Hujan
badai menghantam Pulau Nirwana dengan beringas. Di tengah deburan ombak yang
menghajar tebing-tebing karang, sebuah siluet berdiri tegak di dermaga pribadi
yang dijaga ketat. Pandiga Mahestara mengencangkan pegangan pada sebuah
bungkusan kain panjang di punggungnya. Matanya yang sedingin es menatap vila
megah di puncak bukit.
"Berhenti
di situ! Siapa lo?"
Dua
orang penjaga berpakaian safari hitam menghadang langkahnya. Masing-masing
menenteng senapan serbu.
"Saya
punya janji dengan Tuan Habaso," ucap Pandiga datar.
"Janji?
Tengah malam begini? Jangan bercanda. Pergi atau gue bolongin kepala lo!"
Pandiga
tidak bergerak. "Kalian baru bekerja di sini? Kalau sudah lama, kalian
pasti tahu wajah ini."
Penjaga
pertama menyipitkan mata, mengarahkan senter ke wajah Pandiga. "Muka lo
kayak pernah gue liat di poster lama. Tapi siapa ya? Ah, bodo amat. Pergi
sekarang!"
"Tujuh
tahun," gumam Pandiga. "Waktu yang cukup lama untuk melupakan wajah
keluarga Mahestara."
Kedua
penjaga itu tersentak. Nama 'Mahestara' adalah tabu di pulau ini.
"Mahestara?
Anak pengusaha sialan itu?" Penjaga kedua tertawa remeh. "Bukannya lo
sudah mati di London atau di mana lah itu? Berani-beraninya lo balik ke
sini."
"Saya
balik untuk mengambil apa yang menjadi hak saya."
"Hak
lo cuma satu meter tanah buat kuburan, Bocah!"
Penjaga
itu menarik pelatuk, namun sebelum peluru sempat keluar, sebuah kilatan perak
membelah kegelapan. Tidak ada suara dentingan logam yang keras, hanya suara
sring yang halus seperti hembusan angin.
"Eh?
Tanganku..."
Penjaga
itu menatap lengannya yang terputus, jatuh ke lantai dermaga bersama
senapannya. Darah menyembur deras. Dia bahkan belum sempat merasakan sakit
ketika Pandiga sudah berada di belakangnya.
"Sangat
tajam, bukan?" Pandiga mengelus bilah pedang yang sangat tipis dan lentur
di tangannya. "Pusaka Mahestara tidak pernah mengecewakan."
"Setan
lo! Mati lo!" Penjaga satunya mencoba menembak membabi buta.
Pandiga
meliuk, tubuhnya seringan kapas. Pedang tipis itu melengkung mengikuti gerakan
tangannya, menebas leher penjaga kedua dengan presisi yang mengerikan. Kepala
itu menggelinding, jatuh ke laut, tertelan ombak.
"Masih
ada empat puluh dua orang lagi di dalam," bisik Pandiga pada pedangnya.
"Kau haus, kan?"
Pintu
gerbang otomatis terbuka. Di balik interkom, sebuah suara parau terdengar.
"Siapa
di sana? Ada keributan apa di dermaga?"
Pandiga
mendekati kamera pengawas, mengangkat kepala penjaga yang masih tersisa di
tangannya.
"Ini
baru hidangan pembuka, Habaso."
*
Lantai
marmer vila itu kini tidak lagi putih bersih. Jejak kaki berdarah menandai
setiap langkah Pandiga menuju aula utama. Di sana, sepuluh orang antek Habaso
sudah bersiaga dengan senjata terhunus. Mereka bukan amatir, tapi eksekutor kepercayaan
sang Mafia Jakarta.
"Ternyata
benar. Tikus kecil Mahestara kembali ke sarang kucing," ujar seorang pria
bertubuh kekar. Tampaknya pemimpin anah buah Habaso.
"Di
mana Habaso?" Pandiga bertanya tanpa ekspresi.
"Tuan
besar sedang menikmati anggur mahalnya. Dia bilang, kepalamu akan jadi hiasan
dinding yang bagus malam ini."
Pandiga
tersenyum tipis, sebuah pemandangan yang justru terlihat mengerikan.
"Kalian tahu kenapa pedang ini dibuat sangat tipis?"
"Mana
gue tahu! Paling itu pedang mainan yang bakal patah kena parang gue!"
Pria
kekar itu menerjang dengan parang besar. Pandiga tidak menghindar. Dia justru
mengibaskan pedangnya. Logam itu melentur, melilit parang lawan, dan dengan
satu sentakan, parang itu hancur menjadi serpihan kecil.
"Pedang
ini terbuat dari baja pilihan zaman Majapahit," kata Pandiga sambil
menusuk jantung pria itu secepat kilat. "Kelenturannya adalah
kekuatannya."
"Serbu
dia! Jangan biarkan dia mendekat!" teriak salah satu antek yang mulai
panik.
"Terlambat,"
bisik Pandiga. "Jurus Tebasan Angin Timur!"
Pandiga
berputar. Pedangnya yang lentur memanjang. Menebas dalam radius tiga meter.
Suara robekan daging terdengar beruntun. Empat orang tersungkur dengan perut
terburai secara bersamaan.
"Gila!
Dia bukan manusia!"
"Jangan
lari! Tembak dia!"
Rentetan
peluru memenuhi ruangan. Pandiga melompat ke balik pilar besar. Dia gunakan
dinding untuk melenting ke langit-langit, lalu bergelantungan di lampu gantung
kristal yang mewah.
"Kalian
membunuh ayahku karena dia jujur," suara Pandiga bergema dari atas.
"Bapak
lo itu bego! Zaman sekarang jujur itu mati!" teriak seorang antek sambil
menembak ke arah lampu gantung.
"Kalian
membunuh ibuku yang tidak tahu apa-apa."
Lampu
gantung itu jatuh, menghantam dua orang di bawahnya. Dalam kegelapan sesaat,
Pandiga turun seperti malaikat maut.
"Dan
kalian membunuh adik kecilku... dia baru berumur sepuluh tahun."
Satu per
satu, nyawa di ruangan itu melayang. Pedang Pandiga bekerja seperti cambuk yang
memiliki mata. Setiap ayunan berarti satu nyawa.
"Tolong!
Ampun! Gue cuma ikut perintah!" terengah antek terakhir yang terpojok di
sudut ruangan.
Pandiga
menempelkan ujung pedangnya yang tipis ke leher pria itu. Pedang itu bergetar
halus.
"Di
mana Habaso?"
"Di...
di lantai atas... ruangan kerja kedap suara... tolong lepaskan gue, gue punya
anak istri!"
Pandiga
menatap pria itu dengan tatapan kosong. "Adikku juga ingin punya masa
depan."
"Jangan,
kumohon—"
"Sampaikan
salamku pada iblis di neraka."
*
Pintu
jati berukir emas itu terbuka perlahan. Di dalamnya, sebuah ruangan yang sangat
luas dengan pemandangan langsung ke arah laut lepas melalui dinding kaca.
Habaso, pria tua dengan rambut putih yang tertata rapi, duduk santai di balik
meja kerja mahoni. Dia memegang gelas berisi cairan merah tua.
"Masuklah,
Pandiga. Aku sudah menunggumu sejak kau menginjakkan kaki di dermaga."
Pandiga
masuk, pedangnya meneteskan darah segar yang mengotori karpet Persia mahal di
bawahnya.
"Kau
terlihat sangat mirip dengan ayahmu, Mahesa. Keras kepala dan sombong."
"Jangan
sebut nama ayahku dengan mulut kotormu," desis Pandiga.
Habaso
tertawa kecil, menyesap anggurnya. "Kenapa tidak? Aku mengenalnya lebih
baik darimu. Kami dulu teman. Pertemanan kami berakhir ketika dia jadi pahlawan
kesiangan yang tidak mau berbagi keuntungan."
"Dia
pengusaha jujur. Kau perampok berbaju pengusaha."
"Dunia
ini milik perampok, Pandiga. Yang jujur hanya akan menjadi alas kaki."
Habaso meletakkan gelasnya. "Pamanmu, Bram... bagaimana kabarnya di
London? Dia pasti menjagamu dengan sangat baik menggunakan uang yang kukirimkan
setiap bulan."
Langkah
Pandiga terhenti. "Apa maksudmu?"
"Oh,
Bram tidak cerita? Dia yang memberiku kode akses gudang ayahmu. Dia yang
memberitahu jadwal kepulangan ibumu dari pengajian. Dia ingin perusahaan itu,
tapi dia terlalu pengecut untuk mengotori tangannya sendiri."
"Kau
bohong! Paman Bram yang menyelamatkanku!"
"Dia
menyelamatkanmu karena kau adalah asuransinya," Habaso berdiri, berjalan
menuju dinding kaca. "Dia tahu suatu saat aku mungkin akan
mengkhianatinya, jadi dia memeliharamu sebagai senjata. Dan lihatlah
sekarang... senjata itu benar-benar datang untuk membunuhku."
"Bohong...
semua itu bohong!"
Pandiga
menerjang. Pedangnya melesat menuju leher Habaso. Namun, pria tua itu dengan
tenang menekan sebuah tombol di bawah mejanya. Sebuah dinding baja transparan
turun dari langit-langit, menghalangi serangan Pandiga.
"Pedang
Majapahit itu indah, tapi teknologi modern jauh lebih praktis."
"Keluar
kau, Tua Bangka! Hadapi aku!" teriak Pandiga sambil menebas dinding baja
itu berkali-kali. Pedangnya melengkung, namun tidak mampu menembus baja setebal
sepuluh sentimeter itu.
"Sabar,
Nak. Aku punya hadiah untukmu. Sesuatu yang Bram sembunyikan selama tujuh tahun
ini."
Habaso
menyalakan layar monitor besar di dinding. Sebuah rekaman video hitam putih
muncul. Di sana terlihat sebuah gudang tua. Pandiga melihat ayahnya bersimpuh,
bersimbah darah. Di depannya berdiri seorang pria yang sangat dikenalnya. Paman
Bram.
"Maafkan
aku, Mahesa. Tapi sahammu terlalu menggiurkan untuk dibagi," suara Bram di
video itu terdengar jelas.
Bram
kemudian mengangkat pistol, mengarahkannya ke kepala ayah Pandiga, dan menarik
pelatuknya.
"Tidak
mungkin..." Pandiga jatuh berlutut. Dunia seolah runtuh di sekitarnya.
"Bram
menggunakanmu untuk menyingkirkanku agar dia bisa menguasai seluruh aset
Mahestara sendirian," lanjut Habaso dengan nada mengejek. "Kau
hanyalah alat pembersih, Pandiga. Setelah aku mati, kau pikir dia akan
membiarkanmu hidup?"
Tiba-tiba,
suara helikopter terdengar mendekat ke vila. Di layar monitor lain, terlihat
sebuah helikopter dengan lambang perusahaan paman Bram mendarat di atap.
"Sepertinya
paman kesayanganmu datang untuk menjemput 'hasil panennya'."
*
Pintu
ruangan kerja itu diledakkan dari luar. Pasukan khusus berseragam taktis masuk
dengan senjata lengkap, dipimpin oleh seorang pria paruh baya yang tampak
berwibawa. Bram Mahestara melangkah masuk dengan senyum kebapakan yang selama
ini Pandiga percayai.
"Pandiga!
Kau berhasil, Nak! Kau sudah membalaskan dendam orang tuamu!" Bram berlari
kecil ke arah Pandiga, mencoba memeluknya.
Pandiga
berdiri perlahan, matanya menatap tajam ke arah pamannya. Pedang di tangannya
bergetar hebat, bukan karena takut, tapi karena amarah yang meluap.
"Kenapa,
Paman?"
Bram
terhenti, wajahnya berubah bingung. "Ada apa, Pandiga? Kita harus segera
pergi dari sini sebelum polisi datang. Habaso sudah mati, kan?"
Pandiga
menunjuk ke arah Habaso yang masih berada di balik dinding baja. "Dia
belum mati. Tapi dia sudah menunjukkan padaku siapa sebenarnya yang menarik
pelatuk malam itu."
Ekspresi
Bram berubah seketika. Kehangatan di matanya hilang, digantikan oleh tatapan
dingin dan licik yang sangat asing bagi Pandiga. Dia tertawa pelan, suara tawa
yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Ah,
jadi si tua bangka itu buka mulut juga ya? Padahal aku berharap ini akan jadi
rahasia yang indah sampai kau mati."
"Kau
membunuh saudaramu sendiri demi uang?"
"Bukan
cuma uang, Pandiga. Kekuasaan. Ayahmu itu terlalu lambat. Dia menghambat pertumbuhan
perusahaan dengan moralitas sampahnya," Bram memberi isyarat pada
pasukannya untuk menodongkan senjata ke arah Pandiga dan Habaso. "Dan
sekarang, aku akan menjadi pahlawan yang datang terlambat. 'Pandiga Mahestara
gila karena dendam, membunuh Habaso lalu bunuh diri'. Judul berita yang bagus,
kan?"
"Kau
pikir mereka bisa menghentikanku?" Pandiga mengangkat pedangnya.
"Senjata
api mengalahkan pedang tua, Nak. Itu hukum alam."
Habaso
tertawa dari balik dinding bajanya. "Bram, kau selalu meremehkan sesuatu
yang tidak kau mengerti. Baja itu bukan sekadar pedang."
"Diam
kau, Habaso! Habisi mereka berdua!" perintah Bram.
Sebelum
para prajurit sempat menekan pelatuk, Pandiga melakukan sesuatu yang tak
terduga. Dia memutar pegangan pedangnya. Suara klik kecil terdengar. Bilah
pedang yang tadinya lentur tiba-tiba menjadi kaku dan mengeluarkan cahaya
kebiruan yang redup.
"Kakek
pernah bilang," suara Pandiga rendah dan mengancam. "Pusaka Mahestara
hanya akan menunjukkan wujud aslinya di tangan orang yang dikhianati."
Dalam
satu gerakan yang hampir tidak tertangkap mata manusia, Pandiga melesat. Dia
tidak menebas orang-orang itu; dia melewati mereka. Pedangnya bergerak seperti
jarum yang menjahit udara.
Srak!
Srak! Srak!
Sepuluh
prajurit taktis itu terdiam. Senjata mereka terbelah dua secara vertikal. Detik
berikutnya, tangan mereka yang memegang senjata jatuh ke lantai secara
bersamaan.
"Apa?!
Bagaimana mungkin?!" Bram mundur hingga terbentur meja kerja.
Pandiga
kini berdiri tepat di depan Bram. Pedangnya yang kaku kini menembus dinding
baja transparan milik Habaso seolah-olah itu hanya terbuat dari kertas. Ujung
pedang itu berhenti tepat satu milimeter di depan hidung Habaso yang pucat
pasi.
"Habaso,
kau akan tetap hidup untuk membusuk di penjara setelah aku menyerahkan semua
bukti penggelapan pajak dan pembunuhanmu ke otoritas internasional. Paman Bram
sudah menyiapkannya untukmu, kan?"
"Pandiga,
tunggu! Kita bisa bicara!" teriak Bram gemetar. "Aku pamanmu! Aku
yang membiayaimu di London!"
Pandiga
menoleh ke arah Bram. Dia mengibaskan pedangnya, mengubahnya kembali menjadi
mode lentur. Dengan satu sentakan tangan, pedang itu melilit leher Bram seperti
ular baja.
"London
adalah penjara bagiku, Paman. Dan sekarang, kau akan merasakan penjara yang
sesungguhnya."
Pandiga
menarik pedangnya. Bukan untuk memenggal, tapi untuk menarik Bram mendekat
hingga wajah mereka berdekatan.
"Aku
tidak akan membunuhmu sekarang. Itu terlalu mudah."
"Lalu
apa yang kau mau?!" tangis Bram pecah.
Pandiga
melirik ke arah monitor yang masih menyala, menampilkan video kematian ayahnya.
Dia mengambil ponsel milik Bram dari saku jas pamannya itu, lalu menekan sebuah
tombol kirim.
"Aku
baru saja mengirim video pembunuhan ayahku ke seluruh stasiun televisi di
Indonesia dan pihak kepolisian."
Wajah
Bram menjadi seputih kapas. Seluruh dunia akan melihat wajahnya sebagai
pembunuh dalam hitungan menit.
"Kau
menghancurkan segalanya!" teriak Bram.
Pandiga
menyarungkan pedangnya kembali ke dalam kain di punggungnya. Dia berjalan
menuju balkon, menatap hujan yang mulai reda dan fajar yang mulai menyingsing
di ufuk timur.
"Dendam
sudah lunas, tapi keadilan baru saja dimulai."
Spirov Lengking, 62028070123731
Tidak ada komentar:
Posting Komentar