Sabtu, 25 Juli 2026

Ditolak AI, Dapat Programmernya

 


[Pemberitahuan Sistem: Lamaran Pekerjaan Anda di PT. Techno Sejahtera DITOLAK]

 

Jamino Koplo menatap layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di kursi plastik yang kaki kirinya diganjal kertas lipat.

 

"Lagi, Jam?" tanya Tejo, teman satu kontrakan Jamino yang sedang asyik mengupil.

 

"Ke-1002, Jo. Rekor baru dalam sejarah peradaban manusia," jawab Jamino getir.

 

"Isinya sama kayak kemarin?"

 

"Sama persis. 'Berdasarkan pemindaian algoritma HR-GPT, profil Anda memiliki indeks keberuntungan sebesar 0,001%. Perusahaan kami tidak menerima kandidat yang bisa menyebabkan server meledak hanya karena mereka lewat di depannya.' Begitu katanya."

 

Tejo tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak. "Gila! AI sekarang sudah bisa jadi dukun statistik ya? Terus lo mau nyerah?"

 

Jamino berdiri, merapikan kemejanya yang kancing paling bawahnya sudah hilang entah ke mana. "Enggak. Gue mau labrak kantor pusatnya. Gue mau ketemu sama orang yang bikin sistem diskriminatif ini."

 

"Lo tahu siapa yang bikin?"

 

"Siska Amelia. Programmer jenius yang katanya nggak punya perasaan. Gue udah riset."

 

"Lo mau demo sendirian di depan kantor sebesar itu?"

 

"Gue mau minta keadilan, Jo! Masa masa depan gue ditentukan sama baris kode yang bahkan nggak tahu rasanya makan obat mag buat ganjel perut?"

 

Jamino pun berangkat. Di perjalanan, tiga kali ia hampir ditabrak ojek online, dan sekali kepalanya dijatuhi kotoran burung yang sedang diare. Benar-benar statistik yang akurat. Sesampainya di gedung pencakar langit PT. Sentosa AI, ia langsung menuju meja resepsionis yang dijaga oleh sebuah tablet besar.

 

[Selamat Datang. Masukkan ID Anda untuk Verifikasi Keamanan]

 

Jamino menekan tombol manual. "Gue mau ketemu Siska Amelia."

 

[Akses Ditolak. Tingkat Keberuntungan Anda Terlalu Rendah Untuk Memasuki Area VIP. Risiko Kecelakaan Kerja Meningkat 89% Jika Anda Berada di Dekat Perangkat Elektronik Kami]

 

"Woi! Gue manusia, bukan virus komputer!" teriak Jamino frustrasi.

 

"Ada apa ribut-ribut di sini?" sebuah suara dingin memecah kebisingan lobi.

 

Seorang perempuan dengan kacamata bingkai hitam dan rambut dikuncir kuda berjalan mendekat. Ia memegang tablet tipis dan menatap Jamino dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan skeptis.

 

"Anda Jamino Koplo?" tanya perempuan itu.

 

"Iya, saya. Anda Siska?"

 

"Saya Siska. Programmer utama sistem KUPID—Katalog Utama Penilaian Individu Digital. Ada masalah dengan hasil seleksi Anda?"

 

"Masalah? Banyak banget! Masalahnya, sistem lo bilang gue pembawa sial! Itu nggak ilmiah!"

 

Siska menaikkan sebelah alisnya. "Nggak ilmiah? Sistem saya memproses data dari sepuluh tahun terakhir hidup Anda. Dari mulai Anda jatuh ke selokan di hari kelulusan, sampai fakta bahwa Anda satu-satunya orang di kota ini yang kena tilang saat motor Anda sedang dituntun karena mogok. Itu data, Jamino. Data adalah kebenaran."

 

"Itu namanya takdir, bukan algoritma!"

 

"Takdir hanyalah pola yang belum terbaca oleh manusia bodoh," sahut Siska ketus.

 

"Oke, kalau lo emang pinter, buktiin ke gue. Kasih gue tes langsung. Di depan lo. Kalau gue gagal karena kemampuan, gue pergi. Tapi kalau gue gagal karena 'indeks keberuntungan' sampah lo itu, lo harus hapus parameter sial itu dari sistem!"

 

Siska terdiam sejenak, menatap Jamino dengan intensitas yang aneh. "Menarik. Seorang anomali statistik menantang penciptanya."

 

"Gimana? Berani nggak?"

 

Siska tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat bulu kuduk Jamino merinding sekaligus membuat jantungnya berdegup tidak keruan. "Oke. Masuk ke ruangan saya. Tapi jangan sentuh apa pun, saya nggak mau server saya hang karena aura Anda."

 

"Gue bukan magnet kutukan, Siska!"

 

"Kita lihat saja nanti, Jamino."

 

*

 

 

Ruangan Siska penuh dengan layar monitor yang menampilkan grafik berwarna-warni. Jamino duduk di kursi yang terasa terlalu empuk untuk orang sepertinya. Siska duduk di depannya, tangannya menari lincah di atas keyboard virtual.

 

"Tes pertama. Logika dasar. Jika AI bisa menggantikan semua pekerjaan manusia, apa satu-satunya hal yang tidak bisa ia lakukan?" tanya Siska tanpa menoleh.

 

"Jatuh cinta," jawab Jamino cepat.

 

Siska berhenti mengetik. Ia menatap Jamino. "Jawaban klise. AI bisa mensimulasikan hormon, detak jantung, bahkan rona merah di pipi."

 

"Simulasi bukan rasa, Siska. Lo bisa bikin sistem yang bilang 'aku sayang kamu', tapi lo nggak bisa bikin sistem yang ngerasain sakit hati pas liat orang yang disayang jalan sama orang lain."

 

"Sentimental sekali. Mari kita lanjut ke tes psikotes digital," Siska menggeser tabletnya ke depan Jamino. "Isi ini. Cepat."

 

Jamino mulai mengisi. Baru pertanyaan kelima, tiba-tiba listrik di ruangan itu padam. Gelap gulita.

 

"Tuh kan! Apa saya bilang! Aura sial Anda membuat trafo gedung meledak!" seru Siska dari kegelapan.

 

"Mana gue tahu! Ini namanya kebetulan!"

 

"Nggak ada kebetulan di dunia saya, Jamino!"

 

Siska mencoba berdiri untuk mencari senter, tapi kakinya tersangkut kabel dan ia hampir terjatuh. Refleks, Jamino menangkapnya. Dalam kegelapan, posisi mereka sangat dekat. Jamino bisa mencium aroma kopi dan sampo melati dari rambut Siska.

 

"Lo nggak apa-apa?" bisik Jamino.

 

"Lepasin gue..." suara Siska terdengar agak bergetar, tidak sedingin biasanya.

 

"Gue cuma bantuin. Tadi katanya AI bisa simulasi detak jantung kan? Coba lo denger detak jantung gue sekarang. Ini simulasi atau bukan?"

 

Siska terdiam. Tangannya yang memegang bahu Jamino perlahan melonggar. "Detak jantung Anda... 120 per menit. Secara klinis, Anda sedang mengalami takikardia ringan atau kepanikan."

 

"Atau mungkin gue lagi jatuh cinta sama orang yang baru aja ngatain gue pembawa sial?"

 

[Sistem Darurat Aktif. Lampu Cadangan Menyala]

 

Lampu redup kemerahan menyala. Siska segera menjauhkan diri, wajahnya terlihat memerah—sesuatu yang menurut algoritmanya seharusnya hanya simulasi.

 

"Gombalan Anda tidak akan mengubah skor keberuntungan Anda," kata Siska sambil merapikan kacamatanya yang miring.

 

"Tapi itu barusan bukan algoritma kan?"

 

"Itu... itu gangguan teknis. Sekarang, lanjut ke tes terakhir. Wawancara tatap muka dengan AI HR-GPT versi 5.0."

 

Siska menyalakan sebuah layar besar. Muncul wajah avatar pria paruh baya yang terlihat sangat bijaksana.

 

[Selamat siang, Jamino Koplo. Saya akan menilai kelayakan Anda untuk posisi Manajer Operasional. Pertanyaan pertama: Jika terjadi krisis besar yang tidak terprediksi, apa yang akan Anda lakukan?]

 

"Gue bakal pakai insting. Karena saat data nggak bisa ngasih jawaban, cuma keberanian buat ngambil risiko yang tersisa," jawab Jamino mantap.

 

[Analisis Jawaban: 98% Akurasi Kepemimpinan. Namun, deteksi anomali lingkungan terdeteksi. Probabilitas kegagalan operasional karena faktor eksternal: Tinggi. Rekomendasi: TOLAK.]

 

Jamino menggebrak meja. "Tuh kan! Tetap aja ujung-ujungnya sial! Siska, lo harus akuin kalau sistem lo ini rasis sama orang kayak gue!"

 

"Gue nggak bisa ngerubah kodenya begitu aja, Jamino! Itu sudah terintegrasi ke core sistem!"

 

"Kenapa? Kenapa lo sebegitu bencinya sama ketidakpastian?"

 

Siska berdiri, matanya berkaca-kaca. "Karena hidup gue dulu hancur gara-gara ketidakpastian! Ayah gue bangkrut karena investasi yang katanya 'untung-untungan'. Gue nggak mau ada orang yang menderita karena berharap pada sesuatu yang nggak pasti! Gue mau dunia yang terukur!"

 

"Tapi manusia itu bukan angka, Sis! Gue mungkin sial dalam hal kecil, tapi gue beruntung karena hari ini gue bisa ketemu lo dan tahu kalau di balik kodingan dingin ini, ada perempuan yang sebenarnya cuma ketakutan!"

 

"Lo nggak tahu apa-apa tentang gue!"

 

"Gue tahu kalau sekarang, sistem lo lagi ngasih notifikasi di layar pojok kanan atas itu."

 

Siska menoleh ke layarnya. Di sana ada peringatan berkedip merah.

 

[Peringatan: Detak Jantung Programmer Meningkat Drastis. Tingkat Stres: 0%. Tingkat Endorfin: 99%. Diagnosis: Programmer Sedang Mengalami Perasaan Irasional (Cinta).]

 

"Sistem... sistem ini rusak," gumam Siska lemas.

 

"Enggak, Sis. Sistem lo akhirnya belajar sesuatu yang baru. Bahwa keberuntungan itu bukan tentang apa yang terjadi sama kita, tapi tentang siapa yang ada di samping kita pas hal buruk itu terjadi."

 

Siska menatap Jamino cukup lama. Ia lalu mendekat ke arah keyboard, jarinya bergerak cepat menghapus beberapa baris kode.

 

"Apa yang lo lakuin?" tanya Jamino penasaran.

 

"Gue menghapus parameter keberuntungan dari seluruh sistem rekrutmen perusahaan ini."

 

"Serius? Lo bisa dipecat!"

 

"Biarin. Kalau gue dipecat, berarti gue juga bakal jadi pengangguran kayak lo. Dan menurut hitungan gue, probabilitas kita buat bangun perusahaan baru berdua adalah 100% sukses."

 

Jamino tersenyum lebar. Ia mendekati Siska, bermaksud untuk memeluknya sebagai tanda terima kasih. Namun, saat ia melangkah, kakinya tersandung kabel power utama.

 

BRAK!

 

Seluruh komputer di ruangan itu meledak kecil, mengeluarkan asap hitam, dan mati total. Gedung itu mendadak sunyi senyap. Siska menatap sisa-sisa servernya yang berasap, lalu menatap Jamino yang masih tersungkur di lantai.

 

"Jam... lo beneran pembawa sial ya?"

 

"Eh, maaf... gue cuma mau peluk..."

 

Siska menghela napas, lalu tertawa kecil—tawa pertama yang Jamino dengar, dan itu lebih indah dari musik apa pun.

 

"Ya sudah. Sekarang kita sama-sama pengangguran."

 

"Terus kita mau ngapain sekarang?"

 

Siska mengulurkan tangannya, membantu Jamino berdiri. "Sesuai algoritma baru yang baru saja gue bikin di kepala gue: kita cari nasi goreng, terus lo ceritain gimana caranya bisa tetap hidup dengan kesialan level dewa kayak gitu."

 

"Boleh, tapi lo yang bayar ya? Dompet gue ketinggalan di angkot tadi."

 

Siska memutar bola matanya, tapi ia tidak melepaskan tangan Jamino saat mereka berjalan keluar ruangan yang gelap itu. Di layar monitor yang hampir mati, muncul satu baris teks terakhir dari AI:

 

[Status Hubungan: Terhubung. Kesialan Jamino Koplo + Kecerdasan Siska Amelia = Kekacauan Sempurna yang Menyenangkan.]

 

"Jadi, kapan lo ngelamar gue?"

 

 

Spirov Lengking, 620270620827