Tampilkan postingan dengan label kisah pelajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah pelajar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Oktober 2026

Tragedi Intelektual Blegadak

 


"Bakar! Bakar semangatnya, bukan bannya! Kita ini kaum intelektual, bukan tukang sate!"

 

Blegadak berdiri di atas mobil bak terbuka dengan urat leher yang nyaris putus. Di kepalanya melingkar ikat kepala merah putih bertuliskan "AGYNET PERUBAHAN". Ia merasa gagah, merasa seperti pahlawan yang baru saja turun dari gunung untuk menyelamatkan peradaban. Di depannya, ratusan mahasiswa—atau setidaknya orang-orang yang memakai jaket almamater berbagai warna—bersorak riuh.

 

"Hidup Mas Blegadak! Hidup Kecerdasan!" teriak massa di bawahnya.

 

"Gue nggak denger suaranya! Mana suara kalian yang katanya pengen pinter?!" Blegadak menangkupkan tangan ke telinga, bergaya ala rockstar.

 

"PINTERRRRR!"

 

Blegadak tersenyum puas. Ia menoleh ke arah Rian yang berdiri di sampingnya sambil memegang spanduk besar.

 

"Rian, angkat lebih tinggi itu poster! Biar kamera TV bisa lihat dengan jelas kalau kita ini serius!" perintah Blegadak.

 

Rian mengangkat tinggi-tinggi poster bertuliskan: "STOP KEBODOAN NASIONAL! PINTAR ADALAH KOENCI!"

 

"Gimana, Mas? Udah mantap?" tanya Rian.

 

"Kurang geser ke kiri dikit, Yan. Nah, gitu. Biar kata 'Kebodoan' itu kena sinar matahari. Biar berkilau!" balas Blegadak bangga.

 

"Tapi Mas Blegadak, tadi ada anak jurusan Sastra bilang kalau 'kunci' itu pakai 'I', bukan 'CI'. Terus 'kebodohan' itu ada 'H'-nya," celetuk Tuti, mahasiswi yang bertugas membagikan nasi bungkus.

 

Blegadak mendengus, ia melipat tangan di dada dengan gaya sok tahu yang sangat kental.

 

"Tuti, Tuti. Itulah masalahnya kalau lo terlalu banyak baca buku tapi nggak pernah baca situasi. Sekarang itu zamannya branding. Kalau gue tulis benar, orang nggak akan nengok. Dengan nulis 'Koenci', kita itu lagi melakukan dekonstruksi bahasa. Lo paham nggak?"

 

"Dekon-apa, Mas?" Tuti mengerutkan kening.

 

"Dekonstruksi! Itu artinya... ya pokoknya supaya lebih estetik dan kelihatan beda dari rakyat jelata yang cuma bisa ngeja pakai KBBI! Kita ini agen perubahan, Tut! Bahasa aja kita ubah, apalagi nasib bangsa!" tegas Blegadak.

 

"Oalah, gitu ya Mas? Berarti poster yang tulisannya 'EDUKASI ADALAH HAK SEGALA BANGSAT' itu juga dekonstruksi?" tanya Tuti polos sambil menunjuk ke arah barisan belakang.

 

Blegadak menengok. Matanya sedikit memicing melihat tulisan "BANGSA" yang kekurangan huruf 'A' dan malah ketambahan 'T' di ujungnya.

 

"Nah, itu! Itu namanya metafora tingkat tinggi! Itu sarkasme, Tut! Maksudnya, kalau kita nggak dapet edukasi, kita semua bakal jadi... ah, sudahlah. Lo fokus bagiin nasi aja. Jangan banyak nanya yang sifatnya filosofis begini."

 

"Siap, Mas Blegadak. Tapi ini nasi bungkusnya tulisannya 'NASI KUCING'. Padahal isinya tongkol. Apa ini dekonstruksi menu juga?"

 

"Udah, bagiin aja! Keburu demo selesai!" bentak Blegadak.

 

Tak lama kemudian, seorang wartawan perempuan dengan mikrofon berlogo stasiun TV nasional merangsek maju menembus barisan demonstran. Ia tampak sangat antusias melihat kerumunan yang begitu berisik namun terlihat "berpendidikan" itu.

 

"Mas! Mas yang berbaju 'Logika'!" teriak wartawan itu sambil melambaikan tangan.

 

Blegadak merapikan kerah kausnya yang bertuliskan "LOGIQ" dengan huruf Q besar. Ia berbisik pada Rian.

 

"Yan, kamera TV, Yan! Siapin muka paling pinter lo!"

 

"Siap, Mas!" Rian langsung menegakkan punggung dan memasang wajah serius yang malah terlihat seperti orang sedang menahan buang air besar.

 

Wartawan itu sampai di depan mobil bak. Kameramen di belakangnya langsung membidik wajah Blegadak yang sudah berkeringat namun tetap berusaha terlihat karismatik.

 

"Selamat siang, Mas. Saya dari Berita Terkini. Bisa bicara sebentar mengenai aksi 'Pemberantasan Kebodohan Nasional' ini?" tanya si wartawan.

 

Blegadak berdeham. Suaranya diberat-beratkan, "Tentu saja. Silakan. Kami terbuka untuk pers, karena pers adalah pilar keempat... apa itu namanya... pilar keempat yang pokoknya penting lah buat meja."

 

"Demokrasi, Mas?" potong si wartawan.

 

"Nah, itu maksud saya! Kamu pintar juga ya, Mbak," puji Blegadak dengan senyum merendahkan.

 

"Terima kasih, Mas. Oke, Mas... maaf, dengan Mas siapa?"

 

"Saya Blegadak. Jenderal Lapangan Aliansi Mahasiswa Anti-Oon atau ALMAO."

 

"Baik, Mas Blegadak. Kami melihat poster-poster Anda sangat... unik. Banyak sekali permainan kata di sana. Apa pesan utama yang ingin ALMAO sampaikan kepada pemerintah hari ini?"

 

Blegadak menarik napas panjang, bersiap mengeluarkan orasi terbaiknya di depan kamera yang sedang siaran langsung.

 

"Pesan kami sederhana, Mbak. Pemerintah harus serius menangani wabah kebodohan yang sudah mendarah daging di negeri ini. Orang-orang sekarang makin gampang dipicu, makin nggak rasional. Kita butuh revolusi otak! Kita butuh masyarakat yang bisa berpikir kritis, yang nggak cuma manggut-manggut kalau dikasih janji manis!"

 

"Wah, visi yang sangat mulia. Tapi Mas Blegadak, ada satu hal yang menggelitik saya sejak tadi," ujar wartawan itu sambil menahan senyum.

 

"Apa itu, Mbak? Tentang ketampanan saya saat orasi?" canda Blegadak.

 

"Bukan, Mas. Ini soal definisi. Kita bicara soal memberantas kebodohan, kan? Jadi saya ingin tahu perspektif landasan pacu pemikiran Anda."

 

"Silakan, silakan. Tanya apa saja. Saya ini sudah baca banyak judul buku di toko buku," jawab Blegadak penuh percaya diri.

 

Si wartawan memperbaiki posisi mikrofonnya.

 

"Menurut Anda sendiri, Mas Blegadak, apa sebenarnya definisi dari 'bodoh' itu?"

 

Blegadak terdiam. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Otaknya mendadak terasa seperti mesin motor yang kehabisan oli di tengah jalan menanjak. Ia melirik Rian, tapi Rian malah sibuk membetulkan spanduknya yang terbalik. Ia melirik Tuti, tapi Tuti sedang asyik mengunyah rempeyek.

 

"Bodoh itu... anu... itu lho, Mbak..." Blegadak mulai berkeringat dingin.

 

"Iya, Mas? Definisi bodoh menurut versi Mas Blegadak?" desak wartawan itu.

 

Blegadak berdeham lagi, mencoba mengulur waktu. Ia menatap ke arah massa aksi yang juga ikut terdiam, menunggu jawaban brilian dari sang jenderal lapangan. Dalam hatinya, ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak sempat mencari definisi kata itu di Wikipedia tadi pagi.

 

"Bodoh itu... ya... yang nggak ikut demo ini!" seru Blegadak akhirnya dengan nada bicara yang meledak-ledak.

 

"Maksud Anda, Mas?" wartawan itu tampak bingung.

 

"Ya jelas! Kalau mereka pinter, mereka pasti tahu kalau kebodohan itu harus diberantas! Karena mereka nggak ikut demo, berarti mereka mendukung kebodohan! Dan orang yang mendukung kebodohan adalah orang yang... ya bodoh itu sendiri! Logis, kan?"

 

Wartawan itu tertegun sejenak, lalu bertanya lagi dengan nada yang lebih tajam.

 

"Jadi, menurut Mas, kepintaran itu diukur dari kehadiran di aksi demo ini, bukan dari kualitas pemikiran atau pendidikan?"

 

Blegadak merasa terpojok. Ia melihat lampu merah di kamera masih menyala. Ini siaran langsung! Ia tidak boleh terlihat bego.

 

"Ya bukan gitu juga! Mbak jangan coba-coba memlintir omongan saya ya! Intinya, bodoh itu adalah lawan kata dari pinter. Dan pinter itu adalah... ya kami-kami ini!"

 

"Tapi Mas, itu tadi ada spanduk tulisannya 'DJKARTA'. Bukannya sekarang pakainya 'J' saja ya? Kenapa Mas masih pakai ejaan lama dicampur ejaan salah?" tanya wartawan itu sambil menunjuk poster lain yang bertuliskan: "DJKARTA HAROS PINTER, DJANGAN MAU DI-BEGOIN!"

 

Blegadak menelan ludah. Ia menatap poster itu dengan nanar.

 

"Itu... itu... itu adalah penghormatan kepada sejarah! Mbak nggak tahu sejarah ya?"

 

"Sejarah ejaan yang salah, Mas?"

 

Blegadak mulai merasa kepalanya berdenyut. Ia butuh jalan keluar. Ia butuh sesuatu yang spektakuler untuk mengalihkan pembicaraan ini sebelum dia benar-benar terlihat seperti maskot dari gerakan yang dia lawan sendiri.

 

"Mbak, denger ya! Masalah ejaan itu masalah teknis! Yang penting itu substansinya! Kita ini lagi bicara soal nasib bangsa, bukan lagi lomba dikte di SD!"

 

"Tapi Mas Blegadak, bagaimana orang mau percaya substansi Anda kalau menulis kata 'Nasional' saja di jaket Anda tertulis 'NASIONALISMEH'?"

 

Blegadak menunduk melihat jaketnya. Benar saja, ada tambahan 'MEH' di belakangnya.

 

"Ini... ini maksudnya 'Nasionalisme' tapi pakai ekspresi 'Meh' buat para koruptor! Mbak ini bener-bener nggak punya jiwa seni dan aktivis ya!"

 

"Satu pertanyaan terakhir, Mas. Jika Anda menuntut pemberantasan kebodohan, apakah Anda siap jika pemerintah mulai memberlakukannya dengan melakukan tes IQ massal kepada seluruh peserta demo hari ini?" tanya wartawan itu dengan senyum kemenangan.

 

Blegadak terperanjat, ia menoleh ke arah massanya yang mulai bisik-bisik ketakutan.

 

"Tes IQ? Sekarang?"

 

"Iya, kebetulan di belakang saya ada tim dari Dinas Pendidikan yang ingin memberikan beasiswa instan bagi mahasiswa yang bisa menjawab soal matematika dasar dan logika. Mas Blegadak mau jadi yang pertama?"

 

Blegadak menatap tim berpakaian seragam yang membawa lembaran kertas di belakang sang wartawan. Keringatnya bercucuran deras. Ia merasa terjebak dalam lubang yang ia gali sendiri dengan sekop bernama "kepercayaan diri tanpa dasar".

 

"Eh... anu... itu... Rian! Rian! Orasi lagi, Yan! Gue mau ke kamar mandi dulu!" teriak Blegadak sambil melompat turun dari mobil bak.

 

"Mas! Mas Blegadak mau ke mana?!" teriak wartawan itu mengejar.

 

"Jangan kabur, Mas! Katanya mau berantas kebodohan!" seru tim Dinas Pendidikan.

 

Blegadak terus berlari, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seseorang berdiri di depan gerbang utama dengan pakaian rapi, menjinjing koper, dan menatapnya dengan tatapan yang sangat dikenal.

 

"Blegadak? Kamu ngapain di sini?" tanya orang itu.

 

Blegadak terpaku. "Loh... Bapak?"

 

*

 

 

Bapaknya Blegadak, Pak Broto, adalah seorang profesor bahasa yang sangat disegani di universitas tempat Blegadak—seharusnya—belajar. Pak Broto menatap anaknya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu matanya terpaku pada ikat kepala "AGYNET PERUBAHAN".

 

"Agy-apa? Blegadak, Bapak sekolahin kamu mahal-mahal buat jadi sarjana, bukan buat jadi tukang tipu ejaan begini!" ujar Pak Broto dengan nada rendah yang mematikan.

 

"Pak... ini... ini bagian dari pergerakan, Pak. Bapak nggak ngerti dunia aktivis," kilah Blegadak sambil mencoba menyembunyikan wajahnya dari kejaran kamera wartawan yang semakin mendekat.

 

Wartawan tadi akhirnya sampai di depan mereka, napasnya tersengal-sengal.

 

"Mas Blegadak! Jangan lari! Oh, selamat siang, Pak. Anda kenal dengan Jenderal Lapangan ini?" tanya wartawan itu pada Pak Broto.

 

Pak Broto membetulkan letak kacamatanya. Ia menatap kamera, lalu menatap Blegadak yang sudah pucat pasi.

 

"Kenal? Tentu saja saya kenal. Dia ini anak saya. Dan saya di sini atas undangan kementerian untuk memantau aksi ini," ujar Pak Broto tenang.

 

Blegadak merasa dunianya runtuh. "Undangan kementerian? Maksud Bapak?"

 

"Mas Blegadak, dan penonton di rumah," ujar Pak Broto beralih ke arah kamera. "Sebenarnya, aksi demo hari ini adalah bagian dari eksperimen sosial besar-besaran yang dilakukan oleh universitas bekerja sama dengan kementerian pendidikan."

 

Blegadak melongo. Massa aksi di belakangnya mulai berhenti bersorak. Rian yang masih memegang poster "PINTAR ADALAH KOENCI" juga ikut terdiam.

 

"Eksperimen... sosial?" tanya Blegadak gagap.

 

"Benar. Judul penelitiannya adalah: 'Dinamika Kerumunan dan Efek Dunning-Kruger pada Mahasiswa Semester Tua yang Terancam Drop Out'. Kami ingin melihat, seberapa banyak orang yang akan mengikuti sebuah gerakan tanpa memahami arti dari kata-kata yang mereka bawa sendiri," jelas Pak Broto dengan wajah datar.

 

Wartawan itu tampak terkejut. "Jadi maksud Bapak, demo ini tidak nyata?"

 

"Oh, demonya nyata. Massa di belakang itu nyata. Kebodohan mereka juga sangat nyata. Tapi yang mereka tidak tahu, semua poster yang salah eja itu sengaja kami distribusikan lewat Rian—yang sebenarnya adalah asisten penelitian saya—untuk mengetes apakah ada yang protes atau tidak. Ternyata? Tidak ada satu pun demonstran yang menyadari kalau mereka membawa spanduk yang menghina intelejensi mereka sendiri," Pak Broto menjelaskan panjang lebar.

 

Blegadak menoleh ke arah Rian dengan mata melotot. "Rian? Lo penghianat, Yan?!"

 

Rian nyengir tanpa dosa. Ia melipat spanduknya. "Sori, Mas Blegadak. Honor jadi asisten penelitian lebih gede daripada nasi bungkus isi tongkol."

 

"Dan kamu, Blegadak," Pak Broto menepuk bahu anaknya. "Kamu adalah subjek utama penelitian ini. Kami butuh satu orang yang paling merasa pintar tapi sebenarnya paling malas baca buku untuk jadi pemimpinnya. Dan jujur saja, performa kamu tadi sangat memuaskan. Definisi 'bodoh adalah yang nggak ikut demo' akan jadi kutipan emas di tesis asisten saya nanti."

 

Para demonstran lain mulai bubar dengan wajah malu. Beberapa mencoba menutupi wajah mereka dengan poster-poster salah eja tersebut. Blegadak berdiri mematung di tengah jalan, merasa seperti badut yang baru saja diberitahu kalau sirkusnya sudah bangkrut.

 

"Jadi... semua ini cuma settingan?" tanya Blegadak dengan suara bergetar.

 

"Tidak semuanya, Mas Blegadak," celetuk si wartawan yang kini tersenyum lebar. "Saya memang wartawan asli. Tapi saya juga sudah tahu soal eksperimen ini. Terima kasih ya, Mas. Rating siaran langsung ini pecah gara-gara definisi bodoh versi Anda."

 

Blegadak menatap kamera TV yang masih menyorotnya. Ia ingin menangis, tapi rasa malunya jauh lebih besar. Di tengah keputusasaannya, ia mencoba mencari sisa-sisa martabat.

 

"Tapi Pak... meskipun ini eksperimen, aspirasi saya soal 'revolusi otak' itu beneran! Saya beneran pengen bangsa ini pinter!" bela Blegadak.

 

Pak Broto menghela napas panjang. Ia mengambil spanduk dari tangan Rian yang bertuliskan "PINTAR ADALAH KOENCI".

 

"Kalau kamu mau bangsa ini pintar, mulailah dengan belajar ngeja kata 'kunci' dengan benar, Blegadak. Dan oh ya, soal revolusi otak..." Pak Broto membuka kopernya dan mengeluarkan selembar kertas.

 

"Apa ini, Pak? Beasiswa?" tanya Blegadak penuh harap.

 

"Bukan. Ini surat peringatan terakhir dari dekan. Kamu sudah absen selama enam puluh hari berturut-turut karena sibuk 'mempersiapkan revolusi'. Kalau kamu nggak ikut ujian susulan Bahasa Indonesia besok pagi, kamu resmi diberhentikan dari kampus," ujar Pak Broto tegas.

 

Blegadak lemas. Ia terduduk di aspal yang panas. Ratusan pasang mata yang tadi memujanya sebagai "Jenderal Lapangan" kini menatapnya dengan tawa tertahan.

 

"Mas Blegadak!" teriak Tuti dari kejauhan sambil berlari mendekat.

 

"Apa lagi, Tut? Mau nawarin nasi kucing dekonstruksi lagi?" tanya Blegadak lesu.

 

Tuti sampai di depannya dengan wajah panik. "Bukan, Mas! Itu... itu di belakang mobil bak ada spanduk satu lagi yang belum kepasang! Tulisannya paling gede!"

 

"Tulisannya apa?" tanya Pak Broto penasaran.

 

Tuti membentangkan sebuah kain putih besar dengan tulisan yang menggunakan cat semprot warna merah menyala:

 

"KAMI MAHASISWA TIDAK BISA DI-BOBOHIN LAGI!"

 

Pak Broto menutup wajahnya dengan tangan. Wartawan itu tertawa terbahak-bahak sampai mikrofonnya nyaris jatuh. Blegadak hanya bisa menatap langit Jakarta yang mendung, merenungi nasibnya yang kini menjadi ikon nasional untuk kata yang ia perjuangkan untuk diberantas.

 

"Mas Blegadak," panggil si wartawan sambil mengarahkan kembali mikrofonnya untuk satu kutipan penutup yang epik. "Setelah tahu kalau Anda adalah bahan percobaan untuk penelitian tentang orang bodoh, apa perasaan Anda sekarang?"

 

Blegadak menatap kamera dengan pandangan kosong, lalu menarik napas panjang dan memberikan jawaban terakhir yang akan dikenang sepanjang sejarah pertelevisian.

 

"Perasaan saya? Ya... anu... pinter itu emang susah ya, Mbak?"

 

Spirov Lengking, 62020140175555