________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya
kebetulan belaka.
________________________________________________________________________
Darah
di Ujung Sawah
Sabron
membanting pintu bambu itu hingga debu berterbangan dari sela-sela anyaman. Di
dalam ruangan yang hanya diterangi sebuah lampu teplok, bayangan tubuhnya
memanjang, tampak seperti raksasa yang sedang gelisah.
"Matikan
lampunya, Mas," bisik Marni. Ia duduk di amben, kedua tangannya mendekap
perut yang sudah membuncit tujuh bulan.
Sabron
tidak bergerak. Tangannya masih gemetar memegang lintingan rokok yang sudah
padam. "Rapat tadi kacau, Mar. Mereka bilang di desa sebelah, orang-orang
kita sudah tidak ada di rumahnya."
"Maksudmu
dijemput?"
"Begitu
katanya."
"Lalu
kenapa kamu masih berdiri di situ seperti patung?" Marni bangkit dengan
susah payah, mendekati suaminya. "Kita harus pergi sekarang, Mas. Ke rumah
ibuku di pesisir. Di sana lebih aman."
Sabron
menatap istrinya tajam. "Aku ketua BTI di sini, Mar. Kalau aku lari,
puluhan petani yang ikut aku bakal jadi sasaran empuk. Mereka butuh
arahan."
"Arahan
apa lagi?" suara Marni meninggi meski tertahan. "Kamu mau mengarahkan
mereka ke lubang kubur?"
"Ini
soal tanggung jawab!"
"Tanggung
jawabmu itu ke anak ini!" Marni menarik tangan Sabron, menempelkannya ke
perutnya yang keras. "Bukan ke tanah, bukan ke partai, bukan ke
petani-petani itu!"
Sabron
menarik napas panjang, bau asap minyak tanah menusuk hidungnya. Sebelum ia
sempat membalas, terdengar ketukan pelan di pintu belakang. Tiga kali ketukan
pendek, satu kali panjang.
"Itu
Pokro," bisik Sabron.
Ia
bergegas ke pintu belakang dan membukanya. Pokro masuk dengan napas tersengal,
bajunya kotor oleh lumpur sawah. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram bulan
sabit.
"Sudah
dekat, Bron," kata Pokro sambil menyeka keringat dingin di dahinya.
"Siapa?
Tentara atau Pemuda Rakyat sebelah?" tanya Sabron cepat.
"Dua-duanya.
Mereka bawa daftar. Nama sampeyan ada di urutan paling atas."
Sabron
terdiam. Ia melirik Marni yang berdiri mematung di ambang pintu kamar.
"Pokro,
apa yang lain sudah tahu?" tanya Sabron.
"Beberapa
sudah lari ke hutan. Tapi Pak Tua Toisubo dan yang lain masih di lumbung.
Mereka nunggu perintah sampeyan. Mereka pikir sampeyan punya rencana."
"Rencana
apa? Kita cuma punya arit buat panen padi, bukan buat perang," sahut Pokro
putus asa. "Bron, aku mau pulang. Aku mau bakar semua atribut di rumahku.
Aku sarankan sampeyan juga begitu."
"Kamu
mau khianat, Kro?" Sabron mencengkeram kerah baju Pokro.
"Ini
bukan soal khianat! Ini soal nyawa! Di pasar tadi sore, kepalanya si Bandoso
sudah dipajang di jembatan! Sampeyan mau Marni lihat kepala suaminya digantung
begitu?"
Sabron
melepaskan cengkeramannya. Tangannya terkulai lemas.
"Mas,
dengar Pokro," Marni mendekat, suaranya memelas. "Ayo pergi. Lewat
jalan belakang, tembus hutan jati. Sebelum subuh kita sudah sampai di jalan
raya."
"Aku
tidak bisa, Mar."
"Kenapa
tidak bisa?"
"Kalau
aku pergi tanpa bilang apa-apa ke Toisubo dan yang lain, mereka akan mati
konyol menunggu instruksi yang tidak akan pernah datang."
"Mereka
bisa jaga diri sendiri, Bron!" sela Pokro. "Sekarang urus dirimu
sendiri dulu!"
Tiba-tiba,
suara deru mesin truk terdengar dari kejauhan. Suaranya memecah keheningan
malam desa yang biasanya hanya diisi suara jangkrik. Jantung Sabron berdegup
kencang.
"Itu
mereka," bisik Pokro, matanya membelalak ketakutan. "Aku pergi dulu.
Jangan cari aku."
Pokro
menghilang di kegelapan malam melalui pintu belakang. Sabron terpaku di
tempatnya. Deru truk itu semakin jelas, berhenti di ujung jalan desa, sekitar
dua ratus meter dari rumahnya.
"Mas,
tolong..." tangis Marni pecah. "Demi bayi ini."
Sabron
menatap perut istrinya, lalu menatap keris tua yang tergantung di
dinding—satu-satunya warisan ayahnya yang tak ada hubungannya dengan ideologi
yang ia anut, tapi terasa lebih nyata saat ini.
Ketukan
kembali terdengar. Kali ini dari pintu depan. Keras dan penuh paksaan.
"Sabron!
Keluar!"
Sabron
mengenali suara itu. Itu suara Cangkrang, tetangga sebelah rumah yang dua
minggu lalu masih meminjam cangkul padanya.
Sabron
berjalan ke pintu depan, tapi Marni menahannya. "Jangan dibuka, Mas."
"Kalau
tidak dibuka, mereka akan bakar rumah ini dengan kamu di dalamnya," kata
Sabron tenang. "Mar, masuk ke kolong tempat tidur. Jangan keluar sampai
benar-benar sepi. Mengerti?"
"Mas..."
"Masuk!"
perintah Sabron tegas.
Marni
terisak, namun ia menuruti perintah suaminya. Setelah memastikan Marni
bersembunyi, Sabron menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu.
Di
depan pintu, Cangkrang berdiri membawa obor. Di belakangnya, ada tiga orang
pria berseragam hijau dan beberapa pemuda desa yang mengenakan pita kain di
lengan mereka.
"Ada
apa, Man? Malam-malam begini bawa rombongan," tanya Sabron, suaranya
datar, mencoba menyembunyikan getaran di lututnya.
Cangkrang
tidak berani menatap mata Sabron. Ia menunduk sambil menggeser posisi obornya.
"Ada perintah pemeriksaan, Bron. Sampeyan harus ikut sebentar ke kantor
kecamatan."
"Pemeriksaan
apa? Masalah panen?"
Salah
satu pria berseragam maju ke depan. Ujung laras senjatanya menyentuh dada
Sabron. "Jangan banyak tanya. Ikut sekarang atau kami seret."
Sabron
melirik ke arah rumah Toisubo di kejauhan. Ada kobaran api mulai menjilat atap
lumbung desa. Hatinya tergetar. Teman-temannya sedang dibantai atau ditangkap
saat ini juga.
"Saya
ganti baju dulu," kata Sabron.
"Tidak
usah. Begitu saja cukup," sentak si pria berseragam.
"Istri
saya sedang hamil tua. Biarkan saya bicara dengannya sebentar."
Cangkrang
menyela, "Marni biar kami yang jaga, Bron. Sampeyan berangkat saja
dulu."
Sabron
menatap Cangkrang tajam. "Kamu yang jaga, Man? Atau kamu yang menunjukkan
rumahku pada mereka?"
Cangkrang
bungkam. Mukanya memerah tertimpa cahaya obor.
"Cepat
jalan!" si pria berseragam mendorong bahu Sabron dengan popor senapan.
Sabron
terhuyung ke depan. Ia menoleh sekali lagi ke arah rumahnya yang gelap. Di
dalam sana, ia tahu Marni sedang menahan napas dalam kegelapan. Ia berharap
istrinya tetap diam, tetap hidup.
Saat
mereka berjalan menuju truk yang terparkir di bawah pohon beringin, Sabron
melihat pemandangan yang membuatnya mual. Pak Tua Toisubo diseret dengan tali
di lehernya seperti ternak. Beberapa anggota BTI lainnya sudah tertumpuk di
atas bak truk dalam kondisi terikat.
"Bron!
Tolong, Bron!" teriak salah satu dari mereka saat melihat Sabron.
Sabron
hanya bisa terdiam. Idealisme yang ia agung-agungkan di rapat tadi sore menguap
begitu saja digantikan oleh kenyataan pahit bahwa mereka hanyalah pion di atas
papan catur yang sedang terbakar.
"Naik!"
bentak tentara itu.
Sabron
memanjat bak truk dengan susah payah. Di dalam, ia duduk bersandar pada besi
pembatas yang dingin. Di sebelahnya, Toisubo terengah-engah dengan wajah penuh
lebam.
"Maafkan
aku, Pak Toisubo," bisik Sabron.
"Bukan
salahmu, Bron. Zamannya yang sudah gila," sahut Toisubo lirih.
Tiba-tiba,
truk itu tidak segera berangkat. Seorang pria dengan jaket kulit hitam mendekat
ke arah truk. Ia memegang secarik kertas dan senter. Ia menyinari satu per satu
wajah orang-orang di atas bak.
"Mana
yang namanya Sabron?" tanya pria itu.
Sabron
mengangkat tangannya pelan. "Saya."
Pria
itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih dingin dari angin malam di
persawahan. Ia mematikan senternya dan mendekat ke telinga Sabron yang berada
di pinggir bak.
"Ada
titipan pesan dari temanmu, Pokro," bisik pria itu.
Darah
Sabron seolah berhenti mengalir. "Pokro? Di mana dia?"
Pria
itu terkekeh pelan, suara yang membuat bulu kuduk Sabron berdiri. Ia merogoh
saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu yang berkilau di bawah cahaya bulan. Itu
adalah sebuah giwang perak.
Sabron
mengenali giwang itu. Itu milik Marni.
"Pokro
bilang, dia tahu jalan rahasia di belakang rumahmu," kata pria itu dengan
nada mengejek.
Sabron
mencoba melompat turun dari truk, tapi dua orang pemuda dengan sigap menahan
bahunya dan menekan kepalanya ke lantai bak truk.
"Lepaskan
aku! Bajingan! Marni!" teriak Sabron liar.
Truk
mulai menyala. Derunya meredam teriakan Sabron. Asap hitam mengepul dari
knalpot, menyelimuti orang-orang yang gemetar ketakutan di atas sana.
Cangkrang
berdiri di pinggir jalan, masih memegang obornya, menatap truk itu menjauh
menuju kegelapan hutan jati di pinggir desa.
Pria
berjaket kulit itu menatap Sabron yang masih meronta di bawah tekanan sepatu
laras. Ia mendekat lagi, menempelkan wajahnya tepat di depan mata Sabron yang
merah karena amarah dan air mata.
"Kamu
mau tahu apa yang sedang dilakukan Pokro di rumahmu sekarang?" tanya pria
itu pelan.
Sabron
berhenti meronta, napasnya tersengal-sengal, matanya menatap tajam penuh
dendam.
Pria
itu membisikkan sesuatu yang membuat seluruh dunia Sabron runtuh seketika.
"Dia
bilang, dia ingin memastikan anakmu lahir dengan ideologi yang benar."
Spirov Lengking,
62029032151818