Sabtu, 27 Juni 2026

KARYO NDLEMING VERSUS JANDA PALSU

 

Uap panas mengepul dari setrika uap yang dipegang Karyo Ndleming. Cowok delapan belas tahun ini mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan yang gemetar. Di depannya, seonggok daster sutra merah marun menanti untuk dijinakkan.

 

"Yo! Itu daster mahal! Jangan sampai bolong atau gaji kamu saya potong buat beli cilok setahun!" teriak Wulaningrum dari balik meja kasir.

 

Karyo melonjak kaget. "Aduh, Mbak Wulaningrum! Kaget saya. Ini daster licin banget kayak belut kena oli, susah lurusnya!"

 

Wulaningrum berjalan mendekat. Wangi parfum vanilla miliknya mengalahkan bau detergen murah di ruangan itu. Ia berkacak pinggang, menatap Karyo dengan mata tajam yang membuat nyali remaja lulusan SMA itu ciut. "Sini, saya ajarin. Kamu itu ya, Ndleming terus kerjaannya. Mulut komat-kamit tapi setrika nggak jalan-jalan."

 

"Saya lagi zikir, Mbak. Biar setrikanya barokah," gumam Karyo.

 

"Barokah apanya? Itu kancingnya hampir meleleh!" Wulaningrum merebut setrika itu. Tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Karyo.

 

Tepat saat itu, pintu ruko Laundry Kinclong didobrak kasar. Pak RT, Pak Pandi Klebus, dan gerombolan ibu-ibu komplek merangsek masuk dengan wajah seperti mau mengganyang maling ayam.

 

"Nah! Ketangkap basah kalian!" pekik Bu Ceblok sambil menunjuk-nunjuk dengan jari yang penuh cincin akik.

 

Karyo melongo. Wulaningrum mematung, tangannya masih memegang tangan Karyo di atas setrika. "Lho, ada apa ini, Pak RT? Kok bawa pasukan mau demo?"

 

Pak RT berdeham, merapikan sarungnya. "Wulaningrum, kami sudah dapat laporan. Hampir setiap malam Karyo ini lembur sampai jam sebelas. Pintu ruko tertutup. Kalian cuma berduaan. Ini namanya fitnah kalau didiamkan!"

 

Pandi Klebus, pemilik Laundry Barokah yang merupakan saingan berat Wulaningrum, menimpali dengan nada sok bijak. "Benar, Wulaningrum. Sebagai sesama pengusaha laundry, saya prihatin. Kamu itu janda muda, Karyo ini brondong. Nggak elok dipandang mata. Kalian harus diresmikan!"

 

"Diresmikan gimana, Pak Pandi? Jadi monumen?" tanya Karyo polos.

 

"Dinikahkan, bodoh!" bentak Bu Ceblok. "Daripada zina mata dan zina jemuran, mending kalian ijab kabul sekarang juga. Kebetulan Pak Penghulu lagi ada di rumah Pak RT habis sunatan."

 

Wulaningrum melotot. "Eh, nggak bisa gitu dong! Karyo ini cuma karyawan saya. Dia masih bocah!"

 

"Bocah gimana? Udah punya KTP, udah kumisan tipis gitu," sahut Pak RT. "Pilih mana: Nikah siri sekarang, atau ruko ini saya segel karena melanggar norma kesusilaan?"

 

Karyo Ndleming memandang Wulaningrum. Wulaningrum memandang Karyo. Di pojok ruangan, Pandi Klebus tersenyum licik, membayangkan bisnis Wulaningrum akan hancur setelah skandal ini.

 

"Mbak... gimana nih?" bisik Karyo.

 

Wulaningrum menghela napas panjang, wajahnya merah padam. "Ya sudah, daripada saya nggak bisa jualan dan kamu jadi pengangguran, kita jabanin aja!"

 

"Serius, Mbak?" Karyo kaget.

 

"Tapi ada syaratnya, Yo!"

 

*

 

 

 

Resmi sudah. Karyo Ndleming, remaja yang cita-citanya cuma ingin punya motor Ninja, kini menjadi suami sah dari Wulaningrum, janda kembang paling diincar se-kecamatan. Mereka duduk di ruang tengah ruko yang disulap jadi kamar pengantin darurat, dikelilingi tumpukan cucian pelanggan.

 

"Yo, jangan dekat-dekat," ancam Wulaningrum sambil memegang gantungan baju dari kawat. "Kita nikah cuma buat status biar warga nggak berisik. Kamu tetap karyawan, saya tetap bos."

 

Karyo duduk di lantai, bersandar pada karung berisi sprei hotel. "Iya, Mbak. Eh, Sayang? Eh, apa ya panggilannya?"

 

"Panggil Mbak saja kalau di laundry. Kalau di depan warga, panggil... Sayang, tapi jangan pakai perasaan!"

 

Karyo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mbak, kok saya ngerasa kita dijebak ya? Tadi Pak Pandi Klebus mukanya girang banget pas kita sah."

 

"Jelas dijebak! Dia mau reputasi laundry saya hancur. Pelanggan pasti mikir saya nggak bener karena nikah sama karyawan sendiri," keluh Wulaningrum sambil memijat pelipisnya.

 

Tiba-tiba, pintu ruko diketuk keras. Karyo membukanya. Seorang pria tambun dengan kacamata hitam berdiri di sana membawa koper besar.

 

"Permintaan khusus. Saya mau laundry ini dicuci pakai air tujuh sumur dan dikeringkan pakai kipas angin tangan saja. Jangan pakai mesin," kata pria itu dengan suara berat.

 

Karyo melongo. "Hah? Bapak sehat? Ini laundry kiloan, Pak, bukan tempat rukyah baju."

 

Wulaningrum muncul dari belakang. "Oh, Pak Bambang. Pelanggan paling aneh se-dunia. Layani saja, Yo. Dia bayar sepuluh kali lipat."

 

Karyo menerima koper itu. Isinya ternyata kostum badut dan jubah pesulap yang baunya seperti sudah tidak dicuci sejak zaman Majapahit. "Mbak, ini baunya... kayak bangkai tikus mati kena racun."

 

"Makanya kamu saya nikahin, Yo. Biar ada yang mau ngerjain tugas-tugas mustahil begini," bisik Wulaningrum sambil tersenyum manis, tapi mematikan.

 

Karyo Ndleming lantas mulai merendam baju badut itu di ember. Sambil mengucek, dia mulai ndleming. "Nasib, nasib. Pagi sekolah, siang lulus, sore kerja, malam jadi suami janda. Mana disuruh nyuci baju badut pakai air tujuh sumur pula. Gusti, ini hidup apa sinetron hidayah?"

 

"Ngomong apa kamu, Yo?" teriak Wulaningrum dari kamar.

 

"Nggak, Mbak! Ini lagi diskusi sama sabun colek!"

 

"Besok pagi kita harus ke pasar. Pandi Klebus pasti nyebar gosip kalau saya hamil duluan. Kita harus tunjukin kalau kita pasangan bahagia!"

 

"Caranya, Mbak?"

 

*

 

 

 

Pasar pagi itu heboh. Karyo Ndleming dipaksa Wulaningrum memakai kaos kembaran bertuliskan 'Property of Mbak Wulaningrum' sementara Wulaningrum memakai kaos 'Karyo's Wife'. Mereka berjalan bergandengan tangan, meski Karyo merasa tangannya kaku seperti kanebo kering.

 

"Lihat itu, pengantin baru. Bau detergennya sampai sini," sindir Bu Ceblok saat mereka lewat di lapak sayur.

 

"Iri bilang, Bu! Daripada suaminya bau minyak tanah terus!" balas Wulaningrum pedas.

 

Tiba-tiba, Pandi Klebus muncul dari arah berlawanan. Dia tertawa terbahak-bahak. "Wah, serasi sekali. Yang satu janda, yang satu brondong belum tumbuh jakun. Eh, Wulaningrum, hati-hati lho. Biasanya kalau nikah buru-buru begini, bisnisnya juga bakal buru-buru bangkrut."

 

"Maksud Bapak apa?" tantang Wulaningrum.

 

"Lho, belum tahu ya? Mulai besok, semua pelanggan besar kamu, termasuk Hotel Melati dan Resto Padang Sejahtera, pindah ke laundry saya. Saya kasih harga setengah dari harga kamu!" Pandi Klebus tertawa penuh kemenangan.

 

Wulaningrum lemas. "Nggak mungkin. Mereka sudah kontrak sama saya!"

 

"Kontrak bisa dibatalkan kalau ada 'isu moral' di penyedia jasanya. Dan saya yang kasih tahu mereka soal pernikahan kalian yang... mendadak itu," bisik Pandi Klebus.

 

Wulaningrum hampir menangis. Dia sudah membangun bisnis ini dari nol sejak suaminya—yang dia klaim sudah meninggal—pergi. Karyo Ndleming melihat istrinya yang galak itu gemetaran. Sesuatu di dalam diri Karyo bergejolak.

 

"Pak Pandi," panggil Karyo pelan.

 

"Apa, Bocah?"

 

"Timbangan di laundry Pak Pandi itu sudah dikalibrasi belum? Kok saya dengar-dengar, satu kilo di tempat Bapak itu aslinya cuma delapan ratus gram?" tanya Karyo dengan nada polos namun tajam.

 

Wajah Pandi Klebus berubah pucat. "Heh! Jangan sembarangan bicara kamu!"

 

"Saya nggak sembarangan, Pak. Kemarin pas saya beli gorengan di depan toko Bapak, saya lihat pegawainya lagi ganjal timbangan pakai magnet di bawah meja kasir. Saya ada videonya lho di HP ini," Karyo merogoh saku celananya.

 

Wulaningrum menoleh, kaget. "Yo, serius kamu?"

 

"Saya kan ndleming, Mbak. Sambil komat-kamit, mata saya ke mana-mana. Saya ini pengamat lingkungan yang baik," ujar Karyo sambil nyengir.

 

Pandi Klebus gemetar. "Kamu... kamu jangan macam-macam! Hapus videonya!"

 

"Bisa diatur, Pak Pandi. Tapi kontrak Hotel Melati dan Resto Padang jangan diganggu. Dan satu lagi, Bapak harus minta maaf ke Mbak Wulaningrum di depan toa masjid karena sudah bikin gosip sampah," Karyo memberikan syarat dengan santai.

 

Pandi Klebus mendesis. "Sialan! Awas kamu ya!"

 

Setelah Pandi Klebus pergi dengan langkah seribu, Wulaningrum memeluk Karyo kencang-kencang. "Karyo! Kamu hebat! Saya nggak nyangka kamu secerdik itu!"

 

"Hehe, itu mah biasa, Mbak. Tapi anu... Mbak..."

 

"Apa?"

 

"Videonya sebenarnya nggak ada. Tadi HP saya mati total karena baterainya drop."

 

*

 

 

 

Kehidupan pernikahan mereka mulai membaik. Meski tetap sering bertengkar soal cara melipat celana dalam, ada rasa saling percaya yang tumbuh. Sampai suatu siang, seorang pria perlente dengan setelan jas rapi masuk ke laundry.

 

"Cari siapa, Pak? Mau laundry jas? Kalau jas sepuluh ribu, ekspres lima belas ribu," tawar Karyo.

 

Pria itu melepas kacamata hitamnya. "Saya cari Wulaningrum. Atau harus saya panggil... Arini?"

 

Wulaningrum yang baru keluar dari dapur menjatuhkan nampan berisi teh. Wajahnya pucat pasi, lebih putih dari baju yang habis direndam pemutih. "Mas... Mas Satria?"

 

Karyo bingung. "Siapa ini, Mbak? Saudara? Apa mantan suami yang katanya sudah almarhum itu?"

 

Pria bernama Satria itu tertawa sinis. "Almarhum? Wah, parah sekali kamu, Rin. Kamu kabur dari rumah, bawa lari uang deposito, terus bikin identitas palsu jadi janda di kota ini?"

 

Karyo Ndleming ternganga. Dia memandang Wulaningrum yang mulai terisak. "Mbak... maksudnya apa ini?"

 

"Yo, maafin saya. Saya bukan janda. Saya itu... saya kabur karena dijodohkan sama kakek-kakek kaya sama orang tua saya. Satria ini asisten ayah saya," jelas Wulaningrum sambil menangis.

 

Satria melangkah maju. "Arini, ayo pulang. Pernikahan kamu sama anak ingusan ini nggak sah. Kamu masih di bawah perwalian ayah kamu, dan dokumen identitas yang kamu pakai buat nikah ini palsu!"

 

Karyo berdiri di depan Wulaningrum, menghalangi Satria. "Tunggu dulu, Mas Jas Rapi. Siapa bilang nggak sah?"

 

"Identitasnya palsu! Dia bukan Wulaningrum, dia Arini!" bentak Satria.

 

Karyo Ndleming menarik napas panjang. Dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tas sekolahnya yang sudah kusam. "Sebenarnya... saya juga mau jujur sesuatu. Mbak Wulaningrum, maafin saya juga ya."

 

Wulaningrum menghapus air matanya. "Apa lagi, Yo? Kamu ternyata intel juga?"

 

"Bukan. Nama saya memang Karyo Ndleming. Tapi saya ini bukan lulusan SMA biasa. Saya ini keponakan dari pemilik Franchise Laundry Berkah Dunia yang cabangnya ada di seluruh Indonesia. Saya lagi disuruh paman saya buat riset pasar secara langsung di lapangan sebelum saya dikirim kuliah ke luar negeri," Karyo menjelaskan.

 

Wulaningrum melongo. "Hah? Jadi kamu orang kaya?"

 

"Paman saya yang kaya, saya mah tetap miskin kalau nggak kerja. Tapi soal Mas ini..." Karyo menunjuk Satria. "Saya sudah tahu identitas Mbak Wulaningrum dari awal. Pas kita mau nikah siri itu, saya diam-diam telepon paman saya. Dia yang mengurus semua dokumen Mbak Wulaningrum secara legal di pusat. Nama Mbak sudah resmi berganti di catatan sipil menjadi Wulaningrum, dan status Mbak bukan lagi janda, tapi lajang yang sah menikah dengan saya."

 

Satria geram. "Nggak mungkin! Itu butuh waktu lama!"

 

"Buat orang biasa memang lama, Mas. Buat koneksi paman saya? Cuma butuh waktu satu jam. Kok bisa? Caranya gimana? Rahasia dong!" Karyo tersenyum ceria. "Jadi, Mbak Wulaningrum sekarang istri sah saya secara hukum negara yang paling valid. Mas nggak bisa bawa dia pergi."

 

Satria pergi dengan menggerutu, mengancam akan kembali dengan pengacara.

 

Suasana laundry menjadi hening. Wulaningrum menatap Karyo dengan pandangan yang sulit diartikan. "Jadi... kamu selama ini bohongin saya? Kamu bukan anak yatim piatu miskin yang butuh kerjaan?"

 

"Butuh kerjaan mah bener, Mbak. Biar saya tahu rasanya nyuci baju badut pakai air tujuh sumur," jawab Karyo sambil terkekeh. "Tapi soal saya sayang sama Mbak... itu kayaknya bukan riset paman saya deh."

 

Wulaningrum tersipu, wajahnya merah. "Duh, jadi malu. Tapi Yo, ada satu hal lagi yang kamu belum tahu."

 

"Apa, Mbak?"

 

Wulaningrum mendekat ke telinga Karyo, membisikkan sesuatu yang membuat mata Karyo hampir keluar dari kelopaknya.

 

"Kamu pikir cuma saya yang pakai identitas palsu? Coba cek lagi akta nikah kita bagian tanggal lahir saya."

 

Karyo buru-buru mengambil map. Dia membacanya dengan teliti. "Tanggal lahir...? Lho, berarti Mbak Wulaningrum..."

 

"Iya, Yo. Umur saya baru delapan belas tahun lewat dua bulan. Saya sengaja dandan tua biar nggak digodain cowok-cowok di pasar."

 

Karyo Ndleming terduduk lemas di atas tumpukan cucian. "Jadi... kita berdua ini sama-sama masih original?”

 

Wulaningrum tertawa renyah, tawa yang paling jujur yang pernah Karyo lihat. "Iya, Suamiku yang hobi ndleming. Sekarang, mending kamu lanjutin itu setrikaan daster sutra. Ada pesanan baru masuk!"

 

"Pesanan apa lagi, Mbak?"

 

Wulaningrum tersenyum misterius. "Pandi Klebus baru saja mengirim utusan. Dia minta kita laundry semua sprei di tempatnya karena dia mau tutup toko dan menyerah kalah."

 

Karyo berdiri, semangatnya kembali membara. "Siap, Bos! Eh, Istriku!"

 

"Tapi Yo..."

 

"Ya?"

 

"Kamu beneran mau kuliah ke luar negeri bulan depan?"

 

Karyo tersenyum. Tepatnya, senyum-senyum.

 

Spirov Lengking, 620260820838

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar