Minggu, 25 Oktober 2026

POCONG DI BAWAH RANJANG [Fiksi Mikro Horor]

 


Malam itu, Bokah berlari ke kamar ibunya.

 

“Bu, ada pocong di halaman!”

 

Ibunya tersenyum sambil menyelimuti tubuhnya. “Tenang, Nak. Pocong tidak mungkin masuk rumah.”

 

Bokah mencoba tidur. Namun, beberapa menit kemudian, terdengar suara gesekan dari bawah ranjang.

 

Srut... srut... srut...

 

Ia menahan napas.

 

“Bokah...” bisik suara ibunya dari bawah ranjang. “Jangan percaya perempuan yang sedang memelukmu.”

 

Bokah menoleh. Ibunya masih tersenyum, tetapi kedua kakinya terbungkus kain kafan.

 

Dari bawah ranjang, suara itu kembali berbisik.

 

“Nak, cepat lari. Ibu yang asli ada di sini.”

 


Spirov Lengking, 62020142132732

Sabtu, 24 Oktober 2026

Satu Detik

  

Sarginem membeli cermin murah di Pasar Loak Legen. Walau pantulannya selalu terlambat sedetik, si pemudi cantik tidak mempermasalahkan.

 

Malam ini, saat menyisir rambut, tangannya berhenti. Pantulannya masih bergerak. Ia menahan napas, sosok dalam cermin, diam.

 

Mendadak pantulan tersenyum lebar, meski wajah Sarginem datar. Senyum asing itu membuatnya mundur.

 

Ia mengangkat tangan. Pantulannya tak bergerak.

 

Sekejap kemudian, sosok dalam cermin menerjang keluar sambil berbisik, “Satu detik ini kumanfaatkan untuk belajar jadi kamu.”

 

Sarginem terperangkap di dalam cermin, menggedor putus asa. Sosok di luar cermin merapikan rambut. Sosok itu sengaja menunggu sedetik sebelum menoleh, supaya gadis itu tahu kalau sedang diamati.

 


Spirov Lengking, 62020142054545

 

Minggu, 11 Oktober 2026

TRANSFORMASI DESA PONGGOK, DARI TERTINGGAL MENJADI TERKAYA DI INDONESIA



Kisah Desa Ponggok, sebuah desa kecil di Klaten, Jawa Tengah, adalah narasi inspiratif tentang bagaimana visi kepemimpinan yang kuat dapat mengubah nasib. Dari status desa tertinggal dengan pendapatan minim, kini Ponggok menjelma menjadi salah satu desa terkaya di Indonesia. Di balik transformasi fenomenal ini berdiri sosok Junaedi Mulyono, Kepala Desa yang dengan tangan dinginnya berhasil mengoptimalkan potensi lokal melalui BUMDes Tirta Mandiri dan daya tarik wisata Umbul Ponggok. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan luar biasa Desa Ponggok di bawah kepemimpinan Junaedi Mulyono, program-program unggulannya, serta dampak signifikan yang dirasakan oleh seluruh warganya.

 

 

Dari Desa Tertinggal Menjadi Pusat Inovasi: Visi Awal Junaedi Mulyono

 

Pada awal tahun 2000-an, Desa Ponggok di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, adalah potret tipikal desa tertinggal. Pendapatan asli desa (PAD) pada tahun 2005 hanya berkisar Rp 80 juta per tahun, bahkan ada sumber yang menyebut hanya Rp 5 juta per tahun pada era awal 2000-an. Kondisi ini diperparah dengan tingkat pengangguran yang tinggi dan rendahnya akses pendidikan. Umbul Ponggok, mata air alami yang kini menjadi ikon desa, kala itu hanyalah pemandian kumuh yang lebih sering digunakan untuk mencuci pakaian atau memandikan ternak, tanpa nilai ekonomi yang berarti.

 

Ketika Junaedi Mulyono mulai menjabat sebagai Kepala Desa Ponggok pada tahun 2006, ia dihadapkan pada tantangan besar. Namun, alih-alih menyerah, ia melihat potensi luar biasa yang tersembunyi di desanya, terutama sumber mata air jernih yang melimpah. Junaedi menyadari bahwa pembangunan desa tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ia memulai perubahannya dengan melakukan riset mendalam dan pemetaan potensi desa secara akurat, menggandeng kalangan akademisi dari universitas terkemuka seperti UGM. Proses ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat untuk memahami sumber daya alam, kemampuan warga, kondisi pekerjaan, pendidikan, kemiskinan, serta kekuatan ekonomi desa. Pendekatan berbasis data dan kolaborasi ini menjadi kunci utama yang membedakan strategi Desa Ponggok dari desa-desa lain yang seringkali hanya meniru tren tanpa memahami potensi intrinsik mereka.

 

 

BUMDes Tirta Mandiri: Pilar Ekonomi yang Mengubah Nasib

 

Fondasi utama transformasi ekonomi Desa Ponggok adalah pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri pada Desember 2009. BUMDes ini tidak hanya berorientasi profit, tetapi juga memiliki misi sosial yang kuat. Dengan modal awal Rp 100 juta, sebuah langkah berani diambil: Rp 70 juta di antaranya digunakan untuk melunasi utang warga yang terjerat rentenir, menyisakan modal bersih Rp 30 juta untuk memulai usaha. Langkah ini tidak hanya meringankan beban ekonomi warga tetapi juga membangun kepercayaan dan solidaritas.

 

"Kami mendapat modal awal sebesar Rp 100 juta. Namun, dana sebesar Rp 70 juta harus kami relakan untuk membayar lunas utang warga yang terjerat rentenir." - Joko Winarno, Direktur Utama BUMDes Tirta Mandiri.

 

Dari modal awal yang terbatas, BUMDes Tirta Mandiri tumbuh pesat dengan mengelola berbagai unit usaha. Dimulai dari pengelolaan air bersih, kemudian merambah ke sektor pariwisata Umbul Ponggok, jasa konstruksi, simpan pinjam, toko desa, persewaan gedung, perikanan, hingga pengelolaan air minum. Pada tahun 2018, BUMDes ini telah memiliki 11 unit usaha, di mana enam di antaranya sudah berbentuk perseroan terbatas (PT). Keberhasilan ini tidak lepas dari model pengelolaan yang profesional dan transparan, serta partisipasi aktif masyarakat. Warga Desa Ponggok diajak untuk berinvestasi, dengan setiap keluarga memiliki saham hingga Rp 5 juta, dan mendapatkan bagi hasil bulanan sebesar Rp 300 ribu per keluarga. Ini menjadikan masyarakat tidak hanya sebagai objek pembangunan, tetapi juga subjek dan pemilik usaha.

 

 

Umbul Ponggok: Dari Pemandian Ternak Menjadi Destinasi Wisata Unggulan Dunia

 

Umbul Ponggok adalah jantung dari keberhasilan pariwisata Desa Ponggok. Mata air ini memiliki sejarah panjang, bahkan sejak era kolonial Belanda, berfungsi sebagai reservoir air untuk pabrik gula. Namun, potensi wisatanya baru benar-benar digarap serius di bawah kepemimpinan Junaedi Mulyono melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) tahun 2007.

 

Dengan kolam berukuran panjang 70 meter dan lebar 40 meter, serta mata air alami yang terus mengalirkan air jernih, Umbul Ponggok diubah menjadi destinasi wisata air yang unik. Konsep "Bunaken van Klaten" diusung untuk menarik minat wisatawan, menawarkan sensasi menyelam, snorkeling, dan berfoto di bawah air tawar yang dingin dan jernih, lengkap dengan ikan dan bebatuan di dasarnya. Promosi digital melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok turut berperan besar dalam memperkenalkan Umbul Ponggok ke masyarakat luas, bahkan hingga mancanegara.

 

Pengembangan Umbul Ponggok tidak hanya berfokus pada daya tarik fisik, tetapi juga melibatkan masyarakat secara aktif melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Karang Taruna, dan ibu-ibu PKK dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Ini menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dan memberdayakan warga setempat sebagai tenaga kerja maupun pelaku usaha di sekitar destinasi wisata.

 

 

Lompatan Ekonomi Fantastis: Angka-angka di Balik Kesuksesan

 

Transformasi Desa Ponggok tercermin jelas dari lonjakan pendapatannya yang fantastis. Dari hanya Rp 80 juta per tahun pada tahun 2005, pendapatan asli desa (PAD) melonjak drastis hingga mencapai Rp 3,9 miliar per tahun pada 2017. Ini merupakan peningkatan 48 kali lipat dalam waktu sekitar satu dekade.

 

Kontribusi terbesar datang dari BUMDes Tirta Mandiri. Pendapatan BUMDes ini terus meroket, mencapai Rp 6,4 miliar pada tahun 2017, dan bahkan Rp 14 miliar per tahun pada periode 2017-2018. Beberapa sumber menyebut angka Rp 14,2 miliar dan bahkan Rp 16 miliar per tahun pada 2024. Selain pendapatan, aset BUMDes Ponggok juga mengalami lonjakan signifikan, dari Rp 100 juta menjadi Rp 20 miliar. Peningkatan kesejahteraan masyarakat juga terlihat dari pendapatan bulanan warga yang sebelumnya sekitar Rp 600.000, kini meningkat menjadi lebih dari Rp 2 juta per bulan.

 

 

Investasi pada Sumber Daya Manusia: Program "1 Rumah 1 Sarjana"

 

Junaedi Mulyono memahami bahwa keberlanjutan pembangunan desa sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) warganya. Oleh karena itu, pada tahun 2016, ia mencetuskan program ambisius "1 Rumah 1 Sarjana" (SRSS). Program ini bertujuan untuk memberikan beasiswa pendidikan tinggi setara S1 secara gratis kepada satu orang dari setiap keluarga di Desa Ponggok.

 

Beasiswa ini mencakup biaya kuliah penuh dan bahkan uang saku bulanan sebesar Rp 300.000 yang langsung ditransfer ke rekening mahasiswa. Latar belakang program ini adalah kebutuhan desa akan tenaga ahli untuk perencanaan dan pengembangan yang tidak boleh sembarangan. Hingga tahun 2023, tercatat sudah ada 67 warga yang menempuh pendidikan tinggi melalui program ini. Sementara pada tahun 2024, 58 warga telah menerima beasiswa, dengan 15 di antaranya berhasil menyelesaikan studi. Lulusan program ini diharapkan dapat kembali membangun dan mengembangkan desa mereka dengan ilmu dan keterampilan yang dimiliki, memastikan keberlanjutan visi Junaedi Mulyono.

 

 

Kesejahteraan Warga Terjamin: Jaminan Kesehatan Desa dan Inisiatif Sosial Lainnya

 

Selain pendidikan, aspek kesejahteraan sosial juga menjadi prioritas utama. Melalui profit yang dihasilkan BUMDes Tirta Mandiri, pemerintah desa meluncurkan program Jaminan Kesehatan Desa. Program ini memastikan seluruh masyarakat Desa Ponggok mendapatkan fasilitas jaminan kesehatan kelas 3 melalui BPJS Kesehatan, sementara para pegawai BUMDes mendapatkan kelas 1. Keberhasilan ini mengantarkan Desa Ponggok dianugerahi sebagai Desa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan, dengan 100% dari 2.136 penduduknya telah tercover program JKN.

 

Inisiatif sosial lainnya juga digulirkan untuk meningkatkan kualitas hidup warga. Ini termasuk jaminan lauk-pauk untuk lansia, serta bantuan modal usaha bagi warga yang ingin berwirausaha atau mengelola homestay. Selain itu, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga turut berperan dalam menyediakan layanan kesehatan dasar gratis melalui klinik desa, penanganan stunting, serta menjadi off-taker hasil pertanian dan perikanan warga untuk meningkatkan nilai jual produk lokal. Program-program ini menunjukkan komitmen desa untuk memastikan setiap warga merasakan manfaat langsung dari kemakmuran yang tercipta.

 

 

Kunci Keberlanjutan dan Inspirasi Nasional

 

Keberhasilan Junaedi Mulyono dalam mengubah Desa Ponggok menjadi desa yang mandiri dan makmur tidak lepas dari beberapa faktor kunci:

 

Integritas dan Visi Kuat: Junaedi Mulyono memiliki visi jangka panjang dan integritas dalam mengelola dana desa, memastikan setiap rupiah digunakan untuk kemaslahatan masyarakat.

Partisipasi Masyarakat: Melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap tahapan pembangunan, dari perencanaan hingga pengelolaan, menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab.

Inovasi dan Adaptasi: Kemampuan untuk melihat potensi yang terabaikan (seperti Umbul Ponggok) dan mengubahnya menjadi nilai ekonomi tinggi, serta terus mengembangkan unit-unit usaha BUMDes.

Pemanfaatan Teknologi dan Kolaborasi: Menggandeng akademisi untuk riset dan perencanaan, serta memanfaatkan media sosial untuk promosi wisata.

Fokus pada SDM dan Kesejahteraan: Mengalokasikan keuntungan untuk pendidikan dan kesehatan, menciptakan lingkaran positif pembangunan yang berkelanjutan.

 

Atas dedikasinya, Junaedi Mulyono telah menerima berbagai penghargaan, termasuk "Top 10 Outstanding People 2019" dari Infobank. BUMDes Tirta Mandiri juga dinobatkan sebagai BUMDes terbaik tingkat nasional pada tahun 2017. Keberhasilan Desa Ponggok bahkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia, dengan Presiden Jokowi secara langsung menyebutnya sebagai contoh sukses pengelolaan dana desa. Junaedi Mulyono sendiri terpilih sebagai Ketua Umum DPP Asosiasi Pemerintah Desa Indonesia (APDESI) periode 2026-2031, dengan tekad untuk menularkan semangat dan keberhasilan Ponggok ke desa-desa lain di tanah air.

 

 


Sebuah Model Pembangunan Desa yang Autentik

 

Kisah Junaedi Mulyono dan Desa Ponggok adalah bukti nyata bahwa kemajuan desa tidak harus menunggu bantuan besar dari luar, melainkan dapat diwujudkan melalui optimalisasi potensi lokal, kepemimpinan yang visioner, dan partisipasi aktif masyarakat. Dari desa tertinggal yang hanya dikenal sebagai pemandian ternak, Ponggok kini berdiri tegak sebagai desa terkaya di Indonesia, dengan pendapatan miliaran rupiah per tahun, jaminan pendidikan tinggi, dan akses kesehatan yang merata bagi warganya.

 

Melalui BUMDes Tirta Mandiri dan wisata Umbul Ponggok, Junaedi Mulyono tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi dan sumber daya manusia yang berkualitas. Program "1 Rumah 1 Sarjana" dan Jaminan Kesehatan Desa adalah investasi jangka panjang yang memastikan kesejahteraan berkelanjutan bagi generasi Ponggok. Kisah ini menjadi mercusuar harapan dan model autentik pembangunan desa yang patut dicontoh oleh seluruh pelosok negeri.

 

Spirov Lengking, 62020121105616

Sabtu, 10 Oktober 2026

Mahakarya Manusia Bodoh

 



 “Satu tambah satu berapa, Blondho?”

 

Profesor Tengar melotot, tangannya menggebrak meja kayu jati yang sudah retak-retak itu. Di depannya, Blondho duduk dengan wajah yang dikosongkan seolah-olah otaknya baru saja dicuci dengan pemutih pakaian.

 

“Sebelas, Prof,” jawab Blondho mantap.

 

“Alasannya?”

 

“Kalau satu ditaruh di sebelah satu, ya jadi sebelas. Kenapa harus dijumlahkan kalau mereka bisa berdampingan secara harmonis?”

 

Profesor Tengar terdiam sejenak, lalu ia berdiri dan bertepuk tangan dengan sangat keras. Air mata haru mengalir di pipinya yang keriput.

 

“Luar biasa! Tidak ada logika, tidak ada fakta, hanya perasaan semu yang dipaksakan. Kamu lulus mata kuliah Manajemen Kebodohan Strategis dengan nilai sempurna!”

 

Blondho hanya tersenyum lebar. Ia merasa bangga. Di Institut Manajemen Kebodohan (IMK), berpikir cerdas adalah dosa besar. Sekolah elite ini baru saja membuka jurusan baru itu untuk memenuhi kebutuhan pasar: melahirkan pemimpin yang bisa memenangkan argumen tanpa perlu tahu apa yang mereka bicarakan.

 

“Tapi Prof, ada satu siswa yang menantang jawaban saya tadi di koridor,” lapor Blondho sambil memperbaiki letak dasinya yang miring.

 

“Siapa? Berani-beraninya dia membawa fakta ke kampus ini?”

 

“Sari, Prof. Dia bilang secara matematis satu tambah satu tetap dua.”

 

Profesor Tengar mendengus jijik, “Singkirkan dia. Suruh dia ikut kelas remedial Retorika Suara Tinggi. Kalau dia masih pakai otak, keluarkan dia dari sekolah ini!”

 

Blondho mengangguk patuh. Ia tahu betul aturan mainnya. Di sini, siapa yang paling keras berteriak, dialah yang memegang kebenaran. Pagi itu, koridor sekolah dipenuhi siswa yang sedang berlatih menutup telinga sambil berteriak, “Saya tidak dengar, saya tidak peduli!” secara serentak.

 

“Blondho! Kamu dengar kabar terbaru?” Sari tiba-tiba muncul dari balik pilar, wajahnya tampak frustrasi.

 

“Saya sudah dilatih untuk tidak mendengar kabar yang mengandung informasi berharga, Sari,” jawab Blondho dengan nada meremehkan.

 

“Ini serius. Pemerintah sedang meninjau akreditasi sekolah kita. Mereka akan mengirim pengawas besok!”

 

“Bagus, kan? Mereka pasti akan terkesima dengan kurikulum Cara Menghindari Data yang saya kuasai.”

 

Sari memijat pelipisnya. “Kamu tidak mengerti. Kalau mereka tahu kita mengajarkan orang untuk jadi bodoh, sekolah ini bisa ditutup!”

 

Blondho tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar hambar dan dibuat-buat. “Bodoh? Kamu salah istilah. Kami menyebutnya ‘Intelektualitas Alternatif’. Lagi pula, orang pintar itu membosankan. Mereka selalu punya solusi yang masuk akal. Di kota ini, masyarakat lebih suka janji yang tidak masuk akal tapi diucapkan dengan percaya diri.”

 

“Tapi Blondho, kemarin kamu menyarankan walikota untuk membuat jalan tol melingkar!”

 

“Tentu saja. Dengan jalan tol melingkar, semua warga merasa jarak rumah mereka ke pusat kota itu sama jauhnya. Keadilan sosial, Sari!”

 

“Tapi itu cuma membuang-buang bensin dan waktu!” teriak Sari frustrasi.

 

Blondho mendekatkan wajahnya ke arah Sari, lalu berteriak lebih keras tepat di telinga gadis itu. “BENSIN ADALAH CAIRAN, DAN CAIRAN HARUS MENGALIR! JANGAN MEMBATASI KEBEBASAN CAIRAN DENGAN LOGIKA PEMBOROSANMU!”

 

Sari terlonjak kaget dan menutup telinganya. Blondho tersenyum puas. Ia baru saja menerapkan teknik Volume as Authority.

 

“Kamu benar-benar gila, Blondho,” bisik Sari sambil melangkah mundur.

 

“Tidak, Sari. Aku adalah masa depan.”

 

*

 

 

Keesokan harinya, suasana IMK sangat tegang. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal dan kacamata tebal datang. Dia adalah Bapak Baron, kepala badan akreditasi nasional. Semua dosen gemetar, kecuali Profesor Tengar dan lulusan terbaiknya, Blondho.

 

“Jadi, ini sekolah yang katanya sedang melakukan revolusi pendidikan?” tanya Pak Baron sambil melihat-lihat sekeliling.

 

“Benar, Pak. Kami sedang memangkas rantai keruwetan otak manusia,” jawab Profesor Tengar penuh percaya diri.

 

Pak Baron berhenti di depan sebuah kelas. Di dalamnya, para siswa sedang belajar cara membakar buku ensiklopedia untuk dijadikan abu pembuat kopi.

 

“Apa yang mereka lakukan?” tanya Pak Baron heran.

 

Blondho maju ke depan, mengambil alih pembicaraan. “Kami sedang melakukan Ekstraksi Pengetahuan Fisik, Pak. Membaca itu melelahkan mata. Tapi kalau abunya diminum, pengetahuan itu masuk langsung ke lambung. Lebih cepat diserap tubuh.”

 

Pak Baron mengerutkan kening. “Itu tidak mungkin secara biologis.”

 

“Bapak bicara biologi? Itu kan teori abad lama. Di era sekarang, kita pakai teori ‘Keinginan Kuat’. Kalau Bapak yakin itu kopi pintar, maka Bapak akan pintar,” sahut Blondho tanpa berkedip.

 

“Tapi faktanya—”

 

“DIAM!” potong Blondho dengan suara menggelegar. “Fakta adalah opini yang sudah terlalu sering diulang-ulang. Kenapa Bapak harus terjebak pada masa lalu?”

 

Pak Baron terkejut. Ia tampak terintimidasi oleh volume suara Blondho. Ia mencatat sesuatu di bukunya. Profesor Tengar tersenyum bangga di belakang Blondho.

 

“Lalu, bagaimana dengan sistem ujian nasional yang kalian ubah itu?” tanya Pak Baron lagi, suaranya agak mengecil.

 

“Oh, lomba menebak cuaca?” Blondho melipat tangannya di dada. “Itu jauh lebih berguna daripada matematika. Matematika membuat orang stres. Menebak cuaca melatih intuisi dan keberuntungan. Bukankah hidup ini hanyalah soal keberuntungan?”

 

“Tapi kalau ramalannya salah?”

 

“Ya cuacanya yang salah, Pak. Bukan siswanya. Kenapa kita harus menyalahkan manusia kalau alam yang tidak konsisten?”

 

Pak Baron terdiam cukup lama. Ia menatap Blondho, lalu menatap Profesor Tengar. Tiba-tiba, ia menghela napas panjang dan melepaskan kacamatanya.

 

“Luar biasa,” gumam Pak Baron. “Selama ini saya terjebak dalam kurikulum yang menuntut siswa untuk berpikir keras sampai mereka depresi. Kalian… kalian telah menemukan solusi untuk kebahagiaan abadi!”

 

“Maksud Bapak?” tanya Profesor Tengar ragu-ragu.

 

“Sekolah ini tidak hanya lulus akreditasi. Saya akan berikan nilai A+! Kalian adalah pionir anti-intelektualisme yang sangat dibutuhkan negara untuk menenangkan rakyat yang terlalu banyak protes karena terlalu banyak tahu!”

 

Blondho menyeringai. “Tentu saja. Orang bodoh adalah rakyat yang tenang, Pak.”

 

“Blondho, setelah ini kamu harus ikut saya ke kantor gubernur. Kami butuh penasihat sepertimu untuk menjelaskan kenapa harga beras naik itu sebenarnya adalah prestasi,” ujar Pak Baron sambil menjabat tangan Blondho erat-halus.

 

Sari yang memperhatikan dari jauh hanya bisa melongo. Ia tidak percaya bahwa kegilaan ini benar-benar dihargai secara resmi. Ia mendekati Blondho setelah Pak Baron pergi ke ruang administrasi.

 

“Blondho, kamu tidak bisa terus begini. Kamu menghancurkan kota ini dengan saran-saran absurdmu!”

 

“Menghancurkan? Lihatlah, Sari. Semua orang senang. Walikota senang karena tidak perlu kerja keras memperbaiki drainase, cukup bilang bahwa banjir adalah ‘Wisata Air Gratis’. Rakyat senang karena mereka tidak perlu merasa bodoh lagi, karena standar bodoh sudah tidak ada.”

 

“Tapi ini semua palsu!”

 

“Palsu itu relatif, Sari. Yang nyata adalah jabatan yang akan aku terima besok.”

 

*

 

 

Satu bulan kemudian, Blondho telah resmi menjadi Penasihat Utama urusan Strategis di Balai Kota. Keputusan pertamanya adalah mengganti seluruh lampu lalu lintas dengan warna biru semua. Alasannya? “Biru itu menenangkan, supaya tidak ada lagi road rage karena warna merah yang memancing amarah.”

 

Hasilnya? Angka kecelakaan meningkat 400%, tapi Blondho punya jawaban yang lebih jenius.

 

“Itu bukan kecelakaan,” lapor Blondho dalam rapat paripurna. “Itu adalah ‘Pertemuan Tak Terduga Antar Warga’. Kita harus mensyukurinya sebagai bentuk silaturahmi yang intens.”

 

Para anggota dewan bertepuk tangan. Mereka semua adalah lulusan IMK angkatan pertama. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendebat karena takut dianggap “terlalu pintar” dan tidak merakyat.

 

Malam itu, Blondho duduk di kantor mewahnya, memandangi kemacetan total yang disebabkan oleh jalan tol melingkar ciptaannya. Tiba-tiba, pintu ruangannya didobrak. Sari masuk dengan wajah merah padam.

 

“Blondho! Berhenti! Kamu harus lihat ini!” Sari melempar sebuah dokumen ke meja Blondho.

 

“Dokumen apa ini? Terlalu banyak angka. Saya pusing,” keluh Blondho.

 

“Itu laporan keuangan kota! Kita bangkrut, Blondho! Semua anggaran habis untuk membiayai proyek-proyek absurdmu, termasuk proyek ‘Pagar Langit’ untuk mencegah hujan!”

 

Blondho mengambil dokumen itu, lalu melipatnya menjadi pesawat terbang kertas. Ia menerbangkannya ke arah jendela.

 

“Bangkrut itu cuma istilah orang pelit, Sari. Kita tidak bangkrut, kita hanya sedang ‘Menyimpan Uang di Masa Depan’.”

 

“Kamu benar-benar sudah gila! Apa kamu tidak punya hati nurani sedikit pun?”

 

Blondho berdiri, menatap Sari dengan pandangan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Pura-pura bodohnya menghilang sejenak.

 

“Sari, apa kamu pikir aku benar-benar bodoh?”

 

Sari tertegun. “Apa maksudmu?”

 

Blondho berjalan pelan mengelilingi mejanya. “Aku tahu satu tambah satu itu dua. Aku tahu jalan tol melingkar itu konyol. Aku tahu akreditasi A+ itu adalah penghinaan bagi dunia pendidikan.”

 

“Lalu kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu memimpin semua kegilaan ini?”

 

Blondho terkekeh, suara tawanya kali ini terdengar sangat cerdas dan licik. “Karena menjadi pintar di dunia yang mengagungkan kebodohan adalah cara tercepat untuk mati miskin dan tidak didengar. Aku memilih untuk menjadi raja di atas tumpukan kotoran daripada menjadi pelayan di istana yang tidak pernah ada.”

 

“Kamu memanfaatkan mereka…” bisik Sari ngeri.

 

“Aku memberikan apa yang mereka minta, Sari. Mereka benci fakta, jadi aku beri mereka dongeng. Mereka benci kerumitan, jadi aku beri mereka kesederhanaan yang merusak. Dan lihat? Aku sekarang adalah orang terkuat di kota ini.”

 

Sari menggelengkan kepala. “Aku akan melaporkan ini. Aku akan beritahu Pak Baron bahwa kamu hanya berpura-pura!”

 

Blondho tertawa lagi, kali ini lebih keras. “Silakan, Sari. Pergilah ke Pak Baron. Tapi ada satu hal yang kamu lupa.”

 

“Apa?”

 

Blondho mengambil sebuah remote dan menyalakan televisi besar di dinding kantornya. Di layar, sedang berlangsung siaran langsung penyerahan penghargaan Tokoh Pendidikan Nasional. Pak Baron berdiri di podium, memegang piala emas berbentuk otak yang dibelah dua.

 

“Dan pemenangnya adalah…” suara Pak Baron terdengar lantang dari televisi. “…Profesor Tengar dan tim pengembang kurikulum IMK atas jasanya menghapuskan beban berpikir di seluruh negeri!”

 

Blondho menunjuk ke layar televisi dengan wajah kemenangan. “Kamu lihat itu, Sari? Pak Baron tidak akan mendengarmu. Karena dia adalah pendiri asli sekolah itu sebelum dia masuk ke pemerintahan.”

 

Sari membeku. Nafasnya tercekat. “Apa? Jadi sekolah itu… proyek pemerintah?”

 

“Bukan sekadar proyek,” Blondho berbisik tepat di telinga Sari. “Itu adalah eksperimen sosial. Dan aku adalah subjek terbaik yang pernah mereka miliki. Kamu tahu kenapa mereka memberikan akreditasi A+?”

 

Sari tidak bisa menjawab. Air matanya mulai menetes.

 

“Karena hanya ada satu cara untuk mengendalikan manusia selamanya tanpa perlu senjata,” lanjut Blondho dengan senyum paling jahat yang pernah ada.

 

“Yaitu dengan apa?” tanya Sari dengan suara gemetar.

 

Blondho mengambil topi kelulusannya, memakainya kembali dengan miring, lalu kembali ke mode “bodoh”-nya yang biasa.

 

“Yaitu dengan meyakinkan mereka bahwa menjadi bodoh adalah sebuah prestasi yang patut dirayakan.”

 

“Lalu bagaimana dengan nasib kota ini kalau semuanya hancur?” teriak Sari terakhir kalinya.

 

Blondho berjalan menuju pintu, hendak menghadiri pesta kemenangannya di aula utama. Sebelum keluar, ia menoleh sedikit.

 

“Kenapa harus pusing soal kota yang hancur, kalau kita bisa bilang itu adalah ‘Desain Arsitektur Pasca-Kiamat’ yang sangat estetis?”

 

Sari jatuh terduduk di lantai, sementara Blondho melangkah pergi sambil bersiul lagu anak-anak yang nadanya salah semua. Di luar, kembang api meledak di langit, merayakan kehancuran logika dengan sorak-sorai ribuan orang yang sudah lupa cara bertanya.

 

“Eh, Blondho! Kamu mau ke mana?” tanya seorang menteri yang berpapasan dengannya.

 

“Mau makan siang, Pak! Tapi saya bingung, garpu itu gunanya untuk menyisir rambut atau menusuk nasi?”

 

Menteri itu tertawa terbahak-bahak dan menepuk bahu Blondho. “Kamu memang jenius! Pakai untuk menyisir rambut saja, biar nasinya tidak sakit!”

 

Blondho mengedipkan sebelah matanya ke arah kamera pengawas yang tersembunyi di pojok ruangan.

 

“Siap, Pak Menteri! Mari kita sisir nasi kita sampai rapi!”

 

Spirov Lengking, 62020190093409