Senin, 28 September 2026

Darah di Ujung Sawah


 


________________________________________________________________________

Disclaimer:

Tulisan ini termasuk cerpen (cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya kebetulan belaka.

________________________________________________________________________

 

Darah di Ujung Sawah

 

Sabron membanting pintu bambu itu hingga debu berterbangan dari sela-sela anyaman. Di dalam ruangan yang hanya diterangi sebuah lampu teplok, bayangan tubuhnya memanjang, tampak seperti raksasa yang sedang gelisah.

 

"Matikan lampunya, Mas," bisik Marni. Ia duduk di amben, kedua tangannya mendekap perut yang sudah membuncit tujuh bulan.

 

Sabron tidak bergerak. Tangannya masih gemetar memegang lintingan rokok yang sudah padam. "Rapat tadi kacau, Mar. Mereka bilang di desa sebelah, orang-orang kita sudah tidak ada di rumahnya."

 

"Maksudmu dijemput?"

 

"Begitu katanya."

 

"Lalu kenapa kamu masih berdiri di situ seperti patung?" Marni bangkit dengan susah payah, mendekati suaminya. "Kita harus pergi sekarang, Mas. Ke rumah ibuku di pesisir. Di sana lebih aman."

 

Sabron menatap istrinya tajam. "Aku ketua BTI di sini, Mar. Kalau aku lari, puluhan petani yang ikut aku bakal jadi sasaran empuk. Mereka butuh arahan."

 

"Arahan apa lagi?" suara Marni meninggi meski tertahan. "Kamu mau mengarahkan mereka ke lubang kubur?"

 

"Ini soal tanggung jawab!"

 

"Tanggung jawabmu itu ke anak ini!" Marni menarik tangan Sabron, menempelkannya ke perutnya yang keras. "Bukan ke tanah, bukan ke partai, bukan ke petani-petani itu!"

 

Sabron menarik napas panjang, bau asap minyak tanah menusuk hidungnya. Sebelum ia sempat membalas, terdengar ketukan pelan di pintu belakang. Tiga kali ketukan pendek, satu kali panjang.

 

"Itu Pokro," bisik Sabron.

 

Ia bergegas ke pintu belakang dan membukanya. Pokro masuk dengan napas tersengal, bajunya kotor oleh lumpur sawah. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram bulan sabit.

 

"Sudah dekat, Bron," kata Pokro sambil menyeka keringat dingin di dahinya.

 

"Siapa? Tentara atau Pemuda Rakyat sebelah?" tanya Sabron cepat.

 

"Dua-duanya. Mereka bawa daftar. Nama sampeyan ada di urutan paling atas."

 

Sabron terdiam. Ia melirik Marni yang berdiri mematung di ambang pintu kamar.

 

"Pokro, apa yang lain sudah tahu?" tanya Sabron.

 

"Beberapa sudah lari ke hutan. Tapi Pak Tua Toisubo dan yang lain masih di lumbung. Mereka nunggu perintah sampeyan. Mereka pikir sampeyan punya rencana."

 

"Rencana apa? Kita cuma punya arit buat panen padi, bukan buat perang," sahut Pokro putus asa. "Bron, aku mau pulang. Aku mau bakar semua atribut di rumahku. Aku sarankan sampeyan juga begitu."

 

"Kamu mau khianat, Kro?" Sabron mencengkeram kerah baju Pokro.

 

"Ini bukan soal khianat! Ini soal nyawa! Di pasar tadi sore, kepalanya si Bandoso sudah dipajang di jembatan! Sampeyan mau Marni lihat kepala suaminya digantung begitu?"

 

Sabron melepaskan cengkeramannya. Tangannya terkulai lemas.

 

"Mas, dengar Pokro," Marni mendekat, suaranya memelas. "Ayo pergi. Lewat jalan belakang, tembus hutan jati. Sebelum subuh kita sudah sampai di jalan raya."

 

"Aku tidak bisa, Mar."

 

"Kenapa tidak bisa?"

 

"Kalau aku pergi tanpa bilang apa-apa ke Toisubo dan yang lain, mereka akan mati konyol menunggu instruksi yang tidak akan pernah datang."

 

"Mereka bisa jaga diri sendiri, Bron!" sela Pokro. "Sekarang urus dirimu sendiri dulu!"

 

Tiba-tiba, suara deru mesin truk terdengar dari kejauhan. Suaranya memecah keheningan malam desa yang biasanya hanya diisi suara jangkrik. Jantung Sabron berdegup kencang.

 

"Itu mereka," bisik Pokro, matanya membelalak ketakutan. "Aku pergi dulu. Jangan cari aku."

 

Pokro menghilang di kegelapan malam melalui pintu belakang. Sabron terpaku di tempatnya. Deru truk itu semakin jelas, berhenti di ujung jalan desa, sekitar dua ratus meter dari rumahnya.

 

"Mas, tolong..." tangis Marni pecah. "Demi bayi ini."

 

Sabron menatap perut istrinya, lalu menatap keris tua yang tergantung di dinding—satu-satunya warisan ayahnya yang tak ada hubungannya dengan ideologi yang ia anut, tapi terasa lebih nyata saat ini.

 

Ketukan kembali terdengar. Kali ini dari pintu depan. Keras dan penuh paksaan.

 

"Sabron! Keluar!"

 

Sabron mengenali suara itu. Itu suara Cangkrang, tetangga sebelah rumah yang dua minggu lalu masih meminjam cangkul padanya.

 

Sabron berjalan ke pintu depan, tapi Marni menahannya. "Jangan dibuka, Mas."

 

"Kalau tidak dibuka, mereka akan bakar rumah ini dengan kamu di dalamnya," kata Sabron tenang. "Mar, masuk ke kolong tempat tidur. Jangan keluar sampai benar-benar sepi. Mengerti?"

 

"Mas..."

 

"Masuk!" perintah Sabron tegas.

 

Marni terisak, namun ia menuruti perintah suaminya. Setelah memastikan Marni bersembunyi, Sabron menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu.

 

Di depan pintu, Cangkrang berdiri membawa obor. Di belakangnya, ada tiga orang pria berseragam hijau dan beberapa pemuda desa yang mengenakan pita kain di lengan mereka.

 

"Ada apa, Man? Malam-malam begini bawa rombongan," tanya Sabron, suaranya datar, mencoba menyembunyikan getaran di lututnya.

 

Cangkrang tidak berani menatap mata Sabron. Ia menunduk sambil menggeser posisi obornya. "Ada perintah pemeriksaan, Bron. Sampeyan harus ikut sebentar ke kantor kecamatan."

 

"Pemeriksaan apa? Masalah panen?"

 

Salah satu pria berseragam maju ke depan. Ujung laras senjatanya menyentuh dada Sabron. "Jangan banyak tanya. Ikut sekarang atau kami seret."

 

Sabron melirik ke arah rumah Toisubo di kejauhan. Ada kobaran api mulai menjilat atap lumbung desa. Hatinya tergetar. Teman-temannya sedang dibantai atau ditangkap saat ini juga.

 

"Saya ganti baju dulu," kata Sabron.

 

"Tidak usah. Begitu saja cukup," sentak si pria berseragam.

 

"Istri saya sedang hamil tua. Biarkan saya bicara dengannya sebentar."

 

Cangkrang menyela, "Marni biar kami yang jaga, Bron. Sampeyan berangkat saja dulu."

 

Sabron menatap Cangkrang tajam. "Kamu yang jaga, Man? Atau kamu yang menunjukkan rumahku pada mereka?"

 

Cangkrang bungkam. Mukanya memerah tertimpa cahaya obor.

 

"Cepat jalan!" si pria berseragam mendorong bahu Sabron dengan popor senapan.

 

Sabron terhuyung ke depan. Ia menoleh sekali lagi ke arah rumahnya yang gelap. Di dalam sana, ia tahu Marni sedang menahan napas dalam kegelapan. Ia berharap istrinya tetap diam, tetap hidup.

 

Saat mereka berjalan menuju truk yang terparkir di bawah pohon beringin, Sabron melihat pemandangan yang membuatnya mual. Pak Tua Toisubo diseret dengan tali di lehernya seperti ternak. Beberapa anggota BTI lainnya sudah tertumpuk di atas bak truk dalam kondisi terikat.

 

"Bron! Tolong, Bron!" teriak salah satu dari mereka saat melihat Sabron.

 

Sabron hanya bisa terdiam. Idealisme yang ia agung-agungkan di rapat tadi sore menguap begitu saja digantikan oleh kenyataan pahit bahwa mereka hanyalah pion di atas papan catur yang sedang terbakar.

 

"Naik!" bentak tentara itu.

 

Sabron memanjat bak truk dengan susah payah. Di dalam, ia duduk bersandar pada besi pembatas yang dingin. Di sebelahnya, Toisubo terengah-engah dengan wajah penuh lebam.

 

"Maafkan aku, Pak Toisubo," bisik Sabron.

 

"Bukan salahmu, Bron. Zamannya yang sudah gila," sahut Toisubo lirih.

 

Tiba-tiba, truk itu tidak segera berangkat. Seorang pria dengan jaket kulit hitam mendekat ke arah truk. Ia memegang secarik kertas dan senter. Ia menyinari satu per satu wajah orang-orang di atas bak.

 

"Mana yang namanya Sabron?" tanya pria itu.

 

Sabron mengangkat tangannya pelan. "Saya."

 

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih dingin dari angin malam di persawahan. Ia mematikan senternya dan mendekat ke telinga Sabron yang berada di pinggir bak.

 

"Ada titipan pesan dari temanmu, Pokro," bisik pria itu.

 

Darah Sabron seolah berhenti mengalir. "Pokro? Di mana dia?"

 

Pria itu terkekeh pelan, suara yang membuat bulu kuduk Sabron berdiri. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu yang berkilau di bawah cahaya bulan. Itu adalah sebuah giwang perak.

 

Sabron mengenali giwang itu. Itu milik Marni.

 

"Pokro bilang, dia tahu jalan rahasia di belakang rumahmu," kata pria itu dengan nada mengejek.

 

Sabron mencoba melompat turun dari truk, tapi dua orang pemuda dengan sigap menahan bahunya dan menekan kepalanya ke lantai bak truk.

 

"Lepaskan aku! Bajingan! Marni!" teriak Sabron liar.

 

Truk mulai menyala. Derunya meredam teriakan Sabron. Asap hitam mengepul dari knalpot, menyelimuti orang-orang yang gemetar ketakutan di atas sana.

 

Cangkrang berdiri di pinggir jalan, masih memegang obornya, menatap truk itu menjauh menuju kegelapan hutan jati di pinggir desa.

 

Pria berjaket kulit itu menatap Sabron yang masih meronta di bawah tekanan sepatu laras. Ia mendekat lagi, menempelkan wajahnya tepat di depan mata Sabron yang merah karena amarah dan air mata.

 

"Kamu mau tahu apa yang sedang dilakukan Pokro di rumahmu sekarang?" tanya pria itu pelan.

 

Sabron berhenti meronta, napasnya tersengal-sengal, matanya menatap tajam penuh dendam.

 

Pria itu membisikkan sesuatu yang membuat seluruh dunia Sabron runtuh seketika.

 

"Dia bilang, dia ingin memastikan anakmu lahir dengan ideologi yang benar."

 

 

Spirov Lengking, 62029032151818



Tidak ada komentar:

Posting Komentar