Minggu, 30 Agustus 2026

Bayang-Bayang di Mojosongo

Jadmiko menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati yang sudah mulai kusam. Di depannya, kepul asap rokok menari-nari di bawah lampu pijar yang temaram. Ruangan itu terletak di sudut gang sempit di kawasan Pasar Kembang, Solo—sebuah kantor tanpa papan nama yang hanya diketahui oleh orang-orang yang memiliki masalah "khusus". Pintu kayu kantornya tiba-tiba terbuka dengan kasar. Seorang wanita dengan daster batik yang dilapisi jaket denim masuk dengan napas tersengal. Wajahnya sembap, matanya merah karena terlalu banyak menangis.

 

"Mas Jadmiko, tolong saya," isak wanita itu.

 

Jadmiko mematikan rokoknya di asbak kaca. "Duduk dulu, Bu Sari. Napas dulu."

 

"Heru, Mas... suami saya hilang," Sari duduk di kursi plastik di depan meja Jadmiko, tangannya gemetar.

 

"Hilang bagaimana? Sudah lapor polisi?"

 

"Belum dua puluh empat jam, Mas. Polisi pasti bilang tunggu dulu. Tapi ini beda. Dia pergi tengah malam tadi setelah menerima telepon. Saya diam-diam membuntutinya sampai ke warung kopi di pinggiran jalan menuju Palur."

 

Jadmiko menaikkan satu alisnya. "Lalu?"

 

"Dia bertemu perempuan, Mas. Janda muda yang baru pindah ke kampung sebelah. Namanya Maya. Saya lihat mereka bicara serius, lalu Heru naik ke mobil hitam yang menunggu di depan warung. Sampai sekarang hp-nya mati."

 

Jadmiko menarik laci mejanya, mengambil sebuah buku catatan kecil. "Mobil hitam? Ingat plat nomornya?"

 

"Tidak jelas, Mas. Gelap sekali. Tapi saya yakin ini gara-gara janda itu. Heru pasti tergoda."

 

"Jadi, Anda ingin saya mencari suami Anda karena kasus perselingkuhan?" Jadmiko tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata.

 

"Saya ingin dia pulang, Mas. Apa pun caranya."

 

"Tarif saya tidak murah, Bu Sari. Anda tahu itu."

 

"Saya punya simpanan emas. Ambillah semua, asal Heru selamat."

 

Jadmiko berdiri, mengambil jaket kulitnya yang tergantung di sandaran kursi. [Status Kasus: Aktif]. Ia menatap Sari dengan tatapan tajam yang membuat wanita itu sedikit menciut.

 

"Pulanglah. Jangan hubungi siapa pun. Saya yang akan cari suami Anda."

 

"Mas Jadmiko yakin bisa menemukannya?"

 

"Di Solo ini, tidak ada lubang tikus yang tidak saya ketahui, Bu."

 

Jadmiko memarkir motor trailnya di dekat sebuah angkringan di kawasan Palur. Malam sudah larut, tapi Solo tidak pernah benar-benar tidur. Ia mendekat ke arah warung kopi yang disebutkan Sari. Matanya menyisir sekitar, mencari sosok yang disebut sebagai 'Maya'. Di sudut warung, seorang wanita dengan pakaian yang sedikit terlalu mencolok untuk ukuran warung pinggir jalan sedang menyesap teh hangat.

 

"Teh krampul satu, Pak," ujar Jadmiko pada penjual warung, lalu ia duduk tepat di sebelah wanita itu.

 

Wanita itu melirik Jadmiko. "Bukan orang sini, ya?"

 

"Hanya mampir. Mencari kawan lama," jawab Jadmiko santai.

 

"Siapa? Mungkin saya kenal."

 

"Namanya Heru. Katanya dia sering nongkrong di sini sama janda cantik bernama Maya."

 

Wanita itu terdiam sejenak. Ia meletakkan gelasnya dengan pelan. "Kenapa cari Heru?"

 

"Dia punya utang pada saya. Dan saya dengar, dia pergi naik mobil hitam tengah malam tadi. Benar begitu, Mbak Maya?"

 

Maya tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering. "Berita cepat sekali tersebar. Kamu siapa sebenarnya? Bukan polisi, kan? Polisi Solo tidak setampan ini."

 

"Saya hanya orang yang ingin urusannya cepat selesai. Ke mana mobil itu pergi?"

 

"Saya tidak tahu. Kami cuma bicara bisnis sebentar."

 

"Bisnis apa yang dibicarakan seorang teknisi mesin bubut dengan wanita seperti Anda di tengah malam?" Jadmiko mendekatkan wajahnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang mengancam.

 

"Bisnis yang bisa membuat orang sepertimu mati kalau terlalu banyak tanya."

 

Jadmiko merogoh saku jaketnya, menunjukkan sebuah koin perak dengan ukiran kepala serigala—simbol lama dari dunia bawah Solo yang sudah lama ia tinggalkan. Mata Maya membelalak.

 

"Koin itu... kamu orangnya 'Si Hitam'?"

 

"Saya tidak lagi bekerja untuk mereka, tapi saya masih punya akses. Sekarang bicara, atau saya serahkan kamu ke mereka dengan tuduhan mencuri wilayah."

 

Maya menelan ludah. "Heru bukan selingkuh sama saya. Dia dibawa ke gudang tua di Mojosongo. Dia punya tangan emas, Jadmiko. Dia bisa memperbaiki apa saja, termasuk mekanisme pemicu yang macet."

 

"Pemicu? Senjata?"

 

"Bukan cuma senjata biasa. Mereka sedang menyiapkan kiriman besar. Heru dipaksa karena mereka tahu dia butuh uang untuk melunasi utang judinya."

 

[Informasi Intelijen: Gudang Tua Mojosongo]. Jadmiko berdiri, meninggalkan uang sepuluh ribu di meja tanpa menunggu kembalian.

 

"Siapa yang memimpin mereka?"

 

"Orang-orang dari luar kota. Tapi mereka punya koneksi lokal yang kuat."

 

"Siapa orang lokalnya, Maya?"

 

"Mereka memanggilnya Sang Kurir, tapi aku tidak pernah lihat wajahnya."

 

Gudang itu berdiri angkuh di tengah ladang tebu yang sepi. Hanya ada satu lampu neon yang berkedip di atas pintu masuk. Jadmiko merayap di antara batang-batang tebu, matanya tajam mengawasi dua penjaga yang merokok di depan pintu. Mereka menyelipkan sesuatu yang menonjol di balik pinggang mereka.

 

Bukan main-main, pikir Jadmiko. Ini bukan sekadar sindikat kecil.

 

Ia memutar ke arah belakang, menemukan celah di ventilasi udara. Dengan lincah, ia memanjat dan melompat masuk ke dalam. Suasana di dalam gudang itu lembap dan berbau oli mesin. Di tengah ruangan, di bawah sorotan lampu halogen, Heru sedang duduk dengan gemetar di depan sebuah meja kerja. Di depannya berserakan komponen senapan serbu SS2 yang sudah dipreteli.

 

"Cepat kerjakan, Heru! Kita tidak punya waktu sampai subuh!" bentak seorang pria berbadan tegap dengan dialek yang tidak asing bagi Jadmiko.

 

"Sabar, Pak... ini pin penguncinya aus, saya harus buat yang baru manual," sahut Heru dengan suara bergetar.

 

Jadmiko mengamati dari balik tumpukan peti kayu. Ada sekitar lima orang di sana. Semuanya bersenjata. Ia merogoh sabuknya, mengeluarkan beberapa butir kelereng besi dan sebuah ketapel modifikasi.

 

Clak!

 

Lampu halogen pecah seketika. Ruangan menjadi gelap gulita.

 

"Woi! Siapa itu?!" teriak salah satu penjaga.

 

"Tiarap, Heru!" teriak Jadmiko.

 

Suasana menjadi kacau. Jadmiko bergerak dalam kegelapan seperti bayangan. Ia menggunakan taktik gerilya yang ia pelajari saat masih menjadi penagih utang paling ditakuti di Solo. Satu pukulan di tenggorokan, satu tendangan di ulu hati. Satu per satu penjaga tumbang sebelum mereka sempat menarik pelatuk.

 

"Jangan tembak! Saya cuma tukang servis!" teriak Heru sambil bersembunyi di bawah meja.

 

Jadmiko menyalakan senter kecilnya setelah memastikan semua ancaman sudah dilumpuhkan. Ia mendekati Heru yang masih menggigil.

 

"Ayo bangun. Istrimu menunggu di rumah."

 

"Mas Jadmiko? Kok Mas bisa di sini?" Heru mendongak, wajahnya penuh oli.

 

"Nanti saja penjelasannya. Kita harus keluar dari sini sebelum bala bantuan mereka datang."

 

"Tapi Mas... senjata-senjata ini..."

 

"Biar polisi yang urus. Saya sudah kirim pesan anonim ke Polres."

 

Mereka berlari menuju pintu keluar. Namun, sebuah mobil SUV hitam mendadak berhenti tepat di depan pintu gudang, menghalangi jalan mereka. Lampu jauh mobil itu menyilaukan mata. Jadmiko menarik Heru ke balik tembok.

 

Seseorang keluar dari mobil. Langkah kakinya terdengar mantap di atas tanah berkerikil.

 

"Jadmiko... Jadmiko... selalu saja ikut campur urusan orang," suara itu lembut, namun dingin.

 

Jadmiko membeku. Ia mengenali suara itu. Sosok itu berjalan masuk ke area yang terkena sedikit cahaya bulan.

 

"Bu Sari?" Jadmiko bergumam tak percaya.

 

Wanita yang tadi pagi datang ke kantornya dengan daster batik dan air mata, kini berdiri mengenakan setelan jas hitam elegan dengan sepucuk pistol Glock di tangannya. Tidak ada lagi raut panik. Yang ada hanyalah tatapan predator.

 

"Kaget, Mas?" Sari tersenyum sinis.

 

"Jadi ini semua sandiwara?" tanya Jadmiko sambil menahan amarah.

 

"Aku butuh seseorang untuk memastikan Heru tidak lari saat bekerja di sini. Dan siapa lagi yang lebih hebat dalam menjaga 'aset' selain detektif berpengalaman yang punya sejarah di dunia hitam?"

 

"Anda yang memimpin jaringan senjata gelap ini?"

 

"Suami saya ini terlalu pintar untuk jadi sekadar tukang bubut, Mas Jadmiko. Tapi dia terlalu penakut. Jadi aku harus sedikit menekan dia dengan skenario 'penculikan' dan 'janda muda' agar dia mau bekerja maksimal di bawah pengawasanmu yang tidak sengaja."

 

"Sari... kamu gila! Kamu bilang kamu diancam!" Heru berteriak dari balik punggung Jadmiko.

 

"Diam kamu, Heru! Kalau bukan karena bisnis ini, kita tidak akan bisa makan enak!" bentak Sari.

 

Jadmiko menghela napas panjang. Ia meraba sakunya, menyentuh sesuatu. "Anda melakukan kesalahan besar, Bu Sari."

 

"Kesalahan apa? Aku punya pistol, dan kamu cuma punya ketapel."

 

"Kesalahan Anda adalah meremehkan prinsip saya. Saya dibayar untuk membawa suami Anda pulang. Dan saya akan membawanya pulang, tapi bukan ke rumah Anda."

 

"Oh ya? Ke mana?"

 

Jadmiko menekan sebuah tombol di jam tangannya. [Sinyal Aktif]. Tiba-tiba, suara sirine polisi menderu-deru dari segala penjuru ladang tebu. Cahaya lampu rotator biru dan merah mulai membelah kegelapan malam.

 

"Saya sudah tahu ada yang tidak beres sejak Anda menyebut nama Maya. Maya adalah informan saya sejak lima tahun lalu. Dia sudah memberi tahu saya semuanya lewat pesan singkat tepat setelah Anda keluar dari kantor saya tadi pagi."

 

Wajah Sari menjadi pucat pasi. "Kamu... kamu menjebakku?"

 

"Saya hanya melakukan pekerjaan saya. Dan tarif untuk menangkap bos sindikat senjata gelap jauh lebih mahal daripada emas simpanan Anda."

 

Sari mengangkat pistolnya, tapi Jadmiko lebih cepat. Sebuah kelereng besi meluncur dari ketapelnya, menghantam pergelangan tangan Sari hingga pistolnya terjatuh. Polisi mulai merangsek masuk ke dalam gudang.

 

"Jadmiko! Kamu tidak akan selamat di kota ini setelah ini!" teriak Sari saat tangannya diborgol oleh petugas.

 

Jadmiko hanya terdiam, menatap Heru yang terduduk lemas di lantai. Ia berjalan mendekati pria itu dan menepuk bahunya.

 

"Mas... jadi Sari benar-benar penjahatnya?" tanya Heru dengan suara parau.

 

Jadmiko mengambil sisa rokok di kantongnya, menyalakannya di tengah hiruk-pikuk penangkapan itu. Ia menatap langit malam Solo yang mulai memudar, menyambut fajar yang akan segera datang.

 

"Terkadang, orang yang paling dekat adalah orang yang paling asing bagi kita, Mas Heru."

 

"Lalu sekarang saya harus bagaimana?"

 

Jadmiko mengembuskan asap rokoknya ke udara, lalu menatap Heru dengan pandangan yang sulit diartikan.

 

"Ikut saya ke kantor, ada seseorang yang ingin bicara denganmu."

 

"Siapa?"

 

"Maya, dia bukan janda, dia agen intelijen yang sudah mengejar istrimu selama dua tahun."

 

Heru ternganga. Jadmiko berjalan menuju motornya, meninggalkan kekacauan di gudang itu. Namun, langkahnya terhenti saat seorang polisi senior mendekatinya.

 

"Kerja bagus, Jadmiko. Tapi ada satu masalah."


 

"Apa lagi, Pak?"

 

"Data di laptop Sari... ada nama kamu di daftar penerima aliran dana lima tahun lalu."

 

Jadmiko terdiam sejenak, lalu menoleh dengan senyum tipis yang misterius.

 

"Lalu, siapa sebenarnya yang sedang kita buru sekarang, Pak?"

 

 

Spirov Lengking, 62028003211811


Tidak ada komentar:

Posting Komentar