Senin, 21 September 2026

Suara dari Tanah yang Berbisik

 

________________________________________________________________________

Disclaimer:

Tulisan ini termasuk cerpen (cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya kebetulan belaka.

________________________________________________________________________

 

Suara dari Tanah yang Berbisik

 

"Jangan sentuh kotak itu, Semampir! Debunya bisa membuatmu sesak napas seminggu," teriak Ibu dari lantai bawah.

 

Semampir tidak peduli. Tangannya yang terbalut sarung tangan karet baru saja menyentuh gembok kuningan yang sudah berkarat hijau di sudut tergelap loteng. "Hanya kotak kayu tua, Bu! Sepertinya milik almarhum Kakek Bargendro!"

 

"Kakekmu?" Suara langkah kaki Ibu terdengar menaiki tangga kayu yang berderit. "Nenekmu selalu melarang siapa pun membuka barang-barang suaminya. Katanya, itu gudang kesedihan."

 

"Tapi gemboknya sudah lepas sendiri," sahut Semampir, menarik paksa tutup kayu yang sudah lapuk itu.

 

Di dalamnya, tumpukan kertas kekuningan menyambutnya. Bukan mainan tua atau perhiasan, melainkan tumpukan amplop dengan perangko tahun 60-an. Semampir mengambil satu lembar yang tintanya sudah memudar, tapi tulisannya masih gagah.

 

"Bu, ini surat-surat dari tahun 1965," bisik Semampir, matanya membelalak. "Ditulis oleh Bargendro untuk Nenek Lastri."

 

Ibu berdiri di ambang pintu loteng, wajahnya mendadak pucat. "Simpan kembali, Semampir. Kita tidak seharusnya mengaduk-aduk tanah yang sudah tenang."

 

"Tapi lihat ini, Bu. Dia menulis tentang rapat-rapat di desa. Tentang janji tanah untuk petani," Semampir membaca cepat baris-baris itu. "Bargendro bukan cuma guru desa biasa, kan?"

 

"Dia hanya seorang guru yang ingin murid-muridnya bisa makan nasi, bukan sekadar tiwul," suara Ibu bergetar.

 

"Di sini tertulis dia bergabung dengan organisasi itu. Nama organisasinya... PKI?" Semampir menatap ibunya lekat-lekat.

 

Ibu menghela napas panjang, lalu duduk di sebuah kursi tua yang berdebu. "Zaman itu tidak sesederhana hitam dan putih seperti di buku sejarahmu, Nak. Bargendro masuk ke sana karena mereka menjanjikan pupuk murah dan tanah untuk sekolah desa kita."

 

"Tapi kenapa Nenek tidak pernah bercerita?" tanya Semampir penasaran.

 

"Karena setelah tahun 1966, nama itu menjadi kutukan yang harus dikubur hidup-hidup," jawab Ibu lirih.

 

Semampir membolak-balik surat yang lain, hingga menemukan satu yang bertanggal 15 Oktober 1965. Isinya bukan lagi soal janji tanah, melainkan ketakutan.

 

"Apa yang terjadi pada Kakek Bargendro di akhir tahun itu, Bu?"

 

Ibu memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca menatap jendela loteng yang kusam. "Dia pergi membawa surat terakhir yang tidak pernah sampai ke tangan Nenekmu."

 

"Ke mana dia pergi?"

 

"Tanyakan langsung pada Nenekmu, jika dia masih ingat siapa dirinya sendiri."

 

*

 

 

Tahun 1965 – Desa Karang Jati

 

"Bargendro, kau terlalu vokal di rapat tadi," bisik Lastri sambil menuangkan teh pahit di meja kayu mereka yang reyot.

 

Bargendro meletakkan kapur tulisnya, tangannya masih putih karena debu papan tulis. "Petani-petani itu butuh kepastian, Lastri. Kalau bukan kita yang bicara, tuan tanah akan terus mengisap sumsum mereka."

 

"Tapi orang-orang di kota mulai bicara soal kerusuhan. Kabar burung itu makin kencang," sahut Lastri gelisah.

 

"Kabar burung hanya untuk mereka yang tidak punya pekerjaan. Aku punya kelas yang harus diajar besok pagi," jawab Bargendro tegas.

 

"Hardi bilang kau sekarang jadi pengurus tingkat desa. Benar begitu?" Lastri menatap suaminya dengan mata yang mulai basah.

 

Bargendro menarik kursi, duduk di hadapan istrinya. "Hanya urusan administratif, Lastri. Mereka butuh orang yang bisa baca tulis untuk mencatat distribusi bibit. Apa salahnya membantu tetangga sendiri agar bisa mandiri?"

 

"Dunia sedang memanas, Bargendro. Aku takut kalau niat baikmu dipelintir menjadi sesuatu yang jahat," bisik Lastri.

 

"Jangan khawatir. Aku ini guru. Senjataku hanya kapur dan buku, bukan bedil," Bargendro tersenyum, mencoba menenangkan.

 

Namun, ketenangan itu hanya bertahan hingga akhir September. Suatu malam, Hardi datang dengan wajah pasi, mengetuk pintu rumah mereka dengan kalap.

 

"Bargendro! Keluar! Kau harus lihat apa yang terjadi di Jakarta!" teriak Hardi dari balik pintu.

 

Bargendro membuka pintu dengan tergesa. "Ada apa? Kenapa kau berkeringat dingin begini?"

 

"Jenderal-jenderal itu... mereka bilang ada kudeta! Dan mereka menunjuk kita, Bargendro! Kita semua!" Hardi mencengkeram bahu Bargendro dengan tangan gemetar.

 

"Kudeta apa? Kita hanya bicara soal pembagian tanah dan pendidikan!" Bargendro mencoba melepaskan cengkeraman itu.

 

"Mereka tidak akan peduli kau guru atau bukan! Siapa pun yang memegang kartu anggota atau pernah ikut rapat akan disikat!" Hardi menoleh ke arah kegelapan jalan desa.

 

"Bargendro, masuk ke dalam!" teriak Lastri dari balik tirai.

 

"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Hardi. Aku hanya ingin rakyat sejahtera," Bargendro bersikeras, meskipun suaranya mulai goyah.

 

"Kebenaran tidak ada gunanya saat ini, kawan. Larilah sebelum truk-truk itu sampai ke desa ini!"

 

*

 

 

Tahun 2024 – Teras Rumah Nenek

 

Nenek Lastri duduk di kursi goyangnya, menatap lurus ke arah kebun singkong yang mulai rimbun. Semampir duduk di lantai, di samping kakinya, memegang surat terakhir yang ia temukan di kotak itu.

 

"Nek, aku menemukan ini di loteng," bisik Semampir lembut.

 

Nenek menoleh perlahan, matanya yang sudah mengabur karena katarak mencoba fokus pada kertas di tangan Semampir. "Surat... dari Mas Bargendro?"

 

"Iya, Nek. Tapi sepertinya ini surat yang belum sempat dikirim. Kenapa ada di kotak itu?"

 

Nenek menghela napas, suaranya terdengar seperti gesekan daun kering. "Malam itu... malam terakhir aku melihatnya. Dia sedang menulis sesuatu di meja belajar. Tiba-tiba ada suara gaduh di depan rumah."

 

"Apa yang terjadi?" tanya Semampir, menahan napas.

 

"Truk-truk tentara dan orang-orang dengan ikat kepala putih. Mereka memanggil namanya seolah-olah dia adalah penjahat paling dicari di republik ini," Nenek Lastri memejamkan mata, air mata mengalir di kerutan pipinya.

 

"Kakek melawan?"

 

"Dia tidak melawan. Dia hanya sempat memasukkan surat itu ke dalam laci, lalu menoleh padaku. Katanya, 'Jaga anak-anak, Lastri. Ini hanya salah paham'," kenang Nenek dengan suara parau.

 

Semampir membuka lipatan surat itu dan membacanya keras-keras untuk Neneknya.

 

"Untuk istriku, Lastri. Jika esok matahari tak lagi menyapaku di ruang kelas, ketahuilah bahwa aku tidak pernah mengkhianati tanah ini. Aku hanya ingin melihat anak-anak petani bisa menulis namanya sendiri. Jika mereka datang menjemputku, jangan menangis. Simpanlah buku-bukuku. Ceritakan pada anak kita bahwa ayahnya bukan seorang pembunuh."

 

"Dia dibawa ke mana, Nek?" Semampir bertanya setelah terdiam sejenak.

 

"Ke kamp di pinggir hutan. Lalu ke pulau. Lalu... hilang," Nenek menggeleng lemah. "Aku mencarinya selama sepuluh tahun. Setiap ada truk lewat, aku berlari ke jalan, berharap dia turun dengan tas berisi kapur tulisnya."

 

"Kenapa Nenek menyimpan surat ini di loteng? Kenapa tidak pernah ditunjukkan pada Ibu?"

 

"Karena dunia ini kejam, Semampir. Selama puluhan tahun, menjadi keluarga Bargendro berarti menjadi sampah masyarakat. Aku ingin ibumu tumbuh tanpa beban itu," Nenek menggenggam tangan Semampir.

 

"Tapi sekarang zaman sudah beda, Nek. Kita harus tahu kebenarannya."

 

"Kebenaran tidak akan menghidupkan Kakekmu, Nak. Kebenaran hanya akan membuat lukanya terasa perih lagi," bisik Nenek.

 

Tiba-tiba, suara mobil berhenti di depan rumah. Ibu turun dengan wajah panik, melihat Semampir sedang memegang surat-surat itu bersama Nenek.

 

"Semampir! Sudah kubilang jangan bahas ini lagi!" seru Ibu, menghampiri mereka.

 

"Tapi Bu, Kakek Bargendro tidak bersalah! Dia hanya korban janji palsu!" balas Semampir dengan nada tinggi.

 

Nenek Lastri tiba-tiba berdiri dari kursi goyangnya, tubuhnya yang renta tampak tegang. "Cukup! Jangan berdebat di depan sejarah yang sudah membisu!"

 

"Nenek..." Semampir tertegun melihat kemarahan di mata tua itu.

 

"Bargendro memang hanya seorang guru, tapi dia memilih jalan yang salah di waktu yang salah," suara Nenek mendadak dingin.

 

"Maksud Nenek? Dia sengaja bergabung?" Semampir mengejar.

 

"Dia tahu risikonya, Semampir. Dia tahu, tapi dia terlalu mencintai idealisme lebih dari nyawanya sendiri," Nenek kembali duduk, energinya seolah terkuras habis.

 

Ibu mendekati Semampir, merampas surat di tangannya dengan lembut. "Sudahlah, Semampir. Biarkan Kakekmu beristirahat dalam surat-suratnya."

 

"Tapi masih ada satu surat lagi di dasar kotak, Bu. Surat dari seseorang bernama Hardi, bertanggal tahun 1970," Semampir merogoh saku celananya.

 

Wajah Nenek dan Ibu seketika menegang. Nenek Lastri mencengkeram lengan kursi goyangnya hingga buku jarinya memutih.

 

"Apa isi surat dari Hardi itu?" tanya Nenek dengan suara gemetar yang tak bisa disembunyikan.

 

Semampir membuka kertas lusuh yang tadi sempat ia selipkan ke sakunya, lalu membacanya pelan: "Lastri, maafkan aku. Malam itu di pinggir sungai, Bargendro menitipkan satu pesan terakhir sebelum mereka membawanya ke balik pepohonan gelap."

 

"Pesan apa?" bisik Ibu, ikut tegang.

 



Semampir menatap Neneknya dalam-dalam, lalu membacakan baris terakhir dari surat Hardi yang selama ini tersembunyi di bawah tumpukan surat cinta Bargendro.

 

"Dia bilang, 'Katakan pada Lastri, jangan pernah cari jasadku di tanah ini, carilah aku di setiap huruf yang dibaca oleh murid-muridku'."

 

Spirov Lengking, 62029012160226