Sebuah Obrolan Santai Namun Penuh Makna Bersama Ahli Segala Bidang dan CEO Keripik Singkong
"Manusia
itu makhluk yang kompleks, Mbak Brenda. Penuh paradoks. Bisa jadi filsuf agung,
bisa juga jadi korban adu domba hanya karena sehelai daun talas."
—
Prof. Dr. Mesem Ngguyu
Selamat
datang, para pembaca setia! Hari ini, Studio 705 kembali menghadirkan sebuah
sesi wawancara yang dijamin akan mengocok perut sekaligus mencerdaskan akal
budi Anda. Duduk di hadapan saya, Mbak Brenda Ganesha, S.Pd., S.Hub.Int., S.T.,
jurnalis, presenter, pengusaha keripik singkong sukses, dan CEO Studio 705 yang
multitalenta, adalah sosok yang tak perlu lagi diperkenalkan. Beliau adalah
Profesor Dr. Mesem Ngguyu, S.S., S.Sos., S.Pd., S.H., S.E., S.Kom., S.T.,
M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Kom., M.T., M.H., Ph.D., D.Litt. Ya, Anda tidak
salah baca. Beliau adalah Dosen Filsafat dan Ahli Segala Bidang di Alam
Semesta. Mari kita sapa beliau!
MBG:
Selamat siang, Profesor! Sebuah kehormatan besar bisa berbincang dengan Bapak
yang gelarnya saja sudah bisa dipakai untuk membangun jembatan antar galaksi.
Apa kabar, Prof?
PMN:
(Tersenyum lebar, membetulkan kacamata yang melorot di hidung mancungnya)
Selamat siang, Mbak Brenda yang visioner dan penuh inovasi, dari keripik
singkong hingga studio televisi! Kabar saya luar biasa, senantiasa merenungi
eksistensi dan non-eksistensi, serta sesekali memikirkan bagaimana cara agar
keripik singkong Anda bisa sampai ke Mars. Tapi itu topik lain. Hari ini, saya
siap mengupas tuntas fenomena adu domba yang (sayangnya) masih merajalela di
kalangan Homo sapiens.
MBG:
Wah, saya jadi tidak sabar, Prof! Topik kita hari ini sangat relevan. Banyak
sekali fenomena di masyarakat di mana orang mudah sekali terprovokasi, gampang
diadu domba. Menurut pandangan filosofis dan keahlian Anda yang melintasi
berbagai bidang, apa sih penyebab utamanya? Kami sudah merangkum tujuh poin
yang sering disebut-sebut. Mari kita mulai dari yang pertama: Kebodohan.
1.
Kebodohan: Fondasi Kerentanan
PMN:
Ah, kebodohan! Sebuah konsep yang sering disalahpahami. Kebodohan ini bukan
melulu soal nilai ujian matematika yang jeblok, Mbak Brenda. Ini adalah
kebodohan struktural, kebodohan yang malas mencari tahu, kebodohan yang nyaman
di zona "pokoknya saya percaya". Ingat kata Socrates,
"Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa Anda tidak tahu
apa-apa." Nah, orang yang bodoh dalam konteks ini adalah mereka yang
merasa tahu segalanya, padahal tidak tahu apa-apa, dan lebih parah lagi, tidak
mau tahu bahwa mereka tidak tahu apa-apa!
Manipulator
itu cerdik. Mereka tidak perlu menciptakan kebohongan yang terlalu rumit. Cukup
sedikit bumbu, sedikit dramatisasi, dan BOOM! Narasi yang memecah belah pun
jadi santapan lezat bagi mereka yang malas berpikir kritis. Mereka menelan
mentah-mentah informasi, apalagi jika itu datang dari "influencer"
yang mereka idolakan, tanpa sedikitpun niat untuk memverifikasi. Ini seperti
makan keripik singkong basi, Mbak. Enak di awal, tapi ujungnya sakit perut dan
penyesalan. Bedanya, keripik Anda tidak pernah basi.
MBG:
(Tertawa) Terima kasih, Prof! Jadi, kebodohan itu lebih ke arah malas berpikir,
ya? Bukan cuma soal tingkat pendidikan formal?
PMN:
Tepat sekali! Pendidikan formal itu penting, tapi berpikir kritis itu latihan
seumur hidup. Tanpa sikap kritis, kita mudah dipecah oleh isu dan berita
bohong.
2.
Kemiskinan: Kerentanan Ekonomi dan Emosional
MBG:
Baik, Prof. Poin kedua adalah kemiskinan. Apakah kemiskinan benar-benar membuat
seseorang lebih mudah diadu domba?
PMN:
Tentu saja! Kemiskinan itu bukan hanya soal tidak punya uang, Mbak. Ini adalah
kondisi yang menggerus martabat, mengikis harapan, dan menumpulkan akal sehat.
Ketika perut kosong, janji-janji manis, sekecil apapun, akan terdengar seperti
melodi surgawi. Orang miskin, dalam keputusasaan mereka, menjadi sangat rentan
terhadap godaan. Mereka bisa saja dijanjikan imbalan kecil, sekadar nasi
bungkus atau uang receh, untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya merugikan diri
sendiri dan komunitasnya. Ini adalah eksploitasi kemanusiaan yang paling dasar.
Mereka tidak punya kemewahan untuk berpikir panjang, karena harus memikirkan
bagaimana bertahan hidup hari ini.
MBG:
Jadi, kemiskinan membuat mereka lebih mudah diiming-imingi dan dimanipulasi,
ya?
PMN:
Persis! Ketika kesejahteraan terganggu, pola pikir dan perilaku ekonomi
masyarakat juga terdampak. Mereka yang memiliki tingkat kesejahteraan rendah
cenderung kurang logis dalam berpikir. Ini adalah tragedi sosiologis.
3.
Pengangguran: Ruang Hampa yang Mudah Terisi
MBG:
Lanjut ke poin ketiga, pengangguran. Bagaimana status pengangguran
berkontribusi pada kerentanan ini, Prof?
PMN:
Ah, pengangguran! Ini adalah saudara kandung kemiskinan, namun dengan dimensi
psikologis yang lebih dalam. Orang yang menganggur seringkali merasa tidak
berguna, kehilangan tujuan, dan terasing dari masyarakat. Dalam kehampaan
inilah, ide-ide ekstrem atau provokasi yang menawarkan "solusi
instan" atau "musuh bersama" menjadi sangat menarik. Mereka mencari
identitas, mencari validasi, dan sayangnya, para manipulator sangat lihai dalam
menyediakan hal itu. Mereka menawarkan "tujuan" semu,
"kekuatan" palsu, dan "kebersamaan" yang sejatinya hanya
untuk memecah belah.
MBG:
Jadi, semacam mencari pegangan di tengah ketidakpastian, ya?
PMN:
Betul sekali, Mbak Brenda. Ketika seseorang tidak memiliki pekerjaan yang
memberikan struktur dan makna pada hidupnya, mereka cenderung lebih mudah
terombang-ambing oleh narasi-narasi yang provokatif. Otak kita benci
kekosongan, Mbak. Jika tidak diisi dengan hal-hal produktif, ia akan diisi
dengan hal-hal yang (seringkali) destruktif.
4.
Iri dan Dengki: Api dalam Sekam
MBG:
Poin keempat ini cukup universal, Prof: Suka iri dan dengki. Ini sepertinya
sudah ada sejak zaman batu, ya?
PMN:
Ah, iri dan dengki! Ini adalah bumbu penyedap paling ampuh bagi para pengadu
domba. Hasad dan dengki adalah sebab-sebab adu domba. Perasaan ini seperti api
dalam sekam, Mbak Brenda. Ia membara perlahan, merusak dari dalam, dan siap
meledak jika ada yang memercikkan sumbu. Manipulator itu seperti ahli
piroteknik ulung. Mereka tahu persis di mana letak sekam-sekam iri dan dengki
di masyarakat, lalu mereka lemparkan percikan api. "Lihat tetanggamu itu,
dia lebih kaya, dia lebih sukses, padahal kerjanya cuma tidur!" atau
"Mereka itu dapat keuntungan lebih, kita tidak!" Narasi-narasi
seperti ini memicu komparasi sosial yang destruktif, mengubah tetangga menjadi
musuh, dan teman menjadi lawan.
MBG:
Jadi, manipulator hanya perlu memperbesar api yang sudah ada, ya?
PMN:
Tepat sekali! Mereka tidak perlu menciptakan kebencian dari nol. Cukup
memperkuat prasangka, memperuncing perbedaan, dan membesar-besarkan
ketidakadilan (yang kadang memang ada, tapi dibumbui secara berlebihan).
Perasaan iri dan dengki ini adalah racun yang pelan-pelan membunuh persatuan.
5.
Hanya Bisa Ngomong: Bising Tanpa Substansi
MBG:
Poin kelima ini cukup menohok, Prof: Tidak punya kemampuan apa pun selain
ngomong. Bagaimana ini bisa menjadi pemicu?
PMN:
Ah, ini fenomena "keyboard warrior" dan "netizen maha
benar" di era digital! (Menghela napas dramatis) Di zaman sekarang, setiap
orang merasa punya panggung. Mereka bisa menulis status, berkomentar, atau
membuat video tanpa filter dan tanpa konsekuensi nyata. Mereka punya banyak
opini, tapi minim data. Banyak retorika, tapi nihil karya. Orang-orang semacam
ini, yang hanya bisa "ngomong" tanpa substansi atau kemampuan
praktis, seringkali merasa perlu mencari "musuh" untuk merasa relevan.
Mereka mencari validasi dari keributan, bukan dari kontribusi.
Ketika
seseorang tidak punya keahlian yang bisa diukur, tidak punya karya yang bisa
dibanggakan, apa yang tersisa? Kebisingan. Dan kebisingan itu, Mbak Brenda,
adalah lahan subur bagi adu domba. Para manipulator memanfaatkannya dengan
menyediakan "target" untuk dibicarakan, untuk dihujat, untuk diadu.
Ini adalah semacam "terapi" bagi mereka yang merasa inferior namun
ingin merasa superior dengan menjatuhkan orang lain.
MBG:
Jadi, seperti mencari panggung dengan cara yang destruktif, ya?
PMN:
Betul sekali. Mereka mencari perhatian, dan para manipulator tahu bagaimana
mengarahkan perhatian itu untuk tujuan mereka. Ini adalah bentuk manipulasi
psikologis yang licik.
6.
Pemalas: Jalan Pintas Menuju Konflik
MBG:
Poin keenam, Prof: Pemalas. Apakah kemalasan juga bisa membuat orang mudah
diadu domba?
PMN:
Oh, kemalasan! Ini adalah akar dari banyak kejahatan, Mbak Brenda, termasuk
kejahatan intelektual. Orang yang malas tidak mau repot-repot mencari
kebenaran. Mereka malas membaca, malas memverifikasi, malas berpikir secara
mendalam. Mereka lebih suka disuapi informasi yang sudah jadi, sesederhana dan
sesederktif apapun itu. Manipulator menawarkan "solusi" yang mudah:
"Ikuti saja kami, kami akan memberimu semua jawaban, kami akan memberimu
musuh yang jelas."
Kemalasan
membuat seseorang mudah menerima narasi yang disederhanakan, bahkan jika narasi
itu penuh kebencian dan memecah belah. Mereka tidak punya energi untuk menggali
kompleksitas masalah, sehingga mereka akan memilih penjelasan yang paling
gampang, yang paling sesuai dengan prasangka mereka, atau yang paling banyak
diulang-ulang. Ini adalah jalan pintas menuju konflik, karena kebenaran itu
seringkali rumit, dan kerumitan itu butuh usaha untuk dipahami.
MBG:
Jadi, kemalasan itu melahirkan kemudahan untuk dimanipulasi, ya?
PMN:
Tepat sekali. Ini adalah lingkaran setan: malas berpikir, mudah percaya hoaks,
lalu mudah diadu domba.
7.
Tidak Kreatif: Terjebak dalam Pola Lama
MBG:
Dan terakhir, Prof, poin ketujuh: Tidak kreatif. Ini menarik. Bagaimana
ketidakreaktifan berkontribusi pada fenomena adu domba?
PMN:
Ah, kreativitas! Ini bukan hanya soal melukis atau membuat lagu, Mbak Brenda.
Kreativitas adalah kemampuan untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang,
untuk mencari solusi yang inovatif, dan untuk membayangkan masa depan yang
lebih baik. Orang yang tidak kreatif cenderung terjebak dalam pola pikir lama,
dalam dikotomi "kita versus mereka", dalam solusi yang sudah usang.
Mereka tidak bisa membayangkan adanya titik temu, adanya kompromi, atau adanya
jalan ketiga.
Manipulator
sangat suka dengan orang yang tidak kreatif. Karena orang-orang ini tidak akan
mempertanyakan narasi yang disuguhkan. Mereka tidak akan mencari alternatif.
Mereka akan loyal pada satu ide, satu kelompok, satu pemimpin, bahkan jika itu
berarti merugikan diri mereka sendiri atau masyarakat luas. Mereka adalah
pengikut yang sempurna, karena mereka tidak punya inisiatif untuk berpikir di
luar kotak yang sudah dibuatkan oleh manipulator.
MBG:
Jadi, kreativitas itu penting untuk membangun jembatan dan mencari solusi,
bukan hanya untuk seni, ya?
PMN:
Tepat sekali! Kreativitas adalah kunci untuk melampaui konflik dan melihat
potensi kolaborasi. Tanpa itu, kita hanya akan terus berputar dalam lingkaran
permusuhan yang diciptakan oleh orang-orang yang ingin melihat kita terpecah
belah.
"Untuk
melawan taktik adu domba, kita perlu membangun sikap kritis. Berani mengajukan
pertanyaan rasional tentang berbagai berita yang kita dengar, terutama yang
menimbulkan kecurigaan dan perpecahan. Kita juga perlu peka dengan hubungan
kekuasaan yang ada dan bertanya, siapa yang diuntungkan dari perpecahan
ini?"
—
Prof. Dr. Mesem Ngguyu
MBG:
Luar biasa sekali, Prof! Penjelasan Anda sangat mencerahkan dan, tentu saja,
sangat menghibur. Saya jadi berpikir, mungkin saya harus menambahkan mata
kuliah "Filsafat Keripik Singkong untuk Mencegah Adu Domba" di Studio
705.
PMN:
(Tertawa renyah) Ide yang brilian, Mbak Brenda! Saya siap menjadi dosen tamu.
Intinya, Mbak, untuk tidak mudah diadu domba, kita perlu tiga hal: akal sehat
yang diasah, hati yang lapang, dan dompet yang cukup tebal agar tidak mudah
diiming-imingi. Dan tentu saja, jangan lupa makan keripik singkong Anda, karena
energi itu penting untuk berpikir!
MBG:
(Tersenyum) Catat itu, pemirsa! Pesan dari Profesor Dr. Mesem Ngguyu, Ahli
Segala Bidang di Alam Semesta. Terima kasih banyak, Prof, atas waktu dan
pencerahannya yang luar biasa.
PMN:
Sama-sama, Mbak Brenda. Kapan-kapan kita bahas mengapa kucing selalu mendarat
dengan kakinya. Itu juga filosofis, lho!
Dan
begitulah, pemirsa Studio 705, wawancara kita dengan Profesor Dr. Mesem Ngguyu
yang selalu penuh kejutan. Semoga pencerahan ini membuat kita semua lebih
waspada dan tidak mudah terjerat dalam lingkaran adu domba. Sampai jumpa di
kesempatan berikutnya!
Spirov Lengking, 620270822207
Tidak ada komentar:
Posting Komentar