"Bakar! Bakar semangatnya, bukan
bannya! Kita ini kaum intelektual, bukan tukang sate!"
Blegadak berdiri di atas mobil bak
terbuka dengan urat leher yang nyaris putus. Di kepalanya melingkar ikat kepala
merah putih bertuliskan "AGYNET PERUBAHAN". Ia merasa gagah, merasa
seperti pahlawan yang baru saja turun dari gunung untuk menyelamatkan
peradaban. Di depannya, ratusan mahasiswa—atau setidaknya orang-orang yang
memakai jaket almamater berbagai warna—bersorak riuh.
"Hidup Mas Blegadak! Hidup
Kecerdasan!" teriak massa di bawahnya.
"Gue nggak denger suaranya! Mana
suara kalian yang katanya pengen pinter?!" Blegadak menangkupkan tangan ke
telinga, bergaya ala rockstar.
"PINTERRRRR!"
Blegadak tersenyum puas. Ia menoleh ke
arah Rian yang berdiri di sampingnya sambil memegang spanduk besar.
"Rian, angkat lebih tinggi itu
poster! Biar kamera TV bisa lihat dengan jelas kalau kita ini serius!"
perintah Blegadak.
Rian mengangkat tinggi-tinggi poster
bertuliskan: "STOP KEBODOAN NASIONAL! PINTAR ADALAH KOENCI!"
"Gimana, Mas? Udah mantap?"
tanya Rian.
"Kurang geser ke kiri dikit, Yan.
Nah, gitu. Biar kata 'Kebodoan' itu kena sinar matahari. Biar berkilau!"
balas Blegadak bangga.
"Tapi Mas Blegadak, tadi ada anak
jurusan Sastra bilang kalau 'kunci' itu pakai 'I', bukan 'CI'. Terus
'kebodohan' itu ada 'H'-nya," celetuk Tuti, mahasiswi yang bertugas
membagikan nasi bungkus.
Blegadak mendengus, ia melipat tangan
di dada dengan gaya sok tahu yang sangat kental.
"Tuti, Tuti. Itulah masalahnya
kalau lo terlalu banyak baca buku tapi nggak pernah baca situasi. Sekarang itu
zamannya branding. Kalau gue tulis benar, orang nggak akan nengok. Dengan nulis
'Koenci', kita itu lagi melakukan dekonstruksi bahasa. Lo paham nggak?"
"Dekon-apa, Mas?" Tuti
mengerutkan kening.
"Dekonstruksi! Itu artinya... ya
pokoknya supaya lebih estetik dan kelihatan beda dari rakyat jelata yang cuma
bisa ngeja pakai KBBI! Kita ini agen perubahan, Tut! Bahasa aja kita ubah,
apalagi nasib bangsa!" tegas Blegadak.
"Oalah, gitu ya Mas? Berarti
poster yang tulisannya 'EDUKASI ADALAH HAK SEGALA BANGSAT' itu juga
dekonstruksi?" tanya Tuti polos sambil menunjuk ke arah barisan belakang.
Blegadak menengok. Matanya sedikit
memicing melihat tulisan "BANGSA" yang kekurangan huruf 'A' dan malah
ketambahan 'T' di ujungnya.
"Nah, itu! Itu namanya metafora
tingkat tinggi! Itu sarkasme, Tut! Maksudnya, kalau kita nggak dapet edukasi,
kita semua bakal jadi... ah, sudahlah. Lo fokus bagiin nasi aja. Jangan banyak
nanya yang sifatnya filosofis begini."
"Siap, Mas Blegadak. Tapi ini
nasi bungkusnya tulisannya 'NASI KUCING'. Padahal isinya tongkol. Apa ini
dekonstruksi menu juga?"
"Udah, bagiin aja! Keburu demo
selesai!" bentak Blegadak.
Tak lama kemudian, seorang wartawan
perempuan dengan mikrofon berlogo stasiun TV nasional merangsek maju menembus
barisan demonstran. Ia tampak sangat antusias melihat kerumunan yang begitu
berisik namun terlihat "berpendidikan" itu.
"Mas! Mas yang berbaju
'Logika'!" teriak wartawan itu sambil melambaikan tangan.
Blegadak merapikan kerah kausnya yang
bertuliskan "LOGIQ" dengan huruf Q besar. Ia berbisik pada Rian.
"Yan, kamera TV, Yan! Siapin muka
paling pinter lo!"
"Siap, Mas!" Rian langsung
menegakkan punggung dan memasang wajah serius yang malah terlihat seperti orang
sedang menahan buang air besar.
Wartawan itu sampai di depan mobil
bak. Kameramen di belakangnya langsung membidik wajah Blegadak yang sudah
berkeringat namun tetap berusaha terlihat karismatik.
"Selamat siang, Mas. Saya dari
Berita Terkini. Bisa bicara sebentar mengenai aksi 'Pemberantasan Kebodohan
Nasional' ini?" tanya si wartawan.
Blegadak berdeham. Suaranya
diberat-beratkan, "Tentu saja. Silakan. Kami terbuka untuk pers, karena
pers adalah pilar keempat... apa itu namanya... pilar keempat yang pokoknya
penting lah buat meja."
"Demokrasi, Mas?" potong si
wartawan.
"Nah, itu maksud saya! Kamu
pintar juga ya, Mbak," puji Blegadak dengan senyum merendahkan.
"Terima kasih, Mas. Oke, Mas...
maaf, dengan Mas siapa?"
"Saya Blegadak. Jenderal Lapangan
Aliansi Mahasiswa Anti-Oon atau ALMAO."
"Baik, Mas Blegadak. Kami melihat
poster-poster Anda sangat... unik. Banyak sekali permainan kata di sana. Apa
pesan utama yang ingin ALMAO sampaikan kepada pemerintah hari ini?"
Blegadak menarik napas panjang,
bersiap mengeluarkan orasi terbaiknya di depan kamera yang sedang siaran
langsung.
"Pesan kami sederhana, Mbak.
Pemerintah harus serius menangani wabah kebodohan yang sudah mendarah daging di
negeri ini. Orang-orang sekarang makin gampang dipicu, makin nggak rasional.
Kita butuh revolusi otak! Kita butuh masyarakat yang bisa berpikir kritis, yang
nggak cuma manggut-manggut kalau dikasih janji manis!"
"Wah, visi yang sangat mulia.
Tapi Mas Blegadak, ada satu hal yang menggelitik saya sejak tadi," ujar
wartawan itu sambil menahan senyum.
"Apa itu, Mbak? Tentang
ketampanan saya saat orasi?" canda Blegadak.
"Bukan, Mas. Ini soal definisi.
Kita bicara soal memberantas kebodohan, kan? Jadi saya ingin tahu perspektif
landasan pacu pemikiran Anda."
"Silakan, silakan. Tanya apa
saja. Saya ini sudah baca banyak judul buku di toko buku," jawab Blegadak
penuh percaya diri.
Si wartawan memperbaiki posisi
mikrofonnya.
"Menurut Anda sendiri, Mas
Blegadak, apa sebenarnya definisi dari 'bodoh' itu?"
Blegadak terdiam. Ia mengerjapkan mata
beberapa kali. Otaknya mendadak terasa seperti mesin motor yang kehabisan oli
di tengah jalan menanjak. Ia melirik Rian, tapi Rian malah sibuk membetulkan
spanduknya yang terbalik. Ia melirik Tuti, tapi Tuti sedang asyik mengunyah
rempeyek.
"Bodoh itu... anu... itu lho,
Mbak..." Blegadak mulai berkeringat dingin.
"Iya, Mas? Definisi bodoh menurut
versi Mas Blegadak?" desak wartawan itu.
Blegadak berdeham lagi, mencoba
mengulur waktu. Ia menatap ke arah massa aksi yang juga ikut terdiam, menunggu
jawaban brilian dari sang jenderal lapangan. Dalam hatinya, ia mengutuk dirinya
sendiri karena tidak sempat mencari definisi kata itu di Wikipedia tadi pagi.
"Bodoh itu... ya... yang nggak
ikut demo ini!" seru Blegadak akhirnya dengan nada bicara yang
meledak-ledak.
"Maksud Anda, Mas?" wartawan
itu tampak bingung.
"Ya jelas! Kalau mereka pinter,
mereka pasti tahu kalau kebodohan itu harus diberantas! Karena mereka nggak
ikut demo, berarti mereka mendukung kebodohan! Dan orang yang mendukung
kebodohan adalah orang yang... ya bodoh itu sendiri! Logis, kan?"
Wartawan itu tertegun sejenak, lalu
bertanya lagi dengan nada yang lebih tajam.
"Jadi, menurut Mas, kepintaran
itu diukur dari kehadiran di aksi demo ini, bukan dari kualitas pemikiran atau
pendidikan?"
Blegadak merasa terpojok. Ia melihat
lampu merah di kamera masih menyala. Ini siaran langsung! Ia tidak boleh
terlihat bego.
"Ya bukan gitu juga! Mbak jangan
coba-coba memlintir omongan saya ya! Intinya, bodoh itu adalah lawan kata dari
pinter. Dan pinter itu adalah... ya kami-kami ini!"
"Tapi Mas, itu tadi ada spanduk
tulisannya 'DJKARTA'. Bukannya sekarang pakainya 'J' saja ya? Kenapa Mas masih
pakai ejaan lama dicampur ejaan salah?" tanya wartawan itu sambil menunjuk
poster lain yang bertuliskan: "DJKARTA HAROS PINTER, DJANGAN MAU DI-BEGOIN!"
Blegadak menelan ludah. Ia menatap
poster itu dengan nanar.
"Itu... itu... itu adalah
penghormatan kepada sejarah! Mbak nggak tahu sejarah ya?"
"Sejarah ejaan yang salah,
Mas?"
Blegadak mulai merasa kepalanya
berdenyut. Ia butuh jalan keluar. Ia butuh sesuatu yang spektakuler untuk
mengalihkan pembicaraan ini sebelum dia benar-benar terlihat seperti maskot
dari gerakan yang dia lawan sendiri.
"Mbak, denger ya! Masalah ejaan
itu masalah teknis! Yang penting itu substansinya! Kita ini lagi bicara soal
nasib bangsa, bukan lagi lomba dikte di SD!"
"Tapi Mas Blegadak, bagaimana
orang mau percaya substansi Anda kalau menulis kata 'Nasional' saja di jaket
Anda tertulis 'NASIONALISMEH'?"
Blegadak menunduk melihat jaketnya.
Benar saja, ada tambahan 'MEH' di belakangnya.
"Ini... ini maksudnya
'Nasionalisme' tapi pakai ekspresi 'Meh' buat para koruptor! Mbak ini
bener-bener nggak punya jiwa seni dan aktivis ya!"
"Satu pertanyaan terakhir, Mas.
Jika Anda menuntut pemberantasan kebodohan, apakah Anda siap jika pemerintah
mulai memberlakukannya dengan melakukan tes IQ massal kepada seluruh peserta
demo hari ini?" tanya wartawan itu dengan senyum kemenangan.
Blegadak terperanjat, ia menoleh ke
arah massanya yang mulai bisik-bisik ketakutan.
"Tes IQ? Sekarang?"
"Iya, kebetulan di belakang saya
ada tim dari Dinas Pendidikan yang ingin memberikan beasiswa instan bagi
mahasiswa yang bisa menjawab soal matematika dasar dan logika. Mas Blegadak mau
jadi yang pertama?"
Blegadak menatap tim berpakaian
seragam yang membawa lembaran kertas di belakang sang wartawan. Keringatnya
bercucuran deras. Ia merasa terjebak dalam lubang yang ia gali sendiri dengan
sekop bernama "kepercayaan diri tanpa dasar".
"Eh... anu... itu... Rian! Rian!
Orasi lagi, Yan! Gue mau ke kamar mandi dulu!" teriak Blegadak sambil
melompat turun dari mobil bak.
"Mas! Mas Blegadak mau ke
mana?!" teriak wartawan itu mengejar.
"Jangan kabur, Mas! Katanya mau
berantas kebodohan!" seru tim Dinas Pendidikan.
Blegadak terus berlari, namun
langkahnya terhenti ketika ia melihat seseorang berdiri di depan gerbang utama
dengan pakaian rapi, menjinjing koper, dan menatapnya dengan tatapan yang
sangat dikenal.
"Blegadak? Kamu ngapain di
sini?" tanya orang itu.
Blegadak terpaku. "Loh...
Bapak?"
*
Bapaknya Blegadak, Pak Broto, adalah
seorang profesor bahasa yang sangat disegani di universitas tempat
Blegadak—seharusnya—belajar. Pak Broto menatap anaknya dari ujung kepala sampai
ujung kaki, lalu matanya terpaku pada ikat kepala "AGYNET PERUBAHAN".
"Agy-apa? Blegadak, Bapak
sekolahin kamu mahal-mahal buat jadi sarjana, bukan buat jadi tukang tipu ejaan
begini!" ujar Pak Broto dengan nada rendah yang mematikan.
"Pak... ini... ini bagian dari
pergerakan, Pak. Bapak nggak ngerti dunia aktivis," kilah Blegadak sambil
mencoba menyembunyikan wajahnya dari kejaran kamera wartawan yang semakin
mendekat.
Wartawan tadi akhirnya sampai di depan
mereka, napasnya tersengal-sengal.
"Mas Blegadak! Jangan lari! Oh,
selamat siang, Pak. Anda kenal dengan Jenderal Lapangan ini?" tanya
wartawan itu pada Pak Broto.
Pak Broto membetulkan letak
kacamatanya. Ia menatap kamera, lalu menatap Blegadak yang sudah pucat pasi.
"Kenal? Tentu saja saya kenal.
Dia ini anak saya. Dan saya di sini atas undangan kementerian untuk memantau
aksi ini," ujar Pak Broto tenang.
Blegadak merasa dunianya runtuh.
"Undangan kementerian? Maksud Bapak?"
"Mas Blegadak, dan penonton di
rumah," ujar Pak Broto beralih ke arah kamera. "Sebenarnya, aksi demo
hari ini adalah bagian dari eksperimen sosial besar-besaran yang dilakukan oleh
universitas bekerja sama dengan kementerian pendidikan."
Blegadak melongo. Massa aksi di
belakangnya mulai berhenti bersorak. Rian yang masih memegang poster
"PINTAR ADALAH KOENCI" juga ikut terdiam.
"Eksperimen... sosial?"
tanya Blegadak gagap.
"Benar. Judul penelitiannya
adalah: 'Dinamika Kerumunan dan Efek Dunning-Kruger pada Mahasiswa Semester Tua
yang Terancam Drop Out'. Kami ingin melihat, seberapa banyak orang yang akan
mengikuti sebuah gerakan tanpa memahami arti dari kata-kata yang mereka bawa
sendiri," jelas Pak Broto dengan wajah datar.
Wartawan itu tampak terkejut.
"Jadi maksud Bapak, demo ini tidak nyata?"
"Oh, demonya nyata. Massa di
belakang itu nyata. Kebodohan mereka juga sangat nyata. Tapi yang mereka tidak
tahu, semua poster yang salah eja itu sengaja kami distribusikan lewat
Rian—yang sebenarnya adalah asisten penelitian saya—untuk mengetes apakah ada
yang protes atau tidak. Ternyata? Tidak ada satu pun demonstran yang menyadari
kalau mereka membawa spanduk yang menghina intelejensi mereka sendiri,"
Pak Broto menjelaskan panjang lebar.
Blegadak menoleh ke arah Rian dengan
mata melotot. "Rian? Lo penghianat, Yan?!"
Rian nyengir tanpa dosa. Ia melipat
spanduknya. "Sori, Mas Blegadak. Honor jadi asisten penelitian lebih gede
daripada nasi bungkus isi tongkol."
"Dan kamu, Blegadak," Pak
Broto menepuk bahu anaknya. "Kamu adalah subjek utama penelitian ini. Kami
butuh satu orang yang paling merasa pintar tapi sebenarnya paling malas baca
buku untuk jadi pemimpinnya. Dan jujur saja, performa kamu tadi sangat
memuaskan. Definisi 'bodoh adalah yang nggak ikut demo' akan jadi kutipan emas
di tesis asisten saya nanti."
Para demonstran lain mulai bubar
dengan wajah malu. Beberapa mencoba menutupi wajah mereka dengan poster-poster
salah eja tersebut. Blegadak berdiri mematung di tengah jalan, merasa seperti
badut yang baru saja diberitahu kalau sirkusnya sudah bangkrut.
"Jadi... semua ini cuma
settingan?" tanya Blegadak dengan suara bergetar.
"Tidak semuanya, Mas
Blegadak," celetuk si wartawan yang kini tersenyum lebar. "Saya
memang wartawan asli. Tapi saya juga sudah tahu soal eksperimen ini. Terima
kasih ya, Mas. Rating siaran langsung ini pecah gara-gara definisi bodoh versi
Anda."
Blegadak menatap kamera TV yang masih
menyorotnya. Ia ingin menangis, tapi rasa malunya jauh lebih besar. Di tengah
keputusasaannya, ia mencoba mencari sisa-sisa martabat.
"Tapi Pak... meskipun ini
eksperimen, aspirasi saya soal 'revolusi otak' itu beneran! Saya beneran pengen
bangsa ini pinter!" bela Blegadak.
Pak Broto menghela napas panjang. Ia
mengambil spanduk dari tangan Rian yang bertuliskan "PINTAR ADALAH
KOENCI".
"Kalau kamu mau bangsa ini
pintar, mulailah dengan belajar ngeja kata 'kunci' dengan benar, Blegadak. Dan
oh ya, soal revolusi otak..." Pak Broto membuka kopernya dan mengeluarkan
selembar kertas.
"Apa ini, Pak? Beasiswa?"
tanya Blegadak penuh harap.
"Bukan. Ini surat peringatan
terakhir dari dekan. Kamu sudah absen selama enam puluh hari berturut-turut
karena sibuk 'mempersiapkan revolusi'. Kalau kamu nggak ikut ujian susulan
Bahasa Indonesia besok pagi, kamu resmi diberhentikan dari kampus," ujar
Pak Broto tegas.
Blegadak lemas. Ia terduduk di aspal
yang panas. Ratusan pasang mata yang tadi memujanya sebagai "Jenderal
Lapangan" kini menatapnya dengan tawa tertahan.
"Mas Blegadak!" teriak Tuti
dari kejauhan sambil berlari mendekat.
"Apa lagi, Tut? Mau nawarin nasi
kucing dekonstruksi lagi?" tanya Blegadak lesu.
Tuti sampai di depannya dengan wajah
panik. "Bukan, Mas! Itu... itu di belakang mobil bak ada spanduk satu lagi
yang belum kepasang! Tulisannya paling gede!"
"Tulisannya apa?" tanya Pak
Broto penasaran.
Tuti membentangkan sebuah kain putih
besar dengan tulisan yang menggunakan cat semprot warna merah menyala:
"KAMI MAHASISWA TIDAK BISA
DI-BOBOHIN LAGI!"
Pak Broto menutup wajahnya dengan
tangan. Wartawan itu tertawa terbahak-bahak sampai mikrofonnya nyaris jatuh.
Blegadak hanya bisa menatap langit Jakarta yang mendung, merenungi nasibnya
yang kini menjadi ikon nasional untuk kata yang ia perjuangkan untuk
diberantas.
"Mas Blegadak," panggil si
wartawan sambil mengarahkan kembali mikrofonnya untuk satu kutipan penutup yang
epik. "Setelah tahu kalau Anda adalah bahan percobaan untuk penelitian
tentang orang bodoh, apa perasaan Anda sekarang?"
Blegadak menatap kamera dengan
pandangan kosong, lalu menarik napas panjang dan memberikan jawaban terakhir
yang akan dikenang sepanjang sejarah pertelevisian.
"Perasaan saya? Ya... anu...
pinter itu emang susah ya, Mbak?"
Spirov
Lengking, 62020140175555
Tidak ada komentar:
Posting Komentar