Arda menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Di depannya, barisan Bunga Lentera berpendar redup, seolah-olah sedang berbisik pada angin. Ia memegang sekop kecilnya dengan erat, menatap langit Aveloria yang hari ini terasa lebih berat dari biasanya. Emasnya terlalu pekat, hampir menyerupai tembaga yang mendidih.
"Kau
bekerja terlalu keras untuk seseorang yang hanya dibayar dengan sekantong benih
awan, Arda."
Arda
menoleh. Seorang gadis duduk di tepi tebing, kakinya berayun bebas di atas
lautan awan yang tak berdasar. Itu Lyra. Rambut hitamnya berkilau, memantulkan
cahaya ungu dari cakrawala.
"Seseorang
harus memastikan pulau ini tidak gundul, Lyra. Kalau aku berhenti, Bunga
Lentera ini akan meredup, dan kita semua akan kegelapan," jawab Arda
sambil menancapkan sekopnya ke tanah empuk.
Lyra
tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting kristal. "Kau selalu
merasa memikul beban seluruh Aveloria di bahumu. Tidakkah kau ingin melihat
sesuatu yang lebih indah dari sekadar tanaman rutinmu ini?"
Arda
berjalan mendekat, duduk di samping Lyra dengan jarak yang sopan. "Seperti
apa? Burung kristal yang bernyanyi sumbang karena terlalu banyak makan
embun?"
"Bukan,"
Lyra menggeleng, matanya menatap jauh ke arah utara. "Aku berasal dari Pulau
Utara. Di sana, kami punya legenda tentang Mawar Langit. Katanya, bunga itu
hanya mekar seratus tahun sekali."
Arda
mengerutkan kening. "Mawar Langit? Guru tuaku pernah menyebutnya. Katanya
itu hanya mitos untuk menakuti anak kecil agar tidak terbang terlalu jauh ke
Jantung Awan."
"Itu
nyata, Arda. Bunga itu bisa memperlihatkan isi hati yang paling murni. Aku
datang ke sini hanya untuk mencarinya," bisik Lyra, suaranya mendadak
parau.
Arda
menatap profil wajah Lyra. Ada kesedihan yang tersembunyi di balik matanya yang
sejernih telaga bulan. "Kenapa kau begitu terobsesi? Bukankah Pulau Utara
sudah cukup indah dengan sungai cahayanya?"
Lyra
menatap Arda lekat-lekat, jemarinya menyentuh permukaan awan di sampingnya.
"Indah saja tidak cukup untuk menyelamatkan sesuatu yang akan hilang,
bukan?"
"Apa
maksudmu dengan hilang?" tanya Arda dengan nada curiga.
Lyra
tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat
jantung Arda berdegup tidak keruan.
"Kau
tahu, Arda, terkadang kita tidak menyadari nilai sesuatu sampai kita melihatnya
di ambang kehancuran."
Arda
terdiam, merasakan embusan angin dingin yang menusuk kulitnya. "Kau bicara
seolah-olah akan ada sesuatu yang buruk terjadi."
Lyra
berdiri, merapikan gaun tipisnya yang sewarna awan fajar. "Memang akan
terjadi, Arda. Kau tidak merasakannya? Getaran di bawah kaki kita?"
Arda
ikut berdiri, menajamkan indranya. Benar saja, pulau melayang ini bergetar
halus, seolah-olah fondasi akarnya mulai retak.
"Kenapa
para Peramal Langit tidak mengatakan apa pun?" seru Arda panik.
Lyra
menunjuk ke arah utara. Terlihat kabut tebal berwarna kelabu mulai merayap
naik, menelan cahaya keemasan Aveloria.
"Karena
mereka terlalu sibuk berdoa pada bintang yang sudah mati, sementara rumahku
sedang tenggelam ke dalam Kabut Abadi."
*
Keesokan
paginya, seluruh Aveloria gempar. Menara-menara kristal bergetar hebat. Para
Peramal Langit berkumpul di alun-alun awan dengan wajah pucat. Kabar itu
terkonfirmasi: Pulau Utara mulai miring, ditarik oleh gravitasi Kabut Abadi
yang misterius.
Arda
menemukan Lyra di bawah jembatan pelangi. Gadis itu sedang menangis tanpa
suara.
"Aku
sudah mendengar pengumumannya," kata Arda lirih.
Lyra
menoleh dengan mata sembab. "Para Peramal bilang tidak ada harapan. Mereka
bilang Jantung Awan adalah tempat terlarang. Siapa pun yang ke sana tidak akan
pernah kembali."
"Satu-satunya
cara adalah membawa Mawar Langit ke Jantung Awan, kan? Begitu kata
ramalannya," Arda memastikan, tangannya mengepal kuat.
"Itu
bunuh diri, Arda! Jangan berani-berani memikirkannya!" teriak Lyra,
mencengkeram lengan baju Arda.
"Lalu
aku harus diam saja? Melihat rumahmu lenyap? Melihatmu ikut tenggelam
bersamanya?" Arda membalas tatapan Lyra dengan tajam.
"Kau
hanya seorang penjaga taman! Kau bukan prajurit naga!" Lyra mengguncang
tubuh Arda.
Arda
melepaskan cengkeraman Lyra perlahan, lalu menggenggam jemari gadis itu.
"Justru karena aku penjaga taman. Aku tahu cara bicara pada bunga. Mawar
Langit tidak butuh pedang, dia butuh seseorang yang mengerti cara merawat
kehidupan."
"Kenapa
kau mau melakukan ini untukku? Kita baru saling kenal beberapa minggu,"
bisik Lyra tak percaya.
Arda
tersenyum getir, menatap hujan bintang yang mulai turun di kejauhan, pertanda
keseimbangan alam mulai goyah. "Ada hal-hal yang tidak butuh waktu lama
untuk dimengerti. Perasaan ini... dia tumbuh lebih cepat dari Bunga Lentera di
musim semi."
Lyra
tertegun. Air matanya jatuh mengenai tangan Arda, terasa hangat sekaligus
menyakitkan. "Arda, Jantung Awan itu bukan sekadar tempat. Itu adalah
ujian. Tempat itu akan memakan ketakutanmu."
"Maka
aku tidak akan membawa ketakutan. Aku akan membawa harapanmu," janji Arda.
Malam
itu, mereka duduk di bawah pohon cahaya yang daunnya berguguran seperti
serpihan emas. Suasana terasa sangat melankolis, seolah-olah dunia sedang
bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Apa
yang paling kau inginkan jika semua ini berakhir, Arda?" tanya Lyra
tiba-tiba.
Arda
memandang wajah Lyra yang diterangi cahaya pohon. "Masa depan bersamamu.
Di sebuah pulau yang tidak akan pernah tenggelam."
Lyra
menyandArdan kepalanya di bahu Arda, memejamkan mata dengan rapat. "Kalau
begitu, berjanjilah kau akan kembali padaku, apa pun yang kau lihat di
sana."
"Aku
berjanji," sahut Arda pelan.
Lyra
menarik napas panjang, lalu membisikkan sesuatu yang membuat darah Arda
berdesir.
"Kau
harus tahu satu hal, Arda: Mawar Langit tidak selalu berbentuk seperti yang kau
bayangkan."
*
Perjalanan
menuju Jantung Awan adalah neraka yang indah. Arda harus melompat dari satu
pecahan awan ke pecahan lain, sementara petir biru menyambar-nyambar di
sekelilingnya. Ia tidak membawa senjata, hanya sebuah botol berisi embun pagi
dan keyakinan yang mulai retak.
Di
depannya, seekor Naga Kabut raksasa meliuk-liuk di antara pusaran angin.
Matanya yang merah menatap Arda dengan penuh ancaman.
"Mau
apa kau, manusia kecil, mengusik kedamaian sunyi ini?" suara naga itu
menggema di dalam kepala Arda.
Arda
berhenti, menyeimbangkan tubuhnya di atas awan yang licin. "Aku mencari
Mawar Langit untuk menyelamatkan Pulau Utara!"
Naga
itu tertawa, hembusan napasnya menciptakan badai kecil yang hampir membuat Arda
terjatuh. "Banyak yang datang sebelummu. Mereka membawa emas, mereka
membawa ambisi. Mereka semua berakhir menjadi pupuk bagi kabut ini."
"Aku
tidak membawa apa-apa selain janji!" teriak Arda melawan deru angin.
Naga
itu merendahkan kepalanya, mendekat hingga hidungnya yang bersisik kristal
menyentuh dada Arda. "Janji adalah beban yang paling berat. Apakah kau
siap memberikan jantungmu jika mawar itu memintanya?"
Arda
menelan ludah, bayangan senyum Lyra melintas di benaknya. "Jika itu harga
yang harus dibayar agar dia tetap hidup, ambillah."
Naga
itu terdiam sejenak, lalu perlahan tubuhnya memudar menjadi asap putih.
"Masuklah. Tapi ingat, apa yang kau lihat di dalam sana adalah cermin,
bukan kenyataan."
Arda
berlari menembus lubang di tengah pusaran awan. Cahaya di dalamnya sangat
menyilaukan, sebuah kontras yang ekstrem dari kegelapan badai di luar. Di
tengah ruangan luas yang terbuat dari cahaya murni itu, sebuah bunga melayang
di udara.
Itulah
Mawar Langit. Kelopaknya transparan, berdenyut dengan irama yang sama dengan
detak jantung Arda.
Arda
mendekat dengan gemetar. Saat tangannya menyentuh tangkai bunga itu, sebuah
gelombang energi menghantamnya. Penglihatan Arda mulai kabur.
Ia
melihat wajah Lyra. Bukan Lyra yang sedang tersenyum, melainkan Lyra yang
sedang memudar.
"Kenapa
kau melakukan ini, Arda?" suara Lyra bergema di ruangan itu.
"Aku
menyelamatkanmu!" jawab Arda lantang.
"Atau
kau hanya sedang menyelamatkan egomu sendiri?" suara itu berubah menjadi
dingin.
Arda
terjatuh berlutut. Bunga di tangannya mulai bersinar begitu terang hingga
melenyapkan segala bayangan. Bunga itu mulai memperlihatkan isi hatinya yang
terdalam.
Bukan
kekayaan. Bukan kekuasaan. Bukan kemuliaan pahlawan.
Hanya
wajah Lyra. Hanya keinginan sederhana untuk melihat gadis itu tertawa lagi.
Cahaya
mawar itu meledak, berubah menjadi sayap raksasa yang menyelimuti seluruh
cakrawala Aveloria. Kabut Abadi yang menelan Pulau Utara terpecah, hancur
berkeping-keping oleh kemurnian cahaya tersebut.
"Sudah
selesai," bisik Arda sebelum semuanya menjadi gelap.
"Bangunlah,
Arda, tugasmu belum usai."
*
Arda
membuka matanya. Ia kembali ke taman langitnya. Matahari terbenam dengan warna
ungu keemasan yang paling indah yang pernah ia lihat. Di kejauhan, orang-orang
bersorak-sorai. Pulau Utara kembali stabil, mengapung dengan gagah di tempatnya
semula.
Ia
melihat Lyra berlari ke arahnya. Gadis itu tampak bercahaya, lebih cantik dari
sebelumnya.
"Kau
berhasil!" Lyra memeluknya erat. "Kau benar-benar melakukannya,
Arda!"
Arda
membalas pelukan itu, namun ada sesuatu yang terasa aneh. "Lyra... kenapa tanganku...
terasa tembus pandang?"
Lyra
melepaskan pelukannya, menatap Arda dengan tatapan penuh cinta sekaligus
kesedihan yang mendalam. "Mawar Langit memperlihatkan isi hati yang paling
murni, Arda. Dan isinya adalah aku."
"Aku
tidak mengerti," Arda mundur selangkah, melihat tubuhnya yang perlahan
berubah menjadi serpihan cahaya seperti kelopak bunga.
"Hanya
ada satu cara untuk menyelamatkan sesuatu yang sudah hampir hancur, Arda,"
bisik Lyra. "Harus ada pertukaran yang setara."
Arda
menatap sekeliling. Ia melihat para Peramal Langit bersujud ke arahnya, namun
mereka tidak menatap matanya. Mereka menatap ke arah bunga yang tumbuh di
tempat Arda berdiri.
"Lyra...
apa yang terjadi sebenarnya?" suara Arda mulai menghilang.
"Pulau
Utara sudah tenggelam sepuluh tahun yang lalu, Arda," kata Lyra dengan
jujur, air mata mengalir di pipinya. "Aku adalah satu-satunya penyintas
yang menggunakan sihir terlarang untuk memutar waktu, menciptakan ilusi tentang
Aveloria yang utuh. Tapi sihirku memudar. Aku butuh 'jantung' baru untuk
mempertahankan dunia ini."
Arda
tertegun. "Jadi... semua ini... hanya ilusi?"
"Tidak,
cintamu nyata. Dan karena cintamu begitu murni, Mawar Langit memilihmu untuk
menjadi Jantung Awan yang baru. Kau tidak menyelamatkan rumahku, Arda. Kau
menjadi rumahku," Lyra membelai pipi Arda yang mulai menghilang.
Arda
tersenyum getir. Ia menyadari sekarang mengapa Naga Kabut menyebut tentang
cermin. "Jadi, selama ini kau mencariku hanya untuk menjadikanku
tumbal?"
Lyra
menggeleng cepat. "Awalnya iya. Tapi aku jatuh cinta padamu. Aku ingin
menghentikanmu, tapi kau begitu keras kepala ingin menjadi pahlawan."
Arda
merasakan kedamaian yang aneh menyelimuti dirinya. Meskipun ia menghilang,
dunia di sekitarnya menjadi begitu stabil dan nyata. Bunga-bunga langit mekar
serempak, menerangi malam.
"Jika
ini artinya kau bisa tetap hidup, maka aku tidak menyesal," kata Arda,
suaranya kini hanya berupa bisikan angin.
"Aku
akan menunggumu di setiap senja, Arda. Di setiap kelopak yang mekar,"
tangis Lyra pecah.
Di
sisa-sisa keberadaannya, Arda mengumpulkan seluruh energinya. Ia tidak ingin
pergi dengan kesedihan. Ia ingin mengikat janji terakhir di dunia yang sekarang
menjadi bagian dari dirinya.
"Lyra,
maukah kau menjaga taman ini... bersamaku, selamanya?"
*
Bertahun-tahun
telah berlalu sejak peristiwa besar itu. Aveloria kini dikenal sebagai negeri
yang paling stabil di seluruh angkasa. Tidak ada lagi ketakutan akan Kabut
Abadi. Jembatan-jembatan baru dibangun, menghubungkan pulau-pulau dengan lebih
kuat dari sebelumnya.
Lyra
kini adalah pemimpin Aveloria yang bijaksana. Ia tidak pernah menikah. Setiap
sore, ia akan duduk di tepi tebing yang sama, di tempat ia pertama kali bertemu
dengan seorang penjaga taman yang naif.
"Bunganya
mekar sangat indah hari ini, Arda," gumam Lyra sambil menyentuh sekuntum
mawar transparan yang tumbuh di sampingnya.
Mawar
itu bergetar lembut, memancArdan kehangatan yang familiar di jemari Lyra. Angin
berembus, membawa aroma harum yang menenangkan jiwa.
Seorang
asisten muda mendekati Lyra dengan ragu. "Yang Mulia, rakyat
bertanya-tanya, mengapa Anda selalu bicara pada bunga itu?"
Lyra
menoleh, memberikan senyuman hangat yang menyimpan rahasia seribu tahun.
"Karena bunga ini bukan sekadar tanaman. Dia adalah alasan mengapa kau
bisa berdiri di sini dan bernapas dengan bebas."
"Apakah
itu Mawar Langit yang legendaris?" tanya pemuda itu penasaran.
Lyra
berdiri, menatap langit ungu keemasan yang kini abadi. Warna itu bukan berasal
dari matahari, melainkan dari cinta yang terus berdenyut di inti planet ini.
"Lebih
dari itu. Ini adalah bukti bahwa cinta yang paling murni tidak akan pernah
benar-benar pergi; ia hanya berubah bentuk untuk melindungimu."
Pemuda
itu menatap mawar itu dengan takjub. "Apakah dia bisa mendengar
kita?"
Lyra
memejamkan mata, merasakan kehadiran Arda di setiap embusan angin, di setiap
cahaya yang menyinari wajahnya. Ia tahu, di dimensi yang berbeda, Arda sedang
tersenyum padanya, menjaga taman surgawi mereka dari dalam Jantung Awan.
"Dia
tidak hanya mendengar kita, Nak," bisik Lyra dengan nada penuh keyakinan.
Ia
lalu berbalik, berjalan menuju istana kristal dengan langkah tegap,
meninggalkan sang asisten yang masih terpaku melihat mawar itu tiba-tiba mekar
dengan cahaya yang lebih terang dari biasanya.
"Dia
sedang menjawabmu sekarang, bisakah kau merasakannya?"
Spirov
Lengking, 620260202159
