1
Matahari terbenam
di cakrawala Pulau Kembangga Cengkerek, menyisakan warna jingga yang memantul
di permukaan kolam renang infinity milik
Badras Waras. Di sana, tawa riuh pecah bersama denting gelas kristal. Aroma
cerutu mahal dan parfum desainer memenuhi udara, bercampur dengan bau laut yang
tenang.
Badras Waras
berdiri di balkon lantai dua vilanya, memandangi kawan-kawannya yang sedang
berpesta. Ia menyesap wiski berumur tiga puluh tahun dengan perlahan.
"Pulau ini
benar-benar mahakarya, Badras," seru Pesu Madangkana dari tepi kolam. Ia
sedang dikelilingi tiga wanita cantik yang tertawa mendengar leluconnya yang
tidak lucu.
Badras tersenyum
tipis, menuruni tangga pualam dengan gaya perlente. "Hanya tempat kecil
untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk Jakarta, Pesu. Lagipula, kita butuh
privasi untuk merayakan kesuksesan proyek bendungan itu, kan?"
Pesu berdiri,
meninggalkan para wanita itu sebentar untuk mendekat ke arah Badras.
"Privasi? Dengan tiga pesawat pribadiku yang parkir di landasan pacu
pribadi dan keamanan selevel Mossad, kurasa Tuhan pun harus minta izin kalau
mau mampir ke sini."
"Jangan
sombong, Pesu. Uang memang bisa membeli pulau, tapi tidak bisa membeli nyawa
tambahan kalau kita ceroboh," ujar Badras seraya tertawa kecil.
"Ah, kau
terlalu serius! Lihat mereka," Pesu menunjuk ke arah sebelas orang pria
lain yang sedang asyik dengan dunia mereka masing-masing. Ada yang sedang
dipijat, ada yang sedang berjudi di meja poker darurat, dan
ada yang sibuk memesan menu tambahan pada koki bintang lima yang mereka bawa.
"Semuanya bahagia. Semuanya kaya. Dan yang paling penting, semuanya aman
di bawah perlindunganmu."
Seorang koki mendekat
dengan nampan berisi wagyu A5 yang baru
saja dipanggang. "Permisi, Tuan Badras, Tuan Pesu. Makan malam hampir siap
di paviliun utama."
Badras
mengangguk. "Terima kasih, Chef. Pastikan musiknya tidak terlalu keras
semalam ini. Aku ingin kita bisa mendengar suara ombak sedikit lebih
jelas."
"Baik,
Tuan," sahut koki itu sopan sebelum berlalu.
Pesu merangkul
bahu Badras. "Kau tahu apa yang paling aku suka dari liburan
Jumat-Sabtu-Minggu kita bulan ini? Fakta bahwa tidak ada satu pun wartawan atau
jaksa yang bisa mengendus jejak kita di sini."
"Itu karena
kita pintar, Pesu. Orang jujur itu bodoh, makanya mereka miskin. Kita? Kita
hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hak para pemenang," Badras
menuangkan kembali wiski ke gelasnya.
"Benar
sekali. Bicara soal orang jujur, kau ingat si tua bangka yang dulu mencoba
menghentikan izin lahanmu?" tanya Pesu sambil menyeringai.
Badras tertawa
terbahak-bahak. "Maksudmu pegawai pemerintah yang sok suci itu? Siapa
namanya? Ah, sudahlah, aku lupa. Yang jelas, dia sekarang pasti sedang
menikmati kasur tipis di penjara seumur hidup berkat 'sumbangan' bukti palsu
yang kita rancang."
"Itu adalah
mahakarya hukum terhebat yang pernah kita buat, Badras. Dia dipenjara karena
korupsi yang justru kita lakukan. Ironis, bukan?" Pesu terpingkal-pingkal
sampai wajahnya memerah.
"Sangat
ironis. Dan sekarang, anaknya entah ada di mana. Mungkin jadi gelandangan atau
mati kelaparan," tambah Badras dingin.
Salah satu wanita
cantik mendekati mereka, merayu dengan suara manja. "Tuan-tuan, kenapa
bicara soal orang penjara di tempat seindah ini? Musik sudah mulai, ayo
menari!"
Badras mengelus
pipi wanita itu. "Kau benar, Cantik. Malam ini bukan untuk bicara soal
masa lalu. Malam ini adalah tentang kenikmatan."
Dari kejauhan,
dentuman musik kafe yang dimainkan oleh band papan atas yang mereka sewa mulai
menghentak. Semua orang tampak larut dalam euforia. Keamanan internasional yang
berjaga di setiap sudut pulau memberikan rasa aman yang mutlak. Tak ada yang
menyadari bahwa di balik semak-semak lebat yang membatasi hutan pulau dengan
area vila, sepasang mata sedang mengawasi dengan kebencian yang mendalam.
"Semuanya
sudah siap, Bos?" tanya seorang penjaga keamanan melalui radio walkie-talkie yang
tergantung di pinggang Badras.
Badras mengambil
radio itu. "Semua terkendali. Pastikan perimeter aman. Jangan biarkan ada
nyamuk pun yang masuk tanpa izin."
"Siap, Tuan Badras.
Semua sensor aktif dan tidak ada pergerakan mencurigakan," jawab suara di
seberang.
Badras mematikan
radio itu dan kembali menatap kerumunan sahabat-sahabat koruptornya yang sedang
berpesta pora.
"Nikmatilah
malam ini sepuas kalian, kawan-kawan, karena besok adalah malam terakhir kita
di sini," teriak Badras dengan suara lantang yang disambut sorakan meriah.
Pesu mendekat
lagi ke telinga Badras sambil berbisik. "Tapi Badras, kenapa aku merasa
hawa malam ini sedikit lebih dingin dari biasanya?"
Badras menatap ke
arah kegelapan hutan di luar jangkauan lampu sorot. "Itu hanya perasaanmu
saja karena terlalu banyak minum wiski, Pesu."
"Mungkin kau
benar, tapi bukankah kau baru saja mendengar suara sesuatu yang patah di arah
gerbang belakang?"
*
2
Malam kedua di
Pulau Kembangga Cengkerek seharusnya menjadi puncak kemeriahan. Namun, suasana
di pos penjagaan utama terasa aneh. Kapten keamanan, seorang mantan agen khusus
bernama Marko, tidak menjawab panggilan radio selama sepuluh menit terakhir.
Badras Waras
sedang duduk di ruang kerjanya yang kedap suara, memeriksa beberapa dokumen
transfer bank, ketika pintu diketuk dengan keras. Pesu masuk dengan wajah
pucat.
"Badras, ada
yang tidak beres," kata Pesu dengan suara bergetar.
Badras mengangkat
alisnya. "Apa lagi sekarang? Wanita-wanita itu minta tambahan
bayaran?"
"Bukan! Ini
soal penjaga. Aku baru saja berkeliling ke arah dermaga, dan aku tidak melihat
satu pun penjaga yang berdiri di pos mereka. Semuanya kosong," lapor Pesu.
Badras berdiri
dari kursi kulitnya. "Mungkin mereka sedang patroli keliling. Kita bayar
mereka mahal untuk bergerak, bukan untuk diam seperti patung."
"Tapi tidak
biasanya mereka meninggalkan pos tanpa ada yang berjaga satu pun. Dan radio...
kenapa radio mereka hanya mendesis?" Pesu menyodorkan walkie-talkie-nya.
Badras mencoba
memanggil. "Marko? Masuk, Marko. Ini Badras. Laporkan posisimu!"
Hanya ada suara
statis. Sshhhhhhh...
"Sialan,"
umpat Badras. Ia segera keluar ruangan menuju lobi utama. Di sana, para
koruptor lain masih asyik berpesta, meski beberapa mulai merasa ada yang aneh
karena musik berhenti tiba-tiba.
"Hei,
Badras! Kenapa band-nya berhenti? Kita baru saja mau mulai ronde kedua!"
teriak salah satu teman mereka yang sudah mabuk berat.
Badras tidak
menjawab. Ia berjalan menuju balkon dan menyalakan lampu sorot besar yang
mengarah ke hutan. Kosong. Hanya pepohonan yang bergoyang ditiup angin laut.
"Mungkin ini
hanya masalah teknis pada listrik," gumam Badras mencoba menenangkan diri
sendiri.
"Masalah
teknis tidak membuat dua puluh orang penjaga terlatih menghilang, Badras!"
bentak Pesu.
Tiba-tiba, lampu
di seluruh vila padam total. Kegelapan pekat menyergap. Suara teriakan para
wanita terdengar melengking di tengah kegelapan.
"Tenang!
Semuanya tenang! Gunakan ponsel kalian!" teriak Badras.
Cahaya-cahaya
kecil dari layar ponsel mulai menyala satu per satu. Dalam keremangan itu,
mereka melihat sesuatu yang mengerikan. Di tengah lantai dansa, seorang pria
berdiri diam. Ia memakai setelan hitam taktis dan topeng hitam legam yang
menutupi seluruh wajahnya. Di tangannya, ia memegang sebuah kapak baja besar
yang berkilau tertimpa cahaya ponsel.
"Siapa
kau?!" teriak Badras dengan suara bergetar.
Pria bertopeng
itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.
"Keamanan!
Siapa pun! Tembak orang ini!" Pesu berteriak histeris.
Namun, tidak ada
jawaban dari para penjaga. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam. Pria itu
mulai melangkah maju dengan tenang, seolah-olah ia punya seluruh waktu di dunia.
"Dengar,
Bung," kata salah satu koruptor yang mencoba berani, "siapa pun yang
menyewamu, aku bisa bayar dua kali lipat. Berapa? Sepuluh miliar? Dua puluh
miliar?"
Pria bertopeng
itu berhenti sejenak. Suaranya terdengar berat dan terdistorsi dari balik topeng.
"Uangmu tidak bisa membeli nyawa yang sudah kau hancurkan."
Sret!
Dengan satu
gerakan yang sangat cepat, kapak itu berayun secara horizontal. Kepala pria
yang baru saja bicara itu terlepas dari lehernya dalam sekejap mata. Darah
menyembur seperti air mancur, membasahi lantai pualam yang mahal.
"Aaaaaaaaakh!"
teriakan histeris pecah. Semua orang berlarian kocar-kacir dalam kegelapan.
"Pesu, lari
ke bunker!" perintah Badras sambil menarik lengan temannya.
Mereka berlari
melintasi lorong-lorong gelap, mengabaikan teriakan teman-teman mereka yang
mulai dibantai satu per satu di belakang. Suara kapak yang menghantam daging
dan tulang terdengar berirama, diikuti dengan suara benda berat yang jatuh ke
lantai.
"Dia bukan
manusia... dia setan!" tangis Pesu sambil terengah-engah.
"Diam dan
lari saja!" gertak Badras.
Saat mereka
mencapai pintu bunker, Badras dengan cepat menekan kode akses. Pintu baja itu
terbuka perlahan. Mereka masuk dan segera menguncinya dari dalam. Di dalam
bunker yang dilengkapi CCTV, mereka bisa melihat apa yang terjadi di luar.
Di layar monitor
yang didukung baterai darurat, mereka melihat pria bertopeng itu menyeret
kapaknya yang berlumuran darah. Ia berjalan melewati mayat-mayat yang bergelimpangan.
Para wanita dan koki tidak disentuh; mereka hanya meringkuk di sudut sambil
menangis, sementara sang penjagal terus mencari targetnya.
"Kenapa dia
tidak membunuh yang lain?" bisik Pesu.
Badras
memperhatikan layar dengan saksama. "Dia hanya mengincar kita. Dia hanya
mengincar tiga belas orang yang ada di daftar itu."
Tiba-tiba, pria
bertopeng itu berhenti tepat di depan kamera CCTV. Ia menatap lurus ke arah
lensa, seolah tahu Badras dan Pesu sedang menontonnya. Ia mengangkat selembar
kertas yang berlumuran darah ke arah kamera. Di sana tertulis satu nama dengan
tinta merah: Badras Waras.
"Kau tahu
siapa dia, kan?" tanya Pesu dengan suara nyaris hilang.
*
3
Di dalam bunker
yang seharusnya aman, Badras Waras merasa seperti tikus yang terperangkap.
Layar monitor menunjukkan pemandangan yang mengerikan. Satu per satu rekannya
tewas. Ada yang mencoba lari ke arah pantai, namun sang penjagal melempar
kapaknya dengan akurasi yang mustahil. Kapak itu membelah punggung koruptor
tersebut dari kepala hingga selangkangan, membelah tubuhnya menjadi dua bagian
simetris.
"Ini tidak
mungkin... ini mustahil," gumam Badras. Ia terduduk di lantai bunker yang
dingin.
Pesu
mondar-mandir seperti orang gila. "Kita harus panggil bantuan! Pesawat
pribadiku! Pilotnya pasti masih di landasan!"
"Sinyal
diblokir, Pesu! Kau tidak lihat? Dia sudah merencanakan ini dengan sangat
matang," bentak Badras. "Semua teknologi keamanan yang kubeli dengan
harga ratusan miliar ternyata tidak berguna di depan satu orang dengan
kapak!"
"Siapa dia,
Badras? Katakan padaku!" Pesu mencengkeram kerah kemeja Badras.
Badras menepis
tangan Pesu. "Ayahnya adalah pegawai dinas perizinan itu. Pria yang kita
fitnah sepuluh tahun lalu. Pria yang mati di penjara bulan lalu karena serangan
jantung."
Pesu tertegun.
"Maksudmu... anak si tua jujur itu? Bagaimana mungkin dia bisa melakukan
ini? Dia hanya seorang anak teknisi, kan?"
"Temannya,"
bisik Badras. "Aku ingat sekarang. Dia punya sahabat yang bekerja di
Jerman sebagai teknisi militer. Mereka pasti bekerja sama. Tapi yang ada di
atas sana sekarang... itu adalah dendam yang menjelma jadi monster."
Tiba-tiba, suara
dentuman keras terdengar dari pintu baja bunker. BAM!
"Dia tidak
mungkin bisa masuk! Ini baja setebal sepuluh sentimeter!" teriak Pesu
ketakutan.
BAM!
Retakan mulai
muncul di engsel pintu. Kekuatan ayunan kapak di luar sana tampaknya bukan
kekuatan manusia biasa. Pria itu menggunakan alat penambah daya atau semacam
teknologi hidrolik yang dipasang pada lengannya.
"Badras,
lakukan sesuatu!"
Badras mengambil
pistol dari laci meja darurat di bunker tersebut. "Aku akan menembaknya
saat dia masuk. Hanya itu pilihan kita."
Pintu bunker itu
akhirnya jebol. Asap debu mengepul. Sosok bertopeng itu melangkah masuk dengan
tenang. Kapaknya diseret, meninggalkan garis darah panjang di lantai.
"Berhenti di
situ atau aku tembak!" teriak Badras dengan tangan gemetar memegang
pistol.
Pria bertopeng
itu tidak berhenti. Badras melepaskan tiga tembakan. Dor! Dor! Dor!
Peluru-peluru itu
mengenai dada sang pembunuh, tapi dia tidak tumbang. Ia hanya terhuyung
sejenak, lalu kembali tegak. Rompi antipeluru militer yang dikenakannya sangat
tebal.
"Tolong!
Jangan bunuh aku! Aku punya uang! Banyak sekali uang!" ratap Pesu sambil
berlutut di depan pria itu.
Sang penjagal
mengangkat kapaknya. Suaranya terdengar sangat dingin, hampir tanpa emosi.
"Uangmu tidak bisa menghidupkan kembali ayahku yang mati dalam kehinaan di
sel yang sempit."
"Kami bisa
membersihkan namanya! Kami akan buat pengakuan!" teriak Badras.
Pria itu
menggeleng perlahan. "Sudah terlambat. Keadilan tidak ada di meja hijau
kalian. Keadilan ada di ujung baja ini."
Dengan satu
ayunan yang sangat kuat, kapak itu menebas leher Pesu Madangkana. Kepala pria
terkaya di komunitas itu menggelinding hingga ke kaki Badras. Badras berteriak
histeris, menjatuhkan pistolnya, dan merangkak mundur hingga terpojok di
dinding.
"Sekarang
giliranmu, Badras Waras. Tuan rumah yang sangat ramah," kata pria itu
sambil melangkah mendekat.
Badras menangis
sesenggukan. "Tolong... aku mohon... aku punya keluarga..."
"Ayahku juga
punya keluarga. Tapi kau menghancurkannya tanpa kedip sedikit pun demi beberapa
digit angka di rekeningmu," pria itu mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.
Cahaya lampu darurat yang kemerahan membuat pemandangan itu tampak seperti
adegan di neraka.
"Siapa
namamu? Setidaknya biarkan aku tahu siapa yang membunuhku!" pinta Badras
dengan sisa keberaniannya.
Pria itu membuka
topengnya perlahan. Di balik topeng itu, terdapat wajah seorang pria muda
dengan mata yang terlihat sangat lelah namun penuh tekad. Ada luka parut
panjang di pipinya.
"Namaku
tidak penting. Tapi bagi ayahku, aku adalah putranya yang berjanji akan mencuci
darah dengan darah," jawabnya.
Kapak itu
berayun. Badras hanya sempat melihat kilatan baja sebelum dunianya menjadi
gelap selamanya.
*
4
Satu jam setelah
pembantaian itu berakhir, suasana di Pulau Kembangga Cengkerek kembali sunyi.
Hanya suara deburan ombak dan isak tangis samar dari para wanita dan pelayan
yang masih bersembunyi di kamar-kamar atas.
Pria muda itu
berjalan menuju dermaga belakang yang tersembunyi. Di sana, sebuah kapal selam
mini berwarna hitam metalik sudah menunggu, terapung tenang di permukaan air.
Seorang pria lain
muncul dari dalam lubang palka kapal selam itu. "Sudah selesai,
kawan?"
"Sudah. Tiga
belas ekor lintah itu sudah musnah," jawab sang penjagal sambil
membersihkan sisa darah di wajahnya.
"Bagaimana
dengan para penjaga?"
"Hanya
peluru bius. Mereka akan bangun besok siang dengan kepala pening, tapi mereka
hidup. Aku tidak punya urusan dengan mereka yang hanya menjalankan tugas demi
gaji," ia melompat ke atas kapal selam.
"Kau yakin
tidak meninggalkan jejak? Badras punya sistem keamanan yang sangat
canggih," tanya temannya yang merupakan teknisi kiriman dari Jerman itu.
Pria muda itu
menoleh ke arah vila yang sekarang terlihat seperti kuburan mewah di tengah
pulau. "Aku sudah menghancurkan pusat datanya. Tidak ada rekaman. Dan
kapak itu... aku akan membuangnya ke palung laut terdalam dalam perjalanan
pulang."
"Keadilan
telah ditegakkan, meski dengan cara yang gelap," gumam si teknisi.
"Ini bukan
soal keadilan lagi. Ini soal keseimbangan. Mereka ugal-ugalan merampok nyawa
rakyat, maka maut juga akan menjemput mereka dengan cara yang
ugal-ugalan," pria muda itu masuk ke dalam palka.
Kapal selam mini
itu mulai menyelam perlahan, menghilang di balik kegelapan air laut yang
dingin. Tak lama kemudian, permukaan air kembali tenang, seolah tidak pernah
terjadi apa-apa.
Keesokan harinya,
ketika tim medis dan polisi datang setelah menerima laporan anonim, mereka
menemukan pemandangan yang akan menghantui mimpi mereka selamanya. Tiga belas
orang paling berpengaruh di negeri itu tewas dengan cara yang mengerikan.
Namun, anehnya, tak ada satu pun barang berharga yang hilang. Jam tangan
seharga miliaran, tumpukan uang tunai, dan perhiasan para wanita tetap pada
tempatnya.
Satu-satunya hal
yang hilang adalah nyawa para koruptor itu.
Di atas meja
kerja Badras Waras yang berlumuran darah, polisi menemukan sebuah catatan kecil
yang ditinggalkan oleh sang pembunuh. Catatan itu hanya berisi satu kalimat
pendek yang ditulis dengan tangan yang sangat rapi.
Seorang inspektur
polisi membacanya dengan tangan gemetar, lalu menatap rekan-rekannya dengan
wajah pucat.
"Apa isinya,
Komandan?" tanya salah satu polisi muda.
Inspektur itu
menghela napas panjang dan menunjukkan kertas itu.
"Korupsi
adalah kanker, dan kapak ini adalah operasinya."
*
5
Beberapa bulan
setelah kejadian di Pulau Kembangga Cengkerek, berita itu mulai meredup.
Pemerintah melakukan pembersihan besar-besaran terhadap aset-aset milik tiga
belas koruptor yang tewas tersebut. Masyarakat bersorak, menganggap sang
pembunuh sebagai pahlawan anonim.
Di sebuah kafe
kecil di pinggiran kota Berlin, pria muda itu sedang duduk sambil membaca koran
internasional. Ia menyeruput kopi hitamnya dengan tenang. Seorang pria paruh
baya dengan pakaian rapi duduk di hadapannya.
"Kau
melakukan tugasmu dengan sangat baik," kata pria paruh baya itu dalam
bahasa Indonesia yang sangat lancar.
Pria muda itu
melirik tajam. "Aku melakukannya untuk ayahku. Bukan untuk kalian."
Pria paruh baya
itu tersenyum tipis. "Tentu saja. Tapi kau harus mengakui, tanpa bantuan
data intelejen kami dan kapal selam mini itu, kau tidak akan pernah bisa
menembus pertahanan Badras Waras."
"Apa maumu
sekarang? Aku sudah memberikan apa yang kalian inginkan. Tiga belas orang itu
sudah mati, dan posisi mereka di pemerintahan sekarang kosong," sahut pria
muda itu dingin.
Pria paruh baya
itu mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dan mendorongnya ke arah pria muda
itu. "Ada tiga belas nama lagi. Mereka lebih besar, lebih licin, dan lebih
berbahaya dari kelompok Badras."
Pria muda itu
menatap amplop tersebut dengan ragu. "Aku bukan pembunuh bayaran
kalian."
"Kami tidak
membayar dengan uang, Nak. Kami membayar dengan rasa tenang bagi arwah ayahmu.
Bukankah kau ingin membersihkan seluruh kebun dari hama?" tanya pria itu
dengan nada persuasif.
Pria muda itu
terdiam lama. Ia teringat wajah ayahnya saat terakhir kali bertemu di balik
jeruji besi. Wajah yang jujur, lelah, dan hancur karena fitnah. Ia kemudian
membuka amplop itu dan melihat foto-foto target barunya.
Tiba-tiba, ia
menyadari sesuatu. Di salah satu foto itu, ada wajah yang ia kenali. Wajah pria
paruh baya yang sekarang sedang duduk di depannya.
"Kenapa
fotomu ada di sini?" tanya pria muda itu sambil menatap lawan bicaranya
dengan bingung.
Pria paruh baya
itu tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar hampa dan mengerikan. Ia berdiri
dari kursinya, merapikan jasnya, dan menatap ke arah luar jendela kafe yang
mulai diguyur hujan.
"Karena aku
adalah orang yang memberikan perintah pada Badras Waras untuk memfitnah ayahmu
sepuluh tahun lalu."
Pria muda itu
tersentak, tangannya secara insting mencari sesuatu di balik jaketnya. Namun,
pria paruh baya itu lebih cepat. Dua orang pria berbadan tegap tiba-tiba muncul
di belakang pria muda itu dan menodongkan senjata dengan peredam suara ke
punggungnya.
"Jangan
bodoh," bisik pria paruh baya itu. "Aku mengirimmu ke pulau itu untuk
membersihkan jejak-jejakku. Badras dan Pesu tahu terlalu banyak. Mereka mulai
tidak bisa dikendalikan. Jadi, aku menggunakan dendammu untuk melenyapkan
mereka."
"Kau... kau
monster yang sebenarnya," desis pria muda itu dengan amarah yang meluap.
"Kita semua
adalah monster di dunia ini, tergantung siapa yang memegang kapaknya. Sekarang,
kau punya dua pilihan. Mati di sini sebagai pembunuh massal yang dicari
interpol, atau bekerja untukku dan mendapatkan nama baru, identitas baru, dan
target-target baru yang memang pantas untuk mati."
Pria muda itu
mengepalkan tinjunya. Ia menyadari bahwa ia baru saja keluar dari satu sarang
lintah hanya untuk masuk ke dalam mulut seekor naga.
"Jadi, apa
keputusanmu, Pahlawan Kapak?" tanya pria paruh baya itu sambil tersenyum
lebar.
Pria muda itu
menatap foto-foto di dalam amplop tersebut, lalu menatap pria di depannya
dengan tatapan yang sangat dingin, lebih dingin daripada baja kapaknya di malam
pembantaian itu.
"Siapkan
kapakku yang baru."
*
6
Pria muda itu,
yang kini memiliki identitas baru sebagai 'Aris', berdiri di atas gedung
pencakar langit di pusat kota Jakarta. Di tangannya bukan lagi kapak besar yang
berat, melainkan sebuah koper perak berisi peralatan canggih.
"Target
pertama sudah terlihat, Bos," ucap Aris melalui mikrofon kecil di kerah
bajunya.
Di seberang sana,
suara pria paruh baya yang kini menjadi atasannya terdengar puas. "Ingat,
buat itu terlihat seperti kecelakaan. Kita tidak ingin drama kapak terulang
lagi di tengah kota."
Aris memandangi
targetnya melalui teropong. Seorang menteri yang sedang dikawal ketat, baru
saja keluar dari mobil mewah. Aris tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak
pernah terlihat oleh siapa pun sebelumnya.
"Tenang
saja, aku tahu cara membuat mereka menderita sebelum mati," jawab Aris.
"Bagus.
Laksanakan tugasmu dan jangan sampai ada kesalahan sedikit pun."
Aris menutup
komunikasinya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari kopernya—sebuah pemicu
ledakan mikro. Namun, ia tidak mengarahkannya ke arah mobil sang menteri. Ia
justru memasukkan koordinat lain ke dalam sistemnya.
Koordinat kantor
pribadi pria paruh baya yang baru saja memerintahnya.
"Kau pikir
kau bisa mengendalikan dendamku?" gumam Aris pada diri sendiri.
Ia menekan tombol
pemicu tersebut. Di kejauhan, sebuah ledakan hebat mengguncang distrik bisnis.
Api membubung tinggi dari lantai teratas sebuah gedung megah. Aris
memperhatikan pemandangan itu dengan kepuasan yang luar biasa.
Ia tahu,
permainannya baru saja dimulai. Ia tidak akan berhenti sampai setiap orang yang
terlibat dalam kehancuran ayahnya—termasuk mereka yang mencoba
memanfaatkannya—tewas di tangannya.
Ia mengambil
topeng hitamnya dari dalam koper, menatapnya sejenak, lalu memakainya kembali.
"Ayah, satu
lagi sudah lunas."
Dari kegelapan
malam, ia menghilang seperti bayangan, meninggalkan kekacauan yang akan menjadi
berita utama besok pagi. Dan jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa kapak
keadilan tidak akan pernah benar-benar berhenti berayun selama masih ada
ketidakadilan di dunia ini.
Seorang saksi
mata yang kebetulan berada di dekat gedung yang meledak itu bersumpah bahwa ia
melihat sesosok pria bertopeng berdiri di puncak gedung seberang, memegang
sesuatu yang berkilau seperti baja.
"Siapa
itu?" tanya seorang pejalan kaki yang ketakutan.
Polisi yang baru
tiba di lokasi hanya bisa menatap puing-puing bangunan dengan wajah bingung dan
pasrah.
"Entahlah,
tapi sepertinya seseorang baru saja mengirimkan tagihan atas dosa masa
lalu."
Spirov Lengking, 620290215652
Tidak ada komentar:
Posting Komentar