Tampilkan postingan dengan label kebodohan sebagai prestasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebodohan sebagai prestasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2026

Mahakarya Manusia Bodoh

 



 “Satu tambah satu berapa, Blondho?”

 

Profesor Tengar melotot, tangannya menggebrak meja kayu jati yang sudah retak-retak itu. Di depannya, Blondho duduk dengan wajah yang dikosongkan seolah-olah otaknya baru saja dicuci dengan pemutih pakaian.

 

“Sebelas, Prof,” jawab Blondho mantap.

 

“Alasannya?”

 

“Kalau satu ditaruh di sebelah satu, ya jadi sebelas. Kenapa harus dijumlahkan kalau mereka bisa berdampingan secara harmonis?”

 

Profesor Tengar terdiam sejenak, lalu ia berdiri dan bertepuk tangan dengan sangat keras. Air mata haru mengalir di pipinya yang keriput.

 

“Luar biasa! Tidak ada logika, tidak ada fakta, hanya perasaan semu yang dipaksakan. Kamu lulus mata kuliah Manajemen Kebodohan Strategis dengan nilai sempurna!”

 

Blondho hanya tersenyum lebar. Ia merasa bangga. Di Institut Manajemen Kebodohan (IMK), berpikir cerdas adalah dosa besar. Sekolah elite ini baru saja membuka jurusan baru itu untuk memenuhi kebutuhan pasar: melahirkan pemimpin yang bisa memenangkan argumen tanpa perlu tahu apa yang mereka bicarakan.

 

“Tapi Prof, ada satu siswa yang menantang jawaban saya tadi di koridor,” lapor Blondho sambil memperbaiki letak dasinya yang miring.

 

“Siapa? Berani-beraninya dia membawa fakta ke kampus ini?”

 

“Sari, Prof. Dia bilang secara matematis satu tambah satu tetap dua.”

 

Profesor Tengar mendengus jijik, “Singkirkan dia. Suruh dia ikut kelas remedial Retorika Suara Tinggi. Kalau dia masih pakai otak, keluarkan dia dari sekolah ini!”

 

Blondho mengangguk patuh. Ia tahu betul aturan mainnya. Di sini, siapa yang paling keras berteriak, dialah yang memegang kebenaran. Pagi itu, koridor sekolah dipenuhi siswa yang sedang berlatih menutup telinga sambil berteriak, “Saya tidak dengar, saya tidak peduli!” secara serentak.

 

“Blondho! Kamu dengar kabar terbaru?” Sari tiba-tiba muncul dari balik pilar, wajahnya tampak frustrasi.

 

“Saya sudah dilatih untuk tidak mendengar kabar yang mengandung informasi berharga, Sari,” jawab Blondho dengan nada meremehkan.

 

“Ini serius. Pemerintah sedang meninjau akreditasi sekolah kita. Mereka akan mengirim pengawas besok!”

 

“Bagus, kan? Mereka pasti akan terkesima dengan kurikulum Cara Menghindari Data yang saya kuasai.”

 

Sari memijat pelipisnya. “Kamu tidak mengerti. Kalau mereka tahu kita mengajarkan orang untuk jadi bodoh, sekolah ini bisa ditutup!”

 

Blondho tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar hambar dan dibuat-buat. “Bodoh? Kamu salah istilah. Kami menyebutnya ‘Intelektualitas Alternatif’. Lagi pula, orang pintar itu membosankan. Mereka selalu punya solusi yang masuk akal. Di kota ini, masyarakat lebih suka janji yang tidak masuk akal tapi diucapkan dengan percaya diri.”

 

“Tapi Blondho, kemarin kamu menyarankan walikota untuk membuat jalan tol melingkar!”

 

“Tentu saja. Dengan jalan tol melingkar, semua warga merasa jarak rumah mereka ke pusat kota itu sama jauhnya. Keadilan sosial, Sari!”

 

“Tapi itu cuma membuang-buang bensin dan waktu!” teriak Sari frustrasi.

 

Blondho mendekatkan wajahnya ke arah Sari, lalu berteriak lebih keras tepat di telinga gadis itu. “BENSIN ADALAH CAIRAN, DAN CAIRAN HARUS MENGALIR! JANGAN MEMBATASI KEBEBASAN CAIRAN DENGAN LOGIKA PEMBOROSANMU!”

 

Sari terlonjak kaget dan menutup telinganya. Blondho tersenyum puas. Ia baru saja menerapkan teknik Volume as Authority.

 

“Kamu benar-benar gila, Blondho,” bisik Sari sambil melangkah mundur.

 

“Tidak, Sari. Aku adalah masa depan.”

 

*

 

 

Keesokan harinya, suasana IMK sangat tegang. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal dan kacamata tebal datang. Dia adalah Bapak Baron, kepala badan akreditasi nasional. Semua dosen gemetar, kecuali Profesor Tengar dan lulusan terbaiknya, Blondho.

 

“Jadi, ini sekolah yang katanya sedang melakukan revolusi pendidikan?” tanya Pak Baron sambil melihat-lihat sekeliling.

 

“Benar, Pak. Kami sedang memangkas rantai keruwetan otak manusia,” jawab Profesor Tengar penuh percaya diri.

 

Pak Baron berhenti di depan sebuah kelas. Di dalamnya, para siswa sedang belajar cara membakar buku ensiklopedia untuk dijadikan abu pembuat kopi.

 

“Apa yang mereka lakukan?” tanya Pak Baron heran.

 

Blondho maju ke depan, mengambil alih pembicaraan. “Kami sedang melakukan Ekstraksi Pengetahuan Fisik, Pak. Membaca itu melelahkan mata. Tapi kalau abunya diminum, pengetahuan itu masuk langsung ke lambung. Lebih cepat diserap tubuh.”

 

Pak Baron mengerutkan kening. “Itu tidak mungkin secara biologis.”

 

“Bapak bicara biologi? Itu kan teori abad lama. Di era sekarang, kita pakai teori ‘Keinginan Kuat’. Kalau Bapak yakin itu kopi pintar, maka Bapak akan pintar,” sahut Blondho tanpa berkedip.

 

“Tapi faktanya—”

 

“DIAM!” potong Blondho dengan suara menggelegar. “Fakta adalah opini yang sudah terlalu sering diulang-ulang. Kenapa Bapak harus terjebak pada masa lalu?”

 

Pak Baron terkejut. Ia tampak terintimidasi oleh volume suara Blondho. Ia mencatat sesuatu di bukunya. Profesor Tengar tersenyum bangga di belakang Blondho.

 

“Lalu, bagaimana dengan sistem ujian nasional yang kalian ubah itu?” tanya Pak Baron lagi, suaranya agak mengecil.

 

“Oh, lomba menebak cuaca?” Blondho melipat tangannya di dada. “Itu jauh lebih berguna daripada matematika. Matematika membuat orang stres. Menebak cuaca melatih intuisi dan keberuntungan. Bukankah hidup ini hanyalah soal keberuntungan?”

 

“Tapi kalau ramalannya salah?”

 

“Ya cuacanya yang salah, Pak. Bukan siswanya. Kenapa kita harus menyalahkan manusia kalau alam yang tidak konsisten?”

 

Pak Baron terdiam cukup lama. Ia menatap Blondho, lalu menatap Profesor Tengar. Tiba-tiba, ia menghela napas panjang dan melepaskan kacamatanya.

 

“Luar biasa,” gumam Pak Baron. “Selama ini saya terjebak dalam kurikulum yang menuntut siswa untuk berpikir keras sampai mereka depresi. Kalian… kalian telah menemukan solusi untuk kebahagiaan abadi!”

 

“Maksud Bapak?” tanya Profesor Tengar ragu-ragu.

 

“Sekolah ini tidak hanya lulus akreditasi. Saya akan berikan nilai A+! Kalian adalah pionir anti-intelektualisme yang sangat dibutuhkan negara untuk menenangkan rakyat yang terlalu banyak protes karena terlalu banyak tahu!”

 

Blondho menyeringai. “Tentu saja. Orang bodoh adalah rakyat yang tenang, Pak.”

 

“Blondho, setelah ini kamu harus ikut saya ke kantor gubernur. Kami butuh penasihat sepertimu untuk menjelaskan kenapa harga beras naik itu sebenarnya adalah prestasi,” ujar Pak Baron sambil menjabat tangan Blondho erat-halus.

 

Sari yang memperhatikan dari jauh hanya bisa melongo. Ia tidak percaya bahwa kegilaan ini benar-benar dihargai secara resmi. Ia mendekati Blondho setelah Pak Baron pergi ke ruang administrasi.

 

“Blondho, kamu tidak bisa terus begini. Kamu menghancurkan kota ini dengan saran-saran absurdmu!”

 

“Menghancurkan? Lihatlah, Sari. Semua orang senang. Walikota senang karena tidak perlu kerja keras memperbaiki drainase, cukup bilang bahwa banjir adalah ‘Wisata Air Gratis’. Rakyat senang karena mereka tidak perlu merasa bodoh lagi, karena standar bodoh sudah tidak ada.”

 

“Tapi ini semua palsu!”

 

“Palsu itu relatif, Sari. Yang nyata adalah jabatan yang akan aku terima besok.”

 

*

 

 

Satu bulan kemudian, Blondho telah resmi menjadi Penasihat Utama urusan Strategis di Balai Kota. Keputusan pertamanya adalah mengganti seluruh lampu lalu lintas dengan warna biru semua. Alasannya? “Biru itu menenangkan, supaya tidak ada lagi road rage karena warna merah yang memancing amarah.”

 

Hasilnya? Angka kecelakaan meningkat 400%, tapi Blondho punya jawaban yang lebih jenius.

 

“Itu bukan kecelakaan,” lapor Blondho dalam rapat paripurna. “Itu adalah ‘Pertemuan Tak Terduga Antar Warga’. Kita harus mensyukurinya sebagai bentuk silaturahmi yang intens.”

 

Para anggota dewan bertepuk tangan. Mereka semua adalah lulusan IMK angkatan pertama. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendebat karena takut dianggap “terlalu pintar” dan tidak merakyat.

 

Malam itu, Blondho duduk di kantor mewahnya, memandangi kemacetan total yang disebabkan oleh jalan tol melingkar ciptaannya. Tiba-tiba, pintu ruangannya didobrak. Sari masuk dengan wajah merah padam.

 

“Blondho! Berhenti! Kamu harus lihat ini!” Sari melempar sebuah dokumen ke meja Blondho.

 

“Dokumen apa ini? Terlalu banyak angka. Saya pusing,” keluh Blondho.

 

“Itu laporan keuangan kota! Kita bangkrut, Blondho! Semua anggaran habis untuk membiayai proyek-proyek absurdmu, termasuk proyek ‘Pagar Langit’ untuk mencegah hujan!”

 

Blondho mengambil dokumen itu, lalu melipatnya menjadi pesawat terbang kertas. Ia menerbangkannya ke arah jendela.

 

“Bangkrut itu cuma istilah orang pelit, Sari. Kita tidak bangkrut, kita hanya sedang ‘Menyimpan Uang di Masa Depan’.”

 

“Kamu benar-benar sudah gila! Apa kamu tidak punya hati nurani sedikit pun?”

 

Blondho berdiri, menatap Sari dengan pandangan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Pura-pura bodohnya menghilang sejenak.

 

“Sari, apa kamu pikir aku benar-benar bodoh?”

 

Sari tertegun. “Apa maksudmu?”

 

Blondho berjalan pelan mengelilingi mejanya. “Aku tahu satu tambah satu itu dua. Aku tahu jalan tol melingkar itu konyol. Aku tahu akreditasi A+ itu adalah penghinaan bagi dunia pendidikan.”

 

“Lalu kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu memimpin semua kegilaan ini?”

 

Blondho terkekeh, suara tawanya kali ini terdengar sangat cerdas dan licik. “Karena menjadi pintar di dunia yang mengagungkan kebodohan adalah cara tercepat untuk mati miskin dan tidak didengar. Aku memilih untuk menjadi raja di atas tumpukan kotoran daripada menjadi pelayan di istana yang tidak pernah ada.”

 

“Kamu memanfaatkan mereka…” bisik Sari ngeri.

 

“Aku memberikan apa yang mereka minta, Sari. Mereka benci fakta, jadi aku beri mereka dongeng. Mereka benci kerumitan, jadi aku beri mereka kesederhanaan yang merusak. Dan lihat? Aku sekarang adalah orang terkuat di kota ini.”

 

Sari menggelengkan kepala. “Aku akan melaporkan ini. Aku akan beritahu Pak Baron bahwa kamu hanya berpura-pura!”

 

Blondho tertawa lagi, kali ini lebih keras. “Silakan, Sari. Pergilah ke Pak Baron. Tapi ada satu hal yang kamu lupa.”

 

“Apa?”

 

Blondho mengambil sebuah remote dan menyalakan televisi besar di dinding kantornya. Di layar, sedang berlangsung siaran langsung penyerahan penghargaan Tokoh Pendidikan Nasional. Pak Baron berdiri di podium, memegang piala emas berbentuk otak yang dibelah dua.

 

“Dan pemenangnya adalah…” suara Pak Baron terdengar lantang dari televisi. “…Profesor Tengar dan tim pengembang kurikulum IMK atas jasanya menghapuskan beban berpikir di seluruh negeri!”

 

Blondho menunjuk ke layar televisi dengan wajah kemenangan. “Kamu lihat itu, Sari? Pak Baron tidak akan mendengarmu. Karena dia adalah pendiri asli sekolah itu sebelum dia masuk ke pemerintahan.”

 

Sari membeku. Nafasnya tercekat. “Apa? Jadi sekolah itu… proyek pemerintah?”

 

“Bukan sekadar proyek,” Blondho berbisik tepat di telinga Sari. “Itu adalah eksperimen sosial. Dan aku adalah subjek terbaik yang pernah mereka miliki. Kamu tahu kenapa mereka memberikan akreditasi A+?”

 

Sari tidak bisa menjawab. Air matanya mulai menetes.

 

“Karena hanya ada satu cara untuk mengendalikan manusia selamanya tanpa perlu senjata,” lanjut Blondho dengan senyum paling jahat yang pernah ada.

 

“Yaitu dengan apa?” tanya Sari dengan suara gemetar.

 

Blondho mengambil topi kelulusannya, memakainya kembali dengan miring, lalu kembali ke mode “bodoh”-nya yang biasa.

 

“Yaitu dengan meyakinkan mereka bahwa menjadi bodoh adalah sebuah prestasi yang patut dirayakan.”

 

“Lalu bagaimana dengan nasib kota ini kalau semuanya hancur?” teriak Sari terakhir kalinya.

 

Blondho berjalan menuju pintu, hendak menghadiri pesta kemenangannya di aula utama. Sebelum keluar, ia menoleh sedikit.

 

“Kenapa harus pusing soal kota yang hancur, kalau kita bisa bilang itu adalah ‘Desain Arsitektur Pasca-Kiamat’ yang sangat estetis?”

 

Sari jatuh terduduk di lantai, sementara Blondho melangkah pergi sambil bersiul lagu anak-anak yang nadanya salah semua. Di luar, kembang api meledak di langit, merayakan kehancuran logika dengan sorak-sorai ribuan orang yang sudah lupa cara bertanya.

 

“Eh, Blondho! Kamu mau ke mana?” tanya seorang menteri yang berpapasan dengannya.

 

“Mau makan siang, Pak! Tapi saya bingung, garpu itu gunanya untuk menyisir rambut atau menusuk nasi?”

 

Menteri itu tertawa terbahak-bahak dan menepuk bahu Blondho. “Kamu memang jenius! Pakai untuk menyisir rambut saja, biar nasinya tidak sakit!”

 

Blondho mengedipkan sebelah matanya ke arah kamera pengawas yang tersembunyi di pojok ruangan.

 

“Siap, Pak Menteri! Mari kita sisir nasi kita sampai rapi!”

 

Spirov Lengking, 62020190093409