Sabtu, 15 Agustus 2026

Kemarahan Sang Algojo

 


Salju tipis mulai turun di halaman Mal Arktika, ibu kota Republik Norjara. Raka Voss merapatkan jaket parkirnya yang sudah memudar warnanya. Di bawah lampu neon yang berkedip, ia mengarahkan sebuah sedan mewah ke slot kosong.

 

"Terus, terus... yak, op!" Raka meniup tangannya yang beku.

 

"Makasih, Pak. Dingin banget ya malam ini?" tanya si pengemudi sambil menyodorkan koin perak Norjara.

 

"Selalu dingin di sini, Nak. Hati-hati langkahnya, lantainya licin," jawab Raka datar.

 

Suara radio panggil di pinggangnya berderit. Raka menjauh dari keramaian, menatap arloji tuanya. Pukul lima sore. Harusnya Lira sudah sampai di rumah. Lira adalah satu-satunya alasan jantungnya masih berdetak di negara yang beku ini.

 

Ponselnya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal.

 

"Halo?"

 

"Ini dengan wali dari Lira Voss?" Suara di seberang sana terdengar panik, diringi suara sirene.

 

Raka menegang. Otot-otot yang selama sepuluh tahun ia paksa untuk tidur, tiba-tiba berdenyut. "Saya ayahnya. Ada apa dengan putri saya?"

 

"Terjadi kecelakaan di Gang Hitam. Putri Anda tertabrak motor setelah mencoba melarikan diri dari... sesuatu. Kami membawanya ke Rumah Sakit Umum Norjara. Dia pingsan."

 

"Kondisinya?"

 

"Ada trauma di kepala. Segera datang, Pak."

 

Raka mematikan telepon. Ia tidak berlari. Seorang profesional tidak pernah berlari dalam kepanikan. Ia berjalan cepat menuju lokernya, membuka gembok besi, dan mengambil sebuah kotak kecil tersembunyi di balik tumpukan baju seragam cadangan.

 

"Mau ke mana, Raka? Shift kamu belum selesai," tegur pengawas parkir yang gemuk.

 

"Anak gue kecelakaan."

 

"Heh! Lo nggak bisa pergi gitu aja! Aturan tetap aturan!"

 

Raka berhenti, menoleh sedikit. Sorot matanya membuat si pengawas mundur selangkah. Dingin di mata Raka jauh lebih mematikan daripada badai salju di luar sana.

 

"Potong gaji gue. Atau pecat gue. Gue nggak peduli," ucap Raka dingin.

 

Ia menghidupkan motor tua miliknya, membelah jalanan Norjara yang mulai diselimuti kabut. Di pikirannya hanya ada satu hal: Lira tidak pernah lari kecuali ada ancaman serius. Lira adalah juara karate tingkat sekolah. Jika dia lari, artinya lawannya lebih dari satu atau mereka membawa sesuatu.

 

Tiba di rumah sakit, Raka melihat Lira terbaring pucat di ruang IGD. Seorang perawat menghampirinya.

 

"Pak Voss? Dokter sedang memeriksa hasil CT scan-nya."

 

"Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa yang membawanya ke sini?"

 

"Seorang pengendara motor. Dia bilang dia melihat Lira lari dari tiga pemuda di gang, lalu Lira terpelesat ke jalan dan terserempet motornya sendiri. Pemuda-pemuda itu kabur."

 

Raka mendekati ranjang Lira, mengelus rambut putrinya. "Lira, ini Ayah."

 

Lira mengerang, matanya terbuka sedikit, dipenuhi ketakutan. "Ayah... jangan biarkan mereka... mereka bilang... mereka mau..."

 

"Sstt. Ayah di sini. Siapa mereka, Sayang?"

 

"Julian... dan teman-temannya. Mereka marah karena aku... aku nggak mau... mereka bilang aku sombong..." Lira kembali memejamkan mata, kesadarannya hilang lagi.

 

Raka berdiri tegak.

 

"Suster, siapa saja yang menanyakan kamar putri saya sejak dia masuk?" tanya Raka pada suster jaga di depan.

 

"Tadi ada tiga remaja laki-laki, Pak. Pakai jaket SMA Norjara Unggul. Mereka bilang mereka teman sekelasnya dan mau menjenguk, tapi saya bilang tunggu jam besuk."

 

"Di mana mereka sekarang?"

 

"Sepertinya masih di kantin atau di sekitar koridor bawah. Mereka tampak sangat... gelisah."

 

Raka berjalan menuju lift. Ia melihat pantulan dirinya di pintu besi lift. Bukan lagi Raka si tukang parkir yang bungkuk, melainkan sang 'Algojo Negara' yang dulu ditakuti para koruptor di Benua Utara.

 

"Kamu seharusnya tetap di liang kubur, Raka," bisiknya pada diri sendiri.

 

Pintu lift terbuka di lantai dasar. Di sudut kantin yang sepi, ia melihat mereka. Tiga pemuda dengan jaket mahal, berbisik-bisik dengan wajah pucat namun penuh kebencian.

 

"Gimana kalau dia bangun dan lapor polisi?" bisik salah satu yang berambut pirang, Mark.

 

"Ya makanya kita harus pastiin dia nggak bakal ngomong apa-apa malam ini. Rumah sakit ini gampang disusupin lewat tangga darurat belakang," jawab yang di tengah, Julian. Wajahnya terlihat angkuh meski ketakutan.

 

"Tapi itu pembunuhan, Jul! Kita cuma mau ngerjain dia awalnya!" Danu, pemuda ketiga, gemetar.

 

"Diem lo! Bokap gue bisa beresin semuanya. Yang penting, saksinya hilang dulu," tegas Julian.

 

Raka berdiri tepat di belakang mereka. Suaranya muncul seperti hembusan angin kutub.

 

"Jadi, siapa yang punya ide untuk menghabisi putri saya?"

 

Ketiganya melompat kaget. Julian mencoba berlagak berani. "Heh, siapa lo? Tukang parkir? Jangan ikut campur urusan orang kaya."

 

Raka tersenyum tipis. Senyum sebeku salju.

 

"Julian, kan? Kamu punya wajah yang sangat mirip dengan seseorang yang pernah saya ampuni sepuluh tahun lalu."

 

"Maksud lo apa? Cabut nggak, atau gue panggil pengawal bokap gue!"

 

Raka mencengkeram leher Julian dengan satu tangan, mengangkatnya hingga kaki pemuda itu menendang-nendang udara. Dua lainnya mencoba lari, namun Raka dengan cepat menendang kursi hingga menghantam kaki Danu, lalu menarik kerah baju Mark.

 

"Kita akan pindah ke tempat yang lebih privat," desis Raka.

 

"Lepasin! Lo nggak tahu siapa bokap gue!" teriak Julian tercekik.

 

"Saya tahu persis siapa dia, Julian. Dan itulah masalah utamanya."

 

*

 

 

Di bawah sebuah rumah kayu sederhana di pinggiran Norjara, terdapat sebuah ruangan yang tidak tercatat dalam denah kota. Ruangan itu kedap suara, berlapis beton, dan memiliki bau oli serta besi yang tajam.

 

Tiga pemuda itu terikat di kursi kayu yang dipaku ke lantai. Mulut mereka dilakban. Raka berdiri di depan mereka, sedang membuka sebuah koper hitam panjang yang sudah berdebu.

 

"Kalian tahu apa ini?" Raka mengeluarkan sebuah tabung suntik kecil berisi cairan bening.

 

Ketiganya hanya bisa melenguh ketakutan. Mata Julian melotot, keringat dingin membanjiri wajahnya.

 

"Ini adalah Norsleep. Dibuat khusus oleh intelijen Norjara. Satu tetes membuat kalian lumpuh, tapi tetap sadar sepenuhnya. Kalian akan merasakan setiap sentuhan, tapi tidak bisa menggerakkan satu jari pun."

 

Raka menyuntikkan cairan itu ke lengan mereka satu per satu. Dalam hitungan detik, tubuh mereka terkulai lemas, namun mata mereka tetap terbuka lebar, memancarkan horor.

 

"Kenapa kalian mengincar Lira?" Raka melepas lakban di mulut Julian. "Bicara. Obatnya belum bekerja penuh pada pita suaramu."

 

"Dia... dia selalu jadi nomor satu... dia bikin kami kelihatan bego di depan guru..." Julian bicara terbata-bata. "Terus dia nolak gue... di depan semua orang! Cewek miskin kayak dia nggak pantes nolak gue!"

 

"Hanya karena itu?" Raka menggeleng pelan. "Kalian mencoba menghancurkan hidup seseorang hanya karena ego yang terluka?"

 

"Bokap gue... Aris Thorne... dia penguasa di sini! Lo bakal mati membusuk di penjara!"

 

Raka tertegun sejenak mendengarkan nama itu. Aris Thorne. Nama yang ia simpan dalam kotak penyesalan terdalamnya.

 

"Aris Thorne. Mantan Menteri Logistik yang melarikan dana bantuan musim dingin sebesar lima ratus miliar, sepuluh tahun lalu. Saya mengejarnya sampai ke perbatasan Arktika. Dia sedang bersama istrinya yang hamil tua saat itu."

 

Julian terdiam. Matanya bergetar.

 

"Saya punya perintah untuk mengeksekusinya di tempat. Tapi istrinya menangis, memohon agar bayinya punya ayah. Bayi itu adalah kamu, Julian. Saya mengampuninya. Saya memalsukan laporan, mengatakan dia hilang di badai salju. Saya mengundurkan diri karena kegagalan itu."

 

Raka mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari Julian.

 

"Ternyata, belas kasihan saya melahirkan monster seperti kamu. Dan ayahmu? Dia tidak berubah. Dia justru menggunakan uang haram itu untuk membeli kekuasaan kembali di bawah nama palsu."

 

Ponsel di saku Raka berdering. Itu dari sahabat lamanya, seorang mantan agen medis.

 

"Raka, Lira sudah stabil. Pesawat medis pribadi yang kamu minta sudah siap. Aku akan membawanya ke Zurich malam ini juga. Dia aman bersamaku."

 

"Terima kasih, Erik. Pastikan tidak ada yang tahu dia di sana."

 

"Lalu bagaimana denganmu?"

 

Raka menatap koper senjatanya. Di sana terletak sebuah senapan runduk pendek dengan peredam terintegrasi, beberapa granat asap, dan pisau berbahan polimer yang tak terdeteksi pemindai logam.

 

"Aku punya hutang sepuluh tahun yang harus ditagih. Dan kali ini, tidak akan ada ampun."

 

Raka menoleh kembali ke arah tiga pemuda yang tak berdaya itu.

 

"Kalian akan tetap di sini. Dingin, gelap, dan sunyi. Sampai saya kembali. Jika saya tidak kembali dalam dua puluh empat jam, sistem pemanas ruangan ini akan mati otomatis. Dan di Norjara, tanpa pemanas... kalian tahu apa yang terjadi dalam satu jam."

 

"Tolong... jangan tinggalkan kami!" tangis Mark pecah.

 

"Kalian berencana membunuh putri saya di rumah sakit. Jangan bicara soal belas kasihan kepada saya."

 

Raka mengenakan masker taktis hitamnya. Ia mengambil sebuah tablet kecil, meretas jaringan satelit pribadi keluarga Thorne. Di layar muncul sebuah lokasi: sebuah vila mewah di lereng pegunungan es, tertutup rapat oleh barisan penjaga bersenjata.

 

"Aris sedang mengadakan pesta malam ini. Merayakan 'keberhasilan' proyek barunya. Dia tidak tahu kalau bayang-bayang masa lalunya sudah bangun."

 

"Bapak gue bakal bunuh lo!" teriak Julian dengan sisa tenaganya.

 

"Dia sudah mencoba melakukannya sepuluh tahun lalu, Julian. Dia gagal."

 

Raka mematikan lampu ruang bawah tanah. Satu-satunya yang tersisa adalah kegelapan total dan suara deru mesin pemanas yang perlahan mulai melambat.

 

"Tunggu di sini, Anak-anak. Saya akan membawakan kabar tentang ayah kalian."

 

*

 

 

Vila keluarga Thorne berdiri kokoh seperti benteng di atas bukit bersalju. Penjagaan sangat ketat. Ada dua puluh pengawal bersenjata otomatis berpatroli di luar. Di dalam, musik klasik bergema, mengiringi tawa para pria berjas mahal yang sedang merencanakan cara baru untuk menghisap darah rakyat Norjara.

 

Raka merayap di antara tumpukan salju. Pakaian kamuflase putihnya membuatnya nyaris tak terlihat.

 

Ia melihat Aris Thorne melalui teleskop senjatanya. Pria itu tampak lebih tua, lebih gemuk, dan memegang gelas sampanye dengan tangan yang penuh cincin berlian. Di sampingnya duduk beberapa pejabat korup lainnya.

 

"Jadi, kapan kita bisa melenyapkan saksi dari proyek pelabuhan itu?" tanya salah satu tamu.

 

"Tenang saja. Anak saya, Julian, sedang membereskan gangguan kecil di sekolahnya. Setelah itu, kita akan bergerak ke target yang lebih besar," Aris tertawa sombong. "Di Norjara ini, uang adalah hukum."

 

Raka menarik pelatuk. Phut!

 

Lampu sorot utama di halaman meledak. Kegelapan seketika menelan vila itu.

 

"Apa yang terjadi? Periksa generator!" teriak kepala pengawal melalui radio.

 

Raka bergerak seperti hantu. Ia tidak menggunakan peluru jika tidak perlu. Pisau polimernya bekerja dalam sunyi. Satu pengawal tumbang dengan leher tergorok sebelum sempat mengeluarkan suara. Pengawal kedua jatuh dengan tulang leher yang patah.

 

Ia masuk ke ruang generator. Dua orang di sana langsung tersungkur saat Raka melepaskan dua tembakan akurat ke kepala mereka.

 

"Siapa di sana?" teriak seorang pengawal yang baru masuk.

 

Raka tidak menjawab. Ia melemparkan pisau kecil yang tepat menancap di jakun pria itu.

 

Lampu darurat berwarna merah menyala, memberikan suasana mencekam di dalam vila. Raka melangkah ke ruang utama. Para tamu undangan berteriak panik, berlarian ke sana kemari.

 

"Tetap di tempat atau kalian mati!" teriak kepala pengawal, menyuruh anak buahnya membentuk lingkaran pelindung di sekitar Aris Thorne.

 

Raka muncul dari balik pilar marmer besar. Ia tidak lagi bersembunyi.

 

"Aris Thorne. Kamu ingat suara ini?"

 

Aris memucat. Ia mengenali nada bicara itu. Nada bicara dingin yang menghantuinya dalam mimpi buruk selama sepuluh tahun. "Voss? Raka Voss? Tidak mungkin! Kamu sudah mati!"

 

"Aku mati di hari aku membiarkanmu hidup, Aris. Tapi hari ini, aku bangkit kembali."

 

"Bunuh dia! Sekarang!" perintah Aris histeris.

 

Hujan peluru menyalak. Raka berguling di balik meja kayu jati yang tebal, membalas dengan tembakan presisi. Setiap peluru Raka menemukan sasarannya. Bahu, kepala, jantung. Ia adalah mesin yang tidak memiliki celah.

 

Dalam lima menit, hanya Aris Thorne yang tersisa, gemetar di sudut ruangan di balik tumpukan mayat pengawalnya.

 

"Tolong... Raka... aku akan memberimu uang! Berapa saja! Satu miliar? Sepuluh miliar?"

 

Raka mendekat, menginjak tangan Aris yang mencoba meraih pistol di lantai.

 

"Kamu tahu apa yang anakmu lakukan pada Lira?"

 

"Julian? Dia... dia hanya anak-anak... dia cuma bermain-main..."

 

"Dia mencoba membunuh Lira di rumah sakit untuk menutupi kejahatannya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Aris. Kamu koruptor, dan kamu membesarkan seorang pembunuh."

 

Raka menodongkan moncong senjatanya ke dahi Aris.

 

"Sepuluh tahun lalu, istrimu memohon padaku. Sekarang, siapa yang akan memohon untukmu?"

 

"Istriku... dia sudah meninggal lima tahun lalu karena kanker! Tidak ada siapa-siapa lagi!"

 

"Bagus. Jadi tidak akan ada yang sedih malam ini."

 

"Tunggu! Aku punya informasi! Julian... dia tidak sendirian! Ada orang di balik semua ini yang menyuruh Julian mendekati Lira! Ini bukan cuma soal sekolah!"

 

Raka berhenti sejenak. "Apa maksudmu?"

 

"Mereka tahu siapa kamu, Raka! Mereka tahu algojo itu masih hidup! Lira dijadikan umpan agar kamu keluar dari persembunyian! Julian cuma diperalat!"

 

Raka menekan pelatuk tanpa ragu. Phut!

 

Aris Thorne terjungkal dengan lubang di tengah dahinya. Raka menatap mayat itu tanpa emosi. Namun kata-kata terakhir Aris mengusik pikirannya. Umpan?

 

Ia segera memeriksa ponsel Aris yang tergeletak. Ada sebuah pesan singkat dari nomor terenkripsi yang masuk beberapa jam lalu: 'Jika ayahnya muncul, habisi keduanya. Jangan sisakan jejak di rumah sakit.'

 

Raka menyadari sesuatu. Ketiga remaja di bawah tanah rumahnya bukan sekadar anak nakal yang iri. Mereka adalah pion dalam permainan yang lebih besar.

 

"Berarti ada orang lain yang mengawasi rumahku sekarang," bisik Raka.

 

Ia segera meninggalkan vila yang bersimbah darah itu, menghilang ke dalam badai salju yang semakin menggila.

 

*

 

 

Raka memacu motornya menembus badai. Pikirannya melayang pada Lira yang kini sedang terbang menuju Zurich. Setidaknya dia aman. Namun rumahnya... rumahnya kini menjadi medan perang.

 

Saat ia tiba di depan rumah kayu sederhananya, ia melihat jejak ban mobil hitam di atas salju. Pintu depan sedikit terbuka.

 

Raka masuk melalui jendela samping, bergerak tanpa suara. Di ruang tamu, dua pria berjas hitam dengan senjata lengkap sedang berdiri di depan pintu menuju ruang bawah tanah.

 

"Julian dan yang lainnya ada di bawah. Tapi pintunya terkunci dengan kode digital. Kita harus meledakkannya," ucap salah satu pria itu.

 

"Cepat. Bos tidak mau ada saksi hidup dari keluarga Thorne. Mereka sudah tidak berguna."

 

Raka muncul dari bayang-bayang di belakang mereka. Dua tembakan cepat, dan kedua pria itu tumbang sebelum sempat menoleh.

 

Ia mendekati panel pintu ruang bawah tanah, memasukkan kode rahasianya. Pintu besi itu berdesis terbuka. Di dalam, Julian, Mark, dan Danu masih membeku karena efek obat, mata mereka membelalak melihat Raka yang bersimbah darah namun masih berdiri tegak.

 

Raka duduk di depan mereka, mengatur napasnya.

 

"Kalian dengar itu tadi? Orang-orang yang dikirim 'bos' kalian baru saja mencoba meledakkan kalian."

 

Julian mencoba bicara, suaranya parau. "Siapa... siapa mereka?"

 

"Orang-orang yang selama ini mendanai ayahmu. Mereka ingin menghapus semua jejak keluarga Thorne karena ayahmu mulai terlalu berisik. Kalian bukan teman bagi mereka. Kalian adalah limbah yang harus dibuang."

 

Raka melepaskan ikatan Mark dan Danu. "Kalian berdua, pergi. Keluar dari Norjara malam ini juga. Jangan pernah kembali, jangan pernah temui Julian lagi. Jika aku melihat wajah kalian lagi, aku tidak akan bicara sesopan ini."

 

Mark dan Danu, yang efek obatnya mulai hilang sedikit demi sedikit, merangkak keluar dengan gemetar. Mereka tidak menoleh lagi.

 

Sekarang tinggal Raka dan Julian.

 

"Kenapa... kenapa lo lepasin mereka tapi nggak gue?" tanya Julian ketakutan.

 

"Karena kamu adalah bukti hidup dari kesalahanku sepuluh tahun lalu, Julian. Dan kamu adalah orang yang paling menyakiti Lira."

 

Raka mengambil sebuah dokumen dari tasnya. Itu adalah surat pengakuan yang telah ia siapkan, merinci semua kejahatan Aris Thorne dan keterlibatan Julian dalam serangan terhadap Lira.

 

"Aku punya dua pilihan untukmu, Nak."

 

Raka meletakkan sebuah pistol dengan satu peluru di atas meja, dan di sampingnya, dokumen pengakuan tersebut.

 

"Pertama, kamu ambil pistol ini dan selesaikan hidupmu sekarang! Kedua, kamu tanda tangani ini, serahkan dirimu ke polisi! Berikan semua bukti tentang 'bos' misterius ayahmu itu. Kamu akan membusuk di penjara, tapi kamu akan tetap hidup."

 

Julian menatap pistol itu, lalu menatap Raka. "Gue... gue nggak bisa masuk penjara. Gue bakal dibunuh di sana oleh orang-orang bos itu."

 

"Kalau begitu, pilihanmu sudah jelas," ucap Raka sambil berdiri.

 

Raka berjalan menuju tangga. Ia berhenti sejenak, tanpa menoleh ke belakang.

 

"Ayahmu sudah mati, Julian. Aku baru saja mengirimnya ke neraka."

 

Julian terisak. "Kenapa... kenapa lo nggak bunuh gue aja langsung?"

 

Raka berhenti di anak tangga teratas, menatap langit malam Norjara yang dingin dari pintu yang terbuka.

 

"Karena aku berjanji pada Lira untuk berhenti menjadi algojo."

 

Raka menutup pintu ruang bawah tanah itu dan menguncinya dari luar. Ia berjalan ke halaman, membakar seragam parkirnya dalam sebuah tong besi kecil. Api berkobar, memberikan sedikit kehangatan di tengah salju.

 

Ponselnya bergetar. Pesan singkat dari Erik: 'Kami sudah mendarat. Lira sudah sadar. Dia menanyakanmu.'

 

Raka tersenyum tulus untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Ia mengambil tas ranselnya, berjalan menjauh dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Di kejauhan, suara sirene polisi mulai terdengar mendekati lokasi.

 

Tiba-tiba, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari dalam rumah. Raka berhenti sejenak, memejamkan mata.

 

"Keputusan yang berani, Julian," bisiknya pelan.

 

Raka terus berjalan menuju pelabuhan, di mana sebuah kapal nelayan sudah menunggunya untuk membawanya keluar dari Norjara selamanya.

 

Seorang pria asing dengan mantel abu-abu berdiri di dermaga, menghalangi jalannya. Pria itu memegang cerutu, asapnya menyatu dengan kabut dingin.

 

"Kamu pikir ini sudah selesai, Raka?" tanya pria itu.

 

Raka berhenti, tangannya secara otomatis menyentuh pisau di balik pinggangnya. "Siapa kamu?"

 

Pria itu tersenyum misterius, memperlihatkan lencana perak kuno yang hanya dimiliki oleh petinggi Dewan Tertinggi Norjara—organisasi rahasia yang dulu memberi perintah pada Raka.

 

"Kami yang menciptakanmu, dan kami yang memutuskan kapan tugasmu berakhir."

 

Raka menatap mata pria itu dengan tajam. "Aku sudah selesai dengan kalian."

 

"Tugasmu dengan Thorne mungkin selesai. Tapi orang yang menyuruh Julian... dia jauh lebih dekat denganmu daripada yang kau kira."

 

Pria itu melemparkan sebuah foto ke arah Raka. Raka menangkapnya. Di foto itu, terlihat Lira sedang tersenyum di bandara Zurich, namun di belakangnya, tampak seorang pria dengan tato kalajengking di lehernya sedang mengawasinya.

 


Darah Raka mendidih.

 

"Siapa dia?" tanya Raka dengan suara yang sanggup membekukan air laut.

 

Pria bermantel itu terkekeh pelan sebelum berbalik pergi.

 

"Naiklah ke kapal itu kalau kamu ingin tahu jawabannya."

 

 

Spirov Lengking, 62028051161911