[Pemberitahuan Sistem: Lamaran Pekerjaan Anda di PT. Techno Sejahtera DITOLAK]
Jamino Koplo menatap
layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong. Ia menghela napas panjang,
lalu menyandarkan punggungnya di kursi plastik yang kaki kirinya diganjal
kertas lipat.
"Lagi,
Jam?" tanya Tejo, teman satu kontrakan Jamino yang sedang asyik mengupil.
"Ke-1002, Jo.
Rekor baru dalam sejarah peradaban manusia," jawab Jamino getir.
"Isinya sama
kayak kemarin?"
"Sama persis.
'Berdasarkan pemindaian algoritma HR-GPT, profil Anda memiliki indeks
keberuntungan sebesar 0,001%. Perusahaan kami tidak menerima kandidat yang bisa
menyebabkan server meledak hanya karena mereka lewat di depannya.' Begitu
katanya."
Tejo tertawa
terbahak-bahak sampai hampir tersedak. "Gila! AI sekarang sudah bisa jadi
dukun statistik ya? Terus lo mau nyerah?"
Jamino berdiri,
merapikan kemejanya yang kancing paling bawahnya sudah hilang entah ke mana.
"Enggak. Gue mau labrak kantor pusatnya. Gue mau ketemu sama orang yang
bikin sistem diskriminatif ini."
"Lo tahu siapa
yang bikin?"
"Siska Amelia.
Programmer jenius yang katanya nggak punya perasaan. Gue udah riset."
"Lo mau demo
sendirian di depan kantor sebesar itu?"
"Gue mau minta
keadilan, Jo! Masa masa depan gue ditentukan sama baris kode yang bahkan nggak
tahu rasanya makan obat mag buat ganjel perut?"
Jamino pun berangkat.
Di perjalanan, tiga kali ia hampir ditabrak ojek online, dan sekali kepalanya
dijatuhi kotoran burung yang sedang diare. Benar-benar statistik yang akurat.
Sesampainya di gedung pencakar langit PT. Sentosa AI, ia langsung menuju meja
resepsionis yang dijaga oleh sebuah tablet besar.
[Selamat Datang.
Masukkan ID Anda untuk Verifikasi Keamanan]
Jamino menekan tombol
manual. "Gue mau ketemu Siska Amelia."
[Akses Ditolak.
Tingkat Keberuntungan Anda Terlalu Rendah Untuk Memasuki Area VIP. Risiko
Kecelakaan Kerja Meningkat 89% Jika Anda Berada di Dekat Perangkat Elektronik
Kami]
"Woi! Gue manusia,
bukan virus komputer!" teriak Jamino frustrasi.
"Ada apa
ribut-ribut di sini?" sebuah suara dingin memecah kebisingan lobi.
Seorang perempuan
dengan kacamata bingkai hitam dan rambut dikuncir kuda berjalan mendekat. Ia
memegang tablet tipis dan menatap Jamino dari ujung kaki sampai ujung kepala
dengan tatapan skeptis.
"Anda Jamino
Koplo?" tanya perempuan itu.
"Iya, saya. Anda
Siska?"
"Saya Siska.
Programmer utama sistem KUPID—Katalog Utama Penilaian Individu Digital. Ada
masalah dengan hasil seleksi Anda?"
"Masalah? Banyak
banget! Masalahnya, sistem lo bilang gue pembawa sial! Itu nggak ilmiah!"
Siska menaikkan
sebelah alisnya. "Nggak ilmiah? Sistem saya memproses data dari sepuluh
tahun terakhir hidup Anda. Dari mulai Anda jatuh ke selokan di hari kelulusan,
sampai fakta bahwa Anda satu-satunya orang di kota ini yang kena tilang saat
motor Anda sedang dituntun karena mogok. Itu data, Jamino. Data adalah
kebenaran."
"Itu namanya
takdir, bukan algoritma!"
"Takdir hanyalah
pola yang belum terbaca oleh manusia bodoh," sahut Siska ketus.
"Oke, kalau lo
emang pinter, buktiin ke gue. Kasih gue tes langsung. Di depan lo. Kalau gue
gagal karena kemampuan, gue pergi. Tapi kalau gue gagal karena 'indeks
keberuntungan' sampah lo itu, lo harus hapus parameter sial itu dari
sistem!"
Siska terdiam
sejenak, menatap Jamino dengan intensitas yang aneh. "Menarik. Seorang
anomali statistik menantang penciptanya."
"Gimana? Berani
nggak?"
Siska tersenyum
tipis, jenis senyum yang membuat bulu kuduk Jamino merinding sekaligus membuat
jantungnya berdegup tidak keruan. "Oke. Masuk ke ruangan saya. Tapi jangan
sentuh apa pun, saya nggak mau server saya hang karena aura Anda."
"Gue bukan
magnet kutukan, Siska!"
"Kita lihat saja
nanti, Jamino."
*
Ruangan Siska penuh
dengan layar monitor yang menampilkan grafik berwarna-warni. Jamino duduk di kursi
yang terasa terlalu empuk untuk orang sepertinya. Siska duduk di depannya,
tangannya menari lincah di atas keyboard virtual.
"Tes pertama.
Logika dasar. Jika AI bisa menggantikan semua pekerjaan manusia, apa
satu-satunya hal yang tidak bisa ia lakukan?" tanya Siska tanpa menoleh.
"Jatuh
cinta," jawab Jamino cepat.
Siska berhenti
mengetik. Ia menatap Jamino. "Jawaban klise. AI bisa mensimulasikan
hormon, detak jantung, bahkan rona merah di pipi."
"Simulasi bukan
rasa, Siska. Lo bisa bikin sistem yang bilang 'aku sayang kamu', tapi lo nggak
bisa bikin sistem yang ngerasain sakit hati pas liat orang yang disayang jalan
sama orang lain."
"Sentimental
sekali. Mari kita lanjut ke tes psikotes digital," Siska menggeser
tabletnya ke depan Jamino. "Isi ini. Cepat."
Jamino mulai mengisi.
Baru pertanyaan kelima, tiba-tiba listrik di ruangan itu padam. Gelap gulita.
"Tuh kan! Apa
saya bilang! Aura sial Anda membuat trafo gedung meledak!" seru Siska dari
kegelapan.
"Mana gue tahu!
Ini namanya kebetulan!"
"Nggak ada
kebetulan di dunia saya, Jamino!"
Siska mencoba berdiri
untuk mencari senter, tapi kakinya tersangkut kabel dan ia hampir terjatuh.
Refleks, Jamino menangkapnya. Dalam kegelapan, posisi mereka sangat dekat.
Jamino bisa mencium aroma kopi dan sampo melati dari rambut Siska.
"Lo nggak
apa-apa?" bisik Jamino.
"Lepasin
gue..." suara Siska terdengar agak bergetar, tidak sedingin biasanya.
"Gue cuma
bantuin. Tadi katanya AI bisa simulasi detak jantung kan? Coba lo denger detak
jantung gue sekarang. Ini simulasi atau bukan?"
Siska terdiam.
Tangannya yang memegang bahu Jamino perlahan melonggar. "Detak jantung
Anda... 120 per menit. Secara klinis, Anda sedang mengalami takikardia ringan
atau kepanikan."
"Atau mungkin
gue lagi jatuh cinta sama orang yang baru aja ngatain gue pembawa sial?"
[Sistem Darurat
Aktif. Lampu Cadangan Menyala]
Lampu redup kemerahan
menyala. Siska segera menjauhkan diri, wajahnya terlihat memerah—sesuatu yang
menurut algoritmanya seharusnya hanya simulasi.
"Gombalan Anda
tidak akan mengubah skor keberuntungan Anda," kata Siska sambil merapikan
kacamatanya yang miring.
"Tapi itu
barusan bukan algoritma kan?"
"Itu... itu
gangguan teknis. Sekarang, lanjut ke tes terakhir. Wawancara tatap muka dengan
AI HR-GPT versi 5.0."
Siska menyalakan
sebuah layar besar. Muncul wajah avatar pria paruh baya yang terlihat sangat
bijaksana.
[Selamat siang,
Jamino Koplo. Saya akan menilai kelayakan Anda untuk posisi Manajer
Operasional. Pertanyaan pertama: Jika terjadi krisis besar yang tidak
terprediksi, apa yang akan Anda lakukan?]
"Gue bakal pakai
insting. Karena saat data nggak bisa ngasih jawaban, cuma keberanian buat ngambil
risiko yang tersisa," jawab Jamino mantap.
[Analisis Jawaban:
98% Akurasi Kepemimpinan. Namun, deteksi anomali lingkungan terdeteksi.
Probabilitas kegagalan operasional karena faktor eksternal: Tinggi.
Rekomendasi: TOLAK.]
Jamino menggebrak
meja. "Tuh kan! Tetap aja ujung-ujungnya sial! Siska, lo harus akuin kalau
sistem lo ini rasis sama orang kayak gue!"
"Gue nggak bisa
ngerubah kodenya begitu aja, Jamino! Itu sudah terintegrasi ke core
sistem!"
"Kenapa? Kenapa
lo sebegitu bencinya sama ketidakpastian?"
Siska berdiri,
matanya berkaca-kaca. "Karena hidup gue dulu hancur gara-gara
ketidakpastian! Ayah gue bangkrut karena investasi yang katanya
'untung-untungan'. Gue nggak mau ada orang yang menderita karena berharap pada
sesuatu yang nggak pasti! Gue mau dunia yang terukur!"
"Tapi manusia
itu bukan angka, Sis! Gue mungkin sial dalam hal kecil, tapi gue beruntung
karena hari ini gue bisa ketemu lo dan tahu kalau di balik kodingan dingin ini,
ada perempuan yang sebenarnya cuma ketakutan!"
"Lo nggak tahu
apa-apa tentang gue!"
"Gue tahu kalau
sekarang, sistem lo lagi ngasih notifikasi di layar pojok kanan atas itu."
Siska menoleh ke
layarnya. Di sana ada peringatan berkedip merah.
[Peringatan: Detak
Jantung Programmer Meningkat Drastis. Tingkat Stres: 0%. Tingkat Endorfin: 99%.
Diagnosis: Programmer Sedang Mengalami Perasaan Irasional (Cinta).]
"Sistem...
sistem ini rusak," gumam Siska lemas.
"Enggak, Sis.
Sistem lo akhirnya belajar sesuatu yang baru. Bahwa keberuntungan itu bukan
tentang apa yang terjadi sama kita, tapi tentang siapa yang ada di samping kita
pas hal buruk itu terjadi."
Siska menatap Jamino
cukup lama. Ia lalu mendekat ke arah keyboard, jarinya bergerak cepat menghapus
beberapa baris kode.
"Apa yang lo
lakuin?" tanya Jamino penasaran.
"Gue menghapus
parameter keberuntungan dari seluruh sistem rekrutmen perusahaan ini."
"Serius? Lo bisa
dipecat!"
"Biarin. Kalau
gue dipecat, berarti gue juga bakal jadi pengangguran kayak lo. Dan menurut
hitungan gue, probabilitas kita buat bangun perusahaan baru berdua adalah 100%
sukses."
Jamino tersenyum
lebar. Ia mendekati Siska, bermaksud untuk memeluknya sebagai tanda terima
kasih. Namun, saat ia melangkah, kakinya tersandung kabel power utama.
BRAK!
Seluruh komputer di
ruangan itu meledak kecil, mengeluarkan asap hitam, dan mati total. Gedung itu
mendadak sunyi senyap. Siska menatap sisa-sisa servernya yang berasap, lalu
menatap Jamino yang masih tersungkur di lantai.
"Jam... lo
beneran pembawa sial ya?"
"Eh, maaf... gue
cuma mau peluk..."
Siska menghela napas,
lalu tertawa kecil—tawa pertama yang Jamino dengar, dan itu lebih indah dari
musik apa pun.
"Ya sudah.
Sekarang kita sama-sama pengangguran."
"Terus kita mau
ngapain sekarang?"
Siska mengulurkan
tangannya, membantu Jamino berdiri. "Sesuai algoritma baru yang baru saja
gue bikin di kepala gue: kita cari nasi goreng, terus lo ceritain gimana
caranya bisa tetap hidup dengan kesialan level dewa kayak gitu."
"Boleh, tapi lo
yang bayar ya? Dompet gue ketinggalan di angkot tadi."
Siska memutar bola
matanya, tapi ia tidak melepaskan tangan Jamino saat mereka berjalan keluar
ruangan yang gelap itu. Di layar monitor yang hampir mati, muncul satu baris
teks terakhir dari AI:
[Status Hubungan:
Terhubung. Kesialan Jamino Koplo + Kecerdasan Siska Amelia = Kekacauan Sempurna
yang Menyenangkan.]
"Jadi, kapan lo ngelamar
gue?"
Spirov Lengking, 620270620827
Tidak ada komentar:
Posting Komentar