Sabtu, 19 September 2026

KAPAK LEHER KORUPTOR


1

 

Matahari terbenam di cakrawala Pulau Kembangga Cengkerek, menyisakan warna jingga yang memantul di permukaan kolam renang infinity milik Badras Waras. Di sana, tawa riuh pecah bersama denting gelas kristal. Aroma cerutu mahal dan parfum desainer memenuhi udara, bercampur dengan bau laut yang tenang.

 

Badras Waras berdiri di balkon lantai dua vilanya, memandangi kawan-kawannya yang sedang berpesta. Ia menyesap wiski berumur tiga puluh tahun dengan perlahan.

 

"Pulau ini benar-benar mahakarya, Badras," seru Pesu Madangkana dari tepi kolam. Ia sedang dikelilingi tiga wanita cantik yang tertawa mendengar leluconnya yang tidak lucu.

 

Badras tersenyum tipis, menuruni tangga pualam dengan gaya perlente. "Hanya tempat kecil untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk Jakarta, Pesu. Lagipula, kita butuh privasi untuk merayakan kesuksesan proyek bendungan itu, kan?"

 

Pesu berdiri, meninggalkan para wanita itu sebentar untuk mendekat ke arah Badras. "Privasi? Dengan tiga pesawat pribadiku yang parkir di landasan pacu pribadi dan keamanan selevel Mossad, kurasa Tuhan pun harus minta izin kalau mau mampir ke sini."

 

"Jangan sombong, Pesu. Uang memang bisa membeli pulau, tapi tidak bisa membeli nyawa tambahan kalau kita ceroboh," ujar Badras seraya tertawa kecil.

 

"Ah, kau terlalu serius! Lihat mereka," Pesu menunjuk ke arah sebelas orang pria lain yang sedang asyik dengan dunia mereka masing-masing. Ada yang sedang dipijat, ada yang sedang berjudi di meja poker darurat, dan ada yang sibuk memesan menu tambahan pada koki bintang lima yang mereka bawa. "Semuanya bahagia. Semuanya kaya. Dan yang paling penting, semuanya aman di bawah perlindunganmu."

 

Seorang koki mendekat dengan nampan berisi wagyu A5 yang baru saja dipanggang. "Permisi, Tuan Badras, Tuan Pesu. Makan malam hampir siap di paviliun utama."

 

Badras mengangguk. "Terima kasih, Chef. Pastikan musiknya tidak terlalu keras semalam ini. Aku ingin kita bisa mendengar suara ombak sedikit lebih jelas."

 

"Baik, Tuan," sahut koki itu sopan sebelum berlalu.

 

Pesu merangkul bahu Badras. "Kau tahu apa yang paling aku suka dari liburan Jumat-Sabtu-Minggu kita bulan ini? Fakta bahwa tidak ada satu pun wartawan atau jaksa yang bisa mengendus jejak kita di sini."

 

"Itu karena kita pintar, Pesu. Orang jujur itu bodoh, makanya mereka miskin. Kita? Kita hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hak para pemenang," Badras menuangkan kembali wiski ke gelasnya.

 

"Benar sekali. Bicara soal orang jujur, kau ingat si tua bangka yang dulu mencoba menghentikan izin lahanmu?" tanya Pesu sambil menyeringai.

 

Badras tertawa terbahak-bahak. "Maksudmu pegawai pemerintah yang sok suci itu? Siapa namanya? Ah, sudahlah, aku lupa. Yang jelas, dia sekarang pasti sedang menikmati kasur tipis di penjara seumur hidup berkat 'sumbangan' bukti palsu yang kita rancang."

 

"Itu adalah mahakarya hukum terhebat yang pernah kita buat, Badras. Dia dipenjara karena korupsi yang justru kita lakukan. Ironis, bukan?" Pesu terpingkal-pingkal sampai wajahnya memerah.

 

"Sangat ironis. Dan sekarang, anaknya entah ada di mana. Mungkin jadi gelandangan atau mati kelaparan," tambah Badras dingin.

 

Salah satu wanita cantik mendekati mereka, merayu dengan suara manja. "Tuan-tuan, kenapa bicara soal orang penjara di tempat seindah ini? Musik sudah mulai, ayo menari!"

 

Badras mengelus pipi wanita itu. "Kau benar, Cantik. Malam ini bukan untuk bicara soal masa lalu. Malam ini adalah tentang kenikmatan."

 

Dari kejauhan, dentuman musik kafe yang dimainkan oleh band papan atas yang mereka sewa mulai menghentak. Semua orang tampak larut dalam euforia. Keamanan internasional yang berjaga di setiap sudut pulau memberikan rasa aman yang mutlak. Tak ada yang menyadari bahwa di balik semak-semak lebat yang membatasi hutan pulau dengan area vila, sepasang mata sedang mengawasi dengan kebencian yang mendalam.

 

"Semuanya sudah siap, Bos?" tanya seorang penjaga keamanan melalui radio walkie-talkie yang tergantung di pinggang Badras.

 

Badras mengambil radio itu. "Semua terkendali. Pastikan perimeter aman. Jangan biarkan ada nyamuk pun yang masuk tanpa izin."

 

"Siap, Tuan Badras. Semua sensor aktif dan tidak ada pergerakan mencurigakan," jawab suara di seberang.

 

Badras mematikan radio itu dan kembali menatap kerumunan sahabat-sahabat koruptornya yang sedang berpesta pora.

 

"Nikmatilah malam ini sepuas kalian, kawan-kawan, karena besok adalah malam terakhir kita di sini," teriak Badras dengan suara lantang yang disambut sorakan meriah.

 

Pesu mendekat lagi ke telinga Badras sambil berbisik. "Tapi Badras, kenapa aku merasa hawa malam ini sedikit lebih dingin dari biasanya?"

 

Badras menatap ke arah kegelapan hutan di luar jangkauan lampu sorot. "Itu hanya perasaanmu saja karena terlalu banyak minum wiski, Pesu."

 

"Mungkin kau benar, tapi bukankah kau baru saja mendengar suara sesuatu yang patah di arah gerbang belakang?"

 

*

 

2

 

Malam kedua di Pulau Kembangga Cengkerek seharusnya menjadi puncak kemeriahan. Namun, suasana di pos penjagaan utama terasa aneh. Kapten keamanan, seorang mantan agen khusus bernama Marko, tidak menjawab panggilan radio selama sepuluh menit terakhir.

 

Badras Waras sedang duduk di ruang kerjanya yang kedap suara, memeriksa beberapa dokumen transfer bank, ketika pintu diketuk dengan keras. Pesu masuk dengan wajah pucat.

 

"Badras, ada yang tidak beres," kata Pesu dengan suara bergetar.

 

Badras mengangkat alisnya. "Apa lagi sekarang? Wanita-wanita itu minta tambahan bayaran?"

 

"Bukan! Ini soal penjaga. Aku baru saja berkeliling ke arah dermaga, dan aku tidak melihat satu pun penjaga yang berdiri di pos mereka. Semuanya kosong," lapor Pesu.

 

Badras berdiri dari kursi kulitnya. "Mungkin mereka sedang patroli keliling. Kita bayar mereka mahal untuk bergerak, bukan untuk diam seperti patung."

 

"Tapi tidak biasanya mereka meninggalkan pos tanpa ada yang berjaga satu pun. Dan radio... kenapa radio mereka hanya mendesis?" Pesu menyodorkan walkie-talkie-nya.

 

Badras mencoba memanggil. "Marko? Masuk, Marko. Ini Badras. Laporkan posisimu!"

 

Hanya ada suara statis. Sshhhhhhh...

 

"Sialan," umpat Badras. Ia segera keluar ruangan menuju lobi utama. Di sana, para koruptor lain masih asyik berpesta, meski beberapa mulai merasa ada yang aneh karena musik berhenti tiba-tiba.

 

"Hei, Badras! Kenapa band-nya berhenti? Kita baru saja mau mulai ronde kedua!" teriak salah satu teman mereka yang sudah mabuk berat.

 

Badras tidak menjawab. Ia berjalan menuju balkon dan menyalakan lampu sorot besar yang mengarah ke hutan. Kosong. Hanya pepohonan yang bergoyang ditiup angin laut.

 

"Mungkin ini hanya masalah teknis pada listrik," gumam Badras mencoba menenangkan diri sendiri.

 

"Masalah teknis tidak membuat dua puluh orang penjaga terlatih menghilang, Badras!" bentak Pesu.

 

Tiba-tiba, lampu di seluruh vila padam total. Kegelapan pekat menyergap. Suara teriakan para wanita terdengar melengking di tengah kegelapan.

 

"Tenang! Semuanya tenang! Gunakan ponsel kalian!" teriak Badras.

 

Cahaya-cahaya kecil dari layar ponsel mulai menyala satu per satu. Dalam keremangan itu, mereka melihat sesuatu yang mengerikan. Di tengah lantai dansa, seorang pria berdiri diam. Ia memakai setelan hitam taktis dan topeng hitam legam yang menutupi seluruh wajahnya. Di tangannya, ia memegang sebuah kapak baja besar yang berkilau tertimpa cahaya ponsel.

 

"Siapa kau?!" teriak Badras dengan suara bergetar.

 

Pria bertopeng itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

 

"Keamanan! Siapa pun! Tembak orang ini!" Pesu berteriak histeris.

 

Namun, tidak ada jawaban dari para penjaga. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam. Pria itu mulai melangkah maju dengan tenang, seolah-olah ia punya seluruh waktu di dunia.

 

"Dengar, Bung," kata salah satu koruptor yang mencoba berani, "siapa pun yang menyewamu, aku bisa bayar dua kali lipat. Berapa? Sepuluh miliar? Dua puluh miliar?"

 

Pria bertopeng itu berhenti sejenak. Suaranya terdengar berat dan terdistorsi dari balik topeng. "Uangmu tidak bisa membeli nyawa yang sudah kau hancurkan."

 

Sret!

 

Dengan satu gerakan yang sangat cepat, kapak itu berayun secara horizontal. Kepala pria yang baru saja bicara itu terlepas dari lehernya dalam sekejap mata. Darah menyembur seperti air mancur, membasahi lantai pualam yang mahal.

 

"Aaaaaaaaakh!" teriakan histeris pecah. Semua orang berlarian kocar-kacir dalam kegelapan.

 

"Pesu, lari ke bunker!" perintah Badras sambil menarik lengan temannya.

 

Mereka berlari melintasi lorong-lorong gelap, mengabaikan teriakan teman-teman mereka yang mulai dibantai satu per satu di belakang. Suara kapak yang menghantam daging dan tulang terdengar berirama, diikuti dengan suara benda berat yang jatuh ke lantai.

 

"Dia bukan manusia... dia setan!" tangis Pesu sambil terengah-engah.

 

"Diam dan lari saja!" gertak Badras.

 

Saat mereka mencapai pintu bunker, Badras dengan cepat menekan kode akses. Pintu baja itu terbuka perlahan. Mereka masuk dan segera menguncinya dari dalam. Di dalam bunker yang dilengkapi CCTV, mereka bisa melihat apa yang terjadi di luar.

 

Di layar monitor yang didukung baterai darurat, mereka melihat pria bertopeng itu menyeret kapaknya yang berlumuran darah. Ia berjalan melewati mayat-mayat yang bergelimpangan. Para wanita dan koki tidak disentuh; mereka hanya meringkuk di sudut sambil menangis, sementara sang penjagal terus mencari targetnya.

 

"Kenapa dia tidak membunuh yang lain?" bisik Pesu.

 

Badras memperhatikan layar dengan saksama. "Dia hanya mengincar kita. Dia hanya mengincar tiga belas orang yang ada di daftar itu."

 

Tiba-tiba, pria bertopeng itu berhenti tepat di depan kamera CCTV. Ia menatap lurus ke arah lensa, seolah tahu Badras dan Pesu sedang menontonnya. Ia mengangkat selembar kertas yang berlumuran darah ke arah kamera. Di sana tertulis satu nama dengan tinta merah: Badras Waras.

 

"Kau tahu siapa dia, kan?" tanya Pesu dengan suara nyaris hilang.

 

*

 

3

 

Di dalam bunker yang seharusnya aman, Badras Waras merasa seperti tikus yang terperangkap. Layar monitor menunjukkan pemandangan yang mengerikan. Satu per satu rekannya tewas. Ada yang mencoba lari ke arah pantai, namun sang penjagal melempar kapaknya dengan akurasi yang mustahil. Kapak itu membelah punggung koruptor tersebut dari kepala hingga selangkangan, membelah tubuhnya menjadi dua bagian simetris.

 

"Ini tidak mungkin... ini mustahil," gumam Badras. Ia terduduk di lantai bunker yang dingin.

 

Pesu mondar-mandir seperti orang gila. "Kita harus panggil bantuan! Pesawat pribadiku! Pilotnya pasti masih di landasan!"

 

"Sinyal diblokir, Pesu! Kau tidak lihat? Dia sudah merencanakan ini dengan sangat matang," bentak Badras. "Semua teknologi keamanan yang kubeli dengan harga ratusan miliar ternyata tidak berguna di depan satu orang dengan kapak!"

 

"Siapa dia, Badras? Katakan padaku!" Pesu mencengkeram kerah kemeja Badras.

 

Badras menepis tangan Pesu. "Ayahnya adalah pegawai dinas perizinan itu. Pria yang kita fitnah sepuluh tahun lalu. Pria yang mati di penjara bulan lalu karena serangan jantung."

 

Pesu tertegun. "Maksudmu... anak si tua jujur itu? Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini? Dia hanya seorang anak teknisi, kan?"

 

"Temannya," bisik Badras. "Aku ingat sekarang. Dia punya sahabat yang bekerja di Jerman sebagai teknisi militer. Mereka pasti bekerja sama. Tapi yang ada di atas sana sekarang... itu adalah dendam yang menjelma jadi monster."

 

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari pintu baja bunker. BAM!

 

"Dia tidak mungkin bisa masuk! Ini baja setebal sepuluh sentimeter!" teriak Pesu ketakutan.

 

BAM!

 

Retakan mulai muncul di engsel pintu. Kekuatan ayunan kapak di luar sana tampaknya bukan kekuatan manusia biasa. Pria itu menggunakan alat penambah daya atau semacam teknologi hidrolik yang dipasang pada lengannya.

 

"Badras, lakukan sesuatu!"

 

Badras mengambil pistol dari laci meja darurat di bunker tersebut. "Aku akan menembaknya saat dia masuk. Hanya itu pilihan kita."

 

Pintu bunker itu akhirnya jebol. Asap debu mengepul. Sosok bertopeng itu melangkah masuk dengan tenang. Kapaknya diseret, meninggalkan garis darah panjang di lantai.

 

"Berhenti di situ atau aku tembak!" teriak Badras dengan tangan gemetar memegang pistol.

 

Pria bertopeng itu tidak berhenti. Badras melepaskan tiga tembakan. Dor! Dor! Dor!

 

Peluru-peluru itu mengenai dada sang pembunuh, tapi dia tidak tumbang. Ia hanya terhuyung sejenak, lalu kembali tegak. Rompi antipeluru militer yang dikenakannya sangat tebal.

 

"Tolong! Jangan bunuh aku! Aku punya uang! Banyak sekali uang!" ratap Pesu sambil berlutut di depan pria itu.

 

Sang penjagal mengangkat kapaknya. Suaranya terdengar sangat dingin, hampir tanpa emosi. "Uangmu tidak bisa menghidupkan kembali ayahku yang mati dalam kehinaan di sel yang sempit."

 

"Kami bisa membersihkan namanya! Kami akan buat pengakuan!" teriak Badras.

 

Pria itu menggeleng perlahan. "Sudah terlambat. Keadilan tidak ada di meja hijau kalian. Keadilan ada di ujung baja ini."

 

Dengan satu ayunan yang sangat kuat, kapak itu menebas leher Pesu Madangkana. Kepala pria terkaya di komunitas itu menggelinding hingga ke kaki Badras. Badras berteriak histeris, menjatuhkan pistolnya, dan merangkak mundur hingga terpojok di dinding.

 

"Sekarang giliranmu, Badras Waras. Tuan rumah yang sangat ramah," kata pria itu sambil melangkah mendekat.

 

Badras menangis sesenggukan. "Tolong... aku mohon... aku punya keluarga..."

 

"Ayahku juga punya keluarga. Tapi kau menghancurkannya tanpa kedip sedikit pun demi beberapa digit angka di rekeningmu," pria itu mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Cahaya lampu darurat yang kemerahan membuat pemandangan itu tampak seperti adegan di neraka.

 

"Siapa namamu? Setidaknya biarkan aku tahu siapa yang membunuhku!" pinta Badras dengan sisa keberaniannya.

 

Pria itu membuka topengnya perlahan. Di balik topeng itu, terdapat wajah seorang pria muda dengan mata yang terlihat sangat lelah namun penuh tekad. Ada luka parut panjang di pipinya.

 

"Namaku tidak penting. Tapi bagi ayahku, aku adalah putranya yang berjanji akan mencuci darah dengan darah," jawabnya.

 

Kapak itu berayun. Badras hanya sempat melihat kilatan baja sebelum dunianya menjadi gelap selamanya.

 

*

 


4

 

Satu jam setelah pembantaian itu berakhir, suasana di Pulau Kembangga Cengkerek kembali sunyi. Hanya suara deburan ombak dan isak tangis samar dari para wanita dan pelayan yang masih bersembunyi di kamar-kamar atas.

 

Pria muda itu berjalan menuju dermaga belakang yang tersembunyi. Di sana, sebuah kapal selam mini berwarna hitam metalik sudah menunggu, terapung tenang di permukaan air.

 

Seorang pria lain muncul dari dalam lubang palka kapal selam itu. "Sudah selesai, kawan?"

 

"Sudah. Tiga belas ekor lintah itu sudah musnah," jawab sang penjagal sambil membersihkan sisa darah di wajahnya.

 

"Bagaimana dengan para penjaga?"

 

"Hanya peluru bius. Mereka akan bangun besok siang dengan kepala pening, tapi mereka hidup. Aku tidak punya urusan dengan mereka yang hanya menjalankan tugas demi gaji," ia melompat ke atas kapal selam.

 

"Kau yakin tidak meninggalkan jejak? Badras punya sistem keamanan yang sangat canggih," tanya temannya yang merupakan teknisi kiriman dari Jerman itu.

 

Pria muda itu menoleh ke arah vila yang sekarang terlihat seperti kuburan mewah di tengah pulau. "Aku sudah menghancurkan pusat datanya. Tidak ada rekaman. Dan kapak itu... aku akan membuangnya ke palung laut terdalam dalam perjalanan pulang."

 

"Keadilan telah ditegakkan, meski dengan cara yang gelap," gumam si teknisi.

 

"Ini bukan soal keadilan lagi. Ini soal keseimbangan. Mereka ugal-ugalan merampok nyawa rakyat, maka maut juga akan menjemput mereka dengan cara yang ugal-ugalan," pria muda itu masuk ke dalam palka.

 

Kapal selam mini itu mulai menyelam perlahan, menghilang di balik kegelapan air laut yang dingin. Tak lama kemudian, permukaan air kembali tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Keesokan harinya, ketika tim medis dan polisi datang setelah menerima laporan anonim, mereka menemukan pemandangan yang akan menghantui mimpi mereka selamanya. Tiga belas orang paling berpengaruh di negeri itu tewas dengan cara yang mengerikan. Namun, anehnya, tak ada satu pun barang berharga yang hilang. Jam tangan seharga miliaran, tumpukan uang tunai, dan perhiasan para wanita tetap pada tempatnya.

 

Satu-satunya hal yang hilang adalah nyawa para koruptor itu.

 

Di atas meja kerja Badras Waras yang berlumuran darah, polisi menemukan sebuah catatan kecil yang ditinggalkan oleh sang pembunuh. Catatan itu hanya berisi satu kalimat pendek yang ditulis dengan tangan yang sangat rapi.

 

Seorang inspektur polisi membacanya dengan tangan gemetar, lalu menatap rekan-rekannya dengan wajah pucat.

 

"Apa isinya, Komandan?" tanya salah satu polisi muda.

 

Inspektur itu menghela napas panjang dan menunjukkan kertas itu.

 

"Korupsi adalah kanker, dan kapak ini adalah operasinya."

 

*

 

5

 

Beberapa bulan setelah kejadian di Pulau Kembangga Cengkerek, berita itu mulai meredup. Pemerintah melakukan pembersihan besar-besaran terhadap aset-aset milik tiga belas koruptor yang tewas tersebut. Masyarakat bersorak, menganggap sang pembunuh sebagai pahlawan anonim.

 

Di sebuah kafe kecil di pinggiran kota Berlin, pria muda itu sedang duduk sambil membaca koran internasional. Ia menyeruput kopi hitamnya dengan tenang. Seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi duduk di hadapannya.

 

"Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik," kata pria paruh baya itu dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar.

 

Pria muda itu melirik tajam. "Aku melakukannya untuk ayahku. Bukan untuk kalian."

 

Pria paruh baya itu tersenyum tipis. "Tentu saja. Tapi kau harus mengakui, tanpa bantuan data intelejen kami dan kapal selam mini itu, kau tidak akan pernah bisa menembus pertahanan Badras Waras."

 

"Apa maumu sekarang? Aku sudah memberikan apa yang kalian inginkan. Tiga belas orang itu sudah mati, dan posisi mereka di pemerintahan sekarang kosong," sahut pria muda itu dingin.

 

Pria paruh baya itu mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dan mendorongnya ke arah pria muda itu. "Ada tiga belas nama lagi. Mereka lebih besar, lebih licin, dan lebih berbahaya dari kelompok Badras."

 

Pria muda itu menatap amplop tersebut dengan ragu. "Aku bukan pembunuh bayaran kalian."

 

"Kami tidak membayar dengan uang, Nak. Kami membayar dengan rasa tenang bagi arwah ayahmu. Bukankah kau ingin membersihkan seluruh kebun dari hama?" tanya pria itu dengan nada persuasif.

 

Pria muda itu terdiam lama. Ia teringat wajah ayahnya saat terakhir kali bertemu di balik jeruji besi. Wajah yang jujur, lelah, dan hancur karena fitnah. Ia kemudian membuka amplop itu dan melihat foto-foto target barunya.

 

Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Di salah satu foto itu, ada wajah yang ia kenali. Wajah pria paruh baya yang sekarang sedang duduk di depannya.

 

"Kenapa fotomu ada di sini?" tanya pria muda itu sambil menatap lawan bicaranya dengan bingung.

 

Pria paruh baya itu tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar hampa dan mengerikan. Ia berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, dan menatap ke arah luar jendela kafe yang mulai diguyur hujan.

 

"Karena aku adalah orang yang memberikan perintah pada Badras Waras untuk memfitnah ayahmu sepuluh tahun lalu."

 

Pria muda itu tersentak, tangannya secara insting mencari sesuatu di balik jaketnya. Namun, pria paruh baya itu lebih cepat. Dua orang pria berbadan tegap tiba-tiba muncul di belakang pria muda itu dan menodongkan senjata dengan peredam suara ke punggungnya.

 

"Jangan bodoh," bisik pria paruh baya itu. "Aku mengirimmu ke pulau itu untuk membersihkan jejak-jejakku. Badras dan Pesu tahu terlalu banyak. Mereka mulai tidak bisa dikendalikan. Jadi, aku menggunakan dendammu untuk melenyapkan mereka."

 

"Kau... kau monster yang sebenarnya," desis pria muda itu dengan amarah yang meluap.

 

"Kita semua adalah monster di dunia ini, tergantung siapa yang memegang kapaknya. Sekarang, kau punya dua pilihan. Mati di sini sebagai pembunuh massal yang dicari interpol, atau bekerja untukku dan mendapatkan nama baru, identitas baru, dan target-target baru yang memang pantas untuk mati."

 

Pria muda itu mengepalkan tinjunya. Ia menyadari bahwa ia baru saja keluar dari satu sarang lintah hanya untuk masuk ke dalam mulut seekor naga.

 

"Jadi, apa keputusanmu, Pahlawan Kapak?" tanya pria paruh baya itu sambil tersenyum lebar.

 

Pria muda itu menatap foto-foto di dalam amplop tersebut, lalu menatap pria di depannya dengan tatapan yang sangat dingin, lebih dingin daripada baja kapaknya di malam pembantaian itu.

 

"Siapkan kapakku yang baru."

 

*

 

6

 

Pria muda itu, yang kini memiliki identitas baru sebagai 'Aris', berdiri di atas gedung pencakar langit di pusat kota Jakarta. Di tangannya bukan lagi kapak besar yang berat, melainkan sebuah koper perak berisi peralatan canggih.

 

"Target pertama sudah terlihat, Bos," ucap Aris melalui mikrofon kecil di kerah bajunya.

 

Di seberang sana, suara pria paruh baya yang kini menjadi atasannya terdengar puas. "Ingat, buat itu terlihat seperti kecelakaan. Kita tidak ingin drama kapak terulang lagi di tengah kota."

 

Aris memandangi targetnya melalui teropong. Seorang menteri yang sedang dikawal ketat, baru saja keluar dari mobil mewah. Aris tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun sebelumnya.

 

"Tenang saja, aku tahu cara membuat mereka menderita sebelum mati," jawab Aris.

 

"Bagus. Laksanakan tugasmu dan jangan sampai ada kesalahan sedikit pun."

 

Aris menutup komunikasinya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari kopernya—sebuah pemicu ledakan mikro. Namun, ia tidak mengarahkannya ke arah mobil sang menteri. Ia justru memasukkan koordinat lain ke dalam sistemnya.

 

Koordinat kantor pribadi pria paruh baya yang baru saja memerintahnya.

 

"Kau pikir kau bisa mengendalikan dendamku?" gumam Aris pada diri sendiri.

 

Ia menekan tombol pemicu tersebut. Di kejauhan, sebuah ledakan hebat mengguncang distrik bisnis. Api membubung tinggi dari lantai teratas sebuah gedung megah. Aris memperhatikan pemandangan itu dengan kepuasan yang luar biasa.

 

Ia tahu, permainannya baru saja dimulai. Ia tidak akan berhenti sampai setiap orang yang terlibat dalam kehancuran ayahnya—termasuk mereka yang mencoba memanfaatkannya—tewas di tangannya.

 

Ia mengambil topeng hitamnya dari dalam koper, menatapnya sejenak, lalu memakainya kembali.

 

"Ayah, satu lagi sudah lunas."

 

Dari kegelapan malam, ia menghilang seperti bayangan, meninggalkan kekacauan yang akan menjadi berita utama besok pagi. Dan jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa kapak keadilan tidak akan pernah benar-benar berhenti berayun selama masih ada ketidakadilan di dunia ini.

 

Seorang saksi mata yang kebetulan berada di dekat gedung yang meledak itu bersumpah bahwa ia melihat sesosok pria bertopeng berdiri di puncak gedung seberang, memegang sesuatu yang berkilau seperti baja.

 

"Siapa itu?" tanya seorang pejalan kaki yang ketakutan.

 

Polisi yang baru tiba di lokasi hanya bisa menatap puing-puing bangunan dengan wajah bingung dan pasrah.

 

"Entahlah, tapi sepertinya seseorang baru saja mengirimkan tagihan atas dosa masa lalu."

 


Spirov Lengking, 620290215652