________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya
kebetulan belaka.
________________________________________________________________________
Nama yang Dihapus
Sambatri
membanting map plastik berwarna biru itu ke atas meja makan yang berdebu.
Suaranya bergema di ruang tengah rumah mereka yang sempit di pinggiran Jakarta.
Di hadapannya, tumpukan berkas kependudukan berserakan, namun ada satu hal yang
membuatnya mematung: kolom nama ayah di akta kelahirannya yang baru saja ia
urus ulang tampak janggal. Nama itu seolah tidak pernah ada, digantikan oleh
deretan garis datar yang dingin.
"Kenapa
wajah Ibu pucat begitu?" tanya Gilang, putranya, yang baru saja muncul
dari arah dapur sambil membawa segelas kopi hitam.
Sambatri
tidak langsung menjawab. Ia meremas pinggiran meja, jemarinya memutih.
"Petugas dukcapil bilang ada masalah dengan data lama kakekmu. Mereka
bilang nama Gandoto tidak terdaftar di sistem mana pun."
"Tidak
terdaftar? Itu tidak masuk akal, Bu. Kakek kan dulu pegawai di pelabuhan,"
sahut Gilang sembari menarik kursi, lalu duduk di hadapan ibunya. "Mungkin
cuma kesalahan sistem. Jakarta kan memang sering berantakan datanya."
"Ini
bukan sekadar kesalahan sistem, Gilang. Ibu tahu rasanya. Ada sesuatu yang
hilang, sengaja dihilangkan," bisik Sambatri, suaranya bergetar.
Gilang
menyesap kopinya perlahan, matanya menatap lekat pada akta kelahiran ibunya.
"Kebetulan sekali. Ibu tahu kan aku sedang menyusun proposal skripsi
tentang sejarah lisan tahun enam puluhan? Ini bisa jadi pembuka yang
bagus."
Sambatri
mendongak, matanya membelalak ketakutan. "Jangan berani-berani, Gilang!
Jangan bawa-bawa sejarah itu ke dalam rumah ini!"
"Kenapa
Ibu selalu setegang ini setiap kali aku menyinggung soal masa lalu?"
Gilang meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras. "Ini tugas
akhirku, Bu. Aku butuh data asli, bukan cuma dari buku teks yang sudah disaring
pemerintah."
"Ada
alasan kenapa nama itu dihapus, Gilang. Ada alasan kenapa kita pindah dari Jawa
Tengah ke Jakarta saat aku masih kecil dan mengganti nama belakang keluarga
kita menjadi nama yang tidak dikenal siapa pun!" teriak Sambatri.
"Jadi
benar? Kakek mengganti identitasnya?" Gilang mencondongkan tubuh, rasa
penasarannya meledak.
"Cukup,
Gilang. Masuk ke kamarmu!" perintah Sambatri dengan napas terengah-engah.
Malam
itu, Sambatri tidak bisa memejamkan mata. Bayangan masa kecilnya di sebuah desa
kecil dekat Solo kembali menghantui. Ia ingat bau asap, suara teriakan di malam
hari, dan wajah ayahnya yang penuh ketakutan saat membakar sebuah kartu
berwarna merah di tungku dapur. Ia beranjak dari tempat tidur, melangkah
perlahan menuju gudang di belakang rumah. Di sana, di bawah tumpukan kardus
bekas, tersimpan sebuah peti kayu kecil yang sudah digembok karat.
Ia
merogoh saku daster, mengeluarkan sebuah kunci kecil yang selalu ia bawa ke
mana-mana. Saat peti itu terbuka, bau apek kertas tua menyengat hidungnya. Di
lapisan paling bawah, di balik kain batik usang, ia menemukan sebuah kartu
keanggotaan yang sudah menguning. Di sana tertera nama: Gandoto. Di bawahnya,
sebuah logo yang paling ditakuti di negeri ini selama puluhan tahun.
"Lekra,"
gumam Sambatri pelan. "Ayah hanya seorang pemain ketoprak, dia bukan
pembunuh."
"Tapi
bagi orang-orang saat itu, itu sama saja, kan?"
Sambatri
tersentak. Ia menoleh dan mendapati Gilang berdiri di ambang pintu gudang
dengan lampu ponsel yang menyala terang. Putranya itu telah mengikutinya.
"Ibu
menyembunyikan ini selama ini?" suara Gilang terdengar kecewa namun penuh
rasa ingin tahu.
"Kamu
tidak mengerti, Gilang! Kamu tidak hidup di zaman itu!" Sambatri mencoba
menutup kembali peti tersebut, namun Gilang lebih cepat menahannya.
"Aku
mengerti sejarahnya, Bu. Aku tahu apa yang terjadi setelah tahun enam puluh
lima. Tapi ini kakekku! Ini identitas kita!" seru Gilang.
"Identitas
ini adalah hukuman mati, Gilang! Ibu sudah bersusah payah menguburnya agar kamu
bisa sekolah, agar kamu bisa hidup normal tanpa dicap sebagai anak cucu
pengkhianat!" Sambatri mulai terisak.
"Zaman
sudah berubah, Bu! Sekarang tahun dua ribu dua puluhan. Tidak ada lagi yang
peduli dengan siapa kakekku dulu di masa perang dingin!" Gilang
bersikeras.
"Kamu
salah besar. Kebencian itu tidak pernah mati, Gilang. Ia hanya tidur,"
sahut Sambatri dengan nada dingin yang mencekam.
"Aku
tetap akan menulis tentang ini. Tentang bagaimana seorang seniman harus
menghapus namanya sendiri demi bertahan hidup di Jakarta. Ini narasi yang
penting untuk skripsiku!" Gilang meraih kartu tua itu dari tangan ibunya.
"Kembalikan,
Gilang! Ibu mohon! Jika namamu dikaitkan dengan ini, kamu tidak akan pernah
bisa mendapatkan pekerjaan. Kamu akan dikucilkan!" Sambatri mencoba
merebut kembali kartu itu.
"Ibu
terlalu takut pada bayangan. Ibu mewariskan ketakutan itu padaku, bukan rasa
bangga!" bantah Gilang sembari menjauhkan kartu itu.
Sambatri
terduduk di lantai gudang yang dingin. "Kamu pikir kenapa kakekmu
mengganti nama menjadi Sutaryo? Dia ingin kamu bebas. Dia menghapus dirinya
sendiri supaya kamu punya masa depan. Sekarang kamu ingin menghancurkan
pengorbanannya?"
Gilang
terdiam sejenak, menatap kartu di tangannya. "Menghapus sejarah bukan cara
untuk membebaskan diri, Bu. Itu hanya menunda ledakannya. Aku lelah hidup
dengan rahasia yang tidak aku pahami."
"Apakah
kamu siap menanggung dosanya? Meskipun dia tidak bersalah, dunia akan tetap
menganggapnya berdosa. Dan dosa itu akan menular padamu," kata Sambatri
dengan suara parau.
"Dosa
siapa, Bu? Bermain peran di panggung ketoprak? Menulis puisi tentang petani?
Apakah itu dosa yang harus ditanggung anak cucunya sampai mati?" tanya
Gilang dengan nada menantang.
"Dunia
tidak seadil yang kamu pelajari di kampus, Nak," Sambatri menyeka air matanya.
"Justru
karena itu aku harus menulisnya! Supaya orang tahu bahwa ada ribuan nama yang
dihapus seperti nama kakek. Supaya kita berhenti merasa malu atas sesuatu yang
tidak kita lakukan!" Gilang meninggikan suaranya.
"Kamu
egois, Gilang. Kamu hanya memikirkan nilai skripsimu, bukan keselamatan
keluarga kita!" tuduh Sambatri.
"Aku
tidak egois! Aku ingin kita berhenti bersembunyi! Kenapa Ibu harus gemetar
setiap kali melihat polisi atau petugas kelurahan? Itu karena rahasia
ini!" Gilang membalas dengan tajam.
Tiba-tiba,
suara ketukan keras terdengar dari pintu depan rumah mereka. Keduanya
tersentak. Di jam dua pagi, ketukan itu terdengar seperti lonceng kematian bagi
Sambatri. Trauma masa lalunya bangkit seketika. Ia mencengkeram lengan Gilang
dengan kuat.
"Jangan
dibuka," bisik Sambatri, wajahnya pucat pasi.
"Itu
mungkin cuma tetangga, Bu," kata Gilang, meski ia sendiri mulai merasa
waswas.
"Ibu
bilang jangan dibuka!" Sambatri mendesis, matanya nanar.
Ketukan
itu kembali terdengar, lebih keras dan lebih berwibawa. Gilang melepaskan
cengkeraman ibunya dan melangkah menuju pintu depan, mengabaikan peringatan
ibunya. Sambatri mengikuti dengan kaki gemetar, memeluk dadanya sendiri. Saat
pintu dibuka, berdiri dua orang pria berseragam dinas dengan map di tangan
mereka.
"Selamat
malam. Maaf mengganggu, benar ini rumah Ibu Sambatri?" tanya salah satu
pria itu dengan nada datar.
Sambatri
hampir pingsan. "I-iya, benar. Ada apa ya, Pak?"
"Kami
dari bagian validasi data pusat. Ada ketidaksinkronan data yang sangat serius
terkait berkas yang Ibu ajukan kemarin. Kami perlu melakukan verifikasi
lapangan segera karena ada instruksi untuk menelusuri kembali silsilah keluarga
yang datanya dianggap... anomali," jelas pria itu sembari menatap tajam ke
dalam rumah.
Gilang
menoleh ke arah ibunya, lalu kembali ke arah petugas itu. Keberanian yang tadi
ia tunjukkan di gudang mendadak menyusut. Ia merasakan hawa dingin yang sama
yang selama ini menghantui ibunya.
"Anomali
bagaimana maksudnya, Pak? Bukankah itu hanya masalah administrasi biasa?"
tanya Gilang, mencoba terdengar tenang.
Pria
itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Bukan
hanya administrasi, Dek. Ini menyangkut latar belakang yang tertutup selama
puluhan tahun. Kami menemukan jejak nama lain di arsip fisik lama yang
seharusnya sudah dimusnahkan."
Sambatri
merasakan dunianya runtuh. Semua ketakutan yang ia simpan rapat-rapat, semua
usaha ayahnya untuk "bertobat" dan menghilang, kini menguap begitu
saja. Ia menatap Gilang, melihat ketakutan yang sama mulai merayap di wajah
putranya.
"Boleh
kami masuk untuk bicara lebih lanjut?" tanya petugas itu tanpa menunggu
jawaban, langkah kakinya sudah melewati ambang pintu.
Sambatri
mundur satu langkah, tangannya meraba dinding untuk mencari pegangan. Ia
menatap tumpukan berkas di meja makan yang kini terasa seperti tumpukan surat
vonis.
"Bu,"
bisik Gilang pelan, "apa yang harus kita lakukan?"
Sambatri
memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu menatap petugas itu dengan sisa-sisa
keberanian yang ia miliki. "Apa yang kalian inginkan dari orang
mati?"
"Kami
tidak mencari orang mati, Bu," sahut petugas itu sembari membuka mapnya,
"kami mencari siapa saja yang masih menyimpan warisannya."
Gilang
meremas kartu Lekra di saku celananya. Ia merasakan beban sejarah itu kini
benar-benar pindah ke pundaknya. Ia teringat kata-kata ibunya: Apakah dosa
orang tua harus ditanggung anak cucu?
"Identitas
asli kakekmu harus segera dilaporkan secara resmi atau masalah ini akan
merembet ke status kewarganegaraan kalian semua," lanjut petugas itu
dengan nada mengancam.
Sambatri
menatap Gilang, matanya seolah berkata: Inilah yang Ibu takutkan selama ini.
"Jadi,
Gilang," suara Sambatri terdengar sangat tenang namun mematikan,
"masih mau menulis skripsi tentang sejarah keluarga kita?"
Gilang
tidak menjawab. Ia menunduk, merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.
Ruang tamu itu mendadak terasa lebih sempit dari biasanya, seolah-olah
dinding-dindingnya mulai bergerak menghimpit mereka.
"Pak,"
Gilang akhirnya angkat bicara, suaranya parau, "apa yang akan terjadi jika
kami menyerahkan semua dokumen yang kami miliki?"
Petugas
itu menutup mapnya dengan suara plak yang keras. "Tergantung seberapa
kooperatif kalian dalam mengakui siapa sebenarnya Gandoto."
Sambatri
memegang bahu Gilang, bukan untuk menahan, melainkan untuk bersiap jatuh
bersama. Di luar, lampu jalanan Jakarta yang temaram berkedip-kedip, seolah
menandakan bahwa kegelapan masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya
menunggu saat yang tepat untuk kembali menyapa.
"Silakan
duduk, Pak," kata Sambatri akhirnya, suaranya terdengar pasrah namun penuh
rahasia, "tapi saya peringatkan, ada alasan kenapa nama itu dihapus."
Petugas
itu duduk di kursi kayu yang tadi diduduki Gilang, mengeluarkan sebuah alat
perekam kecil, dan meletakkannya di atas meja. "Kami punya waktu semalaman
untuk mendengarkan alasan itu."
Gilang
menatap ibunya, lalu menatap petugas itu. Ia merasa sebuah pintu besar baru
saja terbuka, namun ia tidak yakin apakah di balik pintu itu adalah kebenaran
yang membebaskan atau justru jurang yang akan menelan mereka semua.
"Bu,
jangan," bisik Gilang, kini ia yang merasa ketakutan.
Sambatri
menggeleng lemah. Ia menatap petugas itu dengan tatapan paling dingin yang
pernah Gilang lihat. "Cerita ini tidak akan pernah selesai hanya dengan
pengakuan, Pak."
"Lalu
dengan apa, Bu?" tanya petugas itu sembari menekan tombol record.
Sambatri
tersenyum getir, matanya berkaca-kaca saat ia melihat ke arah Gilang.
"Dengan pengorbanan yang lebih besar dari sekadar nama."
"Apa
maksud Ibu dengan pengorbanan?" tanya Gilang dengan suara bergetar.
Sambatri
tidak menjawab putranya. Ia mencondongkan tubuh ke arah petugas, wajahnya hanya
berjarak beberapa sentimeter dari alat perekam itu. Suasana mendadak hening,
bahkan suara bising kendaraan di kejauhan seolah menghilang, menyisakan
ketegangan yang bisa diiris dengan pisau.
"Apakah
kalian siap menghapus nama kalian sendiri jika mendengar apa yang akan saya
katakan?"
Spirov
Lengking, 62029022091019