Rabu, 29 Juli 2026

Wawancara Eksklusif: Mengapa Manusia Mudah Diadu Domba?

 

Sebuah Obrolan Santai Namun Penuh Makna Bersama Ahli Segala Bidang dan CEO Keripik Singkong

 

"Manusia itu makhluk yang kompleks, Mbak Brenda. Penuh paradoks. Bisa jadi filsuf agung, bisa juga jadi korban adu domba hanya karena sehelai daun talas."

— Prof. Dr. Mesem Ngguyu

 

Selamat datang, para pembaca setia! Hari ini, Studio 705 kembali menghadirkan sebuah sesi wawancara yang dijamin akan mengocok perut sekaligus mencerdaskan akal budi Anda. Duduk di hadapan saya, Mbak Brenda Ganesha, S.Pd., S.Hub.Int., S.T., jurnalis, presenter, pengusaha keripik singkong sukses, dan CEO Studio 705 yang multitalenta, adalah sosok yang tak perlu lagi diperkenalkan. Beliau adalah Profesor Dr. Mesem Ngguyu, S.S., S.Sos., S.Pd., S.H., S.E., S.Kom., S.T., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Kom., M.T., M.H., Ph.D., D.Litt. Ya, Anda tidak salah baca. Beliau adalah Dosen Filsafat dan Ahli Segala Bidang di Alam Semesta. Mari kita sapa beliau!

 

MBG: Selamat siang, Profesor! Sebuah kehormatan besar bisa berbincang dengan Bapak yang gelarnya saja sudah bisa dipakai untuk membangun jembatan antar galaksi. Apa kabar, Prof?

 

PMN: (Tersenyum lebar, membetulkan kacamata yang melorot di hidung mancungnya) Selamat siang, Mbak Brenda yang visioner dan penuh inovasi, dari keripik singkong hingga studio televisi! Kabar saya luar biasa, senantiasa merenungi eksistensi dan non-eksistensi, serta sesekali memikirkan bagaimana cara agar keripik singkong Anda bisa sampai ke Mars. Tapi itu topik lain. Hari ini, saya siap mengupas tuntas fenomena adu domba yang (sayangnya) masih merajalela di kalangan Homo sapiens.

 

MBG: Wah, saya jadi tidak sabar, Prof! Topik kita hari ini sangat relevan. Banyak sekali fenomena di masyarakat di mana orang mudah sekali terprovokasi, gampang diadu domba. Menurut pandangan filosofis dan keahlian Anda yang melintasi berbagai bidang, apa sih penyebab utamanya? Kami sudah merangkum tujuh poin yang sering disebut-sebut. Mari kita mulai dari yang pertama: Kebodohan.

 

1. Kebodohan: Fondasi Kerentanan

 

PMN: Ah, kebodohan! Sebuah konsep yang sering disalahpahami. Kebodohan ini bukan melulu soal nilai ujian matematika yang jeblok, Mbak Brenda. Ini adalah kebodohan struktural, kebodohan yang malas mencari tahu, kebodohan yang nyaman di zona "pokoknya saya percaya". Ingat kata Socrates, "Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa Anda tidak tahu apa-apa." Nah, orang yang bodoh dalam konteks ini adalah mereka yang merasa tahu segalanya, padahal tidak tahu apa-apa, dan lebih parah lagi, tidak mau tahu bahwa mereka tidak tahu apa-apa!

 

Manipulator itu cerdik. Mereka tidak perlu menciptakan kebohongan yang terlalu rumit. Cukup sedikit bumbu, sedikit dramatisasi, dan BOOM! Narasi yang memecah belah pun jadi santapan lezat bagi mereka yang malas berpikir kritis. Mereka menelan mentah-mentah informasi, apalagi jika itu datang dari "influencer" yang mereka idolakan, tanpa sedikitpun niat untuk memverifikasi. Ini seperti makan keripik singkong basi, Mbak. Enak di awal, tapi ujungnya sakit perut dan penyesalan. Bedanya, keripik Anda tidak pernah basi.

 

MBG: (Tertawa) Terima kasih, Prof! Jadi, kebodohan itu lebih ke arah malas berpikir, ya? Bukan cuma soal tingkat pendidikan formal?

 

PMN: Tepat sekali! Pendidikan formal itu penting, tapi berpikir kritis itu latihan seumur hidup. Tanpa sikap kritis, kita mudah dipecah oleh isu dan berita bohong.

 

2. Kemiskinan: Kerentanan Ekonomi dan Emosional

 

MBG: Baik, Prof. Poin kedua adalah kemiskinan. Apakah kemiskinan benar-benar membuat seseorang lebih mudah diadu domba?

 

PMN: Tentu saja! Kemiskinan itu bukan hanya soal tidak punya uang, Mbak. Ini adalah kondisi yang menggerus martabat, mengikis harapan, dan menumpulkan akal sehat. Ketika perut kosong, janji-janji manis, sekecil apapun, akan terdengar seperti melodi surgawi. Orang miskin, dalam keputusasaan mereka, menjadi sangat rentan terhadap godaan. Mereka bisa saja dijanjikan imbalan kecil, sekadar nasi bungkus atau uang receh, untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya merugikan diri sendiri dan komunitasnya. Ini adalah eksploitasi kemanusiaan yang paling dasar. Mereka tidak punya kemewahan untuk berpikir panjang, karena harus memikirkan bagaimana bertahan hidup hari ini.

 

MBG: Jadi, kemiskinan membuat mereka lebih mudah diiming-imingi dan dimanipulasi, ya?

 

PMN: Persis! Ketika kesejahteraan terganggu, pola pikir dan perilaku ekonomi masyarakat juga terdampak. Mereka yang memiliki tingkat kesejahteraan rendah cenderung kurang logis dalam berpikir. Ini adalah tragedi sosiologis.

 

3. Pengangguran: Ruang Hampa yang Mudah Terisi

 

MBG: Lanjut ke poin ketiga, pengangguran. Bagaimana status pengangguran berkontribusi pada kerentanan ini, Prof?

 

PMN: Ah, pengangguran! Ini adalah saudara kandung kemiskinan, namun dengan dimensi psikologis yang lebih dalam. Orang yang menganggur seringkali merasa tidak berguna, kehilangan tujuan, dan terasing dari masyarakat. Dalam kehampaan inilah, ide-ide ekstrem atau provokasi yang menawarkan "solusi instan" atau "musuh bersama" menjadi sangat menarik. Mereka mencari identitas, mencari validasi, dan sayangnya, para manipulator sangat lihai dalam menyediakan hal itu. Mereka menawarkan "tujuan" semu, "kekuatan" palsu, dan "kebersamaan" yang sejatinya hanya untuk memecah belah.

 

MBG: Jadi, semacam mencari pegangan di tengah ketidakpastian, ya?

 

PMN: Betul sekali, Mbak Brenda. Ketika seseorang tidak memiliki pekerjaan yang memberikan struktur dan makna pada hidupnya, mereka cenderung lebih mudah terombang-ambing oleh narasi-narasi yang provokatif. Otak kita benci kekosongan, Mbak. Jika tidak diisi dengan hal-hal produktif, ia akan diisi dengan hal-hal yang (seringkali) destruktif.

 

4. Iri dan Dengki: Api dalam Sekam

 

MBG: Poin keempat ini cukup universal, Prof: Suka iri dan dengki. Ini sepertinya sudah ada sejak zaman batu, ya?

 

PMN: Ah, iri dan dengki! Ini adalah bumbu penyedap paling ampuh bagi para pengadu domba. Hasad dan dengki adalah sebab-sebab adu domba. Perasaan ini seperti api dalam sekam, Mbak Brenda. Ia membara perlahan, merusak dari dalam, dan siap meledak jika ada yang memercikkan sumbu. Manipulator itu seperti ahli piroteknik ulung. Mereka tahu persis di mana letak sekam-sekam iri dan dengki di masyarakat, lalu mereka lemparkan percikan api. "Lihat tetanggamu itu, dia lebih kaya, dia lebih sukses, padahal kerjanya cuma tidur!" atau "Mereka itu dapat keuntungan lebih, kita tidak!" Narasi-narasi seperti ini memicu komparasi sosial yang destruktif, mengubah tetangga menjadi musuh, dan teman menjadi lawan.

 

MBG: Jadi, manipulator hanya perlu memperbesar api yang sudah ada, ya?

 

PMN: Tepat sekali! Mereka tidak perlu menciptakan kebencian dari nol. Cukup memperkuat prasangka, memperuncing perbedaan, dan membesar-besarkan ketidakadilan (yang kadang memang ada, tapi dibumbui secara berlebihan). Perasaan iri dan dengki ini adalah racun yang pelan-pelan membunuh persatuan.

 

5. Hanya Bisa Ngomong: Bising Tanpa Substansi

 

MBG: Poin kelima ini cukup menohok, Prof: Tidak punya kemampuan apa pun selain ngomong. Bagaimana ini bisa menjadi pemicu?

 

PMN: Ah, ini fenomena "keyboard warrior" dan "netizen maha benar" di era digital! (Menghela napas dramatis) Di zaman sekarang, setiap orang merasa punya panggung. Mereka bisa menulis status, berkomentar, atau membuat video tanpa filter dan tanpa konsekuensi nyata. Mereka punya banyak opini, tapi minim data. Banyak retorika, tapi nihil karya. Orang-orang semacam ini, yang hanya bisa "ngomong" tanpa substansi atau kemampuan praktis, seringkali merasa perlu mencari "musuh" untuk merasa relevan. Mereka mencari validasi dari keributan, bukan dari kontribusi.

 

Ketika seseorang tidak punya keahlian yang bisa diukur, tidak punya karya yang bisa dibanggakan, apa yang tersisa? Kebisingan. Dan kebisingan itu, Mbak Brenda, adalah lahan subur bagi adu domba. Para manipulator memanfaatkannya dengan menyediakan "target" untuk dibicarakan, untuk dihujat, untuk diadu. Ini adalah semacam "terapi" bagi mereka yang merasa inferior namun ingin merasa superior dengan menjatuhkan orang lain.

 

MBG: Jadi, seperti mencari panggung dengan cara yang destruktif, ya?

 

PMN: Betul sekali. Mereka mencari perhatian, dan para manipulator tahu bagaimana mengarahkan perhatian itu untuk tujuan mereka. Ini adalah bentuk manipulasi psikologis yang licik.

 

6. Pemalas: Jalan Pintas Menuju Konflik

 

MBG: Poin keenam, Prof: Pemalas. Apakah kemalasan juga bisa membuat orang mudah diadu domba?

 

PMN: Oh, kemalasan! Ini adalah akar dari banyak kejahatan, Mbak Brenda, termasuk kejahatan intelektual. Orang yang malas tidak mau repot-repot mencari kebenaran. Mereka malas membaca, malas memverifikasi, malas berpikir secara mendalam. Mereka lebih suka disuapi informasi yang sudah jadi, sesederhana dan sesederktif apapun itu. Manipulator menawarkan "solusi" yang mudah: "Ikuti saja kami, kami akan memberimu semua jawaban, kami akan memberimu musuh yang jelas."

 

Kemalasan membuat seseorang mudah menerima narasi yang disederhanakan, bahkan jika narasi itu penuh kebencian dan memecah belah. Mereka tidak punya energi untuk menggali kompleksitas masalah, sehingga mereka akan memilih penjelasan yang paling gampang, yang paling sesuai dengan prasangka mereka, atau yang paling banyak diulang-ulang. Ini adalah jalan pintas menuju konflik, karena kebenaran itu seringkali rumit, dan kerumitan itu butuh usaha untuk dipahami.

 

MBG: Jadi, kemalasan itu melahirkan kemudahan untuk dimanipulasi, ya?

 

PMN: Tepat sekali. Ini adalah lingkaran setan: malas berpikir, mudah percaya hoaks, lalu mudah diadu domba.

 

7. Tidak Kreatif: Terjebak dalam Pola Lama

 

MBG: Dan terakhir, Prof, poin ketujuh: Tidak kreatif. Ini menarik. Bagaimana ketidakreaktifan berkontribusi pada fenomena adu domba?

 

PMN: Ah, kreativitas! Ini bukan hanya soal melukis atau membuat lagu, Mbak Brenda. Kreativitas adalah kemampuan untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang, untuk mencari solusi yang inovatif, dan untuk membayangkan masa depan yang lebih baik. Orang yang tidak kreatif cenderung terjebak dalam pola pikir lama, dalam dikotomi "kita versus mereka", dalam solusi yang sudah usang. Mereka tidak bisa membayangkan adanya titik temu, adanya kompromi, atau adanya jalan ketiga.

 

Manipulator sangat suka dengan orang yang tidak kreatif. Karena orang-orang ini tidak akan mempertanyakan narasi yang disuguhkan. Mereka tidak akan mencari alternatif. Mereka akan loyal pada satu ide, satu kelompok, satu pemimpin, bahkan jika itu berarti merugikan diri mereka sendiri atau masyarakat luas. Mereka adalah pengikut yang sempurna, karena mereka tidak punya inisiatif untuk berpikir di luar kotak yang sudah dibuatkan oleh manipulator.

 

MBG: Jadi, kreativitas itu penting untuk membangun jembatan dan mencari solusi, bukan hanya untuk seni, ya?

 

PMN: Tepat sekali! Kreativitas adalah kunci untuk melampaui konflik dan melihat potensi kolaborasi. Tanpa itu, kita hanya akan terus berputar dalam lingkaran permusuhan yang diciptakan oleh orang-orang yang ingin melihat kita terpecah belah.

 

"Untuk melawan taktik adu domba, kita perlu membangun sikap kritis. Berani mengajukan pertanyaan rasional tentang berbagai berita yang kita dengar, terutama yang menimbulkan kecurigaan dan perpecahan. Kita juga perlu peka dengan hubungan kekuasaan yang ada dan bertanya, siapa yang diuntungkan dari perpecahan ini?"

— Prof. Dr. Mesem Ngguyu

 

MBG: Luar biasa sekali, Prof! Penjelasan Anda sangat mencerahkan dan, tentu saja, sangat menghibur. Saya jadi berpikir, mungkin saya harus menambahkan mata kuliah "Filsafat Keripik Singkong untuk Mencegah Adu Domba" di Studio 705.

 

PMN: (Tertawa renyah) Ide yang brilian, Mbak Brenda! Saya siap menjadi dosen tamu. Intinya, Mbak, untuk tidak mudah diadu domba, kita perlu tiga hal: akal sehat yang diasah, hati yang lapang, dan dompet yang cukup tebal agar tidak mudah diiming-imingi. Dan tentu saja, jangan lupa makan keripik singkong Anda, karena energi itu penting untuk berpikir!

 

MBG: (Tersenyum) Catat itu, pemirsa! Pesan dari Profesor Dr. Mesem Ngguyu, Ahli Segala Bidang di Alam Semesta. Terima kasih banyak, Prof, atas waktu dan pencerahannya yang luar biasa.

 

PMN: Sama-sama, Mbak Brenda. Kapan-kapan kita bahas mengapa kucing selalu mendarat dengan kakinya. Itu juga filosofis, lho!

 


Dan begitulah, pemirsa Studio 705, wawancara kita dengan Profesor Dr. Mesem Ngguyu yang selalu penuh kejutan. Semoga pencerahan ini membuat kita semua lebih waspada dan tidak mudah terjerat dalam lingkaran adu domba. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!

 

Spirov Lengking, 620270822207

Tidak ada komentar:

Posting Komentar