________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya
kebetulan belaka.
________________________________________________________________________
Rahasia
di Balik Sampul Merah
Debu
beterbangan saat Bardini menarik sebuah peti kayu jati dari kolong tempat tidur
almarhum kakeknya. Kamar itu terasa pengap, membawa aroma apek kertas tua dan
minyak kayu putih yang telah lama menguap. Bardini, seorang guru sejarah muda
dengan kacamata berbingkai tipis, menyeka keringat di dahinya. Ia telah
menghabiskan seluruh akhir pekan untuk membereskan rumah tua ini sebelum
dijual.
Tangannya
menyentuh sebuah buku kecil bersampul kain merah kusam. Tidak ada judul di depannya.
Saat ia membukanya, aroma kertas lapuk menyeruak. Di halaman pertama, tertulis
tangan dengan tinta hitam yang sudah memudar: Catatan Sekretaris BTI Ranting
Desa Sukamaju, 1962-1965.
Bardini
tertegun. Ia tahu kakeknya dulu adalah perangkat desa, tapi rahasia ini tidak
pernah dibicarakan di meja makan keluarga. Ia membalik halaman demi halaman.
Ada daftar nama, jumlah iuran berupa hasil bumi, dan sebuah sketsa pembagian
tanah yang rapi.
"Sedang
cari apa, Bar?"
Suara
ibunya, Kasiyah, terdengar dari ambang pintu. Wanita tua itu memegang nampan
berisi teh hangat. Begitu matanya menangkap buku merah di tangan Bardini,
tangannya gemetar. Gelas di atas nampan berdenting pelan.
"Ibu
tahu tentang buku ini?" tanya Bardini sambil menunjukkan sampul merah itu.
Kasiyah
meletakkan nampan di atas meja rias dengan terburu-buru. "Simpan itu, Bar.
Jangan sampai ada tetangga yang lihat."
"Ini
hanya sejarah, Bu. Kakek ternyata sekretaris BTI. Di sini ada daftar nama
petani yang ikut aksi land reform. Lihat, ada nama Pak Karsa, Mbah Sum..."
"Itu
bukan cuma sejarah, Bardini. Itu nyawa yang hilang dan ketakutan yang belum
sembuh," suara Kasiyah merendah, nyaris berbisik.
"Tapi
aku guru sejarah, Bu. Aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di desa ini.
Selama ini buku teks hanya bicara angka-angka besar di Jakarta. Di sini, di
buku ini, ada wajah-wajahnya."
"Wajah-wajah
itu sudah lama ingin melupakan, Bar. Kenapa kamu mau membangunkan macan
tidur?"
"Karena
kebenaran tidak boleh dikubur selamanya. Nama-nama ini... mereka bukan
penjahat, kan? Mereka cuma petani yang ingin tanah."
Kasiyah
menghela napas panjang, matanya menerawang ke arah jendela yang berderit ditiup
angin sore. "Kakekmu orang baik. Dia hanya ingin membantu orang desa
supaya punya sawah sendiri. Tapi zamannya tidak memihak mereka. Kamu tidak tahu
rasanya melihat truk-truk itu datang di tengah malam."
"Maka
dari itu, beri aku izin untuk menemui mereka yang masih hidup. Aku ingin
menuliskan kisah mereka yang sebenarnya."
"Kamu
tidak akan mendapat apa-apa selain pintu yang tertutup rapat, Bardini."
"Aku
sudah mencatat alamat Pak Karsa. Dia masih tinggal di ujung jalan, kan?"
"Jangan
bawa buku itu ke sana, Ibu mohon."
"Aku
hanya akan membawa ingatan, Bu. Buku ini akan tetap aman di tas saya."
Bardini
berdiri, memasukkan buku itu ke dalam tas ranselnya dengan hati-hati. Ia merasa
ada beban sejarah yang tiba-tiba berpindah ke pundaknya.
"Bar,
satu hal yang harus kamu ingat," cegah Kasiyah saat Bardini sudah di
pintu.
"Apa
itu, Bu?"
"Jangan
pernah menyebut nama kakekmu jika suasananya mulai memanas."
Bardini
berjalan menyusuri pematang sawah yang mulai menguning. Matahari hampir
tenggelam, menciptakan bayangan panjang di tanah yang dulu menjadi rebutan. Ia
sampai di sebuah gubuk kecil dengan dinding bambu yang sudah menghitam. Di
terasnya, seorang lelaki tua sedang melinting rokok klobot. Itu Pak Karsa.
"Permisi,
Pak Karsa? Saya Bardini, cucunya Pak Subrata."
Lelaki
tua itu mendongak. Matanya yang keruh menyipit, berusaha mengenali wajah di
depannya. Begitu mendengar nama Subrata, gerakannya berhenti. Rokok klobotnya
jatuh ke lantai tanah.
"Cucu
Subrata? Mau apa kamu ke sini?" suara Pak Karsa terdengar serak dan
waspada.
"Saya
ingin silaturahmi, Pak. Sambil... mau tanya-tanya sedikit tentang masa
lalu."
Pak
Karsa tertawa hambar, suara tawa yang lebih mirip sedu sedan. "Masa lalu
tidak punya makanan untuk disajikan, Nak. Pulanglah."
"Saya
menemukan buku merah milik Kakek, Pak. Nama Bapak ada di sana. Tertulis 'Karsa:
Iuran 5 kg gabah untuk perjuangan tanah'."
Wajah
Pak Karsa mendadak pucat pasi. Ia bangkit berdiri dengan kaki yang gemetar,
lalu dengan cepat menarik tangan Bardini masuk ke dalam rumah dan menutup pintu
rapat-rapat.
"Kamu
gila membawa nama itu di sini!" desis Pak Karsa.
"Kenapa,
Pak? Ini sudah puluhan tahun berlalu. Semua sudah berubah."
"Berubah
katamu? Tanah yang tertulis di buku kakekmu itu... sampai sekarang masih
dikuasai oleh keluarga tuan tanah yang dulu. Kamu pikir mereka akan diam kalau
tahu ada orang yang membawa bukti pembagian tanah itu?"
"Tapi
itu hak petani, Pak. Kakek mencatatnya dengan detail. Bapak dan yang lain sudah
bayar iuran."
"Iuran
itu hanya membawa kami ke penjara, Bardini! Kami dijanjikan surga, tapi yang
datang adalah neraka. Kakekmu... dia orang pintar. Tapi kepintarannya membuat
kami semua tercatat dalam daftar hitam."
"Kakek
hanya ingin membantu, kan? Dia sekretaris yang rajin."
"Dia
rajin mencatat kematian kami, itu yang benar!"
"Maksud
Bapak?"
"Setiap
nama yang ada di buku merah itu... mereka yang namanya tertulis paling jelas
adalah yang pertama kali dijemput malam itu."
"Kakek
tidak mungkin mengkhianati teman-temannya sendiri, Pak!" seru Bardini,
hatinya tersulut emosi.
Pak
Karsa menatap Bardini dengan tatapan iba sekaligus marah. Ia berjalan menuju
sebuah lemari tua dan mengambil sebuah foto usang yang sudah retak kacanya. Di
sana terlihat sekelompok pria tersenyum di depan sebuah balai desa, kakek
Bardini ada di tengah, memegang buku merah itu.
"Subrata
tidak berkhianat. Dia hanya terlalu jujur. Saat mereka menyiksa kakekmu untuk
meminta daftar nama, dia pikir dengan menyerahkan buku itu, kami hanya akan
didata dan diberi pembinaan. Dia tidak tahu bahwa daftar itu akan menjadi
daftar eksekusi."
Bardini
merasa dunianya runtuh. Buku yang ia anggap sebagai artefak perjuangan,
ternyata adalah instrumen bencana bagi pemilik namanya.
"Lalu,
kenapa Bapak masih hidup?" tanya Bardini lirih.
"Karena
aku lari ke hutan dan mengganti namaku selama sepuluh tahun. Aku kembali ke
sini sebagai orang asing di tanah kelahiranku sendiri."
"Masih
ada yang lain? Mbah Sum?"
"Sumirah
sudah tidak bicara sejak suaminya tidak pulang tahun enam puluh lima. Kalau
kamu ke sana, kamu hanya akan menemui tembok."
"Aku
harus menemuinya, Pak. Sejarah harus diluruskan. Dunia harus tahu bahwa kalian
bukan pemberontak, kalian hanya petani yang ingin makan dari tanah
sendiri."
Pak
Karsa memegang bahu Bardini dengan cengkeraman yang kuat untuk ukuran orang
seusianya.
"Nak,
sejarah itu milik pemenang. Bagi kami yang kalah, diam adalah satu-satunya cara
untuk tetap bernapas."
"Tapi
sampai kapan, Pak? Sampai semua saksi meninggal dan cerita ini terkubur
selamanya?"
"Kebenaran
itu seperti api, Bardini. Kalau kamu tidak tahu cara memegangnya, dia akan
membakar tanganmu sendiri."
"Aku
tidak takut terbakar, Pak. Aku ingin menghapus noda di nama Kakek. Aku ingin
membuktikan dia bukan penyebab kematian kawan-kawannya."
"Kalau
begitu, pergilah ke rumah tua di belakang balai desa. Cari perempuan bernama
Widowati. Dia memegang kunci terakhir yang tidak ada di buku merahmu itu."
"Siapa
dia, Pak?"
"Dia
anak dari orang yang paling dibenci kakekmu, tapi juga orang yang paling sering
dikunjunginya secara rahasia sebelum malam jahanam itu tiba."
***
Rumah
di belakang balai desa itu tampak lebih megah daripada rumah-rumah lain,
meskipun catnya sudah mengelupas. Bardini melangkah dengan ragu. Setiap
langkahnya terasa diawasi oleh mata-mata tak terlihat dari balik gorden rumah
warga. Di desa ini, rahasia adalah mata uang yang mahal.
Seorang
wanita paruh baya dengan sanggul rapi menyambutnya di teras. Ia adalah
Widowati. Wajahnya tenang, namun tatapannya tajam, seolah bisa membaca isi tas
ransel Bardini.
"Cucu
Subrata, ya?" sapa Widowati bahkan sebelum Bardini memperkenalkan diri.
"Bagaimana
Ibu tahu?"
"Wajahmu
itu jiplakan kakekmu. Hanya saja matamu tidak memiliki beban seberat matanya.
Silakan duduk."
Bardini
duduk di kursi rotan yang dingin. "Ibu Widowati, saya membawa buku catatan
Kakek dari tahun enam puluhan. Pak Karsa bilang Ibu tahu sesuatu yang tidak
tertulis di sini."
Widowati
menyesap tehnya perlahan. "Karsa masih hidup? Syukurlah. Dia orang yang
keras kepala."
"Dia
bilang kakek saya menyerahkan daftar nama ini karena tertipu."
"Itu
versi yang indah untuk didengar, bukan?" Widowati tersenyum tipis.
"Subrata memang menyerahkan buku itu. Tapi bukan karena tertipu."
Bardini
mencondongkan tubuhnya. "Lalu karena apa?"
"Karena
dia ingin menyelamatkan keluargamu, Bardini. Termasuk ibumu yang saat itu masih
kecil."
"Maksud
Ibu, Kakek mengorbankan teman-temannya demi keluarganya sendiri?"
"Dunia
saat itu tidak memberikan pilihan yang bersih, Nak. Itu adalah pilihan antara
mati bersama atau hidup dengan rasa bersalah yang abadi. Kakekmu memilih yang
kedua."
Bardini
terdiam. Rasa bangga yang tadi sempat membuncah kini menguap, digantikan oleh
rasa mual. Guru sejarah di dalam dirinya ingin memprotes, ingin mencari
pembenaran moral, tapi ia sadar ia tidak hidup di zaman di mana nyawa dihargai
seharga sebutir peluru.
"Tapi
ada satu hal yang Karsa tidak tahu," lanjut Widowati. "Kakekmu
sengaja mengubah angka-angka iuran dan tanggal bergabung di beberapa nama. Dia
membuat daftar itu terlihat kacau sehingga beberapa orang dianggap tidak aktif
dan dilepaskan. Itu sebabnya Karsa bisa lari. Kakekmu memberinya kode lewat
daftar itu."
Bardini
membuka kembali buku merahnya. Ia melihat coretan-coretan kecil di samping nama
Karsa. Sebuah simbol lingkaran kecil yang ia kira hanyalah noda tinta.
"Jadi,
Kakek mencoba melawan dari dalam?"
"Dia
mencoba bermain tuhan di tengah kegilaan. Dan itu menghancurkan jiwanya. Sampai
hari kematiannya, dia selalu duduk di teras setiap jam dua pagi, menunggu truk
yang tidak pernah datang lagi."
"Kenapa
Ibu memberitahu saya semua ini?"
Widowati
menatap ke arah kebun luas di samping rumahnya. "Karena tanah ini,
Bardini. Tanah tempat rumah ini berdiri, sebenarnya adalah milik salah satu
petani di bukumu itu. Ayahku mengambilnya setelah pemiliknya hilang."
Bardini
tersentak. "Jadi Ibu ingin mengembalikannya?"
"Mengembalikan
tanah itu mudah. Mengembalikan nama baik dan ketenangan jiwa mereka yang sudah
tiada... itu yang mustahil. Sekarang katakan padaku, setelah tahu kakekmu
adalah pahlawan sekaligus pengkhianat di saat yang sama, apa yang akan kamu
lakukan dengan buku itu?"
Bardini
memandangi sampul merah di pangkuannya. Buku ini bukan lagi sekadar data
sejarah. Ini adalah kotak pandora. Jika ia menerbitkannya atau menjadikannya
penelitian, ia akan membuka luka lama yang mungkin akan memicu konflik baru di
desa yang sudah tenang ini. Keturunan mereka yang 'dikorbankan' akan menuntut,
dan mereka yang 'menguasai' akan melawan.
"Aku
ingin menulis kebenaran, Bu," bisik Bardini. "Tapi aku tidak tahu
apakah kebenaran ini akan membebaskan atau justru membelenggu."
"Guru
sejarah biasanya sangat vokal tentang 'melawan lupa'," sindir Widowati.
"Tapi
sejarah juga tentang manusia, bukan sekadar fakta di atas kertas. Aku melihat
ketakutan di mata Pak Karsa. Aku melihat kesedihan di mata Ibu saya."
Tiba-tiba,
pintu pagar depan berderit. Seorang pria kekar dengan seragam safari muncul. Ia
menatap Bardini dengan tatapan tidak bersahabat.
"Ada
tamu, Bu Wido?" tanya pria itu dengan suara berat.
Widowati
tampak tegang sesaat. "Hanya kerabat jauh, Pak RT. Sedang tanya-tanya soal
silsilah keluarga."
Pak
RT itu mendekat, matanya tertuju pada buku merah di pangkuan Bardini.
"Buku apa itu? Sepertinya sudah sangat tua."
Jantung
Bardini berdegup kencang. Ia teringat peringatan ibunya dan ketakutan Pak
Karsa. Ia merasa aura ancaman yang nyata, sesuatu yang selama ini hanya ia baca
di buku-buku tentang represi politik.
"Ini...
hanya buku resep tua milik nenek saya," jawab Bardini, suaranya sedikit
bergetar.
Pak
RT itu mengamati Bardini selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
"Hati-hati dengan barang tua. Terkadang mereka membawa kuman yang bisa
membuat seluruh desa sakit."
Setelah
pria itu pergi, Bardini menghela napas lega yang panjang. Tangannya dingin.
"Kamu
lihat sendiri, kan?" Widowati berbisik. "Bayang-bayang itu masih ada.
Mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya memakai baju yang
berbeda."
Bardini
berdiri. Ia membuat keputusan yang paling sulit dalam hidupnya sebagai seorang
akademisi.
"Ibu
benar. Kebenaran sejarah memang layak dibuka, tapi mungkin belum sekarang. Desa
ini belum siap untuk memaafkan dirinya sendiri."
"Lalu,
apa yang akan kamu lakukan dengan catatan kakekmu?"
Bardini
berjalan menuju perapian kecil di sudut teras yang digunakan Widowati untuk
membakar sampah daun kering. Ia mengeluarkan buku merah itu dari tasnya. Ia
mengusap sampul kainnya untuk terakhir kali, merasakan tekstur perjuangan,
harapan, dan keputusasaan yang menyatu di sana.
"Bar!
Apa yang kamu lakukan?" seru Widowati saat melihat Bardini mendekatkan
buku itu ke api.
"Aku
akan menyimpan isinya di kepalaku, tapi fisiknya harus musnah. Biarlah rahasia
ini mati bersama mereka yang menjalaninya, agar keturunan mereka tidak perlu
mewarisi dendam yang sama."
Kertas-kertas
tua itu mulai terjilat api. Asap hitam mengepul, membawa nama-nama petani,
jumlah iuran, dan mimpi tentang tanah terbang menuju langit senja. Bardini
memperhatikan setiap lembar yang menghitam dan hancur menjadi abu. Ada rasa
sakit yang luar biasa, seolah ia sedang membakar bagian dari dirinya sendiri.
"Kamu
tahu, Bardini," kata Widowati sambil menatap api. "Kakekmu pasti akan
melakukan hal yang sama jika dia punya keberanian sepertimu."
"Aku
tidak berani, Bu. Aku hanya ketakutan."
"Ketakutan
untuk menyakiti orang lain adalah jenis keberanian yang paling tinggi."
Saat
buku itu sudah menjadi abu sepenuhnya, Bardini berbalik. Ia merasa lebih
ringan, namun juga merasa ada sesuatu yang hilang selamanya. Ia berjalan keluar
dari rumah itu, melewati balai desa, dan melihat Pak RT tadi masih berdiri di
sana, mengawasinya.
Bardini
berhenti sejenak di depan Pak RT, lalu tersenyum tipis.
"Resepnya
sudah saya bakar, Pak. Ternyata bumbunya terlalu pahit untuk dimasak
sekarang."
Pak
RT itu mengerutkan kening, tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Hanya
soal selera, Pak. Saya permisi pulang."
Bardini
terus berjalan tanpa menoleh lagi. Ia tahu, di tasnya kini kosong, tapi di
ingatannya, nama Pak Karsa, Mbah Sum, dan pengorbanan kakeknya akan tetap
hidup. Ia akan tetap mengajar sejarah, tapi ia akan mengajarinya dengan cara
yang berbeda—bukan tentang siapa yang menang atau kalah, tapi tentang betapa
mahalnya harga sebuah kemanusiaan di tengah pusaran kekuasaan.
Sesampainya
di rumah, ibunya sudah menunggu di depan pintu. Kasiyah melihat tas ransel
Bardini yang tampak kempis.
"Sudah
kamu simpan bukunya di tempat aman?" tanya Kasiyah cemas.
Bardini
memeluk ibunya erat-alih-alih menjawab, ia membisikkan sesuatu yang membuat air
mata wanita tua itu luruh.
"Kakek
bukan pengkhianat, Bu. Dia hanya mencintai kita terlalu besar."
Kasiyah
melepaskan pelukannya dan menatap mata anaknya. "Kamu sudah bicara dengan
mereka?"
"Aku
sudah bicara dengan masa lalu, Bu. Dan masa lalu bilang, sudah waktunya kita
berhenti berlari."
"Lalu,
apa yang akan kamu katakan pada murid-muridmu di sekolah besok tentang bab
ini?"
Bardini
menatap ke arah matahari yang benar-benar telah tenggelam, menyisakan kegelapan
yang tenang di cakrawala desa Sukamaju.
"Aku
akan bilang bahwa sejarah tidak selalu tertulis di buku, kadang ia hanya berbisik
di sela-sela doa mereka yang memilih untuk diam demi keselamatan orang
lain."
"Tapi
apakah mereka akan mengerti tanpa bukti?"
Bardini
tersenyum, sebuah senyum yang membawa kedamaian bagi hatinya sendiri.
"Tugas
saya bukan membuat mereka mengerti angka, Bu, tapi membuat mereka merasakan
detak jantung orang-orang yang pernah ada di sana."
"Dan
jika suatu saat nanti mereka menemukan jejak lain dari buku itu?"
Bardini
menarik napas dalam, merasakan udara malam yang sejuk masuk ke paru-parunya.
"Biarkan
waktu yang menjawabnya, karena setiap kebenaran memiliki musimnya sendiri untuk
tumbuh."
Spirov
Lengking, 62029032132222