Uap
panas mengepul dari setrika uap yang dipegang Karyo Ndleming. Cowok delapan
belas tahun ini mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan yang gemetar.
Di depannya, seonggok daster sutra merah marun menanti untuk dijinakkan.
"Yo! Itu daster mahal! Jangan sampai bolong atau gaji kamu saya potong buat beli cilok setahun!" teriak Wulaningrum dari balik meja kasir.
Karyo
melonjak kaget. "Aduh, Mbak Wulaningrum! Kaget saya. Ini daster licin
banget kayak belut kena oli, susah lurusnya!"
Wulaningrum
berjalan mendekat. Wangi parfum vanilla miliknya mengalahkan bau detergen murah
di ruangan itu. Ia berkacak pinggang, menatap Karyo dengan mata tajam yang
membuat nyali remaja lulusan SMA itu ciut. "Sini, saya ajarin. Kamu itu
ya, Ndleming terus kerjaannya. Mulut komat-kamit tapi setrika nggak
jalan-jalan."
"Saya
lagi zikir, Mbak. Biar setrikanya barokah," gumam Karyo.
"Barokah
apanya? Itu kancingnya hampir meleleh!" Wulaningrum merebut setrika itu.
Tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Karyo.
Tepat
saat itu, pintu ruko Laundry Kinclong didobrak kasar. Pak RT, Pak Pandi Klebus,
dan gerombolan ibu-ibu komplek merangsek masuk dengan wajah seperti mau
mengganyang maling ayam.
"Nah!
Ketangkap basah kalian!" pekik Bu Ceblok sambil menunjuk-nunjuk dengan
jari yang penuh cincin akik.
Karyo
melongo. Wulaningrum mematung, tangannya masih memegang tangan Karyo di atas
setrika. "Lho, ada apa ini, Pak RT? Kok bawa pasukan mau demo?"
Pak RT
berdeham, merapikan sarungnya. "Wulaningrum, kami sudah dapat laporan.
Hampir setiap malam Karyo ini lembur sampai jam sebelas. Pintu ruko tertutup.
Kalian cuma berduaan. Ini namanya fitnah kalau didiamkan!"
Pandi
Klebus, pemilik Laundry Barokah yang merupakan saingan berat Wulaningrum,
menimpali dengan nada sok bijak. "Benar, Wulaningrum. Sebagai sesama
pengusaha laundry, saya prihatin. Kamu itu janda muda, Karyo ini brondong.
Nggak elok dipandang mata. Kalian harus diresmikan!"
"Diresmikan
gimana, Pak Pandi? Jadi monumen?" tanya Karyo polos.
"Dinikahkan,
bodoh!" bentak Bu Ceblok. "Daripada zina mata dan zina jemuran,
mending kalian ijab kabul sekarang juga. Kebetulan Pak Penghulu lagi ada di
rumah Pak RT habis sunatan."
Wulaningrum
melotot. "Eh, nggak bisa gitu dong! Karyo ini cuma karyawan saya. Dia
masih bocah!"
"Bocah
gimana? Udah punya KTP, udah kumisan tipis gitu," sahut Pak RT. "Pilih
mana: Nikah siri sekarang, atau ruko ini saya segel karena melanggar norma
kesusilaan?"
Karyo
Ndleming memandang Wulaningrum. Wulaningrum memandang Karyo. Di pojok ruangan, Pandi
Klebus tersenyum licik, membayangkan bisnis Wulaningrum akan hancur setelah
skandal ini.
"Mbak...
gimana nih?" bisik Karyo.
Wulaningrum
menghela napas panjang, wajahnya merah padam. "Ya sudah, daripada saya
nggak bisa jualan dan kamu jadi pengangguran, kita jabanin aja!"
"Serius,
Mbak?" Karyo kaget.
"Tapi
ada syaratnya, Yo!"
*
Resmi
sudah. Karyo Ndleming, remaja yang cita-citanya cuma ingin punya motor Ninja,
kini menjadi suami sah dari Wulaningrum, janda kembang paling diincar
se-kecamatan. Mereka duduk di ruang tengah ruko yang disulap jadi kamar
pengantin darurat, dikelilingi tumpukan cucian pelanggan.
"Yo,
jangan dekat-dekat," ancam Wulaningrum sambil memegang gantungan baju dari
kawat. "Kita nikah cuma buat status biar warga nggak berisik. Kamu tetap
karyawan, saya tetap bos."
Karyo
duduk di lantai, bersandar pada karung berisi sprei hotel. "Iya, Mbak. Eh,
Sayang? Eh, apa ya panggilannya?"
"Panggil
Mbak saja kalau di laundry. Kalau di depan warga, panggil... Sayang, tapi
jangan pakai perasaan!"
Karyo
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mbak, kok saya ngerasa kita dijebak
ya? Tadi Pak Pandi Klebus mukanya girang banget pas kita sah."
"Jelas
dijebak! Dia mau reputasi laundry saya hancur. Pelanggan pasti mikir saya nggak
bener karena nikah sama karyawan sendiri," keluh Wulaningrum sambil
memijat pelipisnya.
Tiba-tiba,
pintu ruko diketuk keras. Karyo membukanya. Seorang pria tambun dengan kacamata
hitam berdiri di sana membawa koper besar.
"Permintaan
khusus. Saya mau laundry ini dicuci pakai air tujuh sumur dan dikeringkan pakai
kipas angin tangan saja. Jangan pakai mesin," kata pria itu dengan suara
berat.
Karyo
melongo. "Hah? Bapak sehat? Ini laundry kiloan, Pak, bukan tempat rukyah
baju."
Wulaningrum
muncul dari belakang. "Oh, Pak Bambang. Pelanggan paling aneh se-dunia.
Layani saja, Yo. Dia bayar sepuluh kali lipat."
Karyo
menerima koper itu. Isinya ternyata kostum badut dan jubah pesulap yang baunya
seperti sudah tidak dicuci sejak zaman Majapahit. "Mbak, ini baunya...
kayak bangkai tikus mati kena racun."
"Makanya
kamu saya nikahin, Yo. Biar ada yang mau ngerjain tugas-tugas mustahil begini,"
bisik Wulaningrum sambil tersenyum manis, tapi mematikan.
Karyo
Ndleming lantas mulai merendam baju badut itu di ember. Sambil mengucek, dia
mulai ndleming. "Nasib, nasib. Pagi sekolah, siang lulus, sore kerja,
malam jadi suami janda. Mana disuruh nyuci baju badut pakai air tujuh sumur
pula. Gusti, ini hidup apa sinetron hidayah?"
"Ngomong
apa kamu, Yo?" teriak Wulaningrum dari kamar.
"Nggak,
Mbak! Ini lagi diskusi sama sabun colek!"
"Besok
pagi kita harus ke pasar. Pandi Klebus pasti nyebar gosip kalau saya hamil
duluan. Kita harus tunjukin kalau kita pasangan bahagia!"
"Caranya,
Mbak?"
*
Pasar
pagi itu heboh. Karyo Ndleming dipaksa Wulaningrum memakai kaos kembaran
bertuliskan 'Property of Mbak Wulaningrum' sementara Wulaningrum memakai kaos
'Karyo's Wife'. Mereka berjalan bergandengan tangan, meski Karyo merasa
tangannya kaku seperti kanebo kering.
"Lihat
itu, pengantin baru. Bau detergennya sampai sini," sindir Bu Ceblok saat
mereka lewat di lapak sayur.
"Iri
bilang, Bu! Daripada suaminya bau minyak tanah terus!" balas Wulaningrum
pedas.
Tiba-tiba,
Pandi Klebus muncul dari arah berlawanan. Dia tertawa terbahak-bahak.
"Wah, serasi sekali. Yang satu janda, yang satu brondong belum tumbuh
jakun. Eh, Wulaningrum, hati-hati lho. Biasanya kalau nikah buru-buru begini,
bisnisnya juga bakal buru-buru bangkrut."
"Maksud
Bapak apa?" tantang Wulaningrum.
"Lho,
belum tahu ya? Mulai besok, semua pelanggan besar kamu, termasuk Hotel Melati
dan Resto Padang Sejahtera, pindah ke laundry saya. Saya kasih harga setengah
dari harga kamu!" Pandi Klebus tertawa penuh kemenangan.
Wulaningrum
lemas. "Nggak mungkin. Mereka sudah kontrak sama saya!"
"Kontrak
bisa dibatalkan kalau ada 'isu moral' di penyedia jasanya. Dan saya yang kasih
tahu mereka soal pernikahan kalian yang... mendadak itu," bisik Pandi
Klebus.
Wulaningrum
hampir menangis. Dia sudah membangun bisnis ini dari nol sejak suaminya—yang
dia klaim sudah meninggal—pergi. Karyo Ndleming melihat istrinya yang galak itu
gemetaran. Sesuatu di dalam diri Karyo bergejolak.
"Pak
Pandi," panggil Karyo pelan.
"Apa,
Bocah?"
"Timbangan
di laundry Pak Pandi itu sudah dikalibrasi belum? Kok saya dengar-dengar, satu
kilo di tempat Bapak itu aslinya cuma delapan ratus gram?" tanya Karyo
dengan nada polos namun tajam.
Wajah Pandi
Klebus berubah pucat. "Heh! Jangan sembarangan bicara kamu!"
"Saya
nggak sembarangan, Pak. Kemarin pas saya beli gorengan di depan toko Bapak,
saya lihat pegawainya lagi ganjal timbangan pakai magnet di bawah meja kasir.
Saya ada videonya lho di HP ini," Karyo merogoh saku celananya.
Wulaningrum
menoleh, kaget. "Yo, serius kamu?"
"Saya
kan ndleming, Mbak. Sambil komat-kamit, mata saya ke mana-mana. Saya ini
pengamat lingkungan yang baik," ujar Karyo sambil nyengir.
Pandi
Klebus gemetar. "Kamu... kamu jangan macam-macam! Hapus videonya!"
"Bisa
diatur, Pak Pandi. Tapi kontrak Hotel Melati dan Resto Padang jangan diganggu.
Dan satu lagi, Bapak harus minta maaf ke Mbak Wulaningrum di depan toa masjid
karena sudah bikin gosip sampah," Karyo memberikan syarat dengan santai.
Pandi
Klebus mendesis. "Sialan! Awas kamu ya!"
Setelah
Pandi Klebus pergi dengan langkah seribu, Wulaningrum memeluk Karyo
kencang-kencang. "Karyo! Kamu hebat! Saya nggak nyangka kamu secerdik
itu!"
"Hehe,
itu mah biasa, Mbak. Tapi anu... Mbak..."
"Apa?"
"Videonya
sebenarnya nggak ada. Tadi HP saya mati total karena baterainya drop."
*
Kehidupan
pernikahan mereka mulai membaik. Meski tetap sering bertengkar soal cara
melipat celana dalam, ada rasa saling percaya yang tumbuh. Sampai suatu siang,
seorang pria perlente dengan setelan jas rapi masuk ke laundry.
"Cari
siapa, Pak? Mau laundry jas? Kalau jas sepuluh ribu, ekspres lima belas
ribu," tawar Karyo.
Pria
itu melepas kacamata hitamnya. "Saya cari Wulaningrum. Atau harus saya
panggil... Arini?"
Wulaningrum
yang baru keluar dari dapur menjatuhkan nampan berisi teh. Wajahnya pucat pasi,
lebih putih dari baju yang habis direndam pemutih. "Mas... Mas
Satria?"
Karyo
bingung. "Siapa ini, Mbak? Saudara? Apa mantan suami yang katanya sudah
almarhum itu?"
Pria
bernama Satria itu tertawa sinis. "Almarhum? Wah, parah sekali kamu, Rin.
Kamu kabur dari rumah, bawa lari uang deposito, terus bikin identitas palsu
jadi janda di kota ini?"
Karyo
Ndleming ternganga. Dia memandang Wulaningrum yang mulai terisak. "Mbak...
maksudnya apa ini?"
"Yo,
maafin saya. Saya bukan janda. Saya itu... saya kabur karena dijodohkan sama
kakek-kakek kaya sama orang tua saya. Satria ini asisten ayah saya," jelas
Wulaningrum sambil menangis.
Satria
melangkah maju. "Arini, ayo pulang. Pernikahan kamu sama anak ingusan ini
nggak sah. Kamu masih di bawah perwalian ayah kamu, dan dokumen identitas yang
kamu pakai buat nikah ini palsu!"
Karyo
berdiri di depan Wulaningrum, menghalangi Satria. "Tunggu dulu, Mas Jas
Rapi. Siapa bilang nggak sah?"
"Identitasnya
palsu! Dia bukan Wulaningrum, dia Arini!" bentak Satria.
Karyo
Ndleming menarik napas panjang. Dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tas
sekolahnya yang sudah kusam. "Sebenarnya... saya juga mau jujur sesuatu.
Mbak Wulaningrum, maafin saya juga ya."
Wulaningrum
menghapus air matanya. "Apa lagi, Yo? Kamu ternyata intel juga?"
"Bukan.
Nama saya memang Karyo Ndleming. Tapi saya ini bukan lulusan SMA biasa. Saya
ini keponakan dari pemilik Franchise Laundry Berkah Dunia yang cabangnya ada di
seluruh Indonesia. Saya lagi disuruh paman saya buat riset pasar secara
langsung di lapangan sebelum saya dikirim kuliah ke luar negeri," Karyo
menjelaskan.
Wulaningrum
melongo. "Hah? Jadi kamu orang kaya?"
"Paman
saya yang kaya, saya mah tetap miskin kalau nggak kerja. Tapi soal Mas
ini..." Karyo menunjuk Satria. "Saya sudah tahu identitas Mbak Wulaningrum
dari awal. Pas kita mau nikah siri itu, saya diam-diam telepon paman saya. Dia
yang mengurus semua dokumen Mbak Wulaningrum secara legal di pusat. Nama Mbak
sudah resmi berganti di catatan sipil menjadi Wulaningrum, dan status Mbak
bukan lagi janda, tapi lajang yang sah menikah dengan saya."
Satria
geram. "Nggak mungkin! Itu butuh waktu lama!"
"Buat
orang biasa memang lama, Mas. Buat koneksi paman saya? Cuma butuh waktu satu
jam. Kok bisa? Caranya gimana? Rahasia dong!" Karyo tersenyum ceria.
"Jadi, Mbak Wulaningrum sekarang istri sah saya secara hukum negara yang
paling valid. Mas nggak bisa bawa dia pergi."
Satria
pergi dengan menggerutu, mengancam akan kembali dengan pengacara.
Suasana
laundry menjadi hening. Wulaningrum menatap Karyo dengan pandangan yang sulit
diartikan. "Jadi... kamu selama ini bohongin saya? Kamu bukan anak yatim
piatu miskin yang butuh kerjaan?"
"Butuh
kerjaan mah bener, Mbak. Biar saya tahu rasanya nyuci baju badut pakai air
tujuh sumur," jawab Karyo sambil terkekeh. "Tapi soal saya sayang
sama Mbak... itu kayaknya bukan riset paman saya deh."
Wulaningrum
tersipu, wajahnya merah. "Duh, jadi malu. Tapi Yo, ada satu hal lagi yang
kamu belum tahu."
"Apa,
Mbak?"
Wulaningrum
mendekat ke telinga Karyo, membisikkan sesuatu yang membuat mata Karyo hampir
keluar dari kelopaknya.
"Kamu
pikir cuma saya yang pakai identitas palsu? Coba cek lagi akta nikah kita
bagian tanggal lahir saya."
Karyo
buru-buru mengambil map. Dia membacanya dengan teliti. "Tanggal lahir...?
Lho, berarti Mbak Wulaningrum..."
"Iya,
Yo. Umur saya baru delapan belas tahun lewat dua bulan. Saya sengaja dandan tua
biar nggak digodain cowok-cowok di pasar."
Karyo
Ndleming terduduk lemas di atas tumpukan cucian. "Jadi... kita berdua ini sama-sama
masih original?”
Wulaningrum
tertawa renyah, tawa yang paling jujur yang pernah Karyo lihat. "Iya,
Suamiku yang hobi ndleming. Sekarang, mending kamu lanjutin itu setrikaan
daster sutra. Ada pesanan baru masuk!"
"Pesanan
apa lagi, Mbak?"
Wulaningrum
tersenyum misterius. "Pandi Klebus baru saja mengirim utusan. Dia minta
kita laundry semua sprei di tempatnya karena dia mau tutup toko dan menyerah kalah."
Karyo
berdiri, semangatnya kembali membara. "Siap, Bos! Eh, Istriku!"
"Tapi
Yo..."
"Ya?"
"Kamu
beneran mau kuliah ke luar negeri bulan depan?"
Karyo tersenyum.
Tepatnya, senyum-senyum.
Spirov Lengking, 620260820838

Tidak ada komentar:
Posting Komentar