Gala Kebanggaan Nasional malam itu telah berlangsung sangat meriah. Semua orang mengenakan pakaian paling mencolok, memamerkan pencapaian yang sudah dibesar-besarkan oleh tim humas masing-masing. Di tengah kerumunan manusia-manusia tanpa cela itu, Adi Saka Utama berdiri dengan canggung sambil memegangi cangkir teh porselen.
"Hati-hati, Adi Saka Utama. Jangan sampai jas mahalmu terkena debu sedikit pun," tegur rekan kerjanya, sosok pria yang baru saja mengganti namanya menjadi 'Sawer Sang Penakluk'.
"Saya hanya merasa jas ini
terlalu sempit, Sawer. Dan rasanya tidak etis kita minum teh seharga gaji buruh
setahun di depan para demonstran di luar sana," jawab Adi Saka Utama
dengan suara rendah.
Sawer tertawa keras hingga giginya
yang diputihkan laser terlihat berkilau. "Emanisipasi sosial itu
membosankan, Adi Saka Utama! Lihat kamera itu, tersenyumlah!"
Tepat saat Adi Saka Utama mencoba
tersenyum paksa, seorang pelayan melintas dengan cepat. Adi Saka Utama
tersandung kabel kamera, tubuhnya terhuyung, dan seluruh isi cangkir teh
hangatnya tumpah tepat di atas sepatu kulit buaya milik Menteri Pencitraan
Publik.
Suasana aula mendadak hening.
Musik berhenti. Ratusan kamera ponsel langsung mengarah pada kejadian itu.
"Ya Tuhan! Saya benar-benar
minta maaf, Pak Menteri! Saya sangat ceroboh, saya sungguh malu atas
ketidaksengajaan ini!" seru Adi Saka Utama dengan wajah yang mendadak
merah padam hingga ke telinga.
Pak Menteri menatap sepatunya,
lalu menatap Adi Saka Utama dengan ekspresi ngeri. "Kamu... kamu bilang
apa tadi?"
"Saya minta maaf, Pak. Saya
sangat malu. Biar saya bersihkan," Adi Saka Utama berlutut, mencoba
mengelap sepatu itu dengan sapu tangan pribadi.
"Berhenti! Jangan sentuh
saya!" teriak Pak Menteri sambil melangkah mundur. "Dia baru saja
melakukan itu! Dia menunjukkan gejala emosi purba!"
"Panggil ambulans jiwa! Ada
orang yang merasa malu di sini!" teriak seorang tamu undangan dari barisan
belakang.
Sawer mendekati Adi Saka Utama
dengan wajah pucat. "Adi Saka Utama, apa yang kamu lakukan? Cepat katakan
bahwa ini adalah aksi teatrikal untuk menyinggung kaum proletar! Katakan ini
bagian dari konten!"
"Tapi ini bukan konten, Sawer!
Saya benar-benar merasa bersalah karena merusak sepatu orang lain!" balas Adi
Saka Utama dengan suara bergetar.
[Status Emosi: Malu
Terdeteksi]
[Level Bahaya: Sangat
Tinggi]
Seorang petugas keamanan dengan
seragam futuristik mendekat dan menodongkan alat pemindai ke arah wajah Adi
Saka Utama. Layar di alat itu berkedip merah.
"Subjek terkonfirmasi
mengalami kontraksi otot wajah yang dikenal sebagai 'blushing'. Dia sadar akan
kesalahannya dan merasa rendah diri," lapor petugas itu ke radionya.
"Tolong, saya hanya ingin
mengganti rugi sepatunya," lirih ucap Adi Saka Utama, masih dengan wajah
merahnya.
"Ganti rugi? Di dunia ini,
kita tidak minta maaf, kita mengklarifikasi bahwa orang lainlah yang salah
karena menaruh sepatunya di jalur jatuhnya teh Anda!" bentak Pak Menteri.
"Tapi itu logika yang gila,
Pak!" seru Adi Saka Utama.
"Bawa dia ke Pusat Rehabilitasi
Mentalitas Tanpa Cela sekarang juga!" perintah Pak Menteri.
*
Ruang interogasi itu serba putih,
tanpa sudut tajam, dan sangat terang. Adi Saka Utama duduk di kursi yang tidak
nyaman, berhadapan dengan Dokter Bronjong, seorang psikiater yang telah
memenangkan penghargaan 'Manusia Paling Tidak Tahu Malu' tiga tahun berturut-turut.
"Saudara Adi Saka Utama…,"
Dokter Bronjong membuka map digitalnya. "Rekam jejakmu sangat
mengkhawatirkan. Kamu pernah mengembalikan dompet yang jatuh di jalan?"
"Tentu saja, Dok. Itu milik
orang lain," jawab Adi Saka Utama polos.
Dokter Bronjong memijat
pelipisnya. "Bodoh. Kamu seharusnya mengambil isinya, lalu memotret dirimu
sendiri saat memberikan dompet kosong itu kepada pengemis, lalu mengunggahnya disertai
tulisan tentang kebaikan hati. Itu namanya branding."
"Tapi itu bohong, Dok. Saya
akan merasa malu jika melakukannya," bantah Adi Saka Utama.
"Lagi-lagi kata itu! Malu!
Apakah kamu tidak tahu bahwa malu adalah virus sisa-sisa evolusi yang
seharusnya sudah punah bersama dial-up internet?" Bronjong membentak meja.
"Bagi saya, malu adalah
kompas moral, Dok," ujar Adi Saka Utama lirih.
Bronjong tertawa sinis.
"Baiklah, mari kita coba tes dasar. Saya telah meletakkan sebuah cokelat
di atas meja ini. Sekarang, saya akan keluar ruangan selama satu menit. Saya
ingin kamu mencuri cokelat itu, memakannya, lalu saat saya kembali, kamu harus
menyalahkan saya karena telah menggoda imanmu."
Dokter Bronjong keluar. Adi Saka
Utama melihat cokelat itu. Ia lapar, tapi ia merasa diawasi oleh nuraninya
sendiri. Satu menit berlalu, dan Adi Saka Utama tidak menyentuh cokelat itu
sedikit pun.
"Kenapa cokelatnya masih
utuh?" tanya Bronjong saat kembali.
"Karena itu bukan milik saya,
Dok. Mencuri itu salah," jawab Adi Saka Utama.
"Kamu benar-benar sakit jiwa,
Adi Saka Utama! Kamu menderita Chronic Empathy and Shame
Syndrome (CESS) stadium akhir!" teriak Bronjong frustrasi.
"Apakah salah jika saya ingin
menjadi manusia yang jujur?" tanya Adi Saka Utama dengan mata
berkaca-kaca.
"Jujur itu untuk orang yang
tidak punya anggaran pemasaran! Sekarang, kita akan melakukan terapi kejut.
Kamu akan kami paksa menonton video-video politisi yang tertangkap kamera
sedang menerima suap, namun tetap tersenyum dan melambai ke kamera seolah-olah
mereka baru saja memenangkan lotre!"
"Tolong, Dok, jangan! Itu
terlalu menyakitkan untuk ditonton!" mohon Adi Saka Utama.
Bronjong mendekatkan wajahnya ke
wajah Adi Saka Utama. "Ini demi kesembuhanmu, Adi Saka Utama. Kamu harus
belajar untuk tidak peduli pada kebenaran."
"Tapi bagaimana jika dunia
ini memang butuh sedikit rasa malu agar tidak hancur?" tanya Adi Saka
Utama.
"Dunia ini tidak butuh malu,
dunia ini butuh kepercayaan diri yang tanpa nurani!" balas Bronjong.
"Lalu kenapa Anda terlihat
begitu gelisah saat saya menatap mata Anda dengan tulus?" tanya Adi Saka
Utama secara mendadak.
*
Pemerintah memutuskan bahwa kasus Adi
Saka Utama harus dijadikan pelajaran nasional. Ia dibawa ke panggung megah
dalam acara bincang-bincang nomor satu, "Tanpa Sensor, Tanpa Malu".
Jutaan orang menonton melalui layar hologram di rumah masing-masing.
"Selamat malam pemirsa! Hari
ini kita memiliki spesimen langka," seru sang pembawa acara, seorang
wanita yang wajahnya sudah tidak bisa bergerak karena terlalu banyak botoks.
"Ini adalah Adi Saka Utama, manusia terakhir yang masih bisa merasa
malu!"
Penonton di studio menyoraki Adi
Saka Utama dengan nada ejekan. Beberapa melemparkan tomat plastik.
"Adi Saka Utama, kami dengar
kamu merasa malu karena tak sengaja telah menumpahkan teh di sepatu
Menteri?" tanya pembawa acara sambil menahan tawa.
"Iya, saya merasa malu, juga merasa
bersalah," jawab Adi Saka Utama, suaranya bergema di seluruh penjuru
negeri.
"Kenapa? Padahal kamu bisa
saja menuntut produsen teh karena suhunya terlalu panas, atau menuntut lantai
karena terlalu licin, atau menuntut Menteri karena memakai sepatu yang terlalu
mengilap sehingga menyilaukan matamu!"
"Tapi kenyataannya, saya yang
tersandung, Mbak. Saya yang lalai," ujar Adi Saka Utama tegas.
Pembawa acara itu tampak bingung
sejenak. "Kenyataan? Apa itu? Di dunia ini hanya ada narasi. Baiklah, kami
punya kejutan. Kami membawa 'Korban' ketidakadilanmu ke sini!"
Menteri Pencitraan Publik masuk ke
panggung. Ia tidak lagi marah, melainkan tersenyum lebar. "Adi Saka Utama,
saya sudah memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu, Pak?" tanya Adi
Saka Utama waspada.
"Kamu harus menandatangani
kontrak ini. Kamu akan menjadi duta produk 'Sepatu Tahan Malu'. Kamu harus
mengatakan di depan kamera bahwa kamu sengaja menyiram sepatu saya untuk
menguji kualitas produk tersebut. Ini akan menjadi kampanye iklan terbesar abad
ini!" kata Menteri dengan penuh semangat.
Adi Saka Utama menatap kontrak
itu, lalu menatap kerumunan orang yang menantinya untuk berbohong.
"Jadi, saya harus berbohong
agar kalian merasa nyaman?" tanya Adi Saka Utama.
"Bukan berbohong, Adi Saka
Utama. Kita sedang mengoptimalkan fakta!" sahut sang Menteri.
Adi Saka Utama mengambil mikofon,
menarik napas dalam-dalam. Wajahnya mulai memerah lagi. "Saya tidak bisa
melakukannya."
"Kenapa tidak? Kamu akan kaya
raya!" seru pembawa acara.
"Karena saya merasa malu
memiliki pemimpin seperti Anda yang lebih peduli pada iklan sepatu daripada
kejujuran seorang warga negara!" teriak Adi Saka Utama.
Aula itu mendadak sunyi senyap.
Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga terdengar suara notifikasi dari
jutaan perangkat penonton.
[Peringatan: Kebenaran Tanpa Filter Terdeteksi]
"Adi Saka Utama, kamu baru
saja menghancurkan kariermu sendiri," bisik Menteri, wajahnya mulai pucat.
"Tidak, Pak. Saya baru saja
menyelamatkan martabat saya yang tersisa," jawab Adi Saka Utama dengan
kepala tegak, meskipun pipinya masih semerah tomat.
"Tapi kamu akan dipenjara
karena dianggap menyebarkan kegelisahan publik!" ancam Menteri.
Adi Saka Utama tersenyum kecil,
sebuah senyuman yang mengandung kepedihan sekaligus kelegaan. "Setidaknya
di penjara, saya tidak perlu melihat wajah-wajah penuh kepura-puraan setiap
hari."
"Beraninya kamu berkata
begitu di depan kamera nasional?" tanya pembawa acara dengan suara
gemetar.
"Apakah kalian tidak merasa
ada yang aneh dengan diri kalian sendiri?" Adi Saka Utama balik bertanya
kepada penonton.
"Apa yang aneh? Kami bahagia!
Kami sukses!" teriak salah satu penonton.
"Kalian tertawa, tapi mata
kalian kosong. Kalian berbohong, tapi jantung kalian berdegup kencang. Kalian
merasa hampa karena tidak ada lagi batas antara benar dan salah yang kalian
jaga dengan rasa malu," suara Adi Saka Utama semakin kuat.
"Cukup! Matikan
siarannya!" perintah Dokter Bronjong dari balik layar.
Namun, operator siaran, seorang
pemuda magang yang selama ini selalu menunduk, justru membiarkan kamera tetap
menyala. Pemuda itu juga mulai merona merah.
"Kenapa kamu tidak mematikan
kameranya?" bentak Bronjong pada si operator.
"Maaf, Dok... saya... saya
merasa malu jika harus membungkam kebenaran," jawab si pemuda dengan suara
gemetar.
Seluruh negeri terperangah. Di
layar hologram, terlihat dua orang dengan wajah merah padam—Adi Saka Utama dan
si operator magang—berdiri melawan sistem yang sudah lama berkarat oleh
kebohongan.
"Lihat itu!" seru Adi
Saka Utama sambil menunjuk ke arah penonton. "Satu orang mulai merasa
malu, dan itu menular!"
Menteri Pencitraan Publik tampak
panik saat melihat beberapa penonton di barisan depan mulai menundukkan kepala,
menghindari kontak mata.
"Ini bencana! Ekonomi
pencitraan kita akan runtuh!" teriak Menteri.
"Atau mungkin, ini adalah
awal dari kembalinya kemanusiaan kita," ujar Adi Saka Utama tenang.
"Kamu pikir ini akan berakhir
begitu saja, Adi Saka Utama?" tanya Menteri dengan nada mengancam.
Adi Saka Utama menatap kamera
dengan tajam, sebuah tatapan yang menembus ke jutaan rumah. "Apakah Anda
tidak merasa malu setelah sekian lama merasa paling suci padahal suka melakukan
kebohongan, kejahatan, dan berbagai tindakan yang busuk?"
Spirov Lengking,
620250920638

Tidak ada komentar:
Posting Komentar