Fenomena
golput, alias golongan putih, bukan lagi sekadar bumbu penyedap dalam setiap
perhelatan demokrasi. Kini, ia menjelma menjadi hidangan utama yang disajikan
dengan bumbu kemuakan, kekecewaan, dan sejuta sumpah serapah. Banyak yang
merasa, daripada memilih yang itu-itu saja, atau yang sama-sama busuknya, lebih
baik tidur di rumah, nonton serial drama Korea, atau scroll TikTok sampai
jempol keriting. Tapi, apakah sikap "ngambek" massal ini benar-benar
solusi, atau justru membuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang gemar bermain
sulap kekuasaan? Untuk mengupas tuntas dilema ini, kami berkesempatan
mewawancarai seorang pakar yang (KONON, KATANYA) sudah kenyang asam garam
politik, Profesor Dr. Ngantuk Banget, M.Pol.Sci.
1.
Sesi Wawancara Eksklusif
dengan Profesor Ngantuk Banget
Interviewer (I): Selamat siang, Prof. Terima kasih
sudah bersedia meluangkan waktu di tengah jadwal Anda yang (kami yakin) sangat
padat untuk tidur siang. Prof, fenomena golput karena muak ini semakin marak.
Menurut Anda, apakah ini bentuk protes cerdas atau cuma luapan emosi sesaat?
Prof. Ngantuk Banget (PNB): (Menguap lebar, lalu
menyeruput kopi hitamnya yang entah sudah ke berapa) Ah, "protes
cerdas" atau "luapan emosi"? Keduanya bisa jadi. Ibaratnya
begini, Mas. Anda pacaran bertahun-tahun, tapi si dia hobinya selingkuh,
bohong, janji manis doang, terus ujung-ujungnya minta pulsa. Lama-lama kan Anda
muak, jengah, lalu bilang, "Udah deh, putus aja! Mending jomblo daripada
makan hati terus!" Nah, golput ini mirip itu. Rakyat ini sudah terlalu sering
dipacari sama politisi yang PHP (Pemberi Harapan Palsu). Wajar kalau akhirnya
mereka memutuskan untuk "putus hubungan" sementara. Mereka berharap,
dengan putus, si politisi akan sadar dan berubah. Tapi ya, namanya juga
harapan, kadang semanis janji kampanye.
I: Analogi yang menarik, Prof. Jadi, Anda melihat
golput sebagai semacam "silent treatment" [perlakuan diam; ngeneng;
ngetokne; njothak; mbuh ra urus] dari rakyat kepada para politisi? Apakah ini
efektif sebagai solusi untuk mendorong perubahan?
PNB: (Mengangguk pelan, matanya sedikit terbuka)
"Silent treatment" yang sangat sunyi, sampai-sampai yang di-silent
tidak merasa kalau lagi di-silent. Begini, Mas. Dalam sebuah pertandingan sepak
bola, kalau kipernya mogok main karena muak dengan beknya yang sering blunder,
apa yang terjadi? Gawangnya kebobolan, kan? Nah, pemilu itu pertandingan.
Golput itu ibarat kiper yang mogok. Memang, ada pesan protes di sana,
"Kami muak dengan kalian yang mainnya begitu-begitu saja!" Tapi di
sisi lain, gawangnya jadi kosong. Bola-bola liar bisa masuk dengan mudah. Mereka
yang tidak golput, yang mungkin punya agenda tersembunyi, atau yang memang
punya kepentingan, akan dengan mudah mengisi kekosongan itu dan mencetak gol.
Jadi, efektif sebagai solusi? Tergantung. Efektifkah membuat politisi kaget?
Mungkin. Efektifkah membuat perubahan nyata? Belum tentu. Bisa jadi malah
mempermudah manipulasi kekuasaan karena suara kritis yang seharusnya ada, jadi
tidak terwakili.
I: Berarti Anda melihat golput ini justru punya
risiko mempermudah manipulasi kekuasaan?
PNB: Tentu saja! Bayangkan sebuah meja prasmanan.
Kalau banyak orang tidak mau ambil makanan karena merasa makanannya tidak enak,
siapa yang senang? Tentu saja yang doyan dan tidak peduli rasa, atau yang
memang sudah merencanakan untuk menghabiskan semua makanan itu sendirian. Suara
kita itu bukan cuma angka, Mas. Itu adalah legitimasi. Itu adalah kekuatan
tawar. Ketika Anda memilih golput, Anda secara tidak langsung menyerahkan
kekuatan tawar Anda kepada orang lain. Anda menyerahkan hak Anda untuk
menentukan siapa yang akan duduk di kursi kekuasaan. Dan percayalah, tidak ada
kursi kosong di politik. Kalau Anda tidak mendudukinya, pasti ada orang lain
yang akan dengan senang hati melompat dan mendudukinya, bahkan mungkin sambil
tertawa kecil, "Wah, rezeki anak saleh!"
I: Jadi, menurut Anda, apa yang harus dilakukan oleh
masyarakat yang sudah terlanjur "muak" ini? Apakah mereka harus tetap
memilih, meskipun dengan hati yang berat?
PNB: (Menghela napas panjang, lalu tersenyum getir)
Ini pertanyaan sejuta umat, Mas. Kalau saya ditanya, "Apa yang harus
dilakukan?" Ya, lakukanlah apa yang menurut Anda paling tidak merugikan.
Kalau Anda muak dengan semua pilihan, cobalah cari yang "paling tidak
busuk," atau yang "busuknya tidak terlalu bau." Ini bukan
tentang mencari pangeran berkuda putih, Mas. Ini tentang mencari kuda yang
pincangnya tidak terlalu parah, atau setidaknya tidak ada kudisnya. Atau, kalau
memang tidak ada sama sekali, ya cari cara lain untuk menyuarakan ketidakpuakan
Anda. Jangan cuma rebahan sambil menggerutu di media sosial. Aktiflah di
komunitas, desak para pembuat kebijakan, atau bahkan, kalau Anda cukup gila,
dirikan partai sendiri! Tapi ya, jangan kaget kalau nanti Anda sendiri yang
dicap "badut politik" juga. Politik itu lingkaran setan yang penuh
godaan, Mas.
I: Terakhir, Prof, ada pesan untuk para calon
pemilih yang sedang galau antara golput atau memilih dengan terpaksa?
PNB: Pesan saya, jangan terlalu serius. Politik itu
seperti drama komedi putar. Kadang bikin ketawa, kadang bikin nangis, tapi
seringnya bikin pusing. Golput itu hak Anda, tapi ingat, setiap hak punya
konsekuensi. Kalau Anda golput, jangan kaget kalau nanti kebijakan yang lahir
tidak sesuai harapan Anda. Ibaratnya, Anda tidak ikut masak, tapi protes
makanannya tidak enak. Ya siapa suruh tidak ikut campur dari awal? Intinya,
gunakan akal sehat Anda, jangan cuma pakai emosi. Dan jangan lupa, ngopi biar
tidak ngantuk saat menelaah janji-janji kampanye. Siapa tahu ada yang nyelip
janji kopi gratis seumur hidup. Itu baru layak diperjuangkan!
"Golput itu seperti Anda
mogok makan di restoran yang makanannya tidak enak. Anda memang tidak makan,
tapi restoran itu tetap ramai dan si koki tetap kaya raya. Malah, porsi Anda
bisa diambil orang lain!"— Prof. Dr. Ngantuk Banget, M.Pol.Sci.
2.
Kesimpulan ala Penulis:
Antara Bantal dan Karpet Merah
Dari
obrolan santai dengan Prof. Ngantuk Banget, kita bisa menyimpulkan bahwa dilema
golput ini memang tak sesederhana membalik telapak tangan. Di satu sisi, golput
adalah ekspresi kemuakan yang valid, sebuah "revolusi bantal" di mana
pemilih memilih untuk tidak berpartisipasi karena merasa tidak ada yang layak
dipilih. Ini adalah teriakan sunyi yang berharap didengar. Namun, di sisi lain,
teriakan sunyi ini juga berisiko tinggi. Ia bisa jadi "karpet merah"
yang empuk bagi para manipulator kekuasaan, para pemain lama yang justru
diuntungkan oleh absennya suara-suara kritis.
Pada
akhirnya, pilihan ada di tangan masing-masing. Apakah kita akan memilih untuk
rebahan di rumah, berharap perubahan datang sendiri? Atau, apakah kita akan
tetap berpartisipasi, meskipun dengan hati yang dongkol, setidaknya untuk
memastikan bahwa "badut politik" yang terpilih adalah badut yang
paling tidak menakutkan? Seperti kata Prof. Ngantuk Banget, politik itu drama
komedi putar. Kita boleh muak, boleh kesal, tapi jangan sampai kemuakan itu
justru membuat kita kehilangan kekuatan dan menyerahkan panggung begitu saja
kepada mereka yang siap menari di atas penderitaan kita. Mungkin, sudah saatnya
kita berhenti berharap pada pangeran berkuda putih, dan mulai mencari kuda yang
setidaknya tidak terlalu bau kencur. Atau, kalau tidak ada, ya kita jadi joki
saja, siapa tahu bisa mengarahkan kuda yang ada ke arah yang lebih baik. Siapa
tahu?
Spirov
Lengking, 620270201034

