Jumat, 19 Juni 2026

GODAAN TITISAN MANTAN


Sunarimo berdiri mematung di depan etalase kaca showroom mobil mewah di kawasan Jakarta Selatan. Kaus oblongnya yang sudah menipis di bagian ketiak kontras dengan deretan Porsche yang berkilau tertimpa lampu kristal. Perutnya berbunyi nyaring, sebuah protes dari sisa gorengan tadi pagi yang mulai menguap.

 

"Mas, kalau cuma mau numpang AC, jangan di depan pintu. Menghalangi pemandangan calon pembeli," tegur seorang satpam bertubuh tegap dengan nada meremehkan.

 

Sunarimo menoleh, mencoba memperbaiki tatanan rambutnya yang berminyak. "Sabar, Pak. Saya lagi milih warna. Biru atau merah, ya, yang cocok buat anter emak ke pasar?"

 

"Mimpi jangan ketinggian, Mas. Nanti kalau jatuh, bunyi gedebuk-nya kedengaran sampai Monas."

 

Tiba-tiba, sebuah sedan mewah berwarna putih mutiara berhenti tepat di depan mereka. Pintu terbuka, dan aroma parfum mahal yang sanggup melunasi cicilan motor Sunarimo langsung menyeruak. Seorang wanita turun dengan anggun. Kacamata hitam besar, tas kulit buaya, dan perhiasan yang beratnya mungkin sanggup membuat leher orang biasa patah.

 

Betty Nagihaningrum melangkah perlahan. Saat matanya yang terlindungi lensa gelap itu menangkap sosok Sunarimo, ia mendadak berhenti. Napasnya tertahan. Tas mewahnya nyaris merosot dari genggaman.

 

"Bambang?" bisik Betty lirih, suaranya bergetar.

 

Sunarimo melongo. "Nama saya Sunarimo, Tante. Bukan Bambang. Mas Bambang mungkin yang jualan bakso di ujung jalan?"

 

Betty mendekat, mengabaikan satpam yang mendadak membungkuk hormat. Ia melepas kacamatanya, menatap wajah Sunarimo dengan intensitas yang membuat pemuda delapan belas tahun itu merasa ingin sembunyi di balik tong sampah.

 

"Mata itu... hidung yang sedikit miring ke kiri itu... dan aroma keringat matahari ini," gumam Betty, tangannya gemetar menyentuh pipi Sunarimo yang kasar. "Kamu... kamu benar-benar dia."

 

"Maaf, Tante, saya bukan siapa-siapa. Saya cuma pengangguran yang lagi nyari lowongan jadi tukang kebun atau apa saja," sahut Sunarimo gugup.

 

"Tukang kebun?" Betty tertawa renyah, meski matanya berkaca-kaca. "Kamu tidak akan jadi tukang kebun. Kamu akan jadi alas tidur hatiku yang sudah gersang selama tiga puluh tahun."

 

"Waduh, Tante, itu kiasannya berat banget. Saya cuma lulusan SD, nggak paham sastra."

 

"Jangan panggil Tante. Panggil aku Betty."

 

"Tapi Tante—eh, Tante Betty—umur Tante kan kayaknya lebih tua dari Ibu saya, Bu Burkiyem."

 

Betty mendengus, sejenak aura keanggunannya retak. "Jangan sebut-sebut soal umur. Di depan kecantikan abadi dan saldo rekening tujuh turunan, umur hanyalah angka statistik yang tidak relevan. Berapa umurmu?"

 

"Delapan belas, Tante."

 

"Pas sekali. Tiga kali lipat umurmu adalah umurku sekarang. Tapi lihat kulitku, masih kencang berkat operasi plastik di Korea setiap musim semi, bukan?"

 

"Iya sih, kencang banget kayak ban mobil baru dipompa."

 

Betty tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang putih sempurna. "Ikut aku sekarang. Kita makan siang di tempat yang tidak menyediakan kerupuk kaleng."

 

"Tapi saya belum mandi dari kemarin, Tante."

 

"Justru itu aromanya, Bambang... eh, Sunarimo. Aroma masa lalu yang sangat maskulin."

 

"Tante yakin nggak salah orang? Saya ini cuma luntang-lantung."

 

Betty menarik lengan Sunarimo dengan kuat, membawanya menuju mobil. "Aku sudah menjanda tujuh kali, Sunarimo. Aku sudah bosan dengan pria kaya yang baunya parfum impor. Aku butuh kamu. Kamu adalah titisan pacar pertamaku yang tewas tertabrak gerobak cendol tepat di hari kami mau kawin lari."

 

"Maksud Tante, saya mirip almarhum?"

 

"Bukan mirip lagi. Kamu itu dia yang lahir kembali!"

 

*

 

 

Di dalam restoran bintang lima yang letaknya di lantai lima puluh enam sebuah gedung pencakar langit, Sunarimo duduk dengan kaku. Di depannya tersedia berbagai macam garpu yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah teman Facebook-nya.

 

"Kenapa diam saja? Makanlah wagyu itu. Satu suap harganya setara dengan biaya kontrakkanmu setahun," ujar Betty sambil menyesap wine merah.

 

Sunarimo menusuk daging itu dengan ragu. "Tante, eh, Betty... kenapa Betty baik banget sama saya? Kita kan baru ketemu sepuluh menit yang lalu."

 

"Sudah kubilang, kamu itu Mas Bambang-ku. Wajah kalian identik seratus persen. Bahkan tahi lalat di dekat telingamu itu posisinya sama persis."

 

"Tahi lalat ini? Ini sebenarnya cuma bekas luka kena sundut rokok waktu kecil, Tante."

 

"Tak peduli! Takdir tidak pernah salah memberikan tanda."

 

"Tapi saya kan miskin. Nggak punya apa-apa."

 

Betty mencondongkan tubuhnya, menatap Sunarimo dengan pandangan lapar. "Harta bisa dicari, Sunarimo. Aku punya perusahaan tambang, kebun sawit, dan beberapa mall. Yang tidak aku punya adalah getaran di hati yang bisa membuatku merasa seperti gadis remaja lagi."

 

"Betty nggak mau nikah lagi? Kan sudah tujuh kali, tanggung kalau nggak digenapkan jadi sepuluh."

 

"Awalnya aku sudah bersumpah tidak akan menikah lagi. Laki-laki itu semuanya sama, hanya mengincar hartaku. Tapi melihatmu... aku merasa ingin membelikanmu dunia beserta isinya."

 

"Termasuk motor ninja warna hijau?"

 

"Jangankan motor ninja, pabrik ninjanya pun aku belikan kalau kamu mau."

 

Sunarimo menelan ludah. "Wah, kalau gitu saya mau pesan nasi tambah boleh nggak? Daging ini enak, tapi nggak bikin kenyang kalau nggak pakai nasi."

 

Betty tertawa terbahak-bahak, suara tawanya mengguncang lampu kristal di atas mereka. "Kamu lucu sekali. Persis seperti Mas Bambang yang dulu selalu minta nasi tambahan kalau kita makan bakso di pinggir jalan."

 

"Ngomong-ngomong, Mas Bambang itu meninggalnya sudah lama?"

 

"Tiga puluh enam tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku mencari penggantinya. Suami pertama sampai ketujuh hanya pelarian. Tidak ada yang punya tatapan kosong bin bego seperti kamu, Sunarimo."

 

"Makasih ya, Tante, pujiannya bikin saya merasa agak kurang pintar."

 

"Itu pujian tulus! Aku suka pria yang jujur dan tidak banyak pikiran."

 

"Tapi Tante, Ibu saya... Bu Burkiyem, pasti kaget kalau saya pulang bawa sugar mommy sesenior Tante."

 

Wajah Betty tiba-tiba berubah tegang saat mendengar nama itu. "Tunggu. Siapa nama ibumu tadi?"

 

"Burkiyem. Kenapa, Tante? Kenal?"

 

Betty meletakkan gelasnya dengan gerakan patah-patah. "Burkiyem yang asalnya dari desa Sukamundur? Yang jempol kakinya pernah kejepit pintu balai desa?"

 

"Lho, kok Tante tahu detail banget? Emang itu Ibu saya. Dia sering cerita soal kejadian jempol itu sebagai tragedi terbesar dalam hidupnya."

 

Betty terdiam seribu bahasa. Matanya menatap langit-langit restoran seolah sedang menghitung dosa masa lalunya.

 

"Sunarimo," panggil Betty dengan suara rendah yang sedikit serak.

 

"Ya, Tante?"

 

"Siapa nama bapakmu?"

 

"Bapak saya namanya Paijo. Tapi dia sudah lama pergi. Kata Ibu, Bapak kabur pas saya masih di perut karena dikejar-kejar penagih utang atau mantan pacar yang galak, saya kurang jelas juga."

 

Wajah Betty mendadak pucat pasi. Bedak mahalnya seolah mulai retak-retak terkena keringat dingin.

 

"Paijo? Paijo yang punya tato gambar naga tapi jadinya mirip cacing pita di lengan kirinya?"

 

Sunarimo melotot. "Kok Tante tahu lagi? Iya! Ibu sering ngatain tato Bapak itu kegagalan estetika terbesar abad ini."

 

Betty menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. Ia memijat pelipisnya perlahan. "Dunia ini sempit sekali, atau mungkin Tuhan memang hobi bercanda dengan skenario murahan."

 

"Ada apa sih, Tante? Tante kenal sama Bapak saya?"

 

"Kenal? Sunarimo, dengarkan aku baik-baik. Mas Bambang yang kukatakan tadi... nama aslinya adalah Paijo Bambang Subarjo."

 

Sunarimo menjatuhkan garpunya. Ting! Bunyi logam beradu dengan piring porselen itu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.

 

"Jadi... Bapak saya itu pacar pertama Tante?"

 

"Lebih dari sekadar pacar, Rimo. Dia itu laki-laki yang lari dari pernikahan kami karena aku terlalu posesif. Aku bilang dia meninggal tertabrak gerobak cendol kepada teman-temanku supaya aku tidak malu karena ditinggal kabur!"

 

"Walah... jadi Bapak kabur dari Tante terus nikah sama Ibu saya?"

 

Betty menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang liar. "Sepertinya begitu. Dan sekarang, aku hampir saja memacari anak dari pria yang paling kubenci sekaligus kucintai di dunia ini."

 

Sunarimo tampak berpikir keras, dahinya berkerut-kerut hingga terlihat seperti parutan singkong. "Berarti... kalau Tante jadi sama saya, saya jadi bapak tiri buat diri saya sendiri atau gimana?"

 

"Bukan begitu konsepnya, Bodoh!" sentak Betty, namun kemudian ia tersenyum tipis. "Tapi tunggu dulu. Kalau kamu anaknya Paijo, berarti kamu punya hak waris dari perasaan dendamku."

 

"Maksudnya?"

 

"Aku akan tetap menjadikanmu pacarku. Bukan karena kamu mirip dia, tapi karena ini adalah cara terbaik untuk membalas dendam pada ibumu, Burkiyem!"

 

"Lho, Ibu saya salah apa, Tante?"

 

"Dia mencuri Paijo-ku! Sekarang, aku akan mencuri anak kesayangannya untuk kujadikan pemuas nafsuku akan kemewahan dan masa muda!"

 

Sunarimo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Asal dikasih makan tiga kali sehari dan uang jajan rutin, saya sih oke-oke saja, Tante. Ibu juga pasti senang kalau saya nggak jadi beban keluarga lagi."

 

Betty bangkit berdiri, matanya berkilat penuh kemenangan. "Ayo kita belanja. Kita buang baju gembelmu itu. Kita beli jas paling mahal di Jakarta."

 

"Terus kita ke mana setelah itu, Tante?"

 

Betty menyeringai misterius sambil menarik kerah kaus Sunarimo. "Kita ke rumahmu. Aku ingin melihat wajah Burkiyem saat melihat anaknya pulang membawa calon istri yang lebih kaya, lebih cantik, dan lebih tua dari dia!"

 

*

 

 

Mobil putih mutiara itu berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan dinding triplek yang mulai lapuk. Sunarimo turun dengan setelan jas seharga satu unit rumah di desa tersebut. Di belakangnya, Betty melangkah dengan penuh percaya diri, seolah sedang berjalan di atas red carpet.

 

"Mak! Emak! Rimo pulang!" teriak Sunarimo.

 

Seorang wanita paruh baya dengan daster batik yang sudah pudar warnanya keluar sambil membawa ulekan sambal. Burkiyem mengucek matanya berkali-kali, memastikan bahwa pemuda klimis di depannya adalah anaknya yang biasanya bau matahari.

 

"Rimo? Kamu habis ngerampok bank mana, Le?" tanya Burkiyem dengan suara melengking.

 

"Enggak, Mak. Ini... kenalin, calon Rimo."

 

Betty melangkah maju, melepaskan kacamata hitamnya dengan gaya dramatis. "Halo, Burkiyem. Masih ingat aku? Si pemilik jempol yang kamu tertawakan tiga puluh tahun lalu?"

 

Burkiyem tertegun. Ulekannya hampir saja jatuh mengenai jempol kakinya sendiri (lagi). "Betty? Betty Nagihaningrum? Juragan empang yang dulu mau bunuh diri gara-gara ditinggal Mas Paijo?"

 

"Jangan sebut-sebut empang! Sekarang aku juragan mall!" balas Betty sengit.

 

"Mau apa kamu ke sini? Mau pamer harta?"

 

"Lebih dari itu. Aku ke sini mau memberitahumu bahwa anakmu ini sekarang milikku. Dia adalah ganti rugi atas Mas Paijo yang kamu rebut dulu!"

 

Burkiyem bukannya marah, malah meletakkan ulekannya dan tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar.

 

"Kenapa kamu tertawa? Kamu takut ya?" tanya Betty bingung.

 

"Takut? Aduh, Bet, Bet... kamu itu emang dari dulu nggak berubah. Selalu mau barang bekas atau barang rongsokan," ujar Burkiyem sambil menyeka air matanya.

 

"Apa maksudmu? Sunarimo ini masih muda, segar, dan mirip sekali dengan Mas Paijo!"

 

Burkiyem mendekati Betty, lalu membisikkan sesuatu yang membuat wajah Betty yang sudah di-botox itu mendadak kaku seperti semen kering.

 

"Apa? Kamu bohong kan!" teriak Betty histeris.

 

"Buat apa aku bohong? Tanya saja sama dukun beranak yang nolongin aku dulu," tantang Burkiyem tenang.

 

Sunarimo yang bingung hanya bisa menoleh ke kiri dan ke kanan. "Ada apa sih, Mak? Kok Tante Betty mukanya jadi kayak habis nelan laler?"

 

Betty menatap Sunarimo dengan tatapan ngeri, lalu mundur beberapa langkah menuju mobilnya.

 

"Kenapa, Tante? Nggak jadi beli motor ninjanya?" tanya Sunarimo polos.

 

Betty tidak menjawab. Ia langsung masuk ke mobil, membanting pintu, dan menyuruh sopirnya tancap gas meninggalkan debu yang mengepul di depan wajah Sunarimo.

 

"Lho? Kok kabur? Mak, Emak bilang apa tadi sama Tante Betty?"

 

Burkiyem kembali mengambil ulekannya dan mulai mengulek sambal lagi dengan santai. "Cuma bilang fakta kecil yang dia lupa tanyakan."

 

"Fakta apa?"

 

Burkiyem menatap anaknya dengan tatapan kasihan. "Mak bilang kalau kamu itu sebenarnya bukan anak kandung Bapakmu, Paijo."

 

Sunarimo melongo. "Terus saya anak siapa, Mak?"

 

"Kamu itu anak hasil Mak nemu di depan masjid pas ada pengajian akbar delapan belas tahun lalu. Mak cuma kasihan, jadi Mak aku-akuin sebagai anaknya Paijo biar Paijo mau tanggung jawab kasih uang belanja."

 

Sunarimo terduduk lemas di tanah. "Jadi... saya nggak punya hak waris mirip Mas Bambang?"

 

"Nggak punya. Dan satu lagi yang bikin dia kabur..."

 

"Apa lagi, Mak?"

 

Burkiyem tersenyum penuh kemenangan. "Mak bilang ke dia, kalau dia mau nikah sama kamu, dia harus bayar utang-utang Mas Paijo yang dulu dibawa kabur, ditambah bunga bank selama tiga puluh tahun yang totalnya bisa buat beli setengah dari mall yang dia punya."

 

Sunarimo menghela napas panjang, menatap jas mahalnya yang kini terkena debu jalanan. "Yah... gagal deh jadi orang kaya."

 

"Sudah, nggak usah sedih. Ganti baju sana, bantuin Mak ulek sambal buat jualan besok!"

 

Sunarimo bangkit, hendak masuk ke rumah, namun ia berhenti sejenak saat melihat sebuah mobil mewah lain—kali ini berwarna hitam legam—berhenti di depan rumahnya. Seorang wanita yang tampak jauh lebih tua dari Betty, mungkin umurnya sudah mencapai delapan puluh tahun, turun dengan bantuan tongkat emas.

 

Wanita tua itu menatap Sunarimo, lalu matanya berbinar-binar. "Bambang? Kamu hidup lagi, Sayang?"

 

Sunarimo menoleh ke arah ibunya. "Mak, kayaknya ada titisan masa lalu jilid dua nih."

 

Burkiyem menghentikan ulekannya, matanya menatap tajam ke arah wanita tua itu. "Waduh, Rimo, itu kan Neneknya Betty! Dia lebih kaya lagi!"

 

Sunarimo merapikan jasnya yang berdebu, lalu memasang senyum paling menawan yang ia punya. "Selamat sore, Oma. Mau beli motor ninja juga buat saya?"

 

Wanita tua itu gemetar, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci berlapis berlian. "Jangankan ninja, cucuku saja akan kujadikan pembantumu kalau kamu mau ikut Oma ke Swiss sekarang juga!"

 

Sunarimo menatap ibunya, lalu menatap wanita tua itu. "Mak, sambalnya ulek sendiri dulu ya?"

 

Burkiyem mengangguk mantap sambil memberikan jempolnya. "Sikat, Rimo! Jangan lupa minta saham perusahaan kosmetiknya sekalian!"

 

Sunarimo melangkah menuju mobil hitam itu dengan gagah, sementara di dalam mobil, wanita tua itu sudah menyiapkan oksigen karena terlalu bersemangat.

 

"Jadi, Oma, kita ke Swiss naik pesawat pribadi atau naik ojek online?" tanya Sunarimo sambil menutup pintu mobil.


 

Spirov Lengking, 620260311802





Tidak ada komentar:

Posting Komentar