“Satu tambah satu berapa,
Blondho?”
Profesor Tengar melotot, tangannya menggebrak meja kayu jati
yang sudah retak-retak itu. Di depannya, Blondho duduk dengan wajah yang
dikosongkan seolah-olah otaknya baru saja dicuci dengan pemutih pakaian.
“Sebelas, Prof,” jawab Blondho mantap.
“Alasannya?”
“Kalau satu ditaruh di sebelah satu, ya jadi sebelas. Kenapa
harus dijumlahkan kalau mereka bisa berdampingan secara harmonis?”
Profesor Tengar terdiam sejenak, lalu ia berdiri dan bertepuk
tangan dengan sangat keras. Air mata haru mengalir di pipinya yang keriput.
“Luar biasa! Tidak ada logika, tidak ada fakta, hanya perasaan
semu yang dipaksakan. Kamu lulus mata kuliah Manajemen
Kebodohan Strategis dengan nilai sempurna!”
Blondho hanya tersenyum lebar. Ia merasa bangga. Di Institut
Manajemen Kebodohan (IMK), berpikir cerdas adalah dosa besar. Sekolah elite ini
baru saja membuka jurusan baru itu untuk memenuhi kebutuhan pasar: melahirkan
pemimpin yang bisa memenangkan argumen tanpa perlu tahu apa yang mereka
bicarakan.
“Tapi Prof, ada satu siswa yang menantang jawaban saya tadi di
koridor,” lapor Blondho sambil memperbaiki letak dasinya yang miring.
“Siapa? Berani-beraninya dia membawa fakta ke kampus ini?”
“Sari, Prof. Dia bilang secara matematis satu tambah satu tetap
dua.”
Profesor Tengar mendengus jijik, “Singkirkan dia. Suruh dia ikut
kelas remedial Retorika
Suara Tinggi. Kalau dia masih pakai otak, keluarkan dia dari
sekolah ini!”
Blondho mengangguk patuh. Ia tahu betul aturan mainnya. Di sini,
siapa yang paling keras berteriak, dialah yang memegang kebenaran. Pagi itu,
koridor sekolah dipenuhi siswa yang sedang berlatih menutup telinga sambil
berteriak, “Saya tidak dengar, saya tidak peduli!” secara serentak.
“Blondho! Kamu dengar kabar terbaru?” Sari tiba-tiba muncul dari
balik pilar, wajahnya tampak frustrasi.
“Saya sudah dilatih untuk tidak mendengar kabar yang mengandung
informasi berharga, Sari,” jawab Blondho dengan nada meremehkan.
“Ini serius. Pemerintah sedang meninjau akreditasi sekolah kita.
Mereka akan mengirim pengawas besok!”
“Bagus, kan? Mereka pasti akan terkesima dengan kurikulum Cara Menghindari Data
yang saya kuasai.”
Sari memijat pelipisnya. “Kamu tidak mengerti. Kalau mereka tahu
kita mengajarkan orang untuk jadi bodoh, sekolah ini bisa ditutup!”
Blondho tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar hambar dan
dibuat-buat. “Bodoh? Kamu salah istilah. Kami menyebutnya ‘Intelektualitas
Alternatif’. Lagi pula, orang pintar itu membosankan. Mereka selalu punya
solusi yang masuk akal. Di kota ini, masyarakat lebih suka janji yang tidak
masuk akal tapi diucapkan dengan percaya diri.”
“Tapi Blondho, kemarin kamu menyarankan walikota untuk membuat
jalan tol melingkar!”
“Tentu saja. Dengan jalan tol melingkar, semua warga merasa
jarak rumah mereka ke pusat kota itu sama jauhnya. Keadilan sosial, Sari!”
“Tapi itu cuma membuang-buang bensin dan waktu!” teriak Sari
frustrasi.
Blondho mendekatkan wajahnya ke arah Sari, lalu berteriak lebih
keras tepat di telinga gadis itu. “BENSIN ADALAH CAIRAN, DAN CAIRAN HARUS
MENGALIR! JANGAN MEMBATASI KEBEBASAN CAIRAN DENGAN LOGIKA PEMBOROSANMU!”
Sari terlonjak kaget dan menutup telinganya. Blondho tersenyum
puas. Ia baru saja menerapkan teknik Volume
as Authority.
“Kamu benar-benar gila, Blondho,” bisik Sari sambil melangkah
mundur.
“Tidak, Sari. Aku adalah masa depan.”
*
Keesokan harinya, suasana IMK sangat tegang. Seorang pria paruh
baya dengan setelan jas mahal dan kacamata tebal datang. Dia adalah Bapak
Baron, kepala badan akreditasi nasional. Semua dosen gemetar, kecuali Profesor Tengar
dan lulusan terbaiknya, Blondho.
“Jadi, ini sekolah yang katanya sedang melakukan revolusi
pendidikan?” tanya Pak Baron sambil melihat-lihat sekeliling.
“Benar, Pak. Kami sedang memangkas rantai keruwetan otak
manusia,” jawab Profesor Tengar penuh percaya diri.
Pak Baron berhenti di depan sebuah kelas. Di dalamnya, para
siswa sedang belajar cara membakar buku ensiklopedia untuk dijadikan abu
pembuat kopi.
“Apa yang mereka lakukan?” tanya Pak Baron heran.
Blondho maju ke depan, mengambil alih pembicaraan. “Kami sedang
melakukan Ekstraksi Pengetahuan Fisik,
Pak. Membaca itu melelahkan mata. Tapi kalau abunya diminum, pengetahuan itu
masuk langsung ke lambung. Lebih cepat diserap tubuh.”
Pak Baron mengerutkan kening. “Itu tidak mungkin secara biologis.”
“Bapak bicara biologi? Itu kan teori abad lama. Di era sekarang,
kita pakai teori ‘Keinginan Kuat’. Kalau Bapak yakin itu kopi pintar, maka
Bapak akan pintar,” sahut Blondho tanpa berkedip.
“Tapi faktanya—”
“DIAM!” potong Blondho dengan suara menggelegar. “Fakta adalah
opini yang sudah terlalu sering diulang-ulang. Kenapa Bapak harus terjebak pada
masa lalu?”
Pak Baron terkejut. Ia tampak terintimidasi oleh volume suara
Blondho. Ia mencatat sesuatu di bukunya. Profesor Tengar tersenyum bangga di
belakang Blondho.
“Lalu, bagaimana dengan sistem ujian nasional yang kalian ubah
itu?” tanya Pak Baron lagi, suaranya agak mengecil.
“Oh, lomba menebak cuaca?” Blondho melipat tangannya di dada.
“Itu jauh lebih berguna daripada matematika. Matematika membuat orang stres.
Menebak cuaca melatih intuisi dan keberuntungan. Bukankah hidup ini hanyalah
soal keberuntungan?”
“Tapi kalau ramalannya salah?”
“Ya cuacanya yang salah, Pak. Bukan siswanya. Kenapa kita harus
menyalahkan manusia kalau alam yang tidak konsisten?”
Pak Baron terdiam cukup lama. Ia menatap Blondho, lalu menatap Profesor
Tengar. Tiba-tiba, ia menghela napas panjang dan melepaskan kacamatanya.
“Luar biasa,” gumam Pak Baron. “Selama ini saya terjebak dalam
kurikulum yang menuntut siswa untuk berpikir keras sampai mereka depresi.
Kalian… kalian telah menemukan solusi untuk kebahagiaan abadi!”
“Maksud Bapak?” tanya Profesor Tengar ragu-ragu.
“Sekolah ini tidak hanya lulus akreditasi. Saya akan berikan
nilai A+! Kalian adalah pionir anti-intelektualisme yang sangat dibutuhkan
negara untuk menenangkan rakyat yang terlalu banyak protes karena terlalu
banyak tahu!”
Blondho menyeringai. “Tentu saja. Orang bodoh adalah rakyat yang
tenang, Pak.”
“Blondho, setelah ini kamu harus ikut saya ke kantor gubernur.
Kami butuh penasihat sepertimu untuk menjelaskan kenapa harga beras naik itu
sebenarnya adalah prestasi,” ujar Pak Baron sambil menjabat tangan Blondho
erat-halus.
Sari yang memperhatikan dari jauh hanya bisa melongo. Ia tidak
percaya bahwa kegilaan ini benar-benar dihargai secara resmi. Ia mendekati
Blondho setelah Pak Baron pergi ke ruang administrasi.
“Blondho, kamu tidak bisa terus begini. Kamu menghancurkan kota
ini dengan saran-saran absurdmu!”
“Menghancurkan? Lihatlah, Sari. Semua orang senang. Walikota
senang karena tidak perlu kerja keras memperbaiki drainase, cukup bilang bahwa
banjir adalah ‘Wisata Air Gratis’. Rakyat senang karena mereka tidak perlu
merasa bodoh lagi, karena standar bodoh sudah tidak ada.”
“Tapi ini semua palsu!”
“Palsu itu relatif, Sari. Yang nyata adalah jabatan yang akan
aku terima besok.”
*
Satu bulan kemudian, Blondho telah resmi menjadi Penasihat Utama
urusan Strategis di Balai Kota. Keputusan pertamanya adalah mengganti seluruh lampu
lalu lintas dengan warna biru semua. Alasannya? “Biru itu menenangkan, supaya
tidak ada lagi road
rage karena warna merah yang memancing amarah.”
Hasilnya? Angka kecelakaan meningkat 400%, tapi Blondho punya
jawaban yang lebih jenius.
“Itu bukan kecelakaan,” lapor Blondho dalam rapat paripurna.
“Itu adalah ‘Pertemuan Tak Terduga Antar Warga’. Kita harus mensyukurinya
sebagai bentuk silaturahmi yang intens.”
Para anggota dewan bertepuk tangan. Mereka semua adalah lulusan
IMK angkatan pertama. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendebat
karena takut dianggap “terlalu pintar” dan tidak merakyat.
Malam itu, Blondho duduk di kantor mewahnya, memandangi
kemacetan total yang disebabkan oleh jalan tol melingkar ciptaannya. Tiba-tiba,
pintu ruangannya didobrak. Sari masuk dengan wajah merah padam.
“Blondho! Berhenti! Kamu harus lihat ini!” Sari melempar sebuah
dokumen ke meja Blondho.
“Dokumen apa ini? Terlalu banyak angka. Saya pusing,” keluh
Blondho.
“Itu laporan keuangan kota! Kita bangkrut, Blondho! Semua
anggaran habis untuk membiayai proyek-proyek absurdmu, termasuk proyek ‘Pagar
Langit’ untuk mencegah hujan!”
Blondho mengambil dokumen itu, lalu melipatnya menjadi pesawat
terbang kertas. Ia menerbangkannya ke arah jendela.
“Bangkrut itu cuma istilah orang pelit, Sari. Kita tidak
bangkrut, kita hanya sedang ‘Menyimpan Uang di Masa Depan’.”
“Kamu benar-benar sudah gila! Apa kamu tidak punya hati nurani
sedikit pun?”
Blondho berdiri, menatap Sari dengan pandangan dingin yang belum
pernah ia tunjukkan sebelumnya. Pura-pura bodohnya menghilang sejenak.
“Sari, apa kamu pikir aku benar-benar bodoh?”
Sari tertegun. “Apa maksudmu?”
Blondho berjalan pelan mengelilingi mejanya. “Aku tahu satu
tambah satu itu dua. Aku tahu jalan tol melingkar itu konyol. Aku tahu
akreditasi A+ itu adalah penghinaan bagi dunia pendidikan.”
“Lalu kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu memimpin semua
kegilaan ini?”
Blondho terkekeh, suara tawanya kali ini terdengar sangat cerdas
dan licik. “Karena menjadi pintar di dunia yang mengagungkan kebodohan adalah
cara tercepat untuk mati miskin dan tidak didengar. Aku memilih untuk menjadi
raja di atas tumpukan kotoran daripada menjadi pelayan di istana yang tidak
pernah ada.”
“Kamu memanfaatkan mereka…” bisik Sari ngeri.
“Aku memberikan apa yang mereka minta, Sari. Mereka benci fakta,
jadi aku beri mereka dongeng. Mereka benci kerumitan, jadi aku beri mereka
kesederhanaan yang merusak. Dan lihat? Aku sekarang adalah orang terkuat di
kota ini.”
Sari menggelengkan kepala. “Aku akan melaporkan ini. Aku akan
beritahu Pak Baron bahwa kamu hanya berpura-pura!”
Blondho tertawa lagi, kali ini lebih keras. “Silakan, Sari.
Pergilah ke Pak Baron. Tapi ada satu hal yang kamu lupa.”
“Apa?”
Blondho mengambil sebuah remote dan menyalakan televisi besar di
dinding kantornya. Di layar, sedang berlangsung siaran langsung penyerahan
penghargaan Tokoh
Pendidikan Nasional. Pak Baron berdiri di podium, memegang piala
emas berbentuk otak yang dibelah dua.
“Dan pemenangnya adalah…” suara Pak Baron terdengar lantang dari
televisi. “…Profesor Tengar dan tim pengembang kurikulum IMK atas jasanya
menghapuskan beban berpikir di seluruh negeri!”
Blondho menunjuk ke layar televisi dengan wajah kemenangan.
“Kamu lihat itu, Sari? Pak Baron tidak akan mendengarmu. Karena dia adalah
pendiri asli sekolah itu sebelum dia masuk ke pemerintahan.”
Sari membeku. Nafasnya tercekat. “Apa? Jadi sekolah itu… proyek
pemerintah?”
“Bukan sekadar proyek,” Blondho berbisik tepat di telinga Sari.
“Itu adalah eksperimen sosial. Dan aku adalah subjek terbaik yang pernah mereka
miliki. Kamu tahu kenapa mereka memberikan akreditasi A+?”
Sari tidak bisa menjawab. Air matanya mulai menetes.
“Karena hanya ada satu cara untuk mengendalikan manusia
selamanya tanpa perlu senjata,” lanjut Blondho dengan senyum paling jahat yang
pernah ada.
“Yaitu dengan apa?” tanya Sari dengan suara gemetar.
Blondho mengambil topi kelulusannya, memakainya kembali dengan
miring, lalu kembali ke mode “bodoh”-nya yang biasa.
“Yaitu dengan meyakinkan mereka bahwa menjadi bodoh adalah
sebuah prestasi yang patut dirayakan.”
“Lalu bagaimana dengan nasib kota ini kalau semuanya hancur?”
teriak Sari terakhir kalinya.
Blondho berjalan menuju pintu, hendak menghadiri pesta
kemenangannya di aula utama. Sebelum keluar, ia menoleh sedikit.
“Kenapa harus pusing soal kota yang hancur, kalau kita bisa
bilang itu adalah ‘Desain Arsitektur Pasca-Kiamat’ yang sangat estetis?”
Sari jatuh terduduk di lantai, sementara Blondho melangkah pergi
sambil bersiul lagu anak-anak yang nadanya salah semua. Di luar, kembang api
meledak di langit, merayakan kehancuran logika dengan sorak-sorai ribuan orang
yang sudah lupa cara bertanya.
“Eh, Blondho! Kamu mau ke mana?” tanya seorang menteri yang
berpapasan dengannya.
“Mau makan siang, Pak! Tapi saya bingung, garpu itu gunanya
untuk menyisir rambut atau menusuk nasi?”
Menteri itu tertawa terbahak-bahak dan menepuk bahu Blondho.
“Kamu memang jenius! Pakai untuk menyisir rambut saja, biar nasinya tidak
sakit!”
Blondho mengedipkan sebelah matanya ke arah kamera pengawas yang
tersembunyi di pojok ruangan.
“Siap, Pak Menteri! Mari kita sisir nasi kita sampai rapi!”
Spirov Lengking, 62020190093409
