"Umpama
sirahmu ki disigar, njero sirahmu ki peteng ndhedhet, ora ana isine
apa-apa," begitu perkataan seseorang di tahun 1980-an yang masih
terngiang-ngiang di telinga saya sampai sekarang, Agustus 2026. Sebuah ungkapan
yang, jujur saja, cukup menusuk ulu hati jika Anda adalah si "kepala yang
disigar" itu. Ungkapan itu menyiratkan kekesalan di hati, sebuah frustrasi
akut karena melihat sosok di depannya itu terlihat bebal, bodoh, dungu, alias
idiot. Nah, pertanyaan krusialnya, yang mungkin sudah puluhan tahun mengusik
ketenangan para filsuf dadakan di warung kopi: apakah orang yang bodoh itu di
dalam tempurung kepalanya tidak ada otaknya sama sekali sehingga terlihat
peteng ndhedhet (gelap gulita)? Mari kita bahas dengan santai, rileks, dan
siapapun yang membaca ini, mohon jangan tersinggung ya! Ini sekadar tulisan
yang tujuan utamanya adalah agar saya, mungkin juga Anda, tahu tentang bodoh
dan seluk beluknya. Santai saja, ini bukan sidang paripurna kebodohan.
Anatomi Kepala
'Kosong': Antara Metafora dan Realita
Pertama-tama,
mari kita tegakkan akal sehat kita sejenak. Secara harfiah, membelah kepala
manusia dan menemukan kegelapan total tanpa isi apapun adalah skenario horor
yang hanya bisa terjadi di film-film slasher kelas B. Jika itu benar terjadi,
maka kita sedang berhadapan dengan fenomena medis yang jauh lebih menarik
daripada sekadar kebodohan: sebuah keajaiban anatomi yang menentang semua hukum
biologi. Jadi, secara fisik, tentu saja setiap manusia normal memiliki otak di
dalam tengkoraknya, lengkap dengan segala kerumitan neuron, sinapsis, dan
triliunan koneksi yang siap membuat kita pusing tujuh keliling saat
mempelajarinya.
Namun,
mari kita tangkap esensi dari ungkapan "peteng ndhedhet, ora ana isine
apa-apa" itu. Ini bukan tentang anatomi, melainkan tentang metafora. Ini
adalah gambaran verbal yang brutal tentang ketiadaan substansi intelektual.
Sebuah kepala yang secara fungsional kosong, meski secara fisik padat berisi.
Ibarat sebuah perpustakaan megah tanpa satu pun buku, atau sebuah lemari es
canggih yang isinya cuma angin. Sungguh pemandangan yang menyayat jiwa para
pecinta ilmu pengetahuan.
Spektrum Kebodohan:
Dari Nol Sampai Tak Terhingga
"Bodoh"
itu sendiri adalah kata yang menarik, elastis, dan seringkali digunakan
sembarangan. Apakah bodoh itu murni karena kurangnya informasi? Atau karena
ketidakmampuan memproses informasi? Atau jangan-jangan, yang paling parah,
karena keengganan untuk mencari dan menerima informasi?
1.
Bodoh Karena Kurang Informasi: Ini adalah jenis
kebodohan yang paling 'manusiawi' dan paling mudah diobati. Seseorang tidak
tahu bahwa bumi itu bulat karena dia hidup di desa terpencil tanpa akses
pendidikan atau internet. Begitu dia diberi tahu dan diberi bukti, dia akan
mengangguk-angguk, "Oh, begitu toh!" Ini adalah kegelapan yang bisa
diterangi dengan lampu senter pengetahuan.
2.
Bodoh Karena Ketidakmampuan Kognitif: Ini adalah
wilayah yang lebih sensitif. Ada kondisi-kondisi tertentu yang memang membatasi
kemampuan seseorang untuk belajar atau memahami hal-hal kompleks. Di sini,
ungkapan "peteng ndhedhet" terasa kejam, karena ini bukan pilihan,
melainkan kondisi. Untuk kasus ini, empati dan dukungan jauh lebih penting
daripada ejekan.
3.
Bodoh Karena Keengganan: Nah, ini dia biang
keroknya. Ini adalah jenis kebodohan yang paling membuat kita jengkel dan
paling sering memicu ungkapan "sirahmu ki disigar..." Ini adalah
orang yang punya akses informasi, punya kapasitas kognitif, tapi memilih untuk
tidak tahu, tidak mau belajar, atau bahkan menolak fakta. Otaknya mungkin
penuh, tapi isinya adalah prasangka, dogma usang, atau teori konspirasi yang ia
telan mentah-mentah tanpa filter. Di sinilah "kegelapan" itu bukan
karena ketiadaan cahaya, tapi karena ia sengaja menutup gorden jendela.
Mengapa Ada "Gelap
Gulita" di Era Pencerahan?
Di
era informasi yang melimpah ruah ini, di mana Google bisa menjawab hampir semua
pertanyaan dalam hitungan detik, fenomena "peteng ndhedhet" ini
justru semakin menarik. Bukankah seharusnya semua kepala sudah terang
benderang? Ternyata tidak semudah itu, Ferguso.
"Kegelapan
di dalam kepala seseorang seringkali bukan karena ketiadaan cahaya, melainkan
karena ia sengaja menutup gorden jendela, atau bahkan mencabut bola lampunya
sendiri."
Fenomena
ini bisa kita sebut sebagai "kebodohan sukarela". Sebuah pilihan
sadar untuk tetap berada dalam zona nyaman ketidaktahuan, enggan keluar dari
tempurung dogma atau keyakinan yang tidak teruji. Mereka mungkin punya otak
yang berkapasitas super, tapi isinya hanya diisi oleh hal-hal yang
mengkonfirmasi bias mereka sendiri. Segala informasi yang bertentangan akan
dianggap "hoaks", "propaganda", atau "sesat". Di
sinilah, kegelapan itu bukan karena ketiadaan otak, tapi karena otak itu
disalahgunakan, atau lebih tepatnya, "malas digunakan" untuk berpikir
kritis.
Siapa Sebenarnya yang
"Bodoh"? Sebuah Refleksi
Mungkin,
pertanyaan paling penting bukanlah apakah ada otak di kepala orang bodoh,
melainkan: siapa yang berhak melabeli seseorang "bodoh"? Apakah kita
sendiri sudah cukup tercerahkan untuk melontarkan vonis sekejam itu?
Apakah
orang yang tidak tahu cara mengoperasikan smartphone terbaru itu bodoh, padahal
ia adalah ahli botani yang menguasai nama latin ribuan tanaman?
Apakah
orang yang percaya takhayul itu bodoh, padahal ia adalah seorang insinyur
jenius yang membangun jembatan kokoh?
Ungkapan
"peteng ndhedhet" itu, meski kasar, sebenarnya adalah alarm. Alarm
bagi kita semua. Alarm bagi si penerima makian untuk mungkin sedikit membuka
diri pada hal baru. Dan alarm bagi si pemberi makian untuk merenung: apakah
cara saya menyampaikan ilmu sudah cukup efektif, atau justru saya hanya sibuk
melabeli tanpa berusaha menerangi?
#Merdeka_dari_Kebodohan:
Sebuah Manifesto
Pada
akhirnya, tujuan utama kita bukanlah mencari tahu apakah ada ruang hampa di
kepala seseorang, melainkan bagaimana kita bisa mengisi ruang-ruang
"kegelapan" itu dengan cahaya. Entah itu cahaya pengetahuan, cahaya
empati, atau cahaya kebijaksanaan.
Merdeka
dari kebodohan berarti:
Bersedia
untuk terus belajar, bahkan dari hal-hal yang paling sepele.
Berani
mempertanyakan keyakinan diri sendiri dan orang lain, bukan untuk mencari
kesalahan, tapi untuk mencari kebenaran yang lebih utuh.
Membuka
diri terhadap perspektif yang berbeda, meskipun itu terasa tidak nyaman.
Menggunakan
akal sehat untuk menyaring informasi, bukan menelan mentah-mentah tanpa proses.
Lebih
penting lagi, tidak cepat-cepat melabeli orang lain "bodoh",
melainkan berusaha memahami dan, jika mungkin, membantu menerangi.
Jadi,
mari kita hentikan obsesi membelah kepala orang lain (secara metaforis, tentu
saja) untuk melihat apakah ada isinya. Mari kita fokus pada bagaimana kita bisa
saling mengisi, saling menerangi, dan memastikan bahwa di dalam kepala kita
sendiri, setidaknya ada sedikit cahaya lilin yang tak pernah padam. Karena
kegelapan sejati bukanlah ketiadaan otak, melainkan ketiadaan keinginan untuk
menggunakan otak itu dengan sebaik-baiknya. Mari kita #merdeka dari kebodohan,
dimulai dari kepala kita masing-masing.
Spirov Lengking, 62028031094149