"Ini
beneran dia, Bos?" Noga, sang preman tangan kanan, menyipitkan mata.
Lepastere
mengisap cerutunya dalam-dalam. "Kabarnya begitu. Sadewi sudah jadi
desainer kondang di luar negeri. Sekarang dia mau balik buat investasi di
sini."
"Investasi
atau balas dendam?" Phiri menyela sambil menyesuaikan letak kacamatanya.
Intelektual pengangguran itu selalu merasa lebih pintar dari siapa pun di
ruangan itu.
"Balas
dendam buat apa? Kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Videonya juga
sudah hilang dari peredaran, kan?" Kolobe, sang politisi kampung, tertawa
kecil. Tawa yang terdengar dipaksakan untuk menutupi kebodohannya.
Pintu
mobil terbuka. Seorang wanita turun dengan keanggunan yang tidak pernah mereka
lihat sebelumnya. Sadewi mengenakan terusan sutra yang melambai ditiup angin
sore. Ia melangkah mantap menuju teras kantor.
"Selamat
sore, Bapak-bapak sekalian," sapa Sadewi dengan senyum manis yang memikat
sukma.
"Selamat
datang kembali, Putri Bidadari kita yang hilang!" Lepastere merentangkan
tangan seolah menyambut pahlawan.
Sadewi
terkekeh pelan. "Ah, sebutan itu sudah tidak pantas untuk saya, Pak Kades.
Saya di sini murni untuk bisnis."
"Tentu,
tentu. Saya dengar kamu mau buka jaringan rumah makan di Rancid?"
Lepastere mempersilakan Sadewi duduk.
"Betul.
Saya melihat potensi besar di Desa Bosil. Saya ingin merangkul warga lokal yang
jago masak. Kita buat wadah organisasi bisnis yang profesional," jelas
Sadewi.
"Dan
tentu saja, pemerintah desa harus dilibatkan, kan?" Kolobe menimpali
dengan nada serakah yang kentara.
Sadewi
menoleh ke arah Kolobe. "Tentu, Pak Kolobe. Tanpa restu penguasa lokal,
bisnis tidak akan jalan. Saya butuh kerja sama Bapak-bapak untuk memuluskan
izin dan lahan."
"Apapun
akan kuberikan kamu, Sadewi. Asal pembagiannya jelas," ucap Lepastere
sambil menyeringai.
"Saya
sudah menyiapkan draf kontraknya. Bapak-bapak bisa mempelajarinya," Sadewi
mengeluarkan map dari tasnya.
"Kamu
tidak berubah ya, Dewi. Masih secantik dulu," gumam Noga dengan tatapan nanar.
Sadewi
tetap tenang, meski hatinya bergejolak mengingat wajah di balik topeng putih
bertahun-tahun silam. "Waktu mengubah banyak hal, Noga. Tapi ada beberapa
hal yang tetap abadi di ingatan."
"Apa
itu?" tanya Phiri penasaran.
"Rasa
lapar akan kesuksesan," jawab Sadewi cepat.
Lepastere
tertawa terbahak-bahak. "Bagus! Itu semangat yang saya suka. Malam ini
kita rayakan kembalinya kamu di rumah makan paling mewah di kecamatan. Saya
yang traktir!"
"Maaf,
Pak Kades. Saya punya janji lain malam ini. Bagaimana kalau kita tunda perayaannya
sampai proyek pertama kita berjalan?" Sadewi bangkit dari duduknya.
"Kamu
sombong sekarang ya?" Noga berdiri, mencoba mengintimidasi.
"Bukan
sombong, Noga. Hanya efisien. Waktu adalah uang, bukan?" Sadewi menatap
Noga tepat di mata.
"Sudah,
sudah. Jangan kasar sama tamu kita," Lepastere menenangkan Noga.
"Terima
kasih atas pengertiannya, Pak Kades. Saya permisi dulu," Sadewi berbalik
arah.
"Dewi,
tunggu!" panggil Lepastere.
Sadewi
berhenti namun tidak menoleh sepenuhnya. "Ya?"
"Adikku,
Lengeloi, sekarang sudah jadi anggota dewan provinsi. Kamu harus mampir ke
rumahnya kapan-kapan," kata Lepastere dengan nada bangga.
"Tentu.
Saya tidak akan pernah melupakan jasa Lengeloi dalam karier saya dulu,"
ucap Sadewi dingin.
"Maksudmu?"
tanya Phiri curiga.
"Maksud
saya, kalau dia tidak menang kontestasi itu, mungkin dia tidak akan sehebat
sekarang, kan?" Sadewi tersenyum tipis.
"Benar
sekali. Itu semua berkat kerja keras keluarga kami," Lepastere berbangga
diri.
"Saya
pergi dulu, Bapak-bapak terhormat," pamit Sadewi.
"Sampai
jumpa di meja perundingan besok pagi, Sadewi!" seru Lepastere dari teras.
***
Bisnis
Sadewi berkembang lebih cepat dari yang dibayangkan warga Desa Bosil. Dalam
waktu singkat, tiga rumah makan besar berdiri di pusat Kecamatan Rancid. Ia
mempekerjakan ratusan pemuda desa, membuat Lepastere dan kawan-kawannya merasa
memiliki andil besar dalam "kesuksesan" tersebut.
"Gila,
keuntungan bulan ini naik dua kali lipat!" Kolobe menatap laporan keuangan
dengan mata berbinar di kantor pusat Sadewi.
"Itu
karena manajemen yang rapi, Pak Kolobe. Dan tentu saja, dukungan keamanan dari
anak buah Noga," puji Sadewi sambil menuangkan teh.
"Anak
buah gue stand by terus di depan restoran. Nggak ada yang berani
macem-macem," Noga menepuk pinggangnya yang terselip senjata tajam.
"Gue
heran, kenapa lo milih lokasi yang agak terpencil buat gudang bahan baku?"
Phiri bertanya sambil mempelajari peta lokasi bisnis Sadewi.
"Logistik,
Phiri. Aksesnya lebih dekat ke jalur distribusi utama. Kamu sebagai intelektual
harusnya paham itu," jawab Sadewi santai.
"Tapi
lokasinya dekat rumah gue. Kenapa nggak bilang-bilang?" Phiri menyelidiki.
"Justru
itu. Biar kamu bisa sering-sering pantau kalau ada yang nggak beres. Kamu kan
orang kepercayaan Pak Kades paling teliti," Sadewi memberi sanjungan yang
membuat Phiri membusungkan dada.
"Pinter
juga kamu merayu orang," Lepastere masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu.
"Eh,
Pak Kades. Silakan duduk," Sadewi menyambutnya.
"Lengeloi
titip salam. Dia mau kamu jadi sponsor buat acara santunan yatim piatu minggu
depan," kata Lepastere.
"Tentu.
Apapun untuk kemajuan citra adik Bapak. Berapa yang dibutuhkan?" Sadewi
mengambil buku cek.
"Lima
ratus juta. Cukup buat bikin acara meriah di seluruh provinsi," ucap
Lepastere tanpa malu.
Sadewi
menuliskan angka tersebut tanpa ragu. "Ini. Anggap saja investasi jangka panjang untuk hubungan
kita."
"Kamu
memang rekan bisnis yang luar biasa, Sadewi. Kenapa dulu kamu nggak langsung
menyerah saja ya? Malah kabur ke luar negeri," Lepastere tertawa sinis.
Tangan
Sadewi mengepal di bawah meja, namun wajahnya tetap tenang. "Kalau saya
tidak kabur, saya tidak akan punya uang lima ratus juta untuk diberikan secara
cuma-cuma sekarang, kan?"
"Betul
juga. Kadang kehancuran itu memang perlu buat membangun sesuatu yang lebih
besar," Phiri menimpali dengan sok filosofis.
"Seperti
kehancuran keluarga kamu dulu, Phiri? Sampai bapakmu bangkrut dan kamu jadi
pengangguran?" Sadewi menyerang balik dengan halus.
Wajah
Phiri memerah. "Itu... itu masalah lain."
"Tenang,
Phiri. Sekarang kamu sudah punya posisi di bisnis ini. Jangan baperan,"
goda Kolobe.
"Kapan
rencana ekspansi ke luar kota, Dewi?" tanya Lepastere mengalihkan
pembicaraan.
"Segera.
Tapi sebelum itu, saya ingin mengadakan pesta syukuran kecil-kecilan. Hanya
untuk kita berlima. Sebagai bentuk terima kasih saya," ujar Sadewi.
"Pesta?
Di mana?" Noga langsung semangat.
"Nanti
saya kabari. Yang jelas, tempatnya harus privat. Saya tidak mau diganggu
wartawan atau warga," kata Sadewi.
"Gue
setuju. Privat itu lebih asyik. Bisa sambil minum-minum," Kolobe
menyeringai.
"Tapi
sebelum pesta syukuran itu, ada acara hajatan besar di kampung sebelah besok
malam. Kita semua diundang sebagai tamu kehormatan," Lepastere
mengingatkan.
"Hajatan
siapa, Pak Kades?" tanya Sadewi.
"Salah
satu tokoh masyarakat di Bosil. Kamu wajib datang. Biar orang-orang tahu kalau
kamu sekarang ada di pihak kami," perintah Lepastere.
"Tentu.
Saya akan datang bersama asisten saya," Sadewi mengangguk patuh.
"Dandannya
yang cantik ya. Kayak malam itu," Noga berbisik saat berpapasan dengan
Sadewi menuju pintu keluar.
"Tentu,
Noga. Lebih cantik dari yang bisa kamu bayangkan," jawab Sadewi dengan
nada misterius.
"Kenapa
perasaan gue nggak enak ya?" Phiri bergumam pelan.
"Ah,
lo mah emang penakut dari dulu, Phiri! Udah, ayo kita makan-makan pakai uang
dari Sadewi!" ajak Kolobe sambil menarik lengan Phiri.
Sadewi
memperhatikan mereka dari jendela kantornya. Matanya yang dingin menatap
punggung keempat pria itu. Ia mengambil ponselnya dan melakukan sebuah
panggilan.
"Siapkan
semuanya untuk besok malam. Jangan ada kesalahan sekecil apa pun,"
perintah Sadewi pada orang di seberang telepon.
"Semua
sudah sesuai rencana, Nyonya. Aktrisnya sudah siap," jawab suara di
telepon.
"Bagus.
Pastikan dia tidak bicara terlalu banyak. Biar aku yang melakukan
sisanya," tegas Sadewi.
"Bagaimana
dengan targetnya?"
"Biarkan
mereka menikmati malam terakhir mereka dengan penuh kesombongan," Sadewi
menutup telepon.
Ia
kemudian berjalan menuju sebuah brankas tersembunyi di balik lukisan. Di
dalamnya, tersimpan empat buah topeng putih yang baru saja ia beli.
Topeng-topeng itu tampak dingin dan mati, sama seperti hatinya saat ini.
"Waktunya
segera tiba," bisik Sadewi pada kegelapan ruangan.
***
Malam
hajatan di Desa Bosil berlangsung sangat meriah. Lampu-lampu hias menggantung
di sepanjang jalan masuk. Suara musik dangdut terdengar hingga ke desa
tetangga. Di barisan paling depan, duduklah para tamu kehormatan: Lepastere, Phiri,
Kolobe, dan Noga. Di tengah mereka, Sadewi tampak mempesona dengan gaun
berwarna merah darah.
"Wah,
Sadewi! Kamu benar-benar jadi pusat perhatian malam ini!" seru Lepastere
sambil menenggak minuman dari gelas plastiknya.
"Terima
kasih, Pak Kades. Ini semua berkat keramahan warga Bosil," Sadewi
tersenyum manis.
"Kamu
kok nggak makan, Dewi? Ini sate kambingnya enak banget," Kolobe bicara
dengan mulut penuh makanan.
"Saya
sedang diet, Pak Kolobe. Cukup minum air putih saja," jawab Sadewi.
"Diet
mulu. Sekali-kali nikmatin hidup dong. Kayak kita nih," Noga tertawa
sambil menggoda salah satu penyanyi di panggung.
"Saya
sudah cukup menikmati hidup dengan melihat kesuksesan Bapak-bapak
sekalian," ujar Sadewi diplomatis.
"Ngomong-ngomong,
asisten kamu mana? Tadi katanya mau datang bareng?" tanya Phiri yang sejak
tadi mengamati sekeliling.
"Dia
sedang mengurus administrasi di restoran. Nanti menyusul," jawab Sadewi
tenang.
Waktu
menunjukkan pukul 22.00. Suasana semakin panas. Minuman keras mulai mengalir di
meja para petinggi desa itu. Lepastere sudah mulai meracau tentang
kekuasaannya, sementara Kolobe asyik menghitung potensi suara untuk pemilu
depan.
"Dewi,
lo tahu nggak? Sebenarnya dulu itu... kita terpaksa ngelakuin itu sama
lo," Phiri tiba-tiba bicara dengan suara rendah, pengaruh alkohol mulai
bekerja.
"Oh
ya? Terpaksa kenapa?" Sadewi mendekatkan telinganya, seolah tertarik.
"Ya...
perintah Bos Lepastere. Katanya buat ngamanin posisi Lengeloi. Kita kan cuma
pion," Phiri tertawa bodoh.
"Phiri!
Jaga mulut lo!" bentak Lepastere, meski matanya sendiri sudah sayu.
"Nggak
apa-apa, Pak Kades. Itu kan masa lalu. Saya sudah memaafkan semuanya,"
kata Sadewi sambil mengelus lengan Lepastere.
"Tuh
kan! Sadewi aja udah maafin. Lo aja yang sensi, Bos!" Noga menimpali.
"Bener,
Dewi. Lo emang wanita paling berjiwa besar yang pernah gue kenal,"
Lepastere tersenyum lebar, merasa aman.
Pukul
23.00, Sadewi berdiri. "Maaf Bapak-bapak, saya harus ke belakang sebentar.
Perut saya kurang enak."
"Mau
ditemenin nggak?" goda Noga.
"Tidak
perlu, Noga. Saya bisa sendiri," Sadewi berjalan menuju arah toilet yang
berada di bagian belakang rumah yang luas itu.
Namun,
Sadewi tidak menuju toilet. Ia menyelinap keluar melalui pintu samping yang
gelap. Di sana, sebuah sepeda motor sudah menunggu dengan kunci yang masih
menempel. Ia mengenakan jaket kulit hitam dan helm full-face yang juga berwarna
hitam.
Sementara
itu, di meja kehormatan, sosok wanita yang sangat mirip dengan Sadewi kembali
duduk di kursi yang tadi ditinggalkan. Ia mengenakan gaun yang sama, rambut
yang sama, dan senyum yang sama.
"Cepet
amat baliknya, Dewi?" tanya Kolobe tanpa curiga sedikit pun.
Sosok
itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan, lalu berpura-pura asyik memperhatikan
panggung.
"Suaranya
habis ya? Kok diem aja?" tanya Phiri.
Sosok
itu menunjuk tenggorokannya dan menggeleng, memberi isyarat bahwa ia sedang
sakit tenggorokan.
"Kebanyakan
kena angin malem nih pasti," Lepastere tertawa.
Tepat
pukul 00.00, Lepastere berdiri dengan sempoyongan. "Ayo, kita cabut.
Phiri, kita ke rumah lo aja. Ada hal penting yang mau gue omongin soal tanah di
pinggir sungai itu."
"Sekarang,
Bos? Ini kan udah tengah malem," keluh Kolobe.
"Justru
biar nggak ada yang denger! Ayo!" perintah Lepastere.
"Sadewi,
lo mau ikut nggak?" tanya Noga pada sosok wanita di sampingnya.
Sosok
itu menggeleng pelan, lalu menunjuk ke arah asistennya yang baru saja datang
menjemput dengan mobil.
"Ya
udah, kita duluan ya, Cantik!" seru Lepastere sambil melambaikan tangan.
Keempat
pria itu masuk ke dalam mobil. Mobil meluncur ke rumah Phiri yang terletak di
pinggiran desa, dekat dengan gudang bahan baku milik Sadewi.
Sementara
itu, Sadewi yang asli sudah tiba lebih dulu di rumah Phiri. Ia masuk melalui
pintu dapur yang memang tidak pernah dikunci rapat. Di tangannya, terpegang tas
panjang berisi pisau jagal.
"Selamat
datang di pesta yang sebenarnya, Bapak-bapak," bisik Sadewi sambil memakai
topeng putihnya sendiri.
Ia
mematikan lampu utama rumah Phiri, menyisakan keremangan dari lampu jalan yang
menerobos masuk lewat celah ventilasi. Ia berdiri di balik bayangan lemari
besar di ruang tamu.
Mobil
Lepastere terdengar berhenti di depan. Suara tawa mereka yang mabuk memecah
kesunyian malam.
"Phiri,
kunci mana kunci? Cepetan buka pintu!" teriak Noga.
"Sabar,
Bang! Ini lagi dicari!" jawab Phiri sambil meraba saku celananya.
Pintu
terbuka. Keempatnya masuk ke dalam kegelapan.
"Kok
lampunya mati? Phiri, nyalain dong!" perintah Kolobe.
"Bentar,
saklarnya di sebelah mana ya..." Phiri meraba-raba dinding.
Klik.
Lampu
menyala, tapi bukan lampu ruang tamu. Itu adalah lampu senter yang sangat
terang, diarahkan tepat ke wajah mereka berempat.
"Siapa
itu?!" bentak Noga sambil mencoba mencabut pisaunya.
Namun,
sebuah tendangan keras menghantam tangan Noga hingga pisaunya terpental. Sosok
bertopeng putih berdiri di depan mereka, memegang pisau jagal yang berkilauan
terkena cahaya senter.
"Kalian
ingat topeng ini?" tanya sebuah suara yang berat dan dingin.
"Sadewi?"
bisik Phiri dengan lutut gemetar.
"Bukan.
Ini adalah malaikat maut kalian," jawab sosok itu.
"Jangan
bercanda! Gue ini kepala desa di sini! Gue bisa bikin lo busuk di
penjara!" ancam Lepastere, meski suaranya bergetar hebat.
"Di
sini tidak ada kepala desa, Lepastere. Yang ada hanya empat ekor babi yang siap
disembelih," sosok bertopeng itu melangkah maju.
"Noga!
Hajar dia!" teriak Kolobe sambil bersembunyi di balik punggung Lepastere.
Noga
mencoba menerjang, tapi pengaruh alkohol membuatnya lamban. Sosok bertopeng itu
menghindar dengan gesit, lalu dengan satu gerakan cepat, pisau jagalnya
menyayat lengan Noga hingga darah muncrat ke wajah Kolobe.
"Aaaarrgh!"
Noga tumbang sambil memegangi lengannya.
"Siapa
sebenarnya kamu?!" teriak Lepastere ketakutan.
"Aku
adalah semua air mata yang tumpah malam itu. Aku adalah karier yang hancur. Aku
adalah rasa malu yang tidak pernah hilang," suara itu terdengar sangat
dekat di telinga Lepastere.
"Tolong...
maafkan kami... kami akan kasih apa saja! Uang! Jabatan!" mohon Kolobe
sambil berlutut.
"Kalian
tidak punya apa-apa lagi yang aku inginkan," kata sosok itu.
Satu
per satu, dalam kegelapan yang sesekali diterangi kilatan pisau, teriakan
mereka diredam oleh dinginnya baja. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada
negosiasi. Hanya ada penyelesaian sebuah hutang lama yang sudah terlalu lama
menunggak.
Di
luar, angin malam berdesir tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di dalam rumah
tua itu.
"Sudah
selesai," bisik sosok bertopeng itu sambil menyeka darah di pisaunya
dengan taplak meja milik Phiri.
Ia
keluar lewat pintu dapur, menaiki sepeda motornya, dan menghilang dalam
kegelapan malam menuju ke arah berlawanan dari Desa Bosil.
Pukul
00.30, di tempat hajatan, sosok Sadewi palsu masih tampak asyik mengobrol
dengan beberapa warga sebelum akhirnya berpamitan untuk pulang.
"Nyonya
Sadewi benar-benar orang baik ya, meski sudah sukses masih mau bergaul sama
kita," puji seorang warga.
"Ya,
dia memang wanita yang sangat istimewa," sahut asistennya sambil
membukakan pintu mobil.
Mobil
itu meluncur pergi, membawa rahasia yang terkunci rapat di balik senyuman sang
aktris.
***
Keesokan
siangnya, Kecamatan Rancid gempar. Berita tentang kematian tragis empat orang
penting di Desa Bosil menyebar seperti api di atas rumput kering. Televisi
lokal terus-menerus menayangkan gambar garis polisi di depan rumah Phiri.
Sadewi
duduk santai di salah satu meja pojok di rumah makan miliknya. Ia menyesap kopi
hitam tanpa gula sambil menatap layar televisi besar yang terpasang di dinding.
"...korban ditemukan tewas dengan
luka sayatan benda tajam di bagian leher. Pihak kepolisian menyatakan bahwa
pembunuhnya kemungkinan besar adalah seorang profesional karena tidak ada jejak
perlawanan yang berarti di lokasi kejadian...."
"Sadis
ya, Bu," komentar seorang pelayan sambil meletakkan sepiring camilan.
"Dunia
memang keras, Rin. Kadang kita tidak tahu siapa musuh di sekitar kita,"
sahut Sadewi tenang.
"Tapi
katanya jejak motornya ditemukan jauh dari rumah Pak Phiri. Pembunuhnya jalan
kaki lewat pintu belakang," tambah Rini yang gemar bergosip.
"Polisi
pasti akan bekerja keras mengungkapnya. Kita doakan saja yang terbaik untuk
almarhum," kata Sadewi.
Tiba-tiba,
pintu rumah makan terbuka dengan kasar. Lengeloi masuk dengan mata sembab dan
wajah pucat pasi. Ia langsung menghampiri meja Sadewi.
"Sadewi!
Kakakku... Kak Lepastere..." tangis Lengeloi pecah.
Sadewi
bangkit dan memeluk wanita itu dengan pura-pura prihatin. "Sabar,
Lengeloi. Saya sudah dengar beritanya. Saya sungguh turut berduka cita."
"Siapa
yang tega ngelakuin ini, Dewi? Siapa?!" Lengeloi memukul-mukul meja.
"Mungkin
musuh politiknya? Atau ada orang yang merasa sakit hati dengan
kebijakan-kebijakan beliau?" Sadewi mengajukan beberapa yang berhubungan
dengan jabatan Lepastere.
"Polisi
bilang mereka semua disembelih... kayak binatang..." Lengeloi bergidik
ngeri.
"Mengerikan
sekali. Padahal tadi malam kita masih tertawa bersama di hajatan, kan?"
Sadewi menatap mata Lengeloi dengan tajam.
Lengeloi
terdiam sejenak. "Iya... kamu benar. Kamu tadi malam sampai jam berapa di
sana?"
"Sampai
acara selesai, sekitar jam setengah satu pagi. Kamu kan lihat sendiri saya di
sana terus," jawab Sadewi mantap.
"Iya,
aku lihat kamu. Tapi... rasanya ada yang aneh. Kamu tadi malam nggak banyak
bicara," Lengeloi menyipitkan mata.
"Tenggorokan
saya sedang sakit, Lengeloi. Sekarang pun masih agak serak," Sadewi
berdehem sedikit.
"Kak
Lepastere bilang malam ini mau merayakan kerja sama kita. Kenapa malah jadi
begini...?" Lengeloi kembali menangis.
"Hidup
memang tidak terduga. Sekarang yang penting, kamu harus kuat. Bisnismu di
provinsi jangan sampai terganggu," Sadewi menepuk bahu Lengeloi.
"Kamu
mau bantu aku, kan?" tanya Lengeloi penuh harap.
"Tentu.
Bukankah kita sudah seperti saudara sendiri sejak kontestasi itu?" Sadewi
tersenyum tipis.
Lengeloi
mengangguk-angguk, tidak menyadari sarkasme dalam ucapan Sadewi. "Terima
kasih, Dewi. Aku nggak tahu harus ke mana lagi kalau bukan ke kamu."
"Sekarang
pulanglah. Istirahat. Biar asisten saya yang mengurus karangan bunga dan
bantuan untuk pemakaman nanti," perintah Sadewi lembut namun tegas.
Setelah
Lengeloi pergi, Sadewi kembali duduk. Ia menyalakan ponselnya dan melihat
sebuah rekaman video lama yang ia simpan di folder tersembunyi. Rekaman dirinya
yang sedang menangis di kamar hotel mewah bertahun-tahun lalu, dikelilingi tiga
orang bertopeng putih sementara Lepastere tertawa di balik kamera.
Ia
menekan tombol delete.
"Ilang klilipku," gumam Sadewi
lirih.
Seorang
pria tegap berkacamata hitam mendekati mejanya. Itu adalah orang yang semalam
berada di atas sepeda motor.
"Semuanya
bersih, Nyonya. Tidak ada jejak yang tertinggal," lapor pria itu dengan
suara rendah.
"Aktrisnya?"
tanya Sadewi tanpa menoleh.
"Sudah
dalam penerbangan kembali ke ibu kota. Dia sudah menerima bayarannya dan
berjanji akan tutup mulut selamanya," jawab si pria.
"Bagus.
Tugasmu juga selesai di sini. Pergilah ke luar negeri, nikmati masa
pensiunmu," Sadewi menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal.
"Terima
kasih, Nyonya. Senang bisa membantu Anda menuntaskan ini," pria itu
mengangguk hormat lalu pergi.
Sadewi
kembali menatap layar televisi. Gambar di layar menunjukkan evakuasi jenazah
keempat pria itu. Wajah-wajah yang dulu tampak begitu berkuasa kini hanya
tertutup kain putih, sama putihnya dengan topeng yang mereka gunakan untuk
menghancurkan hidup Sadewi.
Ia
teringat kata-kata Lepastere di kantor tempo hari: "Kadang kehancuran itu
memang perlu buat membangun sesuatu yang lebih besar."
"Kamu
benar, Lepastere. Kehancuranku membangun diriku yang sekarang. Dan
kehancuranmu... membangun kedamaianku," bisik Sadewi.
Ia
bangkit dari kursinya, merapikan gaunnya yang elegan, dan berjalan menuju pintu
keluar. Matahari siang itu terasa begitu hangat di kulitnya, seolah mendukung
setiap langkah yang ia ambil.
Di
depan pintu, ia berpapasan dengan beberapa wartawan yang mencoba
mewawancarainya.
"Nyonya
Sadewi! Bagaimana komentar Anda tentang pembunuhan ini?" tanya salah satu
wartawan.
Sadewi
berhenti sejenak, memasang wajah sedih yang sangat meyakinkan. "Ini adalah
tragedi besar bagi Desa Bosil. Saya kehilangan rekan-rekan bisnis yang luar
biasa."
"Apakah
Anda merasa terancam?" tanya wartawan lain.
Sadewi
tersenyum kecil ke arah kamera, sebuah senyum yang hanya ia sendiri yang tahu
maknanya.
"Kenapa
saya harus merasa terancam? Saya tidak punya rahasia yang perlu disembunyikan
lagi," jawab Sadewi tenang.
"Apakah
Anda akan tetap berinvestasi di sini?"
"Tentu
saja. Malah, saya berencana membangun panti asuhan dan sekolah di atas lahan
milik Pak Lepastere, jika keluarganya setuju menjualnya nanti," ujar
Sadewi.
"Anda
sangat mulia, Nyonya!" puji wartawan tersebut.
Sadewi
tidak menjawab. Ia masuk ke dalam mobilnya yang mewah. Saat mobil mulai melaju
meninggalkan kerumunan, ia menatap ke arah spion tengah. Ia melihat bayangan
dirinya sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini, ia tidak
melihat lagi bayangan gadis malang yang menangis di hotel itu.
Ia
melihat seorang pemenang.
"Tak
ada yang tahu bahwa Sadewi yang hadir dalam pesta tadi malam itu Sadewi palsu.
Dia artis berbakat yang berdandan mirip aku. Sadewi yang sejati tadi malam
telah menuntaskan dendamnya," bisik Sadewi pada sunyinya kabin mobil.
Sopirnya
menoleh sedikit melalui kaca spion. "Ada pesan lagi, Nyonya?"
Sadewi
menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, menutup matanya dengan
damai.
"Jalan
saja terus, tidak usah menoleh ke belakang," perintah Sadewi.
Sadewi
telah melupakan tragedi di sebuah kamar hotel yang menimpa dirinya. Tragedi
yang diciptakan Lepastere bersama Phiri, Kolobe, dan Noga. Lepastere
memerintahkan tiga anak buahnya untuk menculik, mencekoki dengan obat
perangsang, dan menodai Sadewi di sebuah hotel. Bukan hanya sampai di situ.
Peristiwa itu direkam. Wajah Sadewi ditampakkan. Wajah tiga penoda ditutupi
topeng putih. Video rekaman disebar, sehingga Sadewi dieliminasi dari momen
Pemilihan Gadis Duta Provinsi untuk maju ke tingkat nasional. Dengan gugurnya
Sadewi karena kasus moral, Lengeloi bisa memenangkan kontestasi.
“Mereka berempat layak disembelih seperti binatang,” gumam Sadewi sambil tersenyum. “Suatu saat, Lengeloi menyusul mereka….”
Spirov Lengking, 620270031200
Tidak ada komentar:
Posting Komentar