Kamis, 24 September 2026

Kabut Darah di Gudang Beras

 


________________________________________________________________________

Disclaimer:

Tulisan ini termasuk cerpen (cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya kebetulan belaka.

________________________________________________________________________

 

Kabut Darah di Gudang Beras

 

Senter di tangan Sarbang bergetar, cahayanya melompat-lompat di antara tumpukan karung goni yang menjulang. Aroma apek beras tua dan debu menyesakkan dada, tapi bukan itu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Di luar, suara jangkrik mendadak senyap.

 

"Sudah kau kunci pintu belakang, Bang?" suara parau Mang Kromo memecah kesunyian.

 

Sarbang menoleh, melihat pamannya yang berdiri di kegelapan sudut gudang. "Sudah, Mang. Gemboknya sudah berkarat, tapi masih kuat."

 

"Kau yakin mereka akan datang?" Mang Kromo mendekat, wajahnya yang keriput tampak pucat di bawah sinar senter. "Keadaan di luar sedang tidak enak. Kabar dari kota... itu bukan kabar baik."

 

"Kita harus tetap jalan, Mang. Saya ini ketua Pemuda Rakyat di sini. Kalau saya takut, bagaimana dengan kawan-kawan yang lain?"

 

"Ketua atau bukan, peluru tidak tanya jabatan, Bang."

 

"Mang Kromo jangan menakut-nakuti. Ini perintah organisasi. Kita harus konsolidasi."

 

Mang Kromo mendengus, melirik karung-karung beras miliknya. "Ini gudang beras, bukan markas perang. Kalau tentara lewat dan melihat orang berkumpul di sini, aku yang akan digantung duluan."

 

"Tidak akan ada yang tahu. Desa ini sedang tidur."

 

"Desa ini tidak pernah tidur, Bang. Telinga ada di balik setiap pohon pisang."

 

Sarbang menghela napas, mencoba menenangkan gemuruh di perutnya. "Kawan-kawan sudah di jalan. Sebentar lagi mereka sampai."

 

"Termasuk orang dari kota itu?"

 

Sarbang mengangguk pelan. "Namanya Bung Kartono. Dia membawa instruksi langsung."

 

"Instruksi apa? Untuk menyembelih orang lagi?"

 

"Mang! Jaga bicara! Ini demi revolusi. Demi rakyat."

 

Mang Kromo meludah ke tanah yang lembap. "Rakyat yang mana? Rakyat yang besok tidak tahu bisa makan atau tidak karena berasnya kusita untuk rapat rahasiamu ini?"

 

Satu ketukan pelan terdengar di pintu depan. Tiga kali pendek, dua kali panjang. Sarbang membeku.

 

"Itu mereka," bisik Sarbang.

 

"Atau mungkin itu malaikat mautmu," sahut Mang Kromo dingin.

 

Sarbang melangkah menuju pintu kayu yang besar, tangannya meraba grendel besi yang dingin. "Siapa di luar?"

 

"Padi merah sudah menguning," sebuah suara menjawab dari balik kayu.

 

Sarbang menarik napas lega dan membuka pintu sedikit saja. "Masuklah, Bung Kartono."

 

***

 

 

Tiga orang menyelinap masuk. Salah satunya mengenakan kemeja safari abu-abu yang rapi, sangat kontras dengan dua orang lainnya yang berpakaian petani kumal. Pria berkemeja safari itu adalah Kartono. Matanya tajam, menyapu seluruh sudut gudang seperti elang mencari mangsa.

 

"Tempat ini cukup aman?" tanya Kartono tanpa basa-basi.

 

"Hanya keluarga saya yang tahu, Bung," jawab Sarbang sambil menyalami tamunya.

 

Kartono meletakkan tas kulitnya di atas meja kayu yang rapuh. "Keluarga adalah celah keamanan terbesar, Sarbang. Tapi sudahlah, waktu kita sempit."

 

"Kawan-kawan yang lain sedang dalam perjalanan, Bung," kata Sarbang.

 

"Berapa orang?"

 

"Sekitar sepuluh. Pengurus inti tingkat desa."

 

Kartono menggelengkan kepala. "Terlalu banyak. Cukup kalian saja. Situasi sedang gawat. Kau sudah dengar apa yang terjadi di Jakarta?"

 

Sarbang ragu sejenak. "Hanya desas-desus. Katanya ada dewan jenderal yang mau kudeta?"

 

"Bukan lagi desas-desus!" Kartono memukul meja, suaranya tertahan tapi penuh penekanan. "Itu nyata. Dan kita harus bergerak lebih dulu sebelum mereka menghabisi kita sampai ke akar-akarnya."

 

"Bergerak bagaimana, Bung?" tanya Sinto, salah satu pengurus desa yang baru saja masuk dari pintu belakang.

 

Kartono membuka tasnya, mengeluarkan secarik kertas yang penuh dengan daftar nama. "Ini adalah daftar musuh revolusi di desa ini. Tuan tanah, antek-anteknya, dan mereka yang terang-terangan menolak program land reform."

 

Sarbang melihat daftar itu. Matanya terbelalak. "Tapi Bung... ini ada nama Pak Haji Sholeh. Dia orang baik, sering bantu warga."

 

"Kebaikan adalah alat borjuasi untuk meninabobokan rakyat, Sarbang!" Kartono menatap Sarbang dengan tajam. "Kau ini revolusioner atau pengumpul zakat?"

 

"Saya hanya berpikir... apa tidak terlalu drastis?"

 

"Drastis?" Kartono tertawa hambar. "Di kota, darah sudah mengalir. Kalau kau tidak memegang pisau sekarang, lehermu yang akan merasakan dinginnya baja besok pagi."

 

Sinto mendekat, wajahnya tampak bersemangat sekaligus takut. "Jadi, apa perintah resminya, Bung?"

 

"Amankan mereka. Jangan sampai ada yang lolos saat komando Aksi Serentak dimulai."

 

"Tapi kami tidak punya senjata," sela Sarbang.

 

Kartono merogoh sesuatu dari balik pinggangnya, sebuah benda logam yang berkilat dingin di bawah cahaya senter yang remang. "Gunakan apa yang ada. Arit, parang, linggis. Revolusi tidak butuh bedil canggih untuk menang."

 

"Tapi Bung, mereka tetangga kami sendiri," gumam Sarbang pelan.

 

Kartono mencengkeram bahu Sarbang, kuku-kukunya terasa menusuk kulit. "Di dalam revolusi, tidak ada tetangga. Yang ada hanyalah kawan atau lawan."

 

***

 

 

Rapat itu semakin memanas. Lima orang tambahan sudah hadir, duduk melingkar di atas tikar pandan yang digelar di antara karung beras. Udara di dalam gudang terasa semakin tipis, dipenuhi asap rokok klobot dan ketegangan yang nyata.

 

"Kita tidak bisa menunggu sampai besok!" seru Sinto. "Kalau daftar ini sudah ada, artinya mereka juga punya daftar nama kita!"

 

"Betul!" sahut yang lain. "Tadi sore saya lihat Pak Lurah berbisik-bisik dengan orang asing di balai desa."

 

Sarbang merasa kepalanya berdenyut. "Tenang dulu, Kawan-kawan. Kita harus pastikan instruksi ini benar-benar matang. Jangan sampai kita bertindak gegabah."

 

"Gegabah?" Kartono berdiri, menatap Sarbang dengan tatapan merendahkan. "Kau tahu apa yang terjadi di kecamatan sebelah dua jam yang lalu?"

 

Semua orang terdiam. Suara jangkrik di luar benar-benar sudah hilang.

 

"Apa yang terjadi, Bung?" tanya Sarbang dengan suara bergetar.

 

"Truk-truk tentara sudah masuk ke sana. Mereka menjemput orang-orang kita. Tanpa surat, tanpa basa-basi."

 

Suasana mendadak senyap. Hanya suara napas yang memburu yang terdengar di dalam gudang beras itu. Mang Kromo, yang sejak tadi duduk di pojok, tiba-tiba berdiri dan mematikan senternya.

 

"Diam semua!" desis Mang Kromo.

 

"Ada apa, Mang?" bisik Sarbang.

 

"Dengar itu."

 

Sarbang menajamkan pendengarannya. Di kejauhan, terdengar suara geraman rendah. Bukan suara angin, bukan suara binatang. Itu adalah deru mesin diesel yang berat, merayap pelan di jalanan tanah desa yang berlubang.

 

"Truk," bisik Sinto. Wajahnya mendadak pucat pasi.

 

"Mungkin hanya truk pengangkut tebu," cetus salah satu kawan, mencoba menghibur diri sendiri.

 

"Malam begini? Tidak ada pabrik gula yang buka jam satu pagi," sahut Mang Kromo. "Itu truk militer. Aku kenal suaranya sejak zaman Jepang."

 

Kartono langsung menyambar tas kulitnya. "Matikan semua lampu! Sekarang!"

 

Sarbang mematikan pelita kecil di tengah lingkaran. Gudang itu kini tenggelam dalam kegelapan total. Bau beras tua terasa semakin mencekam. Dari celah-celah dinding kayu, mereka bisa melihat kilatan cahaya lampu jauh yang menyapu pepohonan di luar.

 

"Mereka berhenti," bisik Sinto, suaranya gemetar hebat. "Suaranya berhenti di pertigaan balai desa."

 

"Itu hanya satu kilometer dari sini," sahut Sarbang. Jantungnya terasa mau copot.

 

"Bung Kartono, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang kawan dengan nada putus asa.

 

Kartono tidak menjawab dengan segera. Dalam kegelapan, Sarbang bisa mendengar pria itu sedang mengokang sesuatu—mungkin sepucuk pistol kecil yang tadi ia sembunyikan.

 

"Kita laksanakan Instruksi Darurat," suara Kartono terdengar dingin, tanpa emosi.

 

"Maksud Bung... menyerang mereka sekarang?" Sarbang bertanya, nyaris berteriak dalam bisikan.

 

"Bukan. Kita pecah jadi kelompok kecil. Sinto, bawa daftar ini, bakar kalau kau tertangkap. Sarbang, kau tetap di sini, pastikan gudang ini terlihat normal."

 

"Tapi Bung, mereka akan kemari!"

 

"Justru itu! Kalau kita semua lari, mereka akan tahu ada pertemuan di sini. Kau harus tetap di sini bersama pamanmu. Bilang kalian sedang jaga malam."

 

"Ini gila! Mereka akan membunuhku kalau tahu siapa aku!"

 

Kartono mendekatkan wajahnya ke wajah Sarbang. Meski gelap, Sarbang bisa merasakan aura dingin dari pria itu. "Pengorbananmu akan dicatat oleh sejarah, Kawan."

 

"Persetan dengan sejarah! Aku ingin hidup!"

 

"Pilihannya cuma dua, Sarbang: mati sebagai pahlawan atau mati sebagai pengecut yang membusuk di selokan."

 

***

 

 

Suara sepatu lars yang menghantam tanah mulai terdengar. Tidak hanya satu atau dua, tapi banyak. Mereka bergerak dengan taktis, mengepung area sekitar gudang. Cahaya senter-senter besar mulai menembus celah dinding, menari-nari di atas karung beras seperti hantu yang kelaparan.

 

"Sarbang, lewat pintu rahasia di bawah karung ini! Cepat!" bisik Mang Kromo sambil menarik tangan keponakannya.

 

"Tidak bisa, Mang. Kawan-kawan yang lain bagaimana?" Sarbang menoleh ke arah Sinto dan yang lainnya yang tampak kebingungan di kegelapan.

 

"Mereka sudah lari lewat jendela belakang!" seru Mang Kromo. "Tinggal kau dan orang kota itu!"

 

Sarbang menoleh ke arah Kartono, tapi pria itu sudah menghilang. Tas kulitnya masih ada di meja, tapi orangnya sudah lenyap ditelan bayang-bayang gudang yang luas.

 

"Bung Kartono?" panggil Sarbang lirih. Tidak ada jawaban.

 

"Dia sudah kabur duluan, Bang! Orang kota itu tidak bodoh!" Mang Kromo menarik baju Sarbang dengan kasar. "Ayo cepat! Sebelum mereka mendobrak pintu!"

 

Sarbang terdiam. Di kepalanya berkelebat bayangan idealisme yang ia agungkan selama ini. Pidato-pidato tentang keberanian, tentang membela rakyat, tentang revolusi yang tidak boleh padam. Tapi sekarang, kenyataan ada di depan mata dalam bentuk moncong senapan yang mungkin sudah mengarah ke pintu gudang ini.

 

Brak!

 

Pintu depan dihantam dengan keras dari luar.

 

"Buka! Operasi Pembersihan! Buka atau kami bakar tempat ini!" sebuah teriakan menggelegar dari luar.

 

Sarbang gemetar. Tangannya memegang sebuah arit kecil yang ia ambil dari tumpukan alat tani. "Mang, kalau aku lari, Mang Kromo yang akan ditangkap."

 

"Jangan pikirkan aku! Aku punya alasan sebagai pemilik gudang! Kamu itu ketua mereka, Bang! Kamu yang dicari!"

 

"Tapi kalau aku lari, aku mengkhianati kawan-kawan."

 

"Kawan yang mana? Yang sudah lari tunggang-langgang itu?" Mang Kromo menatap mata Sarbang. "Dengar, Bang. Hidup itu bukan cuma soal ideologi. Hidup itu soal bertahan untuk melihat hari esok. Lari sekarang, atau kau tidak akan pernah punya kesempatan untuk menyesal."

 

Sarbang melihat ke arah pintu yang mulai retak dihantam popor senapan. Senter-senter itu sekarang sudah fokus ke arah pintu masuk. Dia punya waktu kurang dari satu menit.

 

"Sarbang! Cepat masuk ke lubang bawah tanah ini!" Mang Kromo membuka sebuah papan lantai yang tersembunyi di bawah tumpukan karung. "Lubang ini tembus ke sungai di belakang desa. Berenanglah ke arah selatan."

 

Sarbang melangkah menuju lubang itu, tapi langkahnya terhenti. Dia melihat tas kulit Kartono yang tertinggal. Di dalamnya masih ada daftar nama warga desa. Jika tentara menemukannya, semua orang di daftar itu akan habis, termasuk mereka yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.

 

"Tunggu, Mang." Sarbang menyambar tas itu.

 

"Mau apa kamu?"

 

"Menghapus jejak."

 

Sarbang mengambil korek api dari sakunya. Dengan tangan gemetar, dia menyulut kertas-kertas di dalam tas tersebut. Api segera menjilat kertas, menciptakan cahaya terang sesaat di dalam gudang yang gelap.

 

"Gila kau! Asapnya akan membuat mereka curiga!" bisik Mang Kromo panik.

 

"Biarkan saja! Lebih baik beras ini terbakar daripada mereka menemukan daftar ini!"

 

Brak!

 

Pintu gudang jebol. Cahaya senter yang sangat terang langsung menusuk mata Sarbang.

 

"Jangan bergerak! Angkat tangan!"

 

Sarbang menjatuhkan tas yang mulai terbakar itu ke tumpukan beras, lalu dia melihat ke arah Mang Kromo yang sudah ketakutan di pojok. Sarbang tidak masuk ke dalam lubang. Dia justru berdiri tegak, menghalangi pandangan para tentara dari papan lantai yang terbuka.

 

"Siapa kamu?" tanya seorang sersan dengan kumis tebal, menodongkan senapan laras panjang tepat ke dada Sarbang.

 

Sarbang menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dia melirik ke arah tas yang sekarang sudah menjadi abu, menyatu dengan beras yang hangus. Dia tahu, malam ini mungkin adalah malam terakhirnya. Tapi di dalam hatinya, ada rasa tenang yang aneh. Dia tidak lari seperti Kartono, dan dia tidak membiarkan tetangganya mati karena selembar kertas.

 

"Saya Sarbang," jawabnya dengan suara yang tidak lagi gemetar.

 

Sersan itu tersenyum dingin, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Oh, jadi ini dia 'Singa Desa' yang kita cari."

 

"Saya hanya penjaga gudang, Pak," sela Mang Kromo dengan suara memelas.

 

Sersan itu tidak mempedulikan Mang Kromo. Dia melangkah maju, ujung senapannya menekan ulu hati Sarbang. "Mana teman-temanmu yang lain? Mana orang dari kota itu?"

 

Sarbang menatap mata sersan itu tanpa berkedip. "Saya sendirian di sini."

 

Sersan itu tertawa pelan, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menggeledah gudang. Sarbang berdoa dalam hati agar lubang di bawah karung itu tidak terlihat.

 

"Sendirian, ya?" Sersan itu mendekatkan wajahnya ke telinga Sarbang. "Lalu kenapa bau asap ini terasa seperti bau pengkhianatan?"

 

Sarbang terdiam. Dia bisa merasakan hawa panas dari api kecil yang mulai merembet ke karung goni di belakangnya.

 

"Bawa dia ke truk," perintah sersan itu pendek.

 

Saat Sarbang diseret keluar, dia sempat menoleh ke arah Mang Kromo. Pamannya itu menangis tanpa suara, tangannya memegang erat sebuah karung beras. Di luar, desa tampak begitu sunyi, seolah-olah seluruh dunia sedang menahan napas menyaksikan pemuda itu dilemparkan ke atas bak truk yang dingin.

 

Di atas truk, Sarbang melihat beberapa kawannya sudah duduk meringkuk dengan tangan terikat. Ternyata, tidak ada yang benar-benar bisa lari malam itu.

 

"Bang... kamu tertangkap juga?" bisik Sinto yang ternyata sudah ada di atas truk lebih dulu dengan wajah babak belur.

 

Sarbang tersenyum tipis, meski bibirnya pecah terkena hantaman popor tadi. "Setidaknya, daftar itu sudah jadi abu, Sin."

 

Truk mulai bergerak, menderu meninggalkan gudang beras yang kini mulai mengeluarkan asap hitam ke langit malam Jawa Timur.

 

"Bang," panggil Sinto lagi, suaranya nyaris hilang ditelan deru mesin.

 

"Apa?"

 

"Menurutmu, apakah kita akan sampai ke tempat tujuan?"

 

Sarbang menatap kegelapan jalan di depannya, ke arah hutan jati yang tampak seperti barisan nisan raksasa.

 

"Tujuan kita sudah selesai di gudang tadi, Sin," jawab Sarbang pelan.

 

Tiba-tiba truk berhenti mendadak di pinggir sebuah jembatan tua yang sepi. Sersan tadi meloncat turun dan membuka pintu bak belakang dengan kasar.

 

"Ayo turun, semuanya," perintah sersan itu sambil mengayunkan parang panjang yang diambilnya dari salah satu prajurit.

 

Sarbang menelan ludah, melihat aliran sungai yang gelap di bawah jembatan.

 

"Turun sekarang, atau mau saya bantu dengan peluru?" tanya sersan itu sambil menyeringai.

 

Spirov Lengking, 62029032063306

Tidak ada komentar:

Posting Komentar