dua puluh tahun."
"Siapa lo
sebenarnya?" Sujag berteriak, tangannya mulai meraba laci meja.
Melin tersenyum
tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang sedingin es. "Lo
nggak inget nama Broto Sworo?"
Sujag terdiam, cerutu
di jarinya terjatuh ke lantai. "Broto? Pengusaha otomotif yang udah mampus
di Amerika itu?"
"Dia nggak
mampus, dia cuma nunggu waktu yang tepat buat ngirim gue ke sini," Melin
mendekat ke meja Sujag.
"Ngapain lo ke
sini?"
Bab 2: Skenario Busuk
Dua Dekade
Dua puluh tahun yang
lalu, Jakarta adalah taman bermain bagi Sujag Sadomen. Di sebuah hotel mewah,
Broto Sworo ditemukan pingsan di atas tempat tidur bersama sekretaris salah
satu perusahaan Sujag yang sudah tak bernyawa. Kamera wartawan sudah menunggu
di depan pintu.
"Papah nggak
pernah lakuin itu, Melin," ujar Broto Sworo, dua puluh tahun silam di
sebuah apartemen sempit di Queens, New York.
"Melin tahu,
Pah. Kak Bringas juga tahu," sahut Melin kecil, saat itu dia baru berusia
lima tahun.
Bringas Pranogo,
kakak Melin yang saat itu sudah remaja, mengepalkan tinjunya ke dinding. "Sujag
Sadomen. Dia yang ngerancang semuanya. Dia yang naruh obat di minuman Papah.
Dia yang bunuh sekretaris itu cuma buat ngejebak Papah!"
"Bisnis kita
hancur, Nak. Rekanan Papah pergi semua. Kita nggak punya apa-apa lagi di
Jakarta," keluh Broto dengan suara serak.
"Kenapa kita
nggak lapor polisi, Pah?" tanya Melin dengan polos.
Bringas tertawa
pahit. "Polisi? Seluruh petinggi Geng Srigala itu punya saham di kepolisian.
Sujag itu raja di sana, Melin."
"Kita bakal
balik lagi ke sana suatu hari nanti?" Melin menatap kakaknya.
Bringas mengusap
kepala adiknya. "Bukan buat balik, tapi buat ngeratain mereka dengan
tanah."
Broto menghela napas
panjang, menatap pemandangan kota New York yang dingin dari balik jendela.
"Kita harus bertahan hidup dulu. Melin, kamu harus jadi kuat. Jangan
pernah percayain orang yang punya senyum manis di Jakarta."
"Aku bakal
belajar bela diri, Pah. Aku bakal belajar semua jenis senjata," Melin
berjanji dengan suara yang terlalu dewasa untuk usianya.
"Lo beneran
anaknya Broto?" Suara Sujag di masa sekarang memecah lamunan Melin.
"Gue anak yang
tiap malam dengerin cerita tentang gimana lo ngerampas semua yang Papah
punya," Melin menjawab tajam.
"Hanya karena
masalah bisnis kecil itu?" Sujag mencoba tertawa, meski keringat dingin
mulai membasahi dahinya.
"Kecil buat lo,
tapi itu hidup kami, Sujag!" Melin menghantamkan kampak batunya ke meja
jati mahal milik Sujag hingga terbelah dua.
"Gue bisa bayar
lo! Berapa? Sepuluh miliar? Seratus miliar? Geng Srigala punya uang tak
terbatas!" Sujag berteriak histeris.
"Uang lo nggak
laku di sini," Melin melirik Hendra yang masih mengerang di lantai.
"Lo pikir lo
bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup setelah bunuh gue?" ancam Sujag.
Melin mencondongkan
tubuhnya ke depan, matanya berkilat penuh dendam. "Gue nggak berencana
keluar dengan cara halus, Sujag."
Bab 3: Tempaan Batu
Cibingbin
Enam bulan sebelum
kedatangannya ke Jakarta, Melin berada di sebuah gubuk kecil di lereng Gunung
Ciremai, daerah Cibingbin, Bogor. Di depannya duduk seorang lelaki tua dengan
jemari yang kasar dan kuat.
"Neng beneran
mau kampak dari batu ini? Ini berat, Neng. Bukan buat perempuan kayak Neng yang
kelihatannya hidup enak di luar negeri," ujar Abah Karso, sang pengrajin
batu.
"Saya butuh
sesuatu yang nggak bisa dideteksi metal detector, Abah. Sesuatu yang hancurin
tulang tanpa harus ngeluarin suara tembakan," Melin menjawab tenang.
"Batu ini
diambil dari dasar sungai yang paling dalam. Saya pahat pake doa-doa kuno.
Sekali hantam, nyawa bisa melayang," Abah Karso mengelus permukaan batu
hitam yang tajam itu.
"Sesuai yang
saya minta?" Melin memastikan.
"Gagang kayu
ulin ini saya rendam di minyak khusus selama setahun. Nggak bakal patah, meski
Neng pake buat belah batu karang," Abah menyerahkan senjata itu.
Melin menggenggam
gagangnya. Terasa pas di tangannya. Dingin dan mematikan.
"Berapa saya
harus bayar?"
"Nggak usah
bayar pake uang, Neng. Saya tahu siapa yang mau Neng habisi. Srigala-srigala
itu udah terlalu lama nindas orang kecil di sini," Abah Karso meludah ke
tanah.
"Abah kenal Geng
Srigala?"
"Siapa yang
nggak kenal setan? Anak saya hilang sepuluh tahun lalu karena nolak tanahnya
diambil Sujag. Bawa kampak ini, Neng. Biar dia ngerasain sakitnya dihantam bumi
yang dia injak-injak," pinta sang pengrajin.
Kembali ke kantor Sujag,
Melin memutar-mutar kampak itu di tangannya. "Lo denger itu, Sujag? Bumi
pun benci sama lo."
"Tolong...
Melin... gue punya keluarga..." Sujag mulai merengek, wajahnya pucat pasi.
"Papah gue juga
punya keluarga pas lo hancurin dia!" Melin berteriak.
"Gue bakal kasih
tahu lo di mana semua aset ilegal Geng Srigala! Lo bisa jadi ratu di
Jakarta!" Sujag mencoba negosiasi terakhir.
"Gue lebih suka
jadi algojo lo," Melin mengangkat kampaknya tinggi-tinggi.
"Tunggu! Siapa
lagi yang lo incar?" Sujag gemetar hebat.
"Semuanya. Nggak
akan ada satu pun petinggi Srigala yang bernapas besok pagi," Melin
memastikan dengan nada datar.
"Lo gila... lo
bener-bener iblis dari New York," Sujag bergumam pasrah.
"Salah,"
Melin mengoreksi. "Gue cuma putri yang berbakti."
Bab 4: Malam Berdarah
di Jakarta
Pintu kantor itu
terkunci dari dalam. Di luar, anak buah Sujag mulai berkumpul setelah mendengar
kegaduhan. Mereka mencoba mendobrak, tapi pintu itu terbuat dari baja yang
dilapisi kayu jati.
"Buka pintunya,
Bos! Kalian di dalam?" teriak salah satu bodyguard.
Di dalam ruangan,
Melin sudah berdiri di atas tubuh Sujag yang bersimbah darah. Kampak batu itu
tidak lagi berwarna hitam, melainkan merah pekat. Sujag masih bernapas, tapi
kedua kakinya sudah tak lagi berfungsi.
"Sakit, Sujag?"
Melin berbisik di telinga pria tua itu.
"Bunuh... bunuh
gue sekarang..." Sujag memohon dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Terlalu mudah
kalau lo mati sekarang. Gue mau lo lihat gimana kerajaan yang lo bangun pake
darah orang lain ini runtuh dalam semalam," Melin menyalakan tablet di
atas meja.
Di layar tablet,
terlihat gudang-gudang besar milik Geng Srigala di pelabuhan mulai meledak satu
per satu. Bringas Pranogo melakukan tugasnya dari jarak jauh dengan tim tentara
bayaran yang mereka sewa dari New York.
"Itu bisnis
narkoba lo, kan? Dan itu... oh, itu pabrik onderdil palsu lo," Melin
menunjukkan setiap ledakan dengan nada seperti sedang menonton kembang api.
"Gue... gue bakal
hancurin keluarga lo... di neraka nanti..." Sujag terbatuk darah.
"Neraka itu buat
lo, Sujag. Gue cuma nganterin lo ke pintunya," Melin mengangkat kampaknya
sekali lagi.
Brak!
Pintu akhirnya jebol.
Sepuluh orang bersenjata masuk ke ruangan itu, tapi mereka terpaku melihat
pemandangan di depan mereka. Boss besar mereka sudah tidak berbentuk di bawah
kaki seorang wanita cantik.
"Tembak dia!
Cepat tembak!" Hendra yang masih hidup berteriak dari sudut ruangan.
Melin tidak lari. Dia
justru menerjang ke arah mereka dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Kampak
batu itu bekerja dengan efisiensi yang mengerikan. Setiap ayunan berarti satu
nyawa yang melayang.
Ruangan itu berubah
menjadi tempat jagal. Peluru-peluru berterbangan, tapi Melin seolah tahu ke
mana arah peluru itu sebelum diletuskan. Dia menggunakan tubuh-tubuh anak buah Sujag
sebagai perisai, sebelum akhirnya menghujamkan kampaknya ke kepala mereka.
Hanya dalam waktu
sepuluh menit, ruangan itu sunyi kembali. Melin berdiri di tengah-tengah
tumpukan mayat, napasnya sedikit memburu. Mantel hitamnya kini basah oleh
darah.
Dia berjalan kembali
ke arah Sujag yang masih sedikit tersengal. Melin mengambil ponsel dari saku
mantelnya dan melakukan panggilan video.
"Pah, lihat
ini," Melin mengarahkan kamera ke wajah Sujag yang hancur.
Di layar ponsel,
Broto Sworo yang kini sudah tua dan duduk di kursi roda, menatap layar itu
dengan mata berkaca-kaca. "Cukup, Melin. Selesaikan."
"Sesuai
perintah, Pah," Melin menutup teleponnya.
Dia menatap Sujag
untuk terakhir kalinya. Pria itu menatapnya dengan penuh ketakutan, sebuah
pandangan yang sama dengan yang diberikan para korban Sujag selama dua puluh
tahun terakhir.
Melin mengangkat kampak
batunya, mengincar titik di mana kehidupan Sujag akan berakhir sepenuhnya.
"Ada kata-kata
terakhir, Sujag?"
"S-setan..."
"Bukan, ini cuma
balasan dari Cibingbin."
Melin menghantamkan
kampaknya dengan kekuatan penuh, membelah meja dan apa pun yang ada di
bawahnya. Geng Srigala telah tamat.
Melin berjalan keluar
dari ruangan itu melalui balkon. Dia menatap langit Jakarta yang mulai memerah
karena api dari gudang-gudang yang meledak di kejauhan. Dia membuang kampak
batu itu ke dalam kolam renang yang ada di bawah balkon, membiarkannya
tenggelam bersama rahasia malam itu.
Dia mengambil
walkie-talkie kecil dari telinganya.
"Kak Bringas,
jemput gue di titik biasa."
"Misi selesai,
Melin?" suara kakaknya terdengar dari seberang.
"Jakarta sudah bersih dari anjing-anjing itu," Melin menjawab sambil melangkah tenang menuju helipad.
"Lo siap buat
pulang ke New York?"
"Belum, gue mau
mampir ke Cibingbin sebentar buat balikin kayu ulin ini ke Abah Karso."
"Kenapa nggak
langsung ke bandara aja?"
"Gue butuh
kampak baru untuk target kita selanjutnya di Singapura."
Spirov Lengking, 620270812311
Tidak ada komentar:
Posting Komentar