Sabtu, 08 Agustus 2026

Pedang Penabur Maut


Hujan badai menghantam Pulau Nirwana dengan beringas. Di tengah deburan ombak yang menghajar tebing-tebing karang, sebuah siluet berdiri tegak di dermaga pribadi yang dijaga ketat. Pandiga Mahestara mengencangkan pegangan pada sebuah bungkusan kain panjang di punggungnya. Matanya yang sedingin es menatap vila megah di puncak bukit.

 

"Berhenti di situ! Siapa lo?"

 

Dua orang penjaga berpakaian safari hitam menghadang langkahnya. Masing-masing menenteng senapan serbu.

 

"Saya punya janji dengan Tuan Habaso," ucap Pandiga datar.

 

"Janji? Tengah malam begini? Jangan bercanda. Pergi atau gue bolongin kepala lo!"

 

Pandiga tidak bergerak. "Kalian baru bekerja di sini? Kalau sudah lama, kalian pasti tahu wajah ini."

 

Penjaga pertama menyipitkan mata, mengarahkan senter ke wajah Pandiga. "Muka lo kayak pernah gue liat di poster lama. Tapi siapa ya? Ah, bodo amat. Pergi sekarang!"

 

"Tujuh tahun," gumam Pandiga. "Waktu yang cukup lama untuk melupakan wajah keluarga Mahestara."

 

Kedua penjaga itu tersentak. Nama 'Mahestara' adalah tabu di pulau ini.

 

"Mahestara? Anak pengusaha sialan itu?" Penjaga kedua tertawa remeh. "Bukannya lo sudah mati di London atau di mana lah itu? Berani-beraninya lo balik ke sini."

 

"Saya balik untuk mengambil apa yang menjadi hak saya."

 

"Hak lo cuma satu meter tanah buat kuburan, Bocah!"

 

Penjaga itu menarik pelatuk, namun sebelum peluru sempat keluar, sebuah kilatan perak membelah kegelapan. Tidak ada suara dentingan logam yang keras, hanya suara sring yang halus seperti hembusan angin.

 

"Eh? Tanganku..."

 

Penjaga itu menatap lengannya yang terputus, jatuh ke lantai dermaga bersama senapannya. Darah menyembur deras. Dia bahkan belum sempat merasakan sakit ketika Pandiga sudah berada di belakangnya.

 

"Sangat tajam, bukan?" Pandiga mengelus bilah pedang yang sangat tipis dan lentur di tangannya. "Pusaka Mahestara tidak pernah mengecewakan."

 

"Setan lo! Mati lo!" Penjaga satunya mencoba menembak membabi buta.

 

Pandiga meliuk, tubuhnya seringan kapas. Pedang tipis itu melengkung mengikuti gerakan tangannya, menebas leher penjaga kedua dengan presisi yang mengerikan. Kepala itu menggelinding, jatuh ke laut, tertelan ombak.

 

"Masih ada empat puluh dua orang lagi di dalam," bisik Pandiga pada pedangnya. "Kau haus, kan?"

 

Pintu gerbang otomatis terbuka. Di balik interkom, sebuah suara parau terdengar.

 

"Siapa di sana? Ada keributan apa di dermaga?"

 

Pandiga mendekati kamera pengawas, mengangkat kepala penjaga yang masih tersisa di tangannya.

 

"Ini baru hidangan pembuka, Habaso."

 

*

 

 

 

Lantai marmer vila itu kini tidak lagi putih bersih. Jejak kaki berdarah menandai setiap langkah Pandiga menuju aula utama. Di sana, sepuluh orang antek Habaso sudah bersiaga dengan senjata terhunus. Mereka bukan amatir, tapi eksekutor kepercayaan sang Mafia Jakarta.

 

"Ternyata benar. Tikus kecil Mahestara kembali ke sarang kucing," ujar seorang pria bertubuh kekar. Tampaknya pemimpin anah buah Habaso.

 

"Di mana Habaso?" Pandiga bertanya tanpa ekspresi.

 

"Tuan besar sedang menikmati anggur mahalnya. Dia bilang, kepalamu akan jadi hiasan dinding yang bagus malam ini."

 

Pandiga tersenyum tipis, sebuah pemandangan yang justru terlihat mengerikan. "Kalian tahu kenapa pedang ini dibuat sangat tipis?"

 

"Mana gue tahu! Paling itu pedang mainan yang bakal patah kena parang gue!"

 

Pria kekar itu menerjang dengan parang besar. Pandiga tidak menghindar. Dia justru mengibaskan pedangnya. Logam itu melentur, melilit parang lawan, dan dengan satu sentakan, parang itu hancur menjadi serpihan kecil.

 

"Pedang ini terbuat dari baja pilihan zaman Majapahit," kata Pandiga sambil menusuk jantung pria itu secepat kilat. "Kelenturannya adalah kekuatannya."

 

"Serbu dia! Jangan biarkan dia mendekat!" teriak salah satu antek yang mulai panik.

 

"Terlambat," bisik Pandiga. "Jurus Tebasan Angin Timur!"

 

Pandiga berputar. Pedangnya yang lentur memanjang. Menebas dalam radius tiga meter. Suara robekan daging terdengar beruntun. Empat orang tersungkur dengan perut terburai secara bersamaan.

 

"Gila! Dia bukan manusia!"

 

"Jangan lari! Tembak dia!"

 

Rentetan peluru memenuhi ruangan. Pandiga melompat ke balik pilar besar. Dia gunakan dinding untuk melenting ke langit-langit, lalu bergelantungan di lampu gantung kristal yang mewah.

 

"Kalian membunuh ayahku karena dia jujur," suara Pandiga bergema dari atas.

 

"Bapak lo itu bego! Zaman sekarang jujur itu mati!" teriak seorang antek sambil menembak ke arah lampu gantung.

 

"Kalian membunuh ibuku yang tidak tahu apa-apa."

 

Lampu gantung itu jatuh, menghantam dua orang di bawahnya. Dalam kegelapan sesaat, Pandiga turun seperti malaikat maut.

 

"Dan kalian membunuh adik kecilku... dia baru berumur sepuluh tahun."

 

Satu per satu, nyawa di ruangan itu melayang. Pedang Pandiga bekerja seperti cambuk yang memiliki mata. Setiap ayunan berarti satu nyawa.

 

"Tolong! Ampun! Gue cuma ikut perintah!" terengah antek terakhir yang terpojok di sudut ruangan.

 

Pandiga menempelkan ujung pedangnya yang tipis ke leher pria itu. Pedang itu bergetar halus.

 

"Di mana Habaso?"

 

"Di... di lantai atas... ruangan kerja kedap suara... tolong lepaskan gue, gue punya anak istri!"

 

Pandiga menatap pria itu dengan tatapan kosong. "Adikku juga ingin punya masa depan."

 

"Jangan, kumohon—"

 

"Sampaikan salamku pada iblis di neraka."

 

*

 

 

Pintu jati berukir emas itu terbuka perlahan. Di dalamnya, sebuah ruangan yang sangat luas dengan pemandangan langsung ke arah laut lepas melalui dinding kaca. Habaso, pria tua dengan rambut putih yang tertata rapi, duduk santai di balik meja kerja mahoni. Dia memegang gelas berisi cairan merah tua.

 

"Masuklah, Pandiga. Aku sudah menunggumu sejak kau menginjakkan kaki di dermaga."

 

Pandiga masuk, pedangnya meneteskan darah segar yang mengotori karpet Persia mahal di bawahnya.

 

"Kau terlihat sangat mirip dengan ayahmu, Mahesa. Keras kepala dan sombong."

 

"Jangan sebut nama ayahku dengan mulut kotormu," desis Pandiga.

 

Habaso tertawa kecil, menyesap anggurnya. "Kenapa tidak? Aku mengenalnya lebih baik darimu. Kami dulu teman. Pertemanan kami berakhir ketika dia jadi pahlawan kesiangan yang tidak mau berbagi keuntungan."

 

"Dia pengusaha jujur. Kau perampok berbaju pengusaha."

 

"Dunia ini milik perampok, Pandiga. Yang jujur hanya akan menjadi alas kaki." Habaso meletakkan gelasnya. "Pamanmu, Bram... bagaimana kabarnya di London? Dia pasti menjagamu dengan sangat baik menggunakan uang yang kukirimkan setiap bulan."

 

Langkah Pandiga terhenti. "Apa maksudmu?"

 

"Oh, Bram tidak cerita? Dia yang memberiku kode akses gudang ayahmu. Dia yang memberitahu jadwal kepulangan ibumu dari pengajian. Dia ingin perusahaan itu, tapi dia terlalu pengecut untuk mengotori tangannya sendiri."

 

"Kau bohong! Paman Bram yang menyelamatkanku!"

 

"Dia menyelamatkanmu karena kau adalah asuransinya," Habaso berdiri, berjalan menuju dinding kaca. "Dia tahu suatu saat aku mungkin akan mengkhianatinya, jadi dia memeliharamu sebagai senjata. Dan lihatlah sekarang... senjata itu benar-benar datang untuk membunuhku."

 

"Bohong... semua itu bohong!"

 

Pandiga menerjang. Pedangnya melesat menuju leher Habaso. Namun, pria tua itu dengan tenang menekan sebuah tombol di bawah mejanya. Sebuah dinding baja transparan turun dari langit-langit, menghalangi serangan Pandiga.

 

"Pedang Majapahit itu indah, tapi teknologi modern jauh lebih praktis."

 

"Keluar kau, Tua Bangka! Hadapi aku!" teriak Pandiga sambil menebas dinding baja itu berkali-kali. Pedangnya melengkung, namun tidak mampu menembus baja setebal sepuluh sentimeter itu.

 

"Sabar, Nak. Aku punya hadiah untukmu. Sesuatu yang Bram sembunyikan selama tujuh tahun ini."

 

Habaso menyalakan layar monitor besar di dinding. Sebuah rekaman video hitam putih muncul. Di sana terlihat sebuah gudang tua. Pandiga melihat ayahnya bersimpuh, bersimbah darah. Di depannya berdiri seorang pria yang sangat dikenalnya. Paman Bram.

 

"Maafkan aku, Mahesa. Tapi sahammu terlalu menggiurkan untuk dibagi," suara Bram di video itu terdengar jelas.

 

Bram kemudian mengangkat pistol, mengarahkannya ke kepala ayah Pandiga, dan menarik pelatuknya.

 

"Tidak mungkin..." Pandiga jatuh berlutut. Dunia seolah runtuh di sekitarnya.

 

"Bram menggunakanmu untuk menyingkirkanku agar dia bisa menguasai seluruh aset Mahestara sendirian," lanjut Habaso dengan nada mengejek. "Kau hanyalah alat pembersih, Pandiga. Setelah aku mati, kau pikir dia akan membiarkanmu hidup?"

 

Tiba-tiba, suara helikopter terdengar mendekat ke vila. Di layar monitor lain, terlihat sebuah helikopter dengan lambang perusahaan paman Bram mendarat di atap.

 

"Sepertinya paman kesayanganmu datang untuk menjemput 'hasil panennya'."

 

*

 

 

Pintu ruangan kerja itu diledakkan dari luar. Pasukan khusus berseragam taktis masuk dengan senjata lengkap, dipimpin oleh seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa. Bram Mahestara melangkah masuk dengan senyum kebapakan yang selama ini Pandiga percayai.

 

"Pandiga! Kau berhasil, Nak! Kau sudah membalaskan dendam orang tuamu!" Bram berlari kecil ke arah Pandiga, mencoba memeluknya.

 

Pandiga berdiri perlahan, matanya menatap tajam ke arah pamannya. Pedang di tangannya bergetar hebat, bukan karena takut, tapi karena amarah yang meluap.

 

"Kenapa, Paman?"

 

Bram terhenti, wajahnya berubah bingung. "Ada apa, Pandiga? Kita harus segera pergi dari sini sebelum polisi datang. Habaso sudah mati, kan?"

 

Pandiga menunjuk ke arah Habaso yang masih berada di balik dinding baja. "Dia belum mati. Tapi dia sudah menunjukkan padaku siapa sebenarnya yang menarik pelatuk malam itu."

 

Ekspresi Bram berubah seketika. Kehangatan di matanya hilang, digantikan oleh tatapan dingin dan licik yang sangat asing bagi Pandiga. Dia tertawa pelan, suara tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.

 

"Ah, jadi si tua bangka itu buka mulut juga ya? Padahal aku berharap ini akan jadi rahasia yang indah sampai kau mati."

 

"Kau membunuh saudaramu sendiri demi uang?"

 

"Bukan cuma uang, Pandiga. Kekuasaan. Ayahmu itu terlalu lambat. Dia menghambat pertumbuhan perusahaan dengan moralitas sampahnya," Bram memberi isyarat pada pasukannya untuk menodongkan senjata ke arah Pandiga dan Habaso. "Dan sekarang, aku akan menjadi pahlawan yang datang terlambat. 'Pandiga Mahestara gila karena dendam, membunuh Habaso lalu bunuh diri'. Judul berita yang bagus, kan?"

 

"Kau pikir mereka bisa menghentikanku?" Pandiga mengangkat pedangnya.

 

"Senjata api mengalahkan pedang tua, Nak. Itu hukum alam."

 

Habaso tertawa dari balik dinding bajanya. "Bram, kau selalu meremehkan sesuatu yang tidak kau mengerti. Baja itu bukan sekadar pedang."

 

"Diam kau, Habaso! Habisi mereka berdua!" perintah Bram.

 

Sebelum para prajurit sempat menekan pelatuk, Pandiga melakukan sesuatu yang tak terduga. Dia memutar pegangan pedangnya. Suara klik kecil terdengar. Bilah pedang yang tadinya lentur tiba-tiba menjadi kaku dan mengeluarkan cahaya kebiruan yang redup.

 

"Kakek pernah bilang," suara Pandiga rendah dan mengancam. "Pusaka Mahestara hanya akan menunjukkan wujud aslinya di tangan orang yang dikhianati."

 

Dalam satu gerakan yang hampir tidak tertangkap mata manusia, Pandiga melesat. Dia tidak menebas orang-orang itu; dia melewati mereka. Pedangnya bergerak seperti jarum yang menjahit udara.

 

Srak! Srak! Srak!

 

Sepuluh prajurit taktis itu terdiam. Senjata mereka terbelah dua secara vertikal. Detik berikutnya, tangan mereka yang memegang senjata jatuh ke lantai secara bersamaan.

 

"Apa?! Bagaimana mungkin?!" Bram mundur hingga terbentur meja kerja.

 

Pandiga kini berdiri tepat di depan Bram. Pedangnya yang kaku kini menembus dinding baja transparan milik Habaso seolah-olah itu hanya terbuat dari kertas. Ujung pedang itu berhenti tepat satu milimeter di depan hidung Habaso yang pucat pasi.

 

"Habaso, kau akan tetap hidup untuk membusuk di penjara setelah aku menyerahkan semua bukti penggelapan pajak dan pembunuhanmu ke otoritas internasional. Paman Bram sudah menyiapkannya untukmu, kan?"

 

"Pandiga, tunggu! Kita bisa bicara!" teriak Bram gemetar. "Aku pamanmu! Aku yang membiayaimu di London!"

 

Pandiga menoleh ke arah Bram. Dia mengibaskan pedangnya, mengubahnya kembali menjadi mode lentur. Dengan satu sentakan tangan, pedang itu melilit leher Bram seperti ular baja.

 

"London adalah penjara bagiku, Paman. Dan sekarang, kau akan merasakan penjara yang sesungguhnya."

 

Pandiga menarik pedangnya. Bukan untuk memenggal, tapi untuk menarik Bram mendekat hingga wajah mereka berdekatan.

 

"Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Itu terlalu mudah."

 

"Lalu apa yang kau mau?!" tangis Bram pecah.

 

Pandiga melirik ke arah monitor yang masih menyala, menampilkan video kematian ayahnya. Dia mengambil ponsel milik Bram dari saku jas pamannya itu, lalu menekan sebuah tombol kirim.

 

"Aku baru saja mengirim video pembunuhan ayahku ke seluruh stasiun televisi di Indonesia dan pihak kepolisian."

 

Wajah Bram menjadi seputih kapas. Seluruh dunia akan melihat wajahnya sebagai pembunuh dalam hitungan menit.

 

"Kau menghancurkan segalanya!" teriak Bram.

 

Pandiga menyarungkan pedangnya kembali ke dalam kain di punggungnya. Dia berjalan menuju balkon, menatap hujan yang mulai reda dan fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur.

 

"Dendam sudah lunas, tapi keadilan baru saja dimulai."

 


Pandiga melompat dari balkon, menghilang di kegelapan hutan pulau itu sebelum helikopter polisi yang sebenarnya tiba. Di ruangan yang hancur itu, Bram dan Habaso hanya bisa saling pandang dalam kehancuran masing-masing.

 


Spirov Lengking, 62028070123731


Tidak ada komentar:

Posting Komentar