________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian,
________________________________________________________________________
Suara
dari Tanah yang Berbisik
Semampir
tidak peduli. Tangannya yang terbalut sarung tangan karet baru saja menyentuh
gembok kuningan yang sudah berkarat hijau di sudut tergelap loteng. "Hanya
kotak kayu tua, Bu! Sepertinya milik almarhum Kakek Bargendro!"
"Kakekmu?" Suara langkah kaki Ibu terdengar menaiki tangga kayu yang
berderit. "Nenekmu selalu melarang siapa pun membuka barang-barang
suaminya. Katanya, itu gudang kesedihan."
"Tapi
gemboknya sudah lepas sendiri," sahut Semampir, menarik paksa tutup kayu
yang sudah lapuk itu.
Di
dalamnya, tumpukan kertas kekuningan menyambutnya. Bukan mainan tua atau
perhiasan, melainkan tumpukan amplop dengan perangko tahun 60-an. Semampir
mengambil satu lembar yang tintanya sudah memudar, tapi tulisannya masih gagah.
"Bu,
ini surat-surat dari tahun 1965," bisik Semampir, matanya membelalak.
"Ditulis oleh Bargendro untuk Nenek Lastri."
Ibu
berdiri di ambang pintu loteng, wajahnya mendadak pucat. "Simpan kembali, Semampir.
Kita tidak seharusnya mengaduk-aduk tanah yang sudah tenang."
"Tapi
lihat ini, Bu. Dia menulis tentang rapat-rapat di desa. Tentang janji tanah
untuk petani," Semampir membaca cepat baris-baris itu. "Bargendro
bukan cuma guru desa biasa, kan?"
"Dia
hanya seorang guru yang ingin murid-muridnya bisa makan nasi, bukan sekadar
tiwul," suara Ibu bergetar.
"Di
sini tertulis dia bergabung dengan organisasi itu. Nama organisasinya...
PKI?" Semampir menatap ibunya lekat-lekat.
Ibu
menghela napas panjang, lalu duduk di sebuah kursi tua yang berdebu.
"Zaman itu tidak sesederhana hitam dan putih seperti di buku sejarahmu,
Nak. Bargendro masuk ke sana karena mereka menjanjikan pupuk murah dan tanah
untuk sekolah desa kita."
"Tapi
kenapa Nenek tidak pernah bercerita?" tanya Semampir penasaran.
"Karena
setelah tahun 1966, nama itu menjadi kutukan yang harus dikubur
hidup-hidup," jawab Ibu lirih.
Semampir
membolak-balik surat yang lain, hingga menemukan satu yang bertanggal 15
Oktober 1965. Isinya bukan lagi soal janji tanah, melainkan ketakutan.
"Apa
yang terjadi pada Kakek Bargendro di akhir tahun itu, Bu?"
Ibu
memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca menatap jendela loteng yang kusam.
"Dia pergi membawa surat terakhir yang tidak pernah sampai ke tangan
Nenekmu."
"Ke
mana dia pergi?"
"Tanyakan
langsung pada Nenekmu, jika dia masih ingat siapa dirinya sendiri."
*
Tahun
1965 – Desa Karang Jati
"Bargendro,
kau terlalu vokal di rapat tadi," bisik Lastri sambil menuangkan teh pahit
di meja kayu mereka yang reyot.
Bargendro
meletakkan kapur tulisnya, tangannya masih putih karena debu papan tulis.
"Petani-petani itu butuh kepastian, Lastri. Kalau bukan kita yang bicara,
tuan tanah akan terus mengisap sumsum mereka."
"Tapi
orang-orang di kota mulai bicara soal kerusuhan. Kabar burung itu makin
kencang," sahut Lastri gelisah.
"Kabar
burung hanya untuk mereka yang tidak punya pekerjaan. Aku punya kelas yang
harus diajar besok pagi," jawab Bargendro tegas.
"Hardi
bilang kau sekarang jadi pengurus tingkat desa. Benar begitu?" Lastri
menatap suaminya dengan mata yang mulai basah.
Bargendro
menarik kursi, duduk di hadapan istrinya. "Hanya urusan administratif,
Lastri. Mereka butuh orang yang bisa baca tulis untuk mencatat distribusi
bibit. Apa salahnya membantu tetangga sendiri agar bisa mandiri?"
"Dunia
sedang memanas, Bargendro. Aku takut kalau niat baikmu dipelintir menjadi
sesuatu yang jahat," bisik Lastri.
"Jangan
khawatir. Aku ini guru. Senjataku hanya kapur dan buku, bukan bedil,"
Bargendro tersenyum, mencoba menenangkan.
Namun,
ketenangan itu hanya bertahan hingga akhir September. Suatu malam, Hardi datang
dengan wajah pasi, mengetuk pintu rumah mereka dengan kalap.
"Bargendro!
Keluar! Kau harus lihat apa yang terjadi di Jakarta!" teriak Hardi dari
balik pintu.
Bargendro
membuka pintu dengan tergesa. "Ada apa? Kenapa kau berkeringat dingin
begini?"
"Jenderal-jenderal
itu... mereka bilang ada kudeta! Dan mereka menunjuk kita, Bargendro! Kita
semua!" Hardi mencengkeram bahu Bargendro dengan tangan gemetar.
"Kudeta
apa? Kita hanya bicara soal pembagian tanah dan pendidikan!" Bargendro
mencoba melepaskan cengkeraman itu.
"Mereka
tidak akan peduli kau guru atau bukan! Siapa pun yang memegang kartu anggota
atau pernah ikut rapat akan disikat!" Hardi menoleh ke arah kegelapan
jalan desa.
"Bargendro,
masuk ke dalam!" teriak Lastri dari balik tirai.
"Aku
tidak melakukan kesalahan apa pun, Hardi. Aku hanya ingin rakyat sejahtera,"
Bargendro bersikeras, meskipun suaranya mulai goyah.
"Kebenaran
tidak ada gunanya saat ini, kawan. Larilah sebelum truk-truk itu sampai ke desa
ini!"
*
Tahun
2024 – Teras Rumah Nenek
Nenek
Lastri duduk di kursi goyangnya, menatap lurus ke arah kebun singkong yang
mulai rimbun. Semampir duduk di lantai, di samping kakinya, memegang surat
terakhir yang ia temukan di kotak itu.
"Nek,
aku menemukan ini di loteng," bisik Semampir lembut.
Nenek
menoleh perlahan, matanya yang sudah mengabur karena katarak mencoba fokus pada
kertas di tangan Semampir. "Surat... dari Mas Bargendro?"
"Iya,
Nek. Tapi sepertinya ini surat yang belum sempat dikirim. Kenapa ada di kotak
itu?"
Nenek
menghela napas, suaranya terdengar seperti gesekan daun kering. "Malam
itu... malam terakhir aku melihatnya. Dia sedang menulis sesuatu di meja
belajar. Tiba-tiba ada suara gaduh di depan rumah."
"Apa
yang terjadi?" tanya Semampir, menahan napas.
"Truk-truk
tentara dan orang-orang dengan ikat kepala putih. Mereka memanggil namanya
seolah-olah dia adalah penjahat paling dicari di republik ini," Nenek
Lastri memejamkan mata, air mata mengalir di kerutan pipinya.
"Kakek
melawan?"
"Dia
tidak melawan. Dia hanya sempat memasukkan surat itu ke dalam laci, lalu
menoleh padaku. Katanya, 'Jaga anak-anak, Lastri. Ini hanya salah paham',"
kenang Nenek dengan suara parau.
Semampir
membuka lipatan surat itu dan membacanya keras-keras untuk Neneknya.
"Untuk
istriku, Lastri. Jika esok matahari tak lagi menyapaku di ruang kelas, ketahuilah
bahwa aku tidak pernah mengkhianati tanah ini. Aku hanya ingin melihat
anak-anak petani bisa menulis namanya sendiri. Jika mereka datang menjemputku,
jangan menangis. Simpanlah buku-bukuku. Ceritakan pada anak kita bahwa ayahnya
bukan seorang pembunuh."
"Dia
dibawa ke mana, Nek?" Semampir bertanya setelah terdiam sejenak.
"Ke
kamp di pinggir hutan. Lalu ke pulau. Lalu... hilang," Nenek menggeleng
lemah. "Aku mencarinya selama sepuluh tahun. Setiap ada truk lewat, aku
berlari ke jalan, berharap dia turun dengan tas berisi kapur tulisnya."
"Kenapa
Nenek menyimpan surat ini di loteng? Kenapa tidak pernah ditunjukkan pada
Ibu?"
"Karena
dunia ini kejam, Semampir. Selama puluhan tahun, menjadi keluarga Bargendro
berarti menjadi sampah masyarakat. Aku ingin ibumu tumbuh tanpa beban
itu," Nenek menggenggam tangan Semampir.
"Tapi
sekarang zaman sudah beda, Nek. Kita harus tahu kebenarannya."
"Kebenaran
tidak akan menghidupkan Kakekmu, Nak. Kebenaran hanya akan membuat lukanya
terasa perih lagi," bisik Nenek.
Tiba-tiba,
suara mobil berhenti di depan rumah. Ibu turun dengan wajah panik, melihat Semampir
sedang memegang surat-surat itu bersama Nenek.
"Semampir!
Sudah kubilang jangan bahas ini lagi!" seru Ibu, menghampiri mereka.
"Tapi
Bu, Kakek Bargendro tidak bersalah! Dia hanya korban janji palsu!" balas Semampir
dengan nada tinggi.
Nenek
Lastri tiba-tiba berdiri dari kursi goyangnya, tubuhnya yang renta tampak
tegang. "Cukup! Jangan berdebat di depan sejarah yang sudah membisu!"
"Nenek..."
Semampir tertegun melihat kemarahan di mata tua itu.
"Bargendro
memang hanya seorang guru, tapi dia memilih jalan yang salah di waktu yang
salah," suara Nenek mendadak dingin.
"Maksud
Nenek? Dia sengaja bergabung?" Semampir mengejar.
"Dia
tahu risikonya, Semampir. Dia tahu, tapi dia terlalu mencintai idealisme lebih
dari nyawanya sendiri," Nenek kembali duduk, energinya seolah terkuras
habis.
Ibu
mendekati Semampir, merampas surat di tangannya dengan lembut. "Sudahlah, Semampir.
Biarkan Kakekmu beristirahat dalam surat-suratnya."
"Tapi
masih ada satu surat lagi di dasar kotak, Bu. Surat dari seseorang bernama
Hardi, bertanggal tahun 1970," Semampir merogoh saku celananya.
Wajah
Nenek dan Ibu seketika menegang. Nenek Lastri mencengkeram lengan kursi
goyangnya hingga buku jarinya memutih.
"Apa
isi surat dari Hardi itu?" tanya Nenek dengan suara gemetar yang tak bisa
disembunyikan.
Semampir
membuka kertas lusuh yang tadi sempat ia selipkan ke sakunya, lalu membacanya
pelan: "Lastri, maafkan aku. Malam itu di pinggir sungai, Bargendro
menitipkan satu pesan terakhir sebelum mereka membawanya ke balik pepohonan
gelap."
"Pesan
apa?" bisik Ibu, ikut tegang.
Semampir
menatap Neneknya dalam-dalam, lalu membacakan baris terakhir dari surat Hardi
yang selama ini tersembunyi di bawah tumpukan surat cinta Bargendro.
"Dia
bilang, 'Katakan pada Lastri, jangan pernah cari jasadku di tanah ini, carilah
aku di setiap huruf yang dibaca oleh murid-muridku'."
Spirov
Lengking, 62029012160226