Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2026

GOLPUT KARENA MUAK: REVOLUSI BANTAL ATAU JUSTRU KARPET MERAH UNTUK PARA BADUT POLITIK?

 

Fenomena golput, alias golongan putih, bukan lagi sekadar bumbu penyedap dalam setiap perhelatan demokrasi. Kini, ia menjelma menjadi hidangan utama yang disajikan dengan bumbu kemuakan, kekecewaan, dan sejuta sumpah serapah. Banyak yang merasa, daripada memilih yang itu-itu saja, atau yang sama-sama busuknya, lebih baik tidur di rumah, nonton serial drama Korea, atau scroll TikTok sampai jempol keriting. Tapi, apakah sikap "ngambek" massal ini benar-benar solusi, atau justru membuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang gemar bermain sulap kekuasaan? Untuk mengupas tuntas dilema ini, kami berkesempatan mewawancarai seorang pakar yang (KONON, KATANYA) sudah kenyang asam garam politik, Profesor Dr. Ngantuk Banget, M.Pol.Sci.

 

 

1.   Sesi Wawancara Eksklusif dengan Profesor Ngantuk Banget

 

Interviewer (I): Selamat siang, Prof. Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu di tengah jadwal Anda yang (kami yakin) sangat padat untuk tidur siang. Prof, fenomena golput karena muak ini semakin marak. Menurut Anda, apakah ini bentuk protes cerdas atau cuma luapan emosi sesaat?

 

Prof. Ngantuk Banget (PNB): (Menguap lebar, lalu menyeruput kopi hitamnya yang entah sudah ke berapa) Ah, "protes cerdas" atau "luapan emosi"? Keduanya bisa jadi. Ibaratnya begini, Mas. Anda pacaran bertahun-tahun, tapi si dia hobinya selingkuh, bohong, janji manis doang, terus ujung-ujungnya minta pulsa. Lama-lama kan Anda muak, jengah, lalu bilang, "Udah deh, putus aja! Mending jomblo daripada makan hati terus!" Nah, golput ini mirip itu. Rakyat ini sudah terlalu sering dipacari sama politisi yang PHP (Pemberi Harapan Palsu). Wajar kalau akhirnya mereka memutuskan untuk "putus hubungan" sementara. Mereka berharap, dengan putus, si politisi akan sadar dan berubah. Tapi ya, namanya juga harapan, kadang semanis janji kampanye.

 

I: Analogi yang menarik, Prof. Jadi, Anda melihat golput sebagai semacam "silent treatment" [perlakuan diam; ngeneng; ngetokne; njothak; mbuh ra urus] dari rakyat kepada para politisi? Apakah ini efektif sebagai solusi untuk mendorong perubahan?

 

PNB: (Mengangguk pelan, matanya sedikit terbuka) "Silent treatment" yang sangat sunyi, sampai-sampai yang di-silent tidak merasa kalau lagi di-silent. Begini, Mas. Dalam sebuah pertandingan sepak bola, kalau kipernya mogok main karena muak dengan beknya yang sering blunder, apa yang terjadi? Gawangnya kebobolan, kan? Nah, pemilu itu pertandingan. Golput itu ibarat kiper yang mogok. Memang, ada pesan protes di sana, "Kami muak dengan kalian yang mainnya begitu-begitu saja!" Tapi di sisi lain, gawangnya jadi kosong. Bola-bola liar bisa masuk dengan mudah. Mereka yang tidak golput, yang mungkin punya agenda tersembunyi, atau yang memang punya kepentingan, akan dengan mudah mengisi kekosongan itu dan mencetak gol. Jadi, efektif sebagai solusi? Tergantung. Efektifkah membuat politisi kaget? Mungkin. Efektifkah membuat perubahan nyata? Belum tentu. Bisa jadi malah mempermudah manipulasi kekuasaan karena suara kritis yang seharusnya ada, jadi tidak terwakili.

 

I: Berarti Anda melihat golput ini justru punya risiko mempermudah manipulasi kekuasaan?

 

PNB: Tentu saja! Bayangkan sebuah meja prasmanan. Kalau banyak orang tidak mau ambil makanan karena merasa makanannya tidak enak, siapa yang senang? Tentu saja yang doyan dan tidak peduli rasa, atau yang memang sudah merencanakan untuk menghabiskan semua makanan itu sendirian. Suara kita itu bukan cuma angka, Mas. Itu adalah legitimasi. Itu adalah kekuatan tawar. Ketika Anda memilih golput, Anda secara tidak langsung menyerahkan kekuatan tawar Anda kepada orang lain. Anda menyerahkan hak Anda untuk menentukan siapa yang akan duduk di kursi kekuasaan. Dan percayalah, tidak ada kursi kosong di politik. Kalau Anda tidak mendudukinya, pasti ada orang lain yang akan dengan senang hati melompat dan mendudukinya, bahkan mungkin sambil tertawa kecil, "Wah, rezeki anak saleh!"

 

I: Jadi, menurut Anda, apa yang harus dilakukan oleh masyarakat yang sudah terlanjur "muak" ini? Apakah mereka harus tetap memilih, meskipun dengan hati yang berat?

 

PNB: (Menghela napas panjang, lalu tersenyum getir) Ini pertanyaan sejuta umat, Mas. Kalau saya ditanya, "Apa yang harus dilakukan?" Ya, lakukanlah apa yang menurut Anda paling tidak merugikan. Kalau Anda muak dengan semua pilihan, cobalah cari yang "paling tidak busuk," atau yang "busuknya tidak terlalu bau." Ini bukan tentang mencari pangeran berkuda putih, Mas. Ini tentang mencari kuda yang pincangnya tidak terlalu parah, atau setidaknya tidak ada kudisnya. Atau, kalau memang tidak ada sama sekali, ya cari cara lain untuk menyuarakan ketidakpuakan Anda. Jangan cuma rebahan sambil menggerutu di media sosial. Aktiflah di komunitas, desak para pembuat kebijakan, atau bahkan, kalau Anda cukup gila, dirikan partai sendiri! Tapi ya, jangan kaget kalau nanti Anda sendiri yang dicap "badut politik" juga. Politik itu lingkaran setan yang penuh godaan, Mas.

 

I: Terakhir, Prof, ada pesan untuk para calon pemilih yang sedang galau antara golput atau memilih dengan terpaksa?

 

PNB: Pesan saya, jangan terlalu serius. Politik itu seperti drama komedi putar. Kadang bikin ketawa, kadang bikin nangis, tapi seringnya bikin pusing. Golput itu hak Anda, tapi ingat, setiap hak punya konsekuensi. Kalau Anda golput, jangan kaget kalau nanti kebijakan yang lahir tidak sesuai harapan Anda. Ibaratnya, Anda tidak ikut masak, tapi protes makanannya tidak enak. Ya siapa suruh tidak ikut campur dari awal? Intinya, gunakan akal sehat Anda, jangan cuma pakai emosi. Dan jangan lupa, ngopi biar tidak ngantuk saat menelaah janji-janji kampanye. Siapa tahu ada yang nyelip janji kopi gratis seumur hidup. Itu baru layak diperjuangkan!

 

 

"Golput itu seperti Anda mogok makan di restoran yang makanannya tidak enak. Anda memang tidak makan, tapi restoran itu tetap ramai dan si koki tetap kaya raya. Malah, porsi Anda bisa diambil orang lain!"— Prof. Dr. Ngantuk Banget, M.Pol.Sci.

 

 

2.   Kesimpulan ala Penulis: Antara Bantal dan Karpet Merah

 

Dari obrolan santai dengan Prof. Ngantuk Banget, kita bisa menyimpulkan bahwa dilema golput ini memang tak sesederhana membalik telapak tangan. Di satu sisi, golput adalah ekspresi kemuakan yang valid, sebuah "revolusi bantal" di mana pemilih memilih untuk tidak berpartisipasi karena merasa tidak ada yang layak dipilih. Ini adalah teriakan sunyi yang berharap didengar. Namun, di sisi lain, teriakan sunyi ini juga berisiko tinggi. Ia bisa jadi "karpet merah" yang empuk bagi para manipulator kekuasaan, para pemain lama yang justru diuntungkan oleh absennya suara-suara kritis.

 

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan masing-masing. Apakah kita akan memilih untuk rebahan di rumah, berharap perubahan datang sendiri? Atau, apakah kita akan tetap berpartisipasi, meskipun dengan hati yang dongkol, setidaknya untuk memastikan bahwa "badut politik" yang terpilih adalah badut yang paling tidak menakutkan? Seperti kata Prof. Ngantuk Banget, politik itu drama komedi putar. Kita boleh muak, boleh kesal, tapi jangan sampai kemuakan itu justru membuat kita kehilangan kekuatan dan menyerahkan panggung begitu saja kepada mereka yang siap menari di atas penderitaan kita. Mungkin, sudah saatnya kita berhenti berharap pada pangeran berkuda putih, dan mulai mencari kuda yang setidaknya tidak terlalu bau kencur. Atau, kalau tidak ada, ya kita jadi joki saja, siapa tahu bisa mengarahkan kuda yang ada ke arah yang lebih baik. Siapa tahu?

 

Spirov Lengking, 620270201034

 

Selasa, 02 Juni 2026

KETIKA RAKYAT APATIS, POLITIK MENENTUKAN NASIB MEREKA SECARA DIAM-DIAM

Politik seringkali dianggap sebagai ranah yang kotor, rumit, dan jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Pandangan ini tidak jarang memicu sikap apatis, di mana banyak orang memilih untuk tidak peduli atau tidak terlibat dalam proses politik. Namun, di balik ketidakpedulian tersebut, politik terus berputar dan secara diam-diam membentuk setiap aspek kehidupan kita. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana apatisme politik dapat membuat rakyat rentan terhadap kebijakan yang mungkin tidak mereka pahami, bahkan merugikan.

 

 

Apatisme Politik ~ Sebuah Definisi dan Akar Masalah

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apatis berarti acuh tak acuh, tidak peduli, atau masa bodoh. Dalam konteks politik, apatisme politik adalah sikap ketidakpedulian atau ketidaktertarikan terhadap urusan politik dan perkembangannya. Individu yang apatis cenderung enggan terlibat dalam proses politik, bahkan enggan menggunakan hak pilihnya. Sikap ini bisa muncul akibat kekecewaan, ketidakpercayaan terhadap sistem, atau minimnya pemahaman akan pentingnya partisipasi politik.

 

Beberapa faktor pendorong apatisme politik meliputi anggapan bahwa aksi politik adalah hal yang sia-sia dan lemahnya dorongan untuk berpartisipasi. Selain itu, citra buruk politik yang identik dengan perebutan kekuasaan, korupsi, dan janji-janji manis yang tak terealisasi juga menjadi penyebab utama. Di era digital saat ini, di mana informasi mudah diakses, kekhawatiran akan apatisme di kalangan anak muda semakin meningkat, padahal mereka adalah pilar penerus bangsa.

 

 

Dampak Nyata Apatisme pada Kehidupan Sehari-hari

 

Mungkin banyak yang berpikir bahwa politik adalah urusan para elite di gedung pemerintahan, jauh dari meja makan keluarga atau bangku sekolah anak-anak. Namun, ini adalah pemahaman yang keliru. Keputusan politik memiliki dampak langsung dan tidak langsung pada setiap sendi kehidupan masyarakat.

 

Harga Kebutuhan Pokok: Kebijakan ekonomi pemerintah, seperti subsidi atau pajak, secara langsung memengaruhi harga barang dan jasa di pasar. Ketika masyarakat apatis dan tidak mengawal kebijakan ini, mereka akan menjadi korban kenaikan harga atau kelangkaan yang tidak masuk akal.

Pendidikan: Anggaran pendidikan, kurikulum, hingga kualitas guru adalah hasil dari keputusan politik. Pemangkasan anggaran pendidikan, misalnya, jelas berdampak besar pada masa depan bangsa. Jika masyarakat abai, kualitas pendidikan bisa menurun dan generasi mendatang yang akan menanggung akibatnya.

Pajak: Setiap rupiah pajak yang kita bayarkan ditentukan oleh undang-undang yang dibuat oleh wakil rakyat. Kebijakan fiskal pemerintah, baik ekspansif maupun kontraktif, melibatkan penentuan tingkat pajak. Tanpa pengawasan, kebijakan pajak bisa memberatkan rakyat kecil sementara menguntungkan golongan tertentu.

Pekerjaan dan Ekonomi: Kebijakan investasi, regulasi ketenagakerjaan, dan paket kebijakan ekonomi pemerintah memiliki dampak signifikan terhadap ketersediaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Undang-undang seperti Omnibus Law, yang bertujuan menarik investasi, terkadang menuai kontroversi karena dianggap mengabaikan hak-hak pekerja.

Kebebasan Berbicara dan Hak Asasi: Undang-undang yang mengatur kebebasan berekspresi, hak berkumpul, hingga perlindungan data pribadi adalah produk politik. Ketika rakyat tidak menyuarakan kepedulian terhadap isu-isu ini, ruang demokrasi bisa menyempit dan hak-hak dasar terancam.

 

 

Politik Berproses dalam Diam ~ Studi Kasus dan Contoh

 

Meningkatnya partisipasi pemilih dalam pemilihan presiden di Indonesia pada tahun 2019 (81,97%) dan 2024 (81,78%) menunjukkan adanya peningkatan kesadaran politik. Namun, di sisi lain, persentase golongan putih (golput) pada pemilu legislatif 2019 masih cukup tinggi, yaitu 29,68%. Angka golput ini, meskipun menurun pada pilpres, tetap menjadi indikasi bahwa sebagian masyarakat masih memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya.

 

Sikap golput ini sangat berbahaya dalam negara demokrasi karena dapat mengarah pada krisis legitimasi kekuasaan. Ketika banyak suara tidak terwakili, kebijakan yang dihasilkan berpotensi hanya mencerminkan kepentingan segelintir orang yang aktif berpolitik.

 

Demokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Makna ini menegaskan bahwa rakyat menempati posisi penting yang menentukan arah kebijakan negara.

 

Contoh nyata kebijakan yang menuai kontroversi dan berdampak pada masyarakat adalah pemangkasan anggaran pendidikan, pengangkatan staf khusus dari kalangan selebritas, serta revisi UU TNI. Kebijakan-kebijakan ini, yang seringkali tidak diikuti secara detail oleh masyarakat apatis, dapat menimbulkan pertanyaan besar mengenai keberpihakannya pada rakyat.

 

Selain itu, kebijakan seperti penyediaan jaminan kesehatan (BPJS Kesehatan) yang bertujuan baik, namun dalam implementasinya sering dikeluhkan kualitas layanan yang tidak merata, juga menjadi dilema bagi masyarakat. Demikian pula dengan kebijakan pembangunan infrastruktur yang meskipun memudahkan akses, seringkali merugikan petani dan penduduk lokal karena pembebasan lahan tanpa ganti rugi yang layak.

 

 

Mengapa Kita Harus Peduli?

 

Ketidakpedulian terhadap politik bukanlah solusi, melainkan justru membuka celah bagi kepentingan-kepentingan tertentu untuk mendominasi. Ketika rakyat menarik diri, mereka menyerahkan kekuasaan penuh kepada para pembuat kebijakan, yang mungkin saja tidak memiliki visi yang sejalan dengan kesejahteraan umum.

 

1.   Mencegah Kebijakan yang Merugikan

Partisipasi aktif masyarakat, baik melalui pemilihan umum maupun pengawasan kebijakan, adalah benteng terakhir untuk mencegah lahirnya kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

 

2.   Menciptakan Akuntabilitas

Dengan peduli, masyarakat dapat menuntut akuntabilitas dari para pemimpin dan wakil rakyat. Mereka akan lebih berhati-hati dalam membuat keputusan jika tahu ada pengawasan ketat dari publik.

 

3.   Mewujudkan Kesejahteraan Bersama

Demokrasi yang sehat membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Peningkatan kualitas partisipasi pemilih diharapkan dapat menghasilkan pemimpin terbaik yang mampu memperjuangkan kesejahteraan bersama.

 

 

Membangun Kesadaran Politik ~ Langkah ke Depan

 

Untuk mengatasi apatisme politik, diperlukan upaya kolektif dari berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, media massa, hingga individu memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran politik.

 

1.   Pendidikan Politik yang Inklusif

Sosialisasi dan pendidikan politik sejak dini, terutama bagi generasi muda, sangat krusial. Ini bukan hanya tentang tata cara memilih, tetapi juga pemahaman tentang struktur pemerintahan, hak dan kewajiban warga negara, serta dampak kebijakan.

 

2.   Transparansi dan Akses Informasi

Pemerintah harus lebih transparan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Informasi yang mudah diakses dan dipahami akan mendorong masyarakat untuk lebih terlibat.

 

3.   Menciptakan Ruang Partisipasi Aman

Masyarakat perlu diberikan ruang yang aman untuk menyuarakan aspirasi, kritik, dan masukan tanpa rasa takut akan risiko sosial atau politik.

 

4.   Peran Media dan Teknologi

Media dapat menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat dengan menyajikan informasi politik secara objektif dan mudah dicerna. Pemanfaatan media digital yang relevan juga penting untuk menjangkau generasi muda.

 

 

Kesimpulan

 

Apatisme politik adalah bahaya laten yang dapat mengancam rapuhnya persatuan dan demokrasi. Ketika rakyat memilih untuk tidak peduli, mereka secara tidak langsung memberikan cek kosong kepada para politisi untuk menentukan arah negara. Harga kebutuhan pokok, kualitas pendidikan, besaran pajak, ketersediaan lapangan kerja, hingga kebebasan berbicara, semua adalah buah dari keputusan politik yang dibuat, seringkali dalam keheningan ketidakpedulian. Sudah saatnya kita menyadari bahwa politik bukanlah urusan orang lain, melainkan urusan kita semua. Dengan berpartisipasi aktif dan mengawal setiap proses politik, kita turut menentukan nasib diri sendiri dan masa depan bangsa yang lebih baik. Jangan biarkan politik menentukan masa depan kita secara diam-diam.

 

Spirov Lengking, 620260300742