Jumat, 25 September 2026

NAMA YANG DITULIS DENGAN PENSIL

 


________________________________________________________________________

Disclaimer:

Tulisan ini termasuk cerpen (cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya kebetulan belaka.

________________________________________________________________________

 

NAMA YANG DITULIS DENGAN PENSIL

 

Kertas itu terselip di antara tumpukan koran Berita Yudha tahun 1966 yang sudah berbau apek. Sentiri menariknya perlahan, khawatir serat kertas yang sudah rapuh itu akan hancur di jemarinya. Di sana, di sebuah daftar panjang yang diketik dengan mesin tik tua, terdapat satu nama yang ditulis tangan menggunakan pensil.

 

Burtogo – Pemuda Rakyat.

 

Sentiri terpaku. Nama itu adalah nama ayahnya. Pensilnya tipis, seolah-olah orang yang menulisnya ragu-ragu atau ingin agar nama itu mudah dihapus di kemudian hari.

 

"Kertas itu seharusnya tidak ada di sini, Mak," ucap Sentiri pelan saat ibunya masuk ke dapur membawa bakul nasi.

 

Ibunya, seorang perempuan tua dengan gurat kecemasan yang permanen di wajahnya, menjatuhkan bakul itu hingga nasi tumpah ke lantai tanah. Matanya menatap kertas di tangan Sentiri.

 

"Buang, Siri! Buang sekarang juga!" suara ibunya melengking, bergetar hebat.

 

"Ini nama Bapak, kan? Kenapa ada di daftar ini? Kenapa ada tulisan 'Pemuda Rakyat' di sampingnya?"

 

"Jangan sebut nama itu! Kamu mau kita semua diambil?"

 

Sentiri melangkah maju, memegang kertas itu lebih erat. "Mak bilang Bapak pergi merantau ke Sumatra. Mak bilang Bapak bakal pulang kalau tabungannya cukup. Kenapa nama Bapak ada di daftar sitaan militer ini?"

 

"Itu kesalahan, Siri. Nama itu umum. Banyak Burtogo di dunia ini!"

 

"Tapi Mak menyimpannya di bawah dasar lemari jati. Di bawah alas baju-baju lama Bapak. Kenapa harus disimpan kalau itu cuma kesalahan?"

 

Ibunya terduduk di kursi kayu, napasnya memburu. "Kamu tidak tahu rasanya, Siri. Tahun-tahun itu... semuanya merah. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi darah. Bapakmu cuma ikut-ikutan. Dia cuma suka main bola dan diskusi soal tanah. Dia tidak tahu apa-apa!"

 

"Jadi benar, Bapak anggota organisasi itu?"

 

"Dia cuma pemuda yang bersemangat, Siri. Kita semua dulu bersemangat. Tapi semangat itu yang membunuh dia."

 

Sentiri menatap baris nama itu lagi. "Di mana Bapak sekarang, Mak? Katakan yang sejujurnya."

 

"Dia tidak pernah sampai ke Sumatra. Mereka membawanya malam itu, tepat setelah daftar itu dibuat."

 

"Siapa yang membawa? Siapa yang menulis nama ini dengan pensil?"

 

Ibunya menutup wajah dengan kedua tangan, terisak tanpa suara. "Tanya pada Harmang di desa sebelah. Dia satu-satunya yang pulang. Tapi jangan salahkan Mak kalau setelah ini hidupmu tidak lagi tenang."

 

Sentiri melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam saku kebaya. "Aku harus tahu kenapa Bapak harus hilang karena segores pensil."

 

"Siri, kalau kamu pergi, jangan pernah bawa nama itu kembali ke rumah ini!"

 

***

 

 

Desa Ngadirejo tampak tenang, namun bagi Sentiri, setiap pasang mata yang menatapnya dari balik jendela rumah gedek terasa seperti belati. Di tahun 1974 ini, pertanyaan tentang masa lalu adalah tabu yang lebih berat daripada dosa zina. Sentiri berhenti di depan sebuah gubuk kecil di pinggir sawah. Seorang lelaki tua sedang mengasah arit, punggungnya membungkuk seolah memikul beban yang tak terlihat.

 

"Cari siapa, Mbak?" tanya lelaki itu tanpa menoleh. Suaranya serak, penuh kewaspadaan.

 

"Saya cari Pak Harmang. Teman Burtogo," jawab Sentiri tegas.

 

Lelaki itu berhenti mengasah. Bunyi gesekan logam dan batu berhenti seketika. Ia menoleh perlahan, matanya yang keruh menatap Sentiri dengan ketakutan yang murni.

 

"Tidak ada Harmang di sini. Nama saya Kromo."

 

Sentiri mengeluarkan kertas itu. "Ini daftar Pemuda Rakyat dari kantor distrik dulu. Di bawah nama Bapak saya, ada nama Harmang. Dan alamat ini satu-satunya yang cocok."

 

Lelaki itu gemetar. Ia menjatuhkan aritnya ke tanah. "Simpan kertas itu, Cah Ayu. Tolong, simpan... kalau ada yang lihat, saya bisa balik ke penjara."

 

"Saya cuma mau tahu tentang Bapak saya, Pak Harmang. Apa yang terjadi malam itu?"

 

Harmang menatap sekeliling, lalu memberi isyarat agar Sentiri masuk ke dalam gubuk yang gelap dan pengap. Di dalam, bau kemenyan dan tembakau menyengat.

 

"Burtogo itu orang baik," bisik Harmang, suaranya nyaris hilang. "Kami dulu bangga. Kami pikir kami sedang membangun bangsa. Kami latihan baris-berbaris, baca buku, bicara soal keadilan. Kami merasa kuat karena kami bersama."

 

"Lalu kenapa Bapak ditangkap?"

 

"Karena seseorang harus disalahkan. Karena organisasi itu tiba-tiba jadi hantu yang menakutkan. Dalam satu malam, teman-teman kami berubah jadi pengkhianat. Dan daftar itu... daftar itu adalah vonis mati."

 

Sentiri menunjukkan tulisan pensil itu. "Kenapa nama Bapak ditulis dengan pensil? Sedangkan nama lain ditulis dengan tinta?"

 

Harmang menatap tulisan itu, air mata mulai menggenang di matanya yang keruh. "Karena yang menulisnya adalah sahabat bapakmu sendiri. Dia petugas administrasi di kantor militer distrik. Dia ingin menghapus nama Burtogo kalau ada kesempatan. Dia ingin menyelamatkan kawan bicaranya."

 

"Lalu kenapa tidak dihapus?"

 

"Karena petugas lain melihatnya duluan. Pensil itu belum sempat digosok hilang, tapi daftar itu sudah keburu dicap 'Sita'. Karena goresan pensil yang belum sempat dihapus itu, bapakmu dijemput."

 

"Ke mana mereka membawanya?"

 

Harmang menunduk, tangannya yang kasar meremas kain celananya yang kusam. "Ke pinggir Kali Brantas. Malam itu hujan deras, Siri. Saya ada di truk yang sama, tapi saya dilempar turun karena mereka bilang kuota sudah penuh. Saya cuma beruntung karena mereka malas mengurus satu orang lagi."

 

"Bapak... Bapak tidak pernah sampai ke Sumatra, kan?"

 

"Sungai itu adalah kuburan tanpa nisan bagi ribuan orang seperti kami."

 

Sentiri merasakan dadanya sesak. Kebenaran itu terasa lebih dingin daripada air sungai yang diceritakan Harmang. "Siapa yang menulis nama itu, Pak? Siapa sahabat Bapak yang memakai pensil itu?"

 

Harmang menatap Sentiri dengan tatapan memelas. "Jangan dicari, Siri. Dia sekarang orang kuat. Dia sudah 'cuci tangan' dan jadi pejabat di kota."

 

"Sebutkan namanya."

 

"Namanya ada di balik kertas itu, tertulis sangat kecil di pojok bawah."

 

Sentiri membalik kertas kuning itu. Di sana, tertulis sebuah nama yang sangat ia kenal. Nama orang yang selama ini sering memberi bantuan beras dan uang sekolah padanya. Nama orang yang selalu dipanggil 'Paman' olehnya.

 

"Paman Handas?" suara Sentiri tercekat.

 

"Dia yang paling semangat mengajak kami masuk organisasi, dan dia juga yang paling cepat menyerahkan daftar itu untuk menyelamatkan lehernya sendiri."

 

"Dia bilang dia mencoba menyelamatkan Bapak!"

 

"Menyelamatkan dengan pensil sementara dia sendiri yang menyerahkan kertasnya ke tentara? Itu bukan menyelamatkan, Siri. Itu menebus dosa dengan nyawa orang lain."

 

Sentiri berdiri dengan lutut lemas. "Kenapa dia masih baik pada kami selama ini?"

 

"Mungkin karena setiap kali dia melihat wajahmu, dia melihat hantu bapakmu yang menagih janji."

 

Sentiri melangkah keluar dari gubuk. Matahari mulai tenggelam, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jari-jari hitam yang mencengkeram bumi.

 

"Siri, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Harmang dari pintu gubuk.

 

Sentiri menoleh, matanya berkilat antara amarah dan kesedihan yang mendalam. "Aku punya dua pilihan: membakar kertas ini dan hidup tenang dengan bantuan beras dari pembunuh bapakku, atau membawanya ke depan mukanya."

 

"Ingat, Siri, ini tahun tujuh puluh empat. Kebenaran bisa membuatmu menyusul bapakmu ke sungai."

 

Sentiri terdiam cukup lama, merasakan angin sore yang menusuk tulang. "Pak Harmang, apakah Bapak menyesal pernah menjadi bagian dari organisasi itu?"

 

Harmang tersenyum pahit, memperlihatkan giginya yang tinggal sedikit. "Kami dulu merasa seperti raksasa yang akan mengubah dunia, tapi ternyata kami hanyalah pion yang bisa dihapus dengan sekali usap."

 

"Aku tidak akan menjadi pion lagi."

 

"Pulanglah, Siri. Ibumu sudah cukup menderita."

 

Sentiri berjalan menjauh, meninggalkan petani tua yang gemetar itu dalam kegelapan gubuknya. Pikirannya berkecamuk. Di sakunya, kertas itu terasa sangat berat, seolah membawa beban ribuan nyawa yang hilang di pinggir sungai.

 

Sesampainya di rumah, ibunya sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya cemas, lampu minyak di tangannya bergoyang-goyang ditiup angin.

 

"Kamu sudah bertemu dia?" tanya ibunya lirih.

 

Sentiri tidak menjawab. Ia masuk ke dalam rumah, duduk di depan meja makan yang kosong. Ia mengeluarkan kertas itu dan sebuah korek api kayu.

 

"Siri, katakan sesuatu. Apa yang dikatakan Harmang?"

 

Sentiri menatap ibunya. "Paman Handas yang menulis nama Bapak di sini, Mak. Pakai pensil."

 

Ibunya terkesiap, menutup mulutnya dengan tangan. "Handas... dia bilang dia sudah berjuang mati-matian di kantor itu untuk mencoret nama bapakmu."

 

"Dia berbohong. Dia menyerahkan daftar ini untuk menyelamatkan dirinya sendiri."

 

Ibunya menangis lagi. "Lalu sekarang mau apa? Kita hidup dari belas kasihan Handas selama ini. Sekolahmu, rumah ini... semuanya."

 

Sentiri menyalakan korek api. Api kecil itu menari-nari, memantul di bola mata Sentiri yang jernih. Ia mendekatkan api itu ke sudut kertas yang menguning.

 

"Jika aku membakar ini, kebenaran akan hilang selamanya," gumam Sentiri.

 

"Bakar, Siri. Demi keselamatan kita. Demi ketenangan bapakmu di sana."

 

Sentiri melihat api itu mulai menjilat pinggiran kertas. Namun, sebelum api itu menyentuh nama ayahnya, ia meniupnya hingga padam. Ia melipat kertas itu kembali dan memasukkannya ke dalam kutang, tepat di atas jantungnya.

 

"Siri! Kenapa tidak dibakar?"

 

Sentiri menatap ibunya dengan tatapan yang belum pernah dilihat ibunya sebelumnya—sebuah tatapan yang dewasa dan penuh tekad yang kuat.

 

"Karena aku tidak mau melupakan. Tapi aku juga tidak mau mati sia-sia."

 

"Terus kamu mau apa?"

 

Sentiri berjalan menuju pintu, menatap kegelapan malam ke arah rumah besar Paman Handas yang terlihat megah di ujung jalan desa.

 

"Besok aku akan ke rumah Paman Handas."

 

"Siri, jangan! Dia orang kuat!"

 

Sentiri berhenti di ambang pintu, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. "Aku tidak akan menuntut apa-apa, Mak. Aku cuma ingin melihat matanya saat aku menunjukkan nama yang ditulis dengan pensil ini."

 

"Dan kalau dia malah mencelakaimu?"

 

Sentiri membalikkan badan, tersenyum tipis yang terasa menyakitkan. "Dia tidak akan berani. Orang yang hidup dalam ketakutan selama sepuluh tahun akan melakukan apa saja agar rahasianya tidak bocor, termasuk mematuhi setiap kata-kataku."

 

"Kamu mau memerasnya?"

 

Sentiri menggeleng perlahan. "Aku hanya ingin dia tahu, bahwa pensilnya gagal menghapus keberadaan Bapak dari kepalaku."

 

"Siri, ini berbahaya sekali. Kamu bisa hilang seperti bapakmu!"

 

Sentiri melangkah keluar ke halaman, membiarkan kegelapan malam menelannya. Dari kejauhan, terdengar suara anjing melolong, memecah kesunyian desa yang menyimpan ribuan rahasia di bawah tanahnya.

 

"Mak, bukankah kita sudah lama mati sejak Bapak pergi?"

 

Ibunya mengejarnya sampai ke pagar. "Lalu apa yang akan kamu katakan padanya besok pagi?"

 

Sentiri menoleh sedikit, bayangan wajahnya separuh tertutup kegelapan pohon mangga.

 

"Aku akan bilang: Paman, pensil ini ternyata masih sangat tajam setelah sepuluh tahun."

 

Spirov Lengking, 62029032081318