Lisa menghela napas panjang, membuat lemak di perutnya yang terbungkus blazer kuning menyala ikut berguncang. Ia terjepit di antara pintu taksi dan tumpukan berkas kantor. Hari ini Jakarta sedang sangat tidak ramah. Panasnya sangar, dan aspal Sudirman seolah ingin melelehkan sepatu hak tingginya yang juga berwarna kuning lemon.
"Pak, bisa lebih cepat
sedikit? Saya ada janji kencan," desak Lisa sambil memoles lipstik kuning
pucat—tren terbaru yang sebenarnya membuatnya tampak seperti baru saja menelan
kunyit.
"Aduh, Neng Lisa. Ini
Jakarta, bukan sirkuit balap. Lagian itu baju Neng... silau banget di spion
saya," keluh sopir taksi sembari menyipitkan mata.
"Ini namanya fashion,
Pak! Kuning itu warna kebahagiaan. Bapak nggak lihat saya tampak seperti
mentega yang siap dioleskan ke roti tawar?"
"Lebih mirip pisang
ambon raksasa kalau kata saya mah, Neng."
Lisa mendengus, lalu
ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Beni.
“Sayang, aku sudah di depan
taman. Aku pakai kemeja kuning mustard dan celana kuning gading. Kamu di mana?
Aku merasa seperti satu blok keju yang kesepian.”
Lisa tersenyum lebar. Ia
segera membalas: “Sabar, Mentega Sayangku. Kunyitmu sedang terjebak macet.
Tunggu sepuluh menit lagi!”
Turun dari taksi di pinggir
jalan yang agak sepi, Lisa melihat sesosok pria raksasa yang tampak seperti
tumpukan kain kuning sedang bersandar di sebuah pohon. Itu Beni. Cowok 25 tahun
dengan berat badan yang mungkin bisa meruntuhkan jembatan timbang, tapi
memiliki hati selembut puding mangga.
"Beni!" teriak
Lisa sambil berlari kecil, yang lebih mirip gerakan memantul.
"Lisa! Ya ampun, kamu
cantik sekali hari ini. Kuningmu sangat... sangat menyengat mata," puji
Beni sambil menyeka keringat di dahinya yang lebar.
"Kamu juga, Ben. Kamu
terlihat sangat gagah. Seperti bus sekolah yang baru dicat ulang."
Beni memegang tangan Lisa
yang empuk. "Siap untuk petualangan kita sore ini?"
"Siap. Tapi mana
kendaraannya?"
Beni menunjuk ke sebuah
sepeda jengki tua yang dicat kuning gading mengkilap. Keranjangnya penuh dengan
bunga matahari plastik.
"Kita berdua naik
itu?" tanya Lisa ragu, melirik ban sepeda yang tampak gemetar melihat
beban di depannya.
"Tentu saja. Ini adalah
simbol cinta kita yang tahan banting, Lis. Ayo naik, aku yang genjot!"
Lisa naik ke boncengan
belakang. Begitu bokongnya menyentuh besi boncengan, terdengar suara krieeek
yang sangat dramatis.
"Ben, kamu yakin
sepedanya nggak akan meledak?"
"Tenang, Lis. Baja ini
sudah aku modifikasi dengan doa dan harapan. Pegangan yang erat, kita akan
menaklukkan gang-gang sunyi Jakarta!"
"Ben, kenapa kita lewat
jalan sepi terus?"
"Karena kalau kita
lewat jalan raya, polisi bakal ngira ada dua balon raksasa lepas dari karnaval
dan menghambat lalu lintas, Lis!"
"Kamu jujur banget sih,
Ben!"
"Itulah kenapa kamu
cinta aku, kan?"
"Ben, awas di depan ada
polisi tidur!"
"Pegang erat-erat,
Sayang, kita akan melompat!"
"Beni, jangan gila!
Kita ini massa padat, bukan atlet parkour!"
"Percayalah padaku,
Lisa!"
"Tapi Ben, itu bukan
polisi tidur, itu kabel PLN yang melintang!"
*
Suasana di ruang tamu rumah
Lisa sangat mencekam. Ibu Lisa, Bu Lastri, duduk dengan punggung tegak, menatap
Beni seolah pria itu adalah hama yang baru saja memakan habis kebun bunganya.
Di sisi lain, Pak Broto, ayah Beni, juga menatap Lisa dengan pandangan tidak
setuju.
"Tidak bisa! Ibu tidak
setuju!" teriak Bu Lastri sambil menggebrak meja.
"Kenapa, Bu? Karena
Beni gemuk? Lisa juga gemuk! Kami serasi!" bela Lisa.
"Bukan cuma soal gemuk,
Lisa! Masalahnya kalian berdua kalau jalan bareng itu merusak estetika
lingkungan! Kenapa harus kuning semua? Ibu pusing melihatnya!"
Pak Broto menimpali dengan
suara beratnya. "Betul kata Bu Lastri. Beni, Papa sudah bilang, minimal
pakailah warna hitam supaya kamu terlihat sedikit lebih... tipis. Ini malah
kuning gading. Kamu sadar tidak, kamu itu seperti telur dadar raksasa?"
"Pa! Kuning itu
identitas Beni. Lisa mencintai Beni karena Beni adalah Beni yang kuning!"
tegas Beni.
"Dan Lisa adalah Lisa
yang kuning!" tambah Lisa sambil merangkul lengan Beni yang besarnya
seukuran batang pohon kelapa.
Bu Lastri memijat
pelipisnya. "Kalian berdua ini keras kepala sekali. Kalian tahu apa kata
tetangga? Mereka bilang kalian itu seperti dua buah markisa yang melarikan diri
dari pasar."
"Biarkan saja mereka
bicara apa, Bu. Yang penting kami bahagia. Kami berdua bekerja, kami punya gaji
sendiri. Kami sanggup beli baju kuning sebanyak yang kami mau!" ujar Lisa
berapi-api.
"Ini bukan soal baju,
Lisa! Ini soal kesehatan! Bagaimana kalau nanti kalian menikah? Siapa yang mau
memapah siapa kalau encok?" tanya Pak Broto sinis.
"Kami akan saling
menggulingkan satu sama lain kalau tidak bisa jalan, Pa!" jawab Beni asal.
"Kamu bercanda di saat
seperti ini, Beni?"
"Beni serius, Pa. Kami
sudah memutuskan. Kami akan melakukan diet bersama jika itu yang Papa dan Ibu
mau, asalkan kami boleh tetap memakai warna kuning!"
Bu Lastri tertawa mengejek.
"Diet? Ibu sudah dengar itu sejak kamu umur sepuluh tahun, Lisa. Hasilnya?
Kamu malah tambah lebar setiap kali patah hati."
"Kali ini beda, Bu.
Karena ada Beni yang menyemangati Lisa. Benar kan, Ben?"
"Betul! Kami akan
membuktikan dalam satu bulan, kami bisa turun berat badan dan tetap setia pada
warna kuning gading ini!"
"Kalau dalam sebulan
kalian tidak turun sepuluh kilo masing-masing, kalian harus putus dan bakar
semua baju kuning itu!" tantang Pak Broto.
Lisa dan Beni saling
berpandangan. Ketegangan memuncak di ruangan yang mendadak terasa sempit itu.
"Bagaimana, Ben? Kamu
berani?" bisik Lisa.
"Demi kamu dan demi
warna kuning kita, aku berani!"
"Oke, kami terima
tantangannya!" seru Lisa mantap.
"Sepuluh kilo dalam
satu bulan? Kalian yakin tidak ingin memesan martabak dulu sebelum mulai?"
sindir Bu Lastri.
"Jangan goda kami
dengan martabak, Bu! Mulai besok, menu kami hanya pisang dan nanas!"
"Kenapa pisang dan
nanas?"
"Karena warnanya
kuning, Pa!"
*
Dua minggu telah berlalu.
Jakarta masih panas, dan Lisa masih tetap kuning. Namun, ada yang berbeda.
Setiap sore, di jalanan sepi di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, terlihat
pemandangan aneh. Sebuah sepeda jengki kuning gading melaju perlahan dengan dua
orang besar di atasnya.
"Ayo, Ben! Kayuh terus!
Lemak ini harus luntur demi restu!" teriak Lisa yang duduk di depan,
sementara Beni berkeringat hebat di belakang, memegang kemudi sambil
menggenjot.
"Lis... aku... aku
sudah tidak kuat... paru-paruku rasanya mau keluar dan berubah jadi
kuning..." rintih Beni.
"Jangan menyerah,
Sayang! Ingat martabak manis yang kita korbankan! Ingat nasi padang yang kita
hindari!"
"Tapi kenapa aku yang
harus menggenjot sementara kamu duduk manis di depan?"
"Karena aku yang
memberi komando, Ben! Ini namanya pembagian tugas yang adil!"
Mereka melewati sekelompok
anak kecil yang sedang bermain bola. Anak-anak itu berhenti bermain dan
melongo.
"Woi, ada Minion
raksasa naik sepeda!" teriak salah satu anak.
Lisa menoleh dan berteriak,
"Ini bukan Minion, Dek! Ini cinta sejati!"
Beni terengah-engah,
wajahnya sudah merah padam. "Lis, berhenti dulu. Aku mau pingsan."
Mereka berhenti di bawah
pohon rindang. Beni turun dari sepeda dengan kaki gemetar. Ia menyandarkan
tubuhnya ke pagar besi tua.
"Lis, jujur ya. Aku
capek pura-pura diet. Beratku cuma turun dua ons," aku Beni sambil terisak
kecil.
Lisa terkejut. "Dua
ons? Aku malah naik satu kilo karena stres mikirin diet!"
"Lalu bagaimana dengan
tantangan orang tua kita?"
Lisa diam sejenak, lalu
matanya berbinar. "Ben, aku punya ide. Ide yang sangat gila."
"Apa? Kita lari ke luar
negeri?"
"Bukan. Kita gunakan
kelebihan kita. Kamu ingat kan, bos kita masing-masing sebenarnya sangat benci
melihat kita pakai baju kuning?"
"Iya, Bosku bilang aku
bikin silau ruang rapat."
"Nah, bagaimana kalau
kita buat kesepakatan dengan orang tua kita menggunakan cara yang sedikit...
kotor?"
"Maksudmu menyuap
mereka?"
"Bukan menyuap, Ben.
Memberi mereka penawaran yang tidak bisa mereka tolak."
"Lisa, apa yang kamu
rencanakan sebenarnya?"
"Besok, kita undang
mereka ke kantor pusat perusahaan asuransi tempatku bekerja. Ada sesuatu yang
ingin kutunjukkan."
"Kenapa harus ke
kantor, Lis? Kita kan mau minta restu, bukan mau klaim asuransi jiwa."
"Percaya saja padaku,
Mentega Sayangku."
*
Hari penentuan tiba. Bu
Lastri dan Pak Broto hadir di lobi gedung perkantoran mewah itu dengan wajah
sangar. Mereka sudah siap untuk menagih janji dan memisahkan pasangan kuning
ini selamanya.
"Mana mereka? Sudah
lewat sepuluh menit," gerutu Pak Broto.
Tiba-tiba, pintu lift
terbuka. Lisa dan Beni keluar, tapi mereka tidak memakai baju kuning biasa.
Mereka memakai jumpsuit kuning ketat yang dipenuhi sensor kabel di sekujur
tubuh mereka. Mereka terlihat seperti astronot dari planet jeruk.
"Apa-apaan ini? Kalian
mau ke bulan?" tanya Bu Lastri kaget.
Tiba-tiba, seorang pria
paruh baya dengan setelan jas mahal menghampiri mereka. "Ah, Pak Broto, Bu
Lastri! Selamat datang!"
"Siapa Anda?"
tanya Pak Broto bingung.
"Saya Direktur Utama
perusahaan ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada putra dan putri
Anda. Berkat ukuran tubuh mereka yang... luar biasa, dan kesetiaan mereka pada
warna kuning, proyek riset Safety Airbag terbaru kami berhasil!"
Bu Lastri melongo.
"Maksud Anda?"
"Lisa dan Beni adalah
model prototipe kami untuk sistem keamanan kendaraan masa depan. Kami
membutuhkan subjek yang memiliki 'bantalan alami' dan warna yang sangat kontras
untuk sensor kamera. Mereka berdua telah menandatangani kontrak sebagai Brand
Ambassador internasional dengan nilai miliaran rupiah!"
Pak Broto dan Bu Lastri
saling berpandangan. Kata 'miliaran rupiah' seolah bergema di ruangan itu
seperti musik surgawi.
"Jadi... mereka tidak
perlu diet?" tanya Pak Broto pelan.
"Diet? Oh jangan!
Justru kami butuh mereka tetap seperti ini. Kami bahkan menyewakan rumah khusus
di perumahan elit yang seluruh catnya berwarna kuning gading untuk kenyamanan
mereka," tambah sang Direktur.
Beni maju ke depan,
menggenggam tangan Lisa. "Jadi, Papa dan Ibu, apakah restu itu masih jauh?
Karena kalau belum direstui, kami mungkin harus membatalkan kontrak ini dan
hidup miskin sebagai orang kurus yang memakai baju hitam."
Bu Lastri langsung memegang
tangan Lisa dengan erat. "Aduh, Lisa sayang... Ibu sebenarnya dari dulu
suka warna kuning. Kuning itu kan warna emas, warna kemakmuran!"
Pak Broto berdeham,
merapikan dasinya. "Betul, Beni. Papa hanya mengujimu kemarin. Papa selalu
bangga punya anak yang... substansial seperti kamu."
Lisa tersenyum penuh
kemenangan ke arah Beni. Beni mengedipkan mata.
"Jadi, boleh kami
pacaran naik sepeda jengki kuning lagi di jalanan sepi?" tanya Lisa manja.
"Tentu saja! Jangankan
sepeda jengki, mau naik buldoser kuning pun Papa izinkan!" seru Pak Broto.
Namun, di tengah kegembiraan
itu, sang Direktur membisikkan sesuatu ke telinga Lisa yang membuat wajah gadis
itu berubah pucat.
"Ada apa, Lis?"
tanya Beni cemas.
Lisa menelan ludah, menatap
Beni dengan tatapan kosong.
"Ben... Direktur
bilang, kontraknya punya satu syarat tambahan yang belum kita baca di lampiran
terakhir," bisik Lisa gemetar.
"Apa syaratnya? Kita
harus pakai baju kuning seumur hidup? Aku sih mau saja."
Lisa menggeleng perlahan,
matanya berkaca-kaca antara ingin tertawa dan ingin menangis.
"Kita tidak boleh punya
anak yang kurus, Ben. Kalau anak kita lahir kurus, kita harus bayar denda
sepuluh kali lipat dari nilai kontrak."
Beni terdiam, lalu menatap
perutnya sendiri yang besar, lalu menatap perut Lisa. Ia kemudian menoleh ke
arah orang tuanya yang sedang asyik menghitung bonus di brosur.
"Lis, bukannya itu hal
yang paling mudah untuk kita lakukan?" tanya Beni sambil nyengir lebar.
"Masalahnya bukan itu,
Ben. Masalahnya adalah..."
"Adalah apa, Sayang?"
"Direktur itu barusan
bilang kalau sebenarnya dia adalah mantan pacar Ibu kamu yang dulu diputusin
karena terlalu kurus!"
Beni terbelalak, menatap Bu
Lastri yang kini sedang tertawa akrab dengan sang Direktur.
"Tunggu, jadi ini semua
bukan soal riset, tapi soal balas dendam masa lalu?" seru Beni kaget.
"Beni, kamu tahu apa
yang paling parah dari semua ini?" tanya Lisa dengan nada getir yang lucu.
"Apa lagi, Lis?"
"Ibu kamu barusan
berbisik, dia mau kita kasih nama anak pertama kita 'Margarin'!"
Spirov Lengking, 620250132034

Tidak ada komentar:
Posting Komentar