Kamis, 28 Mei 2026

Cerita Pendek 01 ~ MANUSIA TERAKHIR YANG MASIH PUNYA RASA MALU

 

Gala Kebanggaan Nasional malam itu telah berlangsung sangat meriah. Semua orang mengenakan pakaian paling mencolok, memamerkan pencapaian yang sudah dibesar-besarkan oleh tim humas masing-masing. Di tengah kerumunan manusia-manusia tanpa cela itu, Adi Saka Utama berdiri dengan canggung sambil memegangi cangkir teh porselen.

 

"Hati-hati, Adi Saka Utama. Jangan sampai jas mahalmu terkena debu sedikit pun," tegur rekan kerjanya, sosok pria yang baru saja mengganti namanya menjadi 'Sawer Sang Penakluk'.

 

"Saya hanya merasa jas ini terlalu sempit, Sawer. Dan rasanya tidak etis kita minum teh seharga gaji buruh setahun di depan para demonstran di luar sana," jawab Adi Saka Utama dengan suara rendah.

 

Sawer tertawa keras hingga giginya yang diputihkan laser terlihat berkilau. "Emanisipasi sosial itu membosankan, Adi Saka Utama! Lihat kamera itu, tersenyumlah!"

 

Tepat saat Adi Saka Utama mencoba tersenyum paksa, seorang pelayan melintas dengan cepat. Adi Saka Utama tersandung kabel kamera, tubuhnya terhuyung, dan seluruh isi cangkir teh hangatnya tumpah tepat di atas sepatu kulit buaya milik Menteri Pencitraan Publik.

 

Suasana aula mendadak hening. Musik berhenti. Ratusan kamera ponsel langsung mengarah pada kejadian itu.

 

"Ya Tuhan! Saya benar-benar minta maaf, Pak Menteri! Saya sangat ceroboh, saya sungguh malu atas ketidaksengajaan ini!" seru Adi Saka Utama dengan wajah yang mendadak merah padam hingga ke telinga.

 

Pak Menteri menatap sepatunya, lalu menatap Adi Saka Utama dengan ekspresi ngeri. "Kamu... kamu bilang apa tadi?"

 

"Saya minta maaf, Pak. Saya sangat malu. Biar saya bersihkan," Adi Saka Utama berlutut, mencoba mengelap sepatu itu dengan sapu tangan pribadi.

 

"Berhenti! Jangan sentuh saya!" teriak Pak Menteri sambil melangkah mundur. "Dia baru saja melakukan itu! Dia menunjukkan gejala emosi purba!"

 

"Panggil ambulans jiwa! Ada orang yang merasa malu di sini!" teriak seorang tamu undangan dari barisan belakang.

 

Sawer mendekati Adi Saka Utama dengan wajah pucat. "Adi Saka Utama, apa yang kamu lakukan? Cepat katakan bahwa ini adalah aksi teatrikal untuk menyinggung kaum proletar! Katakan ini bagian dari konten!"

 

"Tapi ini bukan konten, Sawer! Saya benar-benar merasa bersalah karena merusak sepatu orang lain!" balas Adi Saka Utama dengan suara bergetar.

 

[Status Emosi: Malu Terdeteksi]

 

[Level Bahaya: Sangat Tinggi]

 

Seorang petugas keamanan dengan seragam futuristik mendekat dan menodongkan alat pemindai ke arah wajah Adi Saka Utama. Layar di alat itu berkedip merah.

 

"Subjek terkonfirmasi mengalami kontraksi otot wajah yang dikenal sebagai 'blushing'. Dia sadar akan kesalahannya dan merasa rendah diri," lapor petugas itu ke radionya.

 

"Tolong, saya hanya ingin mengganti rugi sepatunya," lirih ucap Adi Saka Utama, masih dengan wajah merahnya.

 

"Ganti rugi? Di dunia ini, kita tidak minta maaf, kita mengklarifikasi bahwa orang lainlah yang salah karena menaruh sepatunya di jalur jatuhnya teh Anda!" bentak Pak Menteri.

 

"Tapi itu logika yang gila, Pak!" seru Adi Saka Utama.

 

"Bawa dia ke Pusat Rehabilitasi Mentalitas Tanpa Cela sekarang juga!" perintah Pak Menteri.

 

*

 

 

 

Ruang interogasi itu serba putih, tanpa sudut tajam, dan sangat terang. Adi Saka Utama duduk di kursi yang tidak nyaman, berhadapan dengan Dokter Bronjong, seorang psikiater yang telah memenangkan penghargaan 'Manusia Paling Tidak Tahu Malu' tiga tahun berturut-turut.

 

"Saudara Adi Saka Utama…," Dokter Bronjong membuka map digitalnya. "Rekam jejakmu sangat mengkhawatirkan. Kamu pernah mengembalikan dompet yang jatuh di jalan?"

 

"Tentu saja, Dok. Itu milik orang lain," jawab Adi Saka Utama polos.

 

Dokter Bronjong memijat pelipisnya. "Bodoh. Kamu seharusnya mengambil isinya, lalu memotret dirimu sendiri saat memberikan dompet kosong itu kepada pengemis, lalu mengunggahnya disertai tulisan tentang kebaikan hati. Itu namanya branding."

 

"Tapi itu bohong, Dok. Saya akan merasa malu jika melakukannya," bantah Adi Saka Utama.

 

"Lagi-lagi kata itu! Malu! Apakah kamu tidak tahu bahwa malu adalah virus sisa-sisa evolusi yang seharusnya sudah punah bersama dial-up internet?" Bronjong membentak meja.

 

"Bagi saya, malu adalah kompas moral, Dok," ujar Adi Saka Utama lirih.

 

Bronjong tertawa sinis. "Baiklah, mari kita coba tes dasar. Saya telah meletakkan sebuah cokelat di atas meja ini. Sekarang, saya akan keluar ruangan selama satu menit. Saya ingin kamu mencuri cokelat itu, memakannya, lalu saat saya kembali, kamu harus menyalahkan saya karena telah menggoda imanmu."

 

Dokter Bronjong keluar. Adi Saka Utama melihat cokelat itu. Ia lapar, tapi ia merasa diawasi oleh nuraninya sendiri. Satu menit berlalu, dan Adi Saka Utama tidak menyentuh cokelat itu sedikit pun.

 

"Kenapa cokelatnya masih utuh?" tanya Bronjong saat kembali.

 

"Karena itu bukan milik saya, Dok. Mencuri itu salah," jawab Adi Saka Utama.

 

"Kamu benar-benar sakit jiwa, Adi Saka Utama! Kamu menderita Chronic Empathy and Shame Syndrome (CESS) stadium akhir!" teriak Bronjong frustrasi.

 

"Apakah salah jika saya ingin menjadi manusia yang jujur?" tanya Adi Saka Utama dengan mata berkaca-kaca.

 

"Jujur itu untuk orang yang tidak punya anggaran pemasaran! Sekarang, kita akan melakukan terapi kejut. Kamu akan kami paksa menonton video-video politisi yang tertangkap kamera sedang menerima suap, namun tetap tersenyum dan melambai ke kamera seolah-olah mereka baru saja memenangkan lotre!"

 

"Tolong, Dok, jangan! Itu terlalu menyakitkan untuk ditonton!" mohon Adi Saka Utama.

 

Bronjong mendekatkan wajahnya ke wajah Adi Saka Utama. "Ini demi kesembuhanmu, Adi Saka Utama. Kamu harus belajar untuk tidak peduli pada kebenaran."

 

"Tapi bagaimana jika dunia ini memang butuh sedikit rasa malu agar tidak hancur?" tanya Adi Saka Utama.

 

"Dunia ini tidak butuh malu, dunia ini butuh kepercayaan diri yang tanpa nurani!" balas Bronjong.

 

"Lalu kenapa Anda terlihat begitu gelisah saat saya menatap mata Anda dengan tulus?" tanya Adi Saka Utama secara mendadak.

 

*

 

 

 

Pemerintah memutuskan bahwa kasus Adi Saka Utama harus dijadikan pelajaran nasional. Ia dibawa ke panggung megah dalam acara bincang-bincang nomor satu, "Tanpa Sensor, Tanpa Malu". Jutaan orang menonton melalui layar hologram di rumah masing-masing.

 

"Selamat malam pemirsa! Hari ini kita memiliki spesimen langka," seru sang pembawa acara, seorang wanita yang wajahnya sudah tidak bisa bergerak karena terlalu banyak botoks. "Ini adalah Adi Saka Utama, manusia terakhir yang masih bisa merasa malu!"

 

Penonton di studio menyoraki Adi Saka Utama dengan nada ejekan. Beberapa melemparkan tomat plastik.

 

"Adi Saka Utama, kami dengar kamu merasa malu karena tak sengaja telah menumpahkan teh di sepatu Menteri?" tanya pembawa acara sambil menahan tawa.

 

"Iya, saya merasa malu, juga merasa bersalah," jawab Adi Saka Utama, suaranya bergema di seluruh penjuru negeri.

 

"Kenapa? Padahal kamu bisa saja menuntut produsen teh karena suhunya terlalu panas, atau menuntut lantai karena terlalu licin, atau menuntut Menteri karena memakai sepatu yang terlalu mengilap sehingga menyilaukan matamu!"

 

"Tapi kenyataannya, saya yang tersandung, Mbak. Saya yang lalai," ujar Adi Saka Utama tegas.

 

Pembawa acara itu tampak bingung sejenak. "Kenyataan? Apa itu? Di dunia ini hanya ada narasi. Baiklah, kami punya kejutan. Kami membawa 'Korban' ketidakadilanmu ke sini!"

 

Menteri Pencitraan Publik masuk ke panggung. Ia tidak lagi marah, melainkan tersenyum lebar. "Adi Saka Utama, saya sudah memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat."

 

"Apa itu, Pak?" tanya Adi Saka Utama waspada.

 

"Kamu harus menandatangani kontrak ini. Kamu akan menjadi duta produk 'Sepatu Tahan Malu'. Kamu harus mengatakan di depan kamera bahwa kamu sengaja menyiram sepatu saya untuk menguji kualitas produk tersebut. Ini akan menjadi kampanye iklan terbesar abad ini!" kata Menteri dengan penuh semangat.

 

Adi Saka Utama menatap kontrak itu, lalu menatap kerumunan orang yang menantinya untuk berbohong.

 

"Jadi, saya harus berbohong agar kalian merasa nyaman?" tanya Adi Saka Utama.

 

"Bukan berbohong, Adi Saka Utama. Kita sedang mengoptimalkan fakta!" sahut sang Menteri.

 

Adi Saka Utama mengambil mikofon, menarik napas dalam-dalam. Wajahnya mulai memerah lagi. "Saya tidak bisa melakukannya."

 

"Kenapa tidak? Kamu akan kaya raya!" seru pembawa acara.

 

"Karena saya merasa malu memiliki pemimpin seperti Anda yang lebih peduli pada iklan sepatu daripada kejujuran seorang warga negara!" teriak Adi Saka Utama.

 

Aula itu mendadak sunyi senyap. Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga terdengar suara notifikasi dari jutaan perangkat penonton.

 

[Peringatan: Kebenaran Tanpa Filter Terdeteksi]

 

"Adi Saka Utama, kamu baru saja menghancurkan kariermu sendiri," bisik Menteri, wajahnya mulai pucat.

 

"Tidak, Pak. Saya baru saja menyelamatkan martabat saya yang tersisa," jawab Adi Saka Utama dengan kepala tegak, meskipun pipinya masih semerah tomat.

 

"Tapi kamu akan dipenjara karena dianggap menyebarkan kegelisahan publik!" ancam Menteri.

 

Adi Saka Utama tersenyum kecil, sebuah senyuman yang mengandung kepedihan sekaligus kelegaan. "Setidaknya di penjara, saya tidak perlu melihat wajah-wajah penuh kepura-puraan setiap hari."

 

"Beraninya kamu berkata begitu di depan kamera nasional?" tanya pembawa acara dengan suara gemetar.

 

"Apakah kalian tidak merasa ada yang aneh dengan diri kalian sendiri?" Adi Saka Utama balik bertanya kepada penonton.

 

"Apa yang aneh? Kami bahagia! Kami sukses!" teriak salah satu penonton.

 

"Kalian tertawa, tapi mata kalian kosong. Kalian berbohong, tapi jantung kalian berdegup kencang. Kalian merasa hampa karena tidak ada lagi batas antara benar dan salah yang kalian jaga dengan rasa malu," suara Adi Saka Utama semakin kuat.

 

"Cukup! Matikan siarannya!" perintah Dokter Bronjong dari balik layar.

 

Namun, operator siaran, seorang pemuda magang yang selama ini selalu menunduk, justru membiarkan kamera tetap menyala. Pemuda itu juga mulai merona merah.

 

"Kenapa kamu tidak mematikan kameranya?" bentak Bronjong pada si operator.

 

"Maaf, Dok... saya... saya merasa malu jika harus membungkam kebenaran," jawab si pemuda dengan suara gemetar.

 

Seluruh negeri terperangah. Di layar hologram, terlihat dua orang dengan wajah merah padam—Adi Saka Utama dan si operator magang—berdiri melawan sistem yang sudah lama berkarat oleh kebohongan.

 

"Lihat itu!" seru Adi Saka Utama sambil menunjuk ke arah penonton. "Satu orang mulai merasa malu, dan itu menular!"

 

Menteri Pencitraan Publik tampak panik saat melihat beberapa penonton di barisan depan mulai menundukkan kepala, menghindari kontak mata.

 

"Ini bencana! Ekonomi pencitraan kita akan runtuh!" teriak Menteri.

 

"Atau mungkin, ini adalah awal dari kembalinya kemanusiaan kita," ujar Adi Saka Utama tenang.

 

"Kamu pikir ini akan berakhir begitu saja, Adi Saka Utama?" tanya Menteri dengan nada mengancam.

 

Adi Saka Utama menatap kamera dengan tajam, sebuah tatapan yang menembus ke jutaan rumah. "Apakah Anda tidak merasa malu setelah sekian lama merasa paling suci padahal suka melakukan kebohongan, kejahatan, dan berbagai tindakan yang busuk?"

 

Spirov Lengking, 620250920638

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar