Sabtu, 01 Agustus 2026

JAGAL BERTOPENG PUTIH

Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Desa Bosil ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di depan kantor kepala desa. Debu jalanan Kecamatan Rancid seolah enggan menempel pada bodi mobil yang mengkilap itu.

 

"Ini beneran dia, Bos?" Noga, sang preman tangan kanan, menyipitkan mata.

 

Lepastere mengisap cerutunya dalam-dalam. "Kabarnya begitu. Sadewi sudah jadi desainer kondang di luar negeri. Sekarang dia mau balik buat investasi di sini."

 

"Investasi atau balas dendam?" Phiri menyela sambil menyesuaikan letak kacamatanya. Intelektual pengangguran itu selalu merasa lebih pintar dari siapa pun di ruangan itu.

 

"Balas dendam buat apa? Kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Videonya juga sudah hilang dari peredaran, kan?" Kolobe, sang politisi kampung, tertawa kecil. Tawa yang terdengar dipaksakan untuk menutupi kebodohannya.

 

Pintu mobil terbuka. Seorang wanita turun dengan keanggunan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Sadewi mengenakan terusan sutra yang melambai ditiup angin sore. Ia melangkah mantap menuju teras kantor.

 

"Selamat sore, Bapak-bapak sekalian," sapa Sadewi dengan senyum manis yang memikat sukma.

 

"Selamat datang kembali, Putri Bidadari kita yang hilang!" Lepastere merentangkan tangan seolah menyambut pahlawan.

 

Sadewi terkekeh pelan. "Ah, sebutan itu sudah tidak pantas untuk saya, Pak Kades. Saya di sini murni untuk bisnis."

 

"Tentu, tentu. Saya dengar kamu mau buka jaringan rumah makan di Rancid?" Lepastere mempersilakan Sadewi duduk.

 

"Betul. Saya melihat potensi besar di Desa Bosil. Saya ingin merangkul warga lokal yang jago masak. Kita buat wadah organisasi bisnis yang profesional," jelas Sadewi.

 

"Dan tentu saja, pemerintah desa harus dilibatkan, kan?" Kolobe menimpali dengan nada serakah yang kentara.

 

Sadewi menoleh ke arah Kolobe. "Tentu, Pak Kolobe. Tanpa restu penguasa lokal, bisnis tidak akan jalan. Saya butuh kerja sama Bapak-bapak untuk memuluskan izin dan lahan."

 

"Apapun akan kuberikan kamu, Sadewi. Asal pembagiannya jelas," ucap Lepastere sambil menyeringai.

 

"Saya sudah menyiapkan draf kontraknya. Bapak-bapak bisa mempelajarinya," Sadewi mengeluarkan map dari tasnya.

 

"Kamu tidak berubah ya, Dewi. Masih secantik dulu," gumam Noga dengan tatapan nanar.

 

Sadewi tetap tenang, meski hatinya bergejolak mengingat wajah di balik topeng putih bertahun-tahun silam. "Waktu mengubah banyak hal, Noga. Tapi ada beberapa hal yang tetap abadi di ingatan."

 

"Apa itu?" tanya Phiri penasaran.

 

"Rasa lapar akan kesuksesan," jawab Sadewi cepat.

 

Lepastere tertawa terbahak-bahak. "Bagus! Itu semangat yang saya suka. Malam ini kita rayakan kembalinya kamu di rumah makan paling mewah di kecamatan. Saya yang traktir!"

 

"Maaf, Pak Kades. Saya punya janji lain malam ini. Bagaimana kalau kita tunda perayaannya sampai proyek pertama kita berjalan?" Sadewi bangkit dari duduknya.

 

"Kamu sombong sekarang ya?" Noga berdiri, mencoba mengintimidasi.

 

"Bukan sombong, Noga. Hanya efisien. Waktu adalah uang, bukan?" Sadewi menatap Noga tepat di mata.

 

"Sudah, sudah. Jangan kasar sama tamu kita," Lepastere menenangkan Noga.

 

"Terima kasih atas pengertiannya, Pak Kades. Saya permisi dulu," Sadewi berbalik arah.

 

"Dewi, tunggu!" panggil Lepastere.

 

Sadewi berhenti namun tidak menoleh sepenuhnya. "Ya?"

 

"Adikku, Lengeloi, sekarang sudah jadi anggota dewan provinsi. Kamu harus mampir ke rumahnya kapan-kapan," kata Lepastere dengan nada bangga.

 

"Tentu. Saya tidak akan pernah melupakan jasa Lengeloi dalam karier saya dulu," ucap Sadewi dingin.

 

"Maksudmu?" tanya Phiri curiga.

 

"Maksud saya, kalau dia tidak menang kontestasi itu, mungkin dia tidak akan sehebat sekarang, kan?" Sadewi tersenyum tipis.

 

"Benar sekali. Itu semua berkat kerja keras keluarga kami," Lepastere berbangga diri.

 

"Saya pergi dulu, Bapak-bapak terhormat," pamit Sadewi.

 

"Sampai jumpa di meja perundingan besok pagi, Sadewi!" seru Lepastere dari teras.

 

***

 

 

Bisnis Sadewi berkembang lebih cepat dari yang dibayangkan warga Desa Bosil. Dalam waktu singkat, tiga rumah makan besar berdiri di pusat Kecamatan Rancid. Ia mempekerjakan ratusan pemuda desa, membuat Lepastere dan kawan-kawannya merasa memiliki andil besar dalam "kesuksesan" tersebut.

 

"Gila, keuntungan bulan ini naik dua kali lipat!" Kolobe menatap laporan keuangan dengan mata berbinar di kantor pusat Sadewi.

 

"Itu karena manajemen yang rapi, Pak Kolobe. Dan tentu saja, dukungan keamanan dari anak buah Noga," puji Sadewi sambil menuangkan teh.

 

"Anak buah gue stand by terus di depan restoran. Nggak ada yang berani macem-macem," Noga menepuk pinggangnya yang terselip senjata tajam.

 

"Gue heran, kenapa lo milih lokasi yang agak terpencil buat gudang bahan baku?" Phiri bertanya sambil mempelajari peta lokasi bisnis Sadewi.

 

"Logistik, Phiri. Aksesnya lebih dekat ke jalur distribusi utama. Kamu sebagai intelektual harusnya paham itu," jawab Sadewi santai.

 

"Tapi lokasinya dekat rumah gue. Kenapa nggak bilang-bilang?" Phiri menyelidiki.

 

"Justru itu. Biar kamu bisa sering-sering pantau kalau ada yang nggak beres. Kamu kan orang kepercayaan Pak Kades paling teliti," Sadewi memberi sanjungan yang membuat Phiri membusungkan dada.

 

"Pinter juga kamu merayu orang," Lepastere masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu.

 

"Eh, Pak Kades. Silakan duduk," Sadewi menyambutnya.

 

"Lengeloi titip salam. Dia mau kamu jadi sponsor buat acara santunan yatim piatu minggu depan," kata Lepastere.

 

"Tentu. Apapun untuk kemajuan citra adik Bapak. Berapa yang dibutuhkan?" Sadewi mengambil buku cek.

 

"Lima ratus juta. Cukup buat bikin acara meriah di seluruh provinsi," ucap Lepastere tanpa malu.

 

Sadewi menuliskan angka tersebut tanpa ragu. "Ini. Anggap saja  investasi jangka panjang untuk hubungan kita."

 

"Kamu memang rekan bisnis yang luar biasa, Sadewi. Kenapa dulu kamu nggak langsung menyerah saja ya? Malah kabur ke luar negeri," Lepastere tertawa sinis.

 

Tangan Sadewi mengepal di bawah meja, namun wajahnya tetap tenang. "Kalau saya tidak kabur, saya tidak akan punya uang lima ratus juta untuk diberikan secara cuma-cuma sekarang, kan?"

 

"Betul juga. Kadang kehancuran itu memang perlu buat membangun sesuatu yang lebih besar," Phiri menimpali dengan sok filosofis.

 

"Seperti kehancuran keluarga kamu dulu, Phiri? Sampai bapakmu bangkrut dan kamu jadi pengangguran?" Sadewi menyerang balik dengan halus.

 

Wajah Phiri memerah. "Itu... itu masalah lain."

 

"Tenang, Phiri. Sekarang kamu sudah punya posisi di bisnis ini. Jangan baperan," goda Kolobe.

 

"Kapan rencana ekspansi ke luar kota, Dewi?" tanya Lepastere mengalihkan pembicaraan.

 

"Segera. Tapi sebelum itu, saya ingin mengadakan pesta syukuran kecil-kecilan. Hanya untuk kita berlima. Sebagai bentuk terima kasih saya," ujar Sadewi.

 

"Pesta? Di mana?" Noga langsung semangat.

 

"Nanti saya kabari. Yang jelas, tempatnya harus privat. Saya tidak mau diganggu wartawan atau warga," kata Sadewi.

 

"Gue setuju. Privat itu lebih asyik. Bisa sambil minum-minum," Kolobe menyeringai.

 

"Tapi sebelum pesta syukuran itu, ada acara hajatan besar di kampung sebelah besok malam. Kita semua diundang sebagai tamu kehormatan," Lepastere mengingatkan.

 

"Hajatan siapa, Pak Kades?" tanya Sadewi.

 

"Salah satu tokoh masyarakat di Bosil. Kamu wajib datang. Biar orang-orang tahu kalau kamu sekarang ada di pihak kami," perintah Lepastere.

 

"Tentu. Saya akan datang bersama asisten saya," Sadewi mengangguk patuh.

 

"Dandannya yang cantik ya. Kayak malam itu," Noga berbisik saat berpapasan dengan Sadewi menuju pintu keluar.

 

"Tentu, Noga. Lebih cantik dari yang bisa kamu bayangkan," jawab Sadewi dengan nada misterius.

 

"Kenapa perasaan gue nggak enak ya?" Phiri bergumam pelan.

 

"Ah, lo mah emang penakut dari dulu, Phiri! Udah, ayo kita makan-makan pakai uang dari Sadewi!" ajak Kolobe sambil menarik lengan Phiri.

 

Sadewi memperhatikan mereka dari jendela kantornya. Matanya yang dingin menatap punggung keempat pria itu. Ia mengambil ponselnya dan melakukan sebuah panggilan.

 

"Siapkan semuanya untuk besok malam. Jangan ada kesalahan sekecil apa pun," perintah Sadewi pada orang di seberang telepon.

 

"Semua sudah sesuai rencana, Nyonya. Aktrisnya sudah siap," jawab suara di telepon.

 

"Bagus. Pastikan dia tidak bicara terlalu banyak. Biar aku yang melakukan sisanya," tegas Sadewi.

 

"Bagaimana dengan targetnya?"

 

"Biarkan mereka menikmati malam terakhir mereka dengan penuh kesombongan," Sadewi menutup telepon.

 

Ia kemudian berjalan menuju sebuah brankas tersembunyi di balik lukisan. Di dalamnya, tersimpan empat buah topeng putih yang baru saja ia beli. Topeng-topeng itu tampak dingin dan mati, sama seperti hatinya saat ini.

 

"Waktunya segera tiba," bisik Sadewi pada kegelapan ruangan.

 

***

 

 

Malam hajatan di Desa Bosil berlangsung sangat meriah. Lampu-lampu hias menggantung di sepanjang jalan masuk. Suara musik dangdut terdengar hingga ke desa tetangga. Di barisan paling depan, duduklah para tamu kehormatan: Lepastere, Phiri, Kolobe, dan Noga. Di tengah mereka, Sadewi tampak mempesona dengan gaun berwarna merah darah.

 

"Wah, Sadewi! Kamu benar-benar jadi pusat perhatian malam ini!" seru Lepastere sambil menenggak minuman dari gelas plastiknya.

 

"Terima kasih, Pak Kades. Ini semua berkat keramahan warga Bosil," Sadewi tersenyum manis.

 

"Kamu kok nggak makan, Dewi? Ini sate kambingnya enak banget," Kolobe bicara dengan mulut penuh makanan.

 

"Saya sedang diet, Pak Kolobe. Cukup minum air putih saja," jawab Sadewi.

 

"Diet mulu. Sekali-kali nikmatin hidup dong. Kayak kita nih," Noga tertawa sambil menggoda salah satu penyanyi di panggung.

 

"Saya sudah cukup menikmati hidup dengan melihat kesuksesan Bapak-bapak sekalian," ujar Sadewi diplomatis.

 

"Ngomong-ngomong, asisten kamu mana? Tadi katanya mau datang bareng?" tanya Phiri yang sejak tadi mengamati sekeliling.

 

"Dia sedang mengurus administrasi di restoran. Nanti menyusul," jawab Sadewi tenang.

 

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Suasana semakin panas. Minuman keras mulai mengalir di meja para petinggi desa itu. Lepastere sudah mulai meracau tentang kekuasaannya, sementara Kolobe asyik menghitung potensi suara untuk pemilu depan.

 

"Dewi, lo tahu nggak? Sebenarnya dulu itu... kita terpaksa ngelakuin itu sama lo," Phiri tiba-tiba bicara dengan suara rendah, pengaruh alkohol mulai bekerja.

 

"Oh ya? Terpaksa kenapa?" Sadewi mendekatkan telinganya, seolah tertarik.

 

"Ya... perintah Bos Lepastere. Katanya buat ngamanin posisi Lengeloi. Kita kan cuma pion," Phiri tertawa bodoh.

 

"Phiri! Jaga mulut lo!" bentak Lepastere, meski matanya sendiri sudah sayu.

 

"Nggak apa-apa, Pak Kades. Itu kan masa lalu. Saya sudah memaafkan semuanya," kata Sadewi sambil mengelus lengan Lepastere.

 

"Tuh kan! Sadewi aja udah maafin. Lo aja yang sensi, Bos!" Noga menimpali.

 

"Bener, Dewi. Lo emang wanita paling berjiwa besar yang pernah gue kenal," Lepastere tersenyum lebar, merasa aman.

 

Pukul 23.00, Sadewi berdiri. "Maaf Bapak-bapak, saya harus ke belakang sebentar. Perut saya kurang enak."

 

"Mau ditemenin nggak?" goda Noga.

 

"Tidak perlu, Noga. Saya bisa sendiri," Sadewi berjalan menuju arah toilet yang berada di bagian belakang rumah yang luas itu.

 

Namun, Sadewi tidak menuju toilet. Ia menyelinap keluar melalui pintu samping yang gelap. Di sana, sebuah sepeda motor sudah menunggu dengan kunci yang masih menempel. Ia mengenakan jaket kulit hitam dan helm full-face yang juga berwarna hitam.

 

Sementara itu, di meja kehormatan, sosok wanita yang sangat mirip dengan Sadewi kembali duduk di kursi yang tadi ditinggalkan. Ia mengenakan gaun yang sama, rambut yang sama, dan senyum yang sama.

 

"Cepet amat baliknya, Dewi?" tanya Kolobe tanpa curiga sedikit pun.

 

Sosok itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan, lalu berpura-pura asyik memperhatikan panggung.

 

"Suaranya habis ya? Kok diem aja?" tanya Phiri.

 

Sosok itu menunjuk tenggorokannya dan menggeleng, memberi isyarat bahwa ia sedang sakit tenggorokan.

 

"Kebanyakan kena angin malem nih pasti," Lepastere tertawa.

 

Tepat pukul 00.00, Lepastere berdiri dengan sempoyongan. "Ayo, kita cabut. Phiri, kita ke rumah lo aja. Ada hal penting yang mau gue omongin soal tanah di pinggir sungai itu."

 

"Sekarang, Bos? Ini kan udah tengah malem," keluh Kolobe.

 

"Justru biar nggak ada yang denger! Ayo!" perintah Lepastere.

 

"Sadewi, lo mau ikut nggak?" tanya Noga pada sosok wanita di sampingnya.

 

Sosok itu menggeleng pelan, lalu menunjuk ke arah asistennya yang baru saja datang menjemput dengan mobil.

 

"Ya udah, kita duluan ya, Cantik!" seru Lepastere sambil melambaikan tangan.

 

Keempat pria itu masuk ke dalam mobil. Mobil meluncur ke rumah Phiri yang terletak di pinggiran desa, dekat dengan gudang bahan baku milik Sadewi.

 

Sementara itu, Sadewi yang asli sudah tiba lebih dulu di rumah Phiri. Ia masuk melalui pintu dapur yang memang tidak pernah dikunci rapat. Di tangannya, terpegang tas panjang berisi pisau jagal.

 

"Selamat datang di pesta yang sebenarnya, Bapak-bapak," bisik Sadewi sambil memakai topeng putihnya sendiri.

 

Ia mematikan lampu utama rumah Phiri, menyisakan keremangan dari lampu jalan yang menerobos masuk lewat celah ventilasi. Ia berdiri di balik bayangan lemari besar di ruang tamu.

 

Mobil Lepastere terdengar berhenti di depan. Suara tawa mereka yang mabuk memecah kesunyian malam.

 

"Phiri, kunci mana kunci? Cepetan buka pintu!" teriak Noga.

 

"Sabar, Bang! Ini lagi dicari!" jawab Phiri sambil meraba saku celananya.

 

Pintu terbuka. Keempatnya masuk ke dalam kegelapan.

 

"Kok lampunya mati? Phiri, nyalain dong!" perintah Kolobe.

 

"Bentar, saklarnya di sebelah mana ya..." Phiri meraba-raba dinding.

 

Klik.

 

Lampu menyala, tapi bukan lampu ruang tamu. Itu adalah lampu senter yang sangat terang, diarahkan tepat ke wajah mereka berempat.

 

"Siapa itu?!" bentak Noga sambil mencoba mencabut pisaunya.

 

Namun, sebuah tendangan keras menghantam tangan Noga hingga pisaunya terpental. Sosok bertopeng putih berdiri di depan mereka, memegang pisau jagal yang berkilauan terkena cahaya senter.

 

"Kalian ingat topeng ini?" tanya sebuah suara yang berat dan dingin.

 

"Sadewi?" bisik Phiri dengan lutut gemetar.

 

"Bukan. Ini adalah malaikat maut kalian," jawab sosok itu.

 

"Jangan bercanda! Gue ini kepala desa di sini! Gue bisa bikin lo busuk di penjara!" ancam Lepastere, meski suaranya bergetar hebat.

 

"Di sini tidak ada kepala desa, Lepastere. Yang ada hanya empat ekor babi yang siap disembelih," sosok bertopeng itu melangkah maju.

 

"Noga! Hajar dia!" teriak Kolobe sambil bersembunyi di balik punggung Lepastere.

 

Noga mencoba menerjang, tapi pengaruh alkohol membuatnya lamban. Sosok bertopeng itu menghindar dengan gesit, lalu dengan satu gerakan cepat, pisau jagalnya menyayat lengan Noga hingga darah muncrat ke wajah Kolobe.

 

"Aaaarrgh!" Noga tumbang sambil memegangi lengannya.

 

"Siapa sebenarnya kamu?!" teriak Lepastere ketakutan.

 

"Aku adalah semua air mata yang tumpah malam itu. Aku adalah karier yang hancur. Aku adalah rasa malu yang tidak pernah hilang," suara itu terdengar sangat dekat di telinga Lepastere.

 

"Tolong... maafkan kami... kami akan kasih apa saja! Uang! Jabatan!" mohon Kolobe sambil berlutut.

 

"Kalian tidak punya apa-apa lagi yang aku inginkan," kata sosok itu.

 

Satu per satu, dalam kegelapan yang sesekali diterangi kilatan pisau, teriakan mereka diredam oleh dinginnya baja. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada negosiasi. Hanya ada penyelesaian sebuah hutang lama yang sudah terlalu lama menunggak.

 

Di luar, angin malam berdesir tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di dalam rumah tua itu.

 

"Sudah selesai," bisik sosok bertopeng itu sambil menyeka darah di pisaunya dengan taplak meja milik Phiri.

 

Ia keluar lewat pintu dapur, menaiki sepeda motornya, dan menghilang dalam kegelapan malam menuju ke arah berlawanan dari Desa Bosil.

 

Pukul 00.30, di tempat hajatan, sosok Sadewi palsu masih tampak asyik mengobrol dengan beberapa warga sebelum akhirnya berpamitan untuk pulang.

 

"Nyonya Sadewi benar-benar orang baik ya, meski sudah sukses masih mau bergaul sama kita," puji seorang warga.

 

"Ya, dia memang wanita yang sangat istimewa," sahut asistennya sambil membukakan pintu mobil.

 

Mobil itu meluncur pergi, membawa rahasia yang terkunci rapat di balik senyuman sang aktris.

 

***

 

 

Keesokan siangnya, Kecamatan Rancid gempar. Berita tentang kematian tragis empat orang penting di Desa Bosil menyebar seperti api di atas rumput kering. Televisi lokal terus-menerus menayangkan gambar garis polisi di depan rumah Phiri.

 

Sadewi duduk santai di salah satu meja pojok di rumah makan miliknya. Ia menyesap kopi hitam tanpa gula sambil menatap layar televisi besar yang terpasang di dinding.

 

"...korban ditemukan tewas dengan luka sayatan benda tajam di bagian leher. Pihak kepolisian menyatakan bahwa pembunuhnya kemungkinan besar adalah seorang profesional karena tidak ada jejak perlawanan yang berarti di lokasi kejadian...."

 

"Sadis ya, Bu," komentar seorang pelayan sambil meletakkan sepiring camilan.

 

"Dunia memang keras, Rin. Kadang kita tidak tahu siapa musuh di sekitar kita," sahut Sadewi tenang.

 

"Tapi katanya jejak motornya ditemukan jauh dari rumah Pak Phiri. Pembunuhnya jalan kaki lewat pintu belakang," tambah Rini yang gemar bergosip.

 

"Polisi pasti akan bekerja keras mengungkapnya. Kita doakan saja yang terbaik untuk almarhum," kata Sadewi.

 

Tiba-tiba, pintu rumah makan terbuka dengan kasar. Lengeloi masuk dengan mata sembab dan wajah pucat pasi. Ia langsung menghampiri meja Sadewi.

 

"Sadewi! Kakakku... Kak Lepastere..." tangis Lengeloi pecah.

 

Sadewi bangkit dan memeluk wanita itu dengan pura-pura prihatin. "Sabar, Lengeloi. Saya sudah dengar beritanya. Saya sungguh turut berduka cita."

 

"Siapa yang tega ngelakuin ini, Dewi? Siapa?!" Lengeloi memukul-mukul meja.

 

"Mungkin musuh politiknya? Atau ada orang yang merasa sakit hati dengan kebijakan-kebijakan beliau?" Sadewi mengajukan beberapa yang berhubungan dengan jabatan Lepastere.

 

"Polisi bilang mereka semua disembelih... kayak binatang..." Lengeloi bergidik ngeri.

 

"Mengerikan sekali. Padahal tadi malam kita masih tertawa bersama di hajatan, kan?" Sadewi menatap mata Lengeloi dengan tajam.

 

Lengeloi terdiam sejenak. "Iya... kamu benar. Kamu tadi malam sampai jam berapa di sana?"

 

"Sampai acara selesai, sekitar jam setengah satu pagi. Kamu kan lihat sendiri saya di sana terus," jawab Sadewi mantap.

 

"Iya, aku lihat kamu. Tapi... rasanya ada yang aneh. Kamu tadi malam nggak banyak bicara," Lengeloi menyipitkan mata.

 

"Tenggorokan saya sedang sakit, Lengeloi. Sekarang pun masih agak serak," Sadewi berdehem sedikit.

 

"Kak Lepastere bilang malam ini mau merayakan kerja sama kita. Kenapa malah jadi begini...?" Lengeloi kembali menangis.

 

"Hidup memang tidak terduga. Sekarang yang penting, kamu harus kuat. Bisnismu di provinsi jangan sampai terganggu," Sadewi menepuk bahu Lengeloi.

 

"Kamu mau bantu aku, kan?" tanya Lengeloi penuh harap.

 

"Tentu. Bukankah kita sudah seperti saudara sendiri sejak kontestasi itu?" Sadewi tersenyum tipis.

 

Lengeloi mengangguk-angguk, tidak menyadari sarkasme dalam ucapan Sadewi. "Terima kasih, Dewi. Aku nggak tahu harus ke mana lagi kalau bukan ke kamu."

 

"Sekarang pulanglah. Istirahat. Biar asisten saya yang mengurus karangan bunga dan bantuan untuk pemakaman nanti," perintah Sadewi lembut namun tegas.

 

Setelah Lengeloi pergi, Sadewi kembali duduk. Ia menyalakan ponselnya dan melihat sebuah rekaman video lama yang ia simpan di folder tersembunyi. Rekaman dirinya yang sedang menangis di kamar hotel mewah bertahun-tahun lalu, dikelilingi tiga orang bertopeng putih sementara Lepastere tertawa di balik kamera.

 

Ia menekan tombol delete.

 

"Ilang klilipku," gumam Sadewi lirih.

 

Seorang pria tegap berkacamata hitam mendekati mejanya. Itu adalah orang yang semalam berada di atas sepeda motor.

 

"Semuanya bersih, Nyonya. Tidak ada jejak yang tertinggal," lapor pria itu dengan suara rendah.

 

"Aktrisnya?" tanya Sadewi tanpa menoleh.

 

"Sudah dalam penerbangan kembali ke ibu kota. Dia sudah menerima bayarannya dan berjanji akan tutup mulut selamanya," jawab si pria.

 

"Bagus. Tugasmu juga selesai di sini. Pergilah ke luar negeri, nikmati masa pensiunmu," Sadewi menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal.

 

"Terima kasih, Nyonya. Senang bisa membantu Anda menuntaskan ini," pria itu mengangguk hormat lalu pergi.

 

Sadewi kembali menatap layar televisi. Gambar di layar menunjukkan evakuasi jenazah keempat pria itu. Wajah-wajah yang dulu tampak begitu berkuasa kini hanya tertutup kain putih, sama putihnya dengan topeng yang mereka gunakan untuk menghancurkan hidup Sadewi.

 

Ia teringat kata-kata Lepastere di kantor tempo hari: "Kadang kehancuran itu memang perlu buat membangun sesuatu yang lebih besar."

 

"Kamu benar, Lepastere. Kehancuranku membangun diriku yang sekarang. Dan kehancuranmu... membangun kedamaianku," bisik Sadewi.

 

Ia bangkit dari kursinya, merapikan gaunnya yang elegan, dan berjalan menuju pintu keluar. Matahari siang itu terasa begitu hangat di kulitnya, seolah mendukung setiap langkah yang ia ambil.

 

Di depan pintu, ia berpapasan dengan beberapa wartawan yang mencoba mewawancarainya.

 

"Nyonya Sadewi! Bagaimana komentar Anda tentang pembunuhan ini?" tanya salah satu wartawan.

 

Sadewi berhenti sejenak, memasang wajah sedih yang sangat meyakinkan. "Ini adalah tragedi besar bagi Desa Bosil. Saya kehilangan rekan-rekan bisnis yang luar biasa."

 

"Apakah Anda merasa terancam?" tanya wartawan lain.

 

Sadewi tersenyum kecil ke arah kamera, sebuah senyum yang hanya ia sendiri yang tahu maknanya.

 

"Kenapa saya harus merasa terancam? Saya tidak punya rahasia yang perlu disembunyikan lagi," jawab Sadewi tenang.

 

"Apakah Anda akan tetap berinvestasi di sini?"

 

"Tentu saja. Malah, saya berencana membangun panti asuhan dan sekolah di atas lahan milik Pak Lepastere, jika keluarganya setuju menjualnya nanti," ujar Sadewi.

 

"Anda sangat mulia, Nyonya!" puji wartawan tersebut.

 

Sadewi tidak menjawab. Ia masuk ke dalam mobilnya yang mewah. Saat mobil mulai melaju meninggalkan kerumunan, ia menatap ke arah spion tengah. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini, ia tidak melihat lagi bayangan gadis malang yang menangis di hotel itu.

 

Ia melihat seorang pemenang.

 

"Tak ada yang tahu bahwa Sadewi yang hadir dalam pesta tadi malam itu Sadewi palsu. Dia artis berbakat yang berdandan mirip aku. Sadewi yang sejati tadi malam telah menuntaskan dendamnya," bisik Sadewi pada sunyinya kabin mobil.

 

Sopirnya menoleh sedikit melalui kaca spion. "Ada pesan lagi, Nyonya?"

 

Sadewi menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, menutup matanya dengan damai.

 

"Jalan saja terus, tidak usah menoleh ke belakang," perintah Sadewi.

 

Sadewi telah melupakan tragedi di sebuah kamar hotel yang menimpa dirinya. Tragedi yang diciptakan Lepastere bersama Phiri, Kolobe, dan Noga. Lepastere memerintahkan tiga anak buahnya untuk menculik, mencekoki dengan obat perangsang, dan menodai Sadewi di sebuah hotel. Bukan hanya sampai di situ. Peristiwa itu direkam. Wajah Sadewi ditampakkan. Wajah tiga penoda ditutupi topeng putih. Video rekaman disebar, sehingga Sadewi dieliminasi dari momen Pemilihan Gadis Duta Provinsi untuk maju ke tingkat nasional. Dengan gugurnya Sadewi karena kasus moral, Lengeloi bisa memenangkan kontestasi.

 


“Mereka berempat layak disembelih seperti binatang,” gumam Sadewi sambil tersenyum. “Suatu saat, Lengeloi menyusul mereka….”

 

Spirov Lengking, 620270031200


Tidak ada komentar:

Posting Komentar