Sabtu, 22 Agustus 2026

Pemusnahan Preman Bregedek

 

Suasana Stasiun Bregedek pagi ini terasa berbeda. Hawa dingin yang menusuk tulang sisa hujan semalam masih bergantung di udara. Menung Sanggara berdiri diam di peron nomor tiga, menggenggam erat tali tas ranselnya. Di sampingnya, sebuah koper berukuran sedang berisi buku-buku kuliah dan pakaian tertata rapi. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, mencerminkan sosok pemuda alim yang selama ini dikenal warga.

 

Televisi di ruang tunggu stasiun menyala dengan volume keras, menyiarkan berita luar biasa yang mengguncang kota.

 

"Berita utama pagi ini, Kota Bregedek berdarah. Bentrokan massal antara dua kelompok preman terbesar, Geng Kepruk dan Geng Gaprak, mengakibatkan kehancuran total. Pihak kepolisian menyatakan tidak ada korban selamat dari kedua belah pihak yang bertikai...."

 

Seorang bapak tua di sebelah Menung menggeleng-gelengkan kepala.

 

"Ngeri ya, Mas. Sampai habis begitu," ujar bapak itu sambil menunjuk ke arah televisi.

 

Menung menoleh pelan, tersenyum tipis. "Mungkin itu cara kota ini membersihkan diri, Pak."

 

"Tapi ya masak sampai tidak ada yang sisa? Katanya Koprol sama Jebug mati saling tindih dengan senjata masing-masing," lanjut si bapak dengan nada ngeri.

 

Menung hanya mengangguk sopan. "Kekerasan biasanya memang berakhir seperti itu."

 

"Masnya mau kuliah ke luar kota?" tanya bapak itu lagi, berusaha mencairkan suasana yang kaku.

 

"Iya, Pak. Jurusan Informatika. Hari ini jadwal keberangkatan saya," jawab Menung datar.

 

"Baguslah. Mending jauh-jauh dari kota ini dulu. Suasananya lagi tidak enak. Polisi di mana-mana. Garis polisi dipasang sepanjang Jalan Gondoruwo. Katanya darahnya sampai mengalir ke selokan-selokan pedagang kaki lima," si bapak bergidik.

 

Menung merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel pintarnya yang tampak canggih. Dia menatap layar sebentar sebelum mematikannya secara total. Di layar itu, ada sebuah folder tersembunyi dengan label [Project: Purge].

 

"Mas, dengar-dengar semalam itu ada yang mengadu domba mereka lewat pesan singkat, apa Mas percaya?" tanya bapak itu lagi, tampak sangat ingin bergosip.

 

Menung menatap rel kereta yang membujur kaku. "Teknologi bisa jadi senjata yang lebih tajam dari parang, Pak."

 

"Maksudnya?"

 

"Zaman sekarang, orang lebih percaya pada apa yang muncul di layar HP mereka daripada apa yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri," jawab Menung tenang.

 

Petugas stasiun meniup peluit panjang. Kereta eksekutif jurusan ibu kota mulai memasuki peron dengan suara deru mesin yang berat.

 

"Wah, itu keretanya, Mas. Semoga sukses kuliahnya ya," ucap si bapak ramah.

 

Menung mengangkat kopernya, lalu melangkah menuju pintu gerbong. Sebelum masuk, dia berhenti sejenak dan menatap papan nama stasiun yang bertuliskan "Bregedek".

 

"Terima kasih, Pak. Kota ini akan jauh lebih tenang sekarang," sahut Menung.

 

"Hati-hati di jalan, Mas Menung!" teriak bapak itu dari kejauhan.

 

Menung naik ke atas gerbong, mencari nomor kursinya di dekat jendela. Dia duduk dan menyandarkan kepala. Matanya terpejam, tapi pikirannya melayang kembali ke kejadian enam jam yang lalu. Malam yang seharusnya gelap, namun berubah menjadi merah menyala.

 

Pramugari kereta mendekat, memeriksa tiketnya dengan senyum formal.

 

"Selamat pagi, Mas. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar delapan jam. Ada yang bisa saya bantu?"

 

Menung membuka mata, menatap pramugari itu tanpa emosi.

 

"Tidak, saya hanya ingin tidur dengan nyenyak."

 

"Baik, Mas. Silakan beristirahat."

 

Saat pramugari itu hendak berlalu, Menung memanggilnya kembali.

 

"Mbak, apakah berita tentang kejadian di Jalan Gondoruwo semalam benar-benar sudah dikonfirmasi bahwa tidak ada yang selamat?"

 

Pramugari itu mengangguk dengan wajah prihatin. "Iya, Mas. Beritanya sudah menyebar ke mana-mana. Katanya ini pembantaian paling mengerikan dalam sejarah kota kita. Semua anggota Geng Kepruk dan Geng Gaprak tewas di tempat."

 

Menung menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi empuk kereta.

 

"Bagus kalau begitu, Mas keretanya sudah mau berangkat."

 

*

 

 

Enam jam sebelumnya. Tengah malam baru saja lewat. Kawasan Jalan Gondoruwo yang biasanya ramai oleh pedagang kaki lima kini sunyi senyap. Lapak-lapak kayu kosong ditinggalkan pemiliknya yang ketakutan. Hanya lampu jalan yang berkedip-kedip kusam, menerangi aspal yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu.

 

Koprol, pemimpin Geng Kepruk, berdiri di ujung jalan dengan parang panjang di tangan kanannya. Di belakangnya, hampir seratus orang anak buahnya bersenjata lengkap. Ada yang membawa rantai, celurit, hingga pipa besi.

 

"Mana si Jebug? Katanya mau menghabisi kita di sini!" teriak Koprol, suaranya parau penuh amarah.

 

"Sabar, Bos. Dia pasti datang. Pesannya jelas kok, dia menantang kita di markasnya jam satu malam," sahut salah satu anak buahnya, entah siapa.

 

Koprol meludah ke aspal. "Brengsek. Dia pikir dia siapa berani menantang lewat SMS? Dia pikir lahan Gondoruwo ini punya nenek moyangnya?"

 

Di sisi lain, dari arah kegelapan markas Geng Gaprak, muncul Jebug dengan rombongannya. Jumlah mereka tidak kalah banyak. Jebug memegang kapak ganda yang sudah diasah tajam. Matanya merah, seolah-olah dia sedang berada di bawah pengaruh sesuatu.

 

"Koprol! Berani juga kau datang ke sini untuk menyerahkan nyawa!" ucap Jebug.

 

Koprol terkejut. Dia berhenti melangkah. "Apa katamu? Kau yang menantangku, Jebug! Jangan berlagak seperti korban!"

 

"Aku menantangmu? Kau yang mengirim pesan lewat HP-ku, bilang kalau anak buahku cuma sekumpulan pengecut yang harus dibasmi malam ini!" balas Jebug sambil mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

 

"Jangan bohong! Kau sendiri yang kirim tantangan ke HP-ku! Namamu tertera jelas di situ!" bentak Koprol.

 

Mereka berdiri berhadapan di tengah persimpangan Jalan Gondoruwo. Jarak mereka hanya sekitar sepuluh meter. Ketegangan memuncak hingga ke titik didih.

 

"Aku tidak pernah kirim SMS apa pun padamu malam ini, Koprol! Aku baru mau menyerangmu besok lusa!" teriak Jebug.

 

"Sudahlah, jangan banyak alasan! Kau mau menguasai semua pedagang di sini, kan? Kau mau ambil semua lahan parkir dan setoran toko, kan?" Koprol maju satu langkah.

 

"Memang! Tapi aku akan melakukannya dengan cara jantan, bukan dengan pesan sampah seperti itu!" Jebug ikut maju.

 

Salah satu anak buah Jebug berteriak dari belakang, "Bos! Lihat! Mereka sudah siap menyerang! Jangan percaya omongannya!"

 

Suasana menjadi kacau. Dari kegelapan, sebuah lemparan botol molotov meluncur dan pecah tepat di tengah-tengah kedua kelompok itu. Api menyambar ke segala arah. Ledakan kecil itu memicu adrenalin yang sudah di ubun-ubun.

 

"Serang!" teriak Koprol tanpa berpikir panjang lagi.

 

"Habisi Kepruk! Jangan sisakan satu pun!" teriak Jebug membalas.

 

Dua gelombang manusia itu bertabrakan di tengah jalan. Bunyi besi beradu dengan tulang mulai terdengar. Teriakan kesakitan, makian, dan bunyi daging yang terbelah memecah kesunyian malam di Bregedek.

 

Koprol langsung mengincar Jebug. Parangnya mengayun liar, menebas apa pun yang menghalangi jalannya. Jebug menangkis dengan kapaknya, menciptakan percikan api saat kedua logam itu bertemu.

 

"Kau pikir kau bisa mengalahkanku di kandangku sendiri?" Jebug menyeringai jahat.

 

"Ini bukan kandangmu lagi setelah malam ini, Jebug!" Koprol menusukkan parangnya, menyerempet bahu Jebug.

 

Darah segar menyemprot. Jebug berteriak, bukan karena sakit, tapi karena amarah yang meluap. Dia membalas dengan hantaman kapak yang hampir membelah dada Koprol.

 

Di sekitar mereka, pertempuran berlangsung brutal. Tidak ada belas kasihan. Setiap orang bertarung seolah-olah mereka sudah tidak punya hari esok. Satu per satu anggota geng tumbang, bersimbah darah di aspal yang dingin.

 

"Mana nyalimu, Koprol?" Jebug berteriak di tengah kebisingan.

 

"Nyaliku ada di ujung parang ini, Keparat!" balas Koprol sambil terus merangsek maju.

 

Pertarungan itu tidak terlihat seperti perebutan lahan lagi, melainkan upaya pemusnahan massal. Masing-masing pihak merasa telah dikhianati secara pribadi.

 

"Kenapa kalian tidak mati saja semuanya?" sebuah suara lembut bergumam dari kejauhan, tertutup oleh suara teriakan perang, namun penuh dengan keyakinan.

 

Koprol dan Jebug terus bertarung hingga keduanya kelelahan, penuh luka, namun tetap enggan berhenti. Di sekitar mereka, tumpukan tubuh manusia mulai menghalangi jalan.

 

"Kau... kau yang memulai ini semua..." napas Koprol tersengal-sengal, darah menetes dari dahinya.

 

"Persetan! Siapa pun yang memulai, aku yang akan mengakhirinya!" Jebug mengangkat kapaknya untuk serangan terakhir.

 

"Habisi mereka semua, jangan sisakan satu pun!"

 

*

 

 

Sepuluh jam sebelum bentrokan terjadi. Di sebuah kamar kecil yang bersih dan rapi, Menung Sanggara duduk di depan tiga monitor komputer yang menyala terang. Kamar itu kontras dengan citranya di luar: tidak ada poster band atau perlengkapan olahraga, hanya tumpukan buku kalkulus, pemrograman, dan sebuah sajadah yang terlipat rapi di sudut ruangan.

 

Jemari Menung bergerak sangat cepat di atas keyboard mekanik yang berbunyi klik-klik secara ritmis. Di salah satu layar, terlihat baris-baris kode hijau yang terus bergulir. Di layar lainnya, terdapat basis data nomor telepon yang dia ambil secara ilegal dari server penyedia layanan seluler lokal.

 

"Jebug... Koprol... dua parasit yang harus dibuang," gumam Menung dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang mengerjakan tugas kuliah biasa.

 

Dia membuka sebuah software khusus yang dia buat sendiri. Software itu mampu melakukan spoofing—memalsukan identitas pengirim pesan singkat sehingga penerima akan melihat nama atau nomor siapa pun yang diinginkan si pengirim.

 

Menung mengetikkan pesan pertama untuk Koprol.

 

[Pengirim: Jebug]

"Koprol, gue tahu lo pengecut. Malam minggu ini, lewat tengah malam, datang ke markas gue di Gondoruwo kalau lo punya nyali. Gue bakal habisi lo dan anak buah lo yang nggak berguna itu. Lahan Gondoruwo milik Gaprak sepenuhnya!"

 

Menung menekan tombol 'Enter'. Pesan itu terkirim, melewati satelit, dan mendarat tepat di ponsel Koprol.

 

Tak butuh waktu lama, Menung mulai mengetikkan pesan kedua untuk Jebug.

 

[Pengirim: Koprol]

"Jebug, dengar ya. Gue tahu lo mau main belakang. Malam minggu ini, lewat tengah malam, Geng Kepruk bakal ratakan markas lo. Siapkan kain kafan buat semua anak buah lo. Gondoruwo itu punya gue!"

 

Klik. Pesan kedua terkirim.

 

Menung menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia mengambil segelas air putih dan meminumnya perlahan. Dia tahu betul karakter kedua orang itu. Mereka kasar, emosional, dan sangat protektif terhadap ego mereka. Satu percikan kecil sudah cukup untuk membakar seluruh gudang mesiu.

 

"Satu pesan, satu nyawa. Dua pesan, satu kota bersih," bisik Menung pada bayangannya di cermin.

 

Pintu kamarnya diketuk pelan.

 

"Menung, sudah salat Isya, Nak?" suara ibunya terdengar dari balik pintu.

 

"Sudah, Bu. Ini lagi belajar buat persiapan berangkat besok," jawab Menung dengan suara yang sangat lembut dan sopan.

 

"Jangan terlalu malam tidurnya. Besok perjalanan jauh ke Jakarta."

 

"Iya, Bu. Sebentar lagi selesai kok."

 

Menung menunggu hingga langkah kaki ibunya menjauh. Dia kembali menatap layar monitor. Dia memantau aktivitas percakapan di grup-grup WhatsApp rahasia milik kedua geng tersebut yang sudah dia retas sebelumnya.

 

Di grup Geng Kepruk, suasana memanas. Koprol baru saja membagikan tangkapan layar pesan dari 'Jebug'.

 


Koprol: "Lihat ini! Si Jebug nantang perang! Dia pikir kita takut?"

Anak Buah 1: "Sikat, Bos! Masa kita diam saja diinjak-injak begitu?"

Anak Buah 2: "Kumpulkan semua orang! Bawa semua senjata!"

 

Menung tersenyum sinis. Dia beralih ke percakapan Geng Gaprak.

 

Jebug: "Koprol mau main gila. Dia kirim tantangan barusan. Dia mau nyerang markas kita malam minggu!"

Anak Buah A: "Kita siapkan sambutan spesial buat mereka, Bos!"

Anak Buah B: "Jangan ada yang tidur malam ini! Kita habisi Kepruk sampai akar-akarnya!"

 

Menung menutup jendela percakapan itu. Segalanya berjalan sesuai rencana. Dia tidak perlu mengotori tangannya dengan darah secara langsung. Dia hanya perlu memberikan dorongan kecil pada ego yang sudah membengkak.

 

Dia teringat setahun lalu, saat ayahnya, seorang pedagang bakso di Jalan Gondoruwo, meninggal dunia karena serangan jantung setelah dipalak habis-habisan dan gerobaknya dihancurkan oleh anak buah Koprol. Saat itu, polisi tidak bisa berbuat banyak karena kurang bukti dan pengaruh kuat para preman itu di pemerintahan kota.

 

Dendam itu tidak dia luapkan dengan amarah meledak-ledak. Sebagai mahasiswa berprestasi di bidang IT, Menung tahu cara yang lebih elegan untuk membalas dendam.

 

"Kalian pikir kalian penguasa kota ini?" Menung berbicara pada layar monitor.

 

Dia mengetikkan perintah terakhir di komputernya: sebuah naskah otomatis yang akan menghapus seluruh jejak digitalnya, termasuk pesan-pesan spoofing tadi, tepat tiga jam setelah bentrokan dimulai. Tidak akan ada bukti. Tidak akan ada jejak. Polisi hanya akan menemukan ratusan mayat yang saling bunuh.

 

Menung mematikan komputernya. Dia berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota Bregedek dari kejauhan.

 

"Tunggu saja tanggal mainnya, Jebug."

 

*

 

 

Satu minggu sebelum malam berdarah itu. Jalan Gondoruwo sedang berada di puncak keramaiannya. Asap dari panggangan sate, aroma bakso, dan teriakan para pedagang memenuhi udara. Namun, di balik keriuhan itu, ada ketakutan yang nyata.

 

"Mas Menung, mau beli apa hari ini?" tanya Pak Kumis, seorang pedagang martabak, saat melihat Menung berjalan melewati lapaknya.

 

"Martabak manis satu, Pak. Seperti biasa," jawab Menung dengan senyum ramah.

 

Saat Pak Kumis sedang menyiapkan pesanan, tiga orang pria berkaus ketat dengan tato di lengan datang menghampiri. Mereka adalah anak buah Jebug dari Geng Gaprak.

 

"Woi, Kumis! Mana setoran minggu ini? Sudah telat dua hari!" gertak salah satu preman itu sambil menggebrak meja kayu lapak martabak.

 

"Anu, Mas... dagangan lagi sepi. Istri saya juga lagi sakit, butuh uang buat obat," jawab Pak Kumis dengan suara bergetar.

 

"Gue nggak peduli istri lo sakit atau mati! Setoran ya setoran! Kalau nggak mau bayar, pergi dari sini!" preman itu merampas uang dari kaleng penyimpanan Pak Kumis.

 

Menung hanya berdiri diam, mengamati kejadian itu dengan mata dingin. Dia tidak mengintervensi. Dia tahu betul bahwa melawan secara fisik hanya akan berakhir dengan dia yang masuk rumah sakit.

 

Belum sempat preman Geng Gaprak itu pergi, serombongan pria lain datang dari arah berlawanan. Mereka dipimpin oleh seorang pria bertubuh gempal yang merupakan tangan kanan Koprol dari Geng Kepruk.

 

"Heh! Ngapain lo ambil duit di sini? Ini wilayah Kepruk!" teriak si tangan kanan Koprol.

 

"Enak saja lo ngomong! Gondoruwo sisi selatan ini punya Gaprak!" balas anak buah Jebug.

 

"Sejak kapan? Bos Koprol sudah bilang, mulai minggu ini semua pedagang dari ujung jalan sampai lampu merah setornya ke kami!"

 

"Langkahi dulu mayat gue!"

 

Kedua kelompok preman itu mulai saling dorong di depan lapak Pak Kumis. Para pembeli berlarian ketakutan. Pak Kumis hanya bisa pasrah melihat lapaknya hampir roboh karena aksi dorong-dorongan itu.

 

"Sudah, sudah... ini martabaknya, Mas Menung. Maaf ya jadi keganggu," ucap Pak Kumis lirih sambil menyerahkan bungkusan martabak.

 

Menung menerima bungkusan itu, membayar dengan uang pas, lalu menatap kedua kelompok preman yang masih bertengkar itu.

 

"Kenapa kalian tidak bagi dua saja lahan ini?" tanya Menung tiba-tiba, suaranya tenang namun tajam.

 

Kedua kelompok itu berhenti dan menatap Menung dengan tatapan meremehkan.

 

"Heh, anak sekolah! Jangan ikut campur urusan orang dewasa kalau nggak mau kepala lo pecah!" bentak salah satu anak buah Koprol.

 

Menung tidak gentar. Dia hanya tersenyum tipis. "Saya cuma memberi saran. Daripada kalian ribut terus tiap hari, lebih baik tentukan saja siapa yang paling kuat dalam satu malam. Bukankah itu lebih efisien?"

 

"Ngapain lo ngatur-ngatur kami? Pergi sana!" usir preman Geng Gaprak.

 

Menung melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Di kepalanya, sebuah rencana sudah mulai terbentuk. Dia melihat bagaimana para pedagang itu diperas setiap hari. Dia melihat bagaimana kota ini perlahan-lahan mati karena ketakutan.

 

Malam itu, di markasnya, Koprol sedang mengadakan pertemuan.

 

"Bos, anak buah Jebug makin berani. Mereka mulai ambil jatah kita di Gondoruwo," lapor tangan kanannya.

 

Koprol menggebrak meja. "Jebug itu memang harus diberi pelajaran. Tapi jangan sekarang. Kita tunggu sampai kita punya cukup orang untuk menghancurkan mereka sekaligus."

 

Di tempat lain, Jebug juga mengatakan hal yang hampir sama kepada anak buahnya.

 

"Geng Kepruk itu cuma menang jumlah. Kalau soal nyali, mereka nol besar. Kita tunggu saat yang tepat untuk mengambil alih seluruh kota."

 

Kedua pemimpin itu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengamati mereka dari balik layar digital. Seseorang yang tahu persis titik lemah mereka: kesombongan dan ketamakan.

 

Menung duduk di sebuah kafe internet, mengetikkan beberapa baris perintah untuk melacak semua perangkat yang terhubung dengan Koprol dan Jebug.

 

"Kalian ingin menguasai kota ini, kan?" gumam Menung sambil mengunyah martabaknya yang sudah dingin.

 

Dia melihat profil media sosial kedua preman itu. Foto-foto mereka yang memamerkan senjata dan uang hasil perasan. Menung merasa mual.

 

"Besok, tempat ini bakal jadi milik kita sepenuhnya, Boss."

 

*

 

 

Waktu kembali ke saat ini. Kereta api mulai bergerak meninggalkan stasiun Bregedek. Menung menatap keluar jendela, melihat pemukiman kumuh di pinggir rel yang perlahan menghilang dari pandangan.

 

Ponselnya bergetar di saku jaket. Ada sebuah notifikasi otomatis dari program yang dia jalankan semalam.

 

[Status: Project Purge Completed]

[Logs: 184 targets eliminated. 0 survivors. Digital traces wiped.]

 

Menung menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Rasanya seperti ada beban berat yang terangkat dari pundaknya. Kota Bregedek kini bebas dari dua parasit besar yang selama ini menghisap darah rakyat kecil.

 

Tiba-tiba, seorang pemuda sebayanya yang duduk di seberang kursi Menung menyapa.

 

"Eh, Mas. Lihat berita di HP nggak? Gila ya kejadian di Bregedek semalam. Katanya ada ratusan orang mati saling bunuh. Polisi bingung karena nggak ada saksi mata dan semua CCTV di lokasi tiba-tiba mati," ujar pemuda itu antusias.

 

Menung menatap pemuda itu datar. "Mungkin itu kebetulan."

 

"Kebetulan bagaimana? Katanya ini sabotase tingkat tinggi. Ada yang bilang pelakunya hacker profesional yang dendam sama preman-preman itu. Mas percaya hacker bisa sekejam itu?"

 

Menung membetulkan posisi duduknya.

 

"Hacker tidak membunuh mereka. Ketamakan mereka sendirilah yang membunuh mereka. Hacker itu mungkin hanya membukakan pintu menuju neraka yang sudah mereka bangun sendiri," jawab Menung tenang.

 

Pemuda itu mengernyitkan dahi. "Wah, dalam juga filosofinya. Tapi ya syukur deh, sekarang pedagang di sana bisa tenang. Ayah saya salah satu pedagang di Jalan Gondoruwo, Mas. Tadi pagi beliau telepon, katanya suasananya sepi tapi damai. Nggak ada lagi yang minta uang keamanan."

 

Mendengar itu, ada sedikit binar di mata Menung yang biasanya dingin. Misinya berhasil. Dia tidak hanya membalas dendam untuk ayahnya, tapi juga memberikan masa depan bagi pedagang lain seperti Pak Kumis dan ayah pemuda ini.

 

"Ayahmu pasti senang bisa berjualan tanpa beban sekarang," kata Menung.

 

"Iya, Mas. Eh, Masnya mau kuliah di mana?"

 

"Universitas Nusantara Jaya. Jurusan Teknik Informatika."

 

"Wah, hebat! Calon ahli komputer masa depan ya? Mas pasti bakal pakai ilmu Mas buat hal-hal baik, kan?" tanya pemuda itu sambil tersenyum lebar.

 

Menung menatap pemandangan sawah yang membentang hijau di luar jendela. Matahari mulai naik, menyinari dunia dengan cahaya yang baru. Kota Bregedek tertinggal jauh di belakang, bersama dengan kenangan gelap dan genangan darah yang akan segera mengering.

 

Menung membuka tasnya, mengambil sebuah buku catatan kecil. Di halaman pertama, tertulis sebuah kutipan yang selalu dia pegang teguh: Adil tidak selalu berarti memaafkan.

 

Dia menutup buku itu, lalu kembali menatap pemuda di depannya.

 

"Mas, menurut Mas, apa yang akan dilakukan polisi kalau mereka tahu siapa yang melakukan ini semua?" tanya pemuda itu lagi, seolah tidak bisa berhenti membahas topik hangat tersebut.

 

Menung tersenyum, kali ini senyumnya terlihat lebih tulus, namun tetap menyimpan misteri yang mendalam.

 

"Mereka tidak akan pernah tahu. Karena bagi dunia, pelakunya tidak pernah ada. Yang ada hanyalah kota yang kebetulan memutuskan untuk membersihkan dirinya sendiri."

 

"Tapi kalau menurut Mas sendiri, orang yang melakukan itu jahat atau pahlawan?"

 


Menung terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawabannya. Dia tahu bahwa apa yang dia lakukan secara moral adalah pembunuhan massal melalui manipulasi. Namun, dia juga tahu berapa banyak nyawa yang terselamatkan di masa depan karena hilangnya kedua geng tersebut.

 

"Dunia ini tidak butuh pahlawan berbaju perang, Mas," ujar Menung pelan.

 

"Lalu butuh apa?"

 

Menung menatap mata pemuda itu dalam-dalam sebelum menutup matanya untuk benar-benar beristirahat.

 

"Kota ini butuh seseorang yang berani mengotori tangannya, bukan?"

 

 

Spirov Lengking, 62028002200502

Tidak ada komentar:

Posting Komentar