________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya
kebetulan belaka.
________________________________________________________________________
Kabut
Darah di Gudang Beras
Senter
di tangan Sarbang bergetar, cahayanya melompat-lompat di antara tumpukan karung
goni yang menjulang. Aroma apek beras tua dan debu menyesakkan dada, tapi bukan
itu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Di luar, suara jangkrik mendadak
senyap.
"Sudah
kau kunci pintu belakang, Bang?" suara parau Mang Kromo memecah kesunyian.
Sarbang
menoleh, melihat pamannya yang berdiri di kegelapan sudut gudang. "Sudah,
Mang. Gemboknya sudah berkarat, tapi masih kuat."
"Kau
yakin mereka akan datang?" Mang Kromo mendekat, wajahnya yang keriput
tampak pucat di bawah sinar senter. "Keadaan di luar sedang tidak enak.
Kabar dari kota... itu bukan kabar baik."
"Kita
harus tetap jalan, Mang. Saya ini ketua Pemuda Rakyat di sini. Kalau saya
takut, bagaimana dengan kawan-kawan yang lain?"
"Ketua
atau bukan, peluru tidak tanya jabatan, Bang."
"Mang
Kromo jangan menakut-nakuti. Ini perintah organisasi. Kita harus
konsolidasi."
Mang
Kromo mendengus, melirik karung-karung beras miliknya. "Ini gudang beras,
bukan markas perang. Kalau tentara lewat dan melihat orang berkumpul di sini,
aku yang akan digantung duluan."
"Tidak
akan ada yang tahu. Desa ini sedang tidur."
"Desa
ini tidak pernah tidur, Bang. Telinga ada di balik setiap pohon pisang."
Sarbang
menghela napas, mencoba menenangkan gemuruh di perutnya. "Kawan-kawan
sudah di jalan. Sebentar lagi mereka sampai."
"Termasuk
orang dari kota itu?"
Sarbang
mengangguk pelan. "Namanya Bung Kartono. Dia membawa instruksi
langsung."
"Instruksi
apa? Untuk menyembelih orang lagi?"
"Mang!
Jaga bicara! Ini demi revolusi. Demi rakyat."
Mang
Kromo meludah ke tanah yang lembap. "Rakyat yang mana? Rakyat yang besok
tidak tahu bisa makan atau tidak karena berasnya kusita untuk rapat rahasiamu
ini?"
Satu
ketukan pelan terdengar di pintu depan. Tiga kali pendek, dua kali panjang.
Sarbang membeku.
"Itu
mereka," bisik Sarbang.
"Atau
mungkin itu malaikat mautmu," sahut Mang Kromo dingin.
Sarbang
melangkah menuju pintu kayu yang besar, tangannya meraba grendel besi yang
dingin. "Siapa di luar?"
"Padi
merah sudah menguning," sebuah suara menjawab dari balik kayu.
Sarbang
menarik napas lega dan membuka pintu sedikit saja. "Masuklah, Bung
Kartono."
***
Tiga
orang menyelinap masuk. Salah satunya mengenakan kemeja safari abu-abu yang
rapi, sangat kontras dengan dua orang lainnya yang berpakaian petani kumal.
Pria berkemeja safari itu adalah Kartono. Matanya tajam, menyapu seluruh sudut
gudang seperti elang mencari mangsa.
"Tempat
ini cukup aman?" tanya Kartono tanpa basa-basi.
"Hanya
keluarga saya yang tahu, Bung," jawab Sarbang sambil menyalami tamunya.
Kartono
meletakkan tas kulitnya di atas meja kayu yang rapuh. "Keluarga adalah
celah keamanan terbesar, Sarbang. Tapi sudahlah, waktu kita sempit."
"Kawan-kawan
yang lain sedang dalam perjalanan, Bung," kata Sarbang.
"Berapa
orang?"
"Sekitar
sepuluh. Pengurus inti tingkat desa."
Kartono
menggelengkan kepala. "Terlalu banyak. Cukup kalian saja. Situasi sedang
gawat. Kau sudah dengar apa yang terjadi di Jakarta?"
Sarbang
ragu sejenak. "Hanya desas-desus. Katanya ada dewan jenderal yang mau
kudeta?"
"Bukan
lagi desas-desus!" Kartono memukul meja, suaranya tertahan tapi penuh
penekanan. "Itu nyata. Dan kita harus bergerak lebih dulu sebelum mereka
menghabisi kita sampai ke akar-akarnya."
"Bergerak
bagaimana, Bung?" tanya Sinto, salah satu pengurus desa yang baru saja
masuk dari pintu belakang.
Kartono
membuka tasnya, mengeluarkan secarik kertas yang penuh dengan daftar nama.
"Ini adalah daftar musuh revolusi di desa ini. Tuan tanah, antek-anteknya,
dan mereka yang terang-terangan menolak program land reform."
Sarbang
melihat daftar itu. Matanya terbelalak. "Tapi Bung... ini ada nama Pak
Haji Sholeh. Dia orang baik, sering bantu warga."
"Kebaikan
adalah alat borjuasi untuk meninabobokan rakyat, Sarbang!" Kartono menatap
Sarbang dengan tajam. "Kau ini revolusioner atau pengumpul zakat?"
"Saya
hanya berpikir... apa tidak terlalu drastis?"
"Drastis?"
Kartono tertawa hambar. "Di kota, darah sudah mengalir. Kalau kau tidak
memegang pisau sekarang, lehermu yang akan merasakan dinginnya baja besok
pagi."
Sinto
mendekat, wajahnya tampak bersemangat sekaligus takut. "Jadi, apa perintah
resminya, Bung?"
"Amankan
mereka. Jangan sampai ada yang lolos saat komando Aksi Serentak dimulai."
"Tapi
kami tidak punya senjata," sela Sarbang.
Kartono
merogoh sesuatu dari balik pinggangnya, sebuah benda logam yang berkilat dingin
di bawah cahaya senter yang remang. "Gunakan apa yang ada. Arit, parang,
linggis. Revolusi tidak butuh bedil canggih untuk menang."
"Tapi
Bung, mereka tetangga kami sendiri," gumam Sarbang pelan.
Kartono
mencengkeram bahu Sarbang, kuku-kukunya terasa menusuk kulit. "Di dalam
revolusi, tidak ada tetangga. Yang ada hanyalah kawan atau lawan."
***
Rapat
itu semakin memanas. Lima orang tambahan sudah hadir, duduk melingkar di atas
tikar pandan yang digelar di antara karung beras. Udara di dalam gudang terasa
semakin tipis, dipenuhi asap rokok klobot dan ketegangan yang nyata.
"Kita
tidak bisa menunggu sampai besok!" seru Sinto. "Kalau daftar ini
sudah ada, artinya mereka juga punya daftar nama kita!"
"Betul!"
sahut yang lain. "Tadi sore saya lihat Pak Lurah berbisik-bisik dengan
orang asing di balai desa."
Sarbang
merasa kepalanya berdenyut. "Tenang dulu, Kawan-kawan. Kita harus pastikan
instruksi ini benar-benar matang. Jangan sampai kita bertindak gegabah."
"Gegabah?"
Kartono berdiri, menatap Sarbang dengan tatapan merendahkan. "Kau tahu apa
yang terjadi di kecamatan sebelah dua jam yang lalu?"
Semua
orang terdiam. Suara jangkrik di luar benar-benar sudah hilang.
"Apa
yang terjadi, Bung?" tanya Sarbang dengan suara bergetar.
"Truk-truk
tentara sudah masuk ke sana. Mereka menjemput orang-orang kita. Tanpa surat,
tanpa basa-basi."
Suasana
mendadak senyap. Hanya suara napas yang memburu yang terdengar di dalam gudang
beras itu. Mang Kromo, yang sejak tadi duduk di pojok, tiba-tiba berdiri dan
mematikan senternya.
"Diam
semua!" desis Mang Kromo.
"Ada
apa, Mang?" bisik Sarbang.
"Dengar
itu."
Sarbang
menajamkan pendengarannya. Di kejauhan, terdengar suara geraman rendah. Bukan
suara angin, bukan suara binatang. Itu adalah deru mesin diesel yang berat,
merayap pelan di jalanan tanah desa yang berlubang.
"Truk,"
bisik Sinto. Wajahnya mendadak pucat pasi.
"Mungkin
hanya truk pengangkut tebu," cetus salah satu kawan, mencoba menghibur
diri sendiri.
"Malam
begini? Tidak ada pabrik gula yang buka jam satu pagi," sahut Mang Kromo.
"Itu truk militer. Aku kenal suaranya sejak zaman Jepang."
Kartono
langsung menyambar tas kulitnya. "Matikan semua lampu! Sekarang!"
Sarbang
mematikan pelita kecil di tengah lingkaran. Gudang itu kini tenggelam dalam
kegelapan total. Bau beras tua terasa semakin mencekam. Dari celah-celah
dinding kayu, mereka bisa melihat kilatan cahaya lampu jauh yang menyapu
pepohonan di luar.
"Mereka
berhenti," bisik Sinto, suaranya gemetar hebat. "Suaranya berhenti di
pertigaan balai desa."
"Itu
hanya satu kilometer dari sini," sahut Sarbang. Jantungnya terasa mau
copot.
"Bung
Kartono, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang kawan dengan nada
putus asa.
Kartono
tidak menjawab dengan segera. Dalam kegelapan, Sarbang bisa mendengar pria itu
sedang mengokang sesuatu—mungkin sepucuk pistol kecil yang tadi ia sembunyikan.
"Kita
laksanakan Instruksi Darurat," suara Kartono terdengar dingin, tanpa
emosi.
"Maksud
Bung... menyerang mereka sekarang?" Sarbang bertanya, nyaris berteriak
dalam bisikan.
"Bukan.
Kita pecah jadi kelompok kecil. Sinto, bawa daftar ini, bakar kalau kau
tertangkap. Sarbang, kau tetap di sini, pastikan gudang ini terlihat
normal."
"Tapi
Bung, mereka akan kemari!"
"Justru
itu! Kalau kita semua lari, mereka akan tahu ada pertemuan di sini. Kau harus
tetap di sini bersama pamanmu. Bilang kalian sedang jaga malam."
"Ini
gila! Mereka akan membunuhku kalau tahu siapa aku!"
Kartono
mendekatkan wajahnya ke wajah Sarbang. Meski gelap, Sarbang bisa merasakan aura
dingin dari pria itu. "Pengorbananmu akan dicatat oleh sejarah,
Kawan."
"Persetan
dengan sejarah! Aku ingin hidup!"
"Pilihannya
cuma dua, Sarbang: mati sebagai pahlawan atau mati sebagai pengecut yang
membusuk di selokan."
***
Suara
sepatu lars yang menghantam tanah mulai terdengar. Tidak hanya satu atau dua,
tapi banyak. Mereka bergerak dengan taktis, mengepung area sekitar gudang.
Cahaya senter-senter besar mulai menembus celah dinding, menari-nari di atas
karung beras seperti hantu yang kelaparan.
"Sarbang,
lewat pintu rahasia di bawah karung ini! Cepat!" bisik Mang Kromo sambil
menarik tangan keponakannya.
"Tidak
bisa, Mang. Kawan-kawan yang lain bagaimana?" Sarbang menoleh ke arah
Sinto dan yang lainnya yang tampak kebingungan di kegelapan.
"Mereka
sudah lari lewat jendela belakang!" seru Mang Kromo. "Tinggal kau dan
orang kota itu!"
Sarbang
menoleh ke arah Kartono, tapi pria itu sudah menghilang. Tas kulitnya masih ada
di meja, tapi orangnya sudah lenyap ditelan bayang-bayang gudang yang luas.
"Bung
Kartono?" panggil Sarbang lirih. Tidak ada jawaban.
"Dia
sudah kabur duluan, Bang! Orang kota itu tidak bodoh!" Mang Kromo menarik
baju Sarbang dengan kasar. "Ayo cepat! Sebelum mereka mendobrak
pintu!"
Sarbang
terdiam. Di kepalanya berkelebat bayangan idealisme yang ia agungkan selama
ini. Pidato-pidato tentang keberanian, tentang membela rakyat, tentang revolusi
yang tidak boleh padam. Tapi sekarang, kenyataan ada di depan mata dalam bentuk
moncong senapan yang mungkin sudah mengarah ke pintu gudang ini.
Brak!
Pintu
depan dihantam dengan keras dari luar.
"Buka!
Operasi Pembersihan! Buka atau kami bakar tempat ini!" sebuah teriakan
menggelegar dari luar.
Sarbang
gemetar. Tangannya memegang sebuah arit kecil yang ia ambil dari tumpukan alat
tani. "Mang, kalau aku lari, Mang Kromo yang akan ditangkap."
"Jangan
pikirkan aku! Aku punya alasan sebagai pemilik gudang! Kamu itu ketua mereka,
Bang! Kamu yang dicari!"
"Tapi
kalau aku lari, aku mengkhianati kawan-kawan."
"Kawan
yang mana? Yang sudah lari tunggang-langgang itu?" Mang Kromo menatap mata
Sarbang. "Dengar, Bang. Hidup itu bukan cuma soal ideologi. Hidup itu soal
bertahan untuk melihat hari esok. Lari sekarang, atau kau tidak akan pernah
punya kesempatan untuk menyesal."
Sarbang
melihat ke arah pintu yang mulai retak dihantam popor senapan. Senter-senter
itu sekarang sudah fokus ke arah pintu masuk. Dia punya waktu kurang dari satu
menit.
"Sarbang!
Cepat masuk ke lubang bawah tanah ini!" Mang Kromo membuka sebuah papan
lantai yang tersembunyi di bawah tumpukan karung. "Lubang ini tembus ke
sungai di belakang desa. Berenanglah ke arah selatan."
Sarbang
melangkah menuju lubang itu, tapi langkahnya terhenti. Dia melihat tas kulit
Kartono yang tertinggal. Di dalamnya masih ada daftar nama warga desa. Jika
tentara menemukannya, semua orang di daftar itu akan habis, termasuk mereka
yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
"Tunggu,
Mang." Sarbang menyambar tas itu.
"Mau
apa kamu?"
"Menghapus
jejak."
Sarbang
mengambil korek api dari sakunya. Dengan tangan gemetar, dia menyulut
kertas-kertas di dalam tas tersebut. Api segera menjilat kertas, menciptakan
cahaya terang sesaat di dalam gudang yang gelap.
"Gila
kau! Asapnya akan membuat mereka curiga!" bisik Mang Kromo panik.
"Biarkan
saja! Lebih baik beras ini terbakar daripada mereka menemukan daftar ini!"
Brak!
Pintu
gudang jebol. Cahaya senter yang sangat terang langsung menusuk mata Sarbang.
"Jangan
bergerak! Angkat tangan!"
Sarbang
menjatuhkan tas yang mulai terbakar itu ke tumpukan beras, lalu dia melihat ke
arah Mang Kromo yang sudah ketakutan di pojok. Sarbang tidak masuk ke dalam
lubang. Dia justru berdiri tegak, menghalangi pandangan para tentara dari papan
lantai yang terbuka.
"Siapa
kamu?" tanya seorang sersan dengan kumis tebal, menodongkan senapan laras
panjang tepat ke dada Sarbang.
Sarbang
menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dia
melirik ke arah tas yang sekarang sudah menjadi abu, menyatu dengan beras yang
hangus. Dia tahu, malam ini mungkin adalah malam terakhirnya. Tapi di dalam
hatinya, ada rasa tenang yang aneh. Dia tidak lari seperti Kartono, dan dia
tidak membiarkan tetangganya mati karena selembar kertas.
"Saya
Sarbang," jawabnya dengan suara yang tidak lagi gemetar.
Sersan
itu tersenyum dingin, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Oh,
jadi ini dia 'Singa Desa' yang kita cari."
"Saya
hanya penjaga gudang, Pak," sela Mang Kromo dengan suara memelas.
Sersan
itu tidak mempedulikan Mang Kromo. Dia melangkah maju, ujung senapannya menekan
ulu hati Sarbang. "Mana teman-temanmu yang lain? Mana orang dari kota
itu?"
Sarbang
menatap mata sersan itu tanpa berkedip. "Saya sendirian di sini."
Sersan
itu tertawa pelan, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menggeledah
gudang. Sarbang berdoa dalam hati agar lubang di bawah karung itu tidak
terlihat.
"Sendirian,
ya?" Sersan itu mendekatkan wajahnya ke telinga Sarbang. "Lalu kenapa
bau asap ini terasa seperti bau pengkhianatan?"
Sarbang
terdiam. Dia bisa merasakan hawa panas dari api kecil yang mulai merembet ke
karung goni di belakangnya.
"Bawa
dia ke truk," perintah sersan itu pendek.
Saat
Sarbang diseret keluar, dia sempat menoleh ke arah Mang Kromo. Pamannya itu
menangis tanpa suara, tangannya memegang erat sebuah karung beras. Di luar,
desa tampak begitu sunyi, seolah-olah seluruh dunia sedang menahan napas
menyaksikan pemuda itu dilemparkan ke atas bak truk yang dingin.
Di
atas truk, Sarbang melihat beberapa kawannya sudah duduk meringkuk dengan
tangan terikat. Ternyata, tidak ada yang benar-benar bisa lari malam itu.
"Bang...
kamu tertangkap juga?" bisik Sinto yang ternyata sudah ada di atas truk
lebih dulu dengan wajah babak belur.
Sarbang
tersenyum tipis, meski bibirnya pecah terkena hantaman popor tadi.
"Setidaknya, daftar itu sudah jadi abu, Sin."
Truk
mulai bergerak, menderu meninggalkan gudang beras yang kini mulai mengeluarkan
asap hitam ke langit malam Jawa Timur.
"Bang,"
panggil Sinto lagi, suaranya nyaris hilang ditelan deru mesin.
"Apa?"
"Menurutmu,
apakah kita akan sampai ke tempat tujuan?"
Sarbang
menatap kegelapan jalan di depannya, ke arah hutan jati yang tampak seperti
barisan nisan raksasa.
"Tujuan
kita sudah selesai di gudang tadi, Sin," jawab Sarbang pelan.
Tiba-tiba
truk berhenti mendadak di pinggir sebuah jembatan tua yang sepi. Sersan tadi
meloncat turun dan membuka pintu bak belakang dengan kasar.
"Ayo
turun, semuanya," perintah sersan itu sambil mengayunkan parang panjang
yang diambilnya dari salah satu prajurit.
Sarbang
menelan ludah, melihat aliran sungai yang gelap di bawah jembatan.
"Turun
sekarang, atau mau saya bantu dengan peluru?" tanya sersan itu sambil
menyeringai.
Spirov Lengking, 62029032063306
Tidak ada komentar:
Posting Komentar